Laba Usaha adalah keuntungan yang diperoleh dari
proses utama kegiatan usaha perusahaan. Laba usaha
Antam pada tahun 2011 tercatat naik 2% menjadi Rp2,01 triliun dibandingkan Rp1,97 triliun di tahun 2010.
oPerAtiNG iNCoMe
Operating Income is the profit from the core process of the Company’s business activities. Antam’s operating income in 2011 increased 2% to Rp2.01 trillion from Rp1.97 trillion in 2010.
Laba (Rugi) Usaha per Segmen | Operating Income (Loss) per Segment
Segmen | Segment (Rp ‘000)2010 (Rp ‘000)2011 2011 / 2010 (%)
Nikel | Nickel 2.358.193.768 2.153.526.814 (9)
Emas & Pemurnian | Gold & Refinery 552.703.507 584.531.051 6
Bagaimana Bapak menggambarkan kinerja perusahaan pada tahun 2011?
Secara keseluruhan kinerja perusahaan cukup baik khususnya kinerja keuangan. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat sebesar 14,5% dari Rp1,68 triliun menjadi Rp1,93 triliun. Kami bangga Antam tetap mampu memperoleh laba di tengah tantangan ekonomi yang kurang baik terutama di Eropa dan Amerika Serikat pada tahun 2011.
Kami berhasil memenuhi target penjualan yang telah ditetapkan, yang didukung harga komoditas yang lebih tinggi, sehingga penjualan bersih meningkat sebesar 18% menjadi Rp10,35 triliun. Beban pokok penjualan meningkat 26% menjadi Rp3 trilliun seiring terjadinya peningkatan produksi pada komoditas feronikel, bijih nikel, dan emas, serta meningkatnya biaya kontraktor penambangan menyusul kenaikan ekspor bijih nikel. Kami juga mengantisipasi peningkatan biaya dan mengambil langkah-langkah untuk menekan laju enaikan tersebut dengan melakukan penghematan sebesar Rp72,1 miliar melalui Program Penghematan Biaya. Kami juga berhasil mempertahankan marjin usaha yang sehat di level 19% dengan kinerja arus kas dari aktivitas operasi yang sehat.
Kami juga sangat senang bahwa Antam sukses menerbitkan obligasi
dalam mata uang Rupiah senilai Rp3 triliun dengan nilai oversubscription
hampir sepuluh kali lipat dari target awal sebesar Rp 1,5 triliun. Hal ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap posisi keuangan Antam yang kuat.
tantangan apa yang dihadapi selama tahun 2011 dan bagaimana Bapak mengatasi tantangan tersebut?
Tantangan di awal tahun 2011 adalah memperoleh financial close
proyek Chemical Grade Alumina dengan JBIC dan konsorsium bank komersial. Pada bulan Agustus 2011, kami menunjuk financial arranger
untuk membantu kami memperoleh pembiayaan yang optimal bagi proyek-proyek utama kami. Menyusul hal ini, kami bergerak ke pasar obligasi pada akhir tahun 2011 sekaligus memanfaatkan peringkat idAA yang kami peroleh.
tantangan apa yang akan dihadapi tahun 2012 dan bagaimana Bapak mengantisipasinya?
Tantangan terbesar untuk tahun 2012 adalah memastikan bahwa secara finansial Antam tetap solid melalui pengendalian biaya dan mempertahankan level penjualan kepada pelanggan utama kami. Kami terus memantau gejolak keuangan yang dihadapi banyak negara-negara maju karena bisa berdampak secara langsung terhadap
bisnis kami. Kami juga harus memastikan bahwa Antam mampu
memperoleh skim pembiayaan yang paling optimal untuk membiayai inisiatif strategis yang kami lakukan untuk pertumbuhan perusahaan di masa mendatang. Penunjukan Financial Controller adalah krusial untuk memastikan keterlambatan dalam penyelesaian proyek-proyek kami ditekan seminimal mungkin dengan memberikan indikasi dan
peringatan sejak awal.
Mohon dapat diceritakan tentang pengelolaan risiko investasi modal, nilai tukar dan fluktuasi suku bunga dan kredit?
Tujuan Antam dalam pengelolaan modal adalah menjaga going concern perusahaan untuk dapat terus memberikan imbal hasil
bagi pemegang saham serta manfaat bagi stakeholder lainnya serta mempertahankan struktur permodalan yang optimal. Kami memiliki kebijakan lindung nilai untuk memitigasi fluktuasi pergerakan mata uang, suku bunga dan harga komoditas. Pendapatan dan posisi kas Antam sebagian besar terdiri dari Dolar Amerika Serikat sedangkan sebagian besar beban usaha adalah dalam Rupiah. Antam dapat
How would you summarize the company’s financial
performance in 2011?
Overall, I felt that overall the company performed well in terms of its financial achievements. Our income for the year attributable to owners of the parent increased by 14.5% from Rp1.68 trillion to Rp1.93 trillion. I am pleased the company remained profitable despite the challenging market conditions in both Europe and the United States throughout 2011.
We were able to meet all of our sales targets, based on higher commodity prices, net sales increased by 18% to Rp10.35 trillion. Our cost of goods sold subsequently increased 26% to Rp3 trillion following higher production of ferronickel, nickel ore, and gold, as well as higher contract mining costs in line with increased nickel ore exports. We anticipated the higher cost environment and took steps to offset the increase by saving Rp72.1 billion through our Cost Reduction Program (CRP). We still managed a robust operating margin of 19% with healthy operating cash flow.
I am also pleased that we were successfully able to raise Rp3 trillion in Rupiah denominated bonds, nearly ten times oversubscription from the original target of Rp1.5 trillion. It reflects the market confidence on the company’s solid financial position.
What were your challenges in 2011 and how did you handle them? My challenge in early 2011 was to achieve financial close for financing for our Chemical Graade Alumina project with both The Japan Bank for International Cooperation and a consortium of commercial banks. In August 2011, we appointed financial arrangers to assist us in receiving the most optimal financing for some of key proejects. As a result, we went to the bond market toward the end of 2011 to tap the capital markets whilst leveraging a stronger rating of idAA which the company eventually received.
What are your challenges in 2012 and how do you anticipate them? The biggest challenge in 2012 will be to ensure that the company continues to remain financially sound through continued cost management and maintenance of our sales to our key customers. The financial turmoil that is facing many developed countries will continue to be monitored as this could have a direct impact to our business in the event of another major economic downturn. Ensuring that Antam is able to tap the most optimal financing for our key initiatives will remain an important element as we move forward. The appointment of a Financial Controller will be critical to ensure that there are minimal project delays and ample warning signs in the event of any bottlenecks in the future.
Can you tell us how do you manage the risks of capital investments,
exchange rate and interest rate fluctuation and credit?
Antam’s objectives when managing capital are to safeguard the ability to continue as a going concern in order to provide returns for stockholders and benefits for other stakeholders and to maintain an optimal capital structure. There are hedging policies currently in place to mitigate against fluctuations in currency, interest and commodity movements. Our revenue and cash position are mostly denominated in United States Dollar while most of the operating expenses are in Indonesian Rupiah. Antam has the ability to enter into plain vanilla hedging positions to cover our exposure. For credit risk, we manage and control this risk by setting limits on the amount of risk they are willing to accept for individual customers and by monitoring exposures in relation to such limits.
t
J
Q
A
Q
A
Q
A
Q
A
t
J
t
J
t
J
Interview
mengambil posisi lindung nilai untuk menekan eksposur kami. Untuk risiko kredit, kami mengelola dan mengendalikan risiko ini dengan menetapkan batas jumlah risiko yang dapat ditoleransi sesuai dengan
batas-batas tersebut.
Bagaimana rencana Bapak untuk menggunakan dana hasil emisi obligasi 2011 dan bagaimana untuk menggunakan dana hasil emisi obligasi berikutnya?
Fokus yang paling penting adalah untuk tetap bersikap prudent
dan tetap mengikuti tujuan penggunaan dana sesuai dengan prospektus, yakni untuk keperluan modernisasi dan optimasi pabrik feronikel dan pembukaan tambang baru. Setelah kita merasa yakin bahwa penggunaan obligasi ini telah sejalan dengan rencana awal, baru kami akan mempertimbangkan tahap kedua dari penerbitan obligasi. Pasar obligasi Indonesia tetap merupakan sumber pendanaan yang menarik.
terkait dengan tahap pertama dari obligasi Antam senilai Rp3 triliun, Antam berencana untuk menggunakan Rp674 miliar atau 22,46% dari jumlah obligasi hasil untuk membiayai investasi rutin di unit bisnis untuk mendukung kinerja operasional dan menjaga stabilitas produksi melalui investasi dalam infrastruktur dan peralatan produksi. Dari Rp2,326 triliun tersisa atau sampai dengan 77,54% dari proceed, Antam
akan menggunakan hingga Rp2,030 triliun atau 68% untuk renovasi,
upgrade, modernisasi dan optimasi pabrik feronikel Pomalaa dan sisanya akan digunakan membuka tambang nikel baru di Maluku Utara dan/atau Sulawesi Tenggara dan/atau tambang bauksit di Kalimantan Barat untuk mendukung operasi dan proyek-proyek pertumbuhan. Antam berencana untuk menggunakan 17% dari hasil obligasi sebesar Rp4 triliun atau setara dengan Rp674 miliar, setelah dikurangi dari biaya penerbitan terkait, untuk membiayai investasi rutin di unit bisnis untuk mendukung kinerja operasional dan mempertahankan stabilitas produksi melalui investasi dalam infrastruktur dan mesin produksi dan alat. Antam berencana untuk menggunakan 83% sisa dari hasil atau sama dengan Rp3,326 triliun untuk membiayai pengembangan usaha, seperti pembukaan tambang baru, pengembangan proyek saat ini dan masa depan.
Sesuai peraturan bursa, kami dapat mengeluarkan Rp1 triliun yang tersisa dalam waktu 2 tahun sejak tanggal persetujuan efektif diterima dari BAPEPAM-LK.
Bagaimana kebijakan Bapak dalam hal dividen dan struktur modal?
Kebijakan dividen Antam adalah memberikan pembagian dividen tunai kepada pemegang saham setidaknya setahun sekali. Rasio pembayaran dividen terhadap laba bersih berkisar antara 30% -50%. Sehubungan dengan struktur permodalan, kebijakan kami adalah memastikan semua risiko yang terkait keuangan dikelola dengan cara yang tepat. Antam harus memiliki sumber pendanaan yang ekonomis yang cukup untuk mendanai seluruh keperluan pendanaan dan investasi. Pada tahun 2011, hutang yang memiliki bunga mencapai Rp3 triliun dengan kas dan setara kas sebesar Rp 5,6 triliun. Dengan demikian, Antam masih memiliki posisi kas bersih sebesar Rp2,6 triliun
hingga akhir tahun 2011.
Bagaimana Bapak memastikan transaksi dengan pihak afiliasi dilakukan secara adil?
Antam selalu mengikuti peraturan pasar modal dan peraturan lainnya terkait transaksi dengan pihak afiliasi. Jika diperlukan, kami selalu menunjuk penilai independen untuk melakukan kajian yang independen sebelum dilakukan transaksi.
how do you plan to use the proceed from the 2011 bonds issue and how do you plan to use the proceed from the next bonds issue? The most important focus will remain on prudently following the guidelines of our prospectus in terms of using the funds as they were intended, that is to ensure that our capital expenditure towards the modernization of our existing plant and new mine operations. Once we feel that the expenditure is in line with our original plans will we then consider the second tranche of the Bond program. The Indonesian Bond market remains an attractive source of funding from the capital markets.
In relation to the first stage of the bonds with a value of Rp3 trillion, Antam plans to use Rp674 billion or 22.46% of the bonds proceeds to finance routine investments at its business units to support operational performance and maintain production stability through investments in infrastructure and production machineries and tools. From the remaining Rp2.326 trillion or up to 77.54% of the proceeds, Antam will use up to Rp2.030 trillion or 68% for the renovation, upgrades, modernization and optimization of the Pomalaa ferronickel smelters and the remaining will be spent toward opening of new nickel mines in North Maluku and/or Southeast Sulawesi and/or bauxite mines in West Kalimantan to support the company’s existing operations and growth projects.
Antam plans to use 17% of the bonds proceeds of Rp4 trillion or equal to Rp674 billion, after deduction from related issuance charges, to finance routine investments at its business units to support operational performance and maintain production stability through investments in infrastructure and production machineries and tools. Antam plans to use the remaining 83% of the proceeds or equal to Rp3.326 trillion to finance business developments, such as opening of new mines, existing projects development, and future projects.
As per stock exchange regulation, we are able to issue the remaining Rp1 trillion within 2 years from the effective approval date received from the Indonesia Capital Market and Financial Institutions Supervisory Agency.
What is your policy in terms of dividend and capital structure? Antam’s dividend policy specifies the distribution of cash dividend to its shareholders at least once a year. At the moment we maintain a dividend-to-net-income payout ratio of between 30%-50%. In relation to capital structure, our treasury policy is to ensure all financial related risks are managed in an appropriate manner. Antam must have economical funding in place to meet financing and investment requirements. In 2011, Antam’s corporate credit ratings remained unchanged. At the end of 2011, Antam’s interest bearing debt amounted to Rp3 trillion with cash and cash equivalents amounted to Rp5.6 trillion. As such, Antam had net cash position of Rp2.6 trillion at the end of 2011.
How do you ensure Antam’s affiliated transaction is conducted
in a fair manner?
Antam always follows the existing stock exchange rules and regulations in conducting transaction with affiliated parties. If required, we always appoint independent appraisers to review the transactions beforehand.