Ridho Meyrandoyo Hastjarjo 5.1 Pendahuluan
5.3 Kinerja Ekspor dan Impor Timah dan Produk Olahannya
Perdagangan timah terdiri dari (Trade Map, 2016): bijih timah dan konsentratnya atau tin ores and concentrate (HS 2609); preparat bersifat asam untuk permukaan logam; flux dan preparat tambahan lainnya untuk menyolder, mematri atau mengelas; bubuk dan pasta untuk menyolder, mematri atau mengelas atau pickling preparations for metal surfaces;
powders, pastes, coating (HS 3810); timah tidak ditempa atau unwrought tin Harga Timah
Jan-05- Jun-05 Nov-05 Apr-06 Sep-06 Feb-07 Jul-07 Dec-07 May-08 Oct-08 Mar-09 Aug-09 Jan-10 Jun-10 Nov-10 Apr-1
1
Sep-1
1
Feb-12 Jul-12 Dec-12 May-13 Oct-13 Mar-14 Aug-14 Jan-15 Jun-15 Nov-15
35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 0
Perdagangan Timah di Luar Negeri
(HS 8001); sisa dan skrap timah atau tin waste and scrap (HS 8002); batang, batang kecil, profil dan kawat timah atau tin bars, rods, profiles and wire (HS 8003); piring kaleng, lembaran dan strip, ketebalan melebihi 0,2 mm atau tin
plates, sheets and strips, of thickness exceeding 0,2 mm (HS 8004); timah,
dengan ketebalan tidak melebihi 0,2 mm; serbuk timah & serpihan atau tin
foil, of a thickness not exceeding 0,2 mm; tin powders & flake (HS 8005);
tabung timah, pipa & tabung/ pipa fitting atau tin tubes, pipes & tube/pipe
fittings (HS 8006); barang lainnya dari timah atau tin articles, nes (HS 8007);
dan kawat, batang kecil, pembuluh, pelat, elektroda dan produk semacam itu yang digunakan untuk menyolder, mematri, mengelas atau mengendapkan logam atau karbida logam atau wire/rod, etc of base metal/ weld of metal
carbide (HS 8311).
Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 33/M-DAG/PER/5/2015 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan no. 44/M-DAG/PER/7/2014 tentang Ketentuan Ekspor Timah disebutkan bahwa untuk kode HS 8001 digolongkan dalam kategori “timah murni batangan”. Bagi kode HS 3810, 8003, dan 8311 dikategorikan dalam jenis “timah solder”. Sementara untuk timah dengan kode HS 8007 dikategorikan sebagai “barang lainnya dari timah”.
Untuk jenis timah dengan kode HS 8004, 8005, dan 8006 tidak disebutkan di dalam permendag ini. Namun, apabila dilihat dari Pasal 2 ayat 1 dan 2, disebutkan bahwa “Timah yang dapat diekspor hanya Timah Murni Batangan, Timah Solder, dan Barang Lainnya Dari Timah sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini”. Ayat 2 disebutkan bahwa “Timah yang tidak tercantum dalam Lampiran I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang untuk diekspor”, maka dapat dikatakan bahwa HS 8004, 8005, dan 8006 dilarang ekspornya.
Bagaimana dengan kode HS 8002? HS 8002 memang tidak disebutkan dalam lampiran I pada Permendag No. 33/M-DAG/PER/5/2015, akan tetapi bukan berarti komoditas ini dilarang ekspornya. Pada Permendag No. 45/M-DAG/PER/7/2012 Pasal 2 ayat 1 disebutkan “Sisa dan Skrap Logam yang dibatasi ekspornya tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Sementara pada Pasal 3 ayat 1 disebutkan “Sisa dan Skrap Logam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat 1 hanya dapat diekspor oleh Eksportir yang telah mendapatkan SPE Sisa dan Skrap Logam”. Oleh karena itu, HS 8002 boleh diekspor tetapi sangat dibatasi.
Tabel 5.1 Kategori Timah Menurut Permendag No. 33 Tahun 2015
No. Uraian Barang Pos Tarif/ HS
1. Timah Murni Batangan ex. 8001.10.00.00
2. Timah Solder ex. 8003.00.10.00
ex. 8003.00.90.00 ex. 8311.30.90.10 ex. 8311.30.90.90 ex. 8311.90.00.00 ex. 3810.10.00.00
3. Barang Lainnya Dari Timah ex. 8007.00.20.00
ex. 8007.00.30.00 ex. 8007.00.40.00 ex. 8007.00.91.00 ex. 8007.00.92.00 ex. 8007.00.99.10 ex. 8007.00.99.90
Sumber: Permendag No. 33 (2015)
Pada gambar 5.2, secara umum, kinerja ekspor dan impor untuk komoditas timah di Indonesia selama kurun waktu 10 tahun terakhir selalu menunjukkan surplus perdagangan. Kinerja perdagangan timah Indonesia menunjukkan ekspor rata-rata pada tahun 2005 hingga 2007 tidak melebihi USD 1 miliar. Perubahan mencolok terjadi pada perdagangan timah tahun 2008, dimana ekspor menunjukkan angka sebesar USD 2,06 miliar atau meningkat 91,8% dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ekspor ini juga berkontribusi positif terhadap neraca perdagangan sebesar USD 1,8 miliar, meningkat 88% dari tahun sebelumnya. Setelah tahun 2008, perdagangan timah Indonesia cenderung fluktuatif. Pada tahun 2011, ekspor timah Indonesia mencapai nilai tertinggi selama 10 tahun terakhir, dimana ekspor mencapai nilai sebesar USD 2,56 miliar dengan neraca perdagangan sebesar USD 2,3 miliar. Pada tahun 2012 hingga 2014, tren ekspor cenderung negatif.
Perdagangan Timah di Luar Negeri
Gambar 5.2 Kinerja Ekspor-Impor Timah, 2005-2014 (USD Ribu). Sumber: Trade Map (2016), diolah
Berdasarkan Data Trade Map (2016), komoditas ekspor timah Indonesia tertinggi merupakan timah jenis unwrought tin atau timah tidak ditempa (HS 8001). Komoditas ini memiliki rata-rata ekspor sebesar USD 1,57 miliar dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Lonjakan ekspor terjadi pada periode 2007 dan 2008. Pada saat itu ekspor timah tidak ditempa tercatat sebesar USD 1,96 miliar atau meningkat 94% dari tahun 2007. Setelah tahun 2008, ekspor untuk timah tidak ditempa kembali menurun akibat krisis global pada tahun 2008. Pada periode 2009 ekspor Indonesia untuk komoditas timah tidak ditempa sebesar USD 1,24 miliar. Ekspor tertinggi Indonesia untuk komoditas ini adalah pada tahun 2011, mencapai USD 2,4 miliar. Setelah tahun 2011, ekspor timah tidak ditempa kembali menurun. Pada periode 3 tahun terakhir, ekpsor Indonesia menunjukkan tren negatif.
Gambar 5.3 Kinerja Ekspor Timah Tidak Ditempa, 2005-2014. 3,000,000 2,500,000 2,000,000 1,500,000 1,000,000 500,000 0 Ekspor Impor Neraca Perdagangan 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Timah tidak ditempa 3,000,000 2,500,000 2,000,000 1,500,000 1,000,000 500,000 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Selain ekspor unwrought tin atau timah tidak ditempa, ekspor jenis timah lainnya juga mengalami fluktuasi. Data Trade Map (2016) pada Gambar 5.4 dapat dilihat bahwa terdapat jenis timah yang mengalami fluktuasi cukup signifikan, yakni kawat, batang kecil, pembuluh, pelat, elektroda dan produk semacam itu yang digunakan untuk menyolder, mematri, mengelas atau mengendapkan logam atau karbida logam(HS 8311); batang, batang kecil, profil dan kawat timah(HS 8003); dan barang lainnya dari timah(HS 8007).
Untuk ekspor komoditas kawat, batang kecil, pembuluh, pelat, elektroda dan produk semacam itu yang digunakan untuk menyolder, mematri, mengelas atau mengendapkan logam atau karbida logam dapat dilihat bahwa pada periode 2005 hingga 2011 terus meningkat hingga mencapai USD 122,5 juta. Ekspor komoditas ini kemudian turun drastis pada angka USD 25,7 juta di tahun 2012.
Bertolak belakang, ekspor barang lainnya dari timah justru meningkat signifikan pada tahun 2012. Selama periode 2005 hingga 2011, rata-rata ekspor Indonesia untuk produk barang lainnya dari timah sebesar USD 2,61 juta. Sementara pada tahun 2012, ekspor Indonesia untuk jenis timah ini mencapai USD 63,5 juta. Ekspor batang, batang kecil, profil dan kawat timah di tahun 2012 juga mengalami fluktuasi yang signifikan. Ekspor tercatat sebesar USD 15,7 juta pada 2011, dan kemudian meningkat menjadi USD 154,5 juta.
Gambar 5.4 Ekspor Timah Menurut Jenisnya, 2005-2014 (USD Ribu). Sumber: Trade Map (2016), diolah
180,000 160,000 140,000 120,000 100,000 80,000 60,000 40,000 20,000 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Kawat, batang kecil, pembuluh, pelat, elektroda dan produk semacam itu yang digunakan untuk menyolder, mematri, mengelas atau mengendapkan logam atau karbida logam
Batang, batang kecil, profil dan kawat timah
Barang lainnya dari timah
Preparat bersifat asam untuk permukaan logam; flux dan preparat tambahan lainnya untuk menyolder, mematri atau mengelas; bubuk dan pasta untuk menyolder, mematri atau mengelas
Perdagangan Timah di Luar Negeri
Kawat, batang kecil, pembuluh, pelat, elektroda dan produk semacam itu yang digunakan untuk menyolder, mematri, mengelas atau mengendapkan logam atau karbida logam Selain ketiga jenis komoditas di atas, komoditas jenis timah yang lainnya tidak mengalami fluktuasi yang signifikan, bahkan ekspor komoditas-komoditas tersebut cenderung stabil. Perlu diperhatikan juga bahwa tin ores
and concentrate (HS 2609) atau bijih timah dan konsentratnya semenjak
tahun 2008 tercatat sebesar USD 0 atau tidak ada ekspor. Sebetulnya, ekspor bijih timah dan konsentratnya sudah dilarang dari tahun 2005. Larangan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan RI No. 07/M-DAG/PER/4/2005 Tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor. Pada Peraturan Menteri Perdagangan tersebut, disebutkan bahwa terdapat beberapa komoditas yang diatur ekspornya, diawasi ekspornya, dan dilarang ekspornya. Salah satu komoditas pertambangan yang dilarang ekspornya adalah bijih timah dan konsentratnya. Meskipun setelah tahun 2005 masih tercatat adanya ekspor bijih timah, namun kemungkinan ekspor tersebut bersifat ilegal dan jumlahnya tidak banyak.
Gambar 5.5 Impor Timah Menurut Jenisnya, 2005-2014 (USD Ribu). Sumber: Trade Map (2016), diolah
Pada Gambar 5.6 dapat dilihat bahwa negara tujuan ekspor timah Indonesia terbesar adalah Singapura dengan pangsa ekspor sebesar 35% pada tahun 2014. Jumlah ini bisa dibilang fantastis apabila dibandingkan dengan negara lain yang juga merupakan tujuan ekspor timah Indonesia. Ekspor timah Indonesia ke Singapura jumlahnya mencapai hampir sembilan kali lipat ekspor Indonesia ke Belanda.
Setelah Singapura, tujuan ekspor timah terbesar kedua adalah Belanda dengan ekspor sebesar 4%; lalu Jepang dan Malaysia dengan jumlah 160,000 140,000 120,000 100,000 80,000 60,000 40,000 20,000 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Timah tidak ditempa
Batang, batang kecil, profil dan kawat timah Preparat bersifat asam untuk permukaan logam; flux dan preparat tambahan lainnya untuk menyolder, mematri atau mengelas; bubuk dan pasta untuk menyolder, mematri atau mengelas
Barang lainnya dari timah
Korea Selatan, India dan Italia yang masing-masing sebesar 1%. Data Trade
Map (2016) menunjukkan bahwa jumlah ekspor Indonesia ke Singapura
mencapai USD 1,38 miliar. Sementara ekspor Indonesia ke Belanda, Jepang, dan Malaysia berturut-turut hanya mencapai nilai USD 141,9 juta, USD 94 juta, dan USD 72 juta.
Tingginya permintaan timah di Singapura dikarenakan bahan baku tersebut digunakan untuk keperluan industri hilirnya serta untuk diekspor kembali. Sebelum digunakan untuk kebutuhan industri, impor timah yang berasal dari Indonesia dimurnikan kembali dengan kadar 99,95% hingga 99,99% (antaranews.com, 2016). Di Singapura, bahan baku timah yang sudah dimurnikan kembali salah satunya banyak digunakan untuk keperluan industri kimia.
Maraknya ekspor ilegal kepada negara-negara tetangga Indonesia, juga menjadi faktor tingginya ekspor Indonesia ke Singapura.Hal ini ditunjukkan dari data mirror dari Trade Map Tahun 2014 yang mencatat adanya selisih ekspor bijih timah antara Indonesia dan Singapura sebesar USD 17,3 juta. Minimnya kesejahteraan masyarakat di Bangka Belitung menyebabkan munculnya penambang-penambang ilegal yang minim akan pengetahuan dan kepedulian terhadap lingkungan. Tak hanya itu, berita dari Gambar 5.6 Negara Tujuan Ekspor Timah Indonesia Tahun 2014. Sumber: Trade Map (2016), diolah
Italia 1% Negara Lain 51% Singapura 35% India 1% Korea Selatan 1% Inggris 1% Amerika Serikat 1% Taiwan 1% Malaysia 2% Jepang 2% Belanda 4%
Perdagangan Timah di Luar Negeri
Sinarharapan.co (2014) menyebutkan bahwa harga timah di Indonesia tahun 2014 lebih murah dibandingkan harga timah di Singapura. Harga pasir timah di tingkat penambang di Kepulauan Riau maupun di Bangka Rp 25.000 sampai Rp 30.000/kg. Sedangkan, harga rata-rata di Singapura Rp 75.000/kg, kata sumber tersebut.
Gambar 5.7 Negara Eksportir Timah Dunia. Sumber: Trade Map (2016), diolah
Secara global, ekspor timah Indonesia menempati urutan pertama sebagai pemasok utama timah di seluruh dunia. Gambar 5.7 menunjukkan di antara 10 eksportir terbesar dunia, Indonesia mengambil share sebesar 23% atau setara dengan nilai sebesar USD 1,96 miliar pada tahun 2014. Posisi Indonesia diikuti oleh Singapura dengan share sebesar 17% (USD 1.386 miliar); Malaysia sebesar 11% (USD 944.9 juta); dan RRT sebesar 10% (USD 802.1 juta). Meskipun Indonesia menempatkan posisi pertama sebagai penghasil timah terbesar di dunia, sayangnya sebagian besar hanya diekspor ke Singapura seperti dijelaskan pada Gambar 5.6. sebelumnya.
Hal menarik yang perlu diperhatikan pada Gambar 5.7 adalah negara yang menempatkan posisi ke-2 dan ke-3, yakni Singapura dan Malaysia. Singapura mampu menorehkan share 17% produksi dunia, sementara Singapura tidak memiliki tambang timah. seperti halnya dengan Malaysia dengan Malaysia. Seperti yang dikutip dari Okezone.com (2015): “Presiden
Joko Widodo mengetahui jika ada negara-negara tetangga yang tidak Indonesia 23% Belgia 5% Belanda 5% Jerman 6% Peru 7% Jepang 7% Amerika Serikat 9% RRT 10% Malaysia 11% Singapura 17%
seperti Malaysia dan Singapura yang melakukan ekspor timah sekitar 20 ribu ton per tahun”. Menjamurnya penambang-penambang ilegal menjadi faktor
utama yang sebagian besar memenuhi kebutuhan timah di Malaysia dan Singapura. Medan Bisnis (2015) memberitakan bahwa di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung setidaknya terdapat 1.640 penambang ilegal yang memasok timah ke Malaysia. Dalam sehari, para penambang ilegal tersebut mampu memproduksi kurang lebih 950 ton timah dalam setahun untuk dikirim ke Malaysia.
Berbeda kondisinya dengan ekspor, tren impor timah Indonesia justru menunjukkan nilai yang positif pada periode 2005 hingga 2014. Pada tahun 2005, impor timah menunjukkan angka sebesar USD 52,7 juta, sedangkan pada tahun 2014 impor menunjukkan angka USD 200 juta atau meningkat lebih dari 250%. Peningkatan impor yang signifikan, menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan akan produk timah di dalam negeri.
Kinerja impor Indonesia untuk produk timah, secara total tercatat sebesar USD 200,2 juta dari nilai total ekspor USD 1,9 miliar pada tahun 2014. Impor terbesar Indonesia untuk jenis timahnya adalah kawat, batang kecil, pembuluh, pelat, elektroda dan produk semacam itu yang digunakan untuk menyolder, mematri, mengelas atau mengendapkan logam atau karbida logam (HS 8311), yaitu menyumbangkan USD 145,2 juta pada tahun 2014, diikuti oleh impor batang, batang kecil, profil dan kawat timah (HS 8003) sebesar USD 125,8 juta, dan barang lainnya dari timah (HS 8007) sebesar USD 107,1 juta. Tingginya permintaan kawat, batang kecil, pembuluh, pelat, elektroda dan produk semacam itu yang digunakan untuk menyolder, mematri, mengelas atau mengendapkan logam atau karbida logam di Indonesia dikarenakan produk tersebut digunakan untuk kebutuhan dalam industri listrik, otomotif dan juga elektronik. Solder sering digunakan untuk menyambung beberapa lapisan perangkat yang membutuhkan kabel atau logam lain pada sirkuit khusus (manfaat.co.id, 2016).