• Tidak ada hasil yang ditemukan

Internal Capital Adequacy Assessment Process (ICAAP)

Dalam dokumen Laporan Tahunan Annual Report 2012 (Halaman 90-101)

Growth of Banking Main Indicators

3. Internal Capital Adequacy Assessment Process (ICAAP)

Sejalan dengan standar yang berlaku, perhitungan kecukupan modal perlu disesuaikan sehingga tidak hanya mampu menyerap potensi kerugian yang timbul dari risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional, namun juga dari risiko lain yang material seperti risiko konsentrasi kredit, risiko suku bunga dalam banking book, dan risiko likuiditas.

In connection with this, PT. Bank Aceh will form a team of Counterpart Risk Management PT. Bank Aceh will review and establish risk management policies that served to enhance the implementation of the risk management with 3 framework:

1. Risk Management Governance

At this stage PT. Bank Aceh conduct risk awareness workshop on the framework of risk management to the Board of Commissioners, Directors, and Senior Management in the PT. Bank Aceh. At this stage will also be developed risk management infrastructure that risk management policies and procedures to support the implementation of the risk management process at PT. Bank Aceh effectively and efficiently. This policy will be supported with a high commitment from all levels of the Bank Aceh and the Risk Strategy, Philosophy, Vision and Mission, as well as Risk Appetite and Risk Tolerance

2. Methodology and Risk Management Infrastructure

PT. Bank Aceh will develop the supporting documents for the process of risk management, such as process and format which will be used in the process of risk identification, risk measurement criteria that will be used in the measurement process and risk analysis, risk management criteria and guidelines to be used in the mitigation process risks, and risk oversight and reporting procedures. It also developed an online risk oversight to be used in monitoring the key risks in PT. Bank Aceh, as well as the collection mechanism Loss Event and actual losses in PT. Bank Aceh.

3. Internal Capital Adequacy Assessment Process (ICAAP)

In line with applicable standards, capital adequacy calculations need to be adjusted so it is not only able to absorb potential losses arising from credit risk, market risk and operational risk, but also of other material risks such as credit concentration risk, interest rate risk in the banking book, and liquidity risk. Laporan T ahunan Bank Aceh - Annual Report 2012

88

Melakukan penerapan pengawasan berbasis risiko, dengan melakukan penilaian atas profil risiko yang dimiliki dan tingkat kecukupan modal untuk mengantisipasi potensi kerugian atas eksposur risiko tersebut serta tetap memenuhi kewajiban penyediaan modal minimum yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku

Kebijakan Manajemen Risiko

PT. Bank Aceh senantiasa meningkatkan Risk Awareness dalam penerapan budaya sadar risiko dengan terus diimplementasikan kepada seluruh karyawan PT. Bank Aceh pada setiap tingkatan dan pada setiap pelaksanaan aktivitas operasional dan non operasional perbankan. Dalam rangka penerapan manajemen risiko, PT. Bank Aceh senantiasa melakukan penyempurnaan di berbagai bidang, antara lain peningkatan risk awareness dan penyempurnaan metodologi serta infrastruktur manajemen risiko. PT. Bank Aceh memandang kedua hal tersebut merupakan hal penting dalam menerapkan manajemen risiko yang mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi manajemen dalam mengambil keputusan. PT. Bank Aceh saat ini memiliki Pedoman Manajemen Risiko melalui SK Direksi No. 068/09/DIR/ VIII/2009 Tanggal 27 Agustus 2009 Tentang Perubahan BPP Risk Management.

Berdasarkan hal tersebut maka PT. Bank Aceh melaksanakan kebijakan meliputi :

1) Penetapan Risiko yang terkait dengan produk dan transaksi perbankan.

Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Risiko terkait produk dan transaksi perbankan, PT. Bank Aceh menetapkan 8 (delapan) risiko meliputi: a. Risiko Kredit b. Risiko Pasar c. Risiko Likuiditas d. Risiko Operasional e. Risiko Hukum f. Risiko Reputasi g. Risiko Strategik h. Risiko Kepatuhan

2) Penetapan penggunaan metode pengukuran dan sistem informasi Manajemen Risiko.

PT. Bank Aceh menetapkan metode standar (standard model) dalam pengkuran risiko dan

Carry out the implementation of risk-based supervision, to conduct an assessment of the risk profile and capital adequacy ratio in anticipation of potential losses on exposure to these risks and still meet the minimum capital adequacy which required in accordance with applicable regulations

Risk Management Policy

PT. Bank Aceh continually improve Risk Awareness in implementing of the risk awareness culture to implement continually to all employees of PT. Bank Aceh on every level and in every execution of operational and non- operational activities of banking.

In the application of risk management, PT. Bank Aceh continues to make improvements in a variety of fields, such as increased risk awareness and improvement methodologies and risk management infrastructure. PT. Bank Aceh regard of these are important in implementing risk management that is able to make a significant contribution to the management in making decisions. PT. Bank Aceh currently has a Risk Management Guidelines through Directors Decree No. . 068/09/DIR/VIII/2009 Date August 27, 2009 About Change Risk Management BPP.

Under these conditions, PT. Bank Aceh implementing the policy include:

1) Determination of risk which related with the products and banking transaction.

In accordance with Bank Indonesia regulations related risk and banking transaction products, PT. Bank Aceh set 8 (eight) risk include:

a. Credit Risk b. Market Risk c. Liquidity Risk d. Operational Risk e. Legal Risks f. Reputation Risk g. Strategic Risk h. Compliance Risk

2) The use of the method of measurement and risk management information systems.

PT. Bank Aceh set a standard model in the risk calculation and in facing the implementation of Basel

Laporan T ahunan Bank Aceh - Annual Report 2012

89

dalam menyongsong implementasi Basel II juga dikembangkan metode internal (Internal model). Sementara Sistem Informasi Manajemen Risiko masih manual dan akan dikembangkan secara otomasi dalam jaringan.

3) Penentuan limit dan penetapan toleransi risiko. Kebijakan penetapan limit dan toleransi risiko ditetapkan melalui Rapat Komite Manajemen Risiko (Komenko) baik untuk limit dan toleransi risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional.

4) Penetapan kebijakan pengelolaan risiko yang melekat pada produk dan aktivitas baru bank. 5) Penetapan penilaian peringkat risiko.

Penilaian peringkat risiko juga dilakukan secara periodik melalui Laporan Profil Risiko.

6) Penyusunan rencana darurat (contingency Plan) dalam kondisi terburuk (worst case scenario). Dalam kaitan tersebut juga telah disusun rencana darurat (contingency Plan) dalam kondisi terburuk (worst case scenario);

7) Penetapan sistem pengendalian intern dalam penerapan manajemen risiko.

Atas dasar kebijakan tersebut diatas , PT. Bank Aceh berkomitmen penuh untuk senantiasa meningkatkan kemampuan pengelolaan risiko secara profesional dan konsisten dalam implementasi pelaksanaan tugas sehari-hari.

Infrastruktur Manajemen Risiko

Pengembangan manajemen risiko dilakukan terhadap beberapa aspek yang meliputi infrastruktur, budaya dan metodologi. Beberapa upaya perbaikan yang sedang dilakukan diantaranya :

• Optimalisasi peran Satuan Kerja Manajemen Risiko dan Membudayakan prinsip-prinsip Risk Management pada seluruh unit kerja dari tingkat bawah sampai tingkat manajemen.

• Pengukuran profil risiko agar menjadi lebih sensitive terhadap risiko yang ada pada setiap karakter unit kerja antara unit bisnis dan unit supporting. • Mengendalikan portofolio risiko kredit dan risiko

pasar dengan mengevaluasi limit yang ada.

• Peningkatan kesadaran, Pengembangan organisasi dan peningkatan kualitas SDM yang dapat mendukung penerapan prinsip-prinsip Manajemen Risiko pada seluruh aktifitas perbankan

II also developed an internal models.While the Risk Management Information System is still manual and automation will be developed in the network.

3) Determination of the limit and the determination of risk tolerance.

Policies and risk tolerance limits set by the Risk Management Committee Meeting (Komenko) both limit and tolerance for credit risk, market risk and operational risk.

4) Determination of risk management policies that are attached to bank products and activities.

5) Determination of risk rating assessment.

Assessment of risk ratings are also conducted periodically by the Risk Profile Report.

6) The preparation of a contingency plan in the worst case scenario.

In this respect it has also drawn up contingency plan) in the worst case scenario;

7) Determination of the internal control system in the risk management implementation.

On the basis of the above policies, PT. Bank Aceh is fully committed to continuously improving risk management capabilities in a professional and consistent in the implementation of daily tasks.

Risk Management Infrastructure

Development of risk management conducted on several aspects, including infrastructure, culture and methodology. Some improvement efforts that are underway include:

• Optimizing the role of the Risk Management Unit and Cultivating the principles of risk management in all units of the lower level to management level. • Risk profile calculation in order to be more sensitive to

the risks that exist in each work unit character between business units and supporting units.

• Controlling the credit risk portfolio and market risk by evaluating the existing limit.

• Increased awareness, organizational development and improving the quality of human resources to support the implementation of the principles of risk management in all banking activities

Laporan T ahunan Bank Aceh - Annual Report 2012

90

Sosialisasi Manajemen Risiko

PT. Bank Aceh senantiasa melakukan sosialisasi manajemen risiko untuk menciptakan kesadaran kepada seluruh unit kerja dan cabang. Sebagai bagian dari pelaksanaan kegiatan sosialisasi tersebut telah dilakukan secara menyeluruh. Dan secara berkala melakukan Monitoring On site terhadap penerapan Manajemen Risiko dan kendala-kendala yang dihadapi cabang dalam penerapannya.

Sosialisasi Manajemen Risiko dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media, antara lain dilakukan melalui :

1. Mengikuti workshop dan seminar. 2. Surat Edaran.

3. Pertemuan rutin. 4. Corporate Mail.

5. Kunjungan Langsung ke Cabang.

Praktek Manajemen Risiko Risiko-risiko yang dihadapi

Secara umum portofolio yang dimiliki PT. Bank Aceh masih dalam batas yang masih dapat diantisipasi risikonya. Hal ini tercermin dari modal yang masih memadai untuk meng‐cover risiko‐risiko yang akan terjadi.

Dan yang menjadi perhatian PT. Bank Aceh dalam pengelolaan risiko adalah Risiko kredit, Risiko Operasional dan Risiko Strategik yang selalu dilakukan pengembangan dan perbaikan, baik dari infrastruktur maupun permodelan pengukurannya. Hal ini senantiasa dilakukan guna mengantisipasi risiko yang selalu berkembang terhadap risiko tersebut.

Risiko komposit PT. Bank Aceh per Desember 2012 adalah “Low To Moderate” dengan Risiko Inheren adalah “Low To Moderate” dan Sistem Pengendalian Risiko adalah “Satisfactory”.

Diharapkan dengan pengembangan manajemen risiko pada seluruh aspek, dapat dilakukan pengendalian terhadap risiko yang terjadi, baik pada tahapan awal transaksi maupun pada taraf berjalannya transaksi, bahkan sampai tahap monitoring setelah terjadinya transaksi.

Risk Management Socialization

PT. Aceh bank continues to socialize risk management to create awareness to all units and branches. As part of the implementation of socialization has been done thoroughly. And regularly conducts Monitoring On site toward the implementation of Risk Management and the constraints faced by the branch in its application.

Socializing of Risk Management is done by utilizing a variety of media, including through:

1. Participated in workshops and seminars. 2. Circular Letter.

3. Regular meeting. 4. Corporate Mail. 5. Direct visits to Branch.

The Practice of Risk Management Risks faced

In general, the portfolio held by PT. Bank Aceh are still within the limits of which can still be anticipated risks. This is reflected in the still adequate capital to cover the risks that will happen.

And concern to PT. Bank Aceh in managing risk is credit risk, operational risk and strategic risk which always carried out the development and refinement, both of infrastructure modeling and measurement. This is always done in anticipation of evolving risks to those risks.

PT. Bank Aceh composite risk as of December 2012 was “Low To Moderate” with Inherent Risk was “Low To Moderate” and Risk Management System was a “Satisfactory”.

Expected with the development of all aspects of risk management, control can be carried out on the risk occurring, either in the early stages of the transaction and the transaction goes extent, even to the extent of monitoring after the transaction.

Laporan T ahunan Bank Aceh - Annual Report 2012

91

• Risiko Kredit

Risiko Kredit didefinisikan sebagai risiko kerugian yang mungkin terjadi akibat kegagalan pihak lawan (counterparty) memenuhi kewajibannya. Pada risiko kredit, terjadi penurunan kredit bermasalah yang ditandai semakin membaiknya rasio NPL akhir tahun 2012 sebesar 3.30%.

Pemberian kredit konsumtif telah diatur berdasarkan karaktersitik risiko debitur, yakni dengan jalan melimitasi berdasarkan kategori tingkat risiko masing –masing nasabah. Antara lain PNS, CPNS dan Swasta dan lainnya serta Pensiunan.

Pengelolaan risiko kredit ditujukan untuk meningkatkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit serta mempertahankan independensi dari proses manajemen risiko yaitu dengan :

• Melakukan kajian terhadap kebijakan dan proses kredit.

• Melakukan pemantauan terhadap portfolio kredit.

• Melakukan Kajian Risiko terhadap permohonan kredit dan Garansi Bank.

• Melakukan penilaian score and rating terhadap debitur konsumer dan korporasi dengan menerapkan penggunaan metodologi scoring and rating guna mendorong bank menggunakan metode yang lebih advanced. Sedangkan pengelolaan portfolio kredit adalah ditujukan untuk meminimalisir terjadinya risiko konsentrasi kredit melalui berbagai upaya perubahan struktur dan jenis kredit.

Portofolio kredit secara keseluruhan, meliputi outstanding dan kualitasnya dilakukan pemantauan secara berkala berdasarkan risiko oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko berdasarkan jenis kredit. Diharapkan dengan monitoring yang ketat dan pengendalian risiko kredit yang baik, eksposur risiko kredit dapat terjaga dan semakin meningkat kualitasnya.

PT. Bank Aceh telah menerapkan model Sistem Aplikasi Rating Kredit (SARK) yang menilai credit scoring. Perbaikan terhadap sistem terus dilakukan untuk mendapatkan model yang lebih baik sehingga

• Credit Risk

Credit risk is defined as the risk of loss that may occur due to the failure of counterparty (counterparties) to meet its obligations. On credit risk, a decline in non-performing loans which marked the end of the improvement in the NPL ratio in 2012 of 3:30%.

Provision of consumer loan has been arranged based on the characteristics of risk debtor, such as limited by category risk level of each customer. Among others, civil servants, and private and other employess and pensioners.

Credit risk management is intended to improve the prudential principle in lending as well as maintaining the independence of the risk management process is to:

• Conduct a review of the credit policy and process.

• Monitoring the credit portfolio.

• Perform a risk assessment of the loan application and Bank Guarantees.

• Conduct an assessment score and rating of consumer and corporate debtors by implementing the use of scoring and rating methodologies in order to encourage banks to use more advanced methods.

While the management of the credit portfolio is intended to minimize the concentration of credit risk through a variety of efforts to change the structure and type of loan.

Overall loan portfolio, covering outstanding and quality monitoring was conducted periodically based on risk by the Risk Management Unit based on the type of credit. Expected with strict monitoring and control of a good credit risk, credit risk exposure can be maintained and further improved.

PT. Bank Aceh has implemented Rating Credit Application System Model (SARK) which assesses credit scoring. Repairs to be done to get a better model so that decision-making and risk monitoring

Laporan T ahunan Bank Aceh - Annual Report 2012

92

pengambilan keputusan dan pemantauan risiko menjadi lebih baik. Sejalan dengan hal tersebut, upaya intensif telah dilakukan untuk mengantisipasi peraturan baru Bank Indonesia dalam perhitungan

Rasio Kecukupan Modal dan persiapan

implementasi Basel II.

• Risiko Pasar

PT. Bank Aceh menggunakan perhitungan Standard Method dalam menghitung risiko pasar sesuai dengan peraturan Bank Indonesia. Pengembangan Risiko Pasar agar dapat terintegrasi dengan kegiatan treasuri merupakan suatu hal mutlak agar Risiko Pasar dapat dikelola secara harian sesuai dengan karakteristik Risiko Pasar yang bersifat cepat dan fluktuatif.

Bank mengelola risiko likuiditasnya agar dapat memenuhi setiap kewajiban yang jatuh tempo dan menjaga tingkat likuiditas yang optimal. Tujuan tersebut dicapai oleh Bank dengan menetapkan dan mengimplementasikan kebijakan cadangan likuiditas yang optimal, mengukur dan menetapkan limit untuk risiko likuiditas guna menghindari kekurangan likuiditas, konsentrasi gap dan ketergantungan kepada counterparty, instrumen atau market segment tertentu serta penyusunan contingency plan.

Bank juga telah melakukan review terhadap strategi dalam memelihara hubungan dengan nasabah, diversifikasi simpanan, dan kemampuan Bank untuk menjual aset likuid, serta dapat memprediksi jumlah dana yang akan diterima dari pasar, dalam kondisi yang normal atau sebaliknya.

Bank dalam menghitung dan memantau

perkembangan risiko pasar telah merencanakan dalam Rencana Kerja 2013 untuk mengembangkan aplikasi Market Risk Measurement (MRM) yang sangat membantu Manajemen dan Petugas untuk menghitung risiko suku bunga, risiko likuiditas, melakukan simulasi kebutuhan modal, dan melakukan stress test analisa suku bunga.

for the better. In line with this, an intensive effort has been made to anticipate the new regulations of Bank Indonesia in the calculation of capital adequacy ratio and the preparation of the implementation of Basel II.

• Market Risk

PT. Bank Aceh using the Standard calculation method in calculating the market risk in accordance with Bank Indonesia regulations. Market Risk development to be integrated with the activities of the treasury is an absolute must in order to market risk can be managed on a daily basis in accordance with the characteristics of the market risk that is both fast and volatile.

Bank manages liquidity risk in order to fulfill any obligations due and maintain an optimal level of liquidity. The object is achieved by the Bank to establish and implement policies that optimal liquidity reserves, measured and set limits for liquidity risk in order to avoid a shortage of liquidity, gap and concentration dependence of the counterparty, instrument or particular market segment as well as the preparation of contingency plan.

Bank has also conducted a review of the strategy in maintaining relationships with customers, diversification of deposits, and the Bank’s ability to sell illiquid assets, as well as to predict the amount of funds to be received from the market, under normal conditions or otherwise.

Banks in calculating and monitor the development of the market risk has been planned in the 2013 Work Plan for developing applications Market Risk Measurement (MRM) were very helpful for Management and Officer to calculate the interest rate risk, liquidity risk, capital requirements simulation and stress test analysis of interest rates .

Laporan T ahunan Bank Aceh - Annual Report 2012

93

• Risiko Operasional

Langkah-langkah strategis yang akan digunakan dalam mengelola risiko operasional adalah melakukan Identifikasi dan memitigasi terhadap resiko Operasional , melakukan Mapping terhadap aktivitas operasional berdasarkan tingkat risiko, sehingga Bank dapat meminimalisir kejadian risiko dan mencegah terulangnya kejadian risiko yang pernah dialami oleh bank, serta mendapatkan data risiko sesuai kriteria dalam Basel II untuk menuju Advanced Measurement Method.

Risiko Operasional adalah Risiko yang berhubungan dengan ketidakcukupan dan atau kelemahan proses internal, kelalaian manusia, kegagalan sistem, atau adanya masalah eksternal yang mempengaruhi operasional PT. Bank Aceh secara langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan kerugian finansial dan kerugian potensial. Penanganan risiko operasional dilakukan melalui proses Identifikasi risiko yang melekat (Inherent Risk) pada operasional PT. Bank Aceh.

Tujuan pengendalian risiko operasional adalah untuk memastikan bahwa PT. Bank Aceh memiliki kebijakan, mekanisme dan praktik yang tepat untuk menghindari atau meminimalkan kegagalan atau kerugian serta memastikan penerapan peluang bisnis baru secara tepat di bawah kendali manajemen risiko. PT. Bank Aceh berupaya mengurangi risiko operasional dengan mempertahankan sistem kendali Internal yang komprehensif, termasuk menetapkan sistem dan prosedur untuk memonitor transaksi dan seluruh kegiatan lainnya.

Dalam mengindentifikasi risiko operasional, PT. Bank Aceh mengelompokkan sumber risiko operasional untuk kemudian dilakukan identifikasi risiko operiasonal yang material pada kantor cabang konvensional dan syariah yang dilaporkan setiap bulan kepada Direksi.

• Risiko Pasar Likuiditas

Risiko likuiditas merupakan risiko yang antara lain disebabkan ketidakmampuan bank memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo. Risiko likuiditas dapat dikategorikan ke dalam risiko likuiditas pasar

• Operational Risk

Strategic steps that will be used in managing operational risk is to identify and mitigate against operational risk, perform Mapping the operational activities based on risk level, so that the Bank

Dalam dokumen Laporan Tahunan Annual Report 2012 (Halaman 90-101)