• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISU-ISU STRATEGIS PENATAAN RUANG JAWA BARAT

MATERI TEKNIS RTRW PROVINSI JAWA BARAT 2009-2029 TABEL 1.20

DAERAH RAWAN LONGSOR

1.6 ISU-ISU STRATEGIS PENATAAN RUANG JAWA BARAT

Kondisi Jawa Barat yang penuh dinamika menghadirkan tantangan dan tuntutan yang berbeda dengan wilayah lainnya. Kondisi penduduk yang terus tumbuh, kebutuhan perumahan yang meningkat, penurunan luasan budidaya pangan, ekspansi investasi yang juga memerlukan ruang serta kondisi kebencanaan di wilayah Jawa Barat memunculkan tantangan yang berbeda. Selain itu kebutuhan ruang untuk pengembangan perkotaan dan perdesaan perlu menjadi bahan pemikiran dalam merancang dan membangun ruang Jawa Barat dimasa yang akan datang.

Kewenangan provinsi dalam penyelenggaraan penataan ruang adalah pengaturan, pembinaan dan pengawasan terhadap penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota, pelaksanaan penataan ruang wilayah provinsi, pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis, kerjasama penataan ruang antar provinsi, serta memfasilitasi kerjasama penataan ruang antar kabupaten/kota. RTRWP merupakan penjabaran strategi

MATERI TEKNIS RTRW PROVINSI JAWA BARAT 2009-2029

dan arahan kebijakan penyelenggaraan penataan ruang nasional di wilayah provinsi, yang mengacu kepada pedoman bidang penataan ruang dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), agar tercapai keselarasan dengan rencana pembangunan daerah serta saling melengkapi (komplementer) dengan rencana tata ruang di tingkat nasional dan daerah.

Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Dengan kata lain, penataan ruang diharapkan mampu mengharmonisasi lingkungan alami dan buatan, menterpadukan penggunaan sumber daya serta melindungi fungsi ruang demi mencegah dampak negatif yang mungkin diterima lingkungan sebagai akibat dari pemanfaatan ruang.

Terdapat beberapa isu stategis yang perlu disikapi dalam penataan ruang Jawa Barat. Isu tersebut meliputi perkembangan global ataupun fenomena global yang perlu disikapi, yaitu ekonomi dunia yang diperkirakan dapat mempengaruhi ataupun dapat menjadi peluang perkembangan ekonomi Jawa Barat baik berupa peluang investasi maupun peluang pasar bagi produk Jawa Barat, kemudian isu global warming yang ternyata sangat menentukan ketahanan hidup suatu bangsa, termasuk mengenai daya dukung lingkungan baik udara, laut, daratan, dan air, yang mempengaruhi iklim setempat dan dunia, termasuk juga sikap Jawa Barat terhadap pemanfaatan industri dan teknologi yang polutif. Isu lainnya meliputi perkembangan penduduk yang walaupun lajunya dapat ditekan namun secara jumlah tetap meningkat cukup tajam dan diperkirakan pada tahun 2029 akan mencapai jumlah 54,1 juta jiwa dengan sebaran sebanyak 81,4% berada di perkotaan. Dampaknya antara lain akan terjadi kecenderungan alih fungsi lahan yang menuju kepada penurunan daya dukung lingkungan. Sehingga, perlu dilakukan optimalisasi penggunaan lahan agar daya dukung lahan, udara, air dan ketersediaan pangan tetap dapat terjaga. Sebaliknya, kualitas dan kuantitas pelayanan prasarana dan sarana, baik yang dasar maupun wilayah, masih rendah. Perkotaan yang tidak dilengkapi

dengan fasilitas yang memadai akan mendorong suatu fenomena primate city (kampung

besar) dan bukan kehidupan urban yang efisien yang diharapkan sebelumnya.

Selain kawasan yang memiliki arti strategis secara nasional, Jawa Barat memiliki lokasi-lokasi yang dipandang strategis dalam skala provinsi. Kawasan tersebut antara lain: wilayah pantai utara yang merupakan kawasan pertanian dan lumbung pangan Jawa Barat dan nasional, wilayah pantai selatan yang merupakan kawasan yang potensial untuk perkebunan dan kawasan konservasi bagi beberapa DAS yang menjadi sumber

MATERI TEKNIS RTRW PROVINSI JAWA BARAT 2009-2029

cadangan air Jawa Barat, 6 (enam) Kawasan Andalan Jawa Barat dengan masing-masing sektor pengembangannya, jalur penghubung antar PKN-PKW yang ada saat ini, serta pengembangan koridor penghubung Cekungan Bandung-Kertajati-Cirebon (Tol Cisumdawu).

Beberapa tuntutan yang harus dipenuhi RTRWP Jabar ke depan adalah penyediaan ruang untuk investasi (insfrastruktur dan kawasan strategis), ruang untuk kebutuhan kawasan lindung dan kebutuhan pangan, ruang untuk distribusi penduduk (pengembangan desa dan kota), serta ruang untuk mitigasi bencana.

Pengembangan ruang untuk investasi diperlukan dengan pemikiran bahwa investasi merupakan salah satu alat yang dapat digunakan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keamanan wilayah, investasi dan kesejahteraan merupakan suatu rantai yang tak terpisahkan. Keamanan wilayah tidak mungkin terlaksana dengan baik apabila tidak ada iklim investasi, investasi tidak mungkin terjamin jika tidak ada kesejahteraan masyarakat, dan keamanan wilayah tidak mungkin tercapai jika tidak ada percepatan dan penambahan investasi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan dalam pemanfaatan investasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sangat tergantung pada pihak-pihak yang berada langsung di lapangan.

Ruang untuk kebutuhan mitigasi di landasi kenyataan bahwa Jawa Barat, sebagaimana Pulau Jawa pada umumnya, berada dalam jalur pegunungan berapi aktif

yang disebut Ring Of Fire. Selain itu, terdapat beberapa patahan yang melingkupi

Metropolitan Bandung yang bila mengalami pergeseran dapat mengakibatkan bencana yang serius. Kemudian, beberapa lokasi di pesisir rawan bencana abrasi dan tsunami, tentunya, serta daerah rawan gerakan tanah yang meliputi hampir seluruh bagian tengah dan selatan Jawa Barat. Merupakan kenyataan bahwa kita hidup di daerah rawan bencana, yang memerlukan kesiapan dan langkah-langkah yang selayaknya menjadi perhatian dalam penataan ruang dan pengembangan wilayah. Pengembangan ruang untuk kebutuhan pangan dan kawasan lindung diperlukan untuk mengantisipasi pertumbuhan penduduk (serta konsekwensi kebutuhan pangan dari pertumbuhan itu) dan mempertahankan daya dukung lingkungan untuk keberlanjutan kehidupan yang nyaman dan produktif dari masyarakat Jawa Barat. Ruang untuk kebutuhan distribusi penduduk didasari pemikiran bahwa pertumbuhan penduduk yang ada perlu diantisipasi dengan kecukupan sarana dan prasarana yang memadai dan tersebar secara berimbang. Pengembangan jaringan jalan dan pengembangan sarana-prasarana umum akan

MATERI TEKNIS RTRW PROVINSI JAWA BARAT 2009-2029

meningkatkan pergerakan orang dan barang serta perekonomian. Namun, perkembangan ini juga akan mendorong perubahan pusat-pusat kegiatan dan pusat pelayanan yang berada dalam jaringan tersebut dan akan menjadi timpang apabila seluruh sumberdaya dipusatkan di perkotaan. Tingkat urbanisasi yang tinggi akan menimbulkan kekosongan tenaga kerja di perdesaan, yang akan memicu terjadinya perkembangan perkotaan ke

segala arah (sprawl) dan memicu munculnya kekumuhan di kawasan perkotaan/wilayah

padat di perkotaan. Maka, perlu dipertimbangkan bentuk penataan jaringan dan pengembangan pelayanan umum dengan skala perkotaan di perdesaan, yang diharapkan dapat membentuk pusat-pusat ekonomi baru di perdesaan dan menekan urbanisasi yang terjadi karena tekanan ekonomi. Pengembangan fasilitas pelayanan skala kota juga diharapkan menjadi pendorong masyarakat perdesaan untuk tetap berdiam dan berusaha di tempat yang sama. Dengan demikian diharapkan perekonomian perdesaan berkembang dengan menekan kemungkinan terjadinya penyedotan sumberdaya dari perdesaan ke perkotaan.

Kemantapan sektor energi yang sudah tercapai perlu terus terjaga dan ditingkatkan sehingga pasokan energi terpeliharaan, kemantapan dan kemandirian energi diperdesaan serta mantapnya kemampuan masyarakat dalam pembangunan energi. Pada bidang Infrastruktur Wilayah, diperlukan pemantapan infrastruktur wilayah yang telah terbangun, dengan tetap memperhatikan kualitas kerjasama pemerintah dengan swasta dan masyarakat, sebagai stakeholder pembangunan. Diperlukan peningkatan kualitas dan kuantitas jaringan infrastruktur transportasi yang handal dan terintegrasi, pengembangan

sistem transportasi massal (Mass Rapid Transport), kemantapan pemenuhan kebutuhan

air baku untuk berbagai keperluan, kemantapan pengendalian banjir dan kekeringan, ketersediaan jaringan irigasi yang berkelanjutan, kemantapan pelayanan telekomunikasi, pemenuhan kebutuhan air bersih dan sanitasi serta pemenuhan kebutuhan rumah bagi masyarakat.

Penataan ruang Jawa Barat diharapkan dapat mewujudkan pemerataan pembangunan antarwilayah di Jawa Barat, sehingga tidak terdapat lagi daerah tertinggal di seluruh wilayah Jawa Barat. Diharapkan seluruh masyarakat Jawa Barat telah menikmati sarana dan prasarana baik dasar maupun yang bersifat pelayanan wilayah baik di perkotaan maupun perdesaan. Penyelenggaraan Penataan Ruang dituntut dapat dilaksanakan melalui koordinasi yang mantap dan sistematis baik dalam pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang, di semua tingkat

MATERI TEKNIS RTRW PROVINSI JAWA BARAT 2009-2029

pemerintahan (Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota) didukung dengan infrastruktur data spasial yang mutakhir.

Pada masa yang akan datang, tantangan yang dihadapi dalam pengembangan sarana dan prasarana wilayah di Jawa Barat adalah meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanan meliputi pengembangan angkutan umum massal terutama untuk kota-kota yang berpenduduk padat; pengembangan jaringan jalan yang efektif dan efisien, baik berupa jaringan jalan tol maupun non tol yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan utama dalam skala regional dan lokal; pengaturan hierarki peran serta fungsi jaringan transportasi yang lebih baik agar menghasilkan pergerakan yang efisiensi dan efektif; peningkatan pelayanan bandara-bandara yang telah ada dan mengembangkan bandara baru yang lebih tinggi kapasitas layanannya untuk menunjang perkembangan kegiatan perekonomian dan kegiatan-kegiatan lainnya; peningkatan sarana dan prasarana pelabuhan yang ada dan mengembangkan pelabuhan baru; revitalisasi dan pengembangan jaringan jalan rel untuk melayani pergerakan dalam kota dan antarkota; pengembangan infrastruktur penampung air baku, baik yang bersifat alami maupun buatan untuk meminimalisasi terjadinya bencana banjir dan kekeringan; peningkatan layanan jaringan irigasi untuk menjamin keberlanjutan sistem irigasi serta meningkatkan intensitas tanam padi sawah serta menjaga alih fungsi lahan sawah beririgasi teknis dalam mempertahankan Jawa Barat sebagai lumbung padi; pengembangan jaringan telekomunikasi baik yang menggunakan jaringan kabel maupun nirkabel, terutama pada daerah yang teledensitasnya masih rendah; pengembangan sarana dan prasarana dasar pemukiman, berupa pengembangan rumah susun, meningkatkan cakupan pelayanan air bersih, dan sanitasi lingkungan serta pengembangan pengelolaan sampah yang berskala regional. Tantangan lain yang dihadapi dalam pengembangan sarana dan prasarana wilayah adalah meningkatkan efisiensi dan efiktivitas pengelolaan sarana dan prasarana wilayah antara lain dengan mengoptimalkan kerjasama antara pemerintah dan swasta serta kemampuan lembaga pengelola.

Selain itu diperlukan konsistensi yang terjaga antara perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian pemanfaatan ruang dalam jangka panjang. Penataan ruang ke depan perlu mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lahan serta kerentanan terhadap bencana alam. Aspek regulasi yang jelas diperlukan agar tidak terjadi konflik pemanfaatan ruang antar sektor. Tantangan lainnya adalah mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah khususnya antara wilayah di perkotaan dan perdesaan

MATERI TEKNIS RTRW PROVINSI JAWA BARAT 2009-2029

khususnya yang berada di Selatan Jawa Barat dan menyeimbangkan Pusat Kegiatan Nasional, Pusat Kegiatan Wilayah dan Pusat Kegiatan Lokal sehingga dapat berkembang secara merata dan optimal.

Tantangan aspek pola tata ruang adalah penyediaan kebutuhan lahan untuk kawasan permukiman terutama di kawasan perkotaan dalam kondisi luasan lahan yang ada sangat terbatas karena adanya kawasan lindung yang tidak boleh berubah fungsi dan adanya lahan sawah yang juga harus dipertahankan keberadaannya. Selain itu pengelolaan kawasan perkotaan akan menjadi tantangan tersendiri dalam mengatur aktivitas perkotaan dan memenuhi penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dengan tetap memperhatikan prinsip pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.

Tantangan besar yang dihadapi Provinsi Jawa Barat sampai tahun 2029 adalah memulihkan dan menguatkan kembali daya dukung lingkungan dalam pelaksanaan pem-bangunan. Bersamaan dengan itu keterlibatan seluruh potensi masyarakat untuk melakukan berbagai penguatan bagi terwujudnya perilaku dan budaya ramah lingkungan serta sadar risiko bencana perlu terus ditumbuhkembangkan. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan dengan prinsip berkelanjutan menjadi tumpuan bagi upaya peningkatan kualitas lingkungan hidup ke depan. Pendayagunaan sumber daya alam harus dilakukan seefektif dan seefisien mungkin, ditopang IPTEK yang memadai sehingga memberikan nilai tambah yang berarti.

Jawa Barat dengan keanekaragaman potensi sumber daya alamnya tidak hanya menjadi pengekspor sumber daya alam bernilai rendah dan mengimpornya kembali dalam bentuk produk bernilai tinggi, melainkan harus menjadi pengekspor sumber daya alam yang telah diolah dan bernilai tinggi.

Pembiayaan penataan lingkungan merupakan aspek penting yang selama ini sulit dilaksanakan karena terkait kerja sama dan komitmen antarpihak atau antar daerah. Penerapan prinsip yang mencemari dan merusak harus membayar, pola pembagian peran hulu hilir atau pusat-daerah, bagi hasil pajak untuk lingkungan, dana lingkungan, serta pola pembiayaan pemulihan lingkungan harus mulai dilakukan. Pengawasan secara berkesinambungan dan penegakan hukum secara konsisten adalah sasaran dalam rangka pemulihan daya dukung lingkungan lebih maksimal. Pemahaman risiko bencana harus mulai diintegrasikan pada proses pembangunan ke depan, guna meminimalisasi risiko dan kerugian yang mungkin timbul atas hasil pembangunan yang dicapai.

MATERI TEKNIS RTRW PROVINSI JAWA BARAT 2009-2029

Pada masa yang akan datang, tantangan yang dihadapi dalam pengembangan sarana dan prasarana wilayah di Jawa Barat adalah meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanan meliputi pengembangan angkutan umum massal terutama untuk kota-kota yang berpenduduk padat; pengembangan jaringan jalan yang efektif dan efisien, baik berupa jaringan jalan tol maupun non tol yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan utama dalam skala regional dan lokal; pengaturan hierarki peran serta fungsi jaringan transportasi yang lebih baik agar menghasilkan pergerakan yang efisiensi dan efektif; peningkatan pelayanan bandar udara yang telah ada dan mengembangkan bandar udara baru yang lebih tinggi kapasitas layanannya untuk menunjang perkembangan kegiatan perekonomian dan kegiatan-kegiatan lainnya; peningkatan sarana dan prasarana pelabuhan yang ada dan mengembangkan pelabuhan baru; revitalisasi dan pengembangan jaringan jalan rel untuk melayani pergerakan dalam kota dan antarkota; pengembangan infrastruktur penampung air baku, baik yang bersifat alami maupun buatan untuk meminimalisasi terjadinya bencana banjir dan kekeringan; peningkatan layanan jaringan irigasi untuk menjamin keberlanjutan sistem irigasi serta meningkatkan intensitas tanam padi sawah serta menjaga alih fungsi lahan sawah beririgasi teknis dalam mempertahankan Jawa Barat sebagai lumbung padi; pengembangan jaringan telekomunikasi baik yang menggunakan jaringan kabel maupun nirkabel, terutama pada daerah yang teledensitasnya masih rendah; pengembangan sarana dan prasarana dasar pemukiman, berupa pengembangan rumah susun, meningkatkan cakupan pelayanan air bersih, dan sanitasi lingkungan serta pengembangan pengelolaan sampah yang berskala regional. Tantangan lain yang dihadapi dalam pengembangan sarana dan prasarana wilayah adalah meningkatkan efisiensi dan efiktivitas pengelolaan sarana dan prasarana wilayah antara lain dengan mengoptimalkan kerjasama antara pemerintah dan swasta serta kemampuan lembaga pengelola.

Hal penting lainnya adalah bagaimana mewujudkan ruang Jawa Barat yang berdaya saing bagi investor dan investasi yang layak dan penting dikembangkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat. Dalam hal ini penting mempertimbangkan posisi Jawa Barat dalam persaingan lokal, regional maupun global. Kemampuan wilayah untuk bersaing dalam kompetisi global akan sangat mempengaruhi kemajuan ekonomi wilayah secara umum. Daya saing ini bukan hanya daya saing sebagai pasar namun juga daya saing sebagai wilayah investasi dan produsen. Secara kasat mata Jawa barat memang merupakan potensi pasar yang meyakinkan bila dipandang dari

MATERI TEKNIS RTRW PROVINSI JAWA BARAT 2009-2029

besarnya jumlah penduduk. Namun perlu juga disadari pentingnya menjadikan wilayah tersebut memiliki daya tarik ekonomi untuk mendayagunakan potensi yang dimiliki untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat.

Dokumen terkait