Sejak awal jalur (pintu masuk Taman Nasional Gunung Merbabu) hingga ke pertigaan ”Pitikan” interpretasi alam di jalur ini sama dengan interpretasi alam jalur Selo – Puncak. Namun mulai dari pertigaan tersebut jalur berbelok ke kanan menuju ”Surga Burung” yang berjarak sekitar 100 m. Pada lokasi ini dapat dijumpai berbagai jenis burung seperti Pleci atau Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus), Cikrak daun (Philloscopus erivirgatus), Sikatan belang (Ficedula westermanni), Sepah gunung (Pericrocotus miniatus), Ceret gunung (Cettia volcania), Bentet (Lanius schach), Sepah hutan (Pericrocotus flameus), Kipasan biasa (Rhipidura javanica), Kipasan ekor merah (R. phoenicura), Cipoh kacat (Aegithina tiphia), Sikatan ninon (Eumyas indigo), Gelatik batu (Parus major), Kacamata gunung (Zosterops montanus), Cikrak kutub (Philloscopus
borealis), Srigunting kelabu (Dicrurus leucophaeus), Kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan lain-lain.
Pada jarak 900 m ketinggian + 1.954 m dpl jalur akan berada di tepi jurang yang lembab. Salah satu tumbuhan yang ada adalah Pakis Galar (Cyathea contaminans) yang batangnya biasa digunakan sebagai media tanaman anggrek. Tidak jauh akan terdapat pertigaan, jalur yang lurus menuju Desa Surodadi sedangkan jalur yang ke kiri menuju hutan Pinus yang dapat dijangkau setelah 200 m. Di hutan Pinus yang merupakan tanaman tahun 1979 ini juga dapat dilihat berbagai jenis burung, salah satunya Sepah hutan (Pericrocotus flameus) yang biasa terbang berkelompok dari pohon ke pohon. Di sini juga dapat disampaikan manfaat dari getah pohon Pinus sebagai bahan baku pembuatan Gondorukem dan terpentin.
Selanjutnya jalur menurun dan melewati pohon-pohon dari jenis Akasia dekuren pada jarak + 2.100 hingga 2.200 m. Pada Setelah menempuh jalur sepanjang 2.225 m akan dijumpai pal batas yang berjumlah 2 buah. Di sini dapat diceritakan bahwa pal batas berfungsi sebagai tanda batas antara kawasan Taman Nasional Merbabu dengan tanah milik masyarakat. Adapun bentuk dari 2 pal yang berbeda tersebut menunjukkan waktu pemasangannya, dimana pal yang berbentuk persegi dipasang lebih dahulu pada masa awal pengelolaan Perhutani, sedangkan pal yang berbentuk bulat merupakan pal yang terbaru.
Setelah menempuh jarak + 2.800 m sampailah pada lembah dengan sungai kecil di dasarnya. Meskipun sungai ini musiman namun suasana lembab cukup terasa dengan banyaknya tumbuhan sejenis suplir dan Pakis Galar. Sekitar 100 dari lembah jalur bertemu dengan jalan setapak yang menghubungkan Desa Tarubatang dengan Desa Surodadi. Untuk kembali ke Desa Tarubatang, jalur menuju ke arah kanan. Pada jarak + 3.600 m ketinggian + 1.864 m dpl terdapat mata air. Di sini dapat disampaikan siklus air dan peranan hutan dalam menyimpan air hujan. Di sekitar mata air ini terdapat nisan memori mahasiswa UNS yang meninggal pada tahun 1992. Kronologi kecelakaan yang terjadi juga dapat diceritakan. Selanjutnya jalur berakhir di pintu masuk kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu setelah menempuh jarak + 3.800 m.
Gambar 52 menunjukkan peta jalur Interpretasi Alam Selo - Puncak, sedangkan Gambar 53 menunjukkan peta jalur Interpretasi Alam Selo II dan Selo III yang berada dalam wilayah Seksi Pengelolaan II Taman Nasional Gunung Merbabu.
c. Papan informasi dan pal-pal interpretasi
Papan informasi yang berupa papan penunjuk arah, papan nama, papan informasi interpretasi. Papan penunjuk arah terutama perlu dipasang pada awal jalur dan pertigaan-pertigaan jalur yang bertujuan untuk mengarahkan pengunjung pada jalur interpretasi yang diikuti. Papan nama dipasang pada tempat-tempat tertentu seperti air terjun, sungai, pos pendakian dan pada lokasi tumbuhan tertentu untuk menjelaskan nama, nama daerah, nama ilmiah, keistimewaan serta manfaat tumbuhan yang bersangkutan. Papan informasi interpretasi alam ditempatkan pada awal jalur maupun lokasi-lokasi tertentu untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan interpretasi seperti nama jalur, peta jalur, waktu tempuh dan materi interpretasi alam yang ada di masing-masing jalur.
Sedangkan pal-pal interpretasi sedapat mungkin dibuat sepanjang jalur dengan jarak antar masing-masing jalur sejauh 100 m. Pal-pal interpretasi ini berguna untuk membantu pengunjung mengetahui lokasi suatu materi interpretasi berdasarkan buku panduan interpretasi alam yang disediakan.
Papan informasi dan pal interpretasi diberi warna berbeda untuk tiap jalur.
d. Wisma Bina Cinta Alam
Untuk dapat mewujudkan fungsinya sebagai pengubah alam pikiran pengunjung dari suasana luar ke alam lingkungan kawasan yang dikunjungi, maka Wisma Bina Cinta Alam harus menyajikan materi mengenai kondisi dan segala sesuatu yang ada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu, termasuk kegiatan interpretasi alam. Selain itu disajikan pula materi mengenai taman nasional-taman nasional atau kawasan konservasi lain yang ada di seluruh Indonesia, serta program-program konservasi yang perlu disebarluaskan.
Materi yang perlu disediakan dalam Wisma Bina Cinta Alam ini antara lain : - Peta kawasan TN Gunung Merbabu
- Peta topografi dan vegetasi kawasan TN Gunung Merbabu
- Peta lokasi sarana dan prasarana di kawasan TN Gunung Merbabu - Peta jalur interpretasi alam TN Gunung Merbabu
- Maket kawasan TN Gunung Merbabu - Panil sejarah TN Gunung Merbabu
- Panil foto-foto potensi TN Gunung Merbabu - Panil foto-foto kegiatan TN Gunung Merbabu - Peta kawasan konservasi di seluruh Indonesia
- Panil foto-foto kawasan konservasi di seluruh Indonesia
- LCD projector dan film dokumentasi mengenai TN Gunung Merbabu dan kawasan konservasi lain di seluruh Indonesia
- Panil tata tertib pengunjung - Pustaka
- Brosur mengenai TN Gunung Merbabu
- Brosur mengenai kegiatan interpretasi alam di TN Gunung Merbabu - Buku panduan kegiatan interpretasi alam di TN Gunung Merbabu.
e. Pusat informasi
Untuk dapat mewujudkan fungsinya sebagai pusat data dan informasi mengenai kawasan yang dikunjungi, maka pusat informasi harus menyajikan seluruh materi mengenai kondisi, program interpretasi dan segala sesuatu yang terjadi dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Selain itu pusat informasi juga berfungsi sebagai tempat pendaftaran ulang dan pemeriksaan barang bawaan para pendaki Taman Nasional Gunung Merbabu.
Beberapa hal yang perlu disediakan dalam pusat informasi ini antara lain : - Peta kawasan TN Gunung Merbabu
- Peta topografi dan vegetasi kawasan TN Gunung Merbabu
- Peta lokasi sarana dan prasarana di kawasan TN Gunung Merbabu - Peta jalur interpretasi alam TN Gunung Merbabu
- Maket kawasan TN Gunung Merbabu - Panil sejarah TN Gunung Merbabu
- Panil foto-foto potensi TN Gunung Merbabu - Panil foto-foto kegiatan TN Gunung Merbabu - Panil tata tertib pengunjung
- Brosur mengenai TN Gunung Merbabu
- Brosur mengenai kegiatan interpretasi alam di TN Gunung Merbabu - Buku panduan kegiatan interpretasi alam di TN Gunung Merbabu
- Tempat pendaftaran ulang sekaligus pemeriksaan barang bawaan pendaki.
Pusat informasi perlu dibangun di pintu masuk TWA Tuk Songo Kopeng dan pintu masuk Desa Tarubatang.
5.11.2. Rencana Kegiatan
Interpretasi alam di Taman Nasional Gunung Merbabu dapat dilakukan dengan menyusun beberapa bentuk kegiatan. Tabel 39 menyajikan bentuk-bentuk kegiatan interpretasi alam tersebut.
Tabel 39 Rencana kegiatan Interpretasi Alam di TN Gunung Merbabu
No. Program Interpretasi Materi Yang Disiapkan
1. Kemah Konservasi - Pengenalan peraturan dan tata tertib
- Pengenalan proses-proses penyangga kehidupan - Pengenalan konsepsi KSDAH & E
- Sejarah konservasi di dunia dan di Indonesia - Sejarah TN Gunung Merbabu
- Pengenalan potensi flora fauna di jalur interpretasi TN G. Merbabu, ciri khas, status hukum dan manfaatnya - Pengenalan cara-cara survival di hutan
2. Pengenalan dan peng- amatan jenis flora fauna,
birdwatching
- Sejarah penyebaran jenis flora fauna di dunia dan di Indonesia
- Pengenalan tipe-tipe ekosistem, potensi flora fauna di jalur interpretasi TN Gunung Merbabu, ciri khas, status hukum dan manfaatnya
- Pengenalan perilaku satwa
- Identifikasi dan klasifikasi jenis flora fauna 3. Lintas alam, pendakian - Pengenalan peraturan dan tata tertib pendakian
- Sejarah TN Gunung Merbabu
- Pengenalan proses-proses penyangga kehidupan di jalur interpretasi TN Gunung Merbabu
- Pengenalan potensi flora fauna di jalur interpretasi TN G. Merbabu, ciri khas, status hukum dan manfaatnya - Mitos dan sejarah Gunung Merbabu
5.11.3. Klasifikasi Jalur Interpretasi Alam Berdasarkan Kelas Umur Peserta
Untuk membantu calon peserta kegiatan Interpretasi Alam dalam memilih jalur interpretasi berdasarkan kemampuan fisik mereka, pada kedelapan jalur tersebut dilakukan klasifikasi jalur berdasarkan kelompok umur peserta (Tabel 40).
Tabel 40 Klasifikasi jalur Interpretasi Alam berdasarkan KU pengguna
No. Nama Jalur Kisaran
Durasi
Jarak
Tempuh Kemiringan Kelompok Umur
1. Selo - Puncak 420 menit 6.050 m Terjal KU 2, 3 2. Selo II 240 menit 4.700 m Kombinasi KU 2, 3 3. Selo III 210 menit 3.700 m Kombinasi KU 1, 2, 3 4. Tekelan - Puncak 420 menit 6.125 m Terjal KU 2, 3 5. Tekelan IV 120 menit 1.175 m Kombinasi KU 1, 2, 3, 4 6. TWA - Krinjingan 120 menit 1.650 m Kombinasi KU 1, 2, 3, 4 7. TWA - Watu Tadah 120 menit 2.200 m Kombinasi KU 1, 2, 3, 4 8. TWA - “Dufan” 120 menit 1.850 m Kombinasi KU 1, 2, 3, 4
Keterangan :
KU 1 : < 15 tahun KU 2 : 15 – 24 tahun KU 3 : 25 – 35 tahun KU 4 : > 35 tahun
Gambar 54 menunjukkan klasifikasi jalur interpretasi alam berdasarkan kelompok umur peserta pada peta Taman Nasional Gunung Merbabu.
Gambar 54 Peta pengelompokan ja lur Interpretas i Al a m berd a sarkan Ke lompok Umu r peserta