• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelembagaan Pengelola Program Penanggulangan Kemiskinan

Dalam dokumen Buku - Ketimpangan Pembangunan Indonesia (Halaman 92-96)

IMPLEMENTASI DAN DAMPAK DARI KEBIJAKAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN

B. Kelembagaan Pengelola Program Penanggulangan Kemiskinan

Ketidakmampuan masyarakat miskin dalam konteks kemajemukan dapat dikategorikan dan dicerminkan dalam 3 persoalan besar yang selalu ada, yakni; y Rakyat miskin tidak memiliki akses ke pembuatan keputusan atau

kebijakan. Sedangkan kelembagaan yang ada seperti musrenbang, atau pun musyawarah lainnya tidak dapat menjaring ataupun dijadikan sebagai tempat menyalurkan aspirasi yang muncul dari bawah. Setiap kebutuhan rakyat miskin sudah didefinisikan dari atas oleh kelembagaan yang ada (seperti TKPD, SKPD yang memberikan format program dan telah menentukan program apa yang akan dijalankan, sehingga sulit untuk melakukan inovasi ataupun memberikan masukan sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara riil). Pada akhirnya kemiskinan tidak dapat terselesaikan.

y Regulasi kebijakan pemerintah yang mengutamakan kepentingan

ekonomi dan menitikberatkan pada investasi modal besar yang fokus pada sektor-sektor industri yang tidak berbasis pada potensi dan sumber daya yang ada, sehingga menutup kesempatan masyarakat untuk mengembangkan potensi-potensinya untuk keluar dari kemiskinan. Padahal untuk menyelesaikan kemiskinan pemerintah harus menyediakan seperangkat regulasi yang menjamin bagi masyarakat untuk bisa melakukan inovasi dan pengembangan agar dapat keluar dari kemiskinan. y Pada kenyataannya, tidak ada transparansi dan keterbukaan pada pembuatan dan pelaksanaan kebijakan, akibatnya kebijakan hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. Segala bentuk regulasi diputuskan oleh lembaga-lembaga pembuat kebijakan tanpa melibatkan masyarakat miskin, sehingga banyak kebijakan atau pun regulasi yang sifatnya tidak mendukung rakyat miskin.

Di samping itu, dominasi elit politik mulai dari tingkat desa hingga tingkat nasional menjadi salah satu penyebab semakin panjangnya daftar

83 Yustinus P rast o w o dk k

kemiskinan yang terjadi. Contoh yang mudah dapat ditemui dalam hal dominasi elit adalah hampir seluruh program kemiskinan yang ada di desa maupun di kota sebagian besar penikmatnya adalah kaum elit ataupun orang-orang yang berada di lingkaran terdekat pengambil kebijakan. Di beberapa daerah pemberian bantuan untuk orang miskin tak banyak terserap oleh orang miskinnya tetapi oleh orang yang sebenarnya tidak berhak mendapatkan program tersebut. Dari pendataan yang dijumpai di lapangan terkait pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan ada sejumlah faktor terkait dengan proses implementasi program penanggulangan kemiskinan, di antaranya keakuratan pendataan, akses terhadap program, dampak program terhadap kesejahteraan penerima, relasi kekuasaan, dan lemahnya evaluasi dan monitoring di lapangan, serta rendahnya partisipasi masyarakat (ahmadi,dkk 2010; Hastuti 2013; Holmes & Jones, 2010).

Lagi pula, persoalan yang sering muncul terkait dengan koordinasi adalah masih kuatnya ego sektoral yang muncul di masing-masing Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) dan pelaksana-pelaksana teknis lainnya. Salah satu usaha yang dilakukan Pemerintah untuk memaksimalkan fungsi dan mendorong terjadinya sinergi adalah mengeluarkan kebijakan nasional dalam bentuk Perpres no.15 tahun 2010 yang menekankan perlunya percepatan penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Perpres ini menekankan pemerintah provinsi, kabupaten dan kota menyusun program yang terpadu agar tidak memberi kesan adanya inisiatif dari para instansi/lembaga terkait, berjalan sendiri-sendiri, dan program yang digagas bersifat parsial. Untuk mendorong kerja sama yang baik antar lembaga diluncurkan kebijakan Mendagri berupa Permendagri No. 42 tahun 2010 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Kebijakan ini mengindikasikan bahwa keterlibatan multi pihak dalam penanggulangan kemiskinan potensial untuk terjadi inefisiensi dan kontra produktif. Untuk itu diperlukan pengaturan yang tegas di lingkungan pemerintahan daerah. Gubernur Jawa Barat misalnya, meresponnya dengan mengeluarkan kebijakan berupa Keputusan Gubernur Jawa Barat No 465.05/kep.1483-Bapp/2010 tentang TKPKD Provinsi. Kebijakan ini dijadikan landasan oleh SKPD yang ada di jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menggelar berbagai program penanggulangan kemiskinan masyarakat Jawa Barat. Hal yang menarik untuk dicermati adalah munculnya program yang diluncurkan secara parsial, walaupun telah dibentuk Tim Koordinasi yang secara langsung mengatur kerja sama antar SKPD ini.

Maka tak jarang ditemukan program-program yang dilaksanakan oleh SKPD tidak sejalan dengan program-program penanggulangan kemiskinan yang menjadi acuan TKPKD dan RPJMD masing-masing kabupaten/

84

KE

TIMP

ANGAN PEMBANGUNAN INDONESIA D

ARI BERBA

GAI ASPEK

kota. Padahal tugas dari TKPKD adalah memadukan dan mempercepat langkah-langkah nyata penanggulangan kemiskinan di tingkat provinsi, kota dan kabupaten. Sebagai catatan, TKPKD memiliki fungsi untuk (1) mengkoordinasikan perumusan kebijakan penanggulangan kemiskinan dan penyerasian pelaksanaannya di daerah, (2) memfasilitasi lintas pelaku, komunikasi interaktif, dan penyebarluasan informasi penanggulangan kemiskinan (3) melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan program-program penanggulangan kemiskinan (4) melakukan pembinaan terhadap pelaksanaan fungsi TKPKD kabupaten/kota dan pengembangan kerjasama antar kabupaten/kota maupun kemitraan yang terkait dalam upaya percepatan penanggulangan kemiskinan bagi TKPKD di tingkat provinsi.

Idealnya, sebagai sebuah forum lintas pihak dan sebagai pemegang mandate dengan prinsip partisipatif, maka forum ini seharusnya mewakili unsure-unsur pemerintahan daerah, swasta, dan masyarakat. Dan secara spesifik unsur masyarakat yang harus ada, antara lain dari kelompok masyarakat miskin, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi non pemerintah, lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Namun dalam praktiknya forum lintas pihak ini lebih banyak didominasi oleh unsur pemerintahan daerah saja, sedangkan unsur masyarakat biasanya diisi oleh tokoh masyarakat yang memiliki hubungan kedekatan dengan pemerintah daerah. Begitupun dengan organisasi non pemerintah dan lembaga penelitian, biasanya kedua komponen ini merupakan bentukan dari pemerintahan daerah tersebut juga, yang bertujuan hanya untuk memenuhi syarat saja dari forum lintas pihak. Hal inilah yang menghambat fungsi-fungsi TKPKD sebagai pelaksana pemantauan dan evaluasi program penanggulangan kemiskinan. Karena seolah-olah keberadaan TKPKD hanya sebagai pelengkap dari prasarat untuk mendapatkan program-program yang berhubungan dengan penanggulangan kemiskinan belaka. Tambahan pula, keberadaan TKPKD tidak didukung dengan pengalokasian anggarannya dalam APBD. Hal ini merupakan beban baru bagi daerah untuk mengalokasikan operasional TKPKD. Permasalahan-permasalahan inilah yang sesungguhnya menimbulkan keengganan provinsi untuk memaksimalkan peran TKPKD.

Lalu pertanyaannya adalah di manakah sebenarnya posisi program-program penanggulangan kemiskinan yang telah dibagi menjadi 4 kluster itu masuk dalam strategi yang dilakukan oleh TKPKD? Sehingga nantinya tidak dirasakan bahwa program-program yang telah dibagi dalam kluster-kluster tersebut terpisah dengan program-program yang dilakukan SKPD.

Kondisi ini kian diperparah dengan model perencanaan di desa yang dalam realisasinya terjadi 2 proses perencanaan, yakni perencanaan program

85 Yustinus P rast o w o dk k

PNPM (yang lebih dikenal dengan musrenbang PNPM) dan musrenbang regular. Walaupun pemerintah dalam permasalahan ini telah meluncurkan program PNPM integrasi untuk mencoba menjawab adanya perbedaan perencanaan tersebut, namun tetap saja dalam pelaksanaannya hampir di semua wilayah yang mendapatkan program PNPM integrasi hanya mengintegrasikannya sebatas pada pelaksanaan musyawarah perencanaannya saja dan tidak memiliki kesatuan dokumen, dan penganggaran. Sehingga terkadang, program-program yang keluar dari proses perencanaan ini hanya menyentuh program-program yang sangat bias infrastruktur.

Berkaca pada persoalan-persoalan di atas, maka dapat dipastikan bahwa program-program penangulangan kemiskinan yang kini ada tidak berjalan maksimal. Hal ini dipicu oleh tidak terintegrasi dan tidak sinerginya program-program penanggulangan kemiskinan yang dijalankan. Sehingga dapat dipastikan ketepatan sasaran program, penerima manfaat program, dan pengelolaan program tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan ditargetkan. Ini akan memberi dampak pada tidak efektifnya program-program penanggulangan kemiskinan sehingga angka kemiskinan menurun.

86

Dalam dokumen Buku - Ketimpangan Pembangunan Indonesia (Halaman 92-96)