Manusia adalah makhluk hidup berupaya untuk memenuhi kebutuhan hidup baik lahir maupun batin. Manusia dengan mobilitsnya berpindah lokasi atau migrasi untuk memenuhi kebutuhan. Migrasi dapat diakibatkan oleh perubahan situasi yang hebat dan mendadak, seperti; goncangan ekonomi dan politik; bencana alam yang
5Wawancara dengan Hadi Suwarno, 18 Juli 2018.
6Hendriyo Widi, “Kehidupan: Bertahan Hidup di Tengah Gerusan Abrasi”, Kompas, 28 September 2007.
Kampung Tambaksari dan Kampung Rejosari (Senik) Desa Bedono melakukan migrasi dalam bentuk relokasi akibat perubahan ekosistem yang tidak menguntungkan. Masyarakat Desa Bedono melakukan migrasi karena dorongan perubahan lingkungan yang tidak menguntungkan. Pertanian yang tidak produktif sejak 1999, tambak tenggelam, dan rumah yang tergenang air laut. Migrasi masyarakat pesisir Desa Bedono dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut.
Tabel 3.1 Migrasi Masyarakat Desa Bedono Tahun 1991-2010 No. Tahun Datang Pergi
1. 1991 0 30
2. 2002 3 9
3. 2004 0 0
4. 2005 0 70
5. 2006 0 58
6. 2007 0 58
7. 2008 0 36
8. 2009 0 81
9. 2010 4 972
Sumber: Kecamatan Sayung Dalam Angka Tahun 1990-2010.
Tabel tersebut menggambarkan migrasi keluar Desa Bedono yang terjadi setiap tahun. Data jumlah masyarakat Kampung Tambaksari dan Rejosari yang melakukan migrasi secara khusus tidak tersedia dalam terbitan Kecamatan Sayung Dalam Angka. Akan tetapi, pergerakan migrasi masyarakat dapat dilihat sejak 1991 sampai dengan 2010. Puncaknya tahun 2010, sebanyak 972 orang melakukan migrasi mengakibatkan Desa Bedono memiliki tingkat kepadatan penduduk terendah di Kecamatan Sayung yakni 399 jiwa/km2.
Data tentang jumlah masyarakat yang melakukan relokasi dimuat dalam artikel-artikel Kompas. Masyarakat Kampung Tambaksari yang direlokasi ke Dukuh Tambaksari Baru Desa Purwosari Sayung tahun 1999 sebanyak 65 KK dari total 71 KK. Jumlah masyarakat Kampung Rejosari (Senik) yang direlokasi ke Desa Gemulak dan Desa Sidogemah tahun 2006 sebanyak 201 KK dari total 206 KK.
Relokasi masyarakat Kampung Tambaksari (1999) dan Kampung Rejosari (2006) tidak hanya berdampak pada perpindahan tempat tinggal, tetapi juga peralihan
masyarakat dan menjauhkan laut dari kehidupan masyarakat.
Pertama, peralihan matapencaharian masyarakat Kampung Tambaksari yang direlokasi ke Dukuh Tambaksari Baru Desa Purwosari tahun 1999. Pada dekade 1980-an, matapencaharian sebagian besar masyarakat Kampung Tambaksari dan Rejosari (Senik) adalah petani dan nelayan. Sebanyak 71 KK di Kampung Tambaksari menggantungkan hidup pada hasil laut.7 Kehidupan masyarakat bergantung pada hasil laut berupa ikan, udanag, kepiting, dan kerang. Jumlah pendapatan harian masyarakat bersifat fluktuatif, tergantung pada hasil tangkapan.
Maftuh, memiliiki tambak di Kampung Tambaksari yang cukup luas. Hasil dari tambak tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tambak dapat dipanen dalam kurun waktu 3-4 bulan. Akan tetapi, banjir rob dan abrasi menenggelamkan kampung, dan tambak sehingga masyarakat direlokasi ke Kampung Tambaksari Baru.
Pada 1999, beberapa bulan setelah relokasi, masyarakat masih kembali ke Kampung Tambaksari untuk bekerja sebagai nelayan. Masyarakat memilih kembali ke kampung, karena keahlian yang dimiliki adalah sebagai nelayan. Akan tetapi, jarak antara kampung yang baru dengan kampung lama cukup jauh sehingga membuang waktu dan biaya di jalan. Akhirnya, masyarakat beradaptasi dengan menyewa lahan tambak di Kampung Tambaksari Baru. Maftuh menyewa tambak di Desa Purwosari dengan harga 700.000 – 1.000.000 per/tahun. Maftuh membudidayakan bandeng di tambak Desa Purwosari. Menurutnya, bandeng lebih memiliki daya tahan hidup yang tinggi dibandingkan udang. Maftuh bekerja sebagai pedangan ikan asap dan kikil di Pasar Sayung Kabupaten Demak.8
Desa Purwosari merupakan SP 1 dalam pengembangan kawasan industri di Kecamatan Sayung. Sebagian masyarakat Kampung Tambaksari Baru yang memenuhi kualifikasi beralih matapencaharian menjadi buruh pabrik, dan sebagian
7Yovita Arika, “Hidup Di Tengah Laut Demi Menjaga Tanah Leluhur”, Kompas, 21 Juli 2004.
8Wawancara dengan Maftuh, 12 April 2018.
berada di dekat pusat Kota Sayung, sehingga memudahkan mobilitas masyarakat untuk bekerja sebagai buruh pabrik dan pedagang. Dalam segi matapencaharian, masyarakat telah mengalami peralihan dari pendapatan hasil laut yang tidak stabil menjadi sistem upah tetap.
Kedua, peralihan matapencaharian masyarakat Kampung Rejosari (Senik) yang direlokasi ke Desa Sidogemah dan Desa Gemulak tahun 2006. Masyarakat Rejosari (Senik) merasa relokasi memberikan keuntungan bagi kehidupan masyarakat. Sebelum relokasi, pola matapencaharian masyarakat Kampung Rejosari adalah nelayan dan petambak. Laki-laki menjadi nelayan dan petambak, yang perempuan njegur laut mencari kerang. Akan tetapi, sejak 2000 sampai dengan 2005, abrasi telah menenggelamkan tambak dan rumah masyarakat.
Masyarakat mengadakan musyawarah untuk mengajukan relokasi. Juremi mengatakan, pada awalnya terdapat perbedaan pendapat antara masyarakat yang ingin bertahan dan masyarakat yang ingin relokasi. Sebagian masayarakat golongan tua tidak setuju direlokasi karena khawatir tidak dapat beradaptasi dengan matapencaharian yang baru. Secara usia untuk bekerja di pabrik sudah tidak layak, bekerja di proyek tenaga sudah tidak kuat. Sebagian masyarakat yang setuju untuk direlokasi berpikiran, dari pada setiap hari terendam air laut lebih baik pindah, masalah matapencaharian akan ada jalan. Akhirnya, masyarakat unjuk rasa ke Camat Sayung agar dicarikan tempat untuk relokasi.10
Keputusan relokasi telah dicapai pada akhir 2005. Awal 2006, masyarakat mulai membangun rumah dan menetap di Desa Sidogemah dan Desa Gemulak.
Masyarakat mulai beradaptasi dengan lingkungan yang sebagian masih berupa sawah dan tegalan. Akhirnya, sebagian masyarakat bekerja mencari siput sawah (keong). Sebagian masyarakat yang belum beradaptasi kembali ke laut menjadi nelayan. Beberapa tahun setelah menetap di Desa Sidogemah dan Desa Gemulak,
9Harry Susilo, “Pindah Rumah karena Tak Tahan, Para Petambak di Desa Bedono Terpaksa Alih Profesi”, Kompas, 25 Oktober 2010.
10Wawancara dengan Juremi, 12 April 2018.
sebagai nelayan, pedagang, buruh pabrik, buruh bangunan. Setelah relokasi, masyarakat mengalami kesejahteraan atau dalam istilah masyarakat setempat disebut bubaran. Menurut Juremi, masyarakat yang bubaran memiliki sepeda motor, mobil, dan rumah yang bagus bahkan jumlahnya lebih satu. Padahal, dahulu di Kampung Rejosari lama tidak memiliki harta apapun. Relokasi memberikan kemajuan bagi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan. Diantaranya, telah banyak masyarakat yang dapat membangun rumah permanen yang nyaman.
BAB V SIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, Desa Bedono merupakan desa pesisir di Kecamatan Sayung Demak yang memiliki luas wilayah 739 ha, dengan elevasi 0,3-2,82 m. Desa Bedono terdiri dari tujuh dukuh yakni Bedono, Mondoliko, Pandansari, Tonosari, Morosari, Tambaksari, Rejosari (Senik). Sebagian besar matapencaharian masyarakat bertumpu pada hasil laut dengan menjadi petambak dan nelayan. Pola pemukiman masyarakat memiliki pola memanjang mengikuti aliran sungai yang bermuara ke Laut. Letak desa yang berbatasan dengan laut menyebabkan Desa Bedono rawan terhadap bencana abrasi.
Kedua, sejak 1990 terjadi perkembangan industri yang pesat di Kotamadia Semarang yang menular ke Kecamatan Demak. Pemerintah Demak menentapkan Kecamatan Sayung sebagai kawasan industri, perdagangan, dan jasa melalui Perda Nomor 17 Tahun 1994. Sepanjang Jalan Raya di Kecamatan Sayung berdiri pabrik-pabrik. Beban bangunan, eksploitasi ait tanah untuk produksi, dan limbah berdampak pada perubahan lingkungan di Desa Bedono yakni peningkatan tanah amblesan. Akibatnya, elevasi Desa Pesisir semakin rendah dn mudah terjangkau banjir rob.
Ketiga, abrasi di Kampung Tambaksari terjadi sejak 1997 dan disusul dengan peristiwa ombak besar tahun 1998. Abrasi di Kampung Rejosari (Senik) terjadi sejak tahun 2002. Berbagai upaya masyarakat untuk merespon perubahan lingkungan diantaranya, membangun penghalau ombak, meninggikan jalan, meninggikan rumah sampai dengan mengadakan selametan. Perubahan lingkungan berdampak pada peralihan matapencaharian dari petani menjadi nelayan dan petambak, kemudian sebagiannya beralih menjadi buruh industri dan pedagang.
Kempat, faktor yang mempengaruhi hilangnya dua kampung di Desa Bedono terbagi menjadi dua yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri
82
dari keterbatasan pendidikan dan pengetahuan masyarakat dalam merespon perubahan lingkungan. Misalnya terlambat dalam penanaman mangrove yang baru dilaksanakan 2004 setelah satu kampung tenggelam. Selain itu, alih fungsi lahan untuk diubah menjadi tambak dilakukan oleh masayarakat dengan mengeksploitasi mangrove. Booming budidaya udang windu mendorong masyarakat untuk menaikkan produksi udang dengan ekstensifikasi tahun 1990-1995.
Faktor eksternalnya, adalah reklamasi kawasan pesisir Semarang sejak 1986 sampai dengan 2003. Perkembangan industri Semarang mendorong permintaan lahan untuk dijadikan pabrik, perluasan Pelabuhan Tanjungmas dengan pembangunan break water, dan wisata (PRPP). Pembangunan yang menjorok ke laut menyebabkan perubahan arus laut. Kawasan Pantai Sayung, khususnya Desa Bedono mengalami banjir rob intensitas inggi sejak 1998. Selain itu, perkembangan industri Kotamadia Semarang menyebabkan pencemaran limbah di Sungai Babon yang menyebabkan petambak Desa Bedono dan Desa Sriwulan gagal panen udang.
Kasus pencemaran bergulir tahun 1994-1995 menyebabkan petambak Desa Bedono tidak mampu membayar PBB tahun 1995.
Kelima, beberapa faktor yang telah disebutkan menyebabkan intensitas banjir rob dan abrasi meningkat. Akibatnya dua kampung direlokasi. Pada 1999 sebanyak 65 KK dari total 71 KK Kampung Tambaksari Desa Bedono direlokasi ke Kampung Tambaksari Baru Desa Purwosari. Pada 2006 sebanyak 201 KK dari total 206 KK Kampung Rejosari (Senik) direlokasi ke Dukuh Badong Desa Sidogemah dan Dukuh Daleman Desa Gemulak. Pada 2010 Desa Bedono menjadi desa dengan kepadatan penduduk terendah dalam wilayah administratif Kecamatan Sayung Demak yakni 399 jiwa/km2.