• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTERPRETASI REALITAS UNGKAPAN BAHASA DALAM

Dalam dokumen ENGLONESIAN Jurnal Ilmiah Linguistik dan (Halaman 56-60)

Swesana Mardia Lubis Universitas Sumatera Utara, Medan

4. INTERPRETASI REALITAS UNGKAPAN BAHASA DALAM

KONTEKS FILSAFAT BAHASA

Berbahasa sepertinya didapatkan secara alamiah sehingga tidak perlu mempelajarinya. Padahal pengertian ini hanya bagi kaum awam yang tidak memahami betapa kompleks dan kayanya khasanah bahasa dalam aktifitas kehidupan manusia sehari-hari. Sadar atau tidak sadar, bahasa atau ungkapan bahasa seseorang tetap memiliki makna atau realitas terhadap sesuatu yang dirujuknya.

Dalam percakapan sehari-hari mungkin kita sering mendengar dan tidak menyadari betapa dalamnya makna yang dikandung ungkapan tersebut. Sebagai contoh ketika A menyadari bahwa B memakai baju baru, maka A akan menyapa B dengan teguran ramah:

A: Kamu baju baru, ya?

B: (menjawab) Ah! Tidak, tetapi tersenyum.

Bila kita perhatikan esensi dari ungkapan di atas maka kita memperoleh gambaran pemikiran sesuatu yang kontras. Kata ‘tidak’ bukan berarti menidakkan karena ‘senyum’ merujuk kepada pengakuan bahwa B memang memakai baju baru. Realitas ungkapan bahasa di atas dikaitkan pada filsafat bahasa dalam arti akal budi atau pemikiran dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang kabur atau absurd. Hal ini bisa jadi berkaitan dengan nilai budaya ketimuran yang terkenal ramah dan berkesan tertutup. Dengan kata lain, sikap keterus terangan maupun ketransparanan ditutupi oleh kenaifan yang amat lugu namun memiliki kesan tidak mempunyai sikap keberanian untuk terbuka.

Masih ada lagi ungkapan bahasa dalam bentuk pepatah yang sangat mengandung nilai budaya yang tinggi bagi masyarakat Indonesia. Pepatah tersebut sering dimaksudkan pada kondisi seseorang yang menghadapi pilihan yang teramat berat untuk membuat sesuatu keputusan. Pepatah tersebut adalah:

Bagaikan makan buah simalakama.

Dimakan mati ibu tidak dimakan mati bapak.

Dari sudut pandang filsafat, maka makna dari ungkapan bahasa di atas adalah terbenturnya suatu sikap mengambil kebijakan karena adanya dua pilihan yang beresiko. Dengan kata lain, tidak ada jalan keluar sebijak apapun kecuali penentuan sikap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Namun kenyataannya pepatah tersebut dewasa ini sering dipelesetkan dari esensi makna yang sebenarnya. Dikatakan bila seseorang dari suku Batak dihadapkan pada masalah tersebut, maka dia akan merasakan buahnya dulu tanpa menelannya. Artinya, bagi dia makan berbeda dengan mengkulum atau merasakan buah tersebut di dalam mulut. Berbeda dengan etnis Cina yang budayanya senang berdagang. Dia akan merasakan buah tersebut dengan

mengulumnya ke dalam mulut dan kemudian menjualnya kepada orang lain.

Tentu pelesetan seperti di atas tidak lagi identik dengan makna yang sebenarnya dari ungkapan bahasa tersebut. Dengan demikian peran filsafat bahasa yang menganalisis konsep filsafati melalui medium bahasa akan mempertegas makna yang sebenarnya yaitu pilihan yang teramat sulit untuk diputuskan. Pergeseran interpretasi ralitas ungkapan bahasa sering terjadi karena adanya perubahan tatanan nilai budaya di tengah- tengah masyarakat. Sebagai contoh kita bisa membedakan persepsi generasi tua dengan generasi muda tentang ungkapan bahasa dalam bentuk pepatah di bawah ini:

Berakit-rakit ke hulu Berenang-renang ke tepian Bersakit-sakit dahulu Bersenang-senang kemudian.

Generasi tua akan menginterpretasikan konteks filsafati ungkapan tersebut pada masanya yang memang serba sulit dan butuh perjuangan ekstra keras. Dengan demikian, kaum tua lebih menyederhanakannya dengan keyakinan bahwa hidup harus dihadapi dengan semangat baja di mana seseorang harus siap menderita untuk memperoleh keberhasilan. Hal ini memang merupakan realita yang dialami kaum generasi tua pada masanya untuk meraih keberhasilan hidup.

Bagi kaum generasi muda yang menumpang di keberhasilan orang tuanya akan menginterpretasikan makna yang berbeda. Kaum muda lebih menghubungkannya dengan situasi sekarang yang serba cepat untuk meperoleh kemenangan (siapa cepat dia menang). Kaum muda bahkan memberikan respon yang lebih radikal bahwa setelah sakit yang lebih dekat adalah kematian bukan kesenangan.

Merujuk pada realitas ungkapan bahasa dalam konteks filsafat bahasa, ungkapan di atas perlu dicermati pada nuansa kulturalnya. Di dalam ungkapan tersebut pada bait pertama dan kedua merujuk pada usaha, sementara pada bait ketiga dan keempat merupakan kemungkinan hasilnya:

bisa susah bisa senang. Hal ini dimungkinkan karena tidak setiap usaha akan membuahkan hasil yang diidamkan. Interpretasi realitas ungkapan bahasa tidak terlepas dari pemahaman makna dari tiap unsur bahasa yang diajarkan. Oleh karena itu, analisis bahasa dalam arti filsafat bahasa membuat penegasan tentang keberadaan makna realitas dari bahasa itu sendiri.

idak dapat dipungkiri bahwa makna realitas ungkapan bahasa merupakan prediksi untuk ke depan. Meskipun dampaknya pada saat itu kurang dimengerti, namun pada waktu ke depannya, cukup mempunyai makna kultural yang sangat berharga. Misalnya pepatah bagi suku Batak Toba yang mengatakan:

Beranak empat belas Berputri tujuh belas

‘Maranak sampuluopat

Marboru sampulupitu’

Pada mulanya pepatah ini lebih ditekankan pada pentingnya kuatitas manusianya yang mana pada saat itu etnis Batak mempercayai banyak anak akan memperoleh banyak berkat. Meskipun hal ini sedikit bertentangan dengan kebijakan pemerintah untuk program Keluarga Berencana.

Namun bila dicermati ungkapan pepatah di atas sangat relevan dengan kondisi tuntutan bangsa dewasa ini yakni ‘orang tua asuh’. Sadar atau tidak sadar bagi suku etnis Batak Toba dapat merefleksikan konsep filsafati ungkapan tersebut sebagai wujud nyata dari makna yang terkandung dalam pernyataan tersebut. Dengan demikian realitas ungkapan yang tersembunyi dalam ungkapan tersebut merupakan sesuatu yang unpredictable. Untuk ke depannya dalam arti waktu dulu dan waktu sekarang untuk memahami konsep pemikiran yang ada dalam pepatah batak tersebut.

Dari beberapa contoh ungkapan bahasa di atas baik berupa statement atau pernyataan dan berupa pepatah dapat ditelusuri bahwa filsafat benar-benar merujuk pada hal-hal yang bijaksana. Dengan kata lain konsep filsafati dalam

ungkapan bahasa selalu mengandung makna hakiki tentang pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada rasa keadilan manusia dan rasa kepeduliaan untuk mengerti tentang nilai hakiki dari kehidupan.

Realitas ungkapan bahasa dalam konteks filsafat bahasa tidak lain dan tidak bukan untuk mempertegas dan memperjelas makna konsep-konsep atau masalah-masalah filsafat melalui analisis bahasa. Dengan kata lain melalui analisis bahasa kerangka pemikira logis yang sederhana dan mudah dipahami akan bisa menetralisir nuansa filsafat yang rada kompleks dan sukar.

5. PENUTUP

Filsafat bahasa merupakan jembatan (linkage) untuk memahami problema- problema filsafat melalui analisis bahasa. Dengan kata lain, medium bahasa dijadikan alat untuk mempermudah kerangka pemikiran dari esensi filsafati dalam arti makna maupun arti dari pokok permasalahan filsafat itu sendiri.

Interpretasi realitas ungkapan bahasa dalam konteks filsafat bahasa merujuk pada adanya kebenaran yang hakiki dari setiap ungkapan bahasa. Namun kadang kala ungkapan bahasa tersebut memiliki makna yang berganda sehingga perlu adanya interpretasi untuk mempermudah makna yang dimaksudkan. Singkat kata, interpretasi realitas ungkapan bahasa merupakan cermin dari tujuan atau maksud yang hendak disampaikan dalam ungkapan bahasa.

Kegiatan bahasa merupakan hal yang normal bagi manusia. Dalam aktifitasnya manusia menggunakan medium bahasa untuk menyampaikan maksud dan tujuan yang bernuansa kebijakan dan kebajikan atau filsafat. Namun sering kebijakan dan kebajikan tersebut salah diinterpretasikan sehingga mengaburkan makna yang dimaksudkan. Dengan hadirnya realitas ungkapan bahasa maka setidaknya kekaburan makna tersebut dapat diperkecil sehingga maknanya akan lebih mudah dipahami.

Realitas ungkapan bahasa dalam tulisan ini lebih ditekankan pada ungkapan sehari- hari dalam bentuk pernyataan ataupun

pepatah-pepatah Indonesia. Melalui interpretasi yang dimaksudkan untuk mendapatkan nuansa kejelasannya maka makna ungkapan yang dikaji akan lebih berterima. Sebagaimana filsafat bahasa merujuk pada pemahaman filsafat melalui analisis bahasa, maka interpretasi realitas bahasa setidaknya akan merefleksikan inti makna dari ungkapan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Kaelan, M.S., Drs. 1998. Filsafat Bahasa Masalah dan Perkembangannya.

Yogyakarta: Pradigma Offset.

Robins, R.H. 1980. General Linguistics and Introductory Survey. New York:

Longman Inc.

Subyakto, Sri Utari. 1992. Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: PT Gramedia

Pustaka Utama

Wicoyo, A. Joko. 1997. Filsafat Bahasa Biasa dan Tokohnya. Yogyakarta: Penerbit

Liberty.

Zubair, Achmad Charris. 1990. Kuliah Etika.

Dalam dokumen ENGLONESIAN Jurnal Ilmiah Linguistik dan (Halaman 56-60)