IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Isolasi dan Identifikasi SGB
Hasil isolasi dan identifikasi SGB dari swab vagina dan swab rektum 38 orang penderita komplikasi obstetri di Rumah Sakit Marinir Cilandak Jakarta berdasarkan uji CAMP (Gambar 1) dan AGPT (Gambar 2) diperoleh 10 isolat SGB dari 10 orang (26,32%) (Tabel 2). Dari hasil penelitian sebelumnya di Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin Bandung dan Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia Bogor, Hayati et al. (2004) dapat mengisolasi bakteri ini pada ibu hamil sehat sebesar 10,09%.
Velaphi et al. (2003) melaporkan dari 32 kasus infeksi neonatal SGB early- onset, 19 kasus (59%) lahir dari ibu yang mengalami komplikasi obstetri, 13 kasus (41%) lahir dari ibu tanpa komplikasi obstetri. Dari 19 kasus komplikasi obstetri tersebut, 79% kasus menderita demam maternal (maternal intrapartum fever), 32% prematur dan 32% lainnya adalah ketuban pecah sebelum waktu/KPSW (premature ruptur of membranes). Sementara itu Tower et al. (1999) melaporkan dari 49 kasus infeksi SGB neonatal early-onset, 9 kasus (18%) lahir prematur (< 37 minggu masa kehamilan), sedangkan 40 kasus lainnya lahir cukup bulan akan tetapi 12 kasus (30%) dilahirkan dengan KPSW atau tempratur ibu > 380C atau kedua-duanya.
Tabel 2. Hasil isolasi dan identifikasi SGB dari penderita komplikasi obstetri No Kode Isolat Uji CAMP Serogrouping Asal Isolat dari Penderita
1 SV1 + B Perdarahan Tw. II
2 SV2 + B KPSW
3 SR6 + B Abortus (Mola Hidatidosa)
4 SR7 + B Abortus (Mola Hidatidosa)
5 SV14 + B Perdarahan Tw. I 6 SV17 + B KPSW 7 SR21 + B Abortus Tw. I 8 SR22 + B Perdarahan Tw. I 9 SV24 + B Abortus Tw. II 10 SR30 + B KPSW
Keterangan: + = Hasil uji positip; Tw = Triwulan Kehamilan; KPSW = ketuban pecah sebelum waktu
Gambar 1. Reaksi positip uji CAMP ditunjukkan oleh adanya hemolisis sempurna berbentuk kepala panah (arrowhead) sebagai hasil hemolisis yang sinergis antara Staphylococcal β-lysin dari Staphylococcus aureus K-39 (goresan vertikal) dengan faktor CAMP yang dimiliki SGB (goresan horizontal).
Gambar 2. Reaksi positip uji AGPT ditandai dengan adanya garis presipitasi antara sumur antiserum (di tengah) dan sumur antigen yang mengelilinginya.
Pada uji CAMP, koloni SGB ditandai dengan adanya hemolisis yang sinergis berbentuk seperti kepala panah (arrowhead) antara Staphylococcal β- lysin atau sfingomielinase dari Staphylococcus aureus K-39 dengan faktor CAMP yang dimiliki SGB pada plate agar darah domba. Faktor CAMP merupakan suatu fosfolipase yang disekresikan SGB yang dapat menyebabkan lisis sempurna dari eritrosit darah yang tersensitisasi (SRBCs). Antigen ini telah diteliti memiliki berat molekul dengan ukuran 25 kDa. Sfingomielinase dari S. aureus menginisiasi sfingomielin membran sel eritrosit menjadi seramida yang membuat eritrosit mudah terlisiskan oleh aktivitas faktor CAMP. Eritrosit mamalia mempengaruhi kinerja faktor CAMP secara berbeda-beda tergantung dari kandungan sfingomielin pada membran selnya. Pada darah domba kandungan sfingomielin
sebesar 51% sedangkan pada darah kelinci dan manusia 26% dan 19%, oleh karena itu untuk uji CAMP lebih baik digunakan darah domba (Lang dan Palmer 2003; Ross et al. 1999). Bakteri yang memperlihatkan hasil positip pada uji CAMP dilanjutkan dengan uji serogrup melalui AGPT. Hasil positip uji AGPT memperlihatkan adanya garis presipitasi antara antiserum dan antigen homolognya.
Bakteri SGB yang diperoleh umumnya memiliki morfologi koloni berbentuk bulat, kecil, berwarna bening atau keputih-putihan dengan zona β-hemolitik (Gambar 3). Pada pewarnaan Gram diperoleh hasil bakteri Gram-positip dengan morfologi bakteri berbentuk kokus dan memiliki rantai pendek yang tersusun dari 2 sel (diplokoki) (Gambar 4). Morfologi bakteri seperti ini berbeda dengan morfologi bakteri SGB yang diisolasi dari mastitis subklinis sapi perah dimana umumnya dijumpai bentuk bakteri kokus yang memiliki rantai panjang. Apabila dikaitkan dengan sifat penyakit mastitis subklinis, bentuk rantai panjang tidak mendukung sifat invasif sehingga manifestasi penyakit selalu dipertahankan pada keadaan subklinis (Wahyuni 2002).
Dari 10 isolat SGB yang diperoleh pada penelitian ini, 5 isolat diisolasi dari swab rektum (diberi kode SR) dan 5 isolat lainnya diisolasi dari swab vagina (diberi kode SV). Infeksi SGB early-onset pada neonatus dikaitkan dengan kolonisasi SGB pada urogenital dan anorektal maternal (Vellapi et al. 2003). Traktus gastrointestinal adalah tempat kolonisasi primer. Hal ini didukung oleh angka isolasi yang relatif tinggi pada kultur regio anal dibanding regio genital (Maniatis et al. 1996). Menurut Edwards dan Baker (1995), kolonisasi SGB pada wanita hamil dapat diisolasi dalam traktus genital, traktus urinarius dan traktus gastrointestinal bagian bawah. Oleh karena itu untuk mendapat hasil yang optimal, pengambilan bahan pemeriksaan dianjurkan lebih dari satu tempat antara lain di lower vagina, periuretral dan anorektal.
Proses kolonisasi pada rektum dan vagina memegang peran penting dalam perlekatan SGB pada sel epitel. Tahap ini merupakan step awal proses invasi dalam sel epitel. Kondisi fisiologis dari rektum dan vagina mempengaruhi proses tersebut. Proses adhesi meningkat pada keadaan cairan hipotonik (low osmolality), sedangkan pada konsentrasi magnesium dan kalsium fisiologis tidak mempunyai
efek. Jika dibanding dengan pH netral, adhesi meningkat 6-20 kali lipat pada pH 4 yang mana pH vagina normal adalah kurang dari 4,5 (Tamura et al. 1994).
Gambar 3. Morfologi koloni SGB pada plate agar darah domba 5%: koloni berbentuk bulat kecil, bewarna bening dengan zona ß-hemolotik.
Gambar 4. Morfologi bakteri SGB dengan pewarnaan Gram yang diamati dengan mikroskop.
Maniatis et al. (1996) meyakinkan bahwa SGB merupakan patogen vagina, hal ini dibuktikannya dengan menjumpai > 10 leukosit / lapang pandang besar (l.p.b) dalam sekresi vagina pada penderita dengan simtomatologi infeksi vagina. Hal ini juga didukung oleh (1) tingginya recovery rate SGB pada kelompok positip leukosit dibanding kelompok negatip leukosit, (2) dari semua spesimen yang terisolasi mikroorganisme, 83% kasus merupakan infeksi tunggal SGB dan
17% lainnya merupakan infeksi campuran SGB baik dengan candida spp., Gardnerella vaginalis atau trichomonas spp.
Isolat SV-1, SV-14 dan SV-22 merupakan isolat yang berasal dari penderita yang mengalami perdarahan pada usia kehamilan masing-masing trimester II, I dan I. Isolat SR-21 dan SR-24 adalah isolat yang diisolasi dari penderita abortus masing-masing pada trimester I dan II. Sementara itu isolat SR-6 dan SR-7 diisolasi dari penderita perdarahan pada trimester I namun setelah dikuret diagnosa ditegakkan dengan mola hidatidosa. Tiga isolat lainnya yaitu SV-2, SV- 17 dan SR-30 diisolasi dari penderita KPSW.
Kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah (BBLR) berkaitan dengan dijumpainya kolonisasi SGB yang padat (heavy colonization) pada usia kehamilan 23-26 minggu. Sebaliknya kolonisasi ringan (light colonization) mempunyai resiko yang sama dengan ibu yang tidak terkolonisasi. Pemberian antibiotik pada wanita dengan Heavy colonization terbukti efektif melawan SGB dengan menurunnya resiko kelahiran prematur dan BBLR (Regan et al. 1996). Namun McKenzie (1994) melaporkan tidak ada peningkatan kelahiran prematur pada ibu hamil yang positip SGB dalam kultur urine pada usia kehamilan 28 minggu.
Wanita yang terkolonisasi pada akhir masa kehamilan akan memberi resiko sepsis neonatal SGB pada anaknya sebanyak 16 per 1000 kelahiran hidup sedangkan pada wanita yang tidak terkolonisasi pada akhir masa kehamilan hanya 0.4 per 1000 kelahiran hidup. Namun wanita yang terkolonisasi pada usia kehamilan 23-26 minggu, memberi resiko sepsis neonatal 2.6 per 1000 kelahiran hidup sedangkan pada wanita yang tidak terkolonisasi pada usia kehamilan tersebut memberi resiko 1.6 per 1000 kelahiran hidup. Dengan demikian kolonisasi SGB yang muncul pada akhir masa kehamilan akan memberi resiko yang tinggi terjadinya sepsis neonatal, sedangkan kolonisasi SGB pada usia kehamilan 23-26 minggu tidak dapat memprediksi terjadinya sepsis neonatal (Regan et al. 1996).