• Tidak ada hasil yang ditemukan

Istimbath Hukum Yang Berhubungan Dengan Pemahaman

Dalam dokumen TESIS. Oleh. A. HAIKAL ANDRY / M.Kn (Halaman 71-124)

BAB II KONSEP ANAK PEWARIS

A. Istimbath Hukum Yang Berhubungan Dengan Pemahaman

Nash-nash Al-Qur'an atau As-Sunnah yang menjadi dalil hukum Islam adalah berbahasa Arab. Sedangkan untuk memahami hukum hukumnya secara shahih hanya bisa terjadi apabila di dalam pemahaman itu dipelihara tuntutan uslub (struktur) bahasa Arab, dan teori-teori dalalah di dalamnya. Oleh karena itu para Ulama Ushulul Fiqh Islam meneliti uslub-uslub bahasa Arab, ungkapannya dan mufrodat (sinonimnya). Dari hasil penelitian ini, dan dari ketetapan para ulama bahasa, mereka mengambil kaidah-kaidah dan batasan-batasan yang dengan memeliharanya bisa sampai kepada memahami hukum-hukum dari nash-nash syar‟iyah dengan pemahaman yang shahih, sesuai dengan yang dipahami oleh orang Arab, di mana nash-nash ini datang dengan bahasanya.109

Para ulama uslub telah melakukan pembagian lafadz berdasarkan klasifikasi maknanya kepada beberapa pembagian untuk memudahkan pengkajian berupa kaidah-kaidah yang dapat digunakan untuk memahami nash-nash dan menggali hukum-hukum taklify dari nash-nash tersebut. Dalam membuat kaidah-kaidah mereka berpedoman pada dua hal sebagai berikut: Pertama, madlulat al-lughawiyyat (pengertian konotasi kebahasaan) dan al-fahmu al-Araby (pemahaman yang berdasarkan pada cita rasa bahasa Arab) terhadap nash-nash hukum dalam kaitannya dengan Al-Qur‟an dan sunnah. Kedua penjelasan Nabi ﷺ atas hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur‟an berupa sunnah menjadikan lafadz nash jelas pengertiannya dan mempunyai kepastian hukum.110

109 Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushulul Fiqh, alih bahasa oleh Masdar Helmy, Gema Risalah Press, Bandung, 1996, halaman 241.

110 Muhammad Abu Zahrah, Usul Fiqih, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2008, halaman 167

Pembagian lafadz berdasarkan pada klasifikasi maknanya itu mengacu pada empat segi yaitu: Lafadz nash dari segi kejelasan artinya, lafadz dari segi dilalahnya atas hukum, lafadz dari segi kandungan pengertiannya, dan lafadz dari segi penggunaannya.

1. Lafaz Ditinjau Dari Segi Kandungan Pengertiannya a. Lafaz Musytarok

Lafaz musytarok yaitu lafaz yang mempunyai dua arti, atau lebih, pada beberapa tempat, menunjuk atas jalan penggantian. Artinya menunjuk arti ini atau itu.111 Seperti lafaz sanah (tahun) yang bisa berarti tahun hijriyah dan juga miladiyah, lafaz al-yadu (tangan) yang bisa berarti tangan kanan juga tangan kiri.

Apabila dalam nash syara terdapat lafaz yang musytarok, jika kemusytarokannya itu pada arti bahasa dan arti istilah syara‟ maka lafaz itu harus dibawa kepada makna syar‟i. Dan jika kemusytarokannya itu pada dua arti atau lebih dari arti-arti bahasa, maka lafaz itu wajib dibawa kepada satu arti diantara arti-arti bahasa itu dengan dalil yang dapat menegaskannya. Tidak sah jika yang dimaksud dengan lafaz yang musytarok itu dua arti atau beberapa artinya secara bersama-sama.112 b. Lafaz ‘Am

„Amm ialah lafazh yang menurut arti bahasa untuk menunjukkan atas mencakup dan menghabiskan semua satuan-satuan yang ada di dalam lafaz itu dengan tanpa menghitung ukuran tertentu dari satuan-satuan itu. Seperti lafazh kullun dan jami’un.113

c. Lafaz Khos

111 Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Usul Fikih, terj, Halimuddin, S.H., 1999: PT RINEKA CIPTA, Jakarta, halaman 221

112 Abdul Wahab Khallaf, Kaidah-Kaidah Hukum Islam, Ilmu Ushul Fiqh, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, halaman 284

113 Ibid, halaman 290

Khos, yaitu lafaz yang dibuat untuk menunjukkan pada perseorangan tertentu. Seperti Muhammad atau menunjukkan satu jenis, seperti lelaki. Atau menunjukkan beberapa perorangan yang terbatas. Seperti, tiga belas, seratus, sebuah kaum, sebuah masyarakat.114

2. Lafadz Ditinjau Dari Segi Penggunaannya a. Haqiqah

Haqiqat yaitu suatu lafaz yang digunakan menurut asalnya untuk maksud tertentu. Maksudnya lafaz itu digunakan oleh perumusan bahasa memang untuk itu. Contohnya seperti kata kursi, menurut asalnya memang digunakan untuk tempat tertentu yang memiliki sandaran dan kaki yang berfungsi untuk tempat duduk.

b. Majaz

Majaz yaitu lafaz yang tidak menunjukkan arti kepada arti sebenarnya sebagaimana yang dikehendaki oleh suatu bahasa.115 Kebalikan dari haqiqat, umpamanya kata kursi yang diartikan sebagai kekuasaan.

3. Lafadz Ditinjau Dari Segi Jelas Artinya a. Nash

Yaitu lafazh yang menunjukan pengertiannya secara jelas dan memang pengertian itulah yang dimaksudkan oleh konteksnya.116 Dari segi dilalahnya terhadap hukum, lafazh nash lebih kuat dari pada lafazh zhahir. Oleh karena itu jika ada pertentangan antara keduanya maka nash wajib didahulukan dari pada zhahir.

114 Ibid, halaman 308

115 Amir Syarifuddin 1,Op. Cit., halaman 29

116 Ibid, halaman 224

b. Zhahir

Adalah lafazh yang menunjukan suatu pengertian secara jelas tanpa memerlukan penjelasan dari luar, namun bukan pengertian itu yang menjadi maksud utama dari pengucapannya, karena terdapat pengertian lain yang menjadi maksud utama dari pihak yang mengucapkannya.117

c. Mufassar

Adalah lafazh yang menunjukan kepada maknanya sesuai dengan yang dimaksud oleh konteks kalimat.118 Penunjukan makna tersebut jelas dan rinci tanpa ada kemungkinan untuk dipalingkan kepada pengertian lain (ta‟wil).119 d. Muhkam

Ialah lafazh yang menunjukkan makna yang dimaksud, yang memang didatangkan untuk makna itu.120 Lafazh ini jelas pengertiannya oleh karena itu tidak menerima lagi adanya ta‟wil, tahkshis, bahkan nasakh.

4. Lafadz Dari Segi Dilalahnya Atas Hukum a. Dilalah Ibarah

Dilalah ibarah atau disebut ibarat nash menurut Abu Zahrah ialah ma‟na yang dipahami dari lafazh, baik lafazh tersebut berupa zhahir maupun nash.121 Dalam redaksi lain definisi dilalah „ibarah adalah penunjukan lafazh atas makna dalam keadaan sesuai dengan yang dimaksud secara asli, meskipun dalam bentuk lazim atau bukan dalam bentuk asli.122

117 Satria Effendi, Usul Fiqih, Kencana, Jakarta, 2009, halaman 223

118 Muhammad Abu Zahra, Op. Cit., halaman 176

119 Satria Effendi, Op. Cit., halaman 225

120 Muhammad Abu Zahra, Op. Cit., halaman 178

121 Ibid, halaman 204

122 Amir Syarifudin, Op. Cit., halaman 136

b. Dilalah Isyarah

Dilalah isyarah menurut Abu Zahroh ialah sesuatu yang ditunjuk oleh lafazh sebagai kesimpulan dari pemahaman terhadap suatu ungkapan (ibarat) dan bukan dari ungkapan itu sendiri.123 Hakikat dari dilalah isyarah itu bahwa lafazh yang diungkapkan memberi arti suatu maksud, namun tidak menurut apa yang secara jelas disebutkan dalam lafazh itu.

c. Dilalah Nash

Adalah penunjukan oleh lafazh yang tersurat terhadap apa yang tersirat dibalik lafazh itu.124 Dalam redaksi lain yang disebutkan bahwa dilalah nash ialah pengertian secara implisit tentang suatu hukum lain yang dipahami dari pengertian nash secara eksplisit karena adanya faktor penyebab yang sama.

Oleh karena itu dilalah nash ini disebut juga mafhum muwafaqoh karena adanya persesuaian antara dilalah tersebut dengan apa yang ditunjukkan oleh teks (ibarat). Disamping itu sebagian ulama juga ada yang menamakannya dengan qiyas jali, karena dilalah ini memfungsikan illat suatu nash. Hanya saja illat tersebut cukup jelas sehingga tidak memerlukan istimbath.125

d. Dilalah Iqtidla‟

Ialah penunjukkan dalalah lafazh terhadap sesuatu, dimana pengertian lafazh tersebut tidak logis kecuali dengan adanya sesuatu tersebut.126 Secara umum dilalah iqtida‟ dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu:

1) Ditentukan dengan pertimbangan kebenaran kalimat.

123 Muhammad Abu Zahrah, Op. Cit., halaman 205

124 Amir Syarifudin, Op. Cit., halaman 14

125 Muhammad Abu Zahrah, Op. Cit., halaman 210

126 Ibid

2) Ditentukan dengan pertimbangan keshahihan kalimat berdasarkan akal.

3) Ditentukan dengan pertimbangan kesahihan kalimat secara syar‟i.127 B. Pendapat Ibnu Abbas Tentang Makna Walad

1. Makna “Walad” Secara Umum

Kata “walad” jamaknya “awlad” dalam bahasa Arab artinya adalah

“anak”. Maksudnya adalah anak laki-laki dan anak perempuan, sebab khusus untuk anak laki-laki digunakan kata “ibn” dan untuk anak perempuan digunakan kata “bint.” Lafaz “walad” beserta derivatifnya dalam kamus-kamus bahasa Arab mempunyai banyak arti, antara lain; anak laki-laki, bayi, bibit, lahir, timbul, terjadi, menyebabkan, menghasilkan, mengasuh, menciptakan dan lain-lain.128

Kata “walad” dengan segala derivasinya disebutkan sebanyak 102 kali dalam Al-Qur‟an dengan makna-makna yang berbeda sesuai dengan bentuknya.

Penggunaan sebagian besar (93) kali dalam bentuk isim atau kata benda dan hanya 9 kali dalam bentuk fi’il atau kata kerja. Dalam hal ini, 93 kali dalam kata benda tersebut digolongkan kedalam tujuh bentuk yang tentunya dengan makna-makna yang berbeda. Sebagai berikut:129

1) Al-walad yang berarti laki-laki, jamaknya adalah “awlad” yang pengertian dan penggunaannya tidak banyak berbeda dengan kata “al-ibn” (anak laki-laki). Kata ini terulang sebanyak 56 kali, 33 kali diantaranya dalam bentuk mufrad atau tunggal, yaitu “walad”, dan 23 kali diantaranya dalam bentuk jamak, yaitu “awlad”.

127 Amir Syarifudin, Op. Cit., halaman 146

128 Ahmad Warsuni Munawwir, Kamus al-Munawir, Terj. Zainul Abidin, dkk, Al-Munawir Arab-Indonesia, Halaman 1688.

129 Ensiklopedia al-Qur‟an, Kajian Kosakata, Lentera Hati, Jakarta, 2007, halaman 1060.

2) Al-walid yang berarti bapak atau ayah. Istilah ini terulang sebanyak tiga kali. Istilah lain yang juga sering digunakan dalam pengertian bapak atau ayah adalah al-ab (bapak/ayah) meskipun demikian, ditemukan perbedaan-perbedaan. Contoh kapasitas ayah dinyatakan dengan istilah al-walid seperti dalam QS. Luqman ayat 33, yang artinya:

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. (QS.

Luqman ayat 33)

3) Al-walidan atau al-walidain (ayah ibu). Untuk kedua orang tua biologis yakni ibu dan ayah, Al-Qur‟an lebih sering menggunakan istilah al-walidan atau al-walidain. Istilah ini digunakan sebanyak 20 kali dalam Al-Qur‟an, seperti dalam QS. An-Nisa ayat 7, yang artinya:

Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan. (QS. An-Nisa ayat 7)

4) Al-walidah (ibu). Istilah ini terulang sebanyak empat kali, tiga kali diantaranya dalam bentuk mufrad atau tunggal al-walidah dan sekali dalam bentuk jamak al-walidat. Istilah al-walidah dalam Al-Qur‟an diartikan dalam kapasitasnya sebagai ibu, seperti dalam QS. Al-Baqarah ayat 233.

yang artinya: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh”....( QS. An-Nisa ayat 7)

5) Walidan (waktu masih anak-anak) disebut hanya sekali dalam Al-Qur‟an, yaitu dalam QS. Asy-Syu‟ara‟ ayat 18, yang artinya:

Fir'aun menjawab: "Bukankah Kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) Kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama Kami beberapa tahun dari umurmu.

6) Al-wildan (anak-anak/anak-anak muda) disebutkan sebanyak enam kali dalam Al-Qur‟an, empat kali dalam arti “anak-anak‟ yaitu dalam QS. An-Nisa ayat 75, 98, dan 127, serta QS. Al-Muzzammil ayat 17, sedangkan dalam QS. Al-Waqi‟ah ayat 17 dan QS. Al-Insan ayat 19, keduanya berarti

“anak-anak muda”. Dalam hal ini di ambil contoh QS. Al-Insan ayat 19 berikut ini, yang artinya:

Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda.

apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. (QS. Al-Insan ayat 19)

7) Maulud (yang dilahirkan/anak) terulang sebanyak tiga kali, yaitu dalam QS. Al-Baqarah ayat 233, sebagai berikut, yang artinya:

dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf.

dua kali dan QS. Luqman ayat 33. Sebagai salah satu contohnya, yakni artinya:

...dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun.

(QS. Luqman ayat 33)

Ketiga kata maulud tersebut mempunyai arti yang berbeda, bergantung pada kata yang menyertai dibelakangnya, seperti maulud yang berarti “ayah/bapak” karena disertai kata lahu yaitu dalam QS. Al-Baqarah ayat 233, sedangkan dalam QS. Luqman ayat 33 berarti anak karena tidak disertai oleh kata tersebut.

Sembilan ayat berikutnya dalam bentuk fi’il130 atau kata kerja, lima diantaranya dalam bentuk fi’il madhi yaitu “walada” dan “wulida”

(melahirkan/dilahirkan) terdapat dalam QS. Maryam ayat 15 dan 33, artinya:

Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam ayat 15)

Sedangkan empat diantaranya dalam bentuk fi’il mudhari yaitu alidu, yalidu, yuladu (melahirkan/dilahirkan). Terdapat dalam QS. Hud ayat 72, yang artinya:

Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, Apakah aku akan melahirkan anak Padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam Keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh". (QS. Hud ayat 72)

QS. Al-Ikhlas ayat 23 “dua kali”, dan QS. Nuh ayat 27. Semua kata

“walad” tersebut berarti “melahirkan atau dilahirkan”. Khusus dalam ayat-ayat warisan kata “walad” ditemukan sebanyak 8 kali dan satu kali kata

“awlad”. Keseluruhan kata itu berarti untuk anak laki-laki dan perempuan.131 Namun dalam memahami kata “walad” yang disebutkan dua kali dalam surat An-Nisa ayat 176, ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama Ahlussunah berpendapat bahwa “walad” dalam surat An-Nisa ayat 176 berarti anak laki-laki saja.132

Berikut ini beberapa pendapat ulama tafsir yang memahami makna

“walad” mencakup anak laki-laki dan perempuan,diantaranya adalah:

130 Ibid

131 Amir Syarifuddin, Op Cit, halaman. 54

132 Ibid, halaman 55

1) At-Thabari mengatakan, al-walad mencakup anak laki-laki dan perempuan, yang besar dan yang kecil. Menurut beliau, anak perempuan tidak berhak mendapat lebih dari bagian yang telah ditentukan ( ½ atau 2/3 ) dan sisa warisan harus diserahkan kepada ashabah.133

2) Hamka salah satu mufasir Indonesia memberikan uraian yang lebih luas, beliau menyatakan bahwa al-walad mencakup anak laki-laki dan perempuan serta keturunan melalui garis laki-laki.134 Sedangkan mufasir yang memahami makna “walad” hanya sebatas laki-laki saja diantaramya adalah Ibn al-Arabi, memberikan penekanan yang berbeda. Menurut beliau, hakikat dari “walad” adalah asalnya, yaitu sulbi (sum-sum) seorang laki-laki, baik langsung maupun tidak langsung.

Karena itu hanya mencakup keturunan garis laki-laki. Dalil untuk ini adalah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 12, yang artinya:

...untukmu suami seperdua warisan istri kalau tidak mempunyai anak....( An-Nisa ayat 12)

Para mufasir sepakat bahwa anak disini termasuk keturunan garis laki-laki. Selanjutnya beliau menambahkan, ada ulama yang menganggapnya hakiki pada semuanya. Tetapi ada juga yang menganggapnya hakiki pada anak langsung dan majasi pada keturunan lebih rendah. Beliau menguatkan yang terakhir berdasarkan kesepakatan ulama, bahwa cucu baru mewarisi apabila tidak ada anak laki-laki.135

133 At-Thabari, Tafsir Thabari, Juz 4, Dar al-Fikr, Beirut, 1978, halaman 18

134 Hamka, Tafsir al-Azhar, Jilid 4, Yayasan Nurul Islam, Jakarta, 1984, halaman. 318

135 Ibn al-Arabi, Ahkam Al-Qur’an, jilid 1, halaman. 334-335

2. Makna Walad Menurut Ibnu Abbas

Sebelum memasuki pengetahuan tentang makna “walad” menurut Ibnu Abbas terlebih dahulu mengetahui ayat yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini, yaitu surat An-Nisa ayat 176. Ayat tersebut menerangkan mengenai arti “kalalah”, dan mengatur mengenai perolehan saudara-saudara dalam hal

“kalalah”. Menurut Faturrachman “kalalah” ialah seorang yang meninggal dunia dengan keadaan tiada meninggalkan bapak dan anak. 136

Penggunaan kata “anak‟ dalam Al-Qur‟an, terhadap anak laki-laki dan anak perempuan, terjadi dalam bentuk tunggal “walad” dan bentuk plural

“awlad”. Batasan kedua kata itu adalah anak berhak mendapatkan harta warisan, baik laki-laki atau perempuan, atau bersama-sama antara keduanya.137

Khusus untuk anak laki-laki digunakan kata bin dan untuk anak perempuan digunakan kata bint Bila kata “walad” digunakan dengan pengertian anak, maka maksudnya adalah anak laki-laki dan perempuan. Ini adalah asal penggunaan kata “walad”. Berlakunya kata “walad” untuk anak laki-laki sekaligus perempuan secara hakikat penggunaan bahasa dibuktikan dengan tidak terdapatnya kata “walad” ini dalam jenis muannas (bentuk feminim).138

Berkenaan dengan kata “walad”, ada 6 kali disebutkan di dalam Al-Qur‟an Surat An-Nisa ayat 11 dan 12 dan 1 kali dalam bentuk jamak (awlad), mayoritas ulama sepakat mengartikannya anak laki-laki dan perempuan.

Mengubah ketentuan hak ayah dari 2/3 menjadi 1/6, hak suami dari ½ menjadi ¼,

136 Fatchur Rahman 3, Op. Cit., halaman 321

137 Ali Parman, Op. Cit., halaman 41-42

138 Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam, Kencana, Jakarta, 2004, halaman 54.

(disebut juga Amir Syarifuddin 2)

hak istri dari ¼ menjadi 1/8 adalah anak laki-laki dan anak perempuan. Begitu pula yang menetapkan ayah mendapat 1/6 pada kasus tidak adanya “walad”

maksudnya adalah anak laki dan anak perempuan. Hanya saja jika yang ada adalah laki-laki, maka ia akan menghilangkan kesempatan ayah menjadi ashabah, sedangkan anak perempuan tidak menutup ayah menjadi ashabah sesudah itu.139 Namun dalam memahami kata “walad” yang disebut dua kali dalam Surat An-Nisa ayat 176 para ulama tidak bersepakat. Kata “walad” yang disebutkan di sini berhubungan dengan persyaratan seseorang pewaris menjadi “kalalah”. Dalam ayat ini disebutkan bahwa seseorang pewaris disebut “kalalah” bila tidak meninggalkan “walad”, yang berarti keberadaan “walad” menyebabkan saudara pewaris tidak berhak menerima warisan.140

Ibnu Abbas seorang sahabat Rasulullah, berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kata “walad” (anak) dalam ayat tersebut di atas mencakup anak laki-laki dan anak perempuan. Pendapat ini sejalan dengan mazhab Zahiri. Alasan mereka antara lain adalah bahwa kata “walad” (anak) dan yang seakar dengannya dipakai dalam Al-Qur‟an bukan saja untuk anak laki-laki tetapi juga untuk anak perempuan. Misalnya dalam QS. An-Nisa ayat 11, Allah berfirman dengan memakai kata “awlad” (kata jamak dari kata “walad” yang artinya: “Allah mewajibkan bagi kamu tentang “awlad” (anak-anakmu), buat seorang laki-laki seperti bagian anak perempuan”.141

139 Ibid, halaman 55.

140 Ibid, halaman 55.

141 Menurut Ibnu Abbas dalam bagian ibu yang mendapat bagian 1/3, ternyata anak baik laki-laki maupun perempuan dapat menghijab nuqsan bagian ibu menjadi 1/6, lihat Fatchur Rahman 2, ibid, halaman 303.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, pandangan Ibnu Abbas tentang masalah ini diuraikan sebagai berikut:

Ibnu Jarir dan rekan-rekannya meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair mengatakan bahwa jika mayit meninggalkan seorang anak perempuan dan seorang adik perempuan, maka adik perempuan tidak mendapatkan bagian.142

Penafsiran Ibnu Abbas tersebut berpengaruh pada hak kewarisan saudara perempuan. Sebuah riwayat menyebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir, yaitu:

اتىب كرت تيملا يف نلاُقي نام امٍواريبزلا هباَ سابع هبا هع يريغ َ ريرج هبا لقو دقَ

: ًلُقل تخ لال ىشلا ًوااتخاَ

كرت ام فصو اٍلف تخا ًلَ دلَ ًل شيل للٌ ؤرموا)

143

Dalam penggalan tafsir diatas, pandangan Ibnu Abbas tentang masalah ini diuraikan sebagai berikut:

Ibnu jarir dan rekan-rekannya meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair mengatakan bahwa jika mayit meninggalkan seorang anak perempuan dan seorang saudara perempuan, maka saudara perempuan tidak mendapatkan bagian apapun.

Pernyataan tersebut menimbulkan kontroversi antara ulama sunni dengan Ibnu Abbas, ulama Sunni mengartikan kata “walad” diatas hanya mencakup anak laki-laki saja sehingga anak perempuan tidak menutup kemungkinan saudara-saudara baik laki-laki maupun perempuan, karena keberadaannya tidak mempengaruhi arti “kalalah”.144 Ketentuan tersebut disandarkan kepada Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas‟ud yang konon merupakan asbabun nuzul ayat tersebut diatas, yaitu sebagai berikut:

Dan dari jabir, ia berkata: Istri Sa‟ad bin Rabi‟ pernah datang ketempat Rasulullah ﷺ dengan membawa dua orang anak putrinya yang diperolehnya dari Sa‟ad, lalu ia berkata: Ya Rasulullah! Dua anak

142 Tafsir Ibnu Katsir, Juz II, dalam maktabah syamilah, halaman 442

143 Ibnu Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi, Tafsir al-Qur’an al-Azim, juz I, Dar al-Fikri, Beirut, 1996 Halaman. 536

144 Amir Syarifuddin 2, Op Cit, halaman. 55

perempuan ini adalah adalah anaknya Sa‟ad bin Rabi‟, dimana ayahnya telah wafat dalam peperangan Uhud bersamamu, sedang pamannya mengambil semua hartanya, tidak sedikitpun hartanya itu ditingggalkan buat kedua anak ini, padahal anak-anak tersebut tidak bakal dikawini (orang lain) melainkan karena (mereka) beruang. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah akan memutuskan hal itu”. Begitulah kemudian turun ayat waris. Lalu Rasulullah kirim utusan (untuk menyampaikan berita tersebut) kepada pamannya, yaitu Nabi bersabda, “Berilah dua anak putrinya Sa‟ad itu dua pertiga, ibunya seper delapan dan sisanya buat engkau”. (HR Imam yang lima kecuali Nasai).145

Selain Hadis Ibnu Mas‟ud diatas, Hadis yang seringkali dijadikan perbandingan dalam masalah ini adalah Hadis yang terdapat dalam matan nailul authar, sebagai berikut:

tentang (waris) seorang anak perempuan (binti) bersama cucu perempuan (bintu ibni) dan saudara perempuan, maka ia menjawab: anak perempuan mendapat separuh dan saudara perempuan mendapat separuh (sedang cucu tidak dapat) ia juga berkata: dan datanglah ketempat Ibnu Mas‟ud, lalu Ibnu Mas‟ud ditanya dan ia diberi tahu tentang jawaban Abu Musa tersebut. Maka berkatalah Ibnu Mas‟ud: kalau begitu aku salah dan aku tergolong orang yang tidak tahu, sebab apakah aku memutuskan kasus tersebut seperti keputusan yang telah diambil oleh Rasulullah ﷺ, yaitu seorang anak perempuan dapat separuh, dan untuk cucu mendapatkan seperenam guna menyempurnakan dua pertiga, sedang sisanya untuk saudara perempuan. (HR. Jamaah kecuali Muslim dan Nasai)146

Mengenai Hadis yang pertama Abu Bakar al-Yasa mengutip pendapat Ibnu katsir, beliau memberi keterangan tentang nilai Hadis kasus anak perempuan Sa‟ad di atas, menurut beliau, di dalam sanad Hadis ini terdapat nama Abdullah ibn Mihammad ibn Aqil yang tidak diketahui keberadaannya. Tidak ada riwayat apapun tentang kualitas pribadinya, nama ini hanya dikenal melalui Hadis yang

Mengenai Hadis yang pertama Abu Bakar al-Yasa mengutip pendapat Ibnu katsir, beliau memberi keterangan tentang nilai Hadis kasus anak perempuan Sa‟ad di atas, menurut beliau, di dalam sanad Hadis ini terdapat nama Abdullah ibn Mihammad ibn Aqil yang tidak diketahui keberadaannya. Tidak ada riwayat apapun tentang kualitas pribadinya, nama ini hanya dikenal melalui Hadis yang

Dalam dokumen TESIS. Oleh. A. HAIKAL ANDRY / M.Kn (Halaman 71-124)

Dokumen terkait