• Tidak ada hasil yang ditemukan

Irak Era Saddam Hussein

BAB III METODE PENELITIAN

A. Profil Negara Irak

2. Irak Era Saddam Hussein

Saddam Hussein lahir pada tanggal 28 April 1937 dari keluarga petani miskin di desa Al Awja dekat Tikrit, Irak Tengah, lahir dalam keadaan yatim, ayahnya bernama Hussein Al Majid, meninggal ketika Saddam masih dalam kandungan ibunya. Saddam mendapatkan didikan dari pamannya, Al Haj Ibrahim yang menikahi ibunya, Shobhah Tulfah. Saddam mendapatkan didikan yang sangat keras dari ayah tirinya, akibatnya Saddam selalu berpindah-pindah anatara rumah ayah tirinya dan pamannya yang lain, Khirullah Tutfah yang dikenal sebagai seorang yang nasionalis dan memusuhi penjajah Inggris. Pada usia sepuluh tahun, Saddam meninggalkan ayah tirinya dan tinggal di rumah pamannya Khairullah Tulfah di Tikrit. Di bawah asuhan Khairullah Tulfah, Saddam selalu mendapat cerita tentang kakek-kakeknya yang telah mengorbankan hidup demi Irak. Cerita-cerita pamnnya ini membuat rasa nasionalisme Arab serta fanatisme kejayaan Irak pada jaman dahulu tertanam dalam diri Saddam. Saddam sangat tertarik dengan Nebuchadnezzar, raja Babylonia yang mengusai Jerussalem pada tahun 586 SM, Salahuddin Al Ayyubi yang menguasai Jerusalem pada tahun 1187 dan Gamel Abdul Nasser yang berkuasa di Mesir pada tahun 1952 . Ketika Saddam berusia 15 tahun, kepribadianya dibentuk oleh situasi dunia Arab pada waktu itu yang didominasi ideologi nasionalis yang memunculkan aksi kudeta di sejumlah negara Arab. Saddam juga banyak terpengaruh oleh para pemikir partai Ba’ath, sebuah partai sosialis yang disesuaikan dengan nilai-nilai Arab dan didirikan oleh Michel Aflaq. Pada usia 20 tahun, Saddam bergabung dengan partai Ba’ath di Irak. Sebagai seorang yang telah terbentuk kepribadiannya, Saddam dengan cepat mendapatkan kepercayaan dari pimpinan partai Ba’ath. Pada tahun 1959 Saddam mendapat tugas untuk membunuh Presiden Abdul Karim Hasim. Saddam gagal menjalankan tugas dan melarikan diri ke Suriah, kemudian ke Mesir, dan kemudian ia belajar pada fakultas hukum di Universitas Kairo. Saddam

Hussein kembali ke Irak pada tahun 1963, ketika partai Ba’ath berkuasa pada bulan Februari 1963 sampai bulan November 1963. Saddam terpilih sebagi anggota dewan pimpian partai. Partai Ba’ath menjadi partai oposisi sampai tahun 1968.

Pada tahun 1968, Saddam dan kawan-kawanya di partai Ba’ath melancarkan kudeta dan berhasil mengembalikan partai Ba’ath memegang kekuasaan dengan bantuan kepala intelejen Irak saat itu, Abdul Razek Nayef. Tetapi Nayef kemudian diasingkan ke luar negeri oleh Saddam, dan hanya berselang dua minggu setelah Kudeta, Nayef diketahui tewas secara misterius. Dengan tewasnya Nayef, Saddam tampil menjadi orang kedua dalam jajaran pimpinan partai Ba’ath setelah presiden Ahmad Hassan Al Bakr. Saddam menjabat wakil sekjen partai dan wakil Dewan Pemimpin Revolusi.

Pada pertengahan 1970-an, pengaruh Saddam Hussein menjadi lebih kuat daripada Presiden Ahmad Hassan Al Bakr. Tidak saja di kalangan Partai Ba’ath tetapi juga kalangan militer Irak. Akhirnya pada tanggal 17 Juli 1979, Saddam Hussein menggulingkan Presiden Ahmad Hassan Al Bakr lewat sebuah kudeta dan menempatkan dirinya sebagi Presiden Irak secara resmi.

Saddam memperoleh kekuasaan penuh di Irak ketika menjabat Presiden pada tahun 1979. Saddam benar-benar ingin mewujudkan impian masa kecilnya yaitu ingin mengembalikan kejayaan Irak seperti masa Nebuchadnezzar. Pada saat menjabat sebagai presiden, Saddam berhasil menundukkan militer berkat kecerdikannya menempatkan orang-orang yang tidak diragukan lagi loyalitasnya dan mendepak orang-orang yang dicurigai tidak loyal. Saddam memberikan prioritas kepada pemuda-pemuda Irak yang berasal dari desa Tikrit untuk masuk akedemi militer, kebanyakan warga Tikrit menguasai posisi strategis di dalam tubuh militer maupun pemerintahan Irak. Saddam juga memberi tempat istimewa pada keluarga, menantu dan orang-orang dekatnya di militer dan pemerintahan. Lembaga militer Irak pada era Saddam beralih menjadi lembaga yang lebih membela dan melindungi kekuasaan Saddam di Baghdad. Saddam Hussein mempunyai lima orang anak, yaitu Uday, Qusai, Rana, Raghda, dan Hala, hasil dari perkawinannya dengan Sajida Tulfah.(Musthafa Abd Rahman. 2003 : 14-16)

b. Kelompok-kelompok Oposisi Irak 1) Oposisi Kaum Syiah

Di Irak umat Syiah merupakan kelompok mayoritas atau sekitar 60 persen dari 24 juta penduduk Irak, tetapi kaum Syiah tidak mempunyai banyak tempat untuk menduduki jabatan-jabatan poltik. Mayoritas kepemimpinan politik diduduki oleh orang-orang Sunni yang jumlahnya kurang lebih 30 persen dari penduduk Irak (Siti Mutti’ah Setiawati. 2004 : 155)

Dominasi kelompok Arab Sunni dalam panggung politik di Irak inilah yang menjadi sumber pertentangan Syiah dengan rezim Saddam Hussein. Dalam sejarah Irak, kaum Syiah sudah lama melakukan pemberontakan-pemberontakan politik. Pemberontakan kaum Syiah pertama kali sejak kemerdekaan Irak tahun 1935. Pada saat itu, para ulama Syiah menuntut diajarkannya hukum Syiah pada sekolah-sekolah hukum di seluruh Irak, namun gerakan Syiah itu baru teroganisir pada akhir tahun 1950-an, yaitu ketika sejumlah ulama dan aktifis Syiah seperti Muhammad Mahdi al-Asafi’, Sayyid Kazim al-Hariri, Mabdi Ali Akbar Shariati, Ali Muhammad al-Kurani, Mahdi al-Khalasi dan Hamid Muhajir mendirikan Partai Dakwah Islam di Najaf ( www.whitehouse.com diunduh pada tanggal 10 Juli 2010).

Era paling sulit untuk kaum Syiah Irak berada pada masa pemerintahan partai Ba’ath, pada masa ini beberapa organisasi baru Syiah telah dibentuk untuk mempertahankan hak-hak kaum Syiah. Para ulama menentang keras ekstrimisme partai Ba’ath dan politik penumpasan mereka. Oleh sebab itu Saddam Hussein melakukan penumpasan terhadap orang-orang Syiah terutama para ulama dan ruhaniawan mereka. Tahun 1979 di Baghdad lahir organisasi kaum Syiah yang bernama al-Mujahidin. Kelompok ini didirikan oleh Sayyid Abdul Aziz al-Hakim. Berbeda dengan Partai Dakwah yang menghendaki berdirinya Rezim Islam Irak yang independent, al-Mujahidin secara tegas mengakui kemimpinan Ayyatullah Khomaeini, dan menginginkan rezim Islam Irak yang berorientasi ke Teheran (www.wordpres.comdiunduh pada tanggal 12 Juli 2010).

Pada tahun 1979, ketika kaum Syiah akan memperingati penyambutan kemenangan revolusi Islam Iran, mereka merencanakan sebuah long march dari Najaf ke Teheran. Rencana tersebut tidak dikehendaki oleh rezim Ba’ath, dan ulama-ulama Syiah yang terlibat ditangkap. Tindakan rezim pengasa itu justru membangkitkan kerusuhan anti Saddam yang lebih luas di kalangan umat Syiah di Irak. Penumpasan yang dilakukan rezim Saddam terhadap gerakan kaum Syiah menyebabkan terjadinya eksodus warga Syiah Irak ke Iran. Selain ke Iran, sejumlah aktivis partai Dakwah lainnya menyelamatkan diri ke Inggris, Lebanon dan Suriah. Hubungan Irak-Iran pun semakin menegang dan mencapai klimaksnya pada saat terjadi Perang Teluk I (Adib Mubarok, 2003 :49-51)

Pada akhir perang Irak terhadap sekutu pimpinan Amerika tahun 1991, kaum Syiah bangkit dengan gerakan besar-besaran bersama orang Kurdi untuk menumbangkan Saddam, tetapi gerakan ini berhasil dibungkam dan orang-orang Syiah menghadapi penumpasan dan pembunuhan massal. (http://www.annisa.

majelis.muhajiddin.or.id diunduh pada tanggal 13 Juli 2010).

Periode tahun 1991 hingga serangan AS dan Inggris ke Irak pada tahun 2003, merupakan masa yang penuh dengan kesulitan untuk kaum Syiah. Selain karena penumpasan besar-besaran yang dilakukan rezim Saddam, mereka juga berhadapan dengan masalah kelaparan dan musibah yang muncul dari embargo ekonomi yang disahkan oleh Dewan Keamanan PBB terhadap Rezim Saddam Hussein akibat kebijakannya menyerang Kuwait.

2) Oposisi Suku Kurdi

Orang-orang Kurdi adalah suatu kelompok etnis Indo-Eropa yang mayoritas menganut agama Islam Sunni ortodoks dan tinggal di wilayah yang disebut Kurdistan (tanah orang-orang Kurdi). Wilayah Kurdistan terdapat di beberapa negara, seperti Turki bagian Tenggara, Iran Utara, Irak Utara, Soviet Selatan dan Suriah Utara.

Suku Kurdi merupakan kelompok etnis minoritas terbesar di Irak yang menguasai hampir seperlima wilayah negeri Irak. Orang-orang Kurdi mempunyai ikatan yang erat satu sama lain. Mereka mempunyai cita-cita untuk mewujudkan sebuah negara Kurdistan merdeka, namun dalam sejarahnya orang-orang Kurdi

belum pernah memiliki sebuah tanah air yang merdeka. Berdasarkan kenyataan itu, dalam beberapa tahun terakhir, bangsa Kurdi tidak lagi mencita-citakan berdirinya sebuah negara Kurdistan yang merdeka. Cita-cita mereka kini adalah mempunyai wilayah Kurdistan yang otonom, tempat mereka mengatur rumah tangga mereka sendiri serta mempertahankan identitas dan sistem sosial budaya mereka.

Pemerintah Saddam Hussein tidak memberikan otonomi kepada suku Kurdi, karena wilayah yang didiami suku Kurdi merupakan wilayah yang kaya minyak dan apabila otonomi itu diberikan, akan merugikan Irak karena bisa menghambat program pembangunan dan perekonomian Irak sangat tergantung pada minyak. Tindakan rezim penguasa itu membuat suku Kurdi di Irak banyak melakukan tekanan-tekanan terhadap Saddam Hussein. Ketika terjadi Perang Irak-Iran, para aktivis suku Kurdi di Irak Justru berpihak pada pasukan Iran untuk mengusir pasukan Saddam Hussein. Ketika pasukan Iran menyerbu melewati wilayah Kurdistan Irak, para aktivis Kurdi justru bahu-membahu dengan pasukan Iran untuk melawan pasukan Irak.

Akibat keterlibatannya membantu tentara Iran yang menyerang tentara Irak, membuat Saddam Hussein geram terhadap orang-orang Kurdi Irak. Saddam Hussein mengeluarkan kebijakan untuk membersihkan gerilyawan suku Kurdi dengan menjatuhkan bom yang mengandung senjata kimia yang menyebabkan ratusan orang Kurdi tewas secara mengerikan. Serangan kedua kepada suku Kurdi terjadi pada bulan Agustus 1988, yang dilancarkan terhadap desa-desa di wilayah Kurdistan. Serangan itu menewaskan 2500 warga Kurdi di Irak dan hampir 60.000 orang mengungsi ke Turki dan Iran. Serangan itu dianggap wajar oleh Saddam Hussein karena suku Kurdi dianggap penghianat kerena telah membantu tentara Iran dalam perang Irak-Iran. Setelah peristiwa serangan atas wilayah Kurdistan itu, secara perlahan kekuatan lawan poitik Saddam pun berkurang, peristiwa itu akan membuat para pemimpin Kurdi akan berpikir dua kali untuk melakukan gerakan destruktif.

Dokumen terkait