BAB II KONSEP ANAK PEWARIS
C. Sebab dan Halangan Menerima Warisan
Sebab-sebab terjadinya kewarisan sebagaimana yang dijelaskan Al-Qur‟an, oleh mufassirin dinyatakan bahwa faktornya ada tiga, yakni :55
a. Hubungan Kerabat/Nasab (Al-Qarabah)
Hubungan nasab atau hubungan darah ialah hubungan kekerabatan antara orang yang mewariskan dengan orang yang mewarisi, yang disebabkan oleh kelahiran, baik dekat ataupun jauh. Dalil-dalil kewarisan karena sebab ini antara lain terdapat dalam firman Allah ﷺ.
Dalam surat An-Nisa ayat 11, dan An-Nisa ayat 12. Ahli waris yang mewaris berdasarkan sebab ini, terbagi kepada 3 golongan yakni:
1) Furu’ul mayit (garis lurus keatas), 2) Usulul mayit (garis lurus kebawah), dan 3) Hawasyi (menyamping).56
Namun dalam hal ini, berlaku ketentuan ahli waris yang lebih dekat dapat menutupi (menghijab) ahli waris yang jauh.57
b. Hubungan Perkawinan (Al-Musaharah)
55 Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir al Maragi IV, Al-Halaby, Mesir, 1974, halaman 354. Dan Rasyid Ridha, halaman 403 sebagaimana dikutip dalam Ali Parman, Op.Cit., halaman 62.
56 Wahidah, Op.Cit., halaman 34-35.
57 Ahmad Rafiq, Hukum Islam di Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, halaman 398-399 (disebut juga Ahmad Rafiq 1)
Perkawinan yang sah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan baik menurut hukum agama, kepercayaan, maupun hukum negara, menyebabkan adanya hubungan saling mewarisi, apabila salah satunya meninggal dunia.58 Waris mewarisi akan tetap terjadi walaupun suami istri belum pernah bercampur.59 Perkawinan yang tidak sah atau perkawinan yang batal tidak menjadi sebab saling mewaris.60 Adapun dasar hukum hubungan perkawinan sebagai sebab saling mewarisi adalah surat An-Nisa ayat 12.
c. Hubungan Wala’
Al-Wala’ adalah hubungan kewarisan karena seseorang memerdekakan hamba sahaya, atau melalui perjanjian tolong menolong. Dalam KHI sebab ketiga ini tidak dicantumkan, karena dalam kehidupan sekarang ini di Indonesia perbudakan tidak diakui lagi keberadaannya.61 Karena itu sebab-sebab saling mewarisi menurut kompilasi hukum Islam terdiri dari dua hal pertama karena hubungan darah dan kedua karena hubungan perkawinan.
(pasal 174 ayat 1 KHI).62 2. Halangan Menerima Waris
Dalam Kompilasi Hukum Islam dinyatakan bahwa penghalang seseorang mendapatkan warisan ada dua hal yaitu pada pasal 173 ayat (a) dan (b). Adapun bunyinya sebagai berikut :
58 Ibid, halaman 400.
59 Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Fiqhul Mawaris Hukum-Hukum Warisan dalam Syari’at, Bulan Bintang, Jakarta, 1973, halaman 43. (disebut juga Muhammad Hasbi Ash Shidieqy 2)
60 A. Zaini Dahlan, Hukum Waris menurut Al-Qur’an dan Hadits, Trigenda Karya, Bandung, 1995, halaman 45.
61 Ahmad Rafiq 1, Op.Cit., halaman. 402.
62 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Akademika Pressindo, Jakarta, 1995, halaman. 156 – 157 (disebut juga Abdurrahman 1)
- Pasal 173 ayat (a)
dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat para pewaris
- Pasal 173 ayat (b)
dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.
Sedangkan menurut Ahmad Rafiq halangan untuk menerima warisan atau disebut mani al-irs adalah hal-hal yang menyebabkan gugurnya hak ahli waris untuk menerima warisan dari harta peninggalan pewaris. Adapun hal-hal yang dapat menghalangi tersebut yang disepakati ulama ada tiga yaitu:63
a. Pembunuhan
Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris. Misalnya anak yang membunuh ayahnya ia tidak dapat menerima warisan dari ayahnya yang ia bunuh. Hal ini berdasarkan Hadis Nabi Muhammad ﷺ sebagai berikut:
Dari „Amr bin Syu‟aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia bekata, Rasulullah saw, bersabda: “pembunuh itu tidak mendapatkan bagian warisan sedikitpun”. (HR. An-Nasa‟i dan ad-Daruqhuthni).64
b. Berbeda Agama
Maksudnya ialah tidak ada saling pusaka mempusakai antara orang muslim dengan bukan muslim begitu juga sebaliknya. Hal ini berdasarkan Hadis Nabi Muhammad ﷺ sebagai berikut:
63 Ahmad Rafiq, Hukum Islam di Indonesia, Cetakanakan Ke-4, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000. halaman 23. (disebut juga Ahmad Rafiq 2).
64 Imam abi Abdurrohman Ahmad Bin Syua‟ib an Nasa, I, Kitab As-Sunan al Kubra, juz 4, Darul Kitab Al Ilmiah, Libanon, t. th, halaman 79.
Dari Usamah bin Zaid ra. Bahwasanya Nabi saw bersabda: “Orang Islam tidak berhak mewarisi harta orang kafir dan orang kafir tidak berhak mewarisi harta orang Islam”. (Riwayat alBukhari dan Muslim).65
Orang yang murtad juga termasuk ke dalam kategori yang tidak berhak menerima harta warisan dari keluarganya yang beragama Islam Demikian juga sebaliknya. Kompilasi tidak menegaskan secara eksplisit perbedaan agama antara ahli waris dan pewarisnya sebagai penghalang mewarisi. Kompilasi hanya menegaskan bahwa ahli waris beragama Islam pada saat meninggalnya pewaris (pasal 171 huruf (c)) untuk mengidentifikasi seorang ahli waris beragama Islam. Pasal 171 KHI menyatakan ahli waris dipandang beragama Islam apabila diketahui dari kartu identitas atau pengakuan atau amalan atau kesaksian, sedangkan bagi bayi yang baru lahir atau anak yang belum dewasa beragama menurut ayahnya atau lingkungannya.\
Sedangkan identitas pewaris hanya dijelaskan dalam ketentuan umum pasal 171 huruf (b), yaitu orang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan pengadilan beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan.
c. Perbudakan
Perbudakan menjadi penghalang mewarisi bukan karena putus kemanusiannya, tetapi semata-mata karena status formalnya sebagai hamba sahaya (budak). Mayoritas ulama sepakat bahwa seorang budak terhalang untuk menerima warisan karena ia dianggap tidak cakap melakukan perbuatan hukum.66 Firman Allah tentang perbudakan:
65 Abi Daud Sulaiman ibn al-Asy‟ Ajastany, Sunan Abi Daud, Juz. II, Dar Ihya‟ As-Sunnah at-Tabawiyyah, Beirut t.t., halaman 125.
66 Ahmad Rafiq, Fiqh Mawaris, ed. Revisi, cetakanakan4, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, halaman 61. (disebut juga Ahmad Rafiq 3)
”Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rezki yang baik dari Kami, lalu Dia menafkahkan sebagian dari rezki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui.” (Q.S. an-Nahal 75)67
Kehadiran Islam dengan semangat egalitarianismenya, menempatkan tindakan memerdekakan hamba sahaya sebagai perbuatan yang sangat mulia, bahkan oleh Islam, memerdekakan budak, dijadikan sebagai kafarat (sanksi hukum) bagi pelaku kejahatan, misalnya membunuh dengan khilaf (QS. Al Nisa, ayat 92) ini dimaksudkan agar tidak ada lagi perbudakan di muka bumi ini.68
D. Ahli Waris dan Macam-Macamnya