METODOLOGI PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum 1.DKI Jakarta 1.DKI Jakarta
3. Jawa Tengah
a. Lokasi dan Keadaan Geografis
Jawa Tengah sebagai salah satu Propinsi di Jawa, letaknya diapit oleh dua Propinsi besar, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Propinsi ini berbatasan dengan Propinsi Jawa Barat di sebelah barat, Samudra Hindia dan Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah selatan, Jawa Timur di sebelah timur, dan Laut Jawa di sebelah utara. Luas wilayahnya 32.548 km², atau sekitar 25,04% dari luas pulau Jawa.
Secara administratif Propinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 Kabupaten dan 6 Kota. Luas Wilayah Jawa Tengah sebesar 3,25 juta hektar atau sekitar 25,04 persen dari luas pulau Jawa (1,70% luas Indonesia). Luas yang ada terdiri dari 1,00 juta hektar (30,80%) lahan sawah dan 2,25 juta hektar (69,20 persen) bukan lahan sawah.
b.Kondisi Demografi
Jumlah penduduk Propinsi Jawa Tengah adalah 30.775.846 jiwa. Kabupaten/ kota dengan jumlah penduduk terbesar adalah Kabupaten Brebes (1,767 juta jiwa), Kabupaten Cilacap (1,644 juta jiwa), dan Kabupaten Banyumas (1,603 juta jiwa). Sebaran penduduk umumnya terkonsentrasi di pusat-pusat kota, baik kabupaten ataupun kota. Kawasan permukiman yang cukup padat berada di daerah Semarang
88 Raya (termasuk Ungaran dan sebagian wilayah Kabupaten Demak dan Kendal), Solo Raya (termasuk sebagian wilayah Kabupaten Karanganyar, Sukoharjo, dan Boyolali), serta Tegal-Brebes-Slawi.
Pertumbuhan penduduk Propinsi Jawa Tengah sebesar 0,67% per tahun. Pertumbuhan penduduk tertinggi berada di Kabupaten Demak (1,5% per tahun), sedang yang terendah adalah Kota Pekalongan (0,09% per tahun). Dari jumlah penduduk ini, 47% diantaranya merupakan angkatan kerja. Mata pencaharian paling banyak adalah di sektor pertanian (42,34%), diikuti dengan perdagangan (20,91%), industri (15,71%), dan jasa (10,98%).
c. Potensi Wilayah
Struktur daratan Propinsi Jawa Tengah adalah bergunung-gunung yang membujur sejajar dengan arah panjang pulau Jawa, baik di bagian tengah maupun daerah pantai utara dan pantai selatan, dan terdapat beberapa gunung yang masih aktif. Banyaknya daerah pegunungan dengan tanah yang cukup subur tersebut sangat cocok untuk budi-daya tanaman hortikultura. Selain itu, di antara barisan pegunungan terdapat dataran subur karena dialiri oleh 7 (tujuh) sungai yang memberikan kehidupan terutama pada tanaman padi. Dengan luas lahan persawahan yang ada, produksinya mampu mendukung pemenuhan kebutuhan beras di Jawa Tengah, bahkan mampu mendukung pemenuhan kebutuhan beras nasional.
89 Meskipun demikian, ada beberapa wilayah Jawa Tengah yang memiliki tanah yang kering dan tandus, seperti daerah-daerah Jawa Tengah bagian timur serta bagian tenggara Jawa Tengah. Di beberapa daerah bahkan memiliki tanah tandus dan berkapur sehingga cocok untuk pertambangan kapur dan semen. Hasil tambang dan bahan galian antara lain adalah tanah liat, silica, marmer, dan pasir besi. Di beberapa wilayah Jawa Tengah sumber tambang relatif melimpah dan seluruhnya dapat digali dan dimanfaatkan. Bahan tambang seperti emas, tembaga, andesit dan pasir besi yang sudah diusahakan, relatif masih sedikit. Sedangkan bahan galian golongan C sudah banyak diusahakan dan telah dapat memberikan sumbangan pada penerimaan pendapatan daerah di wilayah Jawa Tengah.
Potensi air permukaan terdapat di Satuan Wilayah Sungai (SWS) Jawa Tengah terdiri atas Cimanuk, Citanduy, Pemali Comal, Serayu, Jratunseluna, dan Bengawan Solo dengan potensi air sebesar 94.752,82 ribu m3 per tahun. Di samping itu terdapat potensi air bawah tanah yang dapat digunakan untuk air minum/air bersih, irigasi, dan keperluan lainnya. Sementara itu, luas hutan di Jawa Tengah sekitar 647.596,81 ha, yang terdiri dari 573.241,63 ha hutan produksi, 73.477,88 ha hutan lindung, dan 877,30 ha merupakan hutan wisata dan suaka alam.
90 4. D.I Yogyakarta
a. Lokasi dan Keadaan Geografis
Propinsi DIY yang merupakan propinsi terkecil kedua di Indonesia setelah Propinsi DKI Jakarta. Secara geografis, di sebelah selatan DIY berbatasan dengan Samudera Indonesia dan dibatasi dengan garis panjang pantai sepanjang 110 km. Di sebelah utara menjulang tinggi gunung paling aktif di dunia, Merapi (2.968 m) yang pada pertengahan tahun 2006 masih menunjukkan aktivitasnya, dan tahun ini november 2010 baru meletuskan lagi laharnya. Di sebelah barat mengalir sungai Progo yang berawal dari Propinsi Jawa Tengah. Sedangkan di sebelah timur mengalir sungai Opak yang bersumber dari Puncak Merapi dan bermuara di laut Jawa.
Luas keseluruhan DIY adalah 3.185,80 km2 atau kurang dari 0,5% luas daratan Indonesia dengan ibukota Propinsi adalah Kota Yogyakarta. Secara administratif DIY terbagi dalam 5 wilayah daerah tingkat II, yaitu: Kotamadya Yogyakarta dengan luas 32,5 km2 ; Kabupaten Bantul dengan luas 506,85 km2 ; Kabupaten Gunungkidul dengan luas 1.485,36 km2 ; Kabupaten Kulonprogo dengan luas 586,27 km2 ; Kabupaten Sleman dengan luas 574,82 km2.
b.Kondisi Demografi
Penduduk DIY tercatat sebanyak 3.220.808 jiwa (Susenas, BPS, 2004) dengan persentase yang hampir berimbang antara penduduk perempuan dan laki-laki yaitu masing-masing sebesar 50,81% dan
91 49,19%. Pertumbuhan penduduk pada tahun 2004 adalah 0,42%, pertumbuhan tertinggi terjadi di Kota Yogyakarta yakni sebesar 1,79%, diikuti oleh Kabupaten Sleman (0,42%), Kabupaten Kulonprogo (0,19%), Kabupaten Gunungkidul (0,16%) dan Kabupaten Bantul (0,07%).
Kota Yogyakarta yang memiliki luas paling kecil, justru memiliki kepadatan penduduk tertinggi yaitu 12.246 jiwa per km2. Sedangkan Kabupaten Gunungkidul dengan luas terbesar menduduki peringkat terakhir kepadatan penduduk yaitu 462,33 jiwa per km2. Kepadatan penduduk Kabupaten lainnya adalah Kabupaten Sleman 1.642 jiwa per km2 , Kabupaten Bantul 1.610 jiwa per km2 dan Kabupaten Kulonprogo 641 jiwa per km2.
c. Potensi Wilayah
Gunung Api Merapi dan lereng gunung api, terletak di bagian utara DIY pada ketinggian ± 500 m hingga ± 2.911 m. Dataran Aluvial, terletak di bagian tengah membentang ke selatan DIY hingga Samudra Indonesia. Wilayah ini mempunyai topografi datar-hampir datar, sehingga merupakan lahan yang baik untuk permukiman dan pertanian.
Pegunungan Kulon Progo yang terletak di bagian barat DIY dengan batas bagian timur adalah lembah progo dan bagian selatan dibatasi oleh dataran aluvial pantai. Wilayah ini mempunyai lereng curam-hingga sangat curam sehingga proses erosi dan longsor sering terjadi dan perlu tindakan konservasi tanah. Dataran Tinggi Gunungkidul, yang meliputi
92 bagian tenggara DIY. Bagian utara daerah ini dibatasi oleh pegunungan Batur Agung dengan garis yang terjal dan memanjang. Bagian tengah merupakan ledok Wonosari dengan topografi datar bergelombang dan pada bagian selatan merupakan perbukitan karst yang disebut Gunung Sewu. Lereng perbukitan karst tersebut curam dan merupakan lahan kritis.
Secara umum, sungai-sungai yang berasal dari gunung Merapi mempunyai debit yang relatif sinambung sepanjang tahun dibanding sungai-sungai di daerah Gunungkidul dan Kulon Progo.
Berdasarkan kondisi akifernya, ketersediaan air tanah dari yang terbaik hingga terburuk di DIY secara berututan adalah: Kabupaten Sleman; Kabupaten Bantul; Kabupaten Kulon Progo; dan Kabupaten Gunungkidul.
Kondisi hutan di Propinsi DIY adalah terdiri dari Hutan Negara seluas 17.064,364 hektar (5,36 %) dari luas wilayah DIY. Tingkat pemanfaatan potensi produksi dan lahan masih relatif rendah (24.47 %), sehingga kemungkinan pengembangannya untuk peningkatan produksi perikanan masih cukup besar. Sebagai penunjang dari kegiatan budidaya ikan baik laut, payau maupun tawar adalah ketersediaan benih ikan dalam jumlah, mutu, waktu dan ukuran yang memadai.
Secara umum pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan belum optimal. Pada tahun 2001, pemanfaatan potensi baru 9.0 % yaitu dengan
93 tercapainya produksi ikan konsumsi sebesar 6.618,6 ton/ekor atau menurun 3.62 % dari produksi tahun 2000 sebesar 6.935,30 ton/ekor.
Jumlah nelayan meningkat sebanyak 21,19 %. Armada perikanan naik sebanyak 55,70 %. Kegiatan penangkapan ikan ini masih didominasi oleh penangkapan ikan pantai sehinggga ikan lepas pantai dan samudera belum tergarap.
Produksi ikan konsumsi menurun rata-rata 2,41 % per tahun, produksi benih ikan/udang meningkat 56,72 % per tahun, ikan hias 53,31 % per tahun. Konsumsi ikan rata-rata selama 5 tahun mengalami kenaikan sebesar 0,84 % per tahun.