Isu Terkini
Investasi Manufaktur: Akan Diarahkan Ke Luar Jawa
Pemerintah dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menargetkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sektor manufaktur pada 2014 bisa meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan realisasi investasi PMDN manufaktur 2012. Peningkatan PMDN akan di fokuskan untuk industri di luar Pulau Jawa. Wakil Ketua Umum Bidang Pemberdayaan Daerah dan Bulog Kadin Natsir Mansyur mengatakan pemerintah harus berkomitmen meningkatkan investasi PMDN, khususnya di luar Jawa. Pasalnya, selama 3 tahun terakhir, investasi selalu terpusat di Jawa, khususnya Jabodetabek.
"Saat ini Kadin dan pemerintah berusaha menaikkan angka PMDN dua kali lipat pada tahun depan. Ini akan didorong untuk investasi di luar Jawa," kata Natsir dalam dialog tentang Peningkatan Investasi Sektor Industri dalam rangka Penyebaran dan Pengembangan Kawasan Industri di Luar Pulau Jawa, Rabu (31/7).
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian Budi Setiyanto mengatakan sepanjang tahun lalu, realisasi PMDN dalam negeri mencapai Rp 49,89 triliun. Pada tahun ini, Kemenperin menargetkan PMDN manufaktur sebesar Rp 42 triliun. Biasanya, lanjut Budi, angka target memang lebih rendah dibandingkan dengan realisasi. Adapun sepanjang semester I tahun ini, investasi sektor industri baik PMDN maupun penanaman modal asing (PMA) sangat menjanjikan. Investasi PMDN sektor manufaktur semester I tahun 2013 sebesar Rp 26,92 triliun, naik 30,61 persen dari periode yang sama tahun lalu Rp 20,80 triliun. "Mungkin bisa naik dua kali lipat pada 2014 bila dibandingkan dengan realisasi pada tahun lalu," katanya. Namun, secara penyebaran, investasi PMDN sektor industri belum merata secara nasional. Sebagai gambaran, pada kuartal I tahun 2013, peranan Pulau Jawa dalam pembentukan PDB nasional masih sangat dominan yaitu 57,79 persen. Sementara itu, sisanya 42,21 persen disumbangkan oleh wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa.
Kondisi yang lebih kontras terjadi di sektor industri karena peranan Pulau Jawa dalam pembentukan PDB sektor industri masih sangat dominan. Data pada 2011 menunjukkan peranan Pulau Jawa dalam PDB sektor industri mencapai 73,42 persen. Dalam periode 2000-2011, peranan Pulau Jawa dalam pembentukan PDB sektor industri hanya turun sekitar 4,05 persen. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya untuk mendorong agar sektor industri dapat lebih menyebar khususnya ke luar Jawa. Budi mengatakan pihaknya berkomitmen untuk terus berupaya melakukan pemerataan dan penyebaran industri keluar Pulau Jawa dengan pengembangan
pusat-pusat pertumbuhan industri baik melalui pembangunan kawasan industri maupun pengembangan kompetensi inti industri daerah.
Diharapkan ke depan, peran wilayah di luar Pulau Jawa dalam sumbangannya terhadap nilai tambah sektor industri akan terus meningkat dari 27 persen pada tahun 2011 menjadi sekitar 40 persen pada tahun 2025. Pengembangan sektor industri yang tidak merata juga terlihat dari sebaran kawasan industri. Dari 74 kawasan industri yang beroperasi sebanyak 55 kawasan industri berlokasi di Pulau Jawa dengan luas sekitar 75,89 persen dari total luas kawasan industri di Indonesia. Dari jumlah tersebut, konsentrasi terbesar di Jawa Barat sebesar 44,07 persen dari total luas kawasan 28.526 hektar. Penyebaran industri melalui pembangunan kawasan industri padahal sangat penting mengingat peran kawasan industri yang sangat strategis. Hal ini dapat dilihat dari estimasi nilai ekspor yang berasal dari kawasan industri yaitu USD 52 miliar per tahun (41 persen dari nilai total ekspor non migas tahun 2012). Adapun, estimasi investasi untuk PMDN mencapai Rp29,9 triliun dan USD 7,06 miliar untuk PMA (60 persen dari total investasi tahun 2012) dan estimasi penerimaan negara USD 938 juta (PBB, PPN, PPh).
"Untuk membangun kawasan industri itu investasinya mahal sekali, harus ada infrastruktur segala macam. Untuk di luar Pulau Jawa harus realistis dan pelan-pelan," tambah Budi.
Adapun langkah yang akan diambil adalah dengan mendorong swasta untuk mengembangkan industri berbasis sumber daya alam serta memfasilitasi pemerintah kabupaten/kota agar menarik investasi industri masuk ke kabupaten. "Peran swasta harus banyak, tetapi tidak akan berhasil tanpa peran pemerintah. Pemerintah juga harus berani turun mengeluarkan investasi. Kalau infrastruktur tidak ada, swasta tidak akan mau masuk."
Sumber : Harian Kompas, 1 Agustus 2013
Peluang Investasi Di Lima Pulau
Kementerian Kelautan dan Perikanan membuka peluang investasi pada lima pulau kecil di Indonesia tahun ini. Penanaman modal terbuka bagi investor lokal maupun luar negeri untuk memanfaatkan pulau kecil sebagai sumber kegiatan ekonomi. Direktur Pendayagunaan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Rido Batubara mengemukakan hal itu di Jakarta, akhir pekan lalu.
Kelima pulau kecil itu adalah Pulau Bangka di Kabupaten Minahasa Utara (Provinsi Sulawesi Utara), Pulau Nipa di Kota Batam (Kepulauan Riau), gugusan Gili Balu di Kabupaten Sumbawa barat (NTB), Pulau Bawah di Kabupaten Kepulauan Anambas (Kepulauan Riau) dan Pulau Nusakambangan di Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah). Rido mengemukakan, beberapa investor saat ini mulai menjajaki pemanfaatan pulau-pulau kecil tersebut. Beberapa di antaranya investor asal Cina untuk penambangan bijih besi di Pulau Bangka. KKP sejauh ini belum memberikan sikap, melainkan
meminta Pemda menyiapkan rencana zonasi dan investor mengurus analisis masalah dampak lingkungan (amdal).
Pulau Nipa seluas 24 hektar (ha) sedang dijajaki pengembangan industri galangan kapal dan penimbunan minyak (oil storage). Adapun gugusan Gili Balu dengan total lima pulau akan dibuka untuk wisata bahari. Saat ini, satu pulau sudah mulai dimasuki investor lokal untuk pembangunan Hotel Bamboo yang siap untuk dioperasikan pada tahun depan. Sementara itu, Pulau Bawah didorong untuk kegiatan minawisata yang memadukan perikanan dengan pariwisata. Saat ini sudah ada investor lokal yang masuk untuk membangun resor di kawasan itu.
Akan halnya Pulau Nusakambangan seluas sekitar 11.000 ha dengan vegetasi hutan hujan tropis disiapkan untuk wisata minat khusus, seperti berburu dan ekowisata. Saat ini sudah ada investor lokal masuk untuk pengembangan budidaya ikan bandeng, pemancingan dan resor wisata pada total areal 8 ha.
Pada 22-25 Agustus 2013, KKP menggelar Festival dan Pekan Investasi Pulau Nusakambangan dan Segara Anakan untuk menarik investor ke kawasan tersebut. KKP telah menyiapkan anggaran sebesar Rp1 miliar untuk penyelenggaraan Festival dan Pekan Investasi Pulau Nusakambangan dan Segara Anakan di Kabupaten Cilacap.
Kendala Infrastruktur
Menurut Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil KKP Sudirman Saad, pengembangan investasi di pulau kecil dan terluar sangat potensial karena alamnya cenderung masih terjaga baik. Meski demikian, kendala infrastruktur menyebabkan belum banyak investasi yang masuk ke kawasan itu.
Pengembangan investasi di pulau-pulau kecil harus didahului dengan pengaturan zonasi tata ruang kawasan. Saat ini masih sangat minim daerah yang memiliki Perda zonasi laut. Hingga saat ini, beberapa pulau kecil dan terluar yang telah dibuka untuk investasi antara lain Pulau Anak Sambu di Kota Batam, Pulau Miang Besar di Kabupaten Kutai Timur, Pulau Nipa di Kota Batam, Pulau Tabuhan di Kabupaten Banyuwangi, Pulau Bawal di Kabupaten Ketapang, Pulau Bangka di Kabupaten Minahasa Utara, Pulau Ketawai di Kabupaten Bangka Tengah, Pulau Gili Sunut dan Pulau Gili Lawang di Kabupaten Lombok Timur.
Pemerintah melalui program Coremap sedang menyusun zonasi laut untuk 15 kawasan konservasi. Di antaranya Raja Ampat di Papua Barat, Padaido di Kabupaten Biak, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Takabonerate di Sulawesi Selatan, Laut Sawu, Gili di Nusa Tenggara Barat, Nusa Penida di Bali, Anambas, Bintan, Nias, dan Pulau Pieh di Sumatera Barat. Tahun 2014-2019, anggaran untuk pengelolaan kawasan konservasi tersebut sebesar USD 120 juta atau sekitar Rp 1,2 triliun. Pengembangan kawasan konservasi itu akan difasilitasi pemerintah melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dan daur ulang limbah. "Pemberian insentif di kawasan konservasi diharapkan menarik minat investor swasta untuk masuk, membangun resor, mengelola dan memasarkan kawasan," kata Sudirman. Catatan Kompas, KKP menargetkan
investasi perikanan tahun 2013 mencapai Rp2,5 triliun. Hingga triwulan I tahun 2013, realisasi investasi Rp 752 miliar.
Target investasi perikanan budidaya tahun 2013 sebesar Rp 21,8 triliun, terutama ditopang oleh industri udang. Hingga triwulan I tahun 2013, pencapaian investasi perikanan budidaya mencapai Rp 4 triliun.
Sumber : Harian Kompas, 6 Agustus 2013