METODOLOGI PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Hasil dan Pembahasan 1.Analisa Deskriptif
4. Interpretasi Model
Hasil dari estimasi yang menggunakan fixed effect pada tabel 4.4, terdapat tiga variabel penjelas berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat pada tingkat signifikan 5%. Variabel kapasitas fiskal edan investasi swasta berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap PDRB, sedangkan TPAK berpengaruh signifikan tetapi secara negatif terhadap PDRB. Untuk variabel dummy otonomi daerah, ditunjukkan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap PDRB.
126 a. Variabel Kapasitas Fiskal (KF)
Kapasitas Fiskal menunjukkan tingkat kemandirian suatu daerah sesuai dengan tujuan otonomi daerah di Indonesia, yaitu besarnya kemampuan suatu daerah untuk dapat membiayai pembangunan daerahnya sendiri. Pada hasil penelitian ini, diperoleh bahwa kapasitas fiskal berpengaruh signifikan pada taraf nyata 5% dan berhubungan positif dengan nilai probabilitas 0.0037. Nilai koefisien yang diperoleh sebesar 0.051747, yang berarti bahwa apabila kapasitas fiskal naik sebesar 1%, maka nilai PDRB akan meningkat pula sebesar 0.051747%, hal tersebut sesuai dengan hipotesis bahwa kapasitas fiskal berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi regional (PDRB).
Korelasi yang positif dan signifikan antara kapasitas fiskal dengan PDRB sesuai dengan hipotesis peneliti,. Dengan adanya peningkatan pada kapasitas fiskal yang merupakan jumlah dari PAD dengan dana bagi hasil pajak dan bukan pajak, maka akan meningkatkan pendapatan nasional, dengan meningkatnya pendapatan nasional maka porsi anggaran dari APBD untuk pembangunan akan meningkat pula yang berarti akan meningkatkan kegiatan ekonomi suatu daerah yang berakibat meningkatkan PDRB suatu daerah tersebut.
b. Variabel Investasi Swasta (IS)
Dalam penelitian ini, investasi swasta yang terdiri dari PMDN dan PMA berpengaruh signifikan pada taraf nyata 5% dan berhubungan
127 positif terhadap PDRB dengan nilai probabilitas 0.0338. Nilai koefisien yang diperolah sebesar 0.003354, yang menyatakan bahwa apabila investasi swasta naik sebesar 1%, maka akan meningkatkan nilai PDRB sebesar 0.003354%. Hal tersebut sesuai dengan hipotesis peneliti yang menyatakan bahwa investasi swasta dapat menyokong pertumbuhan ekonomi regional (PDRB).
Peran investasi swasta di Indonesia cukup penting mengingat Indonesia adalah masih negara sedang berkembang yang tidak hanya dapat mengandalkan modal pemerintah untuk melakukan pembangunan, tetapi juga peran serta masyarakat dan pihak swasta domestik maupun asing. Dimana penanaman modal yang dilakukan oleh pihak swasta dapat membantu meningkatkan kegiatan perekonomian suatu daerah, menyerap tenaga kerja lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat sebagai hasil dari penyerapan tenaga kerja lokal tersebut, dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
c. Variabel Tingkat Partispasi Angkatan Kerja (TPAK)
Tenaga kerja yang diwakili oleh tingkat partisipasi angkatan kerja berpengaruh signifikan pada taraf nyata 5% terhadap PDRB dengan nilai probabilitas 0.0019 dan memiliki korelasi yang negatif. Koefisien TPAK yang diperoleh sebesar -0.002071, yang berarti bahwa untuk setiap kenaikan pada TPAK sebesar 1%, maka akan menurunkan nilai PDRB sebesar 0.002071%.
128 Hal tersebut bertolak belakang dengan hipotesis peneliti dimana TPAK dapat memacu pertumbuhan PDRB. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti pada tahun obeservasi, pengaruh negatif TPAK terhadap PDRB dapat disebabkan salah satunya adalah pemerintah, dalam hal ini pemerintah daerah di lima propinsi pulau Jawa belum mampu memenuhi kebutuhan lapangan pekerjaan yang diharapkan. Dimana pertumbuhan penduduk terus meningkat, bahkan sempat atau masih sering terjadi peledakan penduduk khususnya di daerah terpencil yang masih jauh dari keinginan untuk menggalakan program KB, hal tersebut menjadikan meningkatnya TPAK yang merupakan indikator dari jumlah tenaga kerja yang tersedia di wilayah peneltian tanpa diiringi dengsn bertambahnya lapangan kerja. Meningkatkan pengangguran, yang secara langsung menurunkan pendapatan perkapita dan berdampak pada menurunnya PDRB.
Hal lainnya, di Indonesia kini sebagai dampak dari meningkatnya tenaga kerja diikuti dengan kurangnya manajemen dan perhitungan sutu perusahaan dalam mempekerjakan buruh/karyawan, yaitu semakin banyaknya pengangguran terselubung pada perusahaan-perusahaan.
David Ricardo mengemukakan pendapat dengan Law of
Deminishing Return, dimana perusahaan akan terus meningkatkan
pekerja dengan tujuan untuk meningkatkan output, hingga mencapai titik optimal, tetapi tanpa perhitungan masih terus menambah pekerja, yang
129 berati menambah input perusahaan. Hal tersebut malah akan menurunkan output perusahaan sehingga berdampak pada PDRB.
Kemudian jika dilihat dari keadaan pada tahun penelitian sempat terjadi inflasi yang cukup tinggi, menggeser titik aman perekonomian dan iklim usaha kearah yang kurang aman, sehingga banyak perusahaan/ investor baik swasta domestik maupun asing yang mempersempit wilayah usahanya dan mengurangi pekerja bahkan sampai gulung tikar. Hal tersebut berdampak pada meningkatnya pengangguran, maupun menurunkan output hasil dari berkurangnya kegiatan ekonomi yang menurunkan PDRB.
d. Variabel Dummy Otonomi Daerah (OTDA)
Diberlakukannya otonomi daerah di Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan suatu daerah dalam membangun daerahnya sendiri, pada penelitian kali ini dirasa belum berhasil dan tidak sesuai dengan tujuan negara dalam memberlakukan otonomi daerah, serta bertentangan dengan hipotesis peneliti. Hal ini dapat dilihat pada hasil regresi yang didapat bahwa otonomi daerah tidak berpengaruh signifikan terhadap PDRB, dimana nilai koefisiennya adalah 0.1632.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada tahun observasi, pada awalnya, tujuan awal Indonesia menyelenggarakan sistem otonomi daerah adalah agar masing-masing propinsi dapat mengoptimalkan usahanya untuk meningkatkan penerimaan daerah yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara
130 mandiri, yang terjadi dewasa ini justru sebaliknya yaitu daerah makin bergantung terhadap alokasi transfer dari Pemerintah Pusat terutama DAU. Banyak penelitian terdahulu menunjukkan suatu fakta yang sangat memprihatinkan yaitu hampir di semua daerah di Indonesia rasio DAU terhadap Total Pendapatan Daerah melebihi angka 50%.
Kendala terbesar dari belum mampunya daerah untuk mandiri adalah daerah belum tahu bagaimana cara mereka untuk mengembangkan potensi diri atau alam, sehingga tercipta suatu pola kemandirian daerah yang selain memajukan daerah itu sendiri sekaligus mensejahterakan masyarakatnya. Terlebih, daerah belum siap untuk tidak terlepas dari kekurangan diberlakukannya otonomi daerah, yaitu kesempatan untuk melakukan tindak korupsi, kolusi dan nepotisme yang lebih besar dan luas dibandingkan dengan sistem pemerintahan terpusat. Hal tersebutlah yang menyebabkan otonomi daerah tidak berperan dalam rangka mendorong pertumbuhan PDRB sebagai indikator dari pertumbuhan ekonomi daerah.