• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh. A. HAIKAL ANDRY / M.Kn

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TESIS. Oleh. A. HAIKAL ANDRY / M.Kn"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

KEDUDUKAN ANAK PEREMPUAN MENGHIJAB / MENDINDING KEWARISAN SAUDARA PEREMPUAN PEWARIS DALAM SISTEM WARIS ISLAM (STUDI PUTUSAN PENGADILAN AGAMA BANDUNG

NOMOR : 8/PDT.P/2014/PA.BDG)

TESIS

Oleh

A. HAIKAL ANDRY

157011286 / M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)

KEDUDUKAN ANAK PEREMPUAN MENGHIJAB / MENDINDING KEWARISAN SAUDARA PEREMPUAN PEWARIS DALAM SISTEM WARIS ISLAM (STUDI PUTUSAN PENGADILAN AGAMA BANDUNG

NOMOR : 8/PDT.P/2014/PA.BDG)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

A. HAIKAL ANDRY 157011286 / M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(3)
(4)

Tanggal : 25 Januari 2019

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. H.M. Hasballah Thaib, MA, Ph.D Anggota : 1. Dr. Yefrizawati, SH, M.Hum

2. Dr. Utary Maharany Barus, SH, M.Hum 3. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum

4. Dr. Zamakhsyari Bin Hasballah Thaib, Lc, MA. PhD

(5)

Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber hukum, namun sebagaimana yang diketahui, hukum waris Islam disamping ada hal-hal yang secara tegas dan jelas diuraikan dalam Al-Qur'an maupun al-Hadits pula ada yang tidak diuraikan secara tegas dan jelas, sehingga dalam penerapannya masih diperlukan penafsiran dan pemahaman yang mendalam dan bersungguh-sungguh.

Rumusan masalah terdiri konsep kewarisan anak perempuan pewaris menghijab/mendinding saudara perempuan pewaris, Faktor yang menyebabkan anak perempuan pewaris menghijab/mendinding kewarisan saudara prempuan pewaris, dan bagaimana analisis hukum Islam terhadap putusan hakim Pengadilan Agama Bandung Nomor 8/Pdt.P/2014/PA.Bdg terhadap diterimanya permohonan penetapan ahli waris sebab anak perempuan dapat menghijab saudara kandung ayah.

Jenis penelitian ini menggunakan penelitian hukum yuridis normatif yang mengkaji hukum sebagai bangunan sistem norma. Sumber data penelitian adalah data sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi kepustakaan. Alat pengumpul data penelitian adalah studi dokumen dan pedoman wawancara. Analisis data penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Metode penarikan kesimpulan yang dipakai adalah metode deduktif.

Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep hijab kewarisan anak perempuan bersama saudara pewaris di dalam pembagian harta waris terbuka ketika seseorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak. faktor yang menyebabkan anak perempuan dapat mendinding saudara pewaris adalah karena adanya perbedaan pendapat ulama tentang makna “walad” dalam Al- Quran surat An-Nissa ayat 176, dasar Hukum yang dipakai Hakim pengadilan Agama Bandung dalam memutuskan perkara tersebut adalah Yurisprudensi Mahkamah Agung R.I No 184K/AG/1995. Yang pada penetapannya anak (laki- laki maupun perempuan) akan menghalangi kewarisan ahli waris saudara, baik saudara sekandung, saudara seayah ataupun saudara seibu).

Kata Kunci: Ahli Waris/Menghijab/Saudara pewaris.

(6)

In handing down the verdict of inheritance case, the panel of judges in the Religious Court is guided by the Koran and the Hadits. However, the Islamic inheritance law can also come from the other sources so that it is necessary to get deep and serious interpretation and understanding. The formula of the problems consists of the concept of inheritance for a daughter as the heir for hindering her father’s sister as the heir and how to analyze the Islamic law in the verdict of the judge in the Bandung Religious Court No. 8.Pdt.P/2014/PA.Bdg on the acceptance of the request for determining the heir since a daughter can hinder her father’s sister.

The research used juridical normative method which analyzed law as the building of a norm system. Secondary data were gathered by conducting library research, documentary study, and interviews and analyzed quantitatively. The conclusion was drawn deductively.

The result of the research showed that there was the concept of hindering of daughter’s inheritance to the testator’s sister in distributing inheritance when the testator dies and does not have any children. The factor which causes a daughter to be able to hinder testator’s sister is the difference in opinion of the Islamic scholars about the meaning of “walad” in the Koran, Surah An-Nisa, verse 176, while the legal ground of the Judge of the Bandung Religious Court in handing down the Verdict is the Jurisprudence of the Supreme Court No.

184K/AG/1995 which states that a son or a daughter can hinder the inheritance of siblings and half-brothers or sisters.

Keywords: Heir, Hinder, Testator’s Sister

(7)

Nya telah dapat diselesaikan penulisan tesis ini yang berjudul “Kedudukan Anak Perempuan meng-Hijab/Mendinding Kewarisan Saudara Prempuan Pewaris Dalam Sistem Waris Islam (Studi Putusan Pengadilan Agama Bandung Nomor : 8/Pdt.P/2014/PA.Bdg)”. Shalawat dan salam tidak lupa disanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa manusia dari alam kegelapan sampai ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan (M.Kn) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Penyusunan tesis ini tidak mungkin berhasil diselesaikan tanpa kesempatan, bantuan, bimbingan, arahan, serta dorongan semangat dari berbagai pihak yang diberikan oleh penulis. Untuk itu ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi- tingginya disampaikan kepada : Bapak Prof. H.M. Hasballah Thaib, MA, Ph.D, Ibu Dr. Yefrizawati, SH, M.Hum, Ibu Dr. Utary Maharany Barus, SH, M.Hum, Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH., CN, M.Hum, Bapak Dr.

Zamakhsyari Bin Hasballah Thaib, Lc, MA. PhD, selaku komisi pembimbing dan penguji yang telah dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini.

Selanjutnya ucapan terimakasih kepada :

1. Prof. Dr. Runtung, SH., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas yang terbaik dalam menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum, Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara kepada penulis;

2. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bimbingan, saran, dan motivasi kepada penulis dalam penyelesaian tesis ini;

(8)

Program Magister KenotariatanUniversitas Sumatera Utarayang telah memberikan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis;

4. Bapak Dr. Edy Ikhsan, SH., M.A, selaku sekretaris Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan dorongan kepada penulis untuk segera menyelesaikan penulisan ini ;

5. Bapak dan Ibu Dosen Pengajar yang ada di Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara seluruhnya yang telah membimbing dan membagikan ilmunya kepada penulis;

6. Seluruh Staf/Pegawai pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis selama menjalani pendidikan;

7. Untuk sahabat-sahabat di Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Habibie Pane SH., Maharani Rancai SH., Vini Vinola SH, Hariyadi SH., Alimuda Rezeki Hasibuan SH., Alfi Syahrin Nasution, SH., serta rekan-rekan MKn USU angkatan 2015 yang telah banyak memberikan motivasi kepada penulis baik berupa masukan dan dukungan dalam penulisan tesis ini, sehingga penulisan tesis ini menjadi lebih baik.

8. Untuk informan penelitian saya Bapak Sarifuddin, S.H.I, Hakim Pengadilan Agama Binjai yang telah banyak membantu dan memberikan masukan guna menyempurnakan penulisan tesis ini menjadi lebih baik.

Penghargaan setinggi-tingginya saya ucapkan kepada orang tua saya tercinta ayahanda Alm. H. Drs. Mahruddin Andry, SH., MH. dan Ibunda Hj.

Aisyah, serta kepada kakak saya Azizah Maharry, Spi. dan adik saya Emma Fadhilah untuk doa dan supportnya dalam bentuk moril, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Terima kasih juga saya ucapkanuntuk seluruh famili saya atas doa dan supportnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rahnat dan Karunia-Nya kepada semua pihak yang telah memberikan segala bantuan. Disadari sepenuhnya

(9)

bagi pembangunan pengetahuan hukum. Amin Yaa Rabbal’alamin.

Demikianlah yang dapat penulis sampaikan. Akhir kata atas segala perhatian yang telah diberikan sekali lagi penulis mengucapkan terima kasih.

Semoga tesis ini juga bermanfaat bagi kita semua.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

Medan, Penulis

A. HAIKAL ANDRY 157011286

(10)

I. IDENTITAS PRIBADI

Nama : A. HAIKAL ANDRY

Tempat/Tanggal Lahir : Tebing Tinggi, 01 Mei 1990 Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Kewarganegaraan : Indonesia

II. IDENTITAS ORANG TUA

Nama Ayah : ALM. H. DRS. MAHRUDDIN ANDRY, SH., MH

Nama Ibu : HJ. AISYAH.

III. PENDIDIKAN

Sekolah Dasar : SD Negeri 023893 Binjai (1996-2002) Sekolah Menegah Pertama : MTsN Binjai (2002-2005)

Sekolah Menegah Atas : SMA Negeri 6 Binjai (2005-2008)

Strata I : Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (2008-2012)

Strata II : Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara (USU)

(11)

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR ISTILAH ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Keaslian Penelitian ... 9

F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsep ... 10

1. Kerangka Teori ... 10

2. Kerangka Konsepsi ... 13

G. Metode Penelitian... 15

BAB II KONSEP ANAK PEWARIS MENGHIJAB/MENDINDING SAUDARA PEWARIS DALAM KEWARISAN ISLAM... 20

A. Pengertian dan Dasar Hukum Waris ... 20

B. Rukun dan Syarat Waris ... 26

C. Sebab dan Halangan Menerima Warisan ... 29

D. Ahli Waris dan Macam-Macamnya ... 33

E. Bagian Ahli Waris ... 35

F. Konsep Anak Pewaris Menghijab/mendinding Saudara Perempuan Pewaris Dalam Kewarisan Islam ... 39

(12)

PEREMPUAN PEWARIS MENGHIJAB/MENDINDING KEWARISAN SAUDARA PREMPUAN PEWARIS

DALAM SISTEM WARIS ISLAM ... 55

A. Istimbath Hukum Yang Berhubungan Dengan Pemahaman Teks Al-Qur’an ... 57

B. Pendapat Ibnu Abbas Tentang Makna Walad ... 62

C. Perbedaan Pendapat Tentang Kedudukan Anak Perempuan Bersama Saudara Pewaris ... 73

D. Putusan Mahkamah Agung RI Yang Dijadikan Yurisprudensi ... 77

BAB IV ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN AGAMA BANDUNG NOMOR 8/PDT.P/2014/PA.BDG TENTANG ANAK PEREMPUAN MENGHIJAB/MENDINDING KEWARISAN SAUDARA PREMPUAN PEWARIS DALAM SISTEM WARIS ISLAM ... 82

A. Kewenangan Peradilan Agama Mengadili Perkara Kewarisan ... 82

B. Posisi Kasus Kedudukan Ahli Waris Anak Perempuan Bersama Saudara Perempuan Pewaris Dalam Putusan Pengadilan Agama Bandung No. 8/Pdt.P/2014/PA.Bdg ... 84

C. Analisis Pertimbangan dan Dasar Hukum oleh Hakim dalam Putusan Pengadilan Agama Bandung Nomor 8/Pdt.P/2014/PA.Bdg ... 90

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 102

A. Kesimpulan ... 102

B. Saran ... 103

DAFTAR PUSTAKA ... 105

(13)

Ahli Waris Sababiyah : Ahli waris yang hubungan kewarisannya timbul karena ada sebab-sebab tertentu, yaitu sebab perkawinan yang sah, atau sebab memerdekakan hamba sahaya

Al- Hajib : Penghalang

Al-hawasyi : Ahli waris kelompok menyamping

Ashabah : Ahli waris yang tidak mendapat bagian yang sudah ditentukan besar kecilnya yang telah disepakati oleh seluruh ahli fiqih

Ashabul furudh : Bagian tertentu yang ditetapkan oleh syariat Islam berkenaan dengan orang yang mendapatkan harta

warisan

Dalalah : Pengertian yang ditunjuk oleh suatu lafadh kepada makna tertentu

Dzawil arham : Keluarga yang tidak memiliki hak waris menurut furudh dan bukan termasuk ashabah.

Dzawul faraid : Ialah ahli waris yang mendapat bagian warisan tertentu dalam keadaan tertentu

Dzawul qarabat : Ahli waris yang mendapat bagian warisan yang tidak tertentu jumlahnya

Fuqoha : Seorang ahli fiqih

Furu’ al-waris : Anak keturunan pewaris yang terdekat

Furu’ul mayit : Ahli waris garis lurus keatas garis lurus keatas (leluhur)

Kalalah : Pewaris yang tidak meninggalkan anak laki-laki dan ayah

Hawasyi : Ahli waris garis menyamping

Hujjah : Tanda, bukti, dalil, alasan atau argumentasi

Ittifaq : Kesepakatan Ulama

(14)

Maula : Bekas budak yang dimerdekakan

Mati Hukmi : Kematian yang dinyatakan oleh putusan pengadilan atas dasar beberapa sebab, walaupun dalam arti sesungguhnya ia belum mati Mati secara hakiki : Kematian yang dapat dilihat oleh panca indera dan

dapat dibuktikan oleh alat pembuktian

Mukallaf : Adalah muslim yang dikenai kewajiban atau perintah dan menjauhi larangan agama (pribadi muslim yang sudah dapat dikenai hukum)

Mustahak : Yang berhak menerimanya

Plaatsvervulling : Pewaris pengganti terhadap ahli waris yang semestinya mendapat telah meninggal dunia terlebih dahulu dari pewaris

Shahih : sah, benar, sempurna, tiada cela (dusta, palsu), sesuai dengan hukum (peraturan)

Syarak : Hukum yang bersendi hukum islam

Taklify : Pembebanan suatu kewajiban kepada seseorang Usulul mayit : Ahli waris garis lurus kebawah

Uslub : struktur atau gaya bahasa dalam bahasa Arab Zul arham : Ahli waris menurut garis ibu

Zul faraid : Ahli waris Al-Qur’an atau yang sudah ditentukan di dalam Al-Qur’an

Zul qarabah : Ahli waris hubungan darah

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah waris adalah masalah yang sangat penting dan selalu menjadi salah satu pokok bahasan utama dalam hukum Islam, karena hal ini selalu ada dalam setiap keluarga dan masalah waris ini rentan dengan masalah/konflik di masyarakat akibat pembagian yang dianggap kurang adil atau ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Waris Islam dikenal bermula dari turunnya ayat suci Al- Qur‟an kepada Nabiyullah Muhammad ﷺ yang sebelumnya pada masa Arab jahiliyah seorang perempuan baik dia berkedudukan sebagai ibu, istri, anak dan selain dari itu tidak memperoleh hak waris. Hanya seorang laki-laki saja yang berhak untuk mendapatkan warisan.1 Arab jahiliyah memberikan persyaratan dalam waris mewarisi, di mana anak-anak yang masih belia dan kaum perempuan tidak berhak atas warisan, karena dianggap tidak mampu untuk mengemban tugas dalam menjaga keamanan dan memanggul senjata di medan perang. Sehingga, prioritas utama adalah anak laki-laki, bahkan anak perempuan pun dapat berfungsi sebagai harta warisan yang dapat diwarisi.2

Sebagaimana dalam pembagian waris Islam di Indonesia didominasi oleh pemikiran Hazairin yang telah berupaya untuk memberikan rasa keadilan bagi masyarakat bilateral dengan menghapuskan sistem pemberian hak-hak istimewa kepada pihak laki-laki dan menempatkan wanita dan laki-laki pada kedudukan

1 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, Cetakan ke 3, Kencana, Jakarta, 2012, halaman 195. (disebut juga Abdul Manan 1)

2 Ibid

(16)

yang sama dalam hak-hak kewarisan mereka.3 Hukum di Indonesia memberlakukan orang yang beragama Islam harus melakukan pembagian warisannya menurut agama Islam, dan jika ada sengketa harus dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama sebagaimana kewenangan/kekuasaan Peradilan Agama,4 berdasarkan pasal 49 UU No. 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, bahwa Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara ditingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dibidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infak, shodaqah, dan ekonomi syariah.5

Kompilasi Hukum Islam merupakan dasar hukum materiil yang dijadikan pedoman bagi hakim di lingkungan peradilan agama di samping pendapat para ulama yang tersebar dalam kitab fiqih. Dalam rangka penyempurnaan hukum materiil di bidang kewarisan, maka disusunlah draft Undang-Undang Hukum Materiil Peradilan Agama di bidang kewarisan. Pada dasarnya secara materiil, draft yang ada saat ini merupakan penyempurnaan dari Kompilasi Hukum Islam khususnya yang mengatur tentang kewarisan. Selain penyempurnaan secara materiil, juga diharapkan Kompilasi Hukum Islam memperoleh status yang lebih tinggi dan masuk dalam hirarki tata perundang-undangan menurut peraturan perundangan yang berlaku.6

3 H.A. Mukhsin Asyrof, Memahami Lembaga Ahli Waris Pengganti Dalam Hukum Kewarisan Kompilasi Hukum Islam (KHI) Melalui Pemikiran Prof. Dr. Hazairin, S.H, Mimbar Hukum dan Peradilan, No. 70, Tahun 2010, halaman 117.

4 Pagar, Himpunan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia, Perdana Publishing, Medan, 2010, halaman 117.

5 Mardani, Hukum Acara Perdata Peradilan agama & Mahkamah Syari’ah, Sinar Garafika, Jakarta, 2010, halaman 54.

6 Syafruddin, Terobosan Hukum Kewarisan Islam: Sebuah Langkah Mewujudkan Undang-Undang Hukum Terapan Peradilan Agama Bidang Kewarisan, 2013, Jurnal Hukum.

(17)

Syariat Islam membuat aturan yang begitu lengkap tentang masalah waris yang terdapat dalam Al-Qur‟an.7 Adapun ayat-ayat yang menjadi pokok penalaran ulama dalam masalah kewarisan adalah Surah An-Nisa ayat 11, Surah An-Nisa ayat 12, dan Surat An-Nisa ayat 176.8 Ayat-ayat tersebut telah menjelaskan bahagian anak perempuan adalah 1/2 bahagian dari anak laki-laki bila anak perempuan itu hanya seorang saja, dan 2/3 bila anak perempuan itu lebih dari dua orang. Selain itu dalam pasal 176 Kompilasi Hukum Islam yang menyebutkan anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat 1/2 bagian. Dengan demikian secara hukum sebenarnya seorang anak perempuan hanya dapat memperoleh hak warisnya tidak lebih dari ½ (setengah) dari harta warisan.

Mengenai ahli waris, para ulama berbeda pendapat dalam membagi kelompok ahli waris, menurut ulama Sunni ahli waris itu dibedakan atas tiga kelompok, yaitu ahli waris Al-Qur‟an atau yang sudah ditentukan di dalam Al- Qur‟an disebut zul faraidh, ahli waris yang ditarik dari garis ayah, disebut ashabah, dan ahli waris menurut garis ibu, disebut zul arham. Sedangkan Ulama golongan Syiah membedakan ahli waris itu atas ahli waris Al-Qur‟an atau disebut zul faraidh dan ahli waris hubungan darah disebut zul qarabah. Sementara itu Hazairin membagi ahli waris menurut Al-Qur‟an ke dalam tiga jenis yaitu zul faraidh, zul qarabah, dan mawali.9

Para ulama sepakat ahli waris yang bagiannya telah ditentukan oleh Al- Qur‟an disebut dengan zul faraidh (bagiannya telah ditetapkan oleh Al-Qur‟an)

7 Muhammad Ali Ash-Shabuni, Hukum Waris Dalam Islam, Fathan Prima Media, Depok, 2013, halaman 32. (disebut juga Muhammad Ali Ash-Shabuni 1)

8 Abu Bakar Al Yasa, Ahli Waris Sepertalian Darah, Kajian Perbandingan Terhadap Penalaran Hazairin dan Penalaran Fiqih Madzhab, INIS, Jakarta, 1998, halaman 81.

9 Rachmadi Usman, Hukum Kewarisan Islam, Mandar Maju, Bandung, 2009, halaman 47.

(18)

yaitu: 1/2, 1/3, 1/4, 1/6, 1/8, dan 2/3 sesuai dengan kondisi dan keadaannya masing-masing. Di antara yang termasuk dalam bagian zul faraidh itu ialah anak perempuan, ia mendapatkan bagian 1/2 harta waris apabila sendirian dan 2/3 apabila ia lebih dari satu orang. Adapun ketetapan lain ialah apabila ia bersama anak laki-laki, ia menjadi ashabah bi gairih, yaitu ahli waris yang mempunyai furudh tapi dalam mewaris menerima ashabah memerlukan orang lain dan dia bersekutu dengannya untuk menerima ashabah, yakni dengan ketentuan dua banding satu antara anak laki-laki dengan anak perempuan.10 Sesuai dengan ketentuan hukum yang telah ditetapkan oleh para ulama bahwa keberadaan anak perempuan tidak menghalangi saudara pewaris untuk mewarisi harta pewaris.

Demikian ketentuan yang telah ditetapkan oleh Ulama Sunni.11

Meski demikian, perkembangan zaman menyebabkan munculnya pembaharuan-pembaharuan hukum Islam di berbagai negara, khususnya waris Islam di Indonesia, pembaharuan hukum waris Islam di Indonesia menimbulkan pergolakan di kalangan praktisi maupun akademisi. Perbedaan pendapat di kalangan para pakar hukum waris Islam tersebut dipengaruhi oleh beberapa pemikiran para pakar hukum Islam di dunia. Selain pada pemikiran para pakar hukum waris Islam, adanya beberapa putusan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung yang kemudian dijadikan sebagai rujukan oleh sebagian kalangan praktisi maupun akademisi yang dikenal dengan istilah yurisprudensi, telah menimbulkan pembaharuan hukum dalam tatanan hukum waris Islam di Indonesia. Beberapa yurisprudensi Mahkamah Agung berkenaan dengan hak ahli waris beda agama,

10Beni Ahmad Saebani, Fiqih Mawaris, CV.Pustaka Setia, Bandung, 2009, halaman 281-282.

11 Ali Parman, Kewarisan dalam Al-Qur’an, Suatu Kajian Hukum dengan Pendekatan Tafsir Tematik, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, halaman 52-53.

(19)

anak angkat sebagai penerima warisan, dan ahli waris perempuan tunggal yang mendinding (hijab) saudara kandung pewaris.

Penafsiran oleh hakim dalam menetapkan bagian anak perempuan tunggal tersebut sebagaimana disebutkan dalam putusan Mahkamah Agung antara lain Putusan Nomor 86 K/AG/1994 tanggal 20 Juli 1955, Putusan Nomor 122 K/AG/1995 tanggal 30 April 1996, Putusan Nomor 184 K/AG/1995 tanggal 30 September 1996 dan Penetapan Pengadilan Agama Bandung Nomor 8/Pdt.P/2014/PA.Bdg. Dalam penetapan pengadilan agama bandung nomor 8/Pdt.P/2014/PA.Bdg pada bulan April 2014, hakim menetapkan ahli waris dari pewaris hanya seorang isteri dan dua orang anak perempuan dan mengabaikan keberadaan dari saudara pewaris, penetpan ini berbeda dengan pendapat Jumhur ulama yang mana anak perempuan pewaris tidak dapat mendinding kewarisan saudara pewaris, adanya beberapa argumentasi hukum dan penafsiran ayat yang dilakukan oleh hakim terutama berkenaan dengan kompromisasi antara Surah An- Nisa ayat 11 dengan Surah An-Nisa ayat 176 yang kemudian mengartikan kata

“walad” menjadi anak yang kemudian mengikut pada pendapat sahabat Ibnu Abbas radhiAllahuanhu, bahwa kata “walad” diartikan sebagai anak laki-laki dan anak perempuan,12 alasannya antara lain adalah kata “walad” dipakai oleh Al- Qur‟an bukan untuk anak laki-laki saja tetapi juga untuk anak perempuan.

Menurut pendapat mayoritas ulama seperti yang diuraikan oleh Qurthubi, bahwa yang dimaksud dengan “walad” dalam ayat tersebut adalah khusus anak laki-laki dan tidak tercakup anak perempuan. Dengan demikian keberadaan anak

12 Nur Mujib, Ketika Anak Perempuan Menghijab Saudara Kandung, www.pa- lubukpakam.net/index.php/goresan-pena/888-ketika-anak-perempuan-menghijab-saudara-kandung diakses tanggal 9 November 2017 pukul 15.43 wib

(20)

perempuan tidak menghalangi saudara kandung dari si pewaris sehingga masing- masing mereka mendapat bagian dari harta peninggalan si pewaris itu.13

Berdasarkan teori hukum kewarisan Islam menurut mayoritas ulama sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa anak perempuan adalah termasuk golongan zul faraidh (bagiannya telah ditentukan) dan bukan termasuk golongan ashabah yang dapat berdiri sendiri (seperti anak laki-laki), keberadaannya tidak dapat menghijab ahli waris seperti saudara pewaris. Tetapi pada kenyataaanya terjadi ketidaksinambungan dengan praktik yang ada di lapangan, contohnya seperti pada penetapan yang dikeluarkan oleh PA Bandung pada perkara permohonan penetapan ahli waris nomor register 8/Pdt.P/2014/PA.Bdg. Mengenai perkara penetapan permohonan ahli waris yang terdiri atas: 1 orang istri pewaris, 2 orang anak perempuan pewaris, dan 1 saudara perempuan pewaris. Pada amar penetapannya hakim PA Bandung menetapkan bahwa ahli waris yang berhak mendapatkan harta warisan pewaris hanya 1 orang istri pewaris dan 2 orang anak perempuan pewaris, adapun saudara perempuan pewaris terhijab hirman oleh adanya anak perempuan pewaris.

Penetapan ahli waris oleh majelis hakim Pengadilan Agama Bandung tersebut berbeda dengan teori kewarisan yang dipelajari, yakni apabila ahli waris adalah anak perempuan (baik ia sendiri atau lebih) ia tidak dapat menghijab hirman saudara perempuan. Dengan demikian menarik untuk diangkat, berkenaan dengan masalah waris anak perempuan kandung sebagai ahli waris yang memiliki hak secara penuh atas harta peninggalan (tirkah) dari si pewaris, meskipun masih

13 Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam, cetakan Ke-3, Kencana, Jakarta, 2008, halaman 60. (disebut juga Amir Syarifuddin 1)

(21)

ada ahli waris lainnya yang menurut sebahagian besar ulama maupun sebagian mayoritas hakim pengadilan agama merupakan ahli waris yang mustahak (orang yang berhak menerimanya), dan oleh karenanya diangkatlah judul dalam tesis ini yaitu “Kedudukan Anak Perempuan Menghijab/Mendinding Kewarisan Saudara Prempuan Pewaris Dalam Sistem Waris Islam (Studi Putusan Pengadilan Agama Bandung Nomor : 8/Pdt.P/2014/PA.Bdg)”.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian tersebut di atas, maka diambil beberapa hal penting yang kemudian dijadikan sebagai rumusan masalah, antara lain :

1. Bagaimana konsep kewarisan anak perempuan pewaris menghijab/mendinding saudara perempuan pewaris dalam kewarisan Islam?

2. Faktor apa saja yang menyebabkan anak perempuan pewaris menghijab/mendinding kewarisan saudara prempuan pewaris dalam sistem waris Islam?

3. Bagaimana pertimbangan hukum hakim dalam putusan Pengadilan Agama Bandung Nomor 8/Pdt.P/2014/PA.Bdg?

C. Tujuan Penelitian

Dalam sebuah penelitian, hal terpenting adalah mengetahui tujuan dari penelitian tersebut. Oleh karenanya tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui bagaimana konsep kewarisan anak perempuan pewaris menghijab/mendinding saudara perempuan pewaris dalam kewarisan Islam.

(22)

2. Untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan anak perempuan pewaris menghijab/mendinding kewarisan saudara prempuan pewaris dalam sistem waris Islam.

3. Untuk mengetahui pertimbangan hukum Majelis hakim dalam Penetapan Pengadilan Agama Bandung Nomor 8/Pdt.P/2014/PA.Bdg.

D. Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian dan manfaaat penelitian merupakan satu rangkaian yang hendak dicapai bersama. Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoretis dan praktis, yaitu :

1. Secara Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi terkait hukum waris terutama hukum waris Islam dalam sistem hukum waris yang ada di Indonesia. Terkhusus lagi mengenai kedudukan anak perempuan menghijab/mendinding kewarisan saudara prempuan pewaris dalam sistem waris islam.

2. Secara Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan dan diterapkan bagi masyarakat Islam dalam hukum kewarisan, khususnya mengenai kedudukan anak perempuan menghijab/mendinding kewarisan saudara prempuan pewaris dalam sistem waris islam, sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam penyelesaian permasalahan sengketa pewarisan Islam.

(23)

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelusuran kepustakaan yang ada, maka terhadap judul yang diteliti yaitu “Kedudukan Anak Perempuan Menghijab/Mendinding Kewarisan Saudara Prempuan Pewaris Dalam Sistem Waris Islam (Studi Putusan Pengadilan Agama Bandung Nomor 8/Pdt.P/2014/Pa.Bdg)” yang masih perlu dilakukan penelitian secara mendalam. Namun, ada beberapa penelitian yang berkaitan dengan hukum kewarisan yang pernah ditulis sebelumnya antara lain :

1. Endah Mayana, NIM : 107011084 dalam penelitian nya yang berjudul

“Analisis Yuridis Terhadap Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan Yang Dikuasai Oleh Salah Satu Ahli Waris (Studi Kasus Putusan Mahkamah Agung No 2134 K/Pdt/1989)”. Adapun rumusan masalahnya adalah : a. Bagaimana kedudukan harta kekayaan yang dapat diwariskan oleh

pewaris menurut hukum Islam?

b. Bagaimana cara pembagian harta warisan orang yang hilang (mafqud) menurut hukum Islam?

c. Bagaimana solusi atas batas pewarisan tidak diketahui keberadaannya karena hilangnya pesawat menurut hukum Islam?

2. Taufik Tahir Yusuf Lubis, NIM : 127011127 dengan judul tesis “Analisis Yuridis Atas Putusan Nomor 014/Pdt.P/2014/PA.Lpk Tetang Penetapan Ahli Waris Dzawil arham Yang Mendapatkan Seluruh Harta Warisan Si Pewaris. Adapun rumusan masalahnya adalah :

a. Bagaimana kedudukan dzawil arham sebagai ahli waris menurut hukum Islam?

(24)

b. Faktor-faktor apa yang menyebabkan dzawil arham Putusan Pengadilan Agama Lubuk Pakam dengan Nomor: 014/pdt.P/2004/PA- LPK mendapatkan harta warisan yang ditinggalkan oleh pewaris dan beserta seberapa besar bahagiannya?

c. Bagaimana pertimbangan Hakim dalam Putusan Pengadilan Agama Lubuk Pakam dengan Nomor : 014/pdt.P/2004/PA-LPK tentang dzawil arham mendapatkan harta warisan si Pewaris?

Dari kedua penelitian tersebut di atas, maka terdapat persamaan dengan penelitian ini sebatas pada pembahasan mengenai kewarisan Islam. Adapun mengenai ahli waris dalam kedua penelitian di atas terdapat perbedaan. Di mana dalam penelitian ini ahli waris yang menjadi objek penelitian adalah ahli waris perempuan yang dalam kapasitasnya menghijab/mendinding saudara perempuan pewaris. Sehingga penelitian ini merupakan penelitian yang dapat di pertanggungjawabkan secara ilmiah.

F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsep 1. Kerangka Teori

Perkembangan ilmu hukum, selain bergantung pada metodologi, aktifitas penelitian dan imajinasi sosial sangat ditentukan oleh teori.14 Teori berfungsi untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang

14 Soerjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1986, halaman 6.

(disebut juga Seorjono Soekanto 1)

(25)

dapat menunjukkan ketidakbenaran.15 Kerangka teori merupakan landasan dari teori atau dukungan teori dalam membangun dan memperkuat kebenaran dari permasalahn yang dianalisis.16 Kerangka teori juga dapat diartikan sebagai kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori tesis si penulis mengenai suatu kasus ataupun permasalahan, yang menjadi bahan perbandingan, pegangan yang mungkin disetujui atau tidak disetujui,17 yang nantinya merupakan masukan eksternal penelitian ini.

Menurut M. Solly Lubis, teori merupakan suatu kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, mengenai suatu kasus atau problem yang dijadikan bahan perbandingan, pegangan, yang mungkin disetujui ataupun tidak disetujui yang dijadikan sebagai kerangka berpikir dalam penulisan.18 Adapun menurut Fred N.

Kerlinger menyebutkan bahwa teori adalah seperangkat konsep, batasan dan proposisi yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang fenomena dengan merinci hubungan antar variabel dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi gejala tersebut.19 Fungsi teori dalam penelitian tesis ini adalah untuk memberikan arahan/petunjuk dan ramalan serta menjelaskan gejala yang diamati. Karena penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif, kerangka teori diarahkan secara khas ilmu hukum dan pelaksanaan kaedah hukum tersebut di masyarakat.

Berdasarkan pengertian teori dan kegunaan serta daya kerja teori tersebut di atas dihubungkan dengan judul penelitian ini tentang “kedudukan anak

15 J.J.J M. Wuisman. Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Asas-Asas, Penyunting: M. Hisyam, Universitas Indonesia, Fakultas Ekonomi, Jakarta, 1996, halaman 203.

16Jimly Asshiddiqie, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, Konstitusi Pers, 2006, halaman 61.

17M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994, halaman 80.

18 Ibid

19 Fred N. Kerlinger, Asas-Asas Penelitian Behavioral, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2004, halaman 14.

(26)

perempuan mendinding saudara perempuan pewaris dalam sistem waris Islam, maka dipergunakan teori keadilan dan teori kepastian hukum. Keadilan adalah sesuatu yang dirasakan seimbang, pantas sehingga semua orang atau sebagian besar orang yang mengalami merasa pantas, nyaman, dan adil. Salah satu ciri keadilan yang penting adalah adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Adil adalah berdiri di tengah-tengah antara dua perkara memberikan kepada setiap orang yang menjadi haknya.20 Berlaku adil sangat terkait dengan hak dan kewajiban, hak yang dimiliki oleh seseorang, termasuk hak asasi yang diperlakukan secara adil. Hak dan kewajiban terkait pula dengan amanah, sementara amanah wajib diberikan kepada yang berhak menerimanya. Oleh karena itu, hukum berdasarkan amanah harus ditetapkan secara adil tanpa dibarengi rasa kebencian dan sifat negatif lainnya.21

Teori pendukung dalam penelitian ini adalah teori kepastian hukum, Soerjono Soekanto menyatakan yang penting dalam kepastian hukum adalah peraturan dan dilaksanakan peraturan itu sebagaimana yang ditentukan. Apakah peraturan itu harus adil dan mempunyai kegunaan bagi masyarakat adalah di luar pengutamaan kepastian hukum. Dengan tersedianya perangkat hukum yang tertulis, siapapun yang berkepentingan akan mudah mengetahui kemungkinan apa yang tersedia baginya. Teori kepastian hukum menekankan pada penafsiran dan sanksi yang jelas agar suatu perjanjian dapat memberikan kedudukan yang sama antara subyek hukum yang membuat perjanjian itu. Memperbaiki kepastian hukum, memang bukan satu-satunya dan juga tidak dapat berdiri sendirinya,

20 John Rawls, Teori Keadilan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1995, halaman 35.

21 H. Zamakhsyari, Teori-Teori Hukum Islam Dalam Fiqih Dan Ushuk Fiqih, Cita pustaka Media Perintis, Bandung, 2013, halaman 95.

(27)

namun dengan mengetahui hak dan kewajiban masing-masing yang diatur dalam hukum sangat dimungkinkan tidak terjadi sengketa,22 Berlaku adil sangat terkait dengan hak dan kewajiban, hak yang dimiliki oleh seseorang, termasuk hak asasi yang diperlakukan secara adil.

Dari penjabaran di atas, maka tujuan teori dalam penelitian ini diharapkan akan mampu untuk menjawab beberapa permasalahan mengenai kewarisan Islam, terkhusus mengenai kedudukan anak perempuan dalam upaya mendinding (hijab) saudara perempuan dari pewaris, sebagaimana yang telah ada dalam berbagai putusan pada tingkat Mahkamah Agung Republik Indonesia yang kemudian putusan-putusan tersebut menjadi salah satu rujukan bagi hakim dalam memutus perkara waris di Pengadilan Agama. Tujuan dari teori tersebut dirangkum sedemikian rupa agar mampu memberikan rasa keadilan bagi semua pihak dalam penyelesaian sengketa kewarisan.

2. Kerangka Konsepsi

Konsep merupakan bagian tidak terpisahkan dari teori. Peranan konsep adalah untuk menghubungkan antara teori dengan observasi, atau antara abstraksi dengan kenyataan. Konsep diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut defenisi operasional.23 Sehingga, untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini harus didefenisikan beberapa konsep dasar agar secara operasional diperoleh hasil dalam penelitian ini sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.

22 Muhammad Yamin, Beberapa Dimensi Filosofi hukum Agraria, Pustaka Bangsa Perss, Medan, 2003, halaman 41-42.

23Samadi Suryabrata, Metode Penelitian, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998, halaman 3.

(28)

Konsep merupakan alat yang digunakan dalam bidang hukum seperti asas dan standar. Kebutuhan untuk membentuk konsep merupakan salah satu dari hal- hal yang dirasakan penting dalam hukum. Konsep adalah suatu konstruksi mental, yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh suatu proses yang berjalan dalam pikiran penelitian untuk keperluan analitis.24 Konsep dan pengertian merupakan unsur pokok dari suatu penelitian, kalau masalahnya dari kerangka konsep teoritis sudah jelas, maka sudah diketahui pula fakta mengenai gejala-gejala yang menjadi pokok perhatian dan suatu konsep sebenarnya adalah defenisi secara sigkat dari kelompok fakta atau gejala itu.25

Ada beberapa permasalahan yang akan didefenisikan dalam konsep dasar untuk menyamakan persepsi dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

a. Hukum kewarisan Islam adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.26

b. Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan Pengadilan beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan.27

c. Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.28

24 Seorjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif : Suatu Tinjauan Singkat, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, halaman 17. (disebut juga Seorjono Soekanto 2)

25 Koentjoroningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Gramedia Pustaka Utama, Edisi ke 3, Jakarta, 1997, halaman 21.

26 Kompilasi Hukum Islam pasal 171 huruf a

27 Kompilasi Hukum Islam pasal 171 huruf b

28 Kompilasi Hukum Islam pasal 171 huruf c

(29)

d. Harta waris adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz), pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat.29

e. Anak adalah seorang yang masih dibawah usia tertentu dan belum dewasa seerta belum kawin.30

f. Saudara kandung adalah saudara seibu (baik seayah maupun tidak).31 G. Metode Penelitian

Metode penelitian hukum merupakan suatu sistem dan suatu proses yang mutlak harus dilakukan dalam suatu kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian hukum pada dasarnya merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari sesuatu atau beberapa gejala hukum dengan cara menganalisanya, kecuali itu diadakan juga pemeriksaan mendalam terhadap fakta hukum tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan.32

1. Jenis dan Sifat Penelitian a. Jenis Penelitian

Tesis ini menggunakan pendekatan yuridis normatif, yaitu pendekatan yang dilakukan berdasarkan bahan hukum utama dengan cara menelaah teori- teori, konsep-konsep, asas-asas hukum serta peraturan perundang-undangan yang

29 Kompilasi Hukum Islam pasal 171 huruf e

30 Aminah Aziz, Aspek Hukum Perlindungan Anak, , USU PRESS, medan, 1998, halaman 18.

31 Tim Penyusun Pusat Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 2007

32 Soerjono Soekanto 2, Op Cit, halaman 43

(30)

berhubungan dengan penelitian ini. Pendekatan ini dikenal pula dengan pendekatan kepustakaan, yakni dengan mempelajari buku-buku, peraturan perundang-undangan dan dokumen lain yang berhubungan dengan penelitian ini.

Dalam hal ini penulis meneliti salinan Penetapan Pengadilan Agama Bandung Nomor 8/Pdt.P/2014/PA.Bdg. tentang kedudukan ahli waris perempuan bersama saudara pewaris.33

b. Sifat Penelitian

Dilihat dari sifatnya, maka penelitian ini bersifat deskriptif analitis.

Artinya penelitian ini menggambarkan objek tertentu dan menjelaskan hal-hal yang terkait dengan atau melukiskan secara sistematis fakta-fakta atau karakteristik populasi tertentu dalam bidang tertentu secara faktual dan cermat.34 Penelitian ini diharapkan mampu untuk menggambarkan hubungan, status hukum serta penilaian tentang permasalahan yang diteliti. Analisis dimaksudkan sebagai gambaran fakta secara cermat bagaimana menjawab permasalahan terkait kedudukan anak perempuan yang dapat menghalangi/mendinding saudara kandung pewaris dari memperoleh hak waris dalam sistem kewarisan Islam.

2. Data Penelitian

Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder dalam penelitian tesis ini diperoleh melalui studi kepustakaan yaitu untuk memperoleh bahan-bahan hukum yang digunakan dengan mengumpulkan data-data yang ada di kepustakaan yaitu bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier, antara lain:

33 Dapat dilihat secara umum di https://www.mahkamahagung.go.id

34 Sarifuddin Azwar, Metode Penelitian, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998, halaman 7.

(31)

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer adalah bahan hukum utama yang akan dijadikan sebagai rujukan dalam penelitian. Data-data yang ada dalam penelitian ini akan dimasukkan menjadi substansi-substansi penelitian. Adapun bahan hukum primer dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Undang-Undang Republik Indonesia tentang Peradilan Agama Nomor 7 Tahun 1989 dan Perubahan Kedua Nomor 50 Tahun 2009.

2) Kompilasi Hukum Islam.

3) Putusan Pengadilan Agama Bandung Nomor: 8/Pdt.P/2014/PA.Bdg.

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum pendukung dari bahan hukum primer. Bahan hukum sekunder terdiri dari referensi berupa buku- buku, jurnal-jurnal, makalah, karya tulis ilmiah, serta pendapat pakar- pakar hukum.

c. Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier merupakan bahan hukum penunjang bagi bahan hukum primer dan sekunder. Di mana bahan hukum tersier digunakan demi memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder. Adapun bahan hukum tersier antara lain berupa kamus- kamus hukum ataupun non hukum dan ensiklopedia. Bahan hukum tersier digunakan juga sebagai pelengkap dalam suatu penelitian sehingga penelitian dapat terangkai dan tersusun secara berurutan.

3. Metode pengumpulan data

(32)

Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian kepustakaan (library Research). Untuk mendapat data yang akurat dan relevan, baik berupa pengetahuan ilmiah, maupun tentang suatu fakta atau gagasan, maka pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan, yang dilakukan dengan penelaahan bahan kepustakaan, baik berupa dokumen-dokumen, buku, jurnal, artikel, informan maupun peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan kedudukan ahli waris perempuan dalam tatanan hukum waris Islam.

4. Alat Pengumpulan Data

Data dalam penelitian tesis ini dipergunakan alat pengumpulan data dengan cara sebagai berikut:

a. Studi Dokumen

Untuk memperoleh data sekunder perlu dilakukan studi dokumentasi yaitu dengan cara mempelajari peraturan-peraturan, teori dan dokumen- dokumen lain yang berhubungan dengan permasalahan yang akan diteliti.

b. Pedoman Wawancara.

Pedoman wawancara adalah panduan dalam melakukan kegiatan wawancara yang terstruktur dan telah ditetapkan oleh pewawancara dalam mengumpulkan data-data penelitian.

Para informan yang dipilih untuk mendukung penelitian ini yaitu: 1 (satu) orang Hakim Pengadilan Agama Binjai.

5. Analisis Data

Semua data yang diperoleh dari bahan pustaka serta data yang diperoleh di lapangan dianalisis secara kualitatif. Metode penarikan kesimpulan yang dipakai

(33)

adalah metode deduktif. Melalui metode deduktif, data sekunder yang telah diuraikan dalam tinjauan pustaka secara komperatif akan dijadikan pedoman dan dilihat pelaksanaannya dalam kedudukan anak perempuan menghijab/mendinding saudara perempuan pewaris dalam sistem waris Islam.

(34)

20

BAB II

KONSEP ANAK PEWARIS MENGHIJAB/MENDINDING SAUDARA PEWARIS DALAM KEWARISAN ISLAM

A. Pengertian dan Dasar Hukum Waris 1. Pengertian Waris

Kewarisan merupakan rangkaian dari kata dasar waris yang mendapat awalan “ke” dan akhiran “an” dimaksudkan dengan “waris mewarisi”. Istilah waris mewarisi ini tentunya melibatkan beberapa unsur dalam proses penyelesaiannya, karena kata “waris” sendiri dikenal dalam bahasa Arab berasal dari kata اٍبيرق نلاف ثرَ yang berarti “Si Fulan mewaris (harta) kerabatnya”. Dalam Al-Qur‟an kata warasa memiliki beberapa arti, yaitu menggantikan, memberi dan mewarisi.35

Lafazh Faraidh merupakan jamak (bentuk plural) dari lafazh faridhah yang mengandung arti mafrudhah, yang sama artinya dengan muqaddarah yaitu suatu yang ditetapkan bagiannya secara jelas. Dalam ketentuan kewarisan Islam yang terdapat dalam Al-Qur‟an lebih banyak bagian yang ditentukan dibandingkan bagian yang tidak ditentukan. Oleh karena itu, hukum ini dinamakan dengan faraidh. Dengan demikian penyebutan faraidh didasarkan pada bagian yang diterima oleh ahli waris.36

Adapun penggunaan kata mawaris lebih melihat kepada yang menjadi obyek dari hukum ini yaitu harta yang beralih kepada ahli waris yang masih

35Wahidah, Al-Mafqud Kajian Tentang Kewarisan Orang Hilang, Antasari Press, Banjarmasin, 2008, halaman 22.

36 Amir Syarifuddin 1, Op.Cit., halaman 5

(35)

hidup. Kata mawarits merupakan bentuk plural dari kata mirats yang berarti mauruts atau harta yang diwarisi. Dengan demikian maka arti kata warits yang dipergunakan dalam beberapa kitab merujuk kepada orang yang menerima harta warisan itu, karena kata warits artinya adalah orang pewaris.37 Terkadang kata

“waris” dalam bahasa arab muncul dalam bentuk jamak, yaitu al-mawaris dengan isim alatnya menjadi mi’ras. Mi’ras atau al-irs, al-wirasah, al-turas, al-tirkah memiliki arti yang sama yakni pusaka, bundel, peninggalan, yaitu harta benda dan hak yang ditinggalakan oleh orang yang mati.38

Beberapa pengertian dari kata waris yang ditinjau dari aspek etimologi ini tampak menggambarkan apa yang dikehendaki dalam proses waris mewarisi, yakni apa yang disebut dengan istilah rukun dan syarat kewarisan dalam bahasa yang selanjutnya.39 Secara terminologi, kata ini memiliki beberapa pengertian yang penyebutannya terkadang ditambah dengan akhiran “an”, sehingga menjadi kata warisan, dimaksudkan dengan perpindahan berbagai hak dan kewajiban tentang kekayaan seseorang yang meninggal dunia kepada orang lain yang masih hidup.40 Sedangkan yang disebut Hukum Waris Islam adalah aturan yang mengatur pengalihan harta dari seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya. Hal ini berarti menentukan siapa-siapa yang menjadi ahli waris, porsi bagian masing-masing ahli waris, menentukan harta peninggalan dan harta warisan bagi orang yang meninggal.41

37 Ibid

38 Ibid, halaman 17

39 Ibid

40 Ibid

41 Zainuddin Ali, Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia, cetakanakan Ke-1, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, halaman 33.

(36)

Kompilasi Hukum Islam menyebutkan hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.42 Menurut Mohammad Daud Ali, hukum kewarisan Islam adalah hukum yang mengatur segala sesuatu yang berkenaan dengan pengalihan hak atau kewajiban atas harta kekayaan seseorang setelah ia meninggal dunia kepada ahli warisnya. Dinamakan juga hukum faraidh jamak dari kata farida yang erat hubungannya dengan kata fard yang berarti kewajiban yang harus dilaksanakan.43

Ahmad Azhar Basyir memberikan definisi kewarisan menurut hukum Islam adalah proses pemindahan harta peninggalan seseorang yang telah meninggal dunia baik berupa hak kebendaan kepada keluarganya yang dinyatakan berhak menurut hukum.44 Idris Ramulya, menyatakan bahwa hukum waris Islam adalah himpunan aturan-aturan yang mengatur tentang siapa ahli waris yang berhak menerima harta peninggalan seorang yang mati meninggalkan harta peninggalan, bagaimana kedudukan masing-masing ahli waris serta bagaimana/berapa perolehan masing-masing ahli waris secara riil dan sempurna.45

Dari definisi dan penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa hukum waris Islam merupakan suatu bagian dari hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur‟an dan Al-Hadis yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan

42 Tim Redaksi Fokusmedia, Kompilasi Hukum Islam, Bandung: FOKUSMEDIA, 2007, pasal 171 Huruf a, halaman 81.

43 Mohammad Daud Ali, Hukum Islam dan Peradilan Agama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, halaman 141. (disebut juga Mohammad Daud Ali 1)

44 Ahmad Azhar Basyir, Hukum Waris Islam, Edisi Revisi, UII Press, Yogyakarta, 2001, halaman 132.

45 M. Idris Ramulya, Hukum Kewarisan Islam, IND HIIL & Co, 1984, halaman 35.

(37)

atau pembagian harta peninggalan dari seseorang yang telah meninggal dunia (pewaris) kepada orang lain sebagai ahli waris serta penentuan hak perolehan dari masing-masing ahli waris tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut para ulama Islam (mujtahid) menyimpulkan bahwa sistem hukum kewarisan dalam Islam meliputi tiga aspek bahasan yang utama, yaitu mengenai penentuan tirkah (harta peninggalan), penentuan ahli waris, serta penentuan besar bagian masing-masing ahli waris.46

Sejalan dengan ketentuan penjelasan Angka 37 pasal 49 huruf (b) Undang- undang Nomor 3 Tahun 2006 yang memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan waris adalah penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris, dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut, serta penetapan pengadilan atas permohonan seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, dan penentuan bagian masing-masing ahli waris. Kompilasi Hukum Islam yang menjadi pegangan para hakim di lingkungan peradilan dalam melaksanakan tugasnya menyelesaikan perkara di bidang kewarisan.

2. Dasar Hukum Kewarisan Islam

Dalam menguraikan prinsip-prinsip hukum waris berdasarkan hukum Islam, satu-satunya sumber tertinggi dalam kaitan ini adalah Al-Qur‟an dan sebagai pelengkap yang menjabarkannya adalah Hadis Nabi Muhammad ﷺ, serta hasil-hasil Ijtihad dari upaya para ahli hukum Islam terkemuka.47

Hukum kewarisan Islam secara mendasar merupakan ekspresi langsung dari teks-teks suci sebagaimana pula disepakati keberadaannya. Ada beberapa

46 Fatchur Rahman, Ilmu Mawaris¸ PT. Alma‟arif, Bandung, 1971, halaman 36. (disebut juga Fatchur Rahman 1)

47 Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia dalam Perspektif Islam, Adat, dan BW, PT Refika Aditama, Bandung, 2011, halaman 11.

(38)

ayat dan Hadis sebagai dasar dalam memahami ketentuan syarak yang mengatur tentang persoalan kewarisan ini, di antaranya adalah:48

a. Al-Qur‟an

Ayat-ayat kewarisan dalam Al-Qur‟an sebagai sumber hukum dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yakni ayat kewarisan pokok dan pembantu.49 Kelompok ayat kewarisan pokok semuanya terdapat dalam surat An-Nisa, antara lain :

1) Surat An-Nisa ayat 7, mengenai hak kewarisan laki-laki dan wanita.

2) Surat An-Nisa ayat 11, mengatur tentang perolehan anak, ibu, dan bapak, serta soal wasiat dan hutang.

3) Surat An-Nisa ayat 12, mengatur perolehan suami, istri, soal wasiat dan hutang, serta perolehan saudara-saudara dalam hal kalalah.

4) Surat An-Nisa Ayat 33, mengenai harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu, bapak, dan karib kerabat.

5) Surat An-Nisa ayat 176, menerangkan mengenai arti kalalah, dan mengatur mengenai perolehan saudara-saudara dalam hal kalalah.

Sedangkan dari ayat-ayat Al-Qur‟an yang merupakan Ayat pendukung kewarisan lainnya adalah :

1) Surat An-Nisa ayat 1, mengenai dzul arham (ahli waris yang mempunyai hubungan darah).

48 Wahidah, Op.Cit., halaman 20.

49 Idris Djakfar dan Taufiq Yahya, Kompilasi Hukum Kewarisan Islam, Pustaka Jaya, Jakarta, 1995, halaman 13.

(39)

2) Surat An-Nisa ayat 8, yang menegaskan tentang keharusan ulul qurba diberi rezeki dari harta peninggalan.

3) Surat Al-Baqarah ayat 180, yang mengatur tentang kewajiban seseorang yang akan meninggal dunia untuk berwasiat.

4) Surat Al-Baqarah ayat 233, tentang tanggung jawab Ahli waris.

5) Surat Anfal ayat 75, tentang Dzawil arham yang lebih dekat.

6) Surat Al-Ahzab ayat 6, tentang Dzawil arham yang lebih dekat.

7) Surat Al-Ahzab ayat 4 dan 5, tentang anak angkat.

b. Sunnah Nabi Muhammad ﷺ

As-Sunnah dari segi etimologi berarti tradisi dan perjalanan dan dalam arti teknis As-Sunnah identik dengan Al-Hadis. As-Sunnah adalah sumber hukum kedua setelah Al-Qur‟an, berupa perkataan (sunnah qauliyah), perbuatan (sunnah fi’liyah) dan sikap diam (sunnah taqririyah atau sunnah sukutiyah) yang tercatat sekarang dalam kitab-kitab Hadis.50 Meskipun Al-Qur‟an menyebutkan secara terinci bagian ahli waris, Sunnah Rasul menyebutkan pula hal yang tidak disebutkan dalam Al-Qur‟an antara lain Hadis riwayat Al- Bukhari:

Artinya:

“Muslim bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami, Ibn Tawus telah mengabarkan kepada kami dari ayahnya dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah ﷺ. bersabda; “Bagikanlah harta (warisan) itu di antara ahli waris yang berhak menurut ketentuan Allah.

50 Mohammad Daud Ali, Asas-asas Hukum Islam, Rajawali Pres, Bandung, 1991, halaman 66. (disebut juga Mohammad Daud Ali 2)

(40)

Adapun yang tersisa dari faridhah-faridhah itu adalah untuk laki- laki yang terdekat”. (HR Bukhari).51

c. Ijtihad

Dalam Al-Qur‟an telah diatur hukum kewarisan Islam secara terperinci, apabila terdapat ketentuan yang bersifat umum maka akan dijelaskan dengan Sunnah rasul. Kemudian terhadap masalah-masalah yang tidak terperinci dalam Al-Qur‟an maupun Al-Hadis maka akan dicari hukumnya dengan jalan Ijtihad. Ijtihad hanya dapat dilakukan terhadap suatu peristiwa yang tidak ada ketentuan ayatnya sama sekali maupun sesuatu peristiwa yang ada ketentuan ayatnya, namun tidak pasti. Karena bila peristiwa yang hendak ditetapkan hukumnya telah ditunjuk oleh dalil yang pasti kedatangannya dari syar‟i dan pasti penunjukannya kepada makna tertentu, maka tidak ada jalan untuk di- ijtihad-kan.52

Yang dimaksud ijtihad disini adalah dalam penerapan hukum, dan bukan dimaksudkan untuk mengubah pemahaman dan ketentuan yang ada. Apabila dalam pelaksanaan pembagian warisan terdapat kekurangan maka akan diatasi dengan cara aul (naikkan angka asal masalahnya) dan terdapat kelebihan maka dengan jalan radd (dikurangi asal masalahnya).

B. Rukun dan Syarat Waris 1. Rukun Kewarisan

a. Muwarits

51 Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al Bukhari, Sahih al Bukhari, t.tt: Maktabah Wahlan, t.th, Juz ke-4, halaman 2699-2700.

52 Idris Djakfar dan Taufiq Yahya, Op.Cit., halaman 24

(41)

Yaitu orang yang meninggalkan hartanya (pewaris). Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 171 huruf (b) disebutkan bahwa pewaris adalah orang yang pada saat meninggal atau dinyatakan meninggal berdasarkan Putusan Pengadilan Agama mempunyai ahli waris dan harta peninggalan, baik meninggal secara hakiki atau karena putusan hakim telah dinyatakan meninggal karena beberapa sebab dan meninggalkan sesuatu untuk keluarganya yang masih hidup.

b. Warits

Yaitu orang yang ada hubungan dengan orang yang telah meninggal seperti kekerabatan (hubungan darah) perkawinan. Adapun ahli waris adalah sebagai berikut :

1) Anak serta keturunan dari pewaris baik laki-laki maupun perempuan.

2) Orang tua yaitu ibu dan bapak dari pewaris yang meninggal dunia.

3) Saudara baik laki-laki maupun perempuan.

4) Suami dan istri.

c. Mauruts

Yaitu harta yang menjadi pusaka (warisan), harta ini dalam istilah fiqh mauruts, mirats, irts, turats, dan tirkah.53 Harta peninggalan disini adalah segala sesuatu yang ditinggalkan oleh pewaris yang menurut hukum dapat beralih kepada ahli warisnya. Oleh sebab itu, harta

53 Muhammad Hasbi Ash Shidieqy, Fiqih Mawaris, Cetakan ke-1, Edisi Kedua, PT.

Pusaka Rizki Putra, Semarang, 1997, halaman. 30 (disebut juga Muhammad Hasbi Ash Shidieqy 1)

(42)

tersebut merupakan hak milik sepenuhnya pewaris yang dapat diteruskan baik berwujud benda bergerak maupun benda tidak bergerak setelah dikurangi biaya perawatan dan hutang-hutang yang dimiliki oleh pewaris.

2. Syarat Kewarisan

Adapun beberapa persyaratan pembagian harta waris adalah sebagai berikut:54

a. Pewaris benar-benar telah meninggal, atau dengan keputusan hakim dinyatakan telah meninggal, misalnya orang yang tertawan dalam peperangan dan orang hilang (mafqud) yang telah lama meninggalkan tempat tanpa diketahui hal ihwalnya. Menurut pendapat ulama-ulama madzhab lain, terserah kepada ijtihad hakim dalam melakukan pertimbangan-pertimbangan dari berbagai macam segi kemungkinannya.

b. Ahli waris benar-benar masih hidup ketika pewaris meninggal, atau dengan keputusan hakim dinyatakan masih hidup disaat pewaris meninggal. Dengan demikian apabila dua orang saling mempunyai hak waris satu sama lain meninggal bersama-sama atau berturut-turut, tetapi tidak dapat diketahui siapa yang meninggal lebih dulu, maka diantara mereka tidak terjadi waris mewaris. Misalnya orang-orang yang meninggal dalam kecelakaan, tenggelam, kebakaran dan sebagainya.

c. Benar-benar dapat diketahui adanya sebab warisan pada ahli waris, atau dengan kata lain benar-benar dapat diketahui bahwa ahli bersangkutan

54 Ahmad Azhar Basyir, Op.Cit., halaman 16

(43)

berhak waris. Syarat ketiga ini disebutkan dalam suatu penegasan yang diperlukan, terutama dalam pengadilan meskipun secara umum telah disebutkan dalam sebab-sebab warisan.

C. Sebab dan Halangan Menerima Warisan 1. Sebab Menerima Warisan

Sebab-sebab terjadinya kewarisan sebagaimana yang dijelaskan Al- Qur‟an, oleh mufassirin dinyatakan bahwa faktornya ada tiga, yakni :55

a. Hubungan Kerabat/Nasab (Al-Qarabah)

Hubungan nasab atau hubungan darah ialah hubungan kekerabatan antara orang yang mewariskan dengan orang yang mewarisi, yang disebabkan oleh kelahiran, baik dekat ataupun jauh. Dalil-dalil kewarisan karena sebab ini antara lain terdapat dalam firman Allah ﷺ.

Dalam surat An-Nisa ayat 11, dan An-Nisa ayat 12. Ahli waris yang mewaris berdasarkan sebab ini, terbagi kepada 3 golongan yakni:

1) Furu’ul mayit (garis lurus keatas), 2) Usulul mayit (garis lurus kebawah), dan 3) Hawasyi (menyamping).56

Namun dalam hal ini, berlaku ketentuan ahli waris yang lebih dekat dapat menutupi (menghijab) ahli waris yang jauh.57

b. Hubungan Perkawinan (Al-Musaharah)

55 Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir al Maragi IV, Al-Halaby, Mesir, 1974, halaman 354. Dan Rasyid Ridha, halaman 403 sebagaimana dikutip dalam Ali Parman, Op.Cit., halaman 62.

56 Wahidah, Op.Cit., halaman 34-35.

57 Ahmad Rafiq, Hukum Islam di Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, halaman 398-399 (disebut juga Ahmad Rafiq 1)

(44)

Perkawinan yang sah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan baik menurut hukum agama, kepercayaan, maupun hukum negara, menyebabkan adanya hubungan saling mewarisi, apabila salah satunya meninggal dunia.58 Waris mewarisi akan tetap terjadi walaupun suami istri belum pernah bercampur.59 Perkawinan yang tidak sah atau perkawinan yang batal tidak menjadi sebab saling mewaris.60 Adapun dasar hukum hubungan perkawinan sebagai sebab saling mewarisi adalah surat An-Nisa ayat 12.

c. Hubungan Wala’

Al-Wala’ adalah hubungan kewarisan karena seseorang memerdekakan hamba sahaya, atau melalui perjanjian tolong menolong. Dalam KHI sebab ketiga ini tidak dicantumkan, karena dalam kehidupan sekarang ini di Indonesia perbudakan tidak diakui lagi keberadaannya.61 Karena itu sebab- sebab saling mewarisi menurut kompilasi hukum Islam terdiri dari dua hal pertama karena hubungan darah dan kedua karena hubungan perkawinan.

(pasal 174 ayat 1 KHI).62 2. Halangan Menerima Waris

Dalam Kompilasi Hukum Islam dinyatakan bahwa penghalang seseorang mendapatkan warisan ada dua hal yaitu pada pasal 173 ayat (a) dan (b). Adapun bunyinya sebagai berikut :

58 Ibid, halaman 400.

59 Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Fiqhul Mawaris Hukum-Hukum Warisan dalam Syari’at, Bulan Bintang, Jakarta, 1973, halaman 43. (disebut juga Muhammad Hasbi Ash Shidieqy 2)

60 A. Zaini Dahlan, Hukum Waris menurut Al-Qur’an dan Hadits, Trigenda Karya, Bandung, 1995, halaman 45.

61 Ahmad Rafiq 1, Op.Cit., halaman. 402.

62 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Akademika Pressindo, Jakarta, 1995, halaman. 156 – 157 (disebut juga Abdurrahman 1)

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian lapangan DAN analisa data dapat dilihat bahwa Lemigas melalui Urusan Penatausahaan PNBP telah melakukan banyak perubahan, seperti telah

Analisis data berisi uraian data yang diolah untuk proses pemilihan strategi permesinan (toolpath strategy), penentuan cutter yang digunakan, feedrate, spindel speed, plungerate

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) manakah yang memiliki prestasi belajar lebih baik, siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe

- Program tahun ke-2: di tahun kedua kami akan berfokus pada kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan awarness masyarakat pada isu sosial tertentu, dimana kami

Melihat data-data yang telah diuraikan mengenai sedikitnya masyarakat yang berbelanja di bulk store atau packaging free store, kurangnya kesadaran masyarakat di

Adapun hal-hal yang dilakukan pada analisis total sulfur di dalam sampel feed gas dengan menggunakan dua standar adalah pengukuran linearity, akurasi yaitu persen recovery dan

Mata kuliah dalam lingkup Ujian Lokal, yang nilainya kelak tercantum dalam Transkrip Nilai Ujian Negara/Unas, meliputi:5. Teologi PL dan PB

Pada zona publik, yang dimana dapat diakses oleh semua pengguna hanya terdapat pada zona parkir kendaraan, sedangkan untuk zona lainnya merupakan zona semi-publik