ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DAN JIGSAW II DITINJAU DARI INTERAKSI SOSIAL SISWA TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF
F. Manfaat Penelitian
4) Interaksi Sosial Siswa
Menurut Sardiman A.M (2007: 111) “Siswa atau anak didik adalah salah
satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar
mengajar”. Dengan kata lain siswa adalah seseorang yang bertindak sebagai pencari, penerima, dan penyimpan isi pelajaran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Siswa akan menjadi faktor penentu, sehingga menuntut dan dapat mempengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya. Berdasarkan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa interaksi sosial siswa merupakan interaksi sosial yang dilakukan oleh siswa dalam belajar
Proses belajar mengajar yang berlangsung dalam dunia pendidikan memiliki banyak unsur yang perlu diperhatikan. Salah satu unsur yang diperhatikan pertama kali adalah siswa, karena siswa yang mempunyai tujuan, baru setelah itu menurun ke unsur-unsur yang lain. Misalnya materi yang diajarkan, bahan apa yang diperlukan, bagaimana cara mengajarkan, alat apa yang cocok dan mendukung, semua itu harus disesuaikan dengan keadaan atau karakteristik siswa. Itulah sebabnya siswa merupakan subyek belajar yang
commit to user
nantinya akan menjalin hubungan, baik dengan guru maupun dengan sesama siswa. Berdasarkan hal tersebut maka didapatkan pengertian bahwa interaksi sosial siswa adalah hubungan yang saling mempengaruhi antara siswa dengan guru atau siswa dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
e. Interaksi Sosial dalam Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran merupakan proses kegiatan interaksi antara dua unsur manusia, yaitu siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar, dengan demikian siswa sebagai subyek pokoknya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Sardiman A.M (2007: 2) bahwa Interaksi belajar mengajar mengandung arti adanya kegiatan interaksi dari tenaga pengajar di satu pihak dengan warga belajar (siswa, anak didik, peserta didik/subyek belajar) yang sedang melaksanakan belajar di pihak lain.
Interaksi sosial dalam proses pembelajaran berkenaan dengan komunikasi atau hubungan timbal balik atau hubungan dua arah antar siswa dan guru atau siswa dengan siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Interaksi sosial dalam proses pembelajaran dapat terlihat pada: (1) Tanya jawab atau dialog antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa; (2) Bantuan guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar, baik secara individual maupun kelompok; (3) Keberadaan guru dalam situasi belajar mengajar sebagai fasilitator belajar; (4) Adanya kesempatan mendapatkan umpan balik secara berkesinambungan dari hasil belajar yang diperoleh siswa. Atau dengan kata lain adakah keterbukaan, perhatian, saling tanggap dan ketergantungan baik antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa lain ataukah tidak ada.
Interaksi sosial yang baik antara guru dengan siswa maupun antar siswa dalam proses pembelajaran akan menentukan pencapaian tujuan belajar maupun tujuan pendidikan itu sendiri. Salah satu tujuan pendidikan adalah adanya perubahan tingkah laku dan kepribadian peserta didik, hingga mencapai kepribadian yang utuh dan mandiri.
f. Ciri-ciri Interaksi sosial siswa dalam proses pembelajaran
Dalam proses pandidikan, interaksi yang terjadi antar komponen pendidikan haruslah bersifat edukatif, secara sadar mempunyai tujuan mendidik,
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
24
untuk mengantarkan anak didik menuju kedewasaannya. Ciri-ciri interaksi belajar-mengajar antara lain sebagai berikut:
1) Interaksi belajar-mengajar mempunyai tujuan
2) Ada sesuatu prosedur yang direncanakan, didesain dan ditetapkan 3) Ditandai adanya aktifitas siswa
4) Ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus 5) Guru berperan sebagai pembimbing
6) Membutuhkan disiplin (pola tingkah laku diatur sedemikian rupa) 7) Adanya batas waktu. (Edi Suardi dalam Sardiman A. M. 2007: 15)
Sardiman A. M. (2001: 22) mengemukakan bahwa “Proses interaksi itu
adalah 1) Proses Internalisasi dari sesuatu ke dalam diri yang belajar. 2) dilakukan
secara aktif dengan segenap panca indera ikut beroperasi”. Dalam hal ini
partisipasi merupakan peran aktif peserta didik dalam interaksi. Menurut Nana Sudjana (1996: 61) keaktifan peserta didik dapat dilihat dalam hal:
1) Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya 2) Terlibat dalam pemecahan masalah
3) Bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapi
4) Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah
5) Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru 6) Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya 7) Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalahh yang sejenis
8) Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.
g. Interaksi Sosial di Luar Proses Pembelajaran
Hubungan guru dengan siswa dalam proses belajar-mengajar merupakan faktor yang sangat menentukan. Bagaimanapun baiknya bahan pelajaran yang diberikan, bagaimanapun sempurnanya metode yanag dipergunakan, namun jika hubungan guru-siswa merupakan hubungan yanag tidak harmonis, maka dapat menciptakan suatu keluaran yang tidak diinginkan. Sardiman A. M. (2001: 145)
mengemukakan bahwa “kegiatan belajar-mengajar, tidak hanya melalui
commit to user
contact-hours di dalam hubungan guru-siswa”. Contact-hours adalah jam-jam bertemu antara guru-siswa di luar jam-jam presentasi atau mengajar di depan kelas seperti biasanya.
Pada saat-saat semacam itu dapat dikembangkan komunikasi dua arah. Guru dapat menanyai dan mengungkapkan keadaan siswa dan sebaliknya siswa mengajukan berbagai persoalan dan hambatan yang sedang dihadapi. Terjadilah proses interaksi dan komunikasi yang humanistik. Hal ini jelas akan sangat membantu keberhasilan studi para siswa. Berhasil dalam arti tidak hanya sekedar tahu atau mendapatkan nilai baik dalam ujian, tetapi akan menyentuh pada soal sikap mental dan tingkah laku atau hal-hal yang intrinsik.
7. Kemampuan Kognitif Siswa
Istilah ”cognitive” berasal dari kata cognition yang artinya mengetahui. Dalam arti luas, cognition ( kognisi ) berarti perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neiser, 1976 dalam Slameto 1995 : 12). Dalam perkembangannya istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu ranah kemampuan manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesenjangan dan keyakinan.
Kemampuan kognitif dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk menggunakan pengetahuan yang dimiliki secara optimal untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan diri dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu pendidikan dan pembelajaran perlu diupayakan agar kemampuan kognitif para siswa dapat berfungsi secara positif dan bertanggungjawab.
Untuk mengembangkan kemampuan kognitif siswa dalam memecahkan masalah dengan menggunakan pengetahuan yang dimiliki serta keyakinan terhadap nilai-nilai moral yang menyatu dalam pengetahuannya, guru diharapkan melatih penggunaan pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu ( procedural knowledge) yang relevan dengan kemampuan normatif (declarative knowledge). Hal ini berhubungan dengan penggunaan pendekatan dan metode mengajar yang memungkinkan siswa menggunakan strategi belajar yang berorientasi pada pemahaman mendalam terhadap isi pelajaran. Sehubungan dengan hal ini,
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
26
Muhibbin Syah (1995: 84) mengemukakan bahwa guru diharapkan mampu menjauhkan siswa, strategi dan preferensi akal, yang hanya mengarah pada aspirsi asal naik atau lulus.
Menurut WS Winkel (1996) dasar pembagian kemampuan kognitif sering menjadi pedoman dalam menggolongkan jenis perilaku, misalnya dalam taksonomi tujuan instruksional yang dikembangkan oleh BS Bloom da kawan- kawannya. BS Bloom dan kawan-kawannya menjadi kelompok pelopor dalam menyumbangkan klasifikasi tujuan instruksional (education objective). Adapun klasifikasi kemampuan kognitif Bloom adalah sebagai beriku :
a. Pengetahuan (knowledge)
Kemampuan kognitif ini mencakup ingatan siswa akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Hal ini dapat meliputi fakta, kaidah, dan prinsip yang diketahui.
b. Pemahaman (comprehension)
Kemampuan kognitif ini mencakup kemampuan siswa untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Hal itu meliputi pengertian terhadap hubungan antar faktor, hubungan antar konsep, hubungan sebab akibat, dan penarikan kesimpulan.
c. Penerapan ( application)
Kemampuan kognitif ini mencakup kemampuan siswa untuk menerapkan suatu kaidah atau prinsip-prinsip pada suatu kasus atau masalah yang konkret dan baru atau penggunaan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
d. Analisis (analysis)
Kemampuan kognitif ini mencakup kemampuan siswa untuk merinci suatu kesatuan kedalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Adapun kemampuan ini dinyatakan dalam penganalisaan bagian-bagian pokok atau komponen- komponen dasar bersama-sama dengan hubungan antar bagian-bagian itu. e. Sintesis (synthesis)
Kemampuan kognitif ini mencakup kemampuan siswa untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru meliputi menggabungkan berbagai informasi menjadi suatu kesimpulan atau konsep.
f. Evaluasi (evaluation)
Kemampuan kognitif ini mencakup kemampuan siswa untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal bersama pertanggungjawaban pendapat tersebut yang berdasarkan kriteria tertentu, kemampuan ini dinyatakan dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu.
Menurut Nana Sudjana (2006 : 2), dari keenam tingkatan tersebut, kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya
commit to user
termasuk kognitif tingkat tinggi. Setiap penguasaan tiap tingkatan tersebut berdasarkan pada jenjang perkembangan usia dan kedewasaan anak didik. Pada jenjang SMA kemampuan kognitif yang harus dikuasai adalah satu sampai jenjang empat, yaitu dari pengetahuan sampai analisis.
8. Konsep Listrik Dinamis