• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.12 Interaksi Sumberdaya Ikan dengan Faktor Iklim dan

Pola angin munson sangat nyata berpengaruh terhadap kegiatan penangkapan dan keberadaan ikan di Laut Jawa.Pada munson timur, ikan yang bersifat stenohaline banyak tertangkap, seperti layang (Decapterus macrosoma

dan D. russelli), banyar (Rastrelliger kanagurta) dan siro (Ambligaster sirm). Pada angin munson barat, ikan yang bersifat euryhaline mendominasi hasil tangkapan seperti kembung (Ratrelliger brachysoma) dan juwi (Sardinella spp.) (Haidenberg, 1938; Beck dan Sudrajat, 1978); Atmaja dan Ecoutin, 1995; dan Hariati et al., 1995). Berdasarkan cluster analysis hasil tangkapan pukat cincin, sediaan ikan layang deles (D. macrosoma) dan siro (A. sirm) tergolong bersifat

stenohaline, hidup dekat continental shelf edge dan tertangkap pada setiap akhir tahun (Sadhotomo and Potier, 1995 dalam Atmaja dan Nugroho, 1995). Tingkat pemanfaatan sediaan masing-masing spesies tersebut berbeda satu dengan dengan lainnya.Coastal dan neritic species misalnya D. ruselli, Sardinella spp., bentong (Selar crumenopthalmus) telah dieksploitasi mendekati lebih tangkap, sedangkan

ditingkatkan (Sujastani, 1978; Nurhakim et al, 1995; Sadhotomo dan Potier, 1995

dalam Atmaja dan Nugroho, 1995).

Variabilitas beberapa ikan pelagis (D. russelli, D. macrosoma, R. kanagurta) berasosiasi dengan perubahan salinitas massa air yang datang dari Laut Flores dan Selat Makassar pada musim kemarau (Hardenberg, 1938). Kelompok ikan coastal seperti Auxis sp., Sardinella sp., Teri (Steloporus spp. dan

Encraicholine spp.) dan juvenil ikan pelagis berasosiasi dengan perubahan suhu. Dua jenis ikan yang mempunyai respon berbeda terhadap lingkungan digambarkan oleh hasil tangkapan ikan layang dan juwi di perairan utara Bonang-Sarang, pada musim peralihan dari musim timur ke musim barat (September-Nopember) sebagian besar hasil tangkapan pukat cincin didominasi oleh ikan layang, pada musim timur (Maret-Mei) ikan juwi menggantikan ikan layang (Atmaja dan Ecoutin, 1995 dalam Atmaja et al., 2003). Potier (1998) dalam

Atmaja et al. (2003) juga menyatakan bahwa stok ikan pelagis sangat peka terhadap perubahan lingkungan, terutama penyebaran salinitas secara spasial yang dibangkitkan oleh dua angin munson barat laut dan tenggara. Pada tahun basah (curah hujan di atas normal) akan mengurangi penetrasi ikan-ikan yang bersifat oseanik menurun di bagian timur Laut Jawa. Hubungan hasil tangkapan dengan salinitas permukaan menunjukkan berkorelasi positif dan hasil tangkapan berkorelasi negatif dengan curah hujan. Hasil survei akustik menerangkan kelimpahan dan sebaran spasial kelompok ikan.

Perubahan keberadaan dan kelimpahan kelompok ikan tersebut terlihat bahwa pengelompokan ikan di bagian tengah cenderung menghilang pada bulan Desember dan Februari. Dengan menghubungkan adanya perubahan karakteristik lingkungan yang dicirikan oleh adanya perubahan profil suhu dan salinitas pada ketiga waktu tersebut maka dapat diketahui setidaknya kondisi lingkungan pada bulan Oktober relatif homogen sehingga stok kelompok ikan cenderung tersebar merata dengan nilai reverberasi yang tinggi. Pergeseran kelompok ikan ke arah timur diduga sebagai akibat dari pengaruh penurunan salinitas akibat dari masuknya pengaruh massa air salinitas rendah hingga menyebabkan kondisi lingkungan dalam keadaan tidak homogen. Kondisi ini diduga merupakan salah satu faktor utama di mana pada ikan kelompok jenis oseanik layang deles (D.

macrosoma) dan kembung lelaki (R. kanagurta) cenderung bergerak ke arah timur mengikuti pergerakan massa air bersalinitas tinggi. Perubahan musimam karakteristik lingkungan di Laut Jawa tersebut telah diterangkan oleh Wyrtki (1958) dan Durand dan Petit (1995) dalam Atmaja et al.(2003) di mana secara umum dikatakan bahwa perubahan musim di Laut Jawa dicirikan oleh adanya perubahan suhu, salinitas serta arah angin dan pola arus yang berbeda pada dua musim utama yaitu musim barat dan timur.

Analisis parameter-parameter oseanografi seperti suhu, salinitas, dan konsentrasi klorofil-a menguatkan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang mnunjukkan bahwa variabilitas parameter-parameter oseanografi di Laut Jawa secara kuat dipengaruhi pergerakan angin munson. Pada periode musim angin muson tenggara, suhu permukaan laut di Laut Jawa lebih rendah, namun salinitas meningkat dan sebaliknya terjadi pada saat musim muson barat laut. Konsentrasi klorofil-a di bagian barat Laut Jawa relatif sama pada kedua musim, tetapi di bagian timur Laut Jawa, konsentrasi klorofil-a meningkat pada musim barat. Selain pengaruh angin muson, perubahan iklim global ENSO juga terlihat mempengaruhi parameter suhu dan konsentrasi klorofil-a.Pada saat ENSO, terjadi anomali negatif suhu permukaan laut yang menurun sampai dengan mencapai suhu 25,3oC, sebaliknya di bagian timur Laut Jawa terjadi anomali positif konsentrasi klorofil-a. Variasi parameter-parameter oseanografi yang terjadi di Laut Jawa baik yang berhubungan dengan perubahan musim maupun iklim global berpengaruh terhadap distribusi, dengan kelimpahan ikan. Oleh karena itu, data parameter-parameter oseanografi yang secara terus menerus diamati khususnya dari citra satelit sebaiknya digunakan sebagai informasi untuk pengelolaan sumber daya ikan secara optimal dan lestari di Laut Jawa (Gaol dan Sadhotomo, 2007).

Data target strength menunjukkan bahwa rata-rata ukuran ikan pelagis yang terdeteksi di perairan pantai utara Jawa bagian timur adalah 10 sampai dengan 56 cm. Ukuran ikan di daerah lepas pantai lebih kecil dibanding daerah dekat pantai. Pada musim peralihan, kondisi suhu dan salinitas perairan relatif homogen sehingga faktor tersebut kurang signifikan terhadap distribusi keadaan ikan. Diduga faktor lingkungan lain seperti faktor biologi dan kimia berperan dalam pola penyebaran ikan pelagis kecil di perairan ini. Di Laut Flores dan sekitar

pulau-pulau Sunda, densitas ikan tertinggi pada stratum 10 sampai dengan 50 m dengan ukuran 10 sampai dengan 20 cm terutama di bagian lahan marginal seperti sekitar selat dan kepulauan. Selain merupakan lapisan tercampur di mana kondisi suhu dan salinitas relatif stabil pada kedalaman 10 sampai 50 m, lahan marginal merupakan daerah subur tempat pertemuan 2 massa air yang berbeda yang membentuk front diharapkan merupakan tempat berkumpul ikan. Lapisan termoklin yang bersifat lemah berada di bawah 50 m, hal ini mempengaruhi densitas ikan yang semakin rendah pada kedalaman lebih dari 50 m. Ikan pelagis yang berada pada lapisan termoklin mempunyai ukuran yang lebih besar yaitu 14 sampai dengan 40 cm. Pada musim yang sama, rata-rata kepadatan dan ukuran ikan pelagis kecil di wilayah timur lebih rendah daripada sebelah barat (Priatna dan Natsir, 2007).

Dokumen terkait