6. PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN UMUM
6.1 Pembahasan Umum
Secara umum berdasarkan rataan bulanan dari tahun 1994–2010, salinitas permukaan laut (5 m) di perairan Laut Jawa memperlihatkan adanya variabilitas antar musim dengan diindikasikan dua puncak salinitas permukaan laut maksimum dan dua lembah salinitas permukaan laut minimum (Gambar 83 dan 84). Pada musim peralihan I (Maret-April-Mei) lebih rendah dibandingkan musim barat, musim timur, dan musim peralihan II dan salinitas permukaan laut rendah terkonsentrasi di bagian timur Laut Jawa, di selatan Selat Makassar.
Pada musim timur (Juni-Juli-Agustus), salinitas permukaan laut tampak lebih tinggi dibagian timur, terutama di sisi dekat Kalimantan cenderung meningkat. Pada Musim Peralihan II (September-Nopember), salinitas permukaan laut relatif sama dengan Musim Timur dan terlihat salinitas rendah ditemukan di perairan bagian Barat di sekitar Selat Sunda, dengan salinitas permukaan laut sekitar antara 33–34 psu. Kondisi tersebut kemungkinan disebabkan oleh masuknya massa air bersalinitas tinggi dari Samudera Pasifik ke perairan Indonesia, menyebabkan sebaran salinitas permukaan di perairan Indonesia meningkat dari barat ke timur dan berkisar antara 30–35 psu. Dalam muson timur masuknya massa air dari yang bersalinitas tinggi dari arah timur dari Selat Makassar dan Laut Flores, mendorong massa air bersalinitas rendah kembali ke barat sampai ke Laut Cina Selatan melewati Selat Karimata (Wyrtki, 1961; Nontji, 1987; Gordon, A.L. 2005). Menurut, (Atmadipoera dan Nurjaya, 2011) bahwa salinitas permukaan laut perairan Makassar-Arlindo adalah pemasok utama perairan Laut Jawa selama musim timur, bukan dari Laut Flores seperti yang diduga sebelumnya. Komponen arus Makassar-Arlindo yang mengalir ke barat menuju Laut Jawa merupakan respon lokal dari Musim timur (Angin Muson Tenggara) melalui Ekman transport.
Pada musim barat (Desember-Januari-Februari), salinitas permukaan laut terlihat relatif rendah berkisar antara 32–33 PSU. Pada musim ini massa air dari Laut Natuna melewati Selat Karimata memasuki Laut Jawa dari arah barat yang dalam perjalanannya banyak mengalami pengenceran dari aliran-aliran sungai di
sungai disekitarnya (Sumatera, Kalimantan, dan Jawa). Akibatnya salinitas turun dan mendorong massa air yang bersalinitas tinggi ke timur ke arah Laut Flores. Pada Muson barat massa air dari Laut Natuna memasuki Laut Jawa dari arah barat yang dalam perjalanannya dalam musim hujan tersebut banyak mengalami pengenceran dari aliran-aliran sungai dari Sumatera, Kalimantan, dan Pulau Jawa. Akibatnya salinitas turun dan mendorong massa air yang bersalinitas tinggi ke timur ke arah Laut Flores.
Interaksi faktor lingkungan dengan organisme menjadi hal penting dalam kajian kehidupan laut secara keseluruhan, akan tetapi yang harus menjadi pertimbangan mendasar bahwa faktor lingkungan lebih mudah diamati, dipantau serta lebih mudah diprediksi dibanding kelimpahan dan distribusi suatu spesies. Tidak ada keseimbangan yang stabil antara lingkungan dan organisme karena faktor lingkungan terikat dengan variabilitasnya sedangkan organisme memiliki daya adaptasi terhadap fluktuasi lingkungan yang terjadi. Kondisi ini mejadikan hubungan faktor lingkungan dan organisme menjadi faktor fisik dan fisiologis dalam tubuh yang dapat mengoroientasikan dirinya untuk mengarah atau berada dalam suatu lingkungan tertentu (Leavastu dan Hela, 1970; Laevastu dan Hayes, 1981).
Berdasarkan atas data hasil tangkapan, upaya serta daerah penangkapan perikanan pukat cincin di Laut Jawa pada tahun 1984-1985 dari tempat pendaratan ikan Tegal dan Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (Atmaja et al., 1986) diperoleh informasi bahwa hasil tangkapan ikan pelagis kecil bervariasi menurut musim dan daerah penangkapan (dari utara Tegal dan Pekalongan sampai Matasiri dan Laut Cina Selatan). Hasil tangkapan tertinggi terjadi pada musim peralihan 2 (bulan September sampai dengan Nopember) dan tangkapan terendah pada musim timur (bulan Juni sampai Agustus). Pada umumnya hasil tangkapan didominasi oleh spesies ikan layang. Saat itu semakin jauh daerah penangkapan dari fishing base (Pekalongan), indeks kelimpahan CPUE (Catch Per Unit Effort) jenis ikan layang, dan banyar semkin tinggi. Sebaliknya kelimpahan ikan bentong (Selar crumenophathalmus), dan ikan Tembang semakin rendah.
Menurut Wijopriono (2008) pada periode tahun 1999–2002 sumberdaya ikan pelagis di perairan Laut Jawa mengalami variasi dalam sebaran dan
kelimpahan menurut musim. Puncak kelimpahan ikan pelagis di daerah penangkapan dekat pantai (inshore) utara Jawa didominasi oleh ikan Tembang (Juwi) terjadi pada bulan Mei. Sedangkan puncak kelimpahan ikan pelagis di lepas pantai (off shore) yang didominasi oleh ikan layang terjadi pada bulan September.
Fluktuasi CPUE beberapa jenis ikan dari musim ke musim dan daerah penangkapan mempunyai pola yang sama dan beberapa jenis ikan tertentu cenderung berlawanan. Berdasarkan CPUE total tiap bulan (musim) dan daerah penangkapan sangat ditentukan oleh CPUE ikan Layang. Puncak hasil tangkapan ikan layang berlangsung pada musim peralihan II, yaitu terdapat pada perairan sekitar Pulau Masalembo dan Pulau Matasiri, sedangkan pada musim yang lain yakni musim peralihan I dan tenggara jauh lebih rendah. Pola fluktuasi CPUE yang hampir sama terjadi pada Banyar (Kembung), sedangkan untuk tanjan (layang), Siro dan Bentong cenderung berlawanan. Puncak hasil tangkapan tanjan berlangsung pada musim tenggara, terutama di perairan sebelah utara Tegal dan Pekalongan serta Matasiri dengan hasil tangkapan terendah terjadi pada musim peralihan I, terutama di perairan sekitar Bawean dan Masalembo. Hasil tangkapan siro tertinggi berlangsung pada musim barat, yaitu di sekitar Bawean dan Pejantan. Hasil tangkapan terendah pada musim peralihan II, yaitu di perairan sebelah utara Tegal dan Pekalongan dan sekitar Karimunjawa.
Perubahan kondisi lingkungan mempengaruhi beberapa jenis ikan tertentu untuk melakukan ruaya, misalnya Layang (Decapterus spp) dan Banyar (Rastrelliger kanagurta) yang beruaya mengikuti perubahan salinitas sehingga ikan tersebut selalu beruaya musiman. Menurut Sujastani (1974) ikan Kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) beruaya untuk memijah dari Tanjung Satai (Kalimantan Barat) pada bulan Mei–Oktober, populasi ikan Kembung musim barat beruaya dari perairan Laut Jawa untuk memijah dan atau Laut Cina Selatan, sedangkan populasi ikan kembung musim timur memijah di bagian timur Laut Jawa (Laut Flores). Migrasi ikan Kembung ini mengikuti corak migrasi ikan Layang yang biasanya terlambat satu atau dua minggu (Atmaja et.al., 1986).
Jenis Layang di Selat Makassar pada dasarnya tertangkap sepanjang tahun, fluktuasi terjadi secara musiman; puncak kelimpahan ikan Layang berlangsung
antara Nopember sampai Januari. Adapun musim paceklik penangkapan layang terjadi sekitar bulan Maret sampai Mei. Terkait dengan musim ikan di Laut Jawa, musim puncak layang di Selat Makassar lebih lambat sekitar dua bulan dibanding dengan musim puncak kelimpahan di Laut Jawa (perairan sekitar Kepulauan Masalembo dan Pulau Matasirih) yang berlangsung pada musim peralihan 2 (September–Nopember).Selisih musim puncak tersebut diduga karena adanya
spawning migration dari timur Laut Jawa ke arah barat Selat Makassar.Indikasi tersebut berdasarkan temuan Potier dan Sadhotomo (2003) bahwa adanya pergeseran ukuran ikan Layang yang berhubungan dengan tingkat kematangan gonad ikan layang (Priatna dan Suwarso, 2008).
Ikan Layang, Decapterus spp merupakan salah satu komoditi utama dari hasil tangkapan pukat cincin di perairan utara Jawa. Hasil tangkapan rata-rata selama periode tahun 1981–1982 di TPI Pekalongan saja mencapai 19,442 ton atau sekitar 32% dari hasil tangkapan total ikan pelagis. Kondisi biologisnya menunjukkan bahwa pada salah satu jenis yakni D. maruadsi matang seksual pada ukuran 18,8 cm. Aktifitas penangkapan yang berjalan ditemui banyak ikan yang tertangkap sebelum mencapai ukuran matang seksual. Adapun pola penambahan anggota baru tahunan puncaknya terjadi pada dua musim yakni barat dan timur dengan puncak tertinggi pada musim timur (Atmaja, 1983). Demikian halnya di Selat Makassar diketahui bahwa Layang merupakan tangkapan utama pukat cincin dengan kontribusi sekitar 58%. Sedangkan perairan Selat Makassar bagian selatan sebagai salah satu tujuan utama penangkapan ikan Layang memiliki kontribusi sebesar 43%. Adapun jenis ikan Layang yang tertangkap di Selat Makassar adalah layang (Decapterus ruselli) dan layang abu-abu (D. macrosoma) (Prasetyo dan Suwarso, 2010).
Pengamatan terkini mengenai musim dan daerah penangkapan oleh Chodriyah dan Hariati (2010) diperoleh bahwa musim penangkapan ikan Layang (Decapterus spp.) terjadi pada bulan Agustus, ikan Siro dan Selar Bentong pada bulan Desember, ikan Kembung Banyar bulan September dan ikan Tembang atau Juwi bulan Juni. Daerah penangkapan (fishing ground) purse seine Pekalongan sama dengan periode sebelumnya, meliputi perairan Laut Jawa (utara Tegal dan Pekalongan, Karimunjawa, Bawean, Masalembo, Matasiri, dan Kangean),
perairan Laut Cina Selatan (Pejantan, Natuna, Midai, Tarempa, serta Tambelan) dan perairan Selat Makassar (Lumu-Lumu, Lari-Larian, dan Kota Baru).
Prediksi musim pemijahan Layang Deles (Decapterus macrosoma) yang dilakukan oleh Atmaja dan Sadhotomo (2005) menemukan bahwa berlangsungnya sepanjang tahun, akan tetapi juvenil ikan memasuki masa penangkapan ketika dimulainya proses rekruitmen. Terdapat dua kelompok rekruitmen di Laut Jawa. Kelompok utama rekruitmen memasuki penangkapan sepanjang munson tenggara (Juni–Juli) dan kelompok kecil berlangsung pada Nopember. Berdasarkan kalkulasi mundur dari usia kelompok termuda di rekruitmen utama, dapat disimpulkan bahwa rekruitmen tidak diturunkan dari ikan dewasa yang mendiami daerah tersebut sepanjang tahun. Puncak kematangan ikan yang mendiami Laut Jawa terjadi pada Juni–Juli, dan puncak musim pemijahan dapat berlangsung antara Juli–Nopember sedangkan perkiraan pemijahan untuk rekruitmen utama berlangsung sekitar Nopember. Dalam pengamatannya hampir tidak ditemukan adanya indikasi sampel yang mengalami kematangan dan memijah pada daerah pemijahan di Laut Jawa (minimal tidak berada pada daerah penangkapan armada purse seine).