• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Faktor Hilangnya Dua Kampung Pesisir Desa Bedono

1. Internal a. Abrasi

Mengenai sejak kapan banjir rob dan abrasi mulai berdampak bagi dua kampung di Desa Bedono, dibedakan sesuai kampung. Setiap kampung memiliki perbedaan intensitas dampak yang dirasakan. Pertama, banjir rob dan abrasi di Kampung Tambaksari Desa Bedono. Kampung Tambasari terletak paling dekat dengan laut dan sejajar dengan Kampung Bedono. Sebelum abrasi, di Tambaksari berkembang dua macam budidaya, yakni budidaya padi sawah – tambak dan budidaya tambak.

Pada 1980-an, masyarakat Kampung Tambaksari bertumpu pada sektor pertanian karena banjir rob dan abrasi hanya terjadi di tepi pantai yang dapat dihalau oleh tanggul sungai. Memasuki tahun 1990, lahan sawah masyarakat mulai terkena limpasan air laut, sehingga kurang produktif. Masyarakat beradaptasi dengan mengubah sawah menjadi tambak, sehingga berkembang pola budidaya tambak secara keseluruhan. Ekstensifikasi tambak dengan mengubah lahan pertanian menjadi tambak menyebabkan air laut semakin mendekati perkampungan.

Menurut Maftuh, warga Kampung Tambaksari, banjir rob dan abrasi mulai memasuki tambak dan pemukiman masyarakat Kampung Tambaksari awal 1997.25 Sejak itu, banjir rob sudah merendam halaman rumah dan jalan kampung.

Masyarakat beradaptasi dengan meninggikan rumah dan memasang geladak di lantai, serta meninggikan jalan kampung secara swadaya.26 Pada awal 1998, intensitas banjir rob yang memasuki pemukiman masyarakat meningkat. Air laut naik ke permukiman mulai pukul 08.00 sampai dengan 10.00 pagi setiap hari.

Aktivitas masyarakat terganggu, dan menimbulkan rasa tidak nyaman.27 Sejak 1998, jalan di Kampung Tambaksari tidak dapat dilalui mobil dan sepeda motor karena rusak dan tergenang air laut.

      

25Wawancara dengan Maftuh, 12 April 2018.

26Wawancara dengan Fauzan, 4 Agustus 2017.

27Wawancara dengan Zamrozi, 14 April 2018.

Sajimin sebagai kepala desa terpilih pada periode 1999-2006, dihadapkan pada permasalahan bencana abrasi yang menenggelamkan Kampung Tambaksari.

Pada 16 November 1998, terjadi ombak besar yang disebut masyarakat sebagai

“tsunami kecil” di Kampung Tambaksari. Ombak besar terjadi pada malam hari, sehingga masyarakat kocar-kacir mengungsi ke rumah saudara di Desa Purwosari Kecamatan Sayung dan sekitarnya. Sebagian besar rumah masyarakat diterjang ombak. Menurut Maftuh, sebelum peristiwa ombak 1998, telah terdapat ombak yang menjangkau permukiman dengan skala kecil. Rumah Maftuh berjarak 30 meter dari laut. Maftuh melihat melihat ombak besar yang masih berada di tengah laut yang tingginya melebihi atap rumahnya. Maftuh kebingungan menyelamatkan anaknya yang masih kecil dan mencari perahu untuk menyelamatkan diri.

Sejak peristiwa 1998, masyarakat Kampung Tambaksari sepakat untuk direlokasi. Sebelumnya, masyarakat Tambaksari pernah mendapat tawaran untuk relokasi, tetapi masih menolak. Setelah 3 bulan pelantikan Sajimin sebagai kepala Desa Bedono, masyarakat Tambaksari direlokasi ke Kampung Tambaksari Baru Desa Purwosari. Pada awal 1999, sebanyak 65 KK dari 71 KK masyarakat Kampung Tambaksari pindah ke lahan milik Dinas Pengairan Umum di Desa Purwosari Kecamatan Sayung. Sebanyak enam KK tidak ikut relokasi, karena memiliki tanggung jawab untuk menjaga makam Syekh Mudzakir. Fauzan, Makmun, Habib, Rockim, Kanan, dan Wahcid merupakan keturunan Syekh Mudzakir. Mereka bertahan dalam rumah panggung dan berlindung pada hutan mangrove.28 Fauzan bersyukur, karena PLN tidak memutus aliran listrik di Kampung Tambaksari.

Kedua, banjir rob dan abrasi di Kampung Rejosari (Senik). Kampung Rejosari berada di antara Kampung Bedono dan Kampung Mondoliko. Kampung Rejosari (Senik) menjadi kampung kedua yang direlokasi. Menurut Nasukha, nama Kampung Rejosari berasal dari dua kata bahasa jawa yakni rejo yang berarti makmur, sejahtera dan sari adalah hasil alam. Kampung Rejosari (Senik) adalah kampung yang makmur karena hasil alamnya. Sebelum terdampak abrasi tahun       

28Wawancara dengan Sajimin, 1 Juli 2018.

2000-an, Kampung Rejosari (Senik) masih memiliki lahan pertanian. Pada 1996, di depan rumah Masran masih dapat ditanami pohon kelapa, pohon mangga, rumput hias, dan tanaman hias lainnya.29

Abrasi di Kampung Rejosari sama dengan Kampung Tambaksari yakni adanya alih fungsi lahan sawah menjadi tambak. Hilangnya lahan pertanian, menyebabkan air laut semakin naik ke daratan. Air laut memasuki permukiman Kampung Tambaksari menjadi “tamu harian.” Menurut Juremi, abrasi di Kampung Rejosari (Senik) mulai dirasakan dampaknya sejak 2000-an. Kampung Tambaksari yang hilang pada 1999, meningkatkan intensitas banjir rob dan abrasi di Kampung Rejosari (Senik).30 Menurut Kompas, air rob telah menggenangi rumah masyarakat Kampung Rejosari sejak 2002 dan semakin meningkat intensitasnya.31 Masyarakat beradaptasi dengan meninggikan lantai rumah yang diurug tanah padas. Juremi dan sebagian masyarakat meninggikan lantai rumah dengan memberi cagak untuk diberi geladak. Pada saat Sajimin menjabat sebagai kepala desa, telah dilaksanakan perbaikan jalan antara kampung Mondoliko – Rejosari selebar satu meter. Akan tetapi pembangunan tidak bertahan lama, karena terkikis abrasi dan tenggelam.

Perbaikan infrastruktur jalan di Kampung Rejosari tidak bertahan lama.32 Abrasi di Kampung Rejosari berdampak pada aktivitas masyarakat, misalnya kendala dalam

      

29Masran merupakan salah satu dari 17 warga Kampung Rejosari (Senik) yang tidak ikut relokasi pada tahun 2006. Masran tinggal bersama istrinya di rumah yang hampir setengahnya tenggelam, dengan lantai penuh lumpur. Rumah Masran dibangun pada tahun 1977, dengan hasil jerih payahya menjadi petambak dan nelayan Masran tidak ikut relokasi karena keberatan untuk membangun rumah baru, serta Kampung Rejosari telah memberikannya kehidupan. Masran pernah berniat menjual rumah tersebut, namun tidak laku karena kondisi lingkungan yang parah. Lihat Hendriyo Widi, “Kehidupan Bertahan Hidup di Tengah Gerusan Abrasi”, Kompas, 28 September 2007.

30Juremi adalah warga Kampung Rejosari (Senik) yang ikut direlokasi ke Dukuh Badong Desa Sidogemah tahun 2006. Wawancara dengan Juremi, 12 April 2018.

31Ika, “Dua Dusun Nyaris Tenggelam karena Rob dan Abrasi di Pantai Demak”, Kompas, Rabu 21 Juli 2004.

32Wawancara dengan Satinah, 12 April 2018.

melaksanakan hajatan. Pada 2010, Maulani hendak mengadakan pesta pernikahan anaknya. Maulani meminta izin kepada kepala desa untuk membendung jembatan yang terputus dengan bambu, agar tamu undangan dapat menyeberang untuk menuju rumahnya. 33

Abrasi menyebabkan 4,5 km pesisir desa dan tambak hilang. Dua kampung telah “hilang” karena tenggelam dan ditinggalkan oleh masyarakat. Panjang garis pantai Desa Bedono mengalami kemunduran ke arah daratan. Pada 2003 panjang garis pantai Desa Bedono adalah 15,43 km menjadi 10,54 km pada 2009.34 Masyarakat mengubah bekas Kampung Tambaksari dan Kampung Rejosari (Senik) menjadi hutan mangrove. Sejak 2004, masyarakat mulai memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang fungsi penanaman mangrove sebagai benteng pesisir. Hutan mangrove hasil konservasi dijadikan potensi wisata. Hilangnya dua kampung mempengaruhi luas lahan di Desa Bedono. Pada 2010, Desa Bedono memiliki luas 739 Ha. Akan tetapi, 600,80 ha adalah termasuk lahan kering tambak, yang telah tenggelam dan tidak dapat difungsikan. Menurut data BPS Demak tahun 2013, tambak dan pekarangan yang terendam rob di Desa Bedono seluas 331,31 Ha.35

b. Alih Fungsi Lahan

Manusia memiliki kepentingan terhadap lingkungan alam untuk memenuhi kebutuhan mulai dari tempat tinggal hingga tempat mencari makanan (pemenuhan ekonomi). Pemanfaatan lingkungan di Desa Bedono terbagi dalam periode-periode

      

33Maulani dan Pasijah adalah salah satu keluarga yang masih bertahan di Kampung Rejosari. Abrasi telah menenggelamkan sawah dan tambak. Dahulu Maulani adalah seorang petani palawija yang mempunyai tiga ha sawah dan beralih menjadi nelayan.

34Siti Asiyah, dkk., “Analisis Perubahan Permukiman dan Karakteristik Permukiman Kumuh Akibat Abrasi dan Inundasi di Pesisir Kecamatan Sayung Kabupaten Demak Tahun 2003-2013”, Jurnal GeoEco, Vol. 1, No. 1, 2015 (http://download.portalgaruda.org/article., diunduh pada 25 Oktober 2017), hlm.

90.

35Kecamatan Sayung Dalam Angka Tahun 2010 (Demak: Badan Pusat Statistik, 2010), hlm. 9.

sesuai kondisi alam. Pertama, peralihan dari lahan kering tegalan tandus menjadi lahan pertanian subur (sawah). Menurut cerita masyarakat setempat, dahulu Desa Bedono merupakan daratan tandus. Kemudian datang seorang Kyai bernama K.H.

Ahmad Abdulloh Mudzakir yang mengubah daratan tandus menjadi lahan pertanian subur. Kemakmuran hasil pertanian Desa Bedono tersebut tersiar ke beberapa desa dan kecamatan lain. Pendatang mulai menetap di Desa Bedono dan berharap dapat memperbaiki kehidupan melalui pertanian. Pada dekade 1980-an, Desa Bedono menjadi kawasan pertanian terbaik di Kabupaten Demak.36

Kedua, peralihan dari lahan sawah menjadi tambak. Menurut Asrofi (2017), masyarakat melakukan alih fungsi lahan dikarenakan booming budidaya udang windu pada 1990. Masyarakat terdorong untuk meningkatkan poduksi dengan memperluas tambak. Lahan sawah yang telah terkena air laut karena banjir rob mengalami penurunan hasil panen, sehingga diubah menjadi tambak. Menurut penelitian Danang Manumono, peralihan lahan sawah menjadi tambak di Desa Bedono terjadi sekitar 1993. Masyarakat mengubah lahan sawah menjadi tambak udang yang lebih menguntungkan secara ekonomi.37

Ketiga, peralihan fungsi hutan mangrove menjadi tambak. Peralihan ketiga terjadi bersamaan dengan peralihan kedua. Booming udang windu yang menjadi komoditas dengan nilai jual yang cukup tinggi, mendorong masyarakat mengubah hutan mangrove menjadi tambak. Masyarakat melakukan ekstensifikasi berupa perluasan tambak secara maksimal ke arah darat (sawah) dan laut (mangrove di pantai). Hilangnya hutan mangrove menyebabkan peningkatan intensitas abrasi di Desa Bedono.

Muslihan merupakan petani pendatang dari Kecamatan Guntur yang menikah dengan Siti Amsah warga Kampung Bedono Desa Bedono. Pada 1980, Desa

      

36Rencana Pembangunan Desa Pesisir (RPDP Desa Bedono) Tahun 2013-2017 (Demak: Pemerintah Kabupaten Demak Kecamatan Sayung Desa Bedono), hlm. 4.

37Danang Manumono, “Dampak Abrasi dan Rob terhadap Perilaku Masyarakat Kawasan Pesisir di Kabupaten Demak”

(https://www.academia.edu/3571811/, diunduh pada 25 Oktober 2018), hlm. 385.

Bedono memiliki sistem pertanian yang baik dengan tambak di belakang sawah.

Sejak 1988, perluasan lahan tambak untuk meningkatkan hasil tambak berupa udang windu. Pada 1990, Muslihan menilai tambak lebih mempunyai daya ekonomi dari pada pertanian sawah kurang produktif karena terkena air laut.

Muslihan mengubah sawah seluas 2 ha menjadi tambak. Selain itu, masyarakat juga melakukan ekstensifikasi dengan mengeksploitasi mangrove yang menyebabkan hilangnya benteng alam dan meningkatkan abrasi.38 Pada 2001 banjir rob telah menggenangi 308,65 ha lahan di Desa Bedono. Pada 2006, luasnya meningkat menjadi mencapai 690,9 ha. Pada 2009, lahan Desa Bedono yang hilang karena abrasi seluas 124,12 hektar.39 Menurut data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak, setelah 2006 tambak di Kampung Tambaksari dan Rejosari dianggap hilang. Data terakhir tambak budidaya pada 2006 hanya seluas 199,22 hektar. Padahal, tahun 1990 Desa Bedono memiliki tambak seluas 452,78 hektar.40 Menurut data Badan Pusat Statistik, pada 2010 Desa Bedono menjadi desa dengan jumlah lahan tenggelam terluas yakni 331,31 ha berupa lahan tambak dan pemukiman.41 Tambak yang tenggelam tidak fungsikan karena ikan dan udang hanyut oleh banjir rob.

c. Keterbatasan Pendidikan dan Pengetahuan Masyarakat

Tingkat pengetahuan masyarakat tentang lingkungan merupakan salah satu bentuk dari unsur budaya.42 Menurut Parsudi Suparlan, kebudayaan adalah pengetahuan

      

38Wawancara dengan Muslihan, 8 April 2018.

39Harry Susiolo, “Pindah Rumah karena Tak Tahan Para Petambak di Desa Bedono Terpaksa Alih Profesi”, Kompas, 25 Oktober 2010.

40Rumah Tangga Perikanan (RTP) Budidaya Tambak Tahun 2006 (Demak:

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak, 2006), hlm. 38-40. Lihat Lampiran B.

41Kecamatan Sayung Dalam Angka Tahun 2010 (Demak: Badan Pusat Statistik Kabupaaten Demak, 2010), hlm. 9.

42Menurut Bronislaw Malinowski, kebudayaan digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan biologis (pangan dan prokreasi), kebutuhan instrumental

masyarakat yang digunakan untuk memahami dan memecahkan permasalahan lingkungannya, baik lingkungan alam ataupun lingkungan sosial.43 Dalam hal ini, masyarakat dua kampung pesisir di Desa kurang memahami dampak jangka panjang dari ekploitasi mangrove menjadi tambak. Selain itu, upaya masyarakat dalam menanggapi bencana banjir rob dan abrasi dikatakan terlambat. Tingkat pendidikan masyarakat yang rendah menjadi faktor keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan lingkungan. Tingkat pendidikan masyarakat Desa Bedono dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1 Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Bedono Tahun 1991-2009.

Tahun Tamat PTN/

Sumber: Kecamatan Sayung Dalam Angka Tahun 1991-2009.

Pada 1991, hanya terdapat 9 orang yang tamat perguruan tinggi. Jumah warga Desa Bedono yang tidak sekolah tahun 1992 sebanyak 1.420 orang, tidak tamat SD sebanyak 764 orang. Sebagian besar masyarakat yang tidak tamat SD pada 1992 tergolong sebagai pemuda usia produktif, dan kepala rumah tangga. Artinya,

      

(hukum dan pendidikan), dan kebutuhan integratif (agama dan kesenian).

Pengetahuan sebagai salah satu dari unsur kebudayaan dibutuhkan manusia untuk menyesuaikan diri dengan alam (adaptasi) agar dapat memenuhi kebutuhannya.

Lihat William A. Haviland, Antropologi Jilid 1, terjemahan R.G. Soekadijo (Jakarta: Erlangga, 1998), hlm. 332-334.

43Adaptasi merupakan proses interaksi antara perubahan yang ditimbulkan oleh organisme (manusia) pada lingkungan ataupun sebaliknya dengn tujuan terjadi keseimbangan yang dinamis antara kebutuhan penduduk dan potensi lingkungan..

Secara singkat, adaptasi merupakan upaya manusia mengatur kehidupan dalam menghadapi berbagai kemungkinan agar dapat bertahan hidup. Lihat, William A.

Haviland, Antropologi Jilid 2, terjemahan R.G.Soekadijo (Jakarta: Erlangga, 1998), hlm. 10.

sebagian besar masyarakat di kampung pesisir Desa Bedono memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Akibatnya, masyarakat kurang memiliki pengetahuan tentang dampak eksploitasi mangrove, dan abrasi. Masyarakat memanfaatkan lingkungan hanya berdasarkan kebutuhan ekonomi tanpa memerhatikan ekosistem.

Tingkat pendidikan masyarakat setiap tahun mengalami perbaikan. Pada 1992 sampai dengan 2010 jumlah masyarakat yang lulus perguruan tinggi, SLTA, SLTP, dan SD mengalami peningkatan. Masyarakat Kampung Tambaksari menganut nilai-nilai agama Islam. Pendidikan informal bagi anak-anak Kampung Tambaksari adalah ngaos ke kiai. Akan tetapi, peningkatan pendidikan masyarakat kurang diimbangi denga pola pikir logis dalam menanggulangi abrasi. Masyarakat Kampung Tambaksari memiliki cara yang unik untuk menanggulangi abrasi, yakni dengan mengadakan selametan dan doa bersama.

Sejak 1997, abrasi menyebabkan penurunan kualitas lingkungan yang berdampak pada ekonomi masyarakat. Tambak tenggelam sehingga ikan dan udang hanyut saat banjir rob. Upaya yang dilakukan masyarakat untuk menanggualangi banjir rob dan abrasi diantaranya, membuat penghalau ombak dari terucuk bambu.

Akan tetapi, abrasi tetap mengikis perkampungan. Masyarakat jenuh dan putus asa dengan keadaaan tersebut. Pada pertengahan 1998, masyarakat mengadakan slametan dengan menyembelih kambing. Masyarakat mengadakan doa bersama sebagai upaya memohon perlindungan kepada Tuhan. Masyarakat berkeyakinan bahwa abrasi adalah kehendak yang diberikan oleh Tuhan, sehingga hanya Tuhan yang dapat menghentikan bencana tersebut.44

Menurut Sajimin, sebagian masyarakat dengan keterbatasan pengetahuan berkeyakinan bahwa faktor utama abrasi adalah kehendak Tuhan dan pemanasan global. Akan tetapi, sebagian masyarakat lainnya, menyadari bahwa abrasi       

44Masyarakat telah putus asa dalam mencari solusi, sehingga masyarakat menyebelih kambing sebagai upaya penolak musibah. Masyarakat beranggapan bahwa, abrasi terjadi bukan karena reklamasi dan sebagainya. Akan tetapi abrasi adalah ketetapan dari Tuhan. Oleh sebab itu, cara yang masyarakat andalkan adalah berdoa kepada Tuhan yang memberikan musibah untuk menghilangkan musibah tersebut. Secara logis, cara tersebut tidak akan mengubah keadaan. Hasil wawancara dengan Maftuh, 12 April 2018.

merupakan dampak pembangunan Pelabuhan Tanjungmas Semarang. Pelaksanaan pembangunan yang menjorok ke laut, menyebabkan air laut meluap ke wilayah pesisir terdekat, seperti kawasan pesisir Demak khususnya Desa Bedono.45 Keterbatasan pengetahuan masyarakat memengaruhi pola pikir masyarakat bahwa reklamasi bukan penyebab abrasi karena reklamasi telah dilakukan sejak 1985.

Kampung Tambaksari masih memiliki tambak yang luas tahun 1990-an. Padahal, reklamasi memiliki dampak jangka panjang yang kurang disadari oleh masyarakat.46

Kesadaran masyarakat dalam tanggap bencana abrasi, terlambat. Kampung Tambaksari tenggelam tahun 1999, tetapi penanaman mangrove dilakukan pada 2003. Berjarak kurang dari tiga tahun, Kampung Rejosari tenggelam tahun 2006.47 Kampung Tambaksari yang tenggelam diubah menjadi hutan mangrove dengan bantuan dari Departemen Kelautan, OISCA, dan Kelompok Mangrove Bahari.48 Masyarakat mendapatkan pelatihan, pengarahan, dan pendampingan dari ketiga lembaga tersebut. Pada 2004, penanaman mangrove dilaksanakan seluas 2 ha dengan jumlah 1.250 bibit per hektar. Pada 2006, masyarakat telah berhasil menanam mangrove sepanjang 4 km dari total panjang pantai Bedono 4,5 km.

Masyarakat dibimbing untuk merawat pohon mangrove dengan memberikan alat pemecah gelombang dari bambu dan ban bekas. Aktivtas masyarakat memasang ban bekas untuk melindungi mangrove dapat dilihat pada Gambar 3.4 berikut.

      

45Wawancara dengan Sajimin, 1 Juli 2018.

46Wawancara dengan Maftuh, 12 April 2018.

47Wawancara dengan Sajimin, 1 Juli 2018.

48OISCA merupakan lembaga swadaya masyarakat di bidang lingkungan hidup dari Jepang. Kelompok Mangrove Bahari merupakan lembaga swadaya masyarakat dari Kabupaten Demak. Kelompok Mangrove Bahari membantu mengidentifikasi permasalahan di Desa Bedono dan merumuskan visi terciptanya perbaikan ekonomi dan lingkunga yang lestari. Hasilnya tahun 2003 Desa Bedono melaksanakan pembangunan gedung sekolah dasar dan 10 rumah panggung warga.

Gambar 3.4. Rakyat Melindungi Mangrove dengan Ban Bekas (Kompas, 6 November 2006).

Pelatihan konservasi mangrove tidak hanya ditujukan kepada remaja-dewasa Desa Bedono. Akan tetapi juga ditujukan pada anak-anak untuk menumbuhkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya mangrove bagi lingkungan pesisir. Ativitas anak Desa Bedono menanam mangrove dapatt dilihat pada Gambar 3.5 berikut.

Gambar 3.5. Siswa SDN 01 Bedono Menanam Mangrove (Kompas, 15 Oktober 2008).

2. Eksternal

Pada 1990, pemerintah Jawa Tengah mengarahkan pola inventasi berdasarkan potensi setiap daerah. Diantaranya adalah daerah basis pertanian, daerah basis payau, daerah basis pertambangan, daerah basis industri, dan daerah basis pariwisata. Basis yang potensial untuk dikembangkan di sepanjang Pantura adalah industri.49 Perkembangan industri di Kotamadia Semarang mendorong permintaan lahan untuk menunjang kegiatan industri. Kawasan Kecamatan Tugu diubah menjadi Kawasan Industri Tugu Semarang Barat seluas 1.200 hektar. Kecamatan industri Genuk diperluas sesuai dengan Rencana Induk Kota (RIK) menjadi 800 hektar. Lahan sawah dan tambak yang masih produktif diubah area industri.50 Kebijakan pemerintah Jawa Tengah yang terbuka terhadap investasi, menyebabkan kaum pemodal membangun kerajaan industri di Kotamadia Semarang.51

Letak Kecamatan Sayung yang berbatasan dengan Kecamatan Genuk Kotamadia Semarang mendorong perkembangan Sayung sebagai kawasan industri.

Pemerintah Kabupaten Demak merespons dengan mengeluarkan Peraturan Daerah Kabupaten Demak nomor 19 tahun 1991 tentang batas wilayah kota Kecamatan Sayung, yang menyebutkan bahwa Kecamatan Sayung berbatasan dengan Kotamadia Semarang di sebelah barat akan dikembangkan menjadi kawasan industri, perdagangan dan jasa seluas 140 hektar.52

Industri mulai berkembang di Kecamatan Sayung tahun 1990. Lokasi industri Sayung meliputi Desa Sriwulan, Desa Purwosari, dan Desa Sayung, sedangkan

      

49Oeoel Djoko Santoso, “Strategi Pengembangan Investasi Jateng (2)”, Suara Merdeka, 24 Januari 1990.

50Ghufron Hasyim, “Daerah Tugu dan Genuk Dipersiapkan Jadi Kawasan Industri”, Suara Merdeka, 29 Januari 1990.

51Oeoel Djoko Santoso, “Strategi Pengembangan Investasi Jateng (1)”, Suara Merdeka, 23 Januari 1990.

52Peraturan Daerah Tingkat II Demak Nomor 17 Tahun 1994 Tentang Rencana Umum Tata Ruang Kota dan Rencana Detail Tata Ruang Kota Ibukota Kecamatan Sayung Tahun 1991/1992 sampai dengan Tahun 2011/2012 (Arsip Kabupaten Demak, BAPPEDA Kabupaten Demak), hllm. 7-9.

desa-desa lain seperti Desa Bedono termasuk dalam wilayah penyangga. Industri yang berkembang di Kecamatan Sayung, diantaranya adalah industri tekstil, mebeul, olahan makanan, dan lain-lain. Pabrik-pabrik berjajar di sepanjang Jalan Raya Demak-Semarang. Akan tetapi, pabrik tersebut hanya menjadikan Kecamatan Sayung sebagai lokasi produksi, karena bahan baku produksi tidak berkaitan dengan sumber daya alam Demak. Bahan baku produski didatangkan dari wilayah lain atau bahkan impor dari negara lain.53

Tidak ada pembangunan pabrik di Desa Bedono karena letaknya yang cukup jauh dari jalan besar (Pantura). Oleh karena itu, pengembangan kawasan industri tidak berdampak pada peningkatan pembangunan di Desa Bedono. Akan tetapi, perkembangan kawasan industri Sayung menimbulkan dampak lingkungan bagi Desa Bedono. Misalnya, pencemaran limbah, penggunaan air tanah yang berlebihan, dan beban bangunan pabrik yang menyebabkan permukaan tanah turun (ambles). Industrialisasi di Kotamadia Semarang juga berdampak pada perubahan ekosistem di Desa Bedono. Pesisir Semarang dan Pesisir Sayung merupakan satu kesatuan daratan. Perkembangan industri mendorong permintaan lahan sehingga dilaksanakan reklamasi di Pesisir Semarang. Industrialisasi di Sayung dan Semarang membutuhkan sarana transportasi, sehingga pembangunan Pelabuhan Tanjung Emas dilakukan secara bertahap. Pembangunan break water di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang berdampak pada perubahan arah arus laut sehingga menimbulkan abrasi di Desa Bedono. Berikut adalah faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi hilangnya dua kampung pesisir di Desa Bedono yang termasuk dalam sektor industrialisasi.

a. Reklamasi Pesisir Semarang

Menurut Wisnu Suharto yang dikutip dalam Ali Maskur (2010), reklamasi adalah suatu pekerjaan/usaha memanfaatkan kawasan atau lahan yang relatif tidak berguna

      

53Ratna Sri Widyanstuti, “Kabupaten Demak Otonomi Daerah”, Kompas, 5 Febuari 2003.

atau masih kosong dan berair menjadi lahan berguna dengan cara dikeringkan.54 Biasanya reklamasi dilakukan di wilayah pesisir untuk menambah luas daratan.

Lahan hasil reklamasi digunakan sebagai kawasan pemukiman, perindustrian, bisnis, pertanian, pertokoan dan objek wisata.55

Setelah Indonesia merdeka, reklamasi di Semarang kali pertama dilakukan pada 1979 untuk membangun kawasan perumahan Tanah Mas. Pada 1985, reklamasi dilakukan di kawasan Pantai Marina untuk pembangunan kawasan PRPP dan Perumahan Puri Anjasmoro. Tahun 2003, dilaksanakan reklamasi di Tambak Lorok Kelurahan Tanjung Mas untuk Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).56 Pada 2004, walikota Semarang menyerahkan pekerjaan reklamasi Pantai Marina Semarang kepada PT. Indo Perkasa Utama melalui surat keputusan walikota Semarang nomor 590/04310. Wilayah yang akan direklamasi kurang lebih seluas 200 hektar.57 Hasil reklamasi akan digunakan sebagai kawasan pemukiman, perindustrian, dan wisata.

Pada 1990 (Pelita V), Pemerintah daerah Jawa Tengah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen baik dalam sektor pemerintah maupun swasta. Oleh sebab itu, pemerintah Jawa Tengah menerapkan kebijakan terbuka terhadap investasi. Investor membutuhkan lahan untuk membangun usaha, misalnya pabrik untuk sektor industri, kawasan perumahan, dan sektor pariwisata.

      

54Ali Maskur, “Rekonstruksi Pengaturan Hukum Reklamasi Pantai di Kota Semarang”, Jurnal Law Reform, Vol. 5, No. 2, 2010 (http://eprints.undip.ac.id/16383/1/ALI_MASKUR.pdf, diunduh pada 25 Oktober 2018), hlm. 70.

55Muh. Haris Marfai, Bencana Banjir Rob Studi Pendahuluan Banjir Pesisir

55Muh. Haris Marfai, Bencana Banjir Rob Studi Pendahuluan Banjir Pesisir