• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian dan Dasar Hukum Waris

Dalam dokumen TESIS. Oleh. A. HAIKAL ANDRY / M.Kn (Halaman 34-40)

BAB II KONSEP ANAK PEWARIS

A. Pengertian dan Dasar Hukum Waris

Kewarisan merupakan rangkaian dari kata dasar waris yang mendapat awalan “ke” dan akhiran “an” dimaksudkan dengan “waris mewarisi”. Istilah waris mewarisi ini tentunya melibatkan beberapa unsur dalam proses penyelesaiannya, karena kata “waris” sendiri dikenal dalam bahasa Arab berasal dari kata اٍبيرق نلاف ثرَ yang berarti “Si Fulan mewaris (harta) kerabatnya”. Dalam Al-Qur‟an kata warasa memiliki beberapa arti, yaitu menggantikan, memberi dan mewarisi.35

Lafazh Faraidh merupakan jamak (bentuk plural) dari lafazh faridhah yang mengandung arti mafrudhah, yang sama artinya dengan muqaddarah yaitu suatu yang ditetapkan bagiannya secara jelas. Dalam ketentuan kewarisan Islam yang terdapat dalam Al-Qur‟an lebih banyak bagian yang ditentukan dibandingkan bagian yang tidak ditentukan. Oleh karena itu, hukum ini dinamakan dengan faraidh. Dengan demikian penyebutan faraidh didasarkan pada bagian yang diterima oleh ahli waris.36

Adapun penggunaan kata mawaris lebih melihat kepada yang menjadi obyek dari hukum ini yaitu harta yang beralih kepada ahli waris yang masih

35Wahidah, Al-Mafqud Kajian Tentang Kewarisan Orang Hilang, Antasari Press, Banjarmasin, 2008, halaman 22.

36 Amir Syarifuddin 1, Op.Cit., halaman 5

hidup. Kata mawarits merupakan bentuk plural dari kata mirats yang berarti mauruts atau harta yang diwarisi. Dengan demikian maka arti kata warits yang dipergunakan dalam beberapa kitab merujuk kepada orang yang menerima harta warisan itu, karena kata warits artinya adalah orang pewaris.37 Terkadang kata

“waris” dalam bahasa arab muncul dalam bentuk jamak, yaitu al-mawaris dengan isim alatnya menjadi mi’ras. Mi’ras atau al-irs, al-wirasah, al-turas, al-tirkah memiliki arti yang sama yakni pusaka, bundel, peninggalan, yaitu harta benda dan hak yang ditinggalakan oleh orang yang mati.38

Beberapa pengertian dari kata waris yang ditinjau dari aspek etimologi ini tampak menggambarkan apa yang dikehendaki dalam proses waris mewarisi, yakni apa yang disebut dengan istilah rukun dan syarat kewarisan dalam bahasa yang selanjutnya.39 Secara terminologi, kata ini memiliki beberapa pengertian yang penyebutannya terkadang ditambah dengan akhiran “an”, sehingga menjadi kata warisan, dimaksudkan dengan perpindahan berbagai hak dan kewajiban tentang kekayaan seseorang yang meninggal dunia kepada orang lain yang masih hidup.40 Sedangkan yang disebut Hukum Waris Islam adalah aturan yang mengatur pengalihan harta dari seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya. Hal ini berarti menentukan siapa-siapa yang menjadi ahli waris, porsi bagian masing-masing ahli waris, menentukan harta peninggalan dan harta warisan bagi orang yang meninggal.41

37 Ibid

38 Ibid, halaman 17

39 Ibid

40 Ibid

41 Zainuddin Ali, Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia, cetakanakan Ke-1, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, halaman 33.

Kompilasi Hukum Islam menyebutkan hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.42 Menurut Mohammad Daud Ali, hukum kewarisan Islam adalah hukum yang mengatur segala sesuatu yang berkenaan dengan pengalihan hak atau kewajiban atas harta kekayaan seseorang setelah ia meninggal dunia kepada ahli warisnya. Dinamakan juga hukum faraidh jamak dari kata farida yang erat hubungannya dengan kata fard yang berarti kewajiban yang harus dilaksanakan.43

Ahmad Azhar Basyir memberikan definisi kewarisan menurut hukum Islam adalah proses pemindahan harta peninggalan seseorang yang telah meninggal dunia baik berupa hak kebendaan kepada keluarganya yang dinyatakan berhak menurut hukum.44 Idris Ramulya, menyatakan bahwa hukum waris Islam adalah himpunan aturan-aturan yang mengatur tentang siapa ahli waris yang berhak menerima harta peninggalan seorang yang mati meninggalkan harta peninggalan, bagaimana kedudukan masing-masing ahli waris serta bagaimana/berapa perolehan masing-masing ahli waris secara riil dan sempurna.45

Dari definisi dan penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa hukum waris Islam merupakan suatu bagian dari hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur‟an dan Al-Hadis yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan

42 Tim Redaksi Fokusmedia, Kompilasi Hukum Islam, Bandung: FOKUSMEDIA, 2007, pasal 171 Huruf a, halaman 81.

43 Mohammad Daud Ali, Hukum Islam dan Peradilan Agama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, halaman 141. (disebut juga Mohammad Daud Ali 1)

44 Ahmad Azhar Basyir, Hukum Waris Islam, Edisi Revisi, UII Press, Yogyakarta, 2001, halaman 132.

45 M. Idris Ramulya, Hukum Kewarisan Islam, IND HIIL & Co, 1984, halaman 35.

atau pembagian harta peninggalan dari seseorang yang telah meninggal dunia (pewaris) kepada orang lain sebagai ahli waris serta penentuan hak perolehan dari masing-masing ahli waris tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut para ulama Islam (mujtahid) menyimpulkan bahwa sistem hukum kewarisan dalam Islam meliputi tiga aspek bahasan yang utama, yaitu mengenai penentuan tirkah (harta peninggalan), penentuan ahli waris, serta penentuan besar bagian masing-masing ahli waris.46

Sejalan dengan ketentuan penjelasan Angka 37 pasal 49 huruf (b) Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 yang memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan waris adalah penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris, dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut, serta penetapan pengadilan atas permohonan seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, dan penentuan bagian masing-masing ahli waris. Kompilasi Hukum Islam yang menjadi pegangan para hakim di lingkungan peradilan dalam melaksanakan tugasnya menyelesaikan perkara di bidang kewarisan.

2. Dasar Hukum Kewarisan Islam

Dalam menguraikan prinsip-prinsip hukum waris berdasarkan hukum Islam, satu-satunya sumber tertinggi dalam kaitan ini adalah Al-Qur‟an dan sebagai pelengkap yang menjabarkannya adalah Hadis Nabi Muhammad ﷺ, serta hasil-hasil Ijtihad dari upaya para ahli hukum Islam terkemuka.47

Hukum kewarisan Islam secara mendasar merupakan ekspresi langsung dari teks-teks suci sebagaimana pula disepakati keberadaannya. Ada beberapa

46 Fatchur Rahman, Ilmu Mawaris¸ PT. Alma‟arif, Bandung, 1971, halaman 36. (disebut juga Fatchur Rahman 1)

47 Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia dalam Perspektif Islam, Adat, dan BW, PT Refika Aditama, Bandung, 2011, halaman 11.

ayat dan Hadis sebagai dasar dalam memahami ketentuan syarak yang mengatur tentang persoalan kewarisan ini, di antaranya adalah:48

a. Al-Qur‟an

Ayat-ayat kewarisan dalam Al-Qur‟an sebagai sumber hukum dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yakni ayat kewarisan pokok dan pembantu.49 Kelompok ayat kewarisan pokok semuanya terdapat dalam surat An-Nisa, antara lain :

1) Surat An-Nisa ayat 7, mengenai hak kewarisan laki-laki dan wanita.

2) Surat An-Nisa ayat 11, mengatur tentang perolehan anak, ibu, dan bapak, serta soal wasiat dan hutang.

3) Surat An-Nisa ayat 12, mengatur perolehan suami, istri, soal wasiat dan hutang, serta perolehan saudara-saudara dalam hal kalalah.

4) Surat An-Nisa Ayat 33, mengenai harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu, bapak, dan karib kerabat.

5) Surat An-Nisa ayat 176, menerangkan mengenai arti kalalah, dan mengatur mengenai perolehan saudara-saudara dalam hal kalalah.

Sedangkan dari ayat-ayat Al-Qur‟an yang merupakan Ayat pendukung kewarisan lainnya adalah :

1) Surat An-Nisa ayat 1, mengenai dzul arham (ahli waris yang mempunyai hubungan darah).

48 Wahidah, Op.Cit., halaman 20.

49 Idris Djakfar dan Taufiq Yahya, Kompilasi Hukum Kewarisan Islam, Pustaka Jaya, Jakarta, 1995, halaman 13.

2) Surat An-Nisa ayat 8, yang menegaskan tentang keharusan ulul qurba diberi rezeki dari harta peninggalan.

3) Surat Al-Baqarah ayat 180, yang mengatur tentang kewajiban seseorang yang akan meninggal dunia untuk berwasiat.

4) Surat Al-Baqarah ayat 233, tentang tanggung jawab Ahli waris.

5) Surat Anfal ayat 75, tentang Dzawil arham yang lebih dekat.

6) Surat Al-Ahzab ayat 6, tentang Dzawil arham yang lebih dekat.

7) Surat Al-Ahzab ayat 4 dan 5, tentang anak angkat.

b. Sunnah Nabi Muhammad ﷺ

As-Sunnah dari segi etimologi berarti tradisi dan perjalanan dan dalam arti teknis As-Sunnah identik dengan Al-Hadis. As-Sunnah adalah sumber hukum kedua setelah Al-Qur‟an, berupa perkataan (sunnah qauliyah), perbuatan (sunnah fi’liyah) dan sikap diam (sunnah taqririyah atau sunnah sukutiyah) yang tercatat sekarang dalam kitab-kitab Hadis.50 Meskipun Al-Qur‟an menyebutkan secara terinci bagian ahli waris, Sunnah Rasul menyebutkan pula hal yang tidak disebutkan dalam Qur‟an antara lain Hadis riwayat Al-Bukhari:

Artinya:

“Muslim bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, Ibn Tawus telah mengabarkan kepada kami dari ayahnya dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah ﷺ. bersabda; “Bagikanlah harta (warisan) itu di antara ahli waris yang berhak menurut ketentuan Allah.

50 Mohammad Daud Ali, Asas-asas Hukum Islam, Rajawali Pres, Bandung, 1991, halaman 66. (disebut juga Mohammad Daud Ali 2)

Adapun yang tersisa dari faridhah-faridhah itu adalah untuk laki-laki yang terdekat”. (HR Bukhari).51

c. Ijtihad

Dalam Al-Qur‟an telah diatur hukum kewarisan Islam secara terperinci, apabila terdapat ketentuan yang bersifat umum maka akan dijelaskan dengan Sunnah rasul. Kemudian terhadap masalah-masalah yang tidak terperinci dalam Al-Qur‟an maupun Al-Hadis maka akan dicari hukumnya dengan jalan Ijtihad. Ijtihad hanya dapat dilakukan terhadap suatu peristiwa yang tidak ada ketentuan ayatnya sama sekali maupun sesuatu peristiwa yang ada ketentuan ayatnya, namun tidak pasti. Karena bila peristiwa yang hendak ditetapkan hukumnya telah ditunjuk oleh dalil yang pasti kedatangannya dari syar‟i dan pasti penunjukannya kepada makna tertentu, maka tidak ada jalan untuk di-ijtihad-kan.52

Yang dimaksud ijtihad disini adalah dalam penerapan hukum, dan bukan dimaksudkan untuk mengubah pemahaman dan ketentuan yang ada. Apabila dalam pelaksanaan pembagian warisan terdapat kekurangan maka akan diatasi dengan cara aul (naikkan angka asal masalahnya) dan terdapat kelebihan maka dengan jalan radd (dikurangi asal masalahnya).

B. Rukun dan Syarat Waris

Dalam dokumen TESIS. Oleh. A. HAIKAL ANDRY / M.Kn (Halaman 34-40)

Dokumen terkait