• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ir Tato Miraza, SE, MM Direktur Pengembangan Development Director

Dalam dokumen Berinvestasi Saat Ini Untuk Masa Depan (Halaman 149-152)

Untuk mengembangkan usaha Antam di masa mendatang, kegiatan apa yang menjadi fokus Antam untuk jangka pendek dan jangka panjang?

Untuk jangka pendek kami mempersiapkan sejumlah agenda yang pada intinya untuk dapat segera mendapatkan cash

untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan dengan melakukan

serangkaian kegiatan sebagai berikut: pembukaan tambang nikel

sejak 2010 yang meliputi tambang nikel Tapunopaka (2010), tambang bauksit Tayan (2010), tambang nikel Mandiodo (2011), dan tambang

nikel Pakal (2011). Di tahun 2012 kami akan membuka tambang nikel

Gag, tambang bauksit yang dioperasikan oleh entitas anak kami, PT Mega Citra Utama dan tambang bauksit Mempawah di Kalimantan Barat yang ditujukan untuk persiapan Proyek SGA Mempawah. Di tahun 2010 kami juga melakukan akuisisi aset yang telah beroperasi yakni akuisisi tambang emas Cibaliung dan akuisisi tambang batubara Sorolangun di tahun 2011 yang dilakukan oleh entitas anak Antam, PT Indonesia Coal Resources. Tambang emas Cibaliung dan tambang batubara Sarolangun keduanya saat ini sudah beroperasi dan telah

memberikan konstribusi bagi Antam. Kami juga melakukan monitoring

dan pengawasan yang intensif terhadap kepemilikan minoritas kami di beberapa perusahaan patungan, untuk memanfaatkan

momentum harga emas untuk memperoleh cash dan keuntungan yang optimal bagi Antam seperti pada PT Nusa Halmahera Minerals. Kami juga mendorong segera beroperasinya pabrik Sponge Iron yang merupakan usaha patungan Antam dengan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk pada tahun 2012. Di tahun 2012 dan 2013 kami juga akan mengkaji kemungkinan peningkatan kepemilikan saham di minority JV

di PT Weda Bay Nickel dan PT Nusa Halmahera Minerals.

Untuk jangka menengah sampai dengan tahun 2015, kami berfokus pada penyelesaian proyek-proyek pengembangan yang bersifat hilir untuk komoditas inti nikel dan bauksit, dimana di tahun 2011 kami telah memulai konstruksi proyek Chemical Grade Alumina Tayan senilai US$450 juta dan proyek FeNi Haltim senilai US$1,6 miliar serta memulai proyek Modernisasi dan optimasi Pabrik Feronikel Pomalaa yang mencakup pembangunan Coal Fired Power Plant berkapasitas 2 x 30 MW. Kami juga akan menambah dua unit Dual Fired Diesel Engine PLTD III yang berlokasi di Pomalaa. Seluruh proyek ini akan meningkatkan nilai tambah cadangan bauksit dan nikel yang dimiliki, dan juga menjadikan operasi pabrik feronikel Antam menjadi semakin efisien dan kompetitif. Pengembangan dan pembangunan keseluruhan pabrik-pabrik ini ditujukan untuk pertumbuhan Antam sekaligus untuk mengantisipasi larangan ekspor bijih di tahun 2014, sehingga Antam telah memiliki posisi yang kuat untuk menghadapi larangan tersebut. Selain ketiga proyek tersebut, kami juga tengah menyiapkan proyek pembukaan tambang emas Papandayan dimana pada tahun 2012 kami berharap studi kelayakan dan basic engineering design telah dapat selesai, sehingga pada akhir tahun 2013 konstruksi sudah dapat dimulai dan pada akhir tahun 2015 sudah dapat berproduksi.

Selain pertumbuhan organik tersebut, kami juga melakukan assessment untuk menunjang pertumbuhan perusahaan melalui

pertumbuhan anorganik terhadap aset-aset produktif yang siap beroperasi untuk diakuisisi oleh Antam dalam jangka pendek dan jangka menengah, terutama aset batubara dan emas. Sedangkan

What is Antam’s focus in developing its future business, both short and long term?

For short term development, we have prepared a number of projects aimed to generating faster cash inflow that will be used to accelerate the Company’s growth, which include the opening of the nickel mine in Tapunopaka in 2010, bauxite mine in Tayan, nickel mine in Mandiodo in 2011, and nickel mine in Pakal also in 2011. In 2012, we will open a nickel mine in Gag Island, bauxite mine to be operated by our subsidiary, PT Mega Citra Utama, and bauxite mine in West Kalimantan Mempawah to support Mempawah SGA project. In 2011, we have also acquired some operating mines as our assets, namely gold mine in Cibaliung in 2010 and coal mine in Sorolangun in 2011that is acquired by Antam's subsidiary, PT Indonesia Coal Resources. Both Cibaliung gold mine and Sorolangun coal mine are already in operation and has been contributing revenues to Antam. Additionally, we are also intensively monitoring and supervising the joint venture companies in which we hold minority ownership, including PT Nusa Halmahera Minerals. The increase in gold price will enable the Company to obtain optimal cash and profits. We also encourage the immediate operation of Sponge Iron plant, a joint venture established with PT Krakatau Steel (Persero) Tbk in 2012. In 2012 and 2013, we will assess the possibility of increasing our ownership in PT Weda Bay Nikel and PT Nusa Halmahera Minerals.

For medium term until 2015, we will focus on the completion of our downstream projects for nickel and bauxite commodities. In 2011, we have started the project construction of Chemical Grade Alumina Tayan worth at US$450 million and FeNi Haltim project worth at US$1.6 billion. Additionally, we will strat the modernization and optimization project in Pomalaa Ferronickel smelters that includes the construction of Coal Fired Power Plant that has a capacity of 2 x 30 MW. Moreover, we will add two more units of Dual Fired Diesel Engine at our diesel power plant III located in Pomalaa. The entire projects will increase the added value of the existing bauxite and nickel reserves as well as to drive the operation of Antam's ferronickel plant to be more efficient and competitive. These plants development and construction is aimed at driving Antam growth as well as anticipating the ore export ban in 2014. With this anticipation, Antam will have already secured a strong position once that ban is put into effect. In addition to these three projects, we are also preparing the opening of a gold mine project in Papandayan whose feasibility study and basic engineering design will be completed in 2012. While the construction will be commenced in late 2013, the commercial production is expected to take place in late 2015. In addition to this organic growth, we also conduct an assessment to support the Company's growth through inorganic growth toward by acquiring productive assets within short and medium term, especially on coal and gold assets. As for bauxite and nickel assets, these commodities are geared toward increasing Company’s

t

J

Q

untuk aset-aset bauksit dan nikel lebih ditujukan untuk meningkatkan cadangan dan sumber daya kedua mineral tersebut bagi perusahaan. Hal lain yang dilakukan untuk jangka menengah adalah mendorong upaya-upaya partnership yang ada, dimana Antam memiliki saham minoritas seperti PT Weda Bay Nickel, PT Sorikmas Mining dan PT Dairi Prima Minerals untuk segera melakukan konstruksi dan diharapkan pada tahun 2016 ketiganya sudah dapat berproduksi. Untuk jangka panjang, dalam kurun waktu tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 kami telah mempersiapkan proyek-proyek hilir lainnya seperti proyek Low Grade Ferronickel atau Nickel Pig Iron Mandiodo dan proyek Smelter Grade Alumina Mempawah. Kedua proyek tersebut saat ini tengah dilakukan penyelesaian studi kelayakan yang dikerjakan bersama dengan outotech Gmbh Jerman dan akan selesai pada akhir tahun 2012. Konstruksi kedua proyek tersebut diharapkan dapat dimulai pada kuartal IV tahun 2013 dan beroperasi komersial pada tahun 2016. Selain itu, kami juga tengah melakukan sejumlah studi yang dilakukan oleh Tim Pengembangan Teknologi dan Proyek Antam seperti studi tentang pembangunan pabrik Stainless Steel, ekspansi pabrik feronikel Pomalaa dan Halmahera Timur tahap lanjutan, ekspansi pabrik CGA Tayan dan juga industri turunan dari CGA. Kami juga melakukan juga studi pengembangan zircon dan komoditas lainnya.

Proyek-proyek ini ke depannya diharapkan akan meningkatkan diversifikasi komoditas Antam dan juga memantapkan posisi Antam sebagai perusahaan berbasis pertambangan terkemuka yang

terintegrasi secara vertikal.

Bagaimana perkembangan usaha bidang eksplorasi?

Investasi peralatan dan sumber daya manusia di bidang eksplorasi terutama bertujuan untuk mendapatkan peningkatan cadangan emas, dimana sampai akhir dengan akhir tahun 2011 tim eksplorasi telah mendapatkan cadangan emas sekitar 30 ton. Kami menargetkan perolehan cadangan baru sebesar 35 dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2014, dan diharapkan pada tahun 2012 ini target 35 ton akan tercapai, atau dua tahun lebih cepat dari rencana. Saat ini kami tengah menyiapkan revisi target perolehan cadangan emas yang lebih menantang.

Untuk komoditas nikel dan bauksit, kegiatan eksplorasi lebih berfokus pada pendetilan cadangan dari daerah-daerah eksplorasi yang ada, mengingat kedua cadangan yang dimiliki Antam dinilai sudah cukup besar untuk diolah selama beberapa dekade ke depan. Di bidang eksplorasi kami juga berfokus untuk mendapatkan cadangan dan daerah baru untuk emas dan juga mineral tembaga. oleh sebab itu kegiatan eksplorasi kedua komoditas tersebut menjadi prioritas utama tim eksplorasi kami terutama di daerah Jambi dan Papua. Ada beberapa komoditas yang saat ini juga tengah dicari oleh Antam, yaitu komoditas bijih besi untuk memperkuat operasi entitas asosiasi PT Meratus Jaya Iron & Steel yang pada tahun 2012 ini akan

beroperasi secara komersial. Di tahun 2011 kami juga memperoleh

2 IUP komoditas zircon di Kabupaten Landak Kalimantan Barat, dan pada tahun 2012 akan dimulai eksplorasi komoditas tersebut. Pada tahun 2012 terdapat pula kemungkinan dimulai babak baru kegiatan eksplorasi Antam yaitu dimulainya ekplorasi di luar negeri, yakni di Myanmar dan Laos. Tim eksplorasi Antam telah melakukan

beberapa kali kunjungan untuk pre-assessment sepanjang tahun

2011. Adapun komoditas yang ditargetkan di kedua negara ini adalah emas, tembaga, bauksit, nikel dan timah, dengan prioritas emas dan

tembaga.

reserves and resources. Moreover, we encourage our existing partnerships in which Antam has minority ownership, such as in PT Weda Bay Nickel, PT Sorikmas Mining and PT Dairi Prima Mineral, to immediately commence their constructions so they can start their production in 2016.

For long term development, between 2016-2020 periods, we have also prepared some downstream projects such as Low Grade Ferro Nickel or Nickel Pig Iron project in mandiodo and Smelter Grade Alumina project in Mempawah. Both projects are currently on the stage of feasibility study completion which is jointly conducted with Outotech Gmbh of Germany, to be completed by end of 2012. The construction of both projects is expected to commence in Q4-2013, while commercial operation is expected to take place in 2016. In addition, our Technology and Antam’s Project Development Team is currently working on several studies, including Stainless Steel plant construction, expansion of ferronickel plants in Pomalaa and East Halmahera, expansion of CGA Tayan plant and also derivatives industry of CGA. Additionally, we are also working on a development study for zircon and other commodities.

These projects are expected to increase Antam’s commodity diversification as well as to strengthen Antam’s position as a leading mine-based and vertically- integrated company.

What is the progress in Antam’s exploration business? Investment in equipment and human resources for exploration business is mainly aimed at acquiring more gold reserves, where by end of 2011, the exploration team has acquired approximately 30 ton of gold reserves. Our new gold reserves target for 2009 to 2014 period is 35 tons, and it is predicted that by 2012 this target will be reached, or two years ahead the scheduled timeline. Now, we are preparing a revision for setting a more challenging target.

Nickel and bauxite exploration activities are focused on detailing the reserves from existing areas of exploration, given that the reserves owned by Antam are large enough for several decades ahead. In this exploration, we also focus on acquiring new reserves and new areas for gold and copper in particular. Therefore, the exploration activities on these commodities become top priority to our exploration teams, especially in Jambi and Papua. Antam is currently seeking to obtain new commodities, including iron ore, to strengthen the operations of Antam’s associate of PT Meratus Jaya Iron & Steel which is scheduled to start its commercial operation in 2012. In 2011 we also obtained 2 mining permits (IUP) for zircon in Landak Regency, West Kalimantan which will be initially explored in 2012. In 2012, we are looking at the possibility to embark on a new exploration activity overseas, in Myanmar and Laos. Antam's exploration team has made several trips for pre-assessments during 2011. The targeted commodities to be explored in these countries include gold, copper, bauxite, nickel and tin, with gold and copper as main priority.

t

J

Interview

Q

Bagaimana strategi Antam dalam mengembangkan hubungan dengan mitra strategis?

Salah satu strategi pertumbuhan utama Antam adalah pengembangan kerja sama strategis dengan perusahaan- perusahaan pertambangan internasional. Antam memandang

usaha patungan sebagai salah satu cara untuk mengurangi risiko

eksplorasi, risiko proyek serta risiko pendanaan dan sekaligus untuk mengembangkan sumber daya yang dimiliki.

Dengan menanggung risiko dan biaya eksplorasi, proyek dan pendanaan bersama mitra strategis, Antam dapat mengembangkan wilayah IUP yang dimiliki serta mempercepat usaha pengembangan tambang baru. Hasil yang didapat dari usaha patungan Antam yang telah beroperasi di antaranya PT Nusa Halmahera Minerals yang telah membayar dividen serta adanya akses pada teknologi, metode penambangan dan pelatihan sumber daya manusia terkini. Hal yang sama juga kami harapkan di PT Weda Bay Nickel, PT Sorikmas Mining, PT Dairi Prima Minerals yang saat ini tengah dalam upaya penyelesaian Bankable Feasibility Study dan juga dimulainya konstruksi pabrik. Mengingat keterbatasan Antam untuk mendanai proyek-proyek tersebut yang hampir bersamaan pembangunannya, maka untuk proyek-proyek Low Grade Ferronickel/NPI Mandiodo dan SGA

Mempawah, Antam kemungkinan akan mencari partner strategis

untuk merealisasikannya, namun saat ini perusahaan tetap fokus untuk menyelesaian BFS dan Basic Engineering Design untuk kedua proyek tersebut

Apa tantangan yang dihadapi Antam pada saat ini dalam perencanaan dan penyelesaian proyek-proyek tersebut ?

Dari sisi pengembangan perusahaan, tantangan terbesar yang ada saat ini keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan, terutama tenaga-tenaga ahli dalam pekerjaan proyek dan juga sumber dana untuk merealisasikan keseluruhan proyek yang kebetulan implementasinya hampir bersamaan dan berurutan satu sama lainnya. Keterbatasan infrastruktur dimana proyek- proyek dilaksanakan, demikian juga permasalahan sosial ekonomi dengan adanya era otonomi daerah juga menjadi kendala tersendiri. oleh sebab itu perusahaan perlu melakukan langkah-langkah yang sistematis dan smart untuk menjalankan proyek-proyek tersebut. Kami memastikan bahwa seluruh proyek pengembangan berjalan

on track, on schedule, on budget, on cost, on quality, on performance and zero accident during construction merupakan keharusan dan hal ini akan memastikan adanya pertumbuhan yang berkelanjutan bagi

perusahaan.

Bagaimana Antam mengantisipasinya?

Kami bekerjasama secara erat di internal perusahaan maupun dengan pihak eksternal terkait untuk memastikan seluruh aspek pengerjaan proyek telah ter-cover dengan baik. Kami juga mengimplementasikan sistem pengerjaan proyek yang terintegrasi. Dari aspek finansial, kami memiliki financial controller

guna membantu untuk meningkatkan pemantauan pelaksanaan

proyek-proyek terutama dari sisi penyerapan anggaran. Dari aspek monitoring dan pengawasan proyek, kami memiliki Satuan Kerja Project Development Group, dan dari sisi sosial ekonomi kami melakukan kegiatan-kegiatan CSR yang terukur dan terintegrasi untuk meminimalkan risiko sosial selama pembangunan dan operasi

pabrik-pabrik kami tersebut.

t

J

t

J

t

J

how does Antam develop relationships with strategic partners?

One of Antam's main growth strategies is to develop strategic cooperation with international mining companies. Antam believe that joint ventures can serve as way to reduce risks in exploration, projects, and funding, and also to develop its own resources.

By sharing the risks with the strategic partners, Antam is able to develop its IUP-owned areas and accelerate the development of new mines. Antam has enjoyed the benefits from joint venture, such as dividend received from sPT Nusa Halmahera Minerals, technology access, latest mining methods and human resource training. We expect to receive similar benefits from our cooperation with PT Weda Bay Nickel, PT Sorikmas Mining, and PT Dairi Prima Mineral which are currently in the stage of Bankable Feasibility Study completion and plant construction commencement.

Given the limited financial resources of Antam to fund these projects being constructed at the same time, Antam is seeking for strategic partner to fund for the projects of Low Grade ferronickel / NPI project in Mandiodo and SGA in Menpawah. At this moment, we remain focused on completion of BFS and Basic Engineering Design on these projects.

What are the challenges faced by Antam currently in planning and completion of these projects?

From company development perspective, the biggest challenge currently comes from the lack of Company’s human resources, especially experts in the projects, and the fund needed to realize all projects which are simultaneously and sequentially constructed. Additionally, the lack of infrastructures where the projects are located and socioeconomic issues related to local autonomy policy have also added to the challenges facing the Company. Therefore, the Companies needs to take systematic and smart steps in running these projects. We need to ensure that all project developments are running on track, on schedule, on budget, on cost, on quality, on performance and with zero accident during construction. These will ensure the achievement of sustainable growth for the Company.

how does Antam respond to those challenges?

We have been working closely with all Company's internal and external parties so as to ensure that all aspects of project are well-covered, in addition to the implementation of an integrated project working system. On financial aspect, we have assigned a financial controller to help improve project realization monitoring, especially on budget realization. On project monitoring and supervision aspects, we have assigned a Working Unit of Project Development Group, while on socio-economic issues, we carried out measured and integrated CSR activities to minimize the social risks during the construction and operation of our plants.

Q

A

Q

A

Q

A

Dalam dokumen Berinvestasi Saat Ini Untuk Masa Depan (Halaman 149-152)