• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN 1.5. Maksud dan Tujuan

ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

4.2. ISU STRATEGIS

Berdasarkan permasalahan pembangunan Sumatera Barat yang masih dihadapi dan mempertimbangkan janji politik yang perlu diwujudkan, maka ditetapkan isu-isu strategis pembangunan daerah yang mempunyai pengaruh besar terhadap pencapaian sasaran pembangunan nasional yang menjadi tanggungjawab pemerintah daerah dan memiliki daya ungkit untuk untuk percepatan pembangunan daerah. Isu-isu strategis daerah tersebut adalah sebagai berikut:

4.2.1. Pembangunan Mental dan Peningkatan Pengamalan Nilai-nilai Adat dan Agama

Pembangunan fisik kalau tidak diiringi dengan pembangunan mental dan peningkatan penerapan nilai-nilai adat serta agama tidak akan memberi hasil yang maksimal untuk kemajuan Sumatera Barat. Perhatian terhadap pembangunan mental dan penerapan nilai-nilai adat dan pengamalan ajaran agama menjadi lebih penting bagi daerah untuk menangkis pengaruh negatif keterbukaan informasi melalui media sosial dan masuknya budaya-budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Pembangunan bidang ini sangat selaras dengan konsep nawacita yang diusung oleh Presiden Jokowi dan Wakil Presien M. Jusuf Kalla dalam rangka menyiapkan generasi muda Sumatera Barat yang cerdas, berkarakter, berdaya saing dan mewujudkan masyarakat madani yang aman, damai, tentram, harmonis, beriman dan bertakwa.

Pembangunan mental dan penerapan nilai-nilai agama yang perlu mendapat penekanan adalah peningkatan implementasi kesalehan sosial dalam hidup bermasyarakat, mengoptimalkan fungsi kelembagaan agama dan adat dalam penanganan masalah sosial dan kemasyarakatan, meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai adat dan budaya daerah ditengah kehidupan masyarakat, serta menghasilkan sumberdaya manusia yang cerdas dan berkarakter, memahami nilai-nilai agama dan adat budaya daerah.

4.2.2. Penanganan Bencana Alam

Sumatera Barat yang rawan terhadap berbagai bencana alam dapat menghambat percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk mengantisipasi hambatan tersebut, perhatian untuk mengurangi resiko, penanggulangan bencana dan pemulihan daerah yang terkena bencana harus menjadi lebih besar. Dengan menjadikan penanganan bencana alam sebagai salah satu isu strategis pembangunan Sumatera Barat memberi indikasi kepada publik, calon investor dan wisatawan bahwa pemerintah Sumatera Barat akan memberi perhatian lebih besar dari segala aspek untuk penanganan bencana alam. Pada giliran berikutnya keraguan pihak-pihak berkepentingan untuk menanamkan investasi, mengadakan kegiatan bisnis, kunjungan wisata, kegiatan akademik dan kegiatan di Sumatera Barat akan hilang dan aliran investasi serta jumlah kunjungan wisata akan mengalami peningkatan yang luar biasa dalam lima tahun mendatang.

4.2.3. Pengurangan Tingkat Kemiskinan dan Ketimpangan Pembangunan Antar Daerah

Kemiskinan dan ketimpangan pembangunan daerah masih merupakan isu penting bagi Sumatera Barat, meskipun sudah terjadi penurunan tingkat kemiskinan dan ketimpangan pembangunan antar daerah selama periode 2010-2015. Persoalan kemiskinan yang dihadapi saat ini sudah bergeser untuk menanggulangi tingkat keparahan dan tingkat kedalaman kelompok masyarakat yang miskin. Untuk mengeluarkan atau membebaskan kelompok masyarakat dari kemiskinan diperlukan upaya yang lebih besar lagi dari yang telah dilakukan sebelum ini. Jika kelompok masyarakat miskin dapat diatasi, maka tujuan Sumatera Barat bebas dari kemiskinan dalam arti yang sesungguhnya dapat diwujudkan.

Selanjutnya Sumatera Barat juga ingin mewujudkan keinginan untuk menjadi provinsi yang bebas dari daerah tertinggal. Saat ini masih terdapat tiga daerah tertinggal (Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Solok Selatan dan Pasaman Barat). Ketiga daerah kabupaten ini mempunyai karakteristik yang relatif berbeda, tetapi sama-sama menghadapi keterbatasan akses untuk keluar masuk, infrastruktur dan kualitas sumberdaya manusia yang dapat menggerakan kegiatan ekonomi dan percepatan pembangunan. Untuk membebaskan ketiga daerah kabupaten ini dari ketertinggalannya, diperlukan dana yang besar dan usaha yang terintegrasi, fokus, terukur dan tepat sasaran.

4.2.4. Penguatan Struktur Ekonomi Daerah

Untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat diperlukan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada sektor-sektor produktivitas tinggi dan menyerap banyak lapangan kerja. Transformasi ekonomi Sumatera Barat yang terjadi selama ini kurang ideal untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi kesenjangan pendapatan. Peranan sektor pertanian telah mengalami penurunan selama periode 2011-2015, namun tidak diikuti dengan kenaikan peranan sektor industri pengolahan dan justru peranan sektor-sektor jasa yang mempunyai nilai tambah rendah yang mengalami perkembangan. Oleh sebab itu penguatan struktur ekonomi dijadikan isu strategis dalam rangka lebih menumbuh kembangkan industri pengolahan pertanian, industri kerajinan dan industri pariwisata untuk mendorong penguatan dan perubahan struktur ekonomi Sumatera Barat.

4.2.5. Peningkatan Infrastruktur

Sumatera Barat mempunyai daya saing daerah yang belum mencukupi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengembangan usaha. Salah satu faktor penghalang adalah rendahnya ketersediaan infrastruktur; jalan, listrik, transportasi, (darat, laut, udara, kereta api), pantai, sungai, irigasi, perumahan/permukiman, bangunan gedung serta prasarana air minum sanitasi. Oleh sebab itu peningkatan pembangunan infrastruktur perlu diarahkan untuk untuk meningkat daya saing daerah, sehingga menarik bagi investor untuk mengembangkan berbagai usaha di Sumatera Barat.

IV - 11

Kemajuan pembangunan infrastruktur yang telah dicapai selama tahun 2010-2015 masih belum mampu untuk meningkatan daya saing daerah dan untuk menghilangkan berbagai stigma negatif yang sering dilontarkan berbagai pihak terhadap Sumatera Barat, seperti tidak menarik untuk investasi dan untuk dikunjungi. Ketersediaan infrastruktur yang belum memadai tersebut menimbulkan beban bagi masyarakat dan dunia usaha dalam mobilisasi barang, sumber-sumber produksi dan orang.

Peningkatan pembangunan infrastruktur ini juga diperlukan untuk mengatasi kesenjangan pembangunan antar daerah, peningkatan koneksitas regional dan nasional, serta untuk menguatkan posisi Sumatera Barat sebagai pusat pengembangan wilayah pantai barat Sumatera. Selain dari itu, pembenahan dan pengembangan transportasi publik juga harus menjadi perhatian untuk mengurangi beban arus distribusi barang dan memperkuat konektivitas antar wilayah

Tuntutan peningkatan infrastruktur saat ini tidak hanya pada infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur non fisik dan teknologi informasi untuk mendukung dunia usaha dan mampu menjangkau daerah-daerah tertinggal. Dengan demikian komunikasi antara instansi pemerintah, masyarakat dan penyebaran informasi dapat terlaksana dengan lebih intensif.

4.2.6. Peningkatan Penyelenggaraan Pemerintahan Yang Baik

Pemerintahan yang baik dan bersih merupakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk menyelenggarakan pemerintahan yang baik dan memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat. Untuk mendukung terlaksananya pemerintah yang baik dan bersih diperlukan peningkatan integritas dan kinerja aparatur pemerintah dalam pelayanan publik, memantapkan sistem manajemen kepegawaian dan menyiapkan perangkat sistem kepegawaian daerah berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

Penyelenggaraan pemerintah yang baik dan bersih juga tidak terlepas dari keterbukaan informasi kepada publik dan keterlibatan serta partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Oleh sebab itu perlunya pembangunan sistem informasi yang dapat diakses oleh publik dan menyiapkan sistem penyelenggaraan pemerintah yang dapat membuka ruang yang lebih besar untuk partisipasi masyarakat.

4.2.7. Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia

Kualitas sumberdaya manusia adalah faktor penentu kemajuan suatu negara dan daerah. Kualitas sumberdaya manusia dapat dibedakan atas kualitas fisik dan non fisik. Kedua kualitas ini akan mempengaruhi produktivitas dan kemampuan untuk bersaing. Pentingnya isu peningkatan kualitas sumberdaya manusia adalah untuk mengatasi ketimpangan kualitas sumberdaya manusia antar daerah di Sumatera Barat dan untuk menyiapkan generasi muda yang siap bersaing di berbagai sektor.

Untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Sumatera Barat diperlukan pembenahan pembangunan pendidikan, kesehatan dan lingkungan seperti peningkatan pemerataan dan kualitas pendidikan, peningkatan derajat kesehatan dengan menekan angka kematian bayi dan ibu melahirkan.

4.2.8. Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil, Menengah dan Koperasi

Pemberdayaan usaha mikro kecil, menengah dan koperasi (UMKMK) menjadi isu pembangunan daerah karena bahagian terbesar yang menggerakan ekonomi Sumatera Barat adalah usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi. Jika UMKMK tidak mengalami perkembangan, maka perlambatan pertumbuhan ekonomi dan penurunan kesempatan kerja akan terjadi di Sumatera Barat. Oleh sebab itu isu pemberdayaan UMKMK perlu dikaitkan dengan peningkatan daya saing dan produktivitas, pembenahan manajemen, dan kelembagaan, penguasaan teknologi, inovasi dan diversifikasi produk, peningkatan akses produk dan perluasan pasar, dukungan dan fasilitas dari pemerintah

4.2.9. Peningkatan Ketahanan Pangan

Salah satu kekhawatiran dalam hal pangan adalah rendahnya diversifikasi konsumsi pangan di Sumatera Barat dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia dan tidak terpenuhinya kebutuhan pangan yang terus meningkat akibat pertambahan penduduk dan peningkatan pendapatan masyarakat. Oleh sebab itu untuk menghilangkan kekhawatiran ini, peningkatan produktivitas dan pemenuhan kebutuhan pangan menjadi isu penting bagi kehidupan masyarakat.

Untuk pemenuhan kebutuhan pangan, Sumatera Barat perlu berupaya untuk menjadi provinsi penghasil pangan nasional untuk mendukung kedaulatan pangan. Dalam hal ini perlu dilakukan penataan terhadap strategi produksi, distribusi dan konsumsi pangan yang sehat beragam, bergizi, seimbang, aman dan utuh dengan memperhatikan konsep ramah lingkungan, berbasis sumberdaya lokal dan pembangunan berkelanjutan. Selanjutnya surplus pangan yang diperdagangkan perlu mengutamakan prinsip keadilan yang mampu memberi penghasilan yang lebih kepada produsen pangan yang umumnya berskala kecil dan mengupayakan pengembangan pola konsumsi yang tidak hanya tergantung pada beras atau diversifikasi produk pangan dari produksi lokal

4.2.10. Pemanfaatan Potensi Kelautan dan Kemaritiman

Dalam upaya pemanfaatan potensi kelautan dan kemaritiman guna meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat adalah dengan memanfaatkan potensi kelautan dan kemaritiman secara optimal dengan peningkatan sumberdaya manusia, menyediakan sarana dan prasarana seperti penyediaan armada dan alat tangkap di bidang perikanan serta sarana prasarana untuk pariwisata bahari dan sarana transportasi untuk pembangunan kemaritiman. Dengan demikian potensi kelautan dan kemaritiman di bidang usaha perikanan, pariwisata serta transportasi dan usaha lainnya akan dapat dimanfaatkan.

4.2.11. Pengurangan Pengangguran

Pengurangan pengangguran menjadi isu pembangunan daerah karena pengangguran menjadi hambatan dalam pembangunan dan menambah beban tanggungan yang berat bagi rumah tangga dan daerah serta berkaitan dengan kemiskinan. Untuk penanganan pengangguran di Sumatera Barat diperlukan pembenahan pada sisi penawaran dan permintaan tenaga kerja. Aspek yang perlu

IV - 13

mendapat perhatian dari sisi penawaran adalah peningkatan kualitas dan kompentensi tenaga kerja sehingga cocok dengan permintaan di pasar kerja, pengembangan informasi pasar kerja, pembenahan balai latihan yang dapat menghasilkan dan mengembangkan wirausaha baru untuk sektor UMKMK dan perlindungan terhadap tenaga kerja.

Aspek yang perlu mendapat perhatian dari sisi permintaan tenaga kerja adalah meningkatkan dan membuka lapangan kerja baru dan alternatif bagi pekerja yang masuk kategori setengah pengangguran. Membuka lapangan kerja tentu memerlukan pengembangan berbagai sektor yang dapat diunggulkan Sumatera Barat seperti sektor pariwisata, kelautan dan kemaritiman dan konstruksi bangunan.

4.2.12. Globalisasi dan Peningkatan Daya Saing Daerah

Terbukanya pasar bebas di era globalisasi baik regional maupun internasional, seperti Asean Economic Community (AEC) dan Asean China Free Trade Area (ACFTA) menjadi potensi dan peluang untuk meningkatkan perekonomian nasional dan daerah. Peluang akses pasar untuk produk-produk Sumatera Barat terbuka cukup besar terutama ke negara Asean dan China. Untuk itu, upaya pemanfaatan pasar global tersebut guna percepatan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat perlu diiringi dengan peningkatan daya saing daerah yang ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur dan sumberdaya manusia yang berkualitas serta tingkat keamanan yang tinggi. Infrastruktur yang tersedia saat ini belum dapat mengimbangi kebutuhan dan tuntutan masyarakat dan dunia usaha, sehingga masyarakat dan dunia usaha menanggung beban yang tinggi dalam penyediaan produksi dan mobilisasi sumberdaya ke dalam dan ke luar Sumatera Barat.

Selanjutnya peningkatan daya saing daerah tidak hanya menyangkut pembenahan infrastruktur, tetapi juga pembenahan pada sumberdaya manusia, kelembagaan dan perilaku masyarakat dalam merespon program dan kegiatan pembangunan. Oleh sebab itu peningkatan daya saing daerah perlu dirumuskan sedemikian rupa dengan mengintegrasikan dengan pembangunan bidang-bidang lainya.

4.2.13. Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup

Peningkatan kualitas lingkungan hidup dijadikan isu pembangunan agar pembangunan yang akan dilaksanakan berbasis daya dukung dan daya tampung. Fakta selama ini menunjukan bahwa kegiatan pembangunan dan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat memberi tekanan terhadap kualitas udara, air (sungai, danau), kawasan hutan, alih fungsi lahan terutama lahan sawah menjadi peruntukan lain, berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan meningkatnya pencemaran akibat berbagai macam limbah.

Pembangunan dan pengembangan berbagai sektor yang akan dilaksanakan di masa mendatang harus dipastikan tidak merusak dan tidak berdampak negatif terhadap lingkungan. Untuk mewujudkan hal ini, konsep pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau (green economy) perencanaan tata ruang perlu menjadi acuan semua pihak-pihak yang berkepentingan.