• Tidak ada hasil yang ditemukan

Neraca Pembayaran Indonesia

Dalam dokumen Policy Paper (Halaman 34-38)

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II tahun 2013 mengalami perbaikan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari defisit neraca secara keseluruhan yang semakin berkurang dari USD 6,6 miliar pada triwulan sebelumnya menjadi USD 2,5 miliar.

Membaiknya neraca pembayaran ditopang oleh neraca transaksi modal dan finansial yang kembali surplus USD 8,2 miliar pada triwulan II tahun 2013 setelah pada triwulan sebelumnya mengalami defisit USD 0,3 miliar. Surplus neraca transaksi modal dan finansial berasal dari peningkatan arus masuk investasi langsung asing (PMA), penerbitan obligasi valas oleh pemerintah dan korporasi, serta pencairan simpanan perbankan di luar negeri.

Di sisi lain, defisit neraca transaksi berjalan meningkat dari USD 5,8 miliar (2,6 persen dari PDB) pada triwulan I tahun 2013 menjadi USD 9,8 miliar (4,4 persen dari PDB). Peningkatan defisit neraca perdagangan dipengaruhi oleh meningkatnya impor bahan baku dan barang konsumsi seiring naiknya keburuhan domestik menjelang puasa dan lebaran. Sementara itu, perbaikan kinerja ekspor nonmigas tertahan oleh harga komoditas internasional yang cenderung menurun akibat perlambatan ekonomi Cina dan India.

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2

2012 2013

Konsumsi Semen (Juta

Ton) 12,5 13,4 13,6 15,5 13,6 14,3 Pertumbuhan YoY (Persen) 18,2 12,4 14,9 13,4 8,6 14,1 0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 14,0 16,0 18,0 20,0 0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 14,0 16,0 18,0

Sejalan dengan defisit NPI, cadangan devisa Indonesia pada triwulan II tahun 2013 turun menjadi USD 98,1 miliar atau setara dengan 5,4 bulan impor, yang berarti tetap berada di atas standar kecukupan internasional.

Tabel 10. Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I Tahun 2012 – Triwulan II Tahun 2013 (Miliar USD)

2012 2013 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1-Q4 Q1 Q2 I. Transaksi Berjalan -3.2 -8.2 -5.3 -7.8 -24.4 -5.8 -9.8 A. Barang 3.2 0.8 3.2 0.8 8.6 1.6 -0.6 - Ekspor 48.4 47.5 45.5 47.1 188.5 45.2 45.7 - Impor -44.5 -46.7 -42.4 -46.3 -179.9 -43.6 -46.3 1. Nonmigas 4.7 2.0 4.0 3.2 13.9 4.5 1.7 a. Ekspor 38.6 38.4 37.4 38.5 152.9 36.8 37.8 b. Impor -33.9 -36.5 -33.5 -35.3 -139.1 -32.3 -36.1 2. Minyak -5.3 -5.3 -4.2 -5.6 -20.4 -6.4 -5.3 a. Ekspor 4.6 4.3 4.2 4.7 17.9 4.3 4.2 b. Impor -9.9 -9.7 -8.4 -10.3 -38.3 -10.7 -9.5 3. Gas 4.4 4.2 3.4 3.2 15.2 3.5 3.0 a. Ekspor 5.2 4.8 3.9 3.8 17.7 4.2 3.7 b. Impor -0.8 -0.6 -0.5 -0.6 -2.5 -0.7 -6.7 B. Jasa - jasa -2.0 -2.8 -2.4 -3.2 -10.3 -2.5 -3.1

II. Transaksi Modal dan Finansial 2.1 5.1 5.9 12.1 25.1 -0.3 8.2

A. Transaksi modal 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 B. Transaksi finansial 2.1 5.1 5.9 12.1 25.1 -0.3 8.2 1. Investasi langsung 1.6 3.7 4.5 4.1 14.0 3.9 3.3 2. Investasi portofolio 2.6 3.9 2.5 0.2 9.2 2.8 2.5 3. Investasi lainnya -2.1 -2.5 -1.2 7.7 1.9 -7.0 2.3 III. Total ( I + II ) -1.1 -3.1 0.6 4.3 0.7 -6.1 -1.7

IV. Selisih Perhitungan Bersih 0.0 0.3 0.2 -1.0 -0.5 -0.5 -0.8

V. Neraca Keseluruhan (III+IV) -1.0 -2.8 0.8 3.2 0.2 -6.6 -2.5

- Posisi Cadangan Devisa 110.5 106.5 110.2 112.8 112.8 104.8 98.1

Dalam Bulan Impor 6.2 5.8 6.1 6.1 6.1 5.7 5.4

Transaksi Berjalan (%PDB) -1.5 -3.7 -2.4 -3.6 -2.8 -2.6 -4.4

BOX 2

Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Bersubsidi

Pemerintah mengumumkan secara resmi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 22 Juni 2013 pukul 00.00 WIB. Dengan kenaikan harga BBM ini, harga bensin/premium bersubsidi yang semula Rp 4.500/liter naik 44 persen menjadi Rp 6.500/liter. Sementara itu, harga solar/gasolin yang semula Rp 4.500/liter naik 22 persen menjadi Rp 5.500/liter. Penyesuaian harga BBM ini merupakan tindak lanjut dari pengesahan RUU APBN-P 2013 yang dilakukan untuk menjaga kesinambungan fiskal serta ekonomi secara keseluruhan.

Kenaikan harga BBM ini dipicu oleh lonjakan konsumsi BBM di Indonesia yang tidak hanya memberikan tekanan pada sisi fiskal, tapi juga berdampak pada pelebaran defisit neraca perdagangan dan neraca pembayaran (twin deficit), pelemahan nilai tukar rupiah, dan menurunnya cadangan devisa. Dengan mengurangi anggaran untuk subsidi BBM, pemerintah dapat merealokasikannya pada program-program yang lebih tepat sasaran seperti Program Perlindungan Sosial (PPS) dan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), yang dilaksanakan guna mempertahankan daya beli dan pemihakan bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap perubahan harga BBM. Selain itu pemerintah juga merancang program pengentasan kemiskinan dalam jangka panjang seperti Bantuan untuk Siswa Miskin (BSM) dan meneruskan Program Keluarga Harapan (PKH).

Dampak dari kenaikan harga BBM terhadap ekonomi makro dapat ditangani dan sebagian besar bersifat jangka pendek. Dampak pertama, kenaikan harga BBM akan berpengaruh terhadap inflasi. Bank Dunia memperkirakan kenaikan harga BBM akan meningkatkan rata-rata inflasi tahunan pada tahun 2013 sebesar 1,8 persen menjadi 7,2-9,0 persen. Bank Dunia juga memperkirakan bahwa peningkatan harga BBM bersubisidi akan menurunkan defisit neraca berjalan sebesar 0,2 persen dari PDB pada 2013.

Kenaikan harga BBM mempengaruhi masyarakat terutama rumah tangga miskin yang pengeluaran terbesarnya digunakan untuk biaya transportasi dan bahan pangan. Bank Dunia memproyeksikan bahwa dengan meningkatnya harga BBM tanpa adanya kompensasi untuk rumah tangga miskin, tingkat kemiskinan tetap akan menurun dari 12,0 persen pada bulan Maret 2012 menjadi 10,5 persen pada bulan Maret 2014. Namun, laju pengentasan kemiskinan ini lebih lambat dibandingkan pencapaian pada beberapa tahun terakhir. Dengan adanya kebijakan kompensasi jangka pendek berupa bantuan langsung tunai kepada rumah tangga miskin selama empat bulan, Bank Dunia memperkirakan penurunan tingkat kemiskinan akan lebih signifikan hingga menjadi 9,4 persen pada bulan Maret 2014.

BOX 3

Paket Kebijakan Ekonomi

Pada 23 Agustus 2013, pemerintah mengumumkan empat paket kebijakan ekonomi. Paket kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah ini dilakukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan dampak guncangan ekonomi ke dunia usaha sehingga penyediaan lapangan pekerjaan terjaga. dengan langkah-langkah ini, maka diharapkan defisit transaksi berjalan pada triwulan II dan IV tahun 2013 akan menurun dan pertumbuhan ekonomi dapat terjaga. Paket kebijakan ini dikombinasikan juga dengan paket dari Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang utamanya menstabilkan sektor keuangan dan nilai tukar.

Paket kebijakan tersebut, yaitu:

Paket pertama dibuat untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Dalam paket ini yang akan dilakukan adalah mendorong ekspor dan memberikan keringanan pajak kepada industri yang padat karya, padat modal, dan 30 persen hasil produksinya berorientasi ekspor. Lalu pemerintah juga akan menurunkan impor migas dengan memperbesar biodiesel dalam solar untuk mengurangi konsumsi solar yang berasal dari impor. Kemudian pemerintah juga akan menetapkan pajak barang mewah lebih tinggi untuk mobil CBU dan barang-barang impor bermerek dari rata-rata 75 persen menjadi 125-150 persen. lalu pemerintah juga akan memperbaiki ekspor mineral.

Paket kedua dibuat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Pemerintah akan memastikan defisit APBN 2013 tetap sebesar 2,38 persen dan pembiayaan aman. Pemerintah memberikan insentif keapda industri padat karya termasuk keringanan pajak.

Paket ketiga dibuat untuk menjaga daya beli. Dalam hal ini, pemerintah berkoordinasi dengan BI untuk menjaga gejolak harga dan inflasi. Pemerintah berencana mengubah tata niaga daging sapi dan hortikultura dari impor berdasarkan kuota menjadi mekanisme impor dengan mengandalkan harga.

Paket keempat dibuat untuk mempercepat investasi. Pemerintah akan mengefektifkan sistem layanan terpadu satu pintu perizinan investasi. Sebagai contoh saat ini sudah dirumuskan pemangkasan perizinan hulu migas dari 69 izin menjadi 8 izin saja. Pemerintah juga akan mempercepat revisi peraturan daftar negatif investasi (DNI), mempercepat investasi di sektor berorientasi ekspor dengan memberikan insentif, serta percepatan renegosiasi kontrak karya pertambangan. Proyek-proyek infrastruktur strategis akan dipercepat. Ini semua dilakukan agar neraca transaksi berjalan turun dan pertumbuhan ekonomi bisa dijaga tahun ini.

 Pada triwulan II tahun 2013, realisasi pembiayaan utang mencapai Rp 152,40 triliun atau 40,1 persen dari nilai yang ditetapkan pada APBN-P 2013.

 Pada triwulan I tahun 2013, total utang pemerintah pusat mencapai Rp 2.036,14 triliun

 penerbitan SBN mengalami peningkatan yang cukup siginifikan dari Rp 906,5 triliun pada akhir tahun 2008 menjadi Rp 1.457,1 triliun pada triwulan II 2013.

 Sampai dengan triwulan II tahun 2013, realisasi pinjaman luar negeri mencapai Rp 6,75 triliun atau 13,8 persen dari target yang ditetapkan di dalam APBN-P 2013.

Dalam dokumen Policy Paper (Halaman 34-38)

Dokumen terkait