• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III POTRET DAN DINAMIKA BUDAYA KESEHATAN

3.11 Proses Persalinan

3.11.2 Pemilihan Pertolongan pada Persalinan

Dalam memilih pelayanan persalinan yang akan digunakan oleh pasangan suami istri akan dibantu oleh keluarga (bapak dan ibunya ataupun mertuanya). Meskipun kebanyakan di antara mereka

tinggal terpisah dengan orang tua mereka setelah menikah, namun pada saat menjelang persalinan biasanya orang tua dari kedua pasangan datang kerumah untuk menemani dan menyiapkan segala sesuatu untuk proses persalinan. Saat ibu hamil sudah mengeluh kesakitan perutnya, biasanya pihak suami ataupun keluarga maupun pihak mertua akan memutuskan siapa yang akan dipanggil untuk membantu proses persalinan, yaitu bidan desa maupun maparajiatau keduanya. Dalam hal ini seperti yang diucapkan oleh LT (28 tahun),

’’…Orang-orang tua dulu kan kalo keluarganya mau melahirkan sebelum di desa sini yang bantu cuman

maparaji. Jadi maparaji disini sampai saat inipun

masih dipercaya kemampuannya apalagi kalo tau dia dulunya kan dirasa berjasa bagi masyarakat sini pak, jadi masyarakat sini sampai sekarang segan ama

maparaji. Apalagi juga kebanyakan maparaji juga

masih punya hubungan kerabat dekat dengan masyarakat sini pak. Kalo kita yang muda-muda kalo ada apa-apa ya harusnya minta saran dulu sama orang tua atau tetangga yang jauh lebih tua dari kita pak. Mereka kan lebih berpengalaman dari pada kita yang muda, takut kesalahan pak kalo kita mutusin sendiri dikira ntar kita tidak menghormati ama yang lebih tua dari kita…’’

Ibu-ibu hamil di Desa Panyusuhan lebih banyak memilih untuk melakukan proses persalinan di dalam rumah sendiri karena menurut mereka lebih nyaman dan aman. Melahirkan di rumah lebih leluasa bagi anggota keluarga dan juga para tetangga untuk hadir menemani ibu ketika proses melahirkan. Selain itu juga melahirkan dirumah juga untuk menjaga kemungkinan terjadinya gangguan makhluk halus yang menghalangi proses persalinan.

Berdasarkan wawancara dari beberapa informan dan ditambah juga keterangan dari warga hampir sebagian besar ibu hamil yang melakukan persalinan sampai saat ini ditolong oleh maparaji/bidan kampung. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh istrinya pak RT Rawasadang ER (43 tahun),

’’…Kalo hamil acara tujuh bulanan ataupun pas waktu mau lahiran bahkan sampai udah lahiran pun masyarakat sini minta tolongnya ke maparaji kebanyakan begitu. Meskipun bidan juga soalnya kan kalo ama maparaji lebih tenang kalo nanti ada apa-apa…’’

Terkadang beberapa kasus, tidak hanya seorang bidan kampung yang dipanggil untuk membantu proses persalinan, namun bisa juga dari salah satu anggota keluarga untuk ikut menemani. Alasan masyarakat masih menggunakan bidan kampung/maparaji adalah kedekatan mereka secara psikologis dengan sang bidan kampung. Selain itu karena bidan kampung di desa kebanyakan adalah orang yang dituakan dan dihormati oleh orang-orang di Desa tersebut. Mereka meyakini kemampuan paraji dalam membantu proses persalinan yang sudah mereka rasakan dan mereka buktikan sejak dulu. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh LT (28 tahun),

’’…Maparaji disini sampai saat inipun masih dipercaya kemampuannya. Apalagi kalo tau dia dulunya kan dirasa berjasa sekali suka bantu orang lahiran dan ritual-ritual adat seperti acara tujuh bulanan kan maparaji yang bisa jampe dan apa aja yang dibutuhkan buat acara tujuh bulanan. Bagi masyarakat sini pak, jadi masyarakat sini sampai sekarang merasa segan ama maparaji…’’

Masyarakat Etnik Sunda juga masih percaya bahwa setiap ibu hamil dan melahirkan memiliki kemungkinan diganggu oleh makhluk halus yang dikenal dengan nama julukan Kunti. Hal ini juga diungkapkan oleh LT (28 tahun),

’’…Kata orang tua dulu kalo orang yang hamil suka diganggu kunti. Soalnya kan kunti itu dulunya juga seorang ibu hamil tapi meninggal dunia, jadi kata orang tua dulu si kunti itu suka ganguin orang hamil merasa iri karena kunti dulu belum sempet ngelahirin anaknya, katanya maparaji tau doanya buat ngusir si kunti biar yang habil gak diganggu lagi pak…’’

Dalam hal ini, maparaji tidak hanya diberi kepercayaan untuk membantu proses persalinan saja, tetapi juga memberikan doa-doa untuk mengusir makhluk halus yang dipercaya dapat menggangu proses persalinan dengan cara perut ibu hamil sambil membacakan

jampedoa-doa yang berlafalkan ayat-ayat suci al-qur’an.

Selain itu, alasan lain mengapa masyarakat lebih memilih untuk melahirkan dengan pertolongan bidan kampung/maparaji sebab keberadaan bidan desa tidak menentu. Hal ini membuat mereka pertama kali “menjemput” bidan kampung/maparaji yang pasti ada di tempat dan biasa langsung bersedia untuk datang kerumah dan membantu persalinan, bukannya menjemput bidan desa terlebih dahulu yang belum tentu keberadaannya di rumahnya ataupun di Puskesmas pembantu, apalagi jika lokasi rumah mereka jauh dari Puskesmas pembantu atau rumah bidan desa itu tinggal.

Faktor biaya persalinan juga menjadi salah satu penyebab mengapa kebanyakan warga desa panyusuhan masih menggunakan jasa paraji dalam membantu persalinannya, karena kalau menggunakan jasa bidan untuk melahirkan bisa memakan biaya minimal Rp. 500.000 ke atas sekalian juga dapat akta kelahiran anaknya, bagi warga yang mampu dan cukup keadaan ekonominya hal itu bukan jadi kendala, namun bagi warga desa yang kurang mampu, maka biaya sebesar itu sangat memberatkan mereka sehingga lebih memilih memakai jasa paraji dalam membantu persalinannya karena biasanya paraji tidak mematok tarif atau harga tertentu dalam membantu persalinan dan hanya menyerahkan masalah biaya kepada warga atau secara sukarela saja, namun menurut beberapa informan yang kami temui biasanya mereka memberi uang sebagai tanda jasa biaya persalinan kepada paraji sebesar Rp. 75.000 – Rp. 150.000 pada saat usai menolong persalinan. Bahkan ada juga yang hanya memberi sembako saja kepada paraji setelah selesai membantu persalinan berupa beras, ubi, minyak goreng atau hasil tanaman warga yang bersangkutan.hal ini seperti yang diungkapkan oleh AT (28 tahun),

’’…Saya mah lahiran teh ka ema paraji da kumaha atuh lahiran ka rumah sakit ka puskesmas mah tebih teuing sareng ka bumi bidan ge tebih nya kahiji namah ku biayanya we ageng ari kabidan sareng karumah sakit mah

teu cara ka ema paraji cekap kumasihan artos tujuh puluh lima ribu sareng ari ka ema paraji mah bumi na caket teu tebih matak. Saya mah sanes teu hoyong ka bidan teh da kedah gaduh artos ageng da jampersal tos teu aya ayena mah gening nya entos we ku ema paraji anu cepet sareng caket…’’

Terjamahan Asisten peneliti,

’’…Saya kalo lahiran ke maparaji aja, ya gimana ya lahiran kerumah sakit atau puskesmas kan jauh dan kerumah bidan juga jauh ya masalah utamanya ya karena biayanya besar, kalo kebidan dan kerumah sakit tidak seperti ke

maparaji cukup nagsih uang 75 ribu dan juga maparaji

rumahnya kan dekat, tidak jauh. Karena itu saya bukannya nggak mau kebidan kan harus punya uang besar kan Jampersal sudah tidak ada sekarang kan, ya sudah sama

maparaji aja cepet dan dekat...’’