RINGKASAN
Berdasarkan perencanaan yang sudah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Kehutanan pada tahun 2010 melalui Peta Jalan Perkebunan Sawit hingga 2014, sawit adalah komoditas strategis yang akan menjadi andalan Indonesia untuk jangka waktu lama. Luasan perkebunan sawit yang terus meningkat setiap tahun, khususnya satu dasawarsa terakhir, menunjukkan realitas hari ini. Berbagai masalah muncul mulai dari persoalan alih fungsi lahan hutan dan rawa menjadi kebun sawit, lingkungan yang semakin kritis serta terancamnya keanekaragaman hayati setempat, sampai pada penghilangan nyawa rakyat dalam konflik sawit.
Dapat dikatakan banyak aspek yang menjadi beban di balik kesuksesan ekspansi perkebunan sawit di Indonesia. Isu yang sempat membuat bisnis CPO menjadi tersendat, meskipun dikeluarkan mekanisme RSPO atau ISPO sebagai bentuk meminimalisasi konflik dan dampak lingkungan. Akan tetapi solusi tersebut tidak menyelesaikan akar persoalan, baik yang dihadapi petani sawit, maupun petani produksi pangan lain yang tanahnya dirampas, bahkan krisis lingkungan yang semakin parah.
Dokumen Peta Jalan Pembangunan Sawit telah memberikan jalan bagi peningkatan pembangunan di sektor sawit. Akan tetapi sawit sudah kadung menjadi primadona global untuk konsumsi pangan ataupun energi. Alih-alih mendapatkan kemakmuran dan memajukan wilayah setempat, Perkebunan Sawit justru memperlebar ketimpangan secara massif di seluruh sendi kehidupan, bahkan membuat semakin tidak adanya jaminan keselamatan, produktivitas dan meningkatnya kesejahteraan rakyat. Di samping itu juga mengakibatkan menurunnya daya dukung lingkungan untuk memulihkan diri sendiri.
Jika pembangunan sawit untuk memakmurkan petani sawit, menyejahterakan rakyat dan memajukan pembangunan Indonesia tidak pernah terjadi selama satu dasawarsa terakhir, lalu kebijakan perkebunan sawit sesungguhnya untuk memakmurkan siapa dan memajukan pembangunan untuk siapa, dan kemana sesungguhnya peta jalan pembangunan sawit di Indonesia?
108
KE
TIMP
ANGAN PEMBANGUNAN INDONESIA D
ARI BERBA
GAI ASPEK
BAGIAN I
PENDAHULUAN
B
isnis sawit dewasa ini telah mengalami peningkatan signifikan. Hal ini disebabkan oleh terus meningkatnya potensi dan permintaan dunia atas minyak sawit. Pada tahun 2009, Indonesia telah menjadi negara produsen minyak sawit terbesar di dunia, dengan jumlah produksi diperkirakan sebesar 20,6 juta ton minyak sawit, kemudian diikuti Malaysia dengan jumlah produksi 17,57 juta ton. Pada tahun 2012 saja, produksi CPO Indonesia mencapai 26, 5 juta ton1. Sebagian besar hasil produksi minyak sawit di Indonesia merupakan komoditi ekspor. Pangsa ekspor kelapa sawit hingga tahun 2008 mencapai 80% total produksi. India adalah negara tujuan utama ekspor kelapa sawit Indonesia, yaitu 33% dari total ekspor kelapa sawit, diikuti Cina sebesar 13%, dan Belanda 9% (Oil World, 2010).Dengan perkembangan yang signifikan tersebut, kemudian Direktorat Jenderal Perkebunan merumuskan Road Map Pembangunan Sawit 2010-2014 di mana sasaran makro pembangunan perkebunan dan industri pengolahan pertanian meliputi: peningkatan PDB dari 2,97% menjadi 3,19% (harga konstan tahun 2000), kesempatan kerja (dari 19,78 juta menjadi 21,42 juta orang), investasi (dari Rp 45,18 triliun menjadi Rp 68,49 triliun), surplus neraca perdagangan pertanian (dari US$ 28,86 menjadi US$ 59 miliar), pendapatan pekebun (dari US$ 1600 menjadi US$ 1840/KK/2 ha), ekspor perkebunan (dari US$ 31,89 menjadi US$ 61,25 miliar), dan Nilai Tukar Petani atau NTP (dari 105,2 menjadi 109,28).
Permintaan yang cukup tinggi dengan potensi pendapatan besar “berekses” kepada perluasan perkebunan sawit di Indonesia. Melalui peta jalan yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Perkebunan, sejak 2010 s.d. 2020 perluasan perkebunan sawit di Indonesia ditetapkan seluas 22 juta hektare seluruh di Indonesia, dengan tidak menutup kemungkinan akan terus berkembang dan meluas. Kesuksesan perkembangan kebun sawit di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari campur-tangan negara dalam memberikan fasilitas kepada investor untuk memperluas ekspansi di Indonesia. Tercatat lebih dari 20 Provinsi saat ini telah berkembang perkebunan sawit, yang paling banyak di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua hingga pulau kecil seperti Bangka Belitung.
Di pulau kecil yang sudah dikepung oleh tambang ini, menurut data Walhi tahun 20132 tercatat lebih dari 39 korporasi skala besar telah mendapatkan izin HGU tersebar di Bangka Barat 5 perusahaan, Bangka Tengah 6 perusahaan,
1 Data Dirjenbun Kementerian Pertanian 2013
109 Yustinus P rast o w o dk k
Bangka Selatan 4 perusahaan, Bangka Induk 10 perusahaan, Belitung 6 perusahaan, Belitung Timur 8. Dengan luasan total 240.000 Ha. Dapat dikatakan, lebih dari 50% kawasan Bangka-Belitung sudah dikuasai oleh Korporasi Skala Besar. Konsesi terbesar untuk pengembangan sawit di Bangka-Belitung diberikan kepada Perusahaan Besar sawit di Indonesia, yakni Sinar Mas dan Cargill, sebuah perusahaan trans nasional (TNC). Di Kalimantan Tengah, dari total luasan investasi mencapai 13,090, 772 Ha atau 85 % dari total luasan wilayah. HGU untuk perkebunan sawit diberikan mencapai 4.254.804,773 Ha yang diberikan kepada lebih dari 340 korporasi besar. Salah satu yang terbesar adalah Wilmar Group, sebuah perusahaan asal Malaysia yang memiliki izin kebun sawit di Kalimantan Tengah seluas 200.000 Ha.
Di Nanggroe Aceh Darussalam menurut catatan Koalisi untuk Laut Aceh (KUALA) di Kabupaten Aceh Tamiang-NAD; Sekitar 20.000 hektare kawasan hutan mangrove, termasuk yang berada di hutan lindung, 85%-nya sudah ditanami sawit, (atau 17.000 hektare), 5.700 hektare di antaranya berstatus hutan lindung. Sedangkan Kalimantan Barat, Hutan Lindung Gambut Pinang Luar dan Hutan Lindung Gambut Sungai Arus Deras di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, seluas 4.034 hektare, telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit skala besar. Padahal, konversi hutan itu belum mendapat izin penglepasan kawasan dari Menteri Kehutanan (Kompas, 2/07/2010)
Orientasi kebijakan Industri Sawit Nasional mendapat ruang yang besar. Selain karena semakin tingginya permintaan pasar global, juga karena semakin habisnya sumber energi fosil, seperti batubara dan minyak bumi. Dilatarbelakangi suatu fakta bahwa persoalan iklim yang semakin tidak menentu akibat konsumsi energi kotor maka sawit sebagai sumber energi
biofuel yang merupakan energi terbarukan lantas menjadi masa depan
kehidupan di bumi.
Semakin meluasnya kebun sawit di Indonesia memang telah memberikan keuntungan secara makro, namun juga menimbulkan banyak persoalan yang muncul dan harus diselesaikan. Secara umum adalah kebijakan regulasi khususnya sawit yang memberikan peluang besar untuk membuka kebun skala besar. Sedangkan secara spesifik banyak soal yang muncul dalam pembangunan perkebunan sawit di Indonesia, antara lain persoalan aset (status lahan) yang berujung konflik agraria antara rakyat dengan korporasi. Sehingga menyebabkan ketimpangan lahan dan kebun produktif rakyat baik yang berada di sektor sawit maupun pangan lainnya. Meluasnya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh ekspansi dan perubahan tata guna lahan untuk kepentingan perkebunan.
Kertas kebijakan ini ingin memfokuskan kepada kebijakan negara yang memperbesar ketimpangan penguasaan lahan produktif pertanian rakyat. Selain itu juga kerusakan terhadap bentang alam dan kehancuran keanekaragaman hayati. Di satu sisi, bagaimana kebijakan negara dalam perkebunan memberikan
110
KE
TIMP
ANGAN PEMBANGUNAN INDONESIA D
ARI BERBA
GAI ASPEK
banyak sekali fasilitas terhadap korporasi, di sisi lain petani sebagai pemilik sah negeri ini justru terus dipinggirkan dan disingkirkan secara sistematis. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi pijakan satu perubahan mendasar atas peta jalan yang dilaksanakan negara terhadap pembangunan sawit, sehingga memberikan solusi mengatasi persoalan ketimpangan yang semakin menganga dan problem lingkungan yang kian meluas.