• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN 1.5. Maksud dan Tujuan

GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

B. Belanja Daerah

3.2.1. Proporsi Penggunaan Anggaran

Selama periode tahun 2010-2015, terjadi peningkatan belanja aparatur Rp 531.932 juta pada tahun 2010 menjadi Rp. 772,736 juta lebih pada tahun 2015 dengan kenaikan rata-rata sebesar 7,78 % per tahun seperti yang diperlihatkan pada Tabel 3.5. Peningkatan belanja aparatur ini tentu juga untuk meningkatkan kinerja aparatur dalam menjalankan pelaksanaan tugas sehari-hari untuk memberi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Jika ditelusuri lebih jauh, peningkatan yang cukup tinggi terdapat pada belanja pegawai rumah sakit daerah (BLUD) untuk keperluan insentif pada jasa tindak medik yang terus mengalami kenaikan sejalan dengan terjadinya peningkatan pendapatan pada rumah sakit yang telah BLUD. Selain itu juga terdapat peningkatan belanja penerimaan anggota dan Pimpinan DPRD serta operasional KDH/WKDH serta peningkatan belanja tambahan penghasilan yang merupakan peningkatan tunjangan kinerja sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja aparatur.

Tabel 3.5

Realisasi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 - 2015

( Dalam Rp juta )

No Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Pertumbuhan Rata-Rata

(%) I Belanja Tidak Langsung

Belanja Pegawai 452.838 490,300 524,517 562.988 598.043 672.707 8,2

1 Belanja Gaji dan Tunjangan 327.188 360.834 387.655 400.912 427.380 465.146 7,31 2 Belanja Tambahan

Penghasilan 91.901 90.109 100.003 119.580 126.289 162.418 12,56 3 Belanja Penerimaan Anggota

dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH 5.227 8.113 8.319 8.448 9.069 9.492 14,26 4 Insentif Pemungutan 28.521 30.498 27.814 33.498 34.648 35.193 4,71 5 Insentif Pemungutan Retribusi Daerah 0 96 129 113 195 200 6 Penghasilan Lain 730 650 596 437 460 458 (8,22)

III - 8

No Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Pertumbuhan Rata-Rata

(%) II Belanja Langsung

Belanja Pegawai 79.094 79.900 117.389 117.827 116.677 100.029 6,61 1 Belanja Honorarium PNS 46.948 32.548 38.604 36.184 17.960 (33,74) 2 Honorarium Non PNS 14.697 10.292 12.116 13.959 5.712 (31,22) 3 Belanja Uang Lembur 15.557 17.269 20.032 22.557 18.525 621 (14,98) 4 Honorarium Pengelolaan

Dana BOS 32.

5 Uang Untuk Diberikan Kepada Pihak Ketiga/Masyarakat

19.478 4.394

6 Belanja Pembahasan/

Verifikasi 1.892 1.206 1.394 1.836 2.222 0 (13,58)

7 Belanja Pegawai (BLUD) 18.584 25.614 38.894 72.223 99.407 155,01

TOTAL 531.932 570.200 641.906 680.816 714.710 772.736 7,78

Sumber : DPKD Provinsi Sumatera Barat

Selanjutnya untuk mengetahui apakah kebijakan penggunaan anggaran Pemerintah Provinsi Sumatera Barat semaikin baik atau tidak, maka perlu diketahui proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur dengan total belanja daerah. Tabel 3.6 memperlihatkan bahwa proporsi belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur mengalami penurunan dari 23,54 % pada tahun 2010 menjadi 18,96 % pada tahun 2015. Data ini memberi penjelasan bahwa kebijakan penggunaan anggaran Daerah Provinsi Sumatera Barat semakin baik dengan semakin meningkatnya belanja untuk keperluan publik.

Tabel 3.6

Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 – 2015

( Dalam Rp juta ) No Uraian Total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur Total pengeluaran (Belanja + Pembiayaan Pengeluaran) Persentase (a) (b) (a)/(b) x 100% 1 Tahun anggaran 2010 531.932 2.259.637 23.54 2 Tahun anggaran 2011 570.200 2.157.956 26,42 3 Tahun anggaran 2012 641.906 3.007.082 21,34 4 Tahun anggaran 2013 680.816 3.184.313 21,38 5 Tahun anggaran 2014 714.710 3.537.634 20,20 6 Tahun anggaran 2015 772.736 4.074.856 18,96

Sumber : DPKD Provinsi Sumatera Barat 3.2.2. Analisis Pembiayaan

Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya. Pembiayaan dapat dibedakan atas penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.

Penerimaan pembiayaan adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya, mencakup : sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SILPA); pencairan dana cadangan; hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan; penerimaan pinjaman daerah; penerimaan kembali pemberian pinjaman; dan penerimaan piutang daerah. Sebaliknya pengeluaran pembiayaan

adalah pengeluaran yang akan diterima kembali baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya, mencakup: pembentukan dana cadangan; penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah; pembayaran pokok utang; dan pemberian pinjaman daerah. Sementara penerimaan pembiayaan dibutuhkan untuk menutupi defisit yang terjadi, sedangkan jika terjadi surplus maka kelebihan tersebut dapat digunakan untuk pembiayaan kebutuhan dana pada masa datang.

Penyusunan APBD dimungkinkan adanya defisit dengan diberlakukan anggaran berbasis kinerja. Tabel 3.7 memperlihatkan bahwa pengeluaran pembiayaan daerah ada yang mengalami surplus dan defisit selama periode Tahun 2010-2015. Namun defisit anggaran yang terjadi dalam beberapa tahun dapat ditutupi dengan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) tahun anggaran sebelumnya.

Dari perjalanan lima tahun terakhir, sisa lebih perhitungan anggaran (SILPA) tahun anggaran sebelumnya menunjukkan penurunan yang cukup baik dan hal ini menandakan terdapat peningkatan serapan Tabel 3.7 dan 3.9 memperlihatkan perkembangan surplus (Defisit) Riil dan realisasi SILPA selama periode Tahun 2010-2015.

Tabel 3.7

Penutup Defisit Riil Anggaran Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 – 2015 ( Dalam Rp juta)

NO Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1 Realisasi Pendapatan Daerah 1.920.971 2.183.958 2.922.582 3.147.840 3.635.838 4.052.249 Dikurangi realisasi:

2 Belanja Daerah 2.239.753 2.132.956 2.964.582 3.113.313 3.483.715 4.022.264 3 Pengeluaran Pembiayaan Daerah 19.884 25.000 42.500 71.000 53.919 52.600

A Surplus (Defisit) riil (338.666) 26.002 (84.500) (36.473) 98.248 22.104

Ditutup oleh realisasi Penerimaan Pembiayaan:

4 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya

673.887 335.221 361.250 276.750 240.276 218.357

5 Pencairan Dana Cadangan 0 0 0 0 0 0

6 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah

Yang di Pisahkan 0 0 0 0 0 0

7 Penerimaan Pinjaman Daerah 0 0 0 0 0 0

8 Penerimaan Kembali Pengembalian Dana Bergulir Daerah

0 26 0 0 0 0

9 Penerimaan Piutang Daerah 0 0 0 0 0 0

B Total Realisasi Penerimaan

Pembiayaan Daerah 673.887 335.247 361.250 276.750 240.276 274.104 A-B Sisa lebih pembiayaan

anggaran tahun berkenaan 335.221 361.250 276.750 240.276 338.522 251.496 Sumber : DPKD Provinsi Sumatera Barat

Selama prriode tahun 2010 sampai dengan tahun 2015 terdapat sisa lebih perhitungan anggaran (SILPA) yang cenderung menurun, hal ini menandakan bahwa penyerapan pelaksanaan anggaran setiap tahunnya terdapat peningkatan. Selanjutnya pada tahun 2011 terdapat penerimaan kembali dari pengembalian dana bergulir yang merupakan tagihan terhadap program-program bantuan untuk masyarakat yang sifatnya bergulir yang diberikan tahun sebelumnya, seperti yang tergambar pada tabel 3.8

III - 10

Tabel 3.8

Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Provinsi Sumatera Barat ( Dalam Rp juta)

NO Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya

673.887 335.221 361.250 276.750 240.276 218.357

2 Pencairan Dana Cadangan 0 0 0 0 0 0

3 Hasil Penjualan Kekayaan

Daerah Yang di Pisahkan 0 0 0 0 0 0

4 Penerimaan Pinjaman Daerah 0 0 0 0 0 0

5 Penerimaan Kembali Pengembalian Dana Bergulir Daerah

0 26 0 0 0 0

6 Penerimaan Piutang Daerah 0 0 0 0 0 0

Sumber : DPKD Provinsi Sumatera Barat

Tabel 3.9

Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 - 2015

( Dalam Rp juta)

No PENDAPATAN URAIAN 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Rp % dari SILPA Rp % dari SILPA Rp % dari SILPA Rp % dari SILPA Rp % dari SILPA Rp % dari SILPA

1 Jumlah SILPA 335.221 361.250 276.750 240.276 338.522 229.465 2 Pelampauan Penerimaan PAD 60.256 17,97 77.110 21.35 (6.673) (2.41) 32.292 13.44 141.217 5.61 100.173 2.45 3 Pelampauan Penerimaan Dana Perimbang 12.526 3.74 34.241 9.48 36.505 9.59 (36.084) (15.02) (30.433) (0.17) (2.793) (1.22) 4 Pelampauan Penerimaan Lain-lain pendapatan daerah yang sah (1.340) (0.40) 1.445 0.40 (25.504) (0.04) (30.660) (1.92) 2.724 0.28 (81.285) 35.42 5 Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya - - - - - - - - - - - - 6 Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan - - - - - - - - - - - - 7 Kegiatan lanjutan - - - - - - - - - - - -

Sumber : DPKD Provinsi Sumatera Barat

Tabel 3.10 menyajikan hasil analisis sisa lebih Pembiayaan Anggaran Provinsi Sumatera Barat tahun anggaran 2010-2015, yang bertujuan untuk memperoleh gambaran secara riilsisa lebih pembiayaan anggaran.Selanjutnya tidak terdapat kewajiban yang belum terselesaikan dan kegiatan lanjutandari tahun 2010 s/d 2015, sehingga saldo kas daerah pada Provinsi Sumatera Barat sama dengan sisa lebih (riil) pembiayaan anggaran tahun berkenaan.Sisa lebih (riil) pembiayaan anggaran berfluktuasi namun cendrung menurun.

Tabel 3.10

Sisa Lebih (riil) Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010 – 2015

( Dalam Rp juta)

NO Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1 Saldo kas neraca daerah 335.221 361.250 276.750 240.276 338.522 251.496 Dikurangi

2 Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum

terselesaikan - - - - - - - - - -

3 Kegiatan Lanjutan - - - - - -

Sisa Lebih (riil) pembiayaan anggaran 335.221 361.250 276.750 240.276 338.522 251.496

Sumber : DPKD Provinsi Sumatera Barat