• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Permukiman Masyarakat Dua Kampung Pesisir Desa Bedono Terbentuknya perkampungan pesisir, menurut budaya ekologi berawal dari

A. Perubahan Lingkungan Dua Kampung Pesisir Desa Bedono

2. Pola Permukiman Masyarakat Dua Kampung Pesisir Desa Bedono Terbentuknya perkampungan pesisir, menurut budaya ekologi berawal dari

sekelompok manusia yang mendiami wilayah pantai, sehingga disebut masyarakat pesisir.12 Beberapa pola dasar perkampungan yaitu, pola perkampungan berbentuk segi empat, pola perkampungan berbentuk memanjang, dan pola perkampungan

      

10Danang Manumono, “Dampak Abrasi dan Rob terhadap Perilaku Masyarakat Kawasan Pesisir di Kabupaten Demak”

(https://www.academia.edu/3571811/, diunduh pada 25 Oktober 2017), hlm. 376-378.

11Yovita Arika, “Jangan Biarkan Kami Tenggelam...”, Kompas, 9 Agustus 2004.

12Menurut Julian H, Steward, ekologi budaya adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia sebagai makhluk hidup menyesuaikan diri dengan suatu lingkungan geografi tertentu. Akan tetapi, tidak selalu keadaan suatu lingkungan alam memengaruhi kebudayaan suatu masyarakat. Lihat Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi (Yogyakarta: Pusataka Pelajar, 2006), hlm. 47-48.

yang berbentuk melingkar memencar dan berkelompok.13 Desa Bedono termasuk desa pesisir yang terbagi dalam sistem pedukuhan berjumlah tujuh dukuh, yakni Dukuh Bedono, Dukuh Mondoliko, Dukuh Rejosari (Senik), Dukuh Tambaksari, Dukuh Morosari, Dukuh Pandansari, dan Dukuh Tonosari. Pola pemukiman masyarakat Desa Bedono adalah memanjang dan terbagi menurut dukuh.

Masyarakat membangun pemukiman mengikuti aliran sungai yang bermuara ke laut.14 Ketujuh dukuh memiliki pola pemukiman yang sama, yakni terdapat empat bagian peruntukan lahan.

Secara keseluruhan pola pemukiman masyarakat Desa Bedono, sebelum dua dukuh hilang dapat dilihat pada ilustrasi Gambar 3.1 berikut.

Gambar 3.1. Ilustrasi Pola Permukiman Kampung Pesisir Desa Bedono (ilustrasi berdasar pada hasil wawancara dengan Muslihan).

      

13Muh. Yunuf Hafid, dkk., Pola Permukiman dan Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Bajau di Sulawesi Selatan (Sulawesi Selatan: CV. Maju Jaya Ujung Pandang, 1996), hlm. 35.

14Wawancara Asyaroni, 27 Juli 2017.

Pertama, adalah sungai, dan tanggul yang dimanfaatkan sebagai jalan kampung. Setiap kampung memiliki sungai, yang berasal dari saluran sungai air tawar di Kecamatan Sayung yang bermuara ke laut. Masyarakat menyebut sungai di depan rumah sebagai kali anyep. Pada 1980-an, sungai tersebut digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi, mencuci baju, dan memasak. Setiap muara sungai terdapat bendungan yang berfungsi untuk menjaga sungai air tawar tidak tercampur dengan air laut.15

Kedua, adalah rumah yang berbaris memanjang mengikuti aliran sungai.

Jalan kampung adalah tanggul sungai yang terletak di depan rumah. Sebelum abrasi tahun 2000 dan penurunan permukaan tanah, tanggul sungai lebih tinggi dari halaman rumah. Akan tetapi, karena abrasi dan penurunan permukaan tanah mengharuskan masyarakat harus meninggikan rumahnya secara berkala agar tidak terendam air laut dari belakang rumah. Tahun 1990 sampai dengan 2007, Bedono dikenal sebagai desa penghasil kelapa yang ditanam di sekeliling rumah masyarakat. Tengkulak yang berasal dari desa lain datang ke Bedono untuk membeli kelapa. Tengkulak laki-laki memanjat, mengupas, dan membawa buah kelapa sendiri. Pemilik kelapa hanya menerima uang bersih.16 Jenis tanaman lain seperti cabai, terong, dan lainnya masih dapat dibudidayakan di sekitar rumah masyarakat tanpa menggunakan pot.17 Pada 2010, rumah-rumah terlihat pendek karena lantainya diurug secara berkala. Lahan disekitar rumah hanya terdapat mangrove (brayo), tanaman lain tidak dapat tumbuh kecuali menggunakan pot.

Suasana rumah masyarakat di kampung pesisir Desa Bedono tahun 2007 dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut.

      

15Wawancara dengan Muslihan, 8 April 2018.

16Wawancara dengan Siti Amsah, 8 April 2018.

17Wawancara dengan Khotijah, 10 April 2018.

Gambar 3.2. Suasana Kampung Bedono dan Kampung Rejosari Baru Tahun 2007 (Koleksi Pribadi Dedi Sutardi).

Ketiga, adalah sawah yang terletak di belakang rumah. Terdapat jarak beberapa meter antara rumah dan sawah yang berbentuk pematang. Di belakang rumah terdapat sungai kecil sebagai aliran irigasi. Saluran air dijaga masyarakat dengan meninggikan tanahnya secara berkala agar tidak tercampur dengan air laut.

Menurut Muslihan, apabila lahan pertanian terkena air asin, maka struktur tanah akan menyusut dan kurang produktif. Jenis sawah di Desa Bedono adalah sawah tadah hujan, sehingga masyarakat hanya menanam padi sekali dalam satu tahun.

Usia tanam hingga panen kurang lebih lima sampai dengan enam bulan. Setelah panen padi, sawah ditanami sayuran seperti terong dan cabai. Pada 1980-an, Desa Bedono menjadi daerah yang renes.18

Keempat, adalah tambak. Setiap kampung di Desa Bedono memiliki lahan tambak. Di belakang sawah, terdapat sebuah tanggul kecil dan pohon mangrove agar air laut tidak masuk lahan pertanian. Masyarakat membuat saluran kecil untuk mengalirkan air dari laut ke tambak. Booming budidaya udang windu tahun 1990 sebagai komoditas unggul, mendorong masyarakat mengeksploitasi mangrove yang       

18Wawancara dengan Siti Amsah, 8 April 2018.

berada di belakang sawah.19 Akibatnya, air laut mulai masuk ke lahan sawah yang kemudian dialihfungsikan menjadi tambak. Alih fungsi dari sawah menjadi tambak menguntungkan masyarakat, karena udang windu dapat dipanen dua sampai tiga kali per tahun.

Sejak 1997, Kampung Tambaksari mulai tergenang banjir rob. Upaya adaptasi dengan meninggikan rumah di Kampung Tambaksari telah dilakukan.

Akan tetapi, sebanyak 65 KK dari 71 KK direlokasi tahun 1999. Kampung Tambaksari diubah menjadi hutan mangrove yang dihuni oleh enam KK.20 Abrasi menyebabkan pola perkampungan yang semula terdiri dari empat bagian tersisa 2 bagian. Bagian ketiga berupa sawah telah hilang seluruhnya tahun 1999. Bagian keempat berupa tambak di Kampung Tambaksari telah hilang tahun 1997 – 1998 dan di Kampung Rejosari hilang tahun 2005. Bagian pola permukiman yang tersisa di Desa Bedono adalah sungai dan sawah. 21 Awal 2006, masyarakat Kampung Rejosari direlokasi ke Dukuh Badong Desa Sidogemah dan Dukuh Daleman Desa Gemulak. Suasana Kampung Rejosari setelah ditinggalkan oleh masyarakat berupa rumah batu bata yang dibiarkan tenggelam, tiang listrik dibiarkan setengah miring.22 Kondisi permukiman di Kampung Rejosari yang dibongkar karena tenggelam dan tinggalkan masyarakat dapat dilihat pada Gambar 3.3 berikut.

      

19Danang Manumono, “Dampak Abrasi dan Rob terhadap Perilaku

Masyarakat Kawasan Pesisir Kabupaten Demak”

(https://www.academia.edu/3571811/, diunduh pada 25 Oktober 2018), hlm. 378.

20Kurnia Damaywanti, “Dampak Abrasi Pantai terhadap Lingkungan Sosial

Studi Kasus di Desa Bedono, Sayung Demak”

(http://eprints.undip.ac.id/40689/1/055-Kurnia_Damaywanti.pdf., diunduh pada 25 Oktober 2017), hlm. 366.

21Wawancara dengan Juremi, 12 April 2018.

22Harry Susilo, “Pindah Rumah karena Tak Tahan Para Petambak di Desa Bedono Terpaksa Alih Profesi”, Kompas, 25 Oktober 2010.

Gambar 3.3. Permukiman Kampung Rejosari (Senik) Dibongkar dan Ditinggalkan Masyarakat (Sumber: Media Indonesia, 3 November 2010).

Selain menenggelamkan tambak dan pemukiman, banjir rob dan abrasi di Desa Bedono juga merusak jalan dan jembatan yang ditandai dengan amblesnya cor beton dan tanah di bawah cor.23 Sebelum 2004, antara Kampung Bedono, Kampung Mondoliko, hingga Kampung Morosari terdapat tanggul besar yang difungsikan sebagai jalan. Jalan yang menguhubungkan Dukuh Bogorame Desa Timbulsloka – Kampung Bedono – Kampung Mondoliko – Kampung Rejosari – Kampung Tambaksari, Kampung Pandansari, – Kampung Morosari, Kampung Tonosari – hingga Genuk terputus sejak 2007. Pada 2009, jalan antara Kampung Mondoliko dengan Kampung Rejosari (Senik) terputus total. Pada tahun yang sama, akses jalan dari Kampung Rejosari (Senik) menuju Kampung Pandansari juga terputus total.24 Pada 2009-2012, jalan antar kampung tersebut tenggelam karena abrasi.

      

23Akhmad Asrofi, dkk., “Strategi Adaptasi Masyarakat Pesisir dalam Penanganan Bencana Banjir Rob dan Implikasinya terhadap Ketahanan Wilayah Studi di Desa Bedono Kecamatan Sayung Kabupaten Demak Jawa Tengah,” Jurnal

Ketahanan Nasional, Vol. 23, No. 2, 2017

(https://jurnal.ugm.ac.id/jkn/article/download/26257/16960), hlm. 8.

24Wawancara dengan Kambali, pada 13 April 2018.