• Tidak ada hasil yang ditemukan

Investigasi dan penuntutan pelanggaran masa lalu yang terbatas dan tidak memadai36

4. Keadilan untuk pelanggaran HAM masa lalu

4.2 Investigasi dan penuntutan pelanggaran masa lalu yang terbatas dan tidak memadai36

Sejak tahun 1998 sudah ada berbagai macam investigasi pencari fakta. Namun, sangat sedikit dari investigasi itu yang membawa para pelaku kejahatan di masa lalu ke pengadilan. Peradilan yang sedikit jumlahnya atas pelanggaran pidana yang menjadi pelanggaran HAM yang dilakukan para anggota pasukan keamanan itu dilakukan oleh pengadilan militer atau pengadilan koneksitas. Pengadilan-pengadilan ini tidak memiliki transparansi dan keputusan mereka tidak diungkapkan kepada publik, sehingga hampir tidak mungkin untuk

memverifikasi apakah hukumannya sudah dijalankan. Sampai perjanjian damai dan amnesti sesudahnya, pengadilan atas pelanggaran pidana yang dilakukan oleh anggota GAM ditangani di pengadilan sipil, dan secara nyata bertentangan dengan standar internasional tentang peradilan yang adil.

Tahun 1999, Komisi Independen untuk Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh yang didirikan oleh Presiden Habibie merekomendasikan lima perkara untuk diadili segera.133

Meskipun hal ini merupakan satu langkah maju dalam menyikapi impunitas yang masih terus ada, perkara-perkara yang direkomendasikan untuk dituntut hanya terdiri dari satu bagian kecil dari pelanggaran di masa lalu. Hanya dua insiden yang terjadi selama periode DOM dipilih: perkosaan terhadap seorang perempuan di Aceh Barat, dan kasus penculikan, penyiksaan, serta pembunuhan di luar hukum di Rumoh Geudong, Kabupaten Pidie antara tahun 1997 dan 1998 (lihat “Rumah Penyiksaan”: Rumoh Geudong, h17). Tidak ada kasus yang terjadi selama periode lebih awal DOM yang dipilih. Kasus-kasus sisanya (pembunuhan di luar hukum terhadap tujuh orang di Idi Cut , Kabupaten Aceh Timur Februari 1999 – lihat kotak, h38; pembunuhan Bantaqiah di Aceh Barat, Juli 1999; dan pembunuhan di luar hukum terhadap 39 orang di Simpang KKA, Kabupaten Aceh Utara Mei 1999, lihat kotak, h52) yang direkomendasikan untuk dituntut terjadi selama masa “jeda kemanusiaan” (lihat Bab 2.1 B, h18).

Dari periode DOM, tidak ada dari kasus-kasus yang direkomendasikan untuk penuntutan pidana yang dibawa untuk diperiksa di pengadilan sipil.134 Dari kasus yang tersisa, hanya satu dari tiga kasus yang menyebabkan adanya penuntutan pidana, tapi tidak di pengadilan sipil. Pada bulan Juli 1999, dua puluh empat prajurit berpangkat rendah dan satu warga sipil didakwa dan dihukum oleh pengadilan koneksitas dengan hukuman penjara antara delapan setengah sampai 10 tahun karena keterlibatan mereka dalam pembunuhan di luar hukum terhadap seorang ulama, Teungku Bantaqiah, dan lebih dari 50 pengikutnya di Pesantren Teungku Bantaqiah, Desa Blang Meurandeh Beutong, Kabupaten Aceh Barat pada Juli 1999.135 Petugas yang menjadi komandan yang tadinya disebut oleh penuntut sebagai tertuduh utama dalam kasus itu melarikan diri dan tidak ditangkap.136 Tidak diketahui apakah mereka yang didakwa bersalah kemudian menjalani hukuman mereka atau apakah mereka mengajukan banding atas hukuman mereka, Pemeriksaan pidana terhadap kasus-kasus sisanya yang diidentifikasi untuk penuntutan oleh komisi independen masih belum dilakukan.

KASUS IDI CUT

Penduduk desa berkumpul di Jembatan Arakundo untuk mencari mayat orang-orang yang dibunuh pasukan keamanan Indonesia pada 3 Februari 1999 di Idi Cut, Aceh Timur. © Koalisi NGO HAM Aceh

Setelah tengah malam 3 Februari 1999, para prajurit dari batalyon Linud 100 melakukan tembakan ke arah ribuan orang yang pulang ke rumah mereka setelah mengikuti dakwah di desa Matang Ulim di Idi Cut, Aceh Timur. Tindakan ini tampaknya dilakukan sebagai pembalasan atas penculikan dan pembunuhan sepuluh anggota tentara di Lhok Nibong oleh orang-orang yang tidak teridentifikasi pada 29 Desember 1998. Menurut laporan, massa mula-mula dilempari batu dari arah markas Koramil di Idi Cut. Sekitar pukul 1 pagi, tembakan dilakukan tanpa pandang bulu ke arah massa, kembali dari arah markas militer. Mereka yang terbunuh dan sejumlah yang terluka dimasukkan ke truk dan diangkut oleh militer.

Pada pukul 3 dini hari, para saksi mata menyaksikan truk-truk militer mengarah ke Jembatan Arakundo (lihat foto Jembatan Arakundo lama di atas). Di sana dilaporkan pasukan keamanan mengikat mayat-mayat dengan kawat berduri dan memasukkan mereka ke dalam kantong. Lalu batu diikatkan ke kantong-kantong itu yang kemudian dilemparkan ke Sungai Arakundo. Tanggal 4-5 Februari para penduduk desa melakukan pencarian di Sungai Arakundo dan menemukan kantong-kantong berisikan mayat enam orang. Korban ketujuh yang ditembak dan dibunuh ditemukan di kendaraannya. Puluhan warga sipil terluka dalam insiden itu. Lima puluh delapan orang juga ditangkap dan diduga keras disiksa atau diperlakukan dengan buruk selama berada dalam penahanan di kantor polisi sektor kecamatan Aceh Timur. Mereka semua dibebaskan pada 5 Februari.137 Setidaknya 13 orang dilaporkan hilang sesudah insiden tersebut.

Kasus Idi Cut merupakan salah satu dari lima kasus yang direkomendasikan untuk diadili dengan segera oleh Komisi Independen untuk Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh Juli 1999. Walaupun Jaksa Agung melakukan investigasi terhadap kasus itu pada November 1999, 138 tidak ada satu pun anggota pasukan keamanan yang sudah dihadapkan ke pengadilan karena kejahatan serius yang terjadi waktu itu.

Setelah dikeluarkannya UU No. 26/2000 tentang Pengadilan HAM, Komnas HAM diberikan kekuasaan untuk melaksanakan penyelidikan pro-justicia atas kejahatan terhadap

kemanusiaan dan genosida.139 Jika Komnas HAM mempertimbangkan bahwa ada bukti-bukti yang cukup bahwa pelanggaran HAM berat memang telah dilakukan, ringkasan temuannya diserahkan kepada Kantor Jaksa Agung untuk disidik.140 Dalam konteks ini, Komisi HAM secara paripurna memutuskan untuk membentuk penyelidikan mengenai dua kasus pelanggaran masa lalu di Aceh: yang berkaitan dengan pembunuhan RATA pada Desember tahun 2000 dan sesudah pembunuhan Bumi Flora pada Agustus 2001. Namun penyelidikan yang sudah direncanakan ini tidak menyebabkan adanya penuntutan pidana. Proses yang macet sesudah penyelidikan pro-justicia sebagian disebabkan karena lemahnya mandat Komnas HAM (Lihat Bagian 4.1.B: UU tentang Pengadilan HAM, h.33), dan kurangnya tindak lanjut atau dukungan dari Kantor Jaksa Agung. Selain itu ada pula kekhawatiran mengenai kurangnya kemandirian Komnas HAM dari kekuasaan politik, yang terus-menerus mempengaruhi kemampuan dan kinerjanya.

  

 Tahun 2001, Komnas HAM mengumumkan bahwa mereka akan melakukan penyelidikan

pro-justicia mengenai pembunuhan di luar hukum yang terjadi 6 Desember 2000 terhadap tiga pekerja badan kemanusiaan, Rehabilitation Action for Torture Victims in Aceh (RATA). Polisi telah memulai penyelidikan mengenai pembunuhan staf RATA ini dan pada Desember 2000 mereka menahan empat tersangka warga sipil dan empat anggota pasukan keamanan. Akan tetapi, karena kasus ini kelihatannya tidak bergerak maju, Komnas HAM

mengumumkan pada 9 Januari 2001 bahwa mereka akan membentuk Komisi Penyelidik Pelanggaran Hak Asasi Manusia Aceh (KPP HAM Aceh). KPP HAM Aceh bermaksud untuk menyelidiki pembunuhan RATA dalam konteks pelanggaran HAM yang lebih luas lagi di Aceh karena komisi itu diberi kekuasaan melakukannya oleh UU No. 26/2000 tentang Pengadilan HAM, dengan tujuan untuk membawa kasus itu ke salah satu pengadilan HAM yang

permanen. Pada awal Januari 2001, Jaksa Penuntut Provinsi Aceh menolak rencana Komnas HAM141 dan mengumumkan niatnya untuk menuntut para tersangka di sebuah pengadilan koneksitas. Namun rencana-rencana ini tidak pernah terwujud karena pada Maret 2001 keempat tersangka yang berasal dari warga sipil melarikan diri dari tahanan di Medan. Empat anggota pasukan keamanan belakangan juga dibebaskan setelah perintah penahanan mereka berakhir. Satu dasawarsa kemudian Komnas HAM masih juga belum membentuk tim penyelidikan pro-justicia, dan tidak ada perkembangan baru dalam kasus ini.

  

 Pada 8 Maret 2002, Komnas HAM membentuk sebuah tim penyelidik pro-justicia yang dipimpin oleh BN Marbun sesudah adanya pembunuhan Bumi Flora pada Agustus 2001 (untuk perincian mengenai pembantaian Bumi Flora, lihat kotak h44). Pada akhir masa kerja mereka tahun 2007, para anggota Komnas HAM belum menyelesaikan penyelidikan mereka dan merekomendasikan bahwa pekerjaan itu diteruskan oleh para anggota baru. Namun tidak ada laporan mengenai kemajuan penyelidikan ini.142

C. LANGKAH YANG TIDAK MEMADAI UNTUK MENANGANI KEJAHATAN YANG DILAKUKAN PARA ANGGOTA PASUKAN KEAMANAN

PARA LELAKI DITEMBAKI DAN DIBAKAR HIDUP-HIDUP PADA

TAHUN 2003 DI ACEH SELATAN

Makam dan tugu peringatan untuk mereka yang ditembak mati atau dibakar sampai mati oleh anggota TNI di Jamboe Keupok, Aceh selatan tanggal 17 Mei 2003. © KontraS Aceh

Pagi hari pada 17 Mei 2003, puluhan prajurit termasuk anggota Kopassus dan unit Raider dengan menaiki tiga truk tiba di desa Jamboe Keupok di kabupaten Aceh Selatan. Mereka menangkapi semua orang di desa dan memisahkan para lelaki dari perempuan dan anak-anak. Militer lalu mulai memukuli para lelaki di hadapan perempuan dan anak-anak. Kaum perempuan dan anak-anak lalu dibawa ke sebuah sekolah di desa dan dikurung di sana. Tentara lalu menembak dan membunuh empat warga desa. Mereka membawa 12 lelaki yang tangannya semua diikat, ke sebuah rumah di dekat situ, di sana mereka dikurung. Para tentara lalu menyiramkan minyak ke sekeliling rumah dan membakarnya. Dari sekolah, perempuan dan anak-anak mendengar para lelaki berteriak dan kemudian disusul bunyi tembakan senjata api. Setelah militer pergi, para perempuan keluar dari gedung sekolah dan menemukan sisa-sisa kedua belas lelaki yang dibakar di dalam rumah itu.143 Amnesty International tidak sadar adanya investigasi apa pun terhadap kasus ini. Amnesty International tidak sadar adanya sidang pengadilan apa pun terhadap ribuan kasus pelanggaran HAM lainnya, termasuk penghilangan paksa, pembunuhan (massal), penyiksaan dan perlakuan buruk lain, perkosaan dan kekerasan seksual, penahanan sewenang-wenang, dan pengusiran paksa, yang dipercayai terjadi antara tahun 1989 dan 1998 ketika provinsi

kasus di Aceh yaitu kasus-kasus yang terjadi selama masa “jeda kemanusiaan” (1999-2002) yang telah diinvestigasi dan berakhir di pengadilan militer, atau pengadilan koneksitas.144

Selama masa operasi militer berikutnya (Mei 2003- Mei 2005), sejumlah kasus pelanggaran HAM tampaknya telah ditangani di pengadilan militer. Pada Mei 2004, Panglima TNI, Jenderal Endriartono Sutarto, mengakui bahwa “pelanggaran” telah dilakukan sejak dimulainya masa darurat pada Maret 2003. Ia menyatakan bahwa 511 pelanggaran telah tercatat sejak Mei 2003. Dari 511 pelanggaran ini, ia menyatakan bahwa para tersangka dalam 429 kasus yang melibatkan para tentara telah dihadapkan ke pengadilan militer dan bahwa 57 tentara sudah didakwa dan dijatuhi hukuman penjara, serta tiga orang lainnya sudah dipecat dari TNI.145 Selama periode ini, satu-satunya pengadilan yang diketahui mengadili kasus kekerasan seksual, memutus bersalah tiga prajurit berpangkat rendah karena memperkosa empat perempuan di Aceh Utara tahun 2003. Mereka diputus bersalah dan dihukum penjara oleh pengadilan militer antara dua setengah sampai tiga setengah tahun dari maksimum 12 tahun penjara yang bisa dijatuhkan untuk kejahatan perkosaan.146

Kasus-kasus yang sudah diinvestigasi oleh militer dan menuntun pada adanya pemeriksaan terhadap para anggota pasukan keamanan di pengadilan militer hanya mewakili sejumlah kecil tuduhan adanya pelanggaran HAM yang dilakukan selama operasi militer tahun 2003-2004, dan konflik Aceh secara keseluruhan. Sepanjang pengetahuan Amnesty International tidak seorang pun sudah dimintai pertanggungjawaban untuk sejumlah kasus pelanggaran HAM berat yang masih tersisa, yang dilakukan terhadap para pembela HAM selama konflik bertahun-tahun. Amnesty International juga tidak mengetahui adanya investigasi dan penuntutan pidana apa pun terhadap kasus-kasus penghilangan paksa di masa lalu. D. PERADILAN YANG TIDAK ADIL TERHADAP PARA ANGGOTA DAN PENDUKUNG GAM SERTA AMNESTI PERJANJIAN DAMAI

Ribuan orang yang dituduh sebagai anggota dan pendukung GAM ditangkap, dibawa ke pengadilan sipil, dan dipenjarakan selama periode konflik. Banyak dari penahanan dan persidangan ini dipercayai secara nyata bertentangan dengan standar internasional tentang peradilan yang adil. Ini termasuk kegagalan menunjukkan surat perintah pada saat

penangkapan, kegagalan memberi tahu kepada orang yang ditahan tentang alasan penahanan mereka dan memberi tahu mereka dengan segera tentang semua dakwaan terhadap mereka, penggunaan penyiksaan secara ekstensif, dan bentuk perlakuan lain yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat untuk mendapatkan pengakuan dan menolak akses terhadap penasihat hukum, terutama selama hari-hari pertama penahanan.147

Perjanjian damai tahun 2005 mengatur bahwa Pemerintah Indonesia akan memberikan amnesti atau pengampunan kepada orang-orang yang telah berpartisipasi dalam aktivitas GAM (lihat Bab 2.2). Sebagai akibatnya diperkirakan 2.000 orang yang berada dalam tahanan dibebaskan.Dalam laporannya kepada Aceh Monitoring Mission bulan September 2005,148 Amnesty International menyambut baik pembebasan mereka yang mungkin dipenjarakan karena semata-mata melakukan aktivitas dengan damai di Aceh, namun Amnesty International juga merekomendasikan agar mereka yang mungkin telah melakukan pelanggaran HAM serius tidak diberikan amnesti dan agar semua kasus pelanggaran masa lalu diinvestigasi dan pelakunya dihadapkan ke pengadilan. Akan tetapi pengampunan itu tidak mampu memberikan pengecualian kepada para tersangka pelaku kejahatan menurut

hukum internasional, dan menciptakan halangan bagi adanya investigasi dan penuntutan terhadap kejahatan semacam itu yang dilakukan oleh pasukan GAM. Pengampunan itu melanggar kewajiban Indonesia menurut hukum internasional untuk mengadili kejahatan-kejahatan tersebut dan juga menyangkal hak korban untuk mendapatkan keadilan. E. MEKANISME SAKSI DAN KORBAN YANG TERBATAS

Perlindungan terhadap para korban dan saksi secara efektif merupakan hal yang penting bagi investigasi dan penuntutan yang efektif terhadap kejahatan menurut hukum internasional. Tahun 2006, DPR mengesahkan Undang-Undang tentang Perlindungan Saksi dan Korban (UU No.13/2006). UU ini membentuk Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang kini sudah beroperasi, untuk memberikan perlindungan dan dukungan kepada para korban dan saksi dalam perkara-perkara pidana.149 Namun, LPSK ini berbasis di Jakarta dan masih belum mendirikan kantor-kantor daerah sehingga membatasi akses ke korban dan saksi di bagian lain di Indonesia, termasuk Aceh.150

Ketetapan dalam UU tentang Perlindungan Saksi dan Korban menetapkan bahwa "Saksi dan/atau Korban yang merasa dirinya berada dalam ancaman yang sangat besar, atas persetujuan hakim dapat memberikan kesaksian tanpa hadir langsung di pengadilan tempat perkara tersebut sedang diperiksa” (Pasal 9.1). UU tersebut juga menyatakan mereka dapat memberikan kesaksian secara tertulis atau melalui sarana elektronik (Pasal 9.2-3). Ini merupakan kemajuan positif dari KUHP yang ada sekarang ini yang mengharuskan korban atau saksi datang ke pengadilan untuk memberikan kesaksian. Namun, masih ada halangan dalam praktiknya untuk mengakses perlindungan yang sudah ditingkatkan ini.

4.3 KONSEKUENSI BAGI PERDAMAIAN DI ACEH DAN SUPREMASI HUKUM DI

SELURUH INDONESIA

Keharusan mengajukan para pelaku kejahatan menurut hukum internasional ke pengadilan masih belum menjadi prioritas pemerintah dalam menangani konflik di Aceh. Masih tidak ada kemauan politik dari semua partai untuk menerapkan mekanisme yang diperlukan untuk memastikan keadilan bagi para korban. Tidak ada kasus baru yang berkaitan dengan kejahatan menurut hukum internasional yang terjadi selama konflik Aceh yang telah dituntut sejak perjanjian damai 2005. Dalam banyak kasus, Komnas HAM dan Jaksa Agung tidak mampu menindaklanjuti investigasi dan rekomendasi-rekomendasi penyelidikan. Situasi yang hampir secara penuh mendukung impunitas ini membangkitkan rasa tidak percaya orang Aceh secara umum terhadap pengelolaan keadilan. Situasi yang mirip juga terjadi di banyak bagian lain Indonesia di mana pelanggaran HAM serius telah terjadi.

Sejauh ini, pemerintah Indonesia belum mampu menangani pelanggaran HAM masa lalu, termasuk yang terjadi pada kejadian-kejadian tahun 1965-66, kerusuhan Mei 1998, dan konflik di Aceh , Papua dan Timor-Leste (dulu disebut Timor Timur). Tidak adanya kemajuan sejak lama dalam memberikan keadilan bagi pelanggaran HAM dan kegagalan untuk

melakukan reformasi yang menyeluruh terhadap pasukan keamanan hanya mengabadikan budaya impunitas dan merusak kemajuan dalam membentuk supremasi hukum di seluruh Indonesia. Mereka yang diduga melakukan kejahatan menurut hukum internasional tetap berada dalam posisi yang berkuasa di mana mereka dapat mengulangi lagi pelanggaran itu, dan sejumlah di antaranya malah kini berada di puncak sistem politik. Sementara itu,

para anggota pasukan keamanan.151 Catatan yang buruk sejauh ini merusak rasa percaya masyarakat terhadap lembaga-lembaga publik yang memegang peran penting dalam proses transisi demokratis yang dimulai tahun 1998 dan juga merusak prospek untuk mencapai perbaikan HAM yang sejati dan berkelanjutan untuk semua orang di Indonesia. Insiden kekerasan oleh massa dan kelompok yang main hakim sendiri yang masih terus berlanjut sering kali dibenarkan sebagai upaya untuk mencari keadilan dalam keadaan tidak adanya, atau dipandang tidak ada, atau penegakan hukum yang efektif, dan supremasi hukum.152 Selama kunjungan mereka ke Aceh, delegasi Amnesty International diberi tahu mengenai sentimen membalas dendam yang dimiliki oleh bagian-bagian tertentu dalam masyarakat di antara para pemuda yang menghadapi tingkat pengangguran yang tinggi,153 kemiskinan, dan peluang pendidikan yang terbatas. Sejumlah orang mengungkapkan kemungkinan adanya konflik “horizontal” (kekerasan sosial atau masyarakat) di bagian-bagian tertentu di kawasan itu, yang mungkin menjadi semakin membara sebagian karena program redistribusi yang tidak merata terhadap masyarakat (lihat Bab 5.2: Batasan program untuk para “korban konflik”, h.47) dan/atau luka lama antara para anggota kelompok milisi pro-Indonesia selama konflik, seperti PETA (Pembela Tanah Air) dan Komite Peralihan Aceh (KPA) yang

merupakan organisasi para mantan kombatan GAM. Para pemimpin yang diasosiasikan dengan PETA, yang berasal dari kabupaten dataran tinggi di Aceh (Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Bener Meriah) telah mengadvokasi agar provinsi Aceh dibagi dua karena mereka sakit hati tidak adanya pembangunan di wilayah mereka dan juga alokasi pemberian tunjangan kepada para mantan kombatan GAM, yang tidak mereka dapatkan.154 Kematian beberapa orang pada saat pemilu daerah Aceh tahun 2012 yang dipercayai berkaitan dengan persaingan antara faksi-faksi Gerakan Aceh Merdeka yang berlawanan,155 juga menunjukkan bahwa sejumlah taktik kekerasan lama yang dipakai selama konflik Aceh masih tetap berlaku dengan mengorbankan supremasi hukum dan dengan segera muncul lagi ke permukaan.156

Juga ada keprihatinan di antara para warga tentang masih adanya senjata-senjata ilegal di Aceh.157

Selama kunjungan Amnesty International ke Aceh Mei 2012, sejumlah penyintas dan perwakilan mereka menekankan bahwa pada akhirnya keadilan harus dilakukan, dan dipandang dilakukan untuk mereka yang menderita pelanggaran. Sejumlah dari mereka juga menyatakan kekhawatiran kemungkinan konflik Aceh mulai lagi.

5. REPARASI: KERANGKA KERJA YANG