• Tidak ada hasil yang ditemukan

Relokasi Kampung Senik (Rejosari) ke Kampung Badong Desa Sidogemah dan Kampung Daleman Desa Gemulak 2005

Masyarakat Kampung Rejosari (Senik) menjadi kampung kedua yang direlokasi akibat abrasi yang menenggelamkan kampung. Masyarakat Kampung Rejosari direlokasi pada akhir 2005. Menurut Juremi, banjir rob dan abrasi di Kampung Rejosari telah terjadi sejak 2000. Akan tetapi menurut surat kabarian harian Kompas, banjir rob dan abrasi di Kampung Rejosari (Senik) mulai terjadi tahun 2002. Masyarakat Kampung Rejosari (Senik) merespon perubahan alam dengan       

3“Semangat Bersekolah”, Kompas, 14 Juli 2009.

kenaikan, sehingga peninggian jalan dan lantai rumah tidak efektif. Menurut pasal 15 Peraturan Daerah Kabupaten Demak nomor 4 tahun 2004 tercatat bahwa Desa Bedono dan Sriwulan mendapatkan penanganan masalah abrasi pantai.4

Peningkatan intensitas banjir rob dan abrasi, menyebabkan lingkungan yang tidak nyaman. Setiap hari air laut memasuki rumah setinggi jendela. Setiap sore masyarakat harus menguras air laut yang masuk ke rumah. Akhirnya, masyarakat Rejosari (Senik) mengajukan relokasi. Proses pengajuan yang cukup panjang diupayakan oleh Sajimin selaku Kepala Desa Bedono. Menurut Sajimin, relokasi Kampung Rejosari (Senik) cukup berat karena jumlah keluarga yang direlokasi cukup banyak. Berbeda dengan relokasi Kampung Tambaksari yang disebabkan bencana ombak besar, sehingga pemerintah langsung tanggap. Selain itu, jumlah keluarga Kampung Tambaksari tidak terlalu banyak.

Berbekal keluhan masyarakat Kampung Rejosari, Sajimin datang ke Kabupaten Demak dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk meminta solusi relokasi terutama permasalahan lahan. Pada pertengahan 2005, untuk mempercepat relokasi Sajimin dan masyarakat Rejosari (Senik) melakukan drama di Kecamatan Sayung. Sajimin telah mengkoordinir masyarakat untuk melakukan unjuk rasa di Kantor Kecamatan Sayung. Akan tetapi, Sajimin berpura-pura tidak mengetahui aksi unjuk rasa tersebut. Jatmiko selaku Camat Sayung bernama menghubungi Sajimin menanyakan mengapa masyarakat Rejosari (Senik) berbondong-bondong datang ke kantor kecamatan. Akhirnya, upaya tersebut membuahkan hasil. Sajimin mewakili Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Demak untuk mengikuti rapat Bapernas di Jakarta.

      

4Upaya pemerintah dalam melakukan pembangunan infrastruktur di Desa Bedono adalah melakukan peningkatan kualitas jalan yang mengubungkan Desa Sriwulan – Bedono – Tambakbulusan – Morodemak – Purworejo (sesuai pasal 18).

Selain itu menurut pasal 36, Desa Bedono dan Sriwulan menjadi kawasan pengembangan prioritas dalam masalah bencana rob dan abrasi pantai. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengelola kawasan rawan abrasi (Bedono) sesuai dengan pasal 36 yakni penanaman mangrove. Lihat Peraturan Daerah Kabupaten Demak Nomor 4 Tahun 2004.

Desa Bedono yakni Tambaksari yang direlokasi tahun 1999 dan Rejosari (Senik).

Dalam rapat tersebut, Sajimin menyampaikan bahwa masyarakat mulai bergejolak mengajukan relokasi pada 2005 karena banjir rob dan abrasi yang meneggelamkan rumah masyarakat. Selain itu, infrastruktur seperti jalan antar kampung dan jembatan telah rusak dan tenggelam, sehingga masyarakat kesulitan untuk keluar masuk kampung. Akan tetapi, permasalahan pokok relokasi Kampung Rejosari (Senik) adalah lahan tempat relokasi. Mendengar permasalahan yang diungkapkan oleh Sajimin, pihak Bapernas meninjau Kampung Rejosari seminggu setelah pelaksanaan rapat.

Pihak Bapernas, Camat Sayung beserta wakil pemerintah Kabupaten Demak, datang ke Kampung Rejosari (Senik) pada Jumat Sore saat rob mencapai lutut orang dewasa. Setelah peninjauan, Sajimin mendapatkan amplop berisi surat rahasia yang harus diberikan langsung kepada Bupati Demak. Sajimin tidak diperbolehkan untuk membuka amplop tersebut. Setelah beberapa minggu, Sajimin mendapatkan panggilan dari Pemerintah Kabupaten Demak mengenai surat rahasia yang berisi rekomendasi bantuan senilai 1 milyar untuk relokasi Kampung Tambaksari (Senik).

Bantuan tersebut dalam bentuk material bangunan, bukan diberikan dalam bentuk uang tunai. Sajimin dan masyarakat kemudian membentuk sebuah Tim Panitia Relokasi Rejosari.

Setelah mendapatkan bantuan tersebut, Sajimin dan panitia relokasi kembali dihadapkan pada permasalahan tanah tujuan untuk relokasi. Sajimin dan beberapa masyarakat meminta pertimbangan kepada Camat Sayung dan Bupati Demak.

Sajimin diarahkan untuk menghadap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk meminta solusi. Sajimin menghadap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan mengajukan tempat tujuan relokasi yakni Dukuh Mondoliko Desa Bedono, Dukuh Daleman Desa Gemulak dan Dukuh Badong Desa Sidogemah. Ketiga tempat yang diajukan merupakan tanah irigasi milik Dinas Pengairan.

Sajimin mengajak sebagian Masyarakat Kampung Rejosari bertemu Camat Sayung untuk membicarakan tanah tujuan relokasi. Pada awalnya, masyarakat mengusulkan kepada Camat Sayung untuk direlokasi di depan Kampung

terdapat sungai pembuangan yang cukup besar. Sungai tersebut merupakan lanjutan dari aliran Sungai Sayung yang harus dikeruk setiap tahun. Lokasi tersebut rawan terhadap banjir air tawar dan akan menambah kesusahan masyarakat Kampung Rejosari. Akhirnya, masyarakat menyadari hal tersebut dan setuju dengan pertimbangan dari Camat.

Camat Sayung mengadakan musyawarah dengan pegawai pemerintahan di Kecamatan Sayung, termasuk kepala Desa Sidogemah dan kepala Desa Gemulak.

Hasilnya adalah kesepakatan bahwa masyarakat Kampung Rejosari sebanyak 201 KK dari total 206 KK akan direlokasi ke dua desa yakni Desa Sidogemah dan Desa Gemulak. Tanah yang akan ditempati masyrakat Rejosari adalah tanah irigasi dan bantaran sungai di Desa Sidogemah dan Desa Gemulak. Pada awalnya, relokasi tersebut ditolak oleh warga setempat (Desa Gemulak dan Desa Sidogemah) dikarenakan image orang laut yang dicurigai dapat merusak tanaman masyarakat.

Pada waktu, tanah irigasi yang diinginkan oleh masyarakat Rejosari merupakan lahan pertanian masyarakat Desa Sidogemah dan Gemulak. Relokasi tersebut akan menyebabkan masyarakat setempat kehilangan lahan pertanian. Selain itu, terdapat pandangan bahwa masyarakat Rejosari adalah petambak kaya, mengapa harus direlokasi di Desa Sidogemah dan Desa Gemulak. Akan tetapi, Camat dan pegawainya mempunyai kuasa sehingga masyarakat Kampung Rejosari diijinkan menempati lahan tersebut. Setelah mendapatkan ijin, Camat mengupayaka untuk

“bedhol desa” di laksanakan secepatnya. Daftar nama kelapa keluarga masyarakat Kampung Rejosari yang direlokasi dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan Tabel 4.3 berikut.

Bedono ke Dukuh Daleman Desa Gemulak Kecamatan Sayung Demak Tahun 2006.

No. Nama No. Nama No. Nama

1. Zubaidi 26. Umar 51. Khusaini

2. H. Mabni 27. Ahmadi 52. Taskan

3. Munira 28. Supinah 53. Jono

4. Ali Safi’i 29. Ponti Rahmanto 54. Slamet KT.

5. Kasmuni 30. Mukhlisin Roh 55. Ali C.

6. Sugiyat 31. Supardi 56. Madah

7. Abu Khoiri 32. Jaelani 57. Saikun 8. Shofwan 33. Slamet G. 58. Suwarti

9. Abdullah 34. Rahmat 59. Mad Karim

10. H. Fauzan 35. Abdul Manaf 60. Saerozi

11. Muanas 36. Afandi 61. Subron

12. Khozin 37. Mad Rikhan 62. Saroni

13. Rozikan 38. Muhsin 63. Kamsani

14. M. Syarif 39. Ali 64. Ali Jo.

15. Sanadi 40. Rosidi 65. Asmui (depan mushola)

16. Mukhlisin 41. Kandar 66. Rokhani

17. Khowiyah Suwarno 42. Turmudi 67. Isroim

18. Junaidi 43. Wachid 68. Amir

19. Suyikno 44. Zaeni 69. Jumbadi

20. Abu Naim 45. Tasipah 70. Nasinarah 21. Suwarno Narti 46. Ahmad 71. Semu

22. Anto 47. Slamet TM. 72. Maesaroh

23. Saman 48. Sardi 73. Sardi

24. H. Harno 49. Zawawi 74. Asmui

25. Asnawi 50. Sutikah

Sumber: Wawancara dengan Hadi Suwarno, 18 Juli 2018.

Bedono ke Dukuh Badong Desa Sidogemah Kecamatan Sayung Demak

Sumber: Wawancara dengan Hadi Suwarno, 18 Juli 2018.

administrasi. Sebanyak 76 KK masyarakat Kampung Rejosari direlokasi ke Dukuh Daleman Desa Gemulak. Status administrasi masyarakat juga berubah menjadi warga Desa Gemulak. Sebanyak 99 KK direlokasi ke Dukuh Badong RT 05 dan 06 RW 06 Desa Sidogemah Kecamatan Sayung. Menurut Hadi Suwarno selaku panitia relokasi, sejumlah 175 KK ikut dalam program relokasi dari total 201 KK.

Sebanyak 26 KK diantaranya telah memutuskan pindah secara mandiri sebelum program relokasi tahun 2005-2006. Terdapat 5 KK yang memutuskan untuk tidak ikut relokasi dan tetap bertahan di Kampung Rejosari Senik.5

Masyarakat relokasi, diberikan tanah seluas 6 x 10 m per kepala keluarga (KK). Diharapkan masyarakat dapat membangun fondasi rumah seluas 6 x 8 m.6 Selain itu, setiap KK juga mendapatkan bantuan berupa batu tiga truk, pasir dua truk, semen 25 karung, dan yang satu juta rupiah. Menurut Juremi, bantuan material tersebut hanya cukup untuk membangun fondasi rumah. Sebagian besar masyarakat menggunakan uang satu juta rupiah tersebut untuk bongkar pasang rumah.

Masyarakat membongkar rumah yang ada di Kampung Rejosari, kemudian dibawa tanah yang baru dan disusun kembali. Sebagian besar rumah masyarakat yang ada di Kampung Rejosari merupakan rumah semi permanen. Setengah rumah terdiri dari material batu bata dan semen, dan setengah rumah bagian atas masih berupa papan atau kepang. Bagian papan kepang tersebut yang masih dapat dimanfaatkan untuk dibangun kembali di tanah yang baru.