• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isu Strategis yang Dihadapi oleh Industri Pengolahan Timah

Spesifikasi 5) Solder powder

3.8 Isu Strategis yang Dihadapi oleh Industri Pengolahan Timah

2015 2014

Pemakaian bahan baku 110.630.211 128.620.753

Gaji dan kesejahteraan karyawan 4.975.977 5.520.467

Listrik dan air 4.235.486 4.951.192

Penyusutan 2.356.612 2.294.714

Pengepakan 2.046.681 2.003.850

Bahan pembantu produksi 1.490.817 1.451.258

Suku cadang 1.024.521 1.389.068

Penyisihan persediaan usang dan

penurunan persediaan 1.093.505 1.824.425

Perbaikan dan pemeliharaan 878.895 868.587

Perjalanan dan komunikasi 77.895 97.315

Jasa tolling (lacquer) 2.128 -

Lain-lain 556.753 521.141

Total Biaya Produksi 129.369.481 149.542.770

Persediaan barang jadi-awal 13.894.271 21.607.277

Pemulihan kembali penurunan nilai

persediaan -1.988.935 -1.035.092

Persediaan barang jadi-akhir -9.056.242 -13.894.271

Total 132.218.575 156.220.684

Sumber: Pelaku Usaha Tinplate (2016)

3.8 Isu Strategis yang Dihadapi oleh Industri Pengolahan Timah

Tidak dipungkiri bahwa hilirisasi timah harus menjadi pekerjaan rumah, khususnya bagi pemerintah Indonesia. Indonesia merupakan produsen utama timah di dunia, oleh karena itu keunggulan ini perlu dimanfaatkan lebih lanjut dengan mendorong industri dalam negeri dalam memproduksi produk turunan berbahan timah mengingat kebutuhan industri terhadap produk turunan timah sangat besar. Dengan kata lain pengembangan industri pengolahan timah diharapkan bisa meningkatkan penyerapan produk timah, sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Dalam prakteknya, industri pengolahan timah di Indonesia juga menghadapi berbagai kendala

yang bisa menghambat usaha dan produktivitasnya. Industri solder domestik dihadapkan pada berbagai kendala baik dalam melakukan perdagangan dalam negeri maupun orientasi ekspor.

Berikut kendala yang dirasakan menghambat hilirisasi timah pada industri solder (Asosiasi Solder Indonesia, 2016c):

1. Melesunya industri pengguna solder domestik, seperti industri elektronik. Selain karena melemahnya permintaan pada pasar domestik, industri elektronik dan industri pengguna solder lainnya menghadapi hambatan investasi di Indonesia, seperti tidak jelas dan tidak transparannya kebijakan upah minimum. Hal ini menyebabkan struktur biaya investasi di Indonesia lebih mahal dibandingkan negara lain, seperti Vietnam dan Thailand. 2. Tidak adanya dukungan atau insentif harga agar timah lebih diserap

di pasar dalam negeri. Diharapkan harga timah yang dijual ke industri-industri dalam negeri, termasuk solder dibedakan untuk tujuan ekspor dengan memberikan diskon harga jual lokal atau menerapkan bea ekspor timah.

3. Produsen solder tidak bisa mendapatkan harga material yang kompetitif karena adanya keharusan pembelian melalui bursa. Padahal jika dibandingkan dengan kondisi di luar negeri, produsen seringkali mendapatkan material dengan harga dibawah pasar internasional.

4. Hambatan terkait pengaturan tata niaga pada Permendag No. 33 Tahun 2015, antara lain:

a. Ketentuan syarat penerbitan Laporan Surveyor (LS) mendorong biaya ekspor yang sangat mahal dan tidak efektif sehingga membebani eksportir solder. Asosiasi Solder mengharapkan penghapusan LS karena bahan baku timah yang dibeli sudah melalui proses Clean

and Clear (CNC) dan jika LS masih diberlakukan maka biaya LS tidak

sepenuhnya dibebankan kepada perusahaan.

b. Permendag No. 33 Tahun 2015 juga sangat membatasi bentuk solder yang boleh diekspor. Padahal perkembangan teknologi memungkinkan adanya pembentukan varian baru. Selain itu, buyer kerap menentukan sendiri design atau spesifikasi yang diminta dan tidak ada dalam persyaratan Permendag no. 33 Tahun 2015, namun dengan adanya pembatasan bentuk dan varian tersebut maka ekspor tidak bisa dilakukan.

c. Ekspor tin anode dan solder dengan spesifikasi kurang dari 99,7% seharusnya diperbolehkan karena bahan baku sudah CNC. Pembatasan spesifikasi ini kerap mengurangi potensi pangsa pasar ekspor produk turunan solder.

Pengolahan dan Penggunaan Timah di Indonesia

Berdasarkan hambatan-hambatan tersebut, saat ini industri solder domestik sedang mengalami masa keterpurukan. Industri solder mengalami kesulitan untuk mengoptimalkan perdagangan dalam negeri karena melesunya permintaan dari industri pengguna. Sedangkan untuk orientasi ekspor, industri solder kerap dipersulit oleh regulasi yang ada, sehingga mendorong biaya ekspor yang mahal, terbatasnya varian design solder dan mengurangi potensi pangsa ekspor di dunia. Untuk itu, pelaku usaha solder berharap adanya suatu kebijakan yang mendukung pengembangan industri hilir solder di Indonesia, contohnya mempertegas aturan Permendag 33 Tahun 2015 tentang ketentuan ekspor timah. Selain itu, permendag juga diharapkan mampu memperjelas aturan perdagangan dalam negeri. Terkait impor, asosiasi solder Indonesia berharap pemerintah dapat menaikkan bea masuk untuk jenis solder yang mempunyai kandungan bahan kimia diluar logam (Asosiasi Solder Indonesia, 2016c).

Sementara pada industri tinplate, maraknya kegunaan timah berupa

tinplate menyebabkan total produksi tinplate tidak cukup untuk memenuhi

kebutuhan tinplate untuk kebutuhan industri, sehingga industri pengguna banyak melakukan impor demi kelangsungan proses produksinya. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah dapat mendorong dan mengarahkan investasi yang masuk ke industri hilirisasi timah terutama solder dan tinplate. Upaya tersebut perlu didorong oleh pemberian insentif berupa tax holiday dan

tax allowance.

3.9 Penutup

Timah merupakan komoditas yang masih potensial untuk dikembangkan mengingat hilirisasi di Indonesia masih belum berkembang secara optimal. Timah merupakan salah satu komoditas yang penting untuk menunjang sektor manufaktur di Indonesia, seperti elektronika, otomotif, dan produk kimia. Kegunaan timah dalam sektor manufaktur tersebut kian besar. Selain itu, produk turunan timah juga memiliki permintaan yang sangat tinggi. Namun, apabila melihat dari hilirisasi timah di Indonesia, beberapa industri pengguna timah, seperti industri otomotif, industri pengalengan makanan dan industri kemasan masih sangat bergantung pada impor. Kekurangan pasokan oleh PT. Latinusa yang merupakan satu-satunya produsen tinplate di Indonesia mendorong impor tinplate oleh industri pengguna. Oleh karena itu, salah satu solusi untuk mendukung hilirisasi, khususnya pada industri pelat timah (tinplate), die casting dan pewter adalah mendorong masuknya investasi baik asing maupun domestik ke industri tinplate. Oleh karena itu, diperlukan suatu roadmap kebijakan untuk mendorong hilirisasi pada industri timah serta

dukungan penuh dari pemerintah, seperti pemberian insentif tax holiday dan

tax allowance bagi investor yang berminat mengembangkan industri hilir

timah. Sementara itu, untuk mendorong hilirisasi pada industri solder, maka pemerintah perlu mendukung masuknya investasi industri pengguna solder, seperti industri elektronik dengan memperjelas kebijakan-kebijakan strategis mengenai upah tenaga kerja yang selama ini kerap dikeluhkan oleh industri. Selain itu, pemerintah juga perlu memperjelas aturan dalam Permendag No. 33 Tahun 2015 untuk memperlancar aktivitas ekspor industri solder domestik. DAFTAR PUSTAKA

Antarababel.com. (2013, September 13). Pemprov Babel Tawarkan Investasi Industri Hilirisasi Timah. Diunduh tanggal 6 Juni 2016 dari http:// www.antarababel.com/berita/4993/pemprov-babel-tawarkan-investasi-industri-hilirisasi-timah.

Asosiasi Solder Indonesia. (2016a). Daftar Pelaku Usaha di Industri Solder. Asosiasi Solder Indonesia. (2016b). Peta Industri Timah Solder.

Asosiasi Solder Indonesia. (2016c). Kendala dan Usulan Kebijakan dari Industri Solder di Indonesia.

Azom.com. (2014, Juni 25). Touch Screen Indium Tin Oxide (ITO). Diunduh tanggal 14 Januari 2016 dari http://www.azom.com/article. aspx?ArticleID=9634.

Badan Pusat Statistik (BPS). (2016). Data Ekspor dan Impor Timah dan Produk Timah.

Badan Standardisasi Nasional (BSN). (1989). SNI 07-1585-1989 untuk Timah Solder. Diunduh tanggal 14 Januari 2016 dari http://sisni.bsn.go.id/ index.php?/sni_main/sni/detail_sni/1940.

Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2006). SNI 07-0602-2006 untuk Baja lembaran tipis lapis timah elektrolisa (Bj LTE). Diunduh tanggal 14 Januari 2016 dari http://sisni.bsn.go.id/index.php?/sni_main/sni/ detail_sni/7247.

Djatmiko, E., Ediyanto, T., Suwandi, A., Suhendar, F. (2012). Optimasi Desain Cetakan pada Mesin Pengecoran Bola Timah Putih untuk Industri Kecil. M.I. Mat. Kons., Vol. 12 (1), pp. 50 – 61.

Elektronika.com. (2009, Maret 1). Memilih Timah Solder yang Tepat. Diunduh tanggal 20 April 2016 dari http://www.elektronikaonline.com/ majalah-elektronika/memilih-timah-solder-yang-tepat.htm.

Pengolahan dan Penggunaan Timah di Indonesia

Firdausy, C. M., Salim, Z. (2016). Potensi Investasi Unggulan Kabupaten

Bangka Barat. Jakarta: Pusat Penelitian Ekonomi, Lembaga Ilmu

Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Haryadi, H., Miswanto, A., Mandalawanto Y. Supriatna, E., Daranin, E. A. (2010). Analisis Perkembangan Pengusahaan Mineral dan

Batubara. Jakarta: Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara,

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Industrial Technology Research Institute (ITRI). (2012). Tin for Tomorrow. Diunduh tanggal 14 Januari 2016 dari https://www.itri.co.uk/ information/tinplate/ general/tin-for-tomorrow-contributing-to-global-sustainable-development/ att_download.

Industrial Technology Research Institute (ITRI). (2015a). World Tin Use. Diunduh tanggal 4 Maret 2016 dari https://www.itri.co.uk/information/ tin-explorers/itri-staff-market-tin-use-survey-presentation-itri-2015-london-tin-seminar.

Industrial Technology Research Institute (ITRI). (2015b). A Changing Global Tin Market. Diunduh tanggal 10 Juni 2016 dari http://www.shfe.com. cn/content/2015-528-en/youse-cuil.pptx.

Kementerian ESDM. (2013). “Kajian Supply Demand Mineral”. Laporan

penelitian dari Pusat Data dan Teknologi Informasi, Energi dan

Sumber Daya Mineral, Kementerian ESDM. Kementerian Perindustrian. (2016). Peta Industri Timah.

Kontan. (2016a, Januari 13). PT Timah cari mitra bisnis ke RRT. Diunduh tanggal 16 Januari 2016 dari http://industri.kontan.co.id/news/pt-timah-cari-mitra-bisnis-ke-china.

Kontan. (2016b, Maret 10). Industri bergantung tinplate impor. Diunduh tanggal 23 Maret 2016 dari http://industri.kontan.co.id/news/industri-bergantung-tinplate-impor.

Manfaat.co.id. (2015). 22 Manfaat Timah Dalam Kehidupan Sehari Hari. Diunduh tanggal 14 Januari 2014 dari http://manfaat.co.id/22-manfaat-timah-dalam-kehidupan-sehari-hari.

Peraturan Menteri Perdagangan No. 33 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 44/M-DAG/PER/7/2014 Tentang Ketentuan Ekspor Timah. 2015. Jakarta.

PT Latinusa. (2016b). Laporan Tahunan PT Latinusa Tahun 2015.

PT Solder Indonesia. (2016a). Proses Produksi Sn-Pb Solder Wire and Bar dan Lead Free Solder Wire and Bar.

PT Solder Indonesia. (2016b). Jumlah Produksi PT Solder Indonesia Tahun 2014-2015.

PT Solder Indonesia. (2016c). Usulan Kebijakan dalam Mendorong Industri Solder.

Sindonews. (2016, April 1). Latinusa Siapkan Belanja Modal Rp 13 Miliar. Diunduh tanggal 7 April 2016 dari http://ekbis.sindonews. com/read/1097470/32/latinusa-siapkan-belanja-modal-rp13-miliar-1459497560.

Sulatin. Rusianto, T., Sudarsono. (2014). Analisa Simulasi High Pressure Die Casting (Hpdc) Aluminium Alloy Dengan Dua Varian Cooling Menggunakan Software Magma. E-Jurnal Teknik Mesin, Vol. 2 (1). Suprapto, S.J. (2008). Potensi, Prospek dan Pengusahaan Timah Putih

di Indonesia. Buletin Sumberdaya Geologi, Badan Geologi

Kementerian ESDM, Vol. 3 (2).

U.S. Geological Survey. (2015). Mineral Commodity Summaries. Diunduh tanggal 11 Februari 2016 dari http://minerals.usgs.gov/minerals/ pubs/ commodity/tin/mcs-2015-tin.pdf.

Yunnan Tin Company Limited. (2012). Yunnan Tin Company Group Limited Brief Introduction. Diunduh tanggal 10 Juni 2016 dari http://en.ytc. cn/info/1046/1001.htm.