TINJAUAN PUSTAKA
2. Jakarta Islamic Index (JII)
Jakarta Islamic Index atau biasa disebut JII adalah salah satu indeks
saham yang ada di Indonesia yang menghitung index harga saham rata-rata saham untuk jenis saham-saham yang memenuhi kriteria syariah. Pembentukan JII tidak lepas dari kerja sama antara Pasar Modal Indonesia (dalam hal ini PT Bursa Efek Jakarta) dengan PT Danareksa Investment Management (PT DIM). JII telah dikembangkan sejak tanggal 3 Juli 2000. Pembentukan instrument syariah ini untuk mendukung pembentukan Pasar Modal Syariah yang kemudian diluncurkan di Jakarta pada tanggal 14 Maret 2003. Mekanisme Pasar Modal Syariah meniru pola serupa di Malaysia yang digabungkan dengan bursa konvensional seperti Bursa Efek Indonesia. Setiap periodenya, saham yang masuk dalam JII berjumlah 30 (tiga puluh) saham yang memenuhi kriteria syariah. JII menggunakan hari dasar tanggal 1 Januari 1995 dengan nilai dasar 100.
Tujuan pembentukan JII adalah untuk meningkatkan kepercayaan investor untuk melakukan investasi pada saham berbasis syariah dan memberikan manfaat bagi pemodal dalam menjalankan syariah Islam untuk melakukan investasi di bursa efek. JII juga diharapakan dapat mendukung proses transparansi dan akuntabilitas saham berbasis syariah di Indonesia. JII menjadi jawaban atas keinginan investor yang ingin menanamkan dananya secara syariah tanpa takut tercampur dengan dana
20
ribawi. Selain itu, JII menjadi tolak ukur kinerja (benchmark) dalam memilih portofolio saham yang halal.
Penentuan kriteria dalam pemilihan saham dalam JII melibatkan Dewan Pengawas Syariah PT DIM. Sahan-saham yang akan masuk ke JII harus melalui filter syariah terlebih dahulu. Berdasarkan arahan Dewan Pengawas Syariah PT DIM, ada 4 syarat yang harus dipenuhi agar saham-saham tersebut dapat masuk masuk ke JII:
1. Emiten tidak menjalankan usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang.
2. Bukan lembaga keuangan konvensional yang menerapkan sistem riba, termasuk perbankan dan asuransi konvensional.
3. Usaha yang dilakukan bukan memproduksi, mendistribusikan, dan memperdagangkan makanan/minuman yang haram.
4. Tidak menjalankan usaha memproduksi, mendistribusikan, dan menyediakan barang/jasa yang merusak moral dan bersifat mudharat. Selain filter syariah, saham yang masuk ke dalam JII harus melalui beberapa proses penyaringan (filter) terhadap saham yang listing, yaitu: 1. Memilih kumpulan saham dengan jenis usaha utama yang tidak
bertentangan dengan prinsip syariah dan sudah tercatat lebih dari 3 bulan, kecuali termasuk dalam 10 kapitalisasi besar.
2. Memilih saham berdasarkan laporan keuangan tahunan atau tengah tahun berakhir yang memiliki rasio Kewajiban terhadap Aktiva maksimal sebesar 90%.
21
3. Memilih 60 saham dari susunan saham di atas berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar (market capitalization) terbesar selama 1 (satu) tahun terakhir.
4. Memilih 30 saham dengan urutan berdasarkan tingkat likuiditas rata-rata nilai perdagangan reguler selama 1 (satu) tahun terakhir.
3. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) merupakan indeks saham syariah yang baru dibentuk pada pertengahan Mei 2011. ISSI adalah indeks saham yang mencerminkan keseluruhan saham syariah yang tercatat di BEI. Berbeda dengan JII yang dimana anggotanya hanya 30 saham syariah terlikuid, ISSI merupakan indeks saham syariah yang beranggotakan seluruh saham syariah yang dahulunya terdaftar di IHSG bergabung dengan saham non-syariah lainnya. Tujuan dibentuknya ISSI adalah untuk memisahkan antara saham syariah dengan saham non-syariah yang dahulunya disatukan didalam IHSG.
Konstituen ISSI adalah keseluruhan saham syariah tercatat di BEI dan terdaftar dalam Daftar Efek Syariah (DES). Konstituen ISSI direview setiap enam bulan sekali yaitu pada bulan Mei dan November dan dipublikasikan pada awal bulan berikutnya. Konstituen ISSI juga dilakukan penyesuaian apabila ada saham syariah yang baru tercatat atau dihapuskan dari DES.
Pada tahun 2010 perhitungan ISSI belum dilakukan. Pada saat itu, perhitungan indeks ISSI didapatkan secara manual dengan cara mengurangkan IHSG dengan JII. Pada pertengahan tahun yang tepatnya
22
tanggal 12 Mei 2011, perhitungan indeks ISSI resmi dilakukan. Metode perhitungan indeks ISSI menggunakan rata-rata tertimbang dari kapitalisasi pasar dan tahun dasar yang digunakan dalam perhitungan ISSI adalah awal penerbitan DES yaitu Desember 2007.
4. Saham (Ekuitas atau Shares)
a. Definisi Saham
Saham adalah tanda penyertaan modal pada perseroan terbatas dengan tujuan pemodal membeli saham untuk memperoleh penghasilan dari saham tersebut (Weston dan Copelend, 2004:56). Menurut Alwi (2003:33) saham atau stock adalah surat tanda bukti atau tanda kepemilikan terhadap suatu perusahaan suatu perseroan terbatas. Saham juga berarti sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan terbuka (Darmadji dan Fakhruddin, 2008).
Alwi (2003:33) membagi saham menjadi dua jenis, yaitu saham biasa
(common stock) dan saham preferen (preferred stock).
1. Saham Biasa (common stock)
Saham biasa adalah saham yang tidak mencantumkan nama pemilik dan kepemilikannya melekat pada pemegang sertifikat tersebut. Saham biasa adalah saham yang tidak memperoleh hak istimewa. Saham biasa menanggung risiko terbesar karena pemegang saham biasa menerima dividen hanya setelah pemegang saham preferen dibayar dan memperoleh dividen sepanjang perseroan memperoleh keuntungan, hak suara pada RUPS sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya dan pada likuidasi perusahaan, mempunyai hak untuk memperoleh sebagian dari kekayaan
23
perusahaan setelah semua kewajiban dilunasi, baik untuk para kreditur maupun para pemegang saham preferen.
2. Saham Preferen (preferred stock)
Saham preferen adalah saham yang memberikan hak untuk mendapatkan dividen lebih dahulu dari saham biasa yang besarnya tetap. Saham preferen terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
a) Cumulative Preferred Stock
Memberikan hak kepada pemiliknya atas pembagian dividen yang sifatnya kumulatif dalam suatu presentasi atau jumlah tertentu. Apabila pada tahun tertentu dividen yang dibayarkan tidak dibayar sama sekali, maka hal ini diperhitungkan pada tahun-tahun berikutnya. Pembayaran dividen kepada pemegang saham preferen selalu didahulukan dari pemegang saham biasa.
b) Non Cumulative Preferred Stock
Pemegang saham jenis ini prioritas dalam pembagian dividen sampai pada suatu presentasi atau jumlah tertentu, tetapi tidak bersifat kumulatif, yaitu dividen tahun-tahun sebelumnya yang belum dibayar tidak perlu dilunasi pada tahun berikutnya. Jadi jika akan membagi dividen untuk pemegang saham biasa, kewajiban yang ada hanyalah membayar dividen saham preferen untuk tahun tersebut.
c) Participating Preferred Stock
Pemilik saham jenis ini disamping memperoleh dividen tetap seperti yang telah ditentukan, juga diberi hak untuk memperoleh
24
bagian dividen tambahan setelah saham biasa memperoleh jumlah dividen yang sama dengan jumlah tetap yang diperoleh saham preferen.
d) Non-participating preffered stock, pemegang saham jenis ini setiap
tahunnya memperoleh dividen terbatas sebesar tarif dividennya.
e) Saham preferen convertible (convertible preferred stock)
Saham jenis ini mempunyai preferensi untuk ditukar dengan surat berharga lain. Hak konversi umumnya meliputi penukaran saham preferen dengan saham biasa.
b. Saham Syariah
Saham syariah merupakan salah satu bentuk dari saham biasa yang memiliki karakteristik khusus dalam hal kehalalan ruang lingkup kegiatan usaha. Menurut Dewan Syariah Nasional (DSN), saham syariah adalah suatu bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang memenuhi kriteria syariah dan tidak termasuk saham yang memiliki hak-hak istimewa. Adapun suatu saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah jika saham tersebut diterbitkan oleh:
a. Emiten dan Perusahaan Publik yang secara jelas menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip syariah.
b. Emiten dan Perusahaan Publik yang tidak menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip syariah, namun memenuhi kriteria sebagai berikut:
25
1. kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip syariah, yaitu tidak melakukan kegiatan usaha:
perjudian dan permainan yang tergolong judi;
perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa;
perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu; bank berbasis bunga;
perusahaan pembiayaan berbasis bunga;
jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian(gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi konvensional;
memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh DSN-MUI; dan/atau, barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat;
melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah); 2. rasio total hutang berbasis bunga dibandingkan total ekuitas tidak
lebih dari 82%, dan
3. rasio total pendapatan bunga dan total pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan total pendapatan usaha dan total pendapatan lainnya tidak lebih dari 10%.
Adapun prinsip-prinsip dasar saham syariah (Muhamad, 2014:488), meliputi:
26
a. Bersifat musyarakah jika ditawarkan secara terbatas b. Bersifat mudharabah jika ditawarkan kepada publik
c. Tidak boleh ada perbedaan jenis saham, karena risiko harus ditanggung oleh semua pihak
d. Prinsip bagi hasil laba rugi
e. Tidak dapat dicairkan kecuali dilikuidasi
5. Harga Saham
Harga saham dapat didefinisikan sebagai harga pasar. Harga pasar merupakan harga yang paling mudah ditentukan, karena harga pasar merupakan harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung. Jika pasar bursa sudah tutup, maka harga pasar adalah harga penutupnya
(closing price). Sehingga harga pasar inilah yang menyatakan naik turunya
suatu saham (Ang, 1997).
Dalam konsep Islam, prinsip harga ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran. Begitu juga pada harga sebuah saham sangat dipengaruhi hukum permintaan dan penawaran. Harga suatu saham akan cenderung naik apabila suatu saham mengalami kelebihan permintaan dan cenderung turun jika terjadi kelebihan penawaran. Dapat dikatakan bahwa semakin banyak investor yang ingin membeli saham, maka harga saham akan cenderung bergerak naik, sebaliknya semakin banyak investor yang akan menjual saham tersebut, maka harga saham cenderung akan bergerak turun (Wijayanti, 2010).
Harga saham dapat berubah naik atau turun dalam hitungan yang sangat cepat, hanya dalam hitungan menit, bahkan dalam hitungan detik. Kondisi tersebut karena banyaknya pesanan investor yang diproses oleh
27
floor trader ke dalam Jakarta Automated trading System (JATS). Dilantai
gedung Bursa Efek Indonesia terdapat lebih dari 400 terminal komputer, yang dapat digunakan floor trader dalam memproses pesanan yang diterima dari investor (Khaerul Umam, 2013).
6. Analisis Fundamental
Menurut Ang (1997) analisis fundamental pada dasarnya adalah bagaimana investor melakukan analisis historis atas kekuatan keuangan dari suatu perusahaan, dimana proses ini sering juga disebut sebagai analisis perusahaan (company analysis). Menurut Husnan (2003) analisis fundamental merupakan upaya untuk memperkirakan harga saham di masa yang akan datang dengan mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang dan menerapkan hubungan vaiabel-variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham. Analisis fundamental lebih menekankan pada penentuan nilai instrinsik dari suatu saham. Untuk melakukan analisis yang bersifat fundamental, analisis perlu memahami variabel-variabel yang mempengaruhi nilai instrinsik saham. Nilai inilah yang diestimasi oleh investor, dan hasil dari estimasi ini dibandingkan dengan nilai pasar sekarang (current market price) sehingga dapat diketahui saham-saham yang overprice maupun yang underprice. Karena banyak faktor yang mempengaruhi harga saham maka beberapa tahapan analisis untuk melakukan analisis fundamental yaitu :
28 a) Analisis Ekonomi
Analisis ini menyangkut penilaian umum perekonomian dan pengaruh potensialnya terhadap hasil sekuritas. Foster G (1986) dalam bukunya Husnan (2003:320) menunjukkan bahwa faktor ekonomi mampu menjelaskan sekitar persen perubahan laba perusahaan.
b) Analisis Industri
Analisis industri akan memberikan pemahaman tentang sifat dan operasi dari suatu industri yang dapat digunakan untuk memperkirakan prospek pertumbuhan industri perusahaan-perusahaan di dalamnya serta prestasi saham-sahamnya.
c) Analisis Kondisi Spesifik Perusahaan
Analisis ini menyangkut penilaian keadaan keuangan perusahaan. Alat yang digunakan dalam analisis ini yaitu analisis laporan keuangan.
Dalam penelitian ini, analisi fundamental yang akan digunakan yaitu analisis spesifik perusahan. Sebelum melakukan investasi pada saham, calon investor perlu melakukan analisis lebih mendalam terhadap perusahaan yang sahamnya akan dibeli. Salah satunya melalui analisis fundamental perusahaan, dimana analisis tersebut menyangkut proyeksi kondisi perusahaan dimasa depan, dengan memperhatikan kondisi sekarang dan masa lalu. Analisis fundamental perusahaan merupakan ilmu yang menjadi perhatian utama investor saham karena membeli saham sebuah perusahaan pada hakikatnya adalah ikut memiliki perusahaan
29
meski dalam batas proporsional jumlah saham yang dibeli. Faktor Fundamental perusahaan yang dibahas dalam penelitian ini adalah:
a. Book Value Per Share (BVPS)
Book Value Per Share (BVPS) merupakan salah satu rasio pasar
yang digunakan untuk mengukur kinerja harga pasar saham terhadap nilai bukunya (Ang, 1997). Menurut Jugiyanto (2000) nilai buku per lembar saham, menunjukkan aktiva bersih (net assets) yang dimiliki oleh pemegang saham dengan memiliki satu lembar saham.
Para pemegang saham perusahaan terbuka pada umumnya ingin mengetahui berapa nilai buku per saham pada sebuah perusahaan.
Book Value Per Share (BVPS) ditunjukkan dengan perbandingan
antara harga saham terhadap nilai buku dihitung sebagai hasil bagi dari ekuitas pemegang saham dengan jumlah saham yang beredar. Angka ini banyak digunakan oleh pemodal untuk menilai apakah harga saham tersebut di pasar berbeda jauh dengan nilai buku per saham atau tidak (Abi Hurairah dan Haryajid, 2012:285).
Nilai pasar adalah harga saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar. Nilai pasar ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar bursa. Semakin kecil nilai Book Value Per Share (BVPS) maka harga dari suatu saham dianggap semakin murah (Budileksmana dan Gunawan, 2003).
Rumus untuk mencari BVPS menurut Ang (1997) adalah:
BVPS =
30
b. Price Earning Ratio (PER)
PER merupakan satu ukuran untuk membandingkan nilai laba satu perusahaan dengan perusahaan lain (Abi Hurairah dan Haryajid, 2012:286). Menurut Jogiyanto (2000:105), PER merupakan ukuran untuk menentukan bagaimana pasar memberi nilai atau harga pada saham perusahaan. Keinginan investor melakukan analisis saham melalui rasio-rasio keuangan seperti PER, dikarenakan adanya keinginan investor atau calon investor akan hasil (return) yang layak dari suatu investasi saham. Semakin besar PER suatu saham maka menyatakan saham tersebut akan semakin mahal terhadap pendapatan bersih persaham. Jika dikatakan suatu saham mempunyai PER 5 kali, berarti harga saham tersebut merupakan kelipatan dari 5 kali earnings perusahaan. Saham yang memiliki PER yang semakin kecil bagi pemodal akan semakin bagus, karena saham tersebut memiliki harga yang semakin murah.
Formula yang digunakan untuk menghitung besarnya PER menurut Husnan (2003) adala :
PER =
c. Earning Per Share (EPS)
Earning per share adalah termasuk salah satu rasio pasar, menurut
Ang (1997), rasio pasar pada dasarnya mengukur kemampuan manajemen dalam menciptakan nilai pasar yang melampaui
31
pengeluaran investasi. Rasio ini merupakan pengukuran yang paling lengkap mengenai prestasi perusahaan dan berkaitan langsung dengan tujuan memaksimalkan nilai perusahaan dan kekayaan para pemegang saham (Ang, 1997). Kemudian Darmadji dan Fakhruddin (2008) berpendapat bahwa EPS menggambarkan laba perusahaan yang tergambar dalam setiap lembar saham.
Laba per saham (EPS) adalah alat yang baik untuk mengukur kemampuan laba perusahaan daripada laba Absolute. Laba persaham diperoleh dengan membagi laba berih dengan jumlah saham yang beredar (Abi Hurairah dan Haryajid, 2012:281).
Formula untuk menghitung EPS menurut Husnan, 2003 adalah :
EPS =
d. Forecast Earning Per Share (FEPS)
Menurut Bettman dkk. (2009), FEPS adalah perkiraan pendapatan atau laba per saham untuk perusahaan. FEPS yang digunakan adalah berdasarkan konsensus prediksi laba per saham untuk perusahaan. FEPS diperkirakan di bulan setelah rilis laba per saham untuk tahun berikutnya. Perkiraan laba disesuaikan pada saat perubahan kapitalisasi dan diumumkan di tengah bulan, meskipun tanggal yang tepat selalu berubah. Dechow dkk. (1999) berpendapat laba yang diperkirakan menawarkan informasi tambahan tentang prospek masa depan perusahaan. Pengujian serupa di penelitian yang dilakukan oleh Bettman dkk. (2009) menghasilkan bahwa Forecasting Earning Per
32
Share menunjukkan lebih signifikan daripada Earning Per Share itu
sendiri. Tersedianya data konsensus FEPS di Indonesia disediakan oleh penyedia database seperti Bloomberg. Di Amerika Serikat FEPS telah tersedia dan diringkas dalam beberapa portal broker saham. 7. Analisis Teknikal
Analisis teknikal merupakan suatu teknik yang menggunakan data atau catatan pasar untuk berusaha mengakses permintaan dan penawaran suatu saham, volume perdagangan, indeks harga saham baik individual maupun gabungan, serta faktor-faktor lain yang bersifat teknis (Husnan, 2003). Menurut Ang (1997) analisis teknikal adalah analisis yang menggunakan grafik atau gambar yang menghasilkan pola-pola tertentu dan pola-pola yang dihasilkan kemudian dianalisis dengan membandingkan dengan hasil observasi yang telah dilakukan, sehingga pola-pola tersebut memberikan suatu indikasi terhadap pergerakan harga saham. Model analisis teknikal lebih menekankan pada perilaku pasar modal dimasa yang akan datang berdasarkan kebiasaan dimasa lalu. Harga saham masa lalu mempengaruhi harga saham sekarang yang mempunyai pola tertentu dan berulang sehingga berpengaruh secara psikologis terhadap investor dalam melakukan transaksi perdagangan (Husnan, 2003). Analisis teknikal berupaya untuk memperkirakan harga saham (kondisi pasar) dengan mengamati perubahan harga saham tersebut (kondisi pasar) diwaktu lalu. Para penganut analisis ini menyatakan bahwa:
33
a. Harga saham mencerminkan informasi yang relevan.
b. Informasi tersebut ditunjukan oleh perubahan harga saham di waktu lalu.
c. Karena perubahan harga saham mempunyai pola tertentu, maka pola tersebut akan berulang.
Menurut Ahmad (2004) terdapat beberapa asumsi dasar tentang analisis teknikal yang mempengaruhi harga saham:
a. Harga pasar ditentukan oleh penawaran dan permintaan.
b. Permintaan dan penawaran ditentukan oleh faktor yang rasional maupun irasional.
c. Harga saham bergerak dalam tren terus menerus dan berlangsung cukup lama, meskipun terdapat fluktuasi kecil yang terjadi.
d. Tren yang berubah disebabkan oleh penawaran dan permintaan.
e. Pergeseran permintaan dan penawaran dapat dideteksi secara cepat maupun lambat dengan menggunakan chart transaksi.
f. Beberapa pola chart transaksi dapat berulang dengan sendirinya. Sasaran yang ingin dicapai dari analisis adalah ketepatan waktu dalam memprediksi pergerakan harga jangka pendek suatu saham, oleh karena itu informasi yang berasal dari faktor-faktor teknis sangat penting bagi pemodaluntuk menentukan kapan suatu saham harus dibeli atau dijual.
8. Integrasi Fundamental Dan Teknikal
Bettman dkk. (2009) mengatakan bahwa baik analisa fundamental dan analisa teknikal digunakan secara mandiri oleh sebagian analis pasar saham, tetapi ada sangat sedikit literatur yang mengintegrasikan
langkah-34
langkah menjadi model tunggal yang kuat. Salah satu penelitian yang dilakukan pada sifat saling melengkapi analisis fundamental dan teknis dilakukan oleh Taylor dan Allen (1992). Dalam penelitian ini, mereka melakukan survei ke lebih dari 400 dealer valuta asing utama di pasar London pada tahun 1988 dengan tingkat respon 60%. Hasilnya adalah bahwa 90% responden menggunakan masukan dari charting pada analisis teknikal sementara untuk membentuk keputusan perdagangan mereka, dan 60% responden menilai grafik kurang penting dibandingkan analisa fundamental. Akhirnya penelitian merasakan bahwa baik analisa fundamental dan teknikal memiliki sifat yang saling melengkapi.
Penelitian terbaru mengenai analisis fundamental dan teknis dilakukan oleh Oberlechner (2001) dengan 59% dari pedagang menggunakan grafik, atau analisis teknikal, 17% dari para pedagang menggunakan analisa fundamental, dan 23% pedagang beralih di antara kedua jenis analisis.
Penelitian sebelumnya di Bettman dkk. (2009) mengusulkan model yang mengintegrasikan analisis fundamental dan teknikal untuk mengetahui potensi meningkatkan daya penjelas untuk harga di masa depan. Model yang digunakan oleh Bettman dkk. (2009) terdiri dari tiga faktor analisis fundamental dari Dechow dkk. (1999) dan juga dua variabel momentum dummy dan harga masa lalu untuk faktor analisis teknikal dengan hasil bahwa kekuatan penjelas meningkat dengan menerapkan kedua analisa fundamental dan teknikal, terbukti dengan nyata Adjusted R2
35
lebih tinggi dibandingkan dengan model dengan analisis fundamental atau hanya teknis saja.
B. Keterkaitan antar Variabel Bebas dengan Variabel Terikat
1. Book Value Per Share (BVPS) dengan Harga Saham Syariah
Penelitian yang dilakukan oleh Danika Reka Artha, dkk (2014) menyimpulkan bahwa BVPS memberikan pengaruh signifikan terhadap harga saham pada sektor pertanian di Indonesia. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Menike & Prabath (2014) yang menunjukan bahwa ada hubungan positif antara BVPS dan harga saham di Colombo Stock Exchange, China. Kedua kondisi tersebut konsisten dengan Bettman dkk. (2009) yang menyatakan bahwa nilai buku sendiri dapat memprediksi laba, sehingga nilai buku cukup untuk menentukan nilai pasar. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa harga saham bergantung pada BVPS.