BAB III. HUBUNGAN KERJASAMA DOMESTIK DAN INTERNASIONAL
3.2. Kerjasama dengan Lembaga Internasional
3.2.5. International Islamic Liquidity Management (IILM)
Sepanjang tahun 2012, IILM masih dalam proses melakukan konsolidasi internal diantara para anggotanya dalam rangka mencari struktur program yang tepat untuk sukuk IILM yang akan diterbitkan. Tujuan utama IILM yaitu untuk menambah ketersediaan instrumen keuangan syariah jangka pendek yang berkualitas tinggi, likuid dan dapat diperdagangkan secara internasional dengan rating tinggi (A-1/P-1) untuk memenuhi kebutuhan investor yang ingin berinvestasi di produk keuangan syariah.
Struktur program Sukuk IILM yang baru serupa dengan Asset Backed Commercial Paper (ABCP) dengan melibatkan 3 kontrak yaitu: (i) kontrak antara asset provider dengan asset poolling SPV, (ii) antara asset poolling SPV dengan issuer SPV, dan (iii) antara issuer SPV dengan investor. Hal baru yang terdapat dalam struktur program IILM yaitu pada pendukung utama liquidity provider yang menggunakan jalur Primary Dealers (PDs) untuk menjamin pembelian seluruh outstanding sukuk IILM di primary market dan tersedianya kuotasi harga jual dan beli yang wajar di secondary market. Struktur program tersebut telah mendapat preliminary rating A-1 dari Standard and Poors (S & P) pada 2 Juli 2012. IILM berencana akan menerbitkan sukuk sepanjang tahun 2013 sejumlah USD1.5 milyar dengan penerbitan pertama di kuartal I-2013.
Sepanjang tahun 2012, IILM telah mengoptimalkan perangkat organisasinya yang terdiri atas General Assembly (GA), Governing Board (GB), Board of Executive Committee (BEC), Board Risk
Management Committee (BRMC), Board Audit Committee (BAC), Shari’ah Committee (SC), dan Senior Management Executives. Penjelasan fungsi dan kegiatan organ-organ IILM tersebut sebagai berikut : 1. General Assembly (GA) :
General Assembly (GA) adalah organ tertinggi pengambil keputusan dalam IILM antara lain terkait: (i) review dan menyetujui proposal penambahan modal IILM, (ii) persetujuan perjanjian dengan auditor eksternal, (iii) penyetujuan suspensi dan pembekuan operasi IILM dan distribusi asetnya, (iv) persetujuan distribusi pendapatan dan surplus IILM yang diajukan Governing Board, serta (v) amandemen AoA sesuai yang diajukan Governing Board. Pada tahun 2012, IILM telah menyelenggarakan 2 (dua) kali GA meeting yaitu GA ke-2 di Bahrain dan ke-3 di Istanbul, Turki, untuk menyetujui external auditor IILM untuk tahun 2012 dan hasil Final Audited Account dari external auditor tahun 2011.
2. Governing Board (GB) :
Governing Board (GB) adalah organ tertinggi setelah GA yang memiliki kewenangan antara lain (i) pembuat kebijakan dan strategi dalam IILM, (ii) menyetujui general rules dan by-laws IILM, (iii) menerima anggota baru dan men-suspend anggota, (iv) menunjuk dan memberhentikan anggota Board of Executive Committee, CEO, dan Shariah Committee, serta (v) pengajuan amandemen AoA kepada General Assembly. Tanggung jawab anggota GB dilakukan secara kolegial yang salah satunya tercermin dari mekanisme pengambilan keputusan secara voting dengan 1 man 1 vote. Sepanjang tahun 2012, IILM telah menyelenggarakan 2 (dua) kali GB meeting dengan hasil antara lain: menyetujui perubahan anggota komite BAC dan BEC IILM yang baru, mereview corporate plan FY 2012-2014 dan mereview Board Comittee dan manajemen IILM.
3. Board of Executive Committee (BEC) :
Board of Executive Committee (BEC) adalah organ yang bertanggung jawab terhadap operasional IILM, yang terdiri dari ketua dan enam anggota lain, serta memiliki kewenangan antara lain: (i) mengusulkan kepada Governing Board kebijakan IILM dan general rules serta by-laws , (ii) mengusulkan strategi operasional IILM, (iii) mengusulkan anggaran administrative tahunan, serta (iv) mengusulkan amandemen AoA kepada Governing Board dan General Assembly. Chairman yang sekarang dijabat oleh gubernur Bank Negara Malaysia. Pada tahun 2012, IILM telah menyelenggarakan 1 (satu) kali BEC meeting dengan hasil antara lain: mempresentasikan Business Model IILM yang baru.
4. Board Risk Management Committee (BRMC) :
Board Risk Management Committee (BRMC) adalah organ yang bertugas untuk : (i) mengawasi risiko yang dihadapi IILM, dan (ii) memastikan berfungsinya proses manajemen risiko (termasuk perangkat kebijakan, limit dan struktur governance), termasuk (iii) mengawasi manajemen IILM dalam mengelola risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, reputasi dan risiko relevan lainnya, maupun risiko IILM secara agregat. Ketua BRMC saat ini dijabat oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia. Dalam tahun 2012, IILM menyelenggarakan satu kali pertemuan BRMC untuk membahas mandat dari GB meeting ke-6 antara lain mengenai perlu tidaknya IILM menerbitkan unrated sukuk.
5. Board Audit Committee (BAC) :
Board Audit Committee (BAC) adalah organ yang bertugas untuk membantu GB dalam (i) pengawasan pengelolaan dan pelaporan keuangan IILM, (ii) meng-assess efektivitas sistem pengawasan internal (iii) pelaksanaan fungsi audit internal, dan (iv) review rekomendasi auditor eksternal. Bank Indonesia juga menempatkan wakilnya di komite ini, dengan ketua BAC dijabat perwakilan dari Turki. Sepanjang tahun 2012, IILM telah menyelenggarakan 3 kali pertemuan
BAC dengan agenda antara lain menyeleksi internal auditor, mengevaluasi hasil audit external auditor, dan membahas kondisi keuangan IILM.
6. Shari’ah Committee (SC) :
Shari’ah Committee (SC) adalah organ yang bertugas untuk melakukan pengawasan penerapan prinsip syariah dalam kegiatan IILM. Dimana keanggotaan minimum terdiri dari 3 orang, dengan ketua diputuskan diantara anggota. Anggota SC saat ini terdiri dari 6 orang, termasuk 1 wakil dari Bank Indonesia, dengan Ketua SC dijabat oleh perwakilan dari bank sentral Arab Saudi. Sepanjang tahun 2012, IILM telah menyelenggarakan 3 kali SC meeting dengan agenda pokok menyetujui akad yang akan digunakan dalam penerbitan sukuk IILM.
7. Senior Management Executives :
Senior Management Executives adalah legal representative dari IILM yang melakukan operasional sehari-hari IILM di bawah arahan Governing Board/BEC, serta memiliki kewenangan dan bertanggung jawab atas organisasi, pengangkatan/pemberhentian pegawai. Secara garis besar organ dibawah senior management executives meliputi divisi keuangan, divisi kepatuhan & audit internal, divisi manajemen risiko, divisi hukum dan divisi treasury.
Struktur organisasi dan governance IILM setelah lebih dari 1 (tahun) beroperasinya institusi ini atau pada tahun 2012, dapat dilihat sebagaimana bagan berikut ini.
Bagan 1 - Struktur organisasi IILM (2012) :
• ! " # • $ ! % & ' ! ' ( # ' )* !% '
Delegated by Governing Board to have oversight on the operations of the IILM
+ ' ')+ In charge of day-to-day operations of IILM Senior Management Executives Legal division led by Chief Legal Officer Risk management division led by Chief Risk Officer Internal audit &
compliance division led by Chief Internal Auditor Finance division led by Chief Financial Officer
Treasury division led by Chief Treasury & Asset Management
Officer
$ ,- '
STANDAR ISLAMIC FINANCIAL SERVICES BOARD (IFSB) TERKAIT PERBANKAN SYARIAH TAHUN 2012 : (i) Stress Testing, dan (ii) Liquidity Risk Management
1. Guiding Principles on Stress Testing for Institutions offering Islamic Financial Services
IFSB sebagai International Standard Setting Body untuk keuangan syariah telah mengeluarkan IFSB-13:
Guiding Principles on Stress Testing for Institutions offering Islamic Financial Services pada bulan Maret 2012.
Stress testing didefinisikan sebagai alat manajemen risiko di lembaga keuangan yang: (i) menyajikan forward
looking assessment terhadap risiko, (ii) merupakan solusi atas keterbatasan model dan data historis dalam
menangkap data-data yang low frequency tetapi berdampak luas, (iii) memberikan input bagi prosedur perencanaan modal khususnya internal capital adequacy assessment process (ICAAP) dan perencanaan likuiditas, (iv) memfasilitasi mitigasi risiko dan, (v) membantu pelaksanaan tata kelola perusahaan (corporate
governance).
Selama ini, perhitungan stress testing masih terbatas kepada pasar lokal dan belum mencakup pengaruh internasional termasuk dampak contagion effect dan cross border systemic risk. Selain itu, walaupun lembaga keuangan syariah mungkin tidak terkena dampak langsung (pertama) tekanan ekonomi namun terkena dampak kedua yaitu apabila kualitas aset menurun yang menyebabkan terjadinya risiko kredit, risiko operasional, risiko imbal hasil, risiko pelarian dana ke lembaga keuangan konvensional dan risiko likuiditas. Acuan ini tidak dimaksudkan untuk menyajikan bentuk perhitungan yang baru namun untuk menyesuaikan dan melengkapi perhitungan stress testing yang ada agar lembaga keuangan syariah kompetitif dan memiliki standar stress testing yang komprehensif (lihat gambar 1 dan 2).
Gambar 1. Stress Testing untuk LKS Gambar 2. Stress Testing untuk Pengawas
Oleh karena itu, stress testing ini: (i) mempertimbangkan spesifikasi lembaga keuangan syariah termasuk pelajaran dari krisis keuangan, (ii) membimbing lembaga keuangan syariah untuk menganalisa tekanan/guncangan ekonomi dengan berbagai skenario stress testing, (iii) digunakan oleh regulator untuk alat
surveillance, identifikasi kerapuhan sistem keuangan dan pengawas kebijakan makro prudensial.
Metodologi Stress Testing
Existing Stress
Testing
Islamic Stress
Testing
Aspek Tata Kelola Stress Testing
Identifikasi Faktor-Faktor Risiko
dan Cakupan Skenario
Elemen Spesifik Lembaga
Keuangan Syariah di Stress
Frekuensi Stress Testing
Acuan Stress Testing
bagi Lembaga
Keuangan Syariah
Existing Stress Testing Islamic Stress Testing Acuan Stress Testingbagi Otoritas Pengawas
Analisa Rutin dan Komprehensif terhadap Stress Testing Lembaga Keuangan Syariah
Disain dan Implementasi Stress Testing yang Menyeluruh, Skenario Spesifik dan Frekuensi
Stress Testing
Langkah Penyesuaian Berdasarkan Hasil Stress Testing
Diskusi Rutin Pengawas dengan Lembaga Keuangan Syariah dan
Isu Lintas Negara dan Koordinasi Internal
Keterbukaan dan Format Laporan Stress Testing
Secara detail, isu acuan stress testing bagi lembaga keuangan syariah dan otoritas pengawas sebagai berikut:
Bagi Lembaga Keuangan Syariah
Aspek Tata Kelola dari Kerangka Stress Testing
Stress testing merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan tata kelola lembaga keuangan syariah dan merupakan tanggung jawab dewan direksi dan manajer senior. Hasil stress testing dapat mempengaruhi pengambilan keputusan di semua level manajemen di lembaga keuangan syariah
Stress testing merupakan bagian dari kerangka manajemen risiko lembaga keuangan syariah dan didukung oleh infrastruktur yang memadai
Penerapan stress testing harus dapat mengidentifikasi risiko dan melengkapi alat manajemen risiko lainnya
Lembaga keuangan syariah harus mempunyai: (i) kebijakan dan prosedur tertulis, (ii) tanggung jawab yang jelas dan, (iii) alokasi sumber daya untuk memfasilitasi penerapan program stress testing.
Lembaga keuangan syariah harus selalu mengevaluasi (review) kerangka stress testing dan menilai efektifitasnya secara rutin dan independen
Identifikasi Faktor-Faktor Risiko dan Cakupan Skenario
Stress testing yang dilakukan mencakup risiko-risiko yang relevan dan berpotensi mempengaruhi lembaga keuangan syariah
Stress testing yang dilakukan mencakup berbagai skenario termasuk skenario forward-looking dan mempertimbangkan interaksi menyeluruh, efek umpan balik (feed back) dan dinamis.
Stress testing menganalisa event yang terkecualikan namun berpotensi terjadi atau frekuensinya rendah namun dampaknya besar yang umumnya tidak ditangkap di dalam data historis.
Elemen Spesifik Lembaga Keuangan Syariah di Stress Testing
Stress testing yang dilakukan mencakup berbagai skenario untuk mencakup beragam perspektif rekening berbasis bagi hasil Stress testing yang dilakukan mencakup elemen-elemen tertentu dari analisa modal (capital assessment) termasuk perspektif unik di semua waktu dari skenario yang ditentukan.
Lembaga keuangan syariah harus mempertimbangkan risiko kredit seperti non performing financing dan highly leveraged counterparties termasuk melakukan analisa potensi tekanan kredit di masa datang dan perubahan kebutuhan modal. Lembaga keuangan syariah harus mempertimbangkan berbagai posisi instrumen keuangan syariah di dalam portofolio perdagangan khususnya terhadap risiko pasar yang sistemik, tekanan likuiditas dan risiko legal
Lembaga keuangan syariah harus menganalisa kepada portfolio yang spesifik seperti portofolio kredit konsumsi, kredit kepemilikan rumah, real estate, transaksi commodity Murabahah dan equity investment.
Lembaga keuangan syariah harus menganalisa beragam faktor penyebab risiko likuiditas dan perspektif unik terkait agar dapat: (i) memenuhi kewajiban keuangannya dan, (ii) mengidentifikasi potensi tekanan likuiditas.
Stress testing yang dilakukan mencakup berbagai aspek risiko ketidaksesuaian kepada syariah (Sharia non-compliance risk) dan dampak keuangan dari kerusakan reputasi.
Stress testing yang dilakukan mencakup tekanan off balance sheet.
Metodologi Stress Testing
Lembaga keuangan syariah harus menerapkan metodologi stress testing yang komprehensif yang mencakup: (i) analisa sensitifitas (sensitivity) dan, (ii) analisa skenario.
Lembaga keuangan syariah harus menerapkan stress testing kebalikan (reverse) sebagai salah satu alat manajemen risiko untuk melengkapi stress testing yang dilakukan.
Lembaga keuangan syariah harus selalu mengevaluasi metodologi stress testing yang diterapkan dengan mempertimbangkan: (i) perubahan kondisi pasar, (ii) perubahan model bisnis dan aktifitas bisnis seperti ukuran dan kompleksitasnya.
Frekuensi Stress Testing
Lembaga keuangan syariah harus melakukan stress testing secara rutin dan frekuensi yang sesuai di semua tingkatan sejalan dengan risiko-risiko yang melingkupi portofolio perbankan.
Stress testing harus digunakan untuk mendukung beragam pengambilan keputusan dan lembaga keuangan syariah harus menentukan langkah manajemen yang merespon hasil stress testing.
Lembaga keuangan syariah harus dapat menyediakan informasi utama baik kuantitatif maupun kualitatif dengan metodologi yang sesuai.
Bagi Otoritas Pengawas Lembaga Keuangan Syariah
Analisa Rutin dan Komprehensif terhadap Stress Testing Lembaga Keuangan Syariah
Otoritas pengawas harus melakukan analisa rutin yang komprehensif terhadap program stress testing lembaga keuangan syariah dan mengevaluasi hasil stress testing lembaga keuangan syariah.
Otoritas pengawas harus mempunyai kapasitas dan skill yang memadai untuk menganalisa stress testing lembaga keuangan syariah.
Disain dan Implementasi Stress Testing yang Menyeluruh, Skenario Spesifik dan Frekuensi Stress Testing
Otoritas pengawas harus mempertimbangkan kinerja keuangan individual maupun keseluruhan lembaga keuangan syariah termasuk mengevaluasi dampak tekanan ekonomi pada sektor perbankan
Langkah Penyesuaian Berdasarkan Hasil Stress Testing
Otoritas pengawas harus mempertimbangkan kinerja keuangan individual maupun keseluruhan lembaga keuangan syariah termasuk mengevaluasi dampak tekanan ekonomi pada sektor perbankan
Diskusi Rutin Pengawas dengan Lembaga Keuangan Syariah dan Industri
Otoritas pengawas harus secara rutin terlibat diskusi dengan lembaga keuangan syariah maupun industri untuk mengidentifikasi kerapuhan sistemik di lembaga keuangan syariah.
Isu Lintas Negara dan Koordinasi Internal
Otoritas pengawas harus mempertimbangkan dampak lintas negara dari progam stress testing untuk menjamin koordinasi aktifitas pengawasan.
Keterbukaan dan Format Laporan Stress Testing
Otoritas pengawas harus menentukan keterbukaan kualitatif dan kuantitatif dari hasil stress testing yang dilaporkan oleh lembaga keuangan syariah di wilayah kewenangannya.
2. Guiding Principles on Liquidity Risk Management for Institutions offering Islamic Financial Services
Penyusunan standar internasional manajemen risiko likuiditas untuk lembaga keuangan syariah oleh IFSB, dilatarbelakangi perkembangan perekonomian dan keuangan global, khususnya dengan terjadinya krisis keuangan global yang kemudian berpengaruh kepada krisis ekonomi yang lebih luas, yang menyebabkan ketatnya likuiditas dan kredit dalam pasar keuangan global. Sementara dengan semakin berkembang dan terintegrasinya perbankan dan keuangan syariah didunia, sedikit banyak akan terpengaruh pula oleh kondisi dan stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Kondisi perekonomian dan keuangan global dimaksud, telah membuat BIS sebagai International Standard Setting Body perbankan mengeluarkan panduan manajemen risiko likuiditas perbankan konvensional sejak tahun 2009. Sejalan dengan hal tersebut dan dalam rangka pengelolaan manajemen risiko likuiditas bagi lembaga keuangan syariah, IFSB mengeluarkan IFSB-12,
Guiding Principles on Liquidity Risk Management for Institutions Offering Islamic Financial Services (IIFS) di
bulan Maret 2012.
Prinsip penyusunan IFSB Guiding Principles, sebagaimana sebelumnya tidak melakukan proses “reinventing the wheel” sehingga tetap mengakomodasi prinsip manajemen risiko likuiditas yang berlaku secara umum di lembaga keuangan, namun ditambah dengan penyesuaian keunikan keuangan syariah didalamnya. Selain itu juga, IFSB menyadari bahwa praktek dan panduan pengelolaan manajemen risiko likuiditas perbankan syariah di berbagai negara bervariasi, baik dalam karakteristik, cakupan dan infrastruktur maupun instrumen/produk. Sehingga diharapkan otoritas masing-masing negara melakukan evaluasi dan review terhadap praktek dan panduan pengelolaan manajemen risiko likuiditas maupun ketentuan yang ada dengan standar IFSB ini menjadi referensi-nya.
Standar IFSB ini juga menjelaskan komponen yang diperlukan untuk pengelolaan manajemen risiko likuiditas yang baik, dimana keberadaan infrastruktur terkait yang relevan dipandang sebagai komponen yang penting, baik untuk pengembangan pasar keuangan syariah maupun stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan
Pengertian infrastruktur likuiditas merujuk kepada pengaturan kelembagaan dan operasional yang ada, dan dapat menyediakan lingkungan yang membantu pengelolaan likuiditas lembaga keuangan, baik dalam kondisi normal maupun krisis.
Sementara prinsip-prinsip yang diatur dalam standar IFSB ini terbagi kedalam 2 bagian yaitu yang berlaku untuk : (i) lembaga keuangan syariah dan (ii) otoritas pengawasan lembaga keuangan syariah. Dengan prinsip-prinsip dimaksud adalah sebagai berikut :
Infrastruktur likuiditas :
Sistem hukum bisnis, mencakup pasar modal, trust, hutang publik, kontrak, kebangkrutan dan penyelesaian aset (recovery asset).
Pengawasan makroprudensial yang memadai. Sistem kliring dan pembayaran yang efisien dan aman.
Transparansi informasi dan disiplin pasar yang tepat dan relevan.
Kerangka governance yang luas (termasuk sharia governance) atas transaksi keuangan syariah. Pasar uang syariah yang berfungsi baik dan jumlah memadai pemain dan instrumen yang sesuai syariah.
Ketersediaan Jaring pengaman sistem keuangan, termasuk keuangan syariah. Ketersediaan mekanisme dan kebijakan moneter sesuai syariah.
Pengelolaan yang baik atas pasar modal syariah termasuk didalamnya instrumen pemerintah/korporat yang sesuai syariah.
Kerangka pengaturan mengatasi insolvency lembaga keuangan syariah.
Ketersediaan benchmark yang sesuai syariah untuk transaksi dan pricing produk/aktivitas lembaga keuangan syariah.
Ketersediaan standar internasional akuntansi dan audit lembaga keuangan syariah.
Ketersediaan pemeringkat kredit/rating/kelembagaan keuangan syariah dalam rangka keterbukaan dan disiplin pasar.
Lembaga Keuangan Syariah :
1. Prinsip Umum (bank harus memiliki kerangka
manajemen risiko likuditas yang komprehensif dan baik/sound)
2. Peranan Dewan Direksi (Board of Directors)
3. Struktur Governance dan Peranan Manajemen Senior (didalamnya termasuk DPS)
4. Identifikasi Risiko Likuiditas
5. Interaksi Risiko Likuditas dan Implikasi dengan Kontrak Keuangan Syariah
6. Pengukuran Risiko Likuiditas
7. Sumber Pendanaan yang Terdiversifikasi
8. Manajemen Risiko Likuiditas yang terkonsolidasi (BUS anak perusahaan BUK/UUS)
9. Pengelolaan cadangan Aset Likuiditas yang tinggi 10. Penyiapan Rencana Pendanaan Darurat (Contingency
Funding Plan/CFP)
11. Pengelolaan agunan Sesuai Syariah (Managing
Shari`ah-Compliant Collateral)
12. Kerjasama/Kolaborasi Perbankan Syariah
13. Pemenuhan Kewajiban Sistem Pembayaran dan
Settlement
14. Risiko Likuiditas Valuta Asing
15. Pelaporan dan Transparansi Risiko Likuiditas
Otoritas Pengawasan :
1. Tanggung Jawab atas Pengawasan dan
Risiko Likuiditas Lembaga Keuangan
Syariah.
2. Pengaturan Pengawasan Manajemen
Risiko Likuiditas Lembaga Keuangan
Syariah.
3. Peranan Otoritas sebagai Lender of the Last Resort.
4. Pengawasan Konsolidasi Risiko Likuditas.
5. Pengumpulan Informasi Likuiditas dan
Tindakan Perbaikan.
6. Pengawasan Risiko Likuiditas yang cross- sector dan melibatkan Home-Host authorities.
7. Rencana Kontinjensi Otoritas untuk