BAB III METODE PENELITIAN
D. Kebijakan-kebijakan Amerika Serikat (AS)
1. Kebijakan-Kebijakan Rekontruksi Di Bidang Politik & Pemerintah, Ekonomi Serta Sarana & Prasarana Umum, dan Keamanan
Sesudah bulan April tahun 2003 kota Baghdad berhasil direbut oleh pasukan multinasional pimpinan AS dalam invasi ke irak yang berlangsung pada tahun 2003, AS segera membentuk suatu badan pemerintahan pendudukan yang bertugas menjalankan fungsi-fungsi administratif dan mengatur program-program rekontruksi di Irak, sambil menunggu proses pemulihan pemerintahan sipil di Irak. Badan pemerintahan pendudukan yang dimaksud adalah Office for
Recontruction and Humanitarian Assisstance (ORHA) yang didirikan pada
tanggal 21 April 2003 dan dikepalai oleh Jay Garner. Aktivitas badan ini tidak berlangsung lama karena setelah operasi militer utama dalam invasi dinyatakan berakhir, badan ini segera digantikan oleh badan lainnya, Coalition Provisional
Authority (CPA), yang dibentuk pada tanggal 11 Mei 2003 dan dikepalai oleh
Paul Bremer. CPA bertugas meneruskan tugas yang sudah dimulai ORHA. CPA ini sendiri merupakan bagian dari Departemen Pertahan AS (US Department of
Defense.(http://www.wikipedia.org/wiki diunduh tanggal 15 Juli 2010)
Pada tanggal 16 Mei 2003, para pejabat dalam pemerintahan AS membatalkan rencana semula untuk segera menyerahkan kedaulatan di Irak kepada suatu pemerintahan sipil yang bersifat sementara. Sebaliknya, AS justru mengajukan permintaan kepada PBB agar lembaga Internasional tersebut mengeluarkan suatu resolusi yang memberikan wewenang luas kepada AS beserta Inggris untuk mengatur sendiri pembentukan pemerintahan sementara di Irak dan mencabut sanksi ekonomi yang selama ini diberlakukan terhadap Irak. Pada tanggal 22 Mei 2003, PBB mengeluarkan resolusi 1483 yang berisikan pencabutan sanksi ekonomi yang sudah berlaku 13 tahun dan memberikan wewenang kepada AS dan Inggris untuk mengatur pemerintahan di Irak dan menggunakan hasil penjualan minyak bumi Irak untuk membiayai program-program rekonstruksi di Irak.(http://www.un.org/News/ossg/iraq.htm diunduh tanggal 15 Juli 2010)
Pada akhir Juni 2003, CPA menghentikan semua proses pemilihan lokal yang diadakan untuk memilih pemimpin setempat di seluruh Irak. Bertentangan dengan prinsip demokrasi yang selama ini digembor-gemborkan oleh pemerintah AS, CPA kemudian malah menunjuk secara sepihak orang-orang yang ditugasi untuk menjadi pemimpin lokal di kota-kota Irak. Atas tindakannya tersebut, Paaul Bremer selaku kepala CPA memperoleh banyak protes keras dari berbagai pihak yang menuduhnya telah bertindak secara tidak demokratis. Sebagai upaya pembelaan diri, Paul Bremer menyatakan bahwa dia tidak bermaksud untuk melanggar prinsip demokrasi, namun menurutnya pemilihan umum yang dilakukan secara tergesa-gesa dapat berakibat buruk bagi rakyat Irak sendiri “I’m not oppsed to it, but I want to do it (in) a way that takes care of our concers….Elections that are held too early can be destructive, It’s got to be done
very carefully” (http://www.globalsecurity.org/military/world/iraq/iqc.htm
diunduh tanggal 15 Juli 2010). Beberapa pengamat politik internasional menduga bahwa Paul Bremer mengambil keputusan tersebut untuk mencegah agar jangan sampai ulama-ulama Syiah yang dianggap radikal oleh AS, namun memperoleh banyak dukungan rakyat Irak, seperti misalnya Muqtada al-Sadr, memperoleh kekuasaan dan kekuatan yang terlalu besar.
Pada tanggal 13 Juli 2003, dibentuk Iraqi Interim Governing Council yang beranggotakan 25 orang warga Irak yang berasal dari berbagai kelompok dan afiliasi dalam masyarakat Irak. Tugas utama dari dewan ini adalah mengembalikan stabilitas dan keamanan di Irak, memulihkan perekonomian, serta memperbaiki sarana dan prasarana umum. Dewan ini memiliki wewenang untuk membuat kebijakan-kebijakan, mencalonkan dan mengberhentikan menteri-menteri. Selaian itu, dewan ini juga memiliki peranan dalam membuat undang-undang Irak yang baru. Sementara itu CPA masih memegang hak veto dalam mengambil keputusan terakhir meskipun disepakati bahwa CPA hanya akan menggunakan hak veto tersebut dalam situasi mendesak.
Melihat latar belakang dari para anggota dewan ini, tampak adanya perubahan yang signifikan dalam peta perpolitikan Irak karena mayoritas anggota dewan ini berasal dari kelompok Syiah, sedangkan Sunni yang mendominasi
perpolitikan Irak di masa pemerintahan Saddam Hussein hanya menempatkan sedikit wakilnya dalam dewan tersebut. Sepanjang sejarah politik di Irak, dewan ini adalah badan yang paling majemuk di mana angotanya berasal dari berbagi kelompok agama dan etnis yang ada di Irak. Anggota dewan ini terdiri atas 13 orang Arab Syiah, 5 orang Arab Sunni, 5 Orang Kurdi (Sunni), 1 orang Turki, dan 1 orang Kristen Assyria. Semua anggota dari Iraqi Interim Governing Council ini dipilih langsung oleh Paul Bremer (http://www.wikipedia.org/wiki/iraq.htm
diunduh tanggal 17 Juli 2010).
Dalam daftar nama anggota Iraqi Interim Governing Council ini muncul nama-nama orang-orang yang sebelumnya sudah dikenal sebagai tokoh-tokoh yang merupakan oposisi terhadap pemerintahan Irak dimasa Saddam Hussein. Beberapa diantaranya adalah Ahmed Chalabi, Iyad Allawi, Ibrahim al-Jaafari, Jalal Talabani, dan Massoud Barzani.
Ahmed Chalabi adalah orang Irak yang lebih banyak menghabiskan waktunya di AS dan Inggris ketika Irak masih di bawah kekuasaan Saddam Hussein. Dia juga merupakan anggota dewan eksekutif dari Iraqi National
Congress, sebuah gerakan anti-Saddam yang mendapat sokongan dana dari
pemerintah AS. Selama tinggal di AS, Ahmed Chalabi menjalin hubungan baik dengan Paul Wolfowitz, salah satu anggota dari kelompok neo-cons yang turut mendorong AS agar menyerang Irak (http://www.news.bbc.cu.uk diunduh tanggal 17 Juli 2010).
Anggota lainnya, Iyad Allawi yang semula merupakan anggota dari Partai Baa’ath memutuskan untuk menjadi oposan terhadap Saddam Hussein setelah terjadinya upaya pembunuhan terhadap dirinya di Inggris pada tahun 1978 yang diyakini didalangi oleh Saddam Hussein. Sementara bermukim di London, Iyad Allawi mendirikan Iraqi National Accord pada tahun 1990 yang beranggotakan mantan perwira-perwira militer yang dibuang Saddam Hussein dan warga Irak lainnya yang menentang pemerintahan Saddam Hussein. Iraqi National Accord
mendapat dukungan dari Inggris, Yordania, Arab Saudi, Turki, dan AS ini merencanakan untuk melakukan kudeta terhadap pemerintahan Saddam Hussein. Pada tahun 1992, Iyad Allawi direkrut oleh Central Intelligence Agency (CIA)
dan bertugas untuk memberikan informasi yang diperlukan untuk menggulingkan Saddam Hussein (http://www.washingtonpost.com diunduh tanggal 17 Juli 2010)
Ibrahim al-Jaafari adalah seorang politikus Irak yang aktif sejak tahun 1968 sebagai anggota Partai Al-Dawa, partai yang kemudian menjadi oposisi terhadap pemerintahan Saddam Hussein. Pada tahun 1980 Ibrahim al-Jaafari melarikan diri ke Iran setelah partai Ba’ath melakukan penyerangan terhadap partai-partai lain yang menjadi oposan Saddam Hussein. Pada tahun 1989 Ibrahim al-Jaafari pindah ke London dan terlibat dalam gerakan yang lebih luas untuk menggulingkan Saddam Hussein (http://www.wikipedia.org diunduh tanggal 18 Juli 2010). Sedangkan Jalal Talabani dan Massoud Barzani merupakan pimpinan dari dua partai suku Kurdi, yang selama ini terkenal sebagai oposan terhadap Saddam Hussein. Anggota-anggota lainya dari Iraqi Interim Governing Council
tidak terlalu terkenal dalam politik internasional namun yang pasti mereka juga merupakan anggota dari gerakan-gerakan perlawanan di masa pemerintahan Saddam Hussein.
Dalam perkembangan selanjutnya, CPA bersama dengan Iraqi Interim
Governing Council membentuk Iraqi Interim Government pada tanggal 1 Juni
2004 yang menurut rencana akan menggantika posisi dan mengambil alih tugas dari CPA dan Iraqi Interim Governing Council untuk memerintah Irak mulai tanggal 28 Juni 2004 sampai dengan diadakannya pemilihan umum legislatif untuk memilih anggota Iraqi National Assembly pada tanggal 30 Januari 2005.
Iraqi Interim Government ini merupakan lembaga eksekutif yang terdiri
dari seorang presiden dan dua orang wakil presiden yang berperan sebagi kepala Negara, serta seorang perdana menteri dan seorang wakil perdana menteri yang berperan sebagai kepala pemerintahan, Iraqi Interim Government memiliki hak untuk memilih sendiri orang-orang yang akan duduk dalam kabinet sebagai menteri-menteri yang bertugas membantu mereka menjalankan pemerintahan di Irak.
Pada tanggal 30 Januari 2005, Irak mengadakan pemilihan umum untuk memilih 275 orang yang akan duduk dalam Iraqi National Assembly. Hasil dari pemilihan umum ini menunjukkan bahwa United Iraqi Alliance yang didukung
oleh pemimpin besar Syiah, Ayatollah Ali al-Sistani, unggul dengan memperoleh 48% dari total suara. Sementra itu, Democratik Patriotic Alliance of Kurdistan
berada di urutan kedua dengan merebut 26% dari total suara, disusul oleh Iraqi List di tempat ketiga dengan perolehan 14% dari total suara. Secara keseluruhan, ada 20 partai politik yang memperoleh cukup suara untuk menempatkan seorang wakilnya dalam Iraqi National Assembly.(http://www.wikipedia.org diunduh tanggal 17 Juli 2010)
Pada gilirannya, anggota-anggota Iraqi National Assembly ini akan bertugas untuk membuat undang-undang Irak yang baru dan bersifat permanen, selain itu majelis ini juga akan menjalankan fungsi-fungsi legislative sampai mulai diberlakukannya undang-undang yang baru. Sementara berusaha membenahi bidang administrative dan pemerintahan Irak, AS juga harus memusatkan perhatiannya pada upaya untuk membenahi sektor perekonomian Irak dan memperbaiki sarana dan prasarana umum yang rusak karena perang.
Sejak embargo ekonomi dikenakan terhadap Irak pada tahun 1990 pasca Perang Teluk II, perekonomian Irak mengalami keterpurukan hingga jatuh pada level yang sangat rendah. Jumlah pengangguran yang meningkat tajam pada gilirannya berdampak pada kehidupan rakyat Irak. Sanksi ekonomi yang dikenakan pada Irak ini menyebabkan Irak tidak memiliki cukup dana untuk mengoperasikan sarana-sarana pelayanan umum, misalnya rumah sakit dan sekolah, dengan optimal. Program “oil for food” yang diterapkan oleh PBB dengan tujuan untuk mengurangi penderitaan rakyat Irak tidak mampu memberikan dampak yang signifikan sehingga ratusan anak harus meninggal dunia karena kelaparan sementara ribuan lainnya berada dalam kondisi gizi yang amat buruk.
Dilancarkannya invasi ke Irak oleh pasukan multinasional pimpinan AS pada bulan Maret 2003 semakin memperparah kondisi di Irak, karena sarana-sarana umum seperti rumah sakit, pembangkit tenaga listrik atau penyedia air bersih kini tidak berfungsi karena mengalami kerusakan akibat perang. Sebagai pihak yang diberi mandate oleh PBB untuk melaksanakan rekontruksi Irak,
termasuk didalamnya rekontruksi di bidang ekonomi dan sarana serta prasarana umum, AS mengeluarkan beberapa kebijakan.
Rekontruksi di bidang ekonomi, pemerintah AS menyerahkan tanggungjawab untuk menggerakkan kembali roda perekonomian di Irak kepada
United States Agency for International Development (USAID) (diunduh dari situs
http://www.usaid.gov/iraq/activites/html pada tanggal 17 Juli 2010). Dalam situs
resminya, disebutkan bahwa tujuan utama keterlibatan USAID dalam program rekontruksi ekonomi Irak adalah untuk meremajakan kembali perekonomian dan membangun kembali sektor pertanian Irak. USAID berupaya untuk melakukan reformasi dalam tata perekonomian Irak di mana reformasi ini meliputi perubahan-perubahan dalam hukum, peraturan-peraturan, dan institusi-institusi ekonomi yang telah ada sebelumnya, USAID juga akan menyediakan kerangka kerja yang dapt digunakan bagi pengembangan usaha perdagangan dan investasi di sektor swasta.
Selama dua tahun, USAID telah berhasil menunjukkan beberapa hasil yang signifikan melalui tindakan reformasinya. Di antaranya adalah bekerja sama dengan Kementrian Keuangan Irak dalam mengeluarkan mata uang Irak yang baru untuk menggantikan mata uang sebelumnya yang bergambar Saddam Hussein; menciptakan lebih dari 77.000 lapangan pekerjaan bagi rakyat Irak melalui pengadaan National Employment Program; memberikan bantuan teknis kepada bank-bank komersil Irak dalam melakukan aktifitas penghitungan
(accounting), pembuatan anggaran (budgeting), dan pemberian kredit (lending;
meningkatkan kemampuan dalam hal analisa statistic, pembuatan kebijakan moneter, dan prosedur pengawasan perbankan di Bank Sentral Irak; mengevaluasi dan memperbaharui peraturan-peraturan perniagaan di sektor swasta dan investasi asing; dan menyediakan bantuan tknis dalam usaha pembukaan kembali Iraq
Stock Exchange. Sementara itu di sektor pertanian, USAID memberikan bantuan
teknis kepada para petani Irak agar mereka dapat meningkatkan hasil pertanian dan memanfaatkan lahan rawa-rawa yang ada di Irak supaya dapat memberikan nilai ekonomis bagi rakyat Irak. (http://www.usaid.gov/iraq/accomplishments
Rekontruksi di bidang sarana dan prasarana umum (termasuk di dalamnya perlengkapan yang diperlukan untuk memperkuat militer Irak), pada tahun anggaran 2003, badan-badan yang diberi wewenang oleh pemerintah AS untuk mengeluarkan kontrak-kontrak untuk proyek rekontruksi sarana dan prasarana umum adalah USAID dan United States Department of Defense. Selama tahun 2003, USAID telah memberikan 10 kontrak dan 6 dana bantuan (grants). Sementara itu Army Corps of Engineer sebagai divisi dari United States
Department of Defense telah memberikan tiga kontrak (http://www.export.
gov/iraq/market.html, diunduh tanggal 18 Juli 2010). Irak yang hancur-lebur
setelah invasi AS membutuhkan sebuah program pembangunan kembali yang cepat disegala bidang. Beberapa bidang infrastruktur merupakan aset ekonomi yang sangat berharga bagi AS. Aset ekonomi seperti kilang minyak dan jalur pipanya adalah yang menjadi motif dominan serangan AS ke Irak.
Sedangkan untuk tahun anggaran 2004, badan-badan yang ditunjuk oleh pemerintah AS untuk memberikan kontrak adalah Army Corps of Engineer,
United States Navy, USAID, dan US State Department. Badan-badan ini
memberikan kontrak atas nama Coalition Provisional Authority Irak Program
Management Office (CPAPMO), di kemudian hari berganti nama menjadi Iraq
Project and Contracting Office (POC), karena badan inilah yang
bertanggungjawab atas semua kontrak proyek rekontruksi Irak untuk tahun anggaran 2004 yang oleh pemerintah AS memperoleh alokasi dana sebesar 18,6 trilyun Dollar AS (http://www.export.gov/iraq/market.html, diunduh tanggal 18 Juli 2010). Selain itu, dana yang digunakan untuk membiayai proyek rekontruksi Irak ini juga diperoleh dari hasil penjualan minyak Irak sendiri ditambah dengan bantuan dari Negara-negara lain seperti Jepang dan Negara-negara Eropa.
Pemberian kontrak-kontrak ini dilakukan melalui pengadaan tender yang semula hanya boleh diikuti oleh perusahaan-perusahaan yang bersal dari Negara-negara yang pemerintahnya mendukung invasi AS ke Irak, namun karena banyak protes, peraturan ini kemudian mengalami sedikit perubahan sehingga perusahaan-perusahaan dari Negara yang tidak mendukung invasi ke Irak tetap dapat berpartisipasi dalam proyek-proyek rekontruksi Irak sebagi sub-kontraktor,
sedangkan yang berhak memilih parusahaan-perusahaan mana saja yang akan menjadi sub-kontraktor adalaah perusahaan-perusahaan yang telah memenangkan tender dan berstatus sebagai kontraktor utama. Dari tender yang dilaksanakan, ada lebih dari 45 perusahaan asal AS yang memenangkan kontrak sebagi kontraktor utama, antara lain Skylink Air & Logisticts Support, Bechtel, dan Louis Berger
Group, Inc. dari Inggris ada 1 perusahaan (Foster Wheeler), dari Italia ada 1
perusahaan (Bertoli SRL), dari Israel ada 1 perusahaan (MDT Armor), dan dari Yordania ada 1 perusahaan (Shaheen Bussiness and Investment Group).
Sementara itu, untuk menjawab protes dari Negara-negara yang perusahaannya tidak diizinkan mengikuti tender, mantan Presiden Bush menyampaikan bahwa Negara-negara tersebut tetap dapat berpartisipasi dalam proyek rekontruksi Irak dengan cara menghapuskan hutang-hutang luar negeri Irak (http://www.globeandmail.com diunduh tanggal 17 Juli 2010).
Ada dugaan bahwa beberapa perusahaan dapat memenangkan tender karena perusahaan-perusahaan tersebut memiliki hubungan erat dengan pejabat-pejabat tinggi dalam pemerintahan mantan Presiden Bush, seperti Halliburton (http://www.guardion.ou.uk/html diunduh tanggal 17 Juli 2010). Halliburton adalah sebuah perusahaan yang memiliki divisi khusus jasa pengamanan atau tentara bayaran. Karena divisi khusus itulah, Halliburton dikategorikan sebagai Perusahaan Penyedia Tentara Bayaran atau Private Military Company (PMC). Di bawah kontrak yang bernama Logistic Civil Augmentation Program (LOGCAP) dan disetujui pada Desember 2001, Halliburton menjadi satu-satunya perusahaan yang mendominasi proyek rekonstruksi Irak. Halliburton menggunakan anak perusahaannya, yaitu Kellog Brown & Root untuk melaksanakan kontrak tersebut. Jumlah total pekerja KBR di Irak adalah sekitar 24.000 personel, atau 3/4 dari total pekerja asing yang dipekerjakan di sana. Pekerja Halliburton melakukan berbagai macam pekerjaan mulai dan menggali jamban, mangantarkan logistik, mencukur rambut, menyiapkan makanan, hingga melayani jasa pengiriman surat untuk tentara AS.
Selain itu juga dicurigai adanya ketidakcocokan antara besarnya dana yang diperlukan yang disetujui pada saat pemberian kontrak dengan besarnya dana
yang dihabiskan dalam pelaksanaanya di lapangan. Sebagai contoh, data audit yang dilakukan terhadap Kellog, Brown an Root, yang merupakan subsidiary dari
Halliburton, ditemukan bahwa perusahaan tersebut telah menghabiskan 16 juta
Dollar AS lebih banyak dari yang telah disepakati dalam kontrak untuk mengangkut kebutuhan bahan bakar minyak bagi pasukan AS di Irak.
(http://www.nytimes.com diunduh tanggal 18 Juli 2010)
Meskipun AS telah membuat rencana yang matang dalam usahanya rekontruksi di bidang ekonomi dan sarana serta prasarana umum, namun bukan berarti rencana ini dapat berjalan dengan lancar. Kendala terbesar yang harus dihadapi adalah masih belum stabilnya kondisi keamanan di Irak. Meskipun operasi militer utama telah berakhir namun pasukan militer AS masih harus menghadapi serangan-serangan dari berbagai gerakan perlawanan yang tersebar di seluruh Irak (http://www.globeandmail.com diunduh tanggal 17 Juli 2010).
2. Kebijakan-Kebijakan Rekontruksi Irak dan Kepentingan AS
Setelah melakukan invasi terhadap Irak pada tahun 2003, daripada menyerahkan kembali kekuasaan kepada rakyat Irak, AS lebih memilih menuntut agar PBB mengeluarkan resolusi yang memberikan wewenang kepada AS untuk melakukan rekontruksi di Irak. Wewenang untuk melakukan rekontruksi di Irak menjadi begitu penting bagi AS, karena memberikan keuntungan yang besar untuk AS jika dicermati apa saja kebijakan-kebijakan rekontruksi Irak yang dibuat oleh pemerintah AS, dan bagaimana dampak jangka panjang dari pelaksanaan kebijakan-kebijakan tersebut (http://www.news.bbc.cu.uk diunduh tanggal 17 Juli 2010).
Sejak awal dilaksanakannya, kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh AS dalam kaitannya dengan upaya rekontruksi di Irak, baik di bidang politik dan pemerintahan, keamanan, ekonomi, serta sarana dan prasarana umum telah mengindikasikan kuatnya peranan kepentingan-kepentingan AS di kawasan Timur Tengah dalam proyek rekontruksi tersebut. Kebijakan-kebijakan tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri berdasarkan bidang dari rekontruksi, namun saling mendukung dan berkaitan secara positif (http://www.news.bbc.cu.uk diunduh tanggal 17 Juli 2010).
Tabel 1. Kebijakan AS dan keuntungan yang diperoleh AS atas invasi ke Irak.
Sumber : www.export.gov/iraq/market.html
Melalui kebijakan-kebijakan rekontruksi di bidang politik dan pemerintahan, AS telah berusaha sejak dini untuk menanamkan pengaruhnya dalam pemerintahan Irak yang baru melalui pembentukan badan-badan pemerintahan sementara yang hampir semuanya diatur sendiri oleh AS, mulai dari
Office for Recontruction and Humanitarian Assistance yang kemudian digantikan
Coalition Provisional Authority, sampai dengan pembentukan Iraqi Interim
Governing Council dan Iraqi Interim Government
(http://www.export.gov/iraq/market.html, diunduh tanggal 18 Juli 2010).
Tiga bagian yang disebutkan pertama mutlak merupakan bentukan AS.
Iraqi Interim Governing Council, meskipun seluruh anggotanya merupakan warga
Irak, namun sebagian dari mereka sebelumnya memiliki hubungan yang dekat dengan AS. Sedangkan Iraqi Interim Government, meskipun dibentuk CPA bersama Iraqi Interim Governing Council,bisa disebutkan hanya perpanjangan tangan dari AS karena Iraqi Interim Governing Council sendiri merupakan badan bentukan CPA. Selama periode berkuasanya badan-badan ini, dapat dikatakan AS memiliki kekuatan penuh untuk mengarahkan kebijakan-kebijakan resmi pemerintahan sementara Irak (http://www.export.gov/iraq/market.html, diunduh tanggal 18 Juli 2010).
Kebijakan AS di berbagai bidang Keuntungan yang diperoleh
Ekonomi Akan lebih mudah bagi AS untuk
mengakses minyak bumi yang dihasilkan Irak
Politik AS memiliki kesempatan untuk
mempengaruhi kebijakan-kebijakan luar negeri Irak, termasuk didalamnya kebijakan yang berkaitan dengan Israel
Keamanan AS memperoleh sekutu dalam program
perang global terhadap terorisme yang dipeloporinya
Keterlibatan AS dalam pembentukan pemerintahan Irak yang baru yang dilakukan sejak dini memberikan dasar yang kuat bagi hubungan diplomatik antara AS dengan Irak dikemudian hari yang dapat dikembangkan ke dalam bentuk hubungan kerjasama di bidang-bidang lainnya, yang tentu saja berlandaskan pada kepentingan-kepentingan AS di kawasan Timur Tengah.
Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh AS melalui terjalinnya hubungan yang baik antara AS dengan Irak. Di bidang ekonomi, akan lebih mudah bagi AS untuk memperoleh akses terhadap minyak bumi yang dihasilkan oleh Irak. Di bidang politik, AS memiliki kesempatan untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan luar negeri Irak, termasuk di dalamnya kebijakan yang berkaitan dengan Israel. Sedangkan di bidang keamanan, AS memperoleh sekutu dalam program perang global terhadap terorisme yang dipeloporinya
(http://www.export.gov/iraq/market.html, diunduh tanggal 18 Juli 2010).
Dengan wewenang yang dimiliki untuk membentuk dan menjalankan pemerintahan sementara di Irak, AS melalui CPA secara otomatis juga berhak mengatur bagaimana rekontruksi di bidang-bidang lainya dijalankan, termasuk didalamnya rekontruksi di bidang ekonomi serta sarana dan prasarana umum. Hal ini sangat penting bagi AS karena dengan demikian AS bisa mengontrol siapa saja yang nantinya terlibat dalam rekontruksi Irak (http://www.news.bbc.cu.uk diunduh tanggal 17 Juli 2010).
Untuk memilih perusahaan-perusahaan apa saja yang akan mengerjakan proyek rekontruksi di bidang ekonomi serta sarana dan prasarana umum, CPA memilih untuk mengadakan tender yang hanya boleh diikuti oleh perusahaan-perusahaan yang berasal dari negara-negara yang mendukung invasi ke Irak, seperti Inggis, dan Israel dan yang tidak mendukung adalah Rusia dan Perancis.