• Tidak ada hasil yang ditemukan

Riska Pujiati 4.1 Pendahuluan

4.2 Perdagangan Timah

Pengguna langsung (end user) adalah industri yang menggunakan timah sebagai solder, dan industri pelat timah (PT. Timah, 2015).Timah Indonesia sebagian besar dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional, saat ini, perdagangan timah di Indonesia dilakukan melalui melalui satu pintu, yaitu melalui Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI).

Kewajiban untuk memperdagangkan timah melalui BKDI dilatarbelakangi oleh beberapa hal, salah satunya adalah harga timah Indonesia yang diperdagangkan di pasar internasional ditentukan di pasar LME, padahal Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar harus dapat bertindak sebagai penentu harga (price maker). Selain, itu BKDI memiliki tujuan untuk merekam seberapa besar timah yang ditransaksikan secara resmi di pasar sehingga diharapkan mampu meminimalisir ekspor timah yang tidak tercatat selama beberapa tahun terakhir (Bappebti, 2014).

Perdagangan timah satu pintu melalui BKDI dimulai sejak 30 Agustus 2013, dengan keluarnya Peraturan Menteri Perdagangan No. 32 Tahun 2013. Berdasarkan penelitian BPPKP (2014) terungkap bahwa pengusaha stannum tidak keberatan dengan kewajiban mengekspor timah melalui bursa BKDI, namun perlu adanya pengawasan yang lebih ketat dan audit dari lembaga independen terhadap PT BKDI. Pada awal diperdagangkan melalui BKDI, timah yang diperdagangkan terbagi menjadi 5 kontrak berdasarkan unsur pengotornya dan kandungan unsur Sn. Berikut adalah kontrak timah berdasarkan kandungan Sn dan unsur pengotornya:

a. TINPB300, Sn (Timah) minimum 99.90%; Fe (Besi) maksimum 50 ppm; Pb (Timbal) maksimum 300 ppm.

b. TINPB200, Sn (Timah) minimum 99.90%; Fe (Besi) maksimum 50 ppm; Pb (Timbal) maksimum 200 ppm.

c. TINPB100, Sn (Timah) minimum 99.90%; Fe (Besi) maksimum 50 ppm; Pb (Timbal) maksimum 100 ppm.

d. TINPB050, Sn (Timah) minimum 99.90%; Fe (Besi) maksimum 50 ppm; Pb (Timbal) maksimum 50 ppm.

e. TIN4NINE, Sn (Timah) minimum 99.99%; Fe (Besi) maksimum 10 ppm; Pb (Timbal) maksimum 24 ppm

PT. BKDI melaksanakan perdagangan perdana pasar fisik timah yang dikenal dengan nama INATIN pada tanggal 1 Februari 2012. Harapan dari dibentuknya INATIN supaya bisa bersaing dengan LME dan KLTM untuk bisa menjadi acuan harga timah dunia (Bappebti, 2012). INATIN diharapkan dapat mendukung kebijakan pemerintah dalam peningkatan hilirisasi industri timah di Indonesia. Selain itu INATIN diharapkan dapat meminimalisir pelarian modal ke luar negeri (capital out flow). Para investor dalam negeri maupun

Perdagangan Timah di Dalam Negeri

asing akan memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam membuka perusahaan pengolah timah sehingga bisa membuka lapangan kerja yang lebih luas, meningkatkan nilai tambah timah dan pada akhirnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. INATIN juga diharapkan bisa menjadi model percontohan bagi sistem perdagangan komoditas unggulan Indonesia lainnya (Bappebti, 2012).

Berdasarkan catatan PT. BKDI (Bappebti, 2014), sejak 30 Agustus 2014 hingga 30 Juni 2014, pendapatan pemerintah dari royalti timah sebesar USD 4.818.021 atau setara dengan Rp 55,4 miliar (kurs Rp 11.500/USD). Pada kurun waktu yang sama juga terjadi peningkatan harga timah dalam negeri dari sebelumnya hanya USD 20.000/ton menjadi USD 23.175/ton. Target BKDI untuk jangka panjang adalah menciptakan likuiditas yang tinggi dari perdagangan timah dimana semakin banyak jumlah pembeli dan penjual maka likuiditas bursa timah dapat meningkat (Kemendag, 2014).

Perdagangan timah untuk ekspor melalui BKDI memiliki tujuan untuk meningkatkan harga dan daya saing timah Indonesia. Seiring perkembangan perdagangan timah melalui BKDI, Kementerian Perdagangan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 44 Tahun 2014 sebagai revisi atas peraturan sebelumnya, yaitu Permendag No. 32 Tahun 2013. Revisi terhadap Permendag No. 32 Tahun 2013 memiliki beberapa tujuan, yaitu: a. Menciptakan kepastian hukum dan iklim usaha yang kondusif; b. Mendukung kelancaran ekspor timah;

c. Memenuhi kebutuhan bahan baku timah untuk industri dalam negeri; d. Meningkatkan nilai tambah dan daya saing serta pengawasan ekspor

timah.

Permendag No. 44 Tahun 2014 mengatur spesifikasi teknis dan bentuk timah yang diekspor. Dalam Permendag tersebut timah yang diperdagangkan dikelompokkan menjadi empat, yaitu:

a. Timah Murni Batangan, timah murni dengan kandungan Stannum (Sn) paling rendah 99,9% yang merupakan hasil dari kegiatan pengolahan dan pemurnian bijih timah oleh Smelter.

b. Timah Murni Bukan Batangan, yaitu timah murni dengan kandungan Stannum (Sn) paling rendah 99,93% dalam bentuk selain batangan atau dalam bentuk lainnya yang berbahan baku timah murni batangan.

c. Timah Solder, yaitu timah paduan dengan kandungan Stannum (Sn) paling tinggi 99,7% dalam bentuk batangan atau bentuk lainnya yang digunakan untuk menyolder dan mengelas.

d. Timah Paduan Bukan Solder, yaitu timah paduan dengan kandungan Stannum (Sn) paling tinggi 96% dalam bentuk batangan atau bentuk

Saat ini, anggota BKDI yang aktif melakukan pembelian dan penjualan timah di Indonesia berjumlah 60 anggota, berkembang dari semula hanya 12 anggota pada awal pembentukan BKDI (ICDX & ICH, 2015). Untuk menjadi anggota BKDI perusahaan mendaftar kepada Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Kementerian Perdagangan. Perbandingan antara jumlah seller dengan buyer timah menjadi salah satu penentu tingginya likuiditas suatu bursa. Dengan tingginya likuiditas suatu bursa, maka bursa akan efektif berfungsi sebagai sarana pembentukan harga. Jumlah buyer timah yang lebih banyak dibandingkan dengan seller akan membuat likuiditas Bursa Timah BKDI semakin baik. Berikut adalah daftar perusahaan yang memperjualbelikan timah melalui BKDI:

Tabel 4.1 Daftar Penjual Timah di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia, 2013-2016

No. Nama Perusahaan No. Nama Perusahaan

1. Timah (Persero) Tbk, PT 17. Serumpun Sebalai, CV

2. Refined Bangka Tin, PT 18. Venus Inti Perkasa, CV

3. Mitra Stania Prima, PT 19. Bangka Tin Industry, PT

4. Inti Stania Prima, PT 20. Wahana Perkit Jaya, PT

5. Prima Timah Utama, PT 21. Panca Mega Persada, PT

6. Eunindo Usaha Mandiri, PT 22. Billitin Makmur Lestari, PT

7. Bukit Timah, PT 23. Atd Makmur Mandiri, PT

8. Babel Inti Perkasa, PT 24. Cipta Persada Mulia, PT

9. United Smelting, CV 25. Aries Kencana Sejahtera, PT

10. Sariwiguna Binasentosa, PT 26 Gita Pesona, CV

11. DS Jaya A badi, PT 27. Sumber Jaya Indah, PT

12. Stanindointi Perkasa, PT 28. Tommy Utama, PT

13. Belitung Industri Sejahtera, PT 29. Bangka Prima Tin, PT

14. Artha Cipta Langgeng, PT 30. Ayi Jaya, CV

15. Karimunmining, PT 31. Sukses Inti Makmur, PT

16. Tinindo Inter Nusa, PT Sumber: PT. BKDI (2016a)

Perdagangan Timah di Dalam Negeri

Tabel 4.2 Daftar Pembeli Timah di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia, 2013-2016

No. Nama Perusahaan No. Nama Perusahaan

1 H Monde Inc. D/A 3h Co., Ltd 17 Lotus Sg Pte Ltd

2 Noble Resources Intl. Pte. Ltd 18 Lomasasta Singapore Pte Ltd

3 Purple Products Pvt Ltd 19 Yuntinic Resources Gmbh

4 Toyota Tsusho Corporation 20 Hilander Pte Ltd

5 Gold Matrix Resources Pte

Ltd

21 Lg International Pte Ltd

6 Comexindo International 22 RRT Minmetals (Non-Ferrous)

Metals Co.Ltd

7 Daewoo International Corp. 23 Tf Exchange Pte Ltd

8 Great Force Trading 24 Jyl International Co., Ltd

9 Unibros Metal Pte Ltd 25 Fonerco Pte Ltd

10 Indometal (London) Limited 26 Btg Pactual Commodities

(Singapore) Pte Ltd

11 Westin Trade Global Limited 27 Crown Exports (Singapore)

Pte Ltd 12 Eco Tropical Resources Pte

Ltd

28 Multi Gold Co., Ltd

13 My United Traders Pte Ltd 29 Dominion Global Corp

14 Amalgameted Metal Cor. Plc 15 Tcc Trading Corporation 16 Quanzhou Zhongquan Min.

Co.Ltd

Sumber: PT. BKDI (2016a)

Volume transaksi timah sejak diperdagangkan melalui BKDI mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu. Volume transaksi timah yang terjadi di BKDI dapat dilihat dalam Gambar 4.2.

Gambar 4.1 Volume Transaksi Timah BKDI. Sumber: PT. BKDI (2016b), diolah

Jumlah timah yang diperdagangkan melalui BKDI sampai Bulan Februari 2016 mencapai 150.998 Metrik Ton (MTon), meningkat dari hari pertama transaksi sebesar 25 ton. Selama periode Agustus 2013-Desember 2013, transaksi timah yang tercatat di BKDI adalah sebesar 18.289 MTon. Selama tahun 2014, volume timah yang ditransaksikan mencapai 57.010 MTon, tumbuh dua kali lipat dibandingkan transaksi pada periode sebelumnya. Selama tahun 2015, PT. BKDI mencatat transaksi timah yang terjadi mencapai 67.562 MTon tumbuh 18 % dari transaksi timah pada tahun 2014. Peningkatan volume transaksi disebabkan oleh bertambahnya penjual timah di bursa. Kontrak Timah PB300 menjadi timah yang banyak diperdagangkan dibandingkan dengan kontrak timah jenis lainnya (BKDI, 2016). Volume transaksi timah berdasarkan kontrak timah dapat dilihat pada Gambar 4.2.

9,000.00 8,000.00 7,000.00 6,000.00 5,000.00 4,000.00 3,000.00 2,000.00 1,000.00 Ton

Aug-13 Oct-13 Dec-13 Feb-14 Apr-14 Jun-14 Aug-14 Oct-14 Dec-14 Feb-15 Apr-15 Jun-15 Aug-15 Oct-15 Dec-15 Feb-15

Perdagangan Timah di Dalam Negeri

Gambar 4.2 Volume Transaksi Timah Berdasarkan Kontrak. Sumber: PT. BKDI (2016b), diolah