Pemilihan jalur dilakukannya verifikasi ini didasarkan pada 2 kriteria, yaitu : - Merupakan jalur yang banyak didatangi pengunjung dan/atau dilalui pendaki - Mempunyai aksesibilitas yang mudah.
Verifikasi dilakukan pada 8 jalur yang terdiri dari 2 jalur pendakian yaitu jalur pendakian Selo (yang dimulai dari Dusun Genting, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali), dan jalur Tekelan (Dusun Tekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang), serta 6 jalur non pendakian dimana 2 jalur dimulai dari Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, 3 jalur berada/dimulai dari Dusun Tekelan dan 1 jalur dimulai dari kawasan TWA Tuk Songo Kopeng.
Selama pelaksanaan verifikasi di lapangan dilakukan pula perekaman data spasial jalur pendakian maupun non pendakian menggunakan alat GPS Receiver merk Garmin seri e-Trex SUMMIT. Perekaman data dilakukan setiap jarak 100 m (1 HM) atau kurang dari 100 m apabila penangkapan sinyal lemah dan pada obyek-obyek atau lokasi khusus/tertentu. Penunjukkan angka akurasi penangkapan sinyal pada alat selalu dijaga dibawah 10 m, kecuali apabila memang keadaan lokasi yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan angka akurasi yang kecil.
Pada grafik profil yang disajikan, fluktuasi yang ekstrim merupakan pengaruh dari skala ketinggian dan jarak yang digunakan, atau perbedaan antara ketinggian sebenarnya dengan akurasi penerimaan alat GPS Receiver yang digunakan serta peta dasar yang dipakai.
Tabel 6 Daftar jalur pendakian dan non pendakian dilakukannya verifikasi
No. Jalur Jenis Jalur Jarak Tempuh
(Lapang)
Waktu Tempuh Normal 1. Selo - Puncak Pendakian 6.050 m 7 jam 2. Tekelan - Puncak Pendakian 6.125 m 7 jam 3. Selo - Mata Air Non Pendakian 900 km 45 menit 4. Tekelan - Watu Tadah Non Pendakian 1.000 m 1 jam 5. TWA Tuk Songo - Tekelan Non Pendakian 1.000 m 45 menit 6. Tekelan - Krinjingan Non Pendakian 450 m 30 menit 7. Tekelan - ”Dufan” Non Pendakian 725 m 1 jam 8. Selo - Jurang Warung Non Pendakian 2.800 m 3 jam
Gambar 5 menunjukkan tampilan (layout) jalur verifikasi yang di-overlay pada peta kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu.
G ambar 5 Jalur dil a kukannya k eg ia tan v eri fi k asi
5.1.1. Jalur Pendakian Selo - Puncak
Jalur pendakian Selo (Desa Tarubatang)merupakan jalur utama pendakian dari sisi Selatan Gunung Merbabu yang mempunyai aksesibilitas yang mudah dan populer di kalangan para pendaki. Base start Desa Tarubatang berada di tepi batas kawasan TN Gunung Merbabu. Kondisi fisik jalur Selo berupa jalan setapak dari tanah, yang menjadi jalan aliran air ketika hujan turun. Pada jalur ini terdapat percabangan jalur (Pada Pos I Dok Malang di ketinggian + 2.194m dpl) yang bertemu kembali dengan jalur utamanya pada ketinggian + 2.592 m dpl (Pos III Watu Tulis), namun sejak terjadinya kebakaran hutan pada jalur ini pada tahun 2006 jalur ini tidak lagi digunakan dan tertutup vegetasi tumbuhan bawah, sehingga hanya penduduk setempat saja yang masih bisa mengenali jalur ini.
Mulai jarak 3.900 m dan ketinggian + 2.777 m dpl terdapat ekosistem sabana yang di kalangan pendaki yang biasa mendaki gunung ini disebut Sabana I dan Sabana II. Sabana I dipisahkan oleh sebuah bukit dengan Sabana II (pada jarak 4.500 m dan ketinggian + 2.867 m dpl).
Tabel 7 Rute jalur pendakian Selo
No. Rute Jarak Jarak
Akumulasi
Ketinggian (m dpl) 1. Start Batas Kawasan - Pos I Dok Malang 1.725 m 1.725 m 2.194 2. Pos I Dok Malang - Pos Bayangan (Dok Cilik) 600 m 2.325 m 2.274 3. Pos Bayangan (Dok Cilik) - Pos II Pandean 500 m 2.825 m 2.420 4. Pos II Pandean - Pos III Watu Tulis 500 m 3.325 m 2.592 5. Pos III Watu Tulis - Sabana I 500 m 3.825 m 2.777 6. Sabana I - Sabana II 1.000 m 4.825 m 2.867 7. Savana II - Puncak Triangulasi 1.000 m 5.825 m 3.122 8. Puncak Triangulasi - Puncak Kenteng Songo 225 m 6.050 m 3.157
Seluruhnya terdapat 66 titik yang direkam dengan menggunakan GPS Receiver. Jumlah tersebut meliputi 57 titik HM, 3 titik pos pendakian yang pada pengukuran jarak lapang tidak tepat (kurang atau lebih dari) 100 m (selanjutnya disebut ”diluar HM”), 1 titik lokasi longsor, 1 titik puncak diluar HM, 1 titik lokasi memori (nisan) dan 1 titik lokasi bermalam tim. Tabel 16 menyajikan data rekaman alat pada titik-titik utama jalur pendakian Selo - puncak.
Profil jalur pendakian Selo - puncak secara mayoritas menanjak dan hampir tidak ada yang menurun. Bagian (segmen) jalur yang terlihat datar hanya sebagian kecil (+ 300 m) yang kemungkinan besar merupakan profil lokasi Sabana I - Sabana II. Gambar 6 menunjukkan profil jalur pendakian Selo – puncak.
K e ti nggi a n Jarak 5082 0 30 70 18 29 850 1700 2550 3400 4250 21 5 4 24 79 28 04
Tabel 8 Data rekaman GPS Receiver jalur Pendakian Selo Koordinat No. Rute
BT LS Ketinggian
(m dpl) 1. Start Batas Kawasan 110° 27' 04.5" 07° 29' 02.3" 1.854 2. Pos I Dok Malang 110° 27' 20.8" 07° 28' 23.8" 2.194 3. Pos Bayangan (Dok Cilik) 110° 27' 14.8" 07° 28' 13.2" 2.274 4. Pos II Pandean 110° 27' 04.0" 07° 28' 06.2" 2.420 5. Pos III Watu Tulis 110° 26' 46.6" 07° 28' 05.4" 2.592 6. Sabana I 110° 26' 43.1" 07° 27' 52.8" 2.777 7. Sabana II 110° 26' 38.0" 07° 27' 39.1" 2.867 8. Puncak Triangulasi 110° 26' 23.3" 07° 27' 17.5" 3.122 9. Puncak Kenteng Songo 110° 26' 26.4" 07° 27' 13.1" 3.157
Gambar 6 Profil jalur pendakian Selo - Puncak (tanpa skala)
Dalam kegiatan verifikasi pada jalur ini dilakukan pengamatan kondisi ekosistem serta pencatatan flora dan fauna. Hasil pengamatan dan pencatatan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Ekosistem
Jalur Selo - puncak melewati semua tipe hutan yang ada di TN Gunung Merbabu, yaitu Hutan Hujan Pegunungan pada ketinggian + 1.800 - + 2.500 m dpl dan Hutan Hujan Sub Alpin pada ketinggian + 2.500 - + 3.150 m dpl. Pada jalur ini terdapat ekosistem khas pegunungan, yaitu ekosistem sabana yang mulai tumbuh pada ketinggian + 2.777 m dpl hingga puncak. Kalangan pendaki biasa menyebutnya dengan nama Sabana I dan Sabana II. Sabana I yang mulai dijumpai pada jarak 3.900 m dan ketinggian + 2.777 m dpl terpisah dari Sabana II (pada jarak 4.500 m dan ketinggian + 2.867 m dpl) oleh sebuah bukit. Vegetasi yang tumbuh di ekosistem sabana ini antara lain Kemlandingan gunung atau Sengon gunung (Albizzia montana), Edelweiss (Anaphalis javanica), Cantigi (Vaccinium varingifolium) rumput-rumputan seperti Bubarjaran dan herba
(m)
Kupingan.
Kondisi ekosistem pada jalur ini bervariasi antara ekosistem yang masih utuh, lembab (jarak 1.800 m, ketinggian + 2.200 m dpl) dengan pohon-pohon yang ditumbuhi lumut dan ada pula yang terganggu akibat adanya tanah longsor pada posisi jarak lapang 2.000 m, ketinggian + 2.200 m dpl) serta kebakaran (dilewati jalur pada jarak 1.900 m, ketinggian + 2.211 m dpl dan pada jarak 2.300 m, ketinggian + 2.280 m dpl). Pada beberapa titik di jalur ini terdapat pula ekosistem yang terganggu akibat penebangan liar.
b. Flora dan Fauna
Flora yang dijumpai di jalur ini tercatat 46 jenis yang terdiri dari flora berkayu maupun tidak berkayu. Jenis yang ada antara lain Pinus (Pinus merkusii), Puspa (Schima wallichii), Kina (Chinchona sp.), Rustania, Bintami (Podocarpus imbricata), Cemara gunung (Casuarina junghuhniana), Akasia (Acacia decurrens), Kaliandra (Calliandra sp.), Kantung semar (Nepenthes sp.), Sowo (Engelhardia serrata), Pasang (Quercus spicata), Wuru (Litsea sp.), Dempul (Glochidion sp.), Picis (Nauclea lanceolata), Dadap (Erythrina sp.), Wilodo (Ficus fistulosa), Kemlandingan gunung atau Sengon gunung (Albizzia montana), Edelweiss (Anaphalis javanica), Cantigi (Vaccinium varingifolium) dan rumput-rumputan seperti Merangan dan Bubarjaran.
Sedangkan fauna yang tercatat dalam kegiatan verifikasi di jalur ini berjumlah 52 jenis, terdiri dari 2 jenis mamalia dan 50 jenis aves. Salah satu fauna yang menarik adalah Rekrekan (Presbytis fredericae) atau Lutung kelabu yang merupakan primata endemik Jawa Tengah yang dilindungi. Selain Lutung kelabu, fauna yang menarik lainnya adalah Ayam hutan hijau (Gallus varius).
Selengkapnya daftar jenis-jenis flora fauna hasil inventarisasi pada jalur ini dapat dilihat dalam Lampiran 14 dan 22.
5.1.2. Jalur Pendakian Tekelan - Puncak
Jalur Tekelan berawal dari Dusun Tekelan yang lokasinya berdekatan dengan TWA Tuk Songo Kopeng (Dusun Tekelan merupakan enklave TN Gunung Merbabu) dan merupakan salah satu jalur pendakian dari sisi Utara Gunung Merbabu yang sudah banyak dikenal di kalangan pendaki serta mempunyai aksesibilitas relatif mudah.
Kondisi fisik jalur Tekelan sebagian besar berupa jalan setapak dari tanah dan sebagian kecil berupa batu-batuan lepas. Pada bagian tertentu jalur ini
terdapat jalur yang mengalami erosi akibat aliran air dan membentuk parit hingga kedalaman parit mencapai 1 meter.
Tabel 9 Rute jalur Tekelan - Puncak
No. Rute Jarak Jarak
Akumulasi
Ketinggian (m dpl) 1. Start Batas Kawasan - Pos I Pending 700 m 700 m 1.933 2. Pos I Pending -Pos II Ijo / Pereng Putih 900 m 1.600 m 2.160 3. Pos II Ijo / Pereng Putih - Pos III Gumuk Mentul 775 m 2.375 m 2.342 4. Pos III Gumuk Mentul - Pos IV Lempong Sampan 600 m 2.975 m 2.509 5. Pos IV Lempong Sampan - Puncak I Pertapaan 550 m 3.525 m 2.729 6. Puncak I Pertapaan - Pos V Pemancar 600 m 4.175 m 2.915 7. Pos V Pemancar - Puncak II Watu Tulis 25 m 4.200 m 2.916 8. Puncak II Watu Tulis - Pos VI Helipad 600 m 4.800 m (tidak tercatat) 9. Pos VI Helipad - Puncak III Gegersapi 300 m 5.100 m 3.002 10. Puncak III Gegersapi - Puncak IV Syarif 425 m 5.525 m 3.140 11. Puncak III Gegersapi - Puncak V Ondorante 500 m 5.600 m 3.118 12. Puncak V Ondorante - Puncak VI Kenteng Songo 300 m 5.900 m 3.157 13. Puncak VI Kenteng 9 - Puncak VII Triangulasi 225 m 6.125 m 3.122
Kurang lebih terdapat 69 titik yang direkam dengan menggunakan alat GPS Receiver. Jumlah tersebut meliputi 59 titik HM, 3 titik pos pendakian diluar HM”, 2 titik lokasi pertigaan jalur, 2 titik puncak diluar HM, 2 titik lokasi memori (nisan) dan 1 titik lokasi mata air. Data hasil rekaman alat GPS Receiver pada titik-titik utama jalur pendakian Tekelan - puncak dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 10 Data rekaman GPS Receiver jalur Tekelan - Puncak Koordinat No. Rute
BT LS Ketinggian
(m dpl) 1. Base Start Tekelan (KOMPPAS) 110° 25' 41.4" 07° 24' 55.4" 1.662 2. Start Batas Kawasan 110° 25' 41.4" 07° 24' 55.4" 1.752 3. Pos I Pending 110° 25' 47.1" 07° 25' 16.9" 1.933 4. Pos II Ijo / Pereng Putih 110° 25' 56.9" 07° 25' 39.7" 2.160 5. Pos III Gumuk Mentul 110° 26' 10.0" 07° 25' 49.1" 2.342 6. Pos IV Lempong Sampan 110° 26' 11.8" 07° 25' 59.2" 2.509 7. Puncak I Pertapaan 110° 26' 18.7" 07° 26' 15.7" 2.729 8. Watu Gubug 110° 26' 18.1" 07° 26' 19.6" 2.737 9. Pertigaan ke Cunthel 110° 26' 12.8" 07° 26' 30.6" 2.886 10. Pos V Pemancar TNI + Puncak II Watu Tulis 110° 26' 13.1" 07° 26' 36.1" 2.915 11. Pal Batas Kabupaten 110° 26' 15.8" 07° 26' 45.0" 2.883 12. Pos VI Helipad 110° 26' 18.1" 07° 26' 48.0" 2.910 13. Kawah 110° 26' 20.6" 07° 26' 51.3" (tidak tercatat)
14. Puncak III Gegersapi 110° 26' 26.2" 07° 26' 51.3" 3.002 15. Pertigaan Syarif - Kenteng Songo 110° 26' 31.1" 07° 26' 59.4" 3.096 16. Puncak IV Syarif 110° 26' 33.8" 07° 26' 58.8" 3.140 17. Puncak V Ondorante 110° 26' 27.7" 07° 27' 04.9" 3.118 18. Puncak VI Kenteng Songo 110° 26' 26.4" 07° 27' 13.1" 3.157 19. Puncak VII Triangulasi 110° 26' 23.3" 07° 27' 17.5" 3.122
Grafik profil jalur Tekelan - puncak (Gambar 7) menunjukkan jalur yang mayoritas menanjak dengan sedikit segmen jalur yang menurun dan mendatar.
Ket ingg ian Jarak 5289 0 30 7 5 17 4 0 900 1800 2700 3600 4500 20 9 0 24 40 27 9 0
Grafik yang terputus disebabkan oleh adanya enklave yang dilewati jalur ini, sehingga tidak ditampilkan oleh ArcView.
Gambar 7 Profil jalur pendakian Tekelan - Puncak (tanpa skala)
Hasil pengamatan kondisi ekosistem serta pencatatan flora dan fauna pada jalur pendakian Tekelan - puncak adalah sebagai berikut :
a. Ekosistem
Jalur Tekelan - puncak sama dengan jalur Selo - puncak yang melewati semua tipe hutan di TN Gunung Merbabu, yaitu Hutan Hujan Pegunungan pada ketinggian + 1.752 - + 2.500 m dpl dan Hutan Hujan Sub Alpin pada ketinggian + 2.500 - + 3.150 m dpl.
Ekosistem pada jalur Tekelan - puncak relatif terganggu dan kondisi hutannya lebih terbuka daripada jalur Selo - puncak. Hal ini kemungkinan akibat kebakaran yang sering melanda (dalam jalur dilewati pada jarak 1.300 m, ketinggian + 2.065 m dpl, jarak 2.100 m, ketinggian + 2.267 m dpl, pada jarak 3.100 m, ketinggian + 2.358 m dpl dan pada jarak 4.700 m, ketinggian + 2.868 m dpl) ditambah dengan adanya penebangan liar serta jenis tanah yang rawan erosi. Selain itu terdapat pula ekosistem kebun pada tanah milik yang dilewati jalur.
b. Flora dan Fauna
Jenis flora yang dijumpai di jalur ini tercatat 47 jenis, baik flora berkayu maupun tidak berkayu seperti Pinus (Pinus merkusii), Puspa (Schima wallichii), Akasia (Acacia decurrens), Bintami (Podocarpus imbricata) yang ditanam oleh Perum Perhutani, disamping jenis-jenis alami seperti Pasang (Quercus spicata), Dempul (Glochidion sp.), Lotrok (Nauclea obtuse), Luwing (Ficus hispida), Sowo
(m)
(Engelhardia serrata), Bambu Cendani (Bambusa multiplex) dan lain-lain. Pada tipe Hutan Hujan Sub Alpin tumbuh jenis-jenis Kemlandingan gunung (Albizzia montana), Edelweiss (Anaphalis javanica), Cantigi (Vaccinium varingifolium) dan rumput-rumputan seperti Merangan dan Bubarjaran.
Adapun fauna yang tercatat berjumlah 13 jenis, terdiri dari 2 mamalia dan 11 aves. Jenis fauna yang cukup menarik di jalur ini antara lain Elang hitam (Ichtinaetus malayensis), Alap-alap (Falco sp.) dan Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).
Selengkapnya daftar jenis-jenis flora fauna hasil inventarisasi pada jalur ini dapat dilihat dalam Lampiran 15 dan 23.
5.1.3. Jalur Non Pendakian Selo - Mata Air
Jalur Selo - mata air ini mempunyai pola yang jalur tidak memutar kembali ke Desa Tarubatang karena sebenarnya merupakan jalan menuju desa lainnya (Desa Surodadi). Jalur ini melewati camping ground yang berada di sekitar pintu masuk kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu, sebuah mata air pada jarak + 200 m yang airnya dimanfaatkan penduduk untuk keperluan sehari-hari dan juga oleh para pengunjung yang berkemah. Di sekitar mata air tersebut terdapat batu memori (nisan) mahasiswa UNS tanpa nama yang meninggal pada tahun 1992 di lokasi tersebut akibat kecelakaan ketika mengikuti pendidikan dasar pecinta alam.
Kondisi fisik jalur ini pada bagian awalnya berupa jalan berbatu namun setelah lokasi mata air jalur berupa jalan setapak dari tanah.
Tabel 11 Rute jalur Selo - Mata Air
No. Rute Jarak Jarak
Akumulasi
Ketinggian (m dpl) 1. Start Batas Kawasan - Camping ground 50 m 50 m 1.854 2. Camping ground - Pertigaan ke puncak 50 m 100 m 1.864 3. Pertigaan ke puncak - Mata Air 100 m 200 m 1.825 4. Mata Air - Akhir Pengamatan 700 m 900 m 1.824
Tercatat 10 titik yang direkam dengan menggunakan alat GPS Receiver yang merupakan titik HM seluruhnya. Tabel 12 memperlihatkan titik-titik utama jalur non pendakian Selo - mata air.
K et ingg ia n Jarak 1032 0 18 54 17 98 100 200 300 400 500 600 700 800 900 18 08 18 18 1 828 18 38 18 48
Tabel 12 Data rekaman GPS Receiver jalur Selo - Mata Air Koordinat No. Rute
BT LS Ketinggian
(m dpl) 1. Start Batas Kawasan + Camping Ground 110° 27' 04.5" 07° 29' 02.3" 1.854 2. Pertigaan ke puncak 110° 27' 34.2" 07° 28' 51.1" 1.864 3. Mata Air 110° 27' 34.4" 07° 28' 51.6" 1.825 4. Akhir Pengamatan 110° 27' 51.7" 07° 29' 03.8" 1.824
Profil jalur non pendakian Selo - mata air (Gambar 8) mempunyai kecenderungan menurun dengan sedikit variasi tanjakan dan turunan yang masih tergolong landai.
Gambar 8 Profil jalur non pendakian Selo - Mata Air (tanpa skala)
Berikut hasil pengamatan kondisi ekosistem serta pencatatan flora dan fauna dalam kegiatan verifikasi pada jalur non pendakian ini.
a. Ekosistem
Kondisi ekosistem pada jalur ini relatif masih utuh untuk suatu Hutan Sekunder.
b. Flora dan Fauna
Kegiatan verifikasi mencatat 26 jenis flora berkayu maupun tidak berkayu di jalur ini. Jenis-jenis tersebut yang mendominasi diantaranya Pinus (Pinus merkusii), Puspa (Schima wallichii), Bintami (Podocarpus imbricata), dan jenis-jenis lain.
Sedangkan fauna yang tercatat sebanyak 25 jenis, terdiri dari 1 jenis mamalia dan 24 jenis aves. Fauna yang keberadaannya cukup menarik di jalur Selo - mata air antara lain Ayam hutan hijau (Gallus varius) dan Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).
(m)
Selengkapnya daftar jenis-jenis flora fauna hasil inventarisasi pada jalur ini dapat dilihat dalam Lampiran 13 dan 21.
5.1.4. Jalur Non Pendakian Tekelan - Watu Tadah
Jalur ini relatif datar, hanya ada sedikit bagian yang menanjak. Jarak tempuhnya dari batas kawasan hingga lokasi Watu Tadah + 1.000 m, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam saja. Untuk menuju batas kawasan dari base start Tekelan diperlukan waktu sekitar 10 menit berjalan kaki.
Pada jalur ini dapat ditemui pemandangan yang indah pada lembah hutan tanaman Pinus dan pada sungai kecil yang berada di lembah antara dua punggungan. Watu Tadah merupakan air terjun (musiman) yang membentuk sungai kecil. Letaknya yang tersembunyi di sebuah tebing dan jalur akses menuju lokasi yang berbeda dengan jalur pendakian membuat jalur ini dan obyek-obyeknya tidak dikenal selain oleh penduduk setempat. Keseluruhan jalur berupa jalan setapak dari tanah.
Tabel 13 Rute jalur Tekelan - Watu Tadah
No. Rute Jarak Jarak
Akumulasi
Ketinggian (m dpl) 1. Start Batas Kawasan - Hutan Pinus 50 m 50 m 1.725 2. Hutan Pinus - Tebing Batu 600 m 650 m 1.728 3. Tebing Batu - Dasar Lembah (Sungai Kecil) 150 m 800 m 1.744 4. Dasar Lembah (Sungai Kecil) - Watu Tadah 200 m 1.000 m 1.812
Seluruhnya terdapat 11 titik yang direkam dengan menggunakan alat GPS Receiver yang semuanya merupakan titik HM. Penangkapan sinyal dari satelit oleh GPS Receiver di lokasi air terjun Watu Tadah sulit karena posisinya dikelilingi tebing menyebabkan akurasi yang didapat sangat rendah (+ 15 m).
Tabel 14 menyajikan data hasil rekaman alat GPS Receiver pada titik-titik utama jalur non pendakian Tekelan - Watu Tadah.
Tabel 14 Data rekaman GPS Receiver jalur Tekelan - Watu Tadah Koordinat No. Rute
BT LS Ketinggian
(m dpl) 1. Base Start Tekelan (KOMPPAS) 110° 25' 41.4" 07° 24' 55.4" 1.662 2. Start Batas Kawasan 110° 25' 42.4" 07° 24' 46.8" 1.725 3. Hutan Pinus + Akasia 110° 25' 46.4" 07° 24' 51.8" 1.726 4. Tebing Batu 110° 25' 48.7" 07° 25' 01.3" 1.718 5. Dasar Lembah (Sungai Kecil) 110° 25' 51.5" 07° 25' 10.6" 1.744 6. Watu Tadah 110° 25' 52.3" 07° 25' 16.8" 1.812
Profil jalur Tekelan - Watu Tadah secara umum menanjak, dengan variasi turunan di awal jalur dan beberapa segmen yang mendatar (Gambar 9).
K et ingg ian Jarak 988 0 176 4 16 76 175 350 525 700 875 17 01 17 26 17 51
Gambar 9 Profil jalur non pendakian Tekelan - Watu Tadah (tanpa skala)
Dalam kegiatan verifikasi pada jalur ini dilakukan pengamatan kondisi ekosistem serta pencatatan flora dan fauna. Hasil pengamatan dan pencatatan tersebut disampaikan berikut ini.
a. Ekosistem
Jalur Tekelan - Watu Tadah mempunyai 3 tipe ekosistem, yaitu ekosistem Hutan Hujan Pegunungan, ekosistem sungai dan ekosistem danau air tawar (pada lingkungan air terjun Watu Tadah yang terdapat genangan air). Kondisi ekosistem Tekelan - Watu Tadah relatif masih utuh.
b. Flora dan Fauna
Flora yang tercatat di jalur Tekelan - Watu Tadah berjumlah 47 jenis, baik yang berkayu maupun tidak berkayu, seperti Pinus (Pinus merkusii), Puspa (Schima wallichii), Bintami (Podocarpus imbricata), Akasia (Acacia decurrens), Pasang (Quercus spicata), Kina (Chinchona sp.), Dempul (Glochidion sp.), Umbel-umbelan (Sauauria sp.), Rustania, Lotrok (Nauclea obtuse), Semantung (Ficus hispida), Luwing (Ficus hispida), Pampung (Oenanthe javanica), serta Pakis Galar (Cyathea contaminans).
Dalam verifikasi hanya tercatat 5 jenis fauna yang terdiri dari 1 mamalia yaitu Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan 4 jenis aves yaitu Alap-alap (Falco sp.), Gagak kampung (Corvus macrorynchos), burung Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus), dan Sepah gunung (Pericrocotus miniatus).
Selengkapnya daftar jenis-jenis flora fauna hasil inventarisasi pada jalur ini dapat dilihat dalam Lampiran 16 dan 24.
(m)
K et ingg ian Jarak 1067 0 157 5 138 8 200 400 600 800 143 8 1 488 1 538
5.1.5. Jalur Non Pendakian TWA Tuk Songo - Tekelan
Jalur ini berawal dari pintu masuk TWA Tuk Songo dan berakhir pada perbatasan antara kawasan taman wisata alam ini dengan tanah milik penduduk Dusun Tekelan (enklave). Dari batas antara kawasan TWA Tuk Songo dengan tanah milik, untuk menuju base start Tekelan dapat ditempuh berjalan kaki kurang dari 10 menit melewati kebun dan rumah penduduk Dusun Tekelan.
Panjang jalur ini + 1.000 m dengan vegetasi didominasi tanaman Pinus dan Puspa. Jalur TWA Tuk Songo - Tekelan berupa jalan setapak dari tanah.
Tabel 15 Rute jalur TWA Tuk Songo - Tekelan
No. Rute Jarak Jarak
Akumulasi
Ketinggian (m dpl) 1. Gerbang Kawasan TWA Tuk 9 - Taman Bermain 50 m 50 m 1.725 2. Taman Bermain - Tanjakan Pinus 50 m 100 m 1.728 3. Tanjakan Pinus - Jalan Tembus Cunthel 100 m 200 m 1.744 4. Jalan Tembus Cunthel - Batas Kawasan TWA 800 m 1.000 m 1.630
Data hasil rekaman alat GPS Receiver pada titik-titik utama jalur TWA Tuk Songo - Tekelan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 16 Data rekaman GPS Receiver jalur TWA Tuk Songo - Tekelan Koordinat (UTM) No. Rute
BT LS Ketinggian
(m dpl) 1. Gerbang TWA Tuk Songo Kopeng 110.4209883 -7.4006017 1.410 2. Taman Bermain 110.4215233 -7.4009867 1.409 3. Tanjakan Pinus 110.4221250 -7.4033267 1.467 4. Pertigaan - Jalan Tembus ke Cunthel 110.4225317 -7.4061583 1.601 5. Perbatasan 110.4229617 -7.4071033 1.612
Jalur TWA Tuk Songo - Tekelan mempunyai profil yang menanjak, terutama pada jarak 200 hingga 800 m pertama, yang merupakan segmen antara awal hutan Pinus dengan pertemuan dengan jalan tembus ke Dusun Cunthel (Gambar 10).
Gambar 10 Profil jalur non pendakian TWA Tuk Songo - Tekelan (tanpa skala)
(m)
Sebenarnya di dalam TWA Tuk Songo juga terdapat jalur pengunjung dan obyek-obyek alami seperti air terjun musiman, hutan alam, mata air dan sungai yang dapat dimanfaatkan untuk interpretasi alam, namun karena lokasinya yang berada di lembah membuat alat GPS Receiver yang digunakan tidak mampu menangkap sinyal dari satelit untuk mencatat track jalurnya.
Hasil pengamatan kondisi ekosistem serta pencatatan flora dan fauna dalam kegiatan verifikasi pada jalur ini adalah sebagai berikut :
a. Ekosistem
Ekosistem jalur TWA Tuk Songo - Tekelan yang berupa ekosistem Hutan Sekunder relatif utuh dan hanya sedikit terganggu.
b. Flora dan Fauna
Pada jalur non pendakian ini, jenis flora yang mendominasi adalah Pinus (Pinus merkusii), Puspa (Schima wallichii). Hal ini dapat dimaklumi mengingat jenis-jenis tersebut merupakan flora yang ditanam oleh Perum Perhutani selaku pengelola TWA Tuk Songo sebelumnya.
Jenis fauna yang dijumpai juga sangat sedikit, hanya 3 jenis yang kesemuanya termasuk aves, yaitu Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Tekukur biasa (Streptopelia chinensis) dan Wiwik kelabu (Cuculus merulinus).
Selengkapnya daftar jenis-jenis flora fauna hasil inventarisasi pada jalur ini dapat dilihat dalam Lampiran 17 dan 25.
5.1.6. Jalur Non Pendakian Tekelan - Krinjingan
Jalur ini merupakan jalur dari Dusun Tekelan menuju air terjun lain di dalam kawasan TN Gunung Merbabu yang disebut oleh masyarakat setempat dengan nama air terjun Krinjingan. Untuk menuju batas kawasan yang menjadi awal jalur ini diperlukan waktu sekitar 5 menit berjalan kaki dari base start Tekelan. Jalur ini awalnya sama dengan jalur menuju ”Dufan”, namun berpisah di sebuah pertigaan pada jarak 50 m. Jalur yang tidak memutar ini medannya cenderung datar dan agak menurun, panjangnya + 450 m, dapat ditempuh dengan waktu 15 menit saja dengan kondisi fisik jalur berupa jalan setapak.
Tabel 17 Rute jalur Tekelan - Krinjingan
No. Rute Jarak Jarak
Akumulasi
Ketinggian (m dpl) 1. Start kawasan - Pertigaan ke “Dufan” 50 m 50 m 1.643 2. Pertigaan ke “Dufan” - Air Terjun Krinjingan 400 m 450 m 1.620
K e ti nggi a n Jarak 407 0 16 12 15 38 75 150 225 300 156 3 158 8
Hanya terdapat 6 titik yang direkam pada jalur ini dengan menggunakan alat GPS Receiver. Jumlah tersebut meliputi 5 titik HM dan 1 titik diluar HM. Penangkapan sinyal dari satelit oleh GPS Receiver di lokasi Air Terjun Krinjingan sulit karena posisinya yeng berada di bawah tebing sehingga keakuratannya sangat rendah (+ 20 m). Berikut hasil rekaman alat GPS Receiver pada titik-titik utama jalur non pendakian Tekelan - Air Terjun Krinjingan.
Tabel 18 Data rekaman GPS Receiver jalur Tekelan - Krinjingan Koordinat No. Rute
BT LS Ketinggian
(m dpl) 1. Base Start Tekelan (KOMPPAS) 110° 25' 41.4" 07° 24' 55.4" 1.662 2. Start kawasan 110° 25' 41.9" 07° 24' 35.3" 1.643 3. Pertigaan ke “Dufan” 110° 25' 43.0" 07° 24' 36.9" 1.622 4. Air Terjun Krinjingan 110° 25' 50.7" 07° 24' 44.8" 1.620
Gambar 11 menunjukkan profil jalur Tekelan - Krinjingan yang cenderung landai dan menurun, dengan satu variasi tanjakan yang tidak terlalu curam.
Gambar 11 Profil jalur non pendakian Tekelan - Krinjingan (tanpa skala)
Kondisi ekosistem serta jenis-jenis flora dan fauna pada jalur ini adalah sebagai berikut :
a. Ekosistem
Jalur Tekelan - Krinjingan mempunyai 1 tipe ekosistem, yaitu ekosistem Hutan Sekunder pada ketinggian + 1.643 - + 1.620 m dpl. Pada musim hujan diperkirakan terbentuk danau dan sungai kecil di sekitar air terjun Krinjingan.
b. Flora dan Fauna
Jenis flora baik berkayu maupun tidak berkayu yang tercatat di jalur ini hanya berjumlah 10 jenis. Diantara jenis-jenis tersebut adalah Pinus (Pinus merkusii), Puspa (Schima wallichii), Bintami (Podocarpus imbricata), Akasia
(m
)
(Acacia decurrens), Kina (Chinchona sp.) dan rumput Alang-alang (Imperata cylindrica).
Fauna yang dijumpai sebanyak 4 jenis yang semuanya termasuk jenis aves, yaitu Alap-alap (Falco sp.), Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Bentet (Lanius schach), dan Trocokan atau Merbah crocok (Pycnonotus goiavier).
Selengkapnya daftar jenis-jenis flora fauna hasil inventarisasi pada jalur ini dapat dilihat dalam Lampiran 18 dan 26.
5.1.7. Jalur Non Pendakian Tekelan - ”Dufan”
”Dufan” atau ”Dunia Fantasi” adalah julukan yang diberikan KOMPPAS (KomunitasPeduli Puncak Syarif, yang merupakan kelompok pemuda Dusun Tekelan yang merawat jalur pendakian Tekelan - puncak) kepada suatu tempat yang nama sebenarnya adalah Wetan Pereng. Dufan berupa lembah yang ditubuhi hutan Pinus dengan sungai kecil (Kali Bacin) di dasarnya. Lokasi ini mempunyai pemandangan yang indah ke atas (arah puncak Gunung Merbabu) maupun ke bawah (arah Salatiga). Jalur Tekelan - ”Dufan” yang berupa jalan setapak dari tanah, polanya memutar kembali ke posisi awal dimulainya jalur.
Tabel 19 Rute jalur Tekelan - “Dufan”
No. Rute Jarak Jarak
Akumulasi
Ketinggian (m dpl) 1. Start kawasan - Pertigaan ke Krinjingan 50 m 50 m 1.643 2. Pertigaan ke Krinjingan - “Dufan” 350 m 400 m 1.662 3. “Dufan” - Batas Kawasan 325 m 725 m 1.683
Terdapat 9 titik yang direkam di jalur ini dengan menggunakan alat GPS Receiver, meliputi 8 titik HM dan 1 titik puncak diluar HM (Tabel 20).
Tabel 20 Data Rekaman GPS Receiver Jalur Tekelan - “Dufan” Koordinat No. Rute
BT LS Ketinggian
(m dpl) 1. Base Start Tekelan (KOMPPAS) 110° 25' 41.4" 07° 24' 55.4" 1.662 2. Start kawasan 110° 25' 41.9" 07° 24' 35.3" 1.643 3. Pertigaan ke Krinjingan 110° 25' 43.0" 07° 24' 36.9" 1.622 4. “Dufan” 110° 25' 48.3" 07° 24' 46.9" 1.662 5. Batas Kawasan 110° 25' 41.5" 07° 24' 39.7" 1.683
Berbeda dengan jalur Tekelan - Krinjingan yang cenderung datar dan menurun, profil jalur Tekelan - Dufan agak menanjak dengan sedikit variasi turunan (Gambar 12).
K
e
ti
ngg
ian
Jarak
716.7 0 16 51 16 12 125 250 375 500 625 16 37Gambar 12 Profil jalur non pendakian Tekelan - ”Dufan” (tanpa skala)
Hasil pengamatan kondisi ekosistem serta pencatatan flora dan fauna pada jalur non pendakian Tekelan - ”Dufan” adalah sebagai berikut :
a. Ekosistem
Kondisi ekosistem jalur Tekelan - ”Dufan” yang berada pada ketinggian + 1.643 hingga + 1.683 m dpl dapat dikatakan utuh untuk Hutan Sekunder.
b. Flora dan Fauna
Jumlah flora yang tercatat di jalur ini sebanyak 15 jenis, baik flora berkayu maupun yang tidak berkayu. Jenis Pinus (Pinus merkusii), Puspa (Schima wallichii), Bintami (Podocarpus imbricata), Akasia (Acacia decurrens), Kina (Chinchona sp.), Waru (Hibiscus macrophyllus), serta rumput seperti Alang-alang (Imperata cylindrica) dan Blabakan merupakan contoh flora yang tercatat di jalur ini.
Adapun fauna yang tercatat hanya 6 ekor, yang semuanya merupakan jenis aves, yaitu Alap-alap (Falco sp.), Bentet (Lanius schach), Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus), Prenjak (Prinia familiaris), dan Trocokan atau Merbah crocok (Pycnonotus goiavier).
Selengkapnya daftar jenis-jenis flora fauna hasil inventarisasi pada jalur ini dapat dilihat dalam Lampiran 19 dan 27.
5.1.8. Jalur Non Pendakian Selo - Jurang Warung
Jalur ini berawal dari titik yang sama dengan jalur pendakian Selo - puncak, namun berpisah pada pertigaan Pitikan dan bertemu dengan jalur Selo - mata air di ujungnya. Kondisi fisik jalur seluruhnya berupa tanah. Dengan panjang +
(m)
K et inggi a n Jarak 2873 0 19 49 17 75 500 1000 1500 2000 2500 18 2 5 18 75
2.800 m (belum termasuk jalur Selo - mata air) diperlukan waktu sekitar 3 jam untuk menempuhnya.
Tabel 21 Rute jalur Selo - Jurang Warung
No. Rute Jarak Jarak
Akumulasi
Ketinggian (m dpl) 1. Start kawasan - Pertigaan Pitikan 600 m 600 m 1.939 2. Pertigaan Pitikan - “Surga Burung” 100 m 700 m 1.967 3. “Surga Burung” - Pertigaan (Pinus - Surodadi) 200 m 900 m 1.974 4. Pertigaan - Hutan Pinus 200 m 1.100 m 1.977 5. Hutan Pinus - Akasia 700 m 1.800 m 1.829 6. Akasia - Pal Batas TN 425 m 2.225 m 1.816 7. Pal Batas TN - Lembah 575 m 2.700 m 1.812 8. Lembah - Jalur Selo - Mata Air 100 m 2.800 m 1.800
Sedikitnya pada jalur ini terdapat 26 titik yang direkam dengan menggunakan alat GPS Receiver yang semua merupakan titik HM (Tabel 22).
Tabel 22 Data rekaman GPS Receiver jalur Selo - Jurang Warung Koordinat No. Rute BT LS Ketinggian (m dpl) 1. Start kawasan 110° 27' 04.5" 07° 29' 02.3" 1.854 2. Pertigaan Pitikan 110° 27' 35.7" 07° 28' 43.7" 1.961 3. “Surga Burung” 110° 27' 38.5" 07° 28' 39.2" 1.978 4. Pertigaan (Pinus - Surodadi) 110° 27' 42.9" 07° 28' 39.0" 1.974 5. Hutan Pinus 110° 27' 48.5" 07° 28' 36.0" 1.977 6. Akasia 110° 27' 49.5" 07° 28' 41.6" 1.829 7. Pal Batas TN 110° 27' 57.1" 07° 28' 52.1" 1.816 8. Lembah 110° 27' 53.8" 07° 29' 01.6" 1.812 9. Pertemuan Jalur Selo - Mata Air 110° 27' 51.9" 07° 29' 02.4" 1.800
Jalur Selo - Jurang Warung mempunyai profil medan yang bervariasi dengan perbandingan yang relatif sama antara segmen jalur yang menanjak dan segmen jalur yang menurun, namun secara umum medan ini tidak terlalu berat.
Gambar 13 Profil jalur non pendakian Selo - Jurang Warung (tanpa skala)
(m)
Berikut hasil pengamatan kondisi ekosistem serta pencatatan flora dan fauna dalam kegiatan verifikasi pada jalur non pendakian Selo - Jurang Warung.
a. Ekosistem
Jalur Selo - Jurang Warung yang berada pada ketinggian + 1.729 - + 2.500 m dpl melewati tipe Hutan Hujan Pegunungan yang didalamnya terdapat Hutan Sekunder. Kondisi ekosistem pada jalur ini bervariasi antara ekosistem yang masih utuh serta lembab dengan pohon-pohon yang rapat dan ekosistem yang cenderung homogen dan terbuka.
b. Flora dan Fauna
Jenis-jenis seperti Pinus (Pinus merkusii), Puspa (Schima wallichii), Kina (Chinchona sp.), Rustania, Bintami (Podocarpus imbricata), Cemara gunung (Casuarina junghuhniana), Kaliandra (Calliandra sp.), Sowo (Engelhardia serrata), Pasang (Quercus spicata), Wuru (Litsea sp.), Dempul (Glochidion sp.), Picis (Nauclea lanceolata), Dadap (Erythrina sp.), Wilodo (Ficus fistulosa), dan Bambu Cendani (Bambusa multiplex) merupakan beberapa contoh dari 32 jenis flora yang ditemui di jalur ini.
Sedangkan fauna yang tercatat sebanyak 48 jenis, semuanya jenis aves. Pada jarak 100 - 400 m dari pertigaan Pitikan dijumpai beragam jenis burung (setidaknya 33 jenis) sehingga tempat ini dapat disebut sebagai ”Surga Burung”.
Selengkapnya daftar jenis-jenis flora fauna hasil inventarisasi pada jalur ini dapat dilihat dalam Lampiran 20 dan 28.
5.1.9. Data Spasial Obyek Lainnya
Beberapa obyek atau lokasi khusus yang tidak tepat berada di jalur verifikasi juga direkam posisi spasialnya dengan GPS Receiver yang digunakan. Tabel 23 menampilkan data spasial obyek atau lokasi khusus lainnya.
Tabel 23 Data spasial obyek Lainnya
Koordinat No. Obyek
BT LS Ketinggian
(m dpl) Jalur
1. Mata Air 110° 27' 34.4" 07° 28' 51.6" 1.825 Selo 2. Alur Longsor 110° 27' 13.2" 07° 28' 20.0" 2.199 Selo
3. Lokasi Kantung Semar 110° 27' 14.1" 07° 28' 16.1" 2.253 Selo 4. Memori Heri Susanto 110° 26' 42.1" 07° 28' 01.4" 2.674 Selo 5. Lokasi Kemah (Sabana II) 110° 26' 33.8" 07° 27' 36.4" 2.860 Selo 6. Watu Lumpang 110° 26' 30.8" 07° 27' 28.5" 2.918 Selo 7. Base Start Tekelan 110° 25' 34.3" 07° 24' 43.1" 1.662 Tekelan 8. Watu Gubug 110° 26' 18.1" 07° 26' 19.6" 2.737 Tekelan 9. Kawah Candradimuka 110° 26' 20.6" 07° 26' 51.3" tdk tercatat Tekelan 10. Mata Air tersembunyi 110° 26' 22.6" 07° 26' 53.0" 2.867 Tekelan 11. Memori Sugiyanto 110° 26' 26.6" 07° 27' 11.7" 3.135 Tekelan
Seluruh data spasial jalur yang diperoleh dalam verifikasi ditampalkan (overlay) dalam program ArcView GIS 3.3. Gambar 14 menunjukkan overlay jalur pada kelas lereng kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu, sedangkan Gambar 15 menunjukkan overlay jalur terhadap ketinggian kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu.
5.2. Sarana dan Prasarana Interpretasi Alam
Mengingat Balai TN Gunung Merbabu merupakan UPT yang masih baru, maka sarana dan prasarana wisata di kawasan TN Gunung Merbabu merupakan sarana dan prasarana yang dibangun oleh pengelola sebelumnya (Perum Perhutani) dan umumnya bukan sarana dan prasarana interpretasi alam.
Sarana dan prasarana interpretasi alam yang telah tersedia antara lain Wisma Bina Cinta Alam yang berada di kantor Balai TN Gunung Merbabu di Boyolali, dan shelter atau pos pendakian (hanya terdapat di jalur Tekelan - puncak). Papan petunjuk yang ada merupakan papan petunjuk arah, bukan papan interpretasi alam dan hanya terbuat dari lembaran seng yang dipaku ke batang pohon di kanan - kiri jalur pendakian, bertuliskan nama kelompok pecinta alam pembuat papan petunjuk arah tersebut serta arah menuju puncak.
5.2.1. Jalur Pendakian Selo - Puncak
Sarana dan prasarana wisata yang ada di jalur pendakian Selo - puncak masih sangat minim. Di sepanjang jalur pendakian ini pos pendakian yang biasa digunakan para pendaki untuk beristirahat masih berupa tanah datar yang kosong, belum ada bangunan permanen ataupun semi permanen. Jalur Selo kondisi fisiknya berupa jalan setapak dari tanah, belum ada pengerasan dengan batu yang ditata. Ketika hujan turun jalur tersebut menjadi jalan aliran air sehingga rawan terjadi erosi.
5.2.2. Jalur Pendakian Tekelan - Puncak
Sedangkan sarana dan prasarana wisata pada jalur Tekelan - puncak adalah pos-pos pendakian yang dibangun oleh kelompok pemuda pecinta alam Dusun Tekelan yang bernama KOMPPAS (Komunitas Peduli Puncak Syarif). Pos-pos pendakian tersebut berupa bangunan permanen (Pos I Pending yang berada di atas tanah milik), bangunan semi permanen berdinding dan beratap dari seng (Pos II Ijo/Pereng Putih) dan bangunan semi permanen yang terbuat dari batang kayu dan beratap seng (Pos III Gumuk Mentul).
Gambar 14 Ove rla y ja lu r ve rifikasi p ada k e la s le reng TNGMB
G a mbar 15 Ov er la y jalu r verif ikasi t e rhadap ketinggian k a w a s an TNGMB
Kondisi fisik jalur Tekelan menuju puncak berupa jalan setapak dari tanah atau batuan lepas yang secara alami terdapat pada jalur tersebut. Sebagian jalur ini (khususnya yang kondisi alamnya terbuka) mengalami erosi cukup berat akibat aliran air dan membentuk parit hingga kedalaman parit mencapai 1 meter.
5.2.3. Jalur Non Pendakian
Seluruh jalur non pendakian (Selo - Mata Air, Tekelan - Watu Tadah, TWA Tuk Songo - Tekelan, Tekelan - ”Dufan”, Tekelan - Watu Tadah, Selo - Jurang Warung) sama sekali tidak mempunyai sarana dan prasarana interpretasi alam. Jalur-jalur tersebut juga belum mengalami perbaikan kualitas dan masih berupa jalan setapak dari tanah.
Secara umum sarana dan prasarana interpretasi alam di TN Gunung Merbabu masih minim, dan bahkan dapat dikatakan belum ada, sehingga apabila dikembangkan jalur interpretasi alam di taman nasional ini perlu dilakukan beberapa kegiatan seperti pengerasan jalur, pembuatan papan interpretasi alam, pembangunan shelter, petunjuk arah, pemberian tali pengaman pada bagian jalur yang rawan/terjal.
5.3. Aksesibilitas Jalur
Rute perjalanan dari kota Semarang yang merupakan ibukota Propinsi Jawa Tengah menuju base start jalur pendakian maupun non pendakian yang diverifikasi (dengan waktu tempuh menggunakan kendaraan pribadi roda 2 atau 4) adalah sebagai berikut :
5.3.1. Jalur Pendakian Selo
- Semarang - Boyolali - Selo - Desa Tarubatang dengan jarak ± 95 km dengan waktu tempuh ± 2 jam 30 menit.
Kondisi jalan sampai dengan Kota Kecamatan Selo beraspal halus, namun dari Kota Kecamatan Selo ke Desa Tarubatang sebagian aspal jalan rusak hingga menyerupai jalan makadam. Selain itu jalan Kota Kecamatan Selo - Desa Tarubatang sempit sehingga hanya dapat dilalui 1 kendaraan roda 4.
5.3.2. TWA Tuk Songo Kopeng
- Semarang - Salatiga - Kopeng dengan jarak ± 55 km dengan waktu tempuh + 1 jam 30 menit
Sejak dari kota Semarang hingga Kopeng kondisi jalan seluruhnya beraspal halus. Dari TWA Tuk Songo ke Dusun Tekelan ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan setapak dan kebun masyarakat selama + 30 menit.
5.3.3. Jalur Pendakian Tekelan
- Semarang - Salatiga - Kopeng - Dusun Tekelan, dengan jarak ± 60 km dengan waktu tempuh + 1 jam 30 menit
Kondisi jalan mulai dari kota Semarang hingga Kopeng beraspal halus, sedangkan dari Kopeng ke Dusun Tekelan separuh bagian akhir jalan berupa jalan makadam.
5.4. Karakteristik dan Demand Pengguna (Pendaki) TN Gunung Merbabu
Sebanyak 33 responden pendaki gunung ditemui di lokasi (base start) pendakian maupun di masing-masing sekretariat (basecamp) kelompok mereka di kota Solo, Magelang, Salatiga dan Semarang.
5.4.1 Karakteristik Responden Pendaki
Responden pendaki gunung didominasi oleh responden laki-laki sebanyak 29 orang atau sekitar 87,9%. Hal ini mungkin berkaitan dengan anggapan masyarakat mengenai kegiatan pendakian yang merupakan kegiatan alam bebas yang berbahaya dan hanya pantas dilakukan oleh para lelaki. Rata-rata usia responden 22-23 tahun, dengan kisaran umur 15 - 30 tahun.
Tingkat pendidikan responden umumnya adalah lulus SMA (84,8%) disusul lulus SMP dan Perguruan Tinggi (S1) yang masing-masing mempunyai persentase yang sama, yaitu sebesar 6,1%.
Sedangkan untuk pekerjaan, didominasi responden yang masih berstatus mahasiswa yaitu sekitar 78,8%. Hal ini sesuai kenyataan di masyarakat bahwa kegiatan mendaki gunung umumnya dilakukan oleh mahasiswa.
Berdasarkan sebaran asal komunitas pendaki, hasil kuesioner menunjukkan asal responden terbanyak dari kota Solo (15 orang atau 45,5%), disusul oleh asal komunitas kota Semarang sebanyak 8 orang (24,2%).
Tabel 24 menunjukkan rekapitulasi karakteristik responden pendaki.
Tabel 24 Karakteristik responden pendaki
No. Karakteristik Persentase
(%) Keterangan 1 2 3 4 1. Jenis Kelamin - Laki - laki 87,9 - Perempuan 12,1 2. Kelompok Umur a. KU 1 ( < 15 tahun ) 0 b. KU 2 ( 15 – 24 tahun ) 75,8 c. KU 3 ( 25 – 35 tahun ) 24,2 d. KU 4 ( > 35 tahun ) 0
1 2 3 4 3. Tingkat Pendidikan SD 0 SMP 6,1 SMA 84,8 Diploma 3,0 Sarjana (S1) 6,1 4. Pekerjaan Pelajar 6,1 Mahasiswa 78,8 Wirausaha 3,0 Karyawan Swasta 6,1 Freelance 3,0 Belum Bekerja 3,0 5. Asal Semarang 24,2 Salatiga 12,1 Solo 45,5 Magelang 18,2
5.4.2. Pengetahuan Jalur Pendakian
Rata-rata responden mengetahui 4 jalur pendakian. Dari jalur yang mereka ketahui tersebut, 36,4% responden atau 12 orang pernah melalui jalur pendakian Tekelan dengan waktu tempuh sekitar 7-8 jam, dan 27,3% atau 9 orang pernah mendaki melalui jalur pendakian Selo dengan waktu tempuh sekitar 6 - 7 jam.
Gambar 16 Jalur yang pernah dilewati
5.4.3. Sumber Informasi Jalur Pendakian
Untuk sumber informasi mengenai jalur-jalur pendakian, hampir semua responden pendaki atau sekitar 93,9% menyatakan bahwa mereka mengetahui informasi suatu jalur pendakian dari teman, hanya 6,1% yang mencari informasi mengenai jalur pendakian dengan cara melihat peta. Tidak ada responden yang mengaku mendapatkan informasi dari koran/majalah serta dari promosi pengelola (dalam hal ini Balai Taman Nasional Gunung Merbabu). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh masih kurangnya koran/majalah yang mengulas tentang pendakian khususnya di Gunung Merbabu serta kurangnya promosi
37% 27% 21% 9% 6% Tekelan Selo Wekas Guolelo Ngagrong
yang dilakukan oleh pihak pengelola yang pada saat penelitian dilakukan merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang masih baru.
Gambar 17 Sumber informasi jalur pendakian
5.4.4. Modus dan Tujuan Pendakian
Hampir semua (96,7%) responden melakukan perjalanan pendakian secara berombongan, hanya satu orang atau sekitar 3% yang melakukan pendakian sendirian. Hal ini masih mungkin terjadi karena belum adanya larangan atau aturan mengenai perjalanan yang mengharuskan lebih dari 1 orang (minimal 2 orang). Dari perjalanan pendakian secara berombongan, ternyata paling banyak pendaki melakukannya dalam rombongan besar (diatas 10 orang) yaitu sebanyak 54,5% sedangkan pendaki yang melakukan dalam rombongan kecil ada sebanyak 42,4%. Untuk pendaki yang mengadakan pendakian dalam rombongan kecil paling banyak mengadakan perjalanan pendakian dengan 0 - 4 orang yaitu sebanyak 8 responden (57,1%), sedangkan sisanya sekitar 42,9% berrombongan 5 hingga 9 orang.
Gambar 18 Modus pendakian
Tujuan responden melakukan pendakian yang utama adalah untuk rekreasi (54,5% atau 18 orang) dan melakukan pendakian massal (24,2% atau 8 orang).
94% 6% Teman Peta 3% 42% 55% Sendiri Kelompok Kecil Kelompok Besar
Gambar 19 Tujuan pendakian
5.4.5. Faktor yang Paling Mempengaruhi Responden dalam Memilih Suatu Jalur Pendakian
Untuk mengetahui faktor apa yang paling mempengaruhi responden dalam memilih jalur pendakian, dilakukan skoring terhadap nilai-nilai yang diberikan.
Tabel 25 Skoring terhadap nilai-nilai faktor yang paling mempengaruhi responden dalam memilih jalur pendakian
Nilai Sangat Baik Baik Biasa Tidak Baik Sangat tidak baik
Skoring 5 4 3 2 1
Dengan pilihan faktor berjumlah 17 macam, maka kemungkinan jumlah skor tertinggi adalah 165 (atau 17 x 5), dan kemungkinan jumlah skor terendah adalah 17 (atau 17 x 1).
Dari hasil penjumlahan terhadap jawaban yang diberikan responden, ternyata faktor yang mempunyai nilai skor paling besar adalah faktor pemandangan alam dengan jumlah skor 137, diikuti oleh faktor kesejukan udara dan faktor pengalaman sebelumnya (early experience) yang masing-masing mempunyai jumlah skor 131 dan 125.
Gambar 20 Faktor yang paling mempengaruhi dalam memilih jalur pendakian 137 131 119 125 121 118 115 120 109 112 107 119 100 0 20 40 60 80 100 120 140 160 Kondisi hutan Pemandangan Alam Kesejukan udara Aksesibilitas Pengalaman sebelumnya Informasi dari teman Jarak Tempuh Waktu Tempuh Topografi Jalur Kondisi fisik jalur Kondisi Ekosistem jalur Keamanan Jalur Sarpras pada jalur
Jarak Base Start dari kota asal Kondisi Base Start
Biaya total yang diperlukan Jenis Satwa yang dijumpai
117 105 112 114 55% 18% 3% 24% Rekreasi Pendidikan Penelitian Lain-lain
5.4.6. Alasan Utama Memilih Jalur yang Paling Sering Dilalui
Untuk pertanyaan alasan apa yang membuat responden memilih suatu jalur pendakian yang paling sering dilalui ternyata alasan pemandangan alam merupakan alasan tertinggi bagi 39,4% atau 13 orang responden. Alasan tertinggi kedua yang membuat responden memilih suatu jalur pendakian yang paling sering dilalui adalah waktu tempuh (33,3% atau 11 responden), sedangkan alasan tertinggi ketiga adalah jarak tempuh yang disebutkan oleh 27,3% atau 9 orang responden.
Gambar 21 Alasan utama memilih jalur yang paling sering dilalui
5.4.7. Preferensi Jalur Pendakian
Sedangkan untuk jalur yang paling disukai, sebanyak 33,3% responden atau 11 orang yang menyatakan menyukai jalur pendakian lewat Selo. Hal ini mungkin disebabkan akses ke lokasi yang mudah dicapai, tersedianya angkutan umum untuk menuju lokasi dan kondisi jalur pendakian yang nyaman dan mudah ditempuh. Urutan kedua ditempati oleh jalur Wekas dan jalur Tekelan, yang sama-sama disukai oleh 7 orang responden atau sekitar 21,2%.
Gambar 22 Jalur yang paling disukai
5.4.8. Preferensi Tingkat Kemiringan Jalur Pendakian
Untuk tingkat kemiringan jalur pendakian, sebanyak 23 orang atau sekitar 69,7% responden yang menyukai jalur yang mempunyai kombinasi kemiringan antara terjal dan landai. Mungkin menurut mereka jalur yang demikian tidak
39% 33% 27% Pemandangan Waktu Tempuh Jarak Tempuh 34% 21% 21% 15% 3% 3% 3% Selo Wekas Tekelan Guolelo Ngablak Ngagrong Tidak Ada
membuat mereka bosan dan tidak terlalu menguras tenaga mereka. Sedangkan responden yang menyukai jalur pendakian yang landai hanya sebesar 27,3% (9 orang) dan hanya 3,0% (1 orang) menyukai jalur pendakian yang terjal.
Gambar 23 Tingkat kemiringan jalur pendakian yang disukai
5.4.9. Pola Beristirahat dalam Pendakian
Dalam melakukan pendakian, 60,6% atau 23 orang responden pendaki menyatakan paling sering beristirahat pada tempat-tempat tertentu (seperti pos pendakian, shelter, padang rumput dan lain-lain). Pada urutan kedua 27,3% atau 9 responden menyatakan paling sering beristirahat berdasarkan waktu, dan pada urutan terakhir hanya 12,1% atau 4 responden yang menyatakan paling sering beristirahat berdasarkan jarak tempuh tertentu.
Untuk responden pendaki yang menyatakan paling sering beristirahat berdasarkan jarak, menyebutkan kisaran jarak tempuh 1 hingga 2 km untuk beristirahat atau rata-rata 1,8 km. Sedangkan responden pendaki yang menyatakan paling sering beristirahat berdasarkan waktu, melakukan pendakian selama 15 menit hingga 1 jam terlebih dahulu baru kemudian beristirahat.
Gambar 24 Pola beristirahat dalam pendakian
5.4.10. Preferensi Tempat Beristirahat dalam Pendakian
Ketika melakukan pendakian di Gunung Merbabu, mayoritas pendaki memilih pos pendakian sebagai urutan pertama tempat untuk beristirahat (20 orang atau sekitar 66,6% responden), disusul tempat di bawah puncak dan di shelter yang dipilih 5 orang atau sekitar 17,2% responden sebagai tempat pilihan pertamanya untuk beristirahat. Ini mungkin karena di pos pendakian biasanya
27% 3% 70% Landai Terjal Kombinasi 12% 27% 61% Jarak Waktu Tempuh Tempat Tertentu
sudah tersedia banyak fasilitas, misalnya di sekitar pos terdapat mata air dan biasanya letak pos pendakian yang strategis, seperti tempatnya luas, datar dan terlindung dari angin serta biasanya pos pendakian dibangun di tempat yang sudah diperhitungkan dimana kondisi pendaki diperkirakan mengalami penurunan sehingga memerlukan tempat beristirahat.
Gambar 25 Preferensi tempat beristirahat dalam pendakian
5.4.11. Kondisi Responden Ketika Melakukan Pendakian
Kondisi responden ketika mulai melakukan pendakian 33,3% berada dalam kondisi yang baik, sedangkan sisanya (66,7%) dalam kondisi yang sangat baik.
Gambar 26 Kondisi responden ketika melakukan pendakian
5.4.12. Obyek Daya Tarik Jalur Pendakian
Obyek yang membuat pendaki senang dalam melakukan pendakian di Gunung Merbabu ternyata didominasi oleh obyek pemandangan. Sebanyak 17 orang (51,5%) responden menempatkan obyek pemandangan sebagai pilihan pertama mereka mengenai obyek yang disenangi dalam perjalanan pendakian, disusul kondisi medan sebanyak 8 orang (24,2%). Hal ini sesuai dengan tujuan mereka yang banyak melakukan pendakian untuk tujuan rekreasi.
Gambar 27 Obyek daya tarik jalur pendakian 66% 17% 17% Pos Pendakian Di Bawah Puncak Shelter 33% 67% Baik Sangat Baik 3% 3% 24% 52% 18% Tumbuhan Hewan Medan Pemandangan Jarak Tempuh
5.4.13. Pengetahuan Responden Pendaki Mengenai Interpretasi Alam
Dari 33 orang responden yang diwawancarai ternyata mayoritas responden menyatakan tidak tahu tentang interpretasi alam, ada sekitar responden, dan sisanya sekitar 21,2% menyatakan tahu, walaupun menurut peneliti jawaban mereka tentang interpretasi alam tidak ada satupun yang tepat. Hal ini memberikan gambaran pada kita bahwa sangat rendah sekali pengetahuan masyararakat tentang interpretasi alam, karena responden yang notabene adalah pendaki atau pencinta alam yaitu orang yang sebagian besar waktunya mereka luangkan untuk kegiatan alam bebas ternyata hampir semuanya tidak memahami mengenai interpretasi alam, apalagi masyarakat umum.
Gambar 28 Pengetahuan responden pendaki mengenai Interpretasi Alam
Namun setelah responden diberi penjelasan oleh peneliti mengenai interpretasi alam, ternyata hampir semua responden (97%) menyatakan bahwa interpretasi alam adalah suatu hal yang penting untuk diselenggarakan. Bahkan sekitar 97% responden langsung menyatakan minatnya jika kegiatan interpretasi alam ini diselenggarakan di lokasi pendakian ini.
5.4.14. Preferensi Terhadap Dasar Kegiatan Interpretasi Alam
Ketika ditanya mengenai dasar pembentukan kegiatan interpretasi alam, ternyata jalur interpretasi alam yang dibuat berdasarkan kelengkapan (melewati berbagai obyek interpretasi alam seperti flora fauna, sungai, air terjun dll) menempati urutan pertama, dimana 23 responden atau 69,7% memilih indikator ini. Menurut para responden dengan jalur interpretasi alam yang lengkap maka akan lebih lengkap pula pengetahuan mereka tentang alam. Sedangkan urutan kedua (6 orang atau 18,2%) untuk kegiatan interpretasi alam ini didasarkan pada kemiringan jalur dan urutan terakhir adalah kegiatan interpretasi alam dirancang berdasarkan durasi dengan responden 4 orang atau 12,1%.
21%
79%
Tahu dan benar Tahu tapi salah Tidak Tahu
Gambar 29 Preferensi terhadap dasar kegiatan Interpretasi Alam
5.4.15. Preferensi Durasi Jalur Interpretasi Alam
Untuk durasi suatu jalur interpretasi alam, ternyata mayoritas responden menginginkan interpretasi alam yang durasinya lebih dari 3 jam (42,4%) Hal ini mungkin karena menurut mereka durasi yang lainnya terlalu pendek. Pada urutan kedua, responden memilih interpretasi alam dengan durasi 1,5 jam (24,2%). 3 jam (18,2%).
Gambar 30 Preferensi durasi jalur Interpretasi Alam
5.4.16. Preferensi Kemiringan / Slope Jalur Interpretasi Alam
Mayoritas responden (75,8% atau 25 orang) lebih menyukai kemiringan jalur interpretasi alam yang merupakan kombinasi dari kemiringan yang landai dan terjal, yang mungkin disebabkan jika jalur interpretasi alam terjal akan menguras tenaga mereka dan tidak akan sempat menikmati keindahan alam, dan jika jalur terlalu landai mungkin kurang menantang serta cepat membuat mereka bosan.
Gambar 31 Preferensi kemiringan/slope jalur Interpretasi Alam 12% 18% 70% Durasi Slope Kelengkapan 6% 24% 9% 18% 43% 1 jam 1 jam 30 mnt 2 jam 3 jam > 3 jam 21% 3% 76% Landai Terjal Kombinasi
70% 21% 9% Hingga Puncak Pendek Ketinggian Menengah 5.4.17. Preferensi Posisi Jalur Interpretasi Alam
Dari segi jalur interpretasi alam, ternyata kebanyakan (69,7%) responden pendaki menyukai jalur yang sampai ke puncak, seperti tujuan utama mereka dalam melakukan pendakian. Adapun responden yang menginginkan jalur pendek (dekat batas kawasan) 21.2% atau 7 orang, sedangkan yang mengusulkan hingga ketinggian menengah hanya 9,1% atau hanya 3 orang saja.
Gambar 32 Preferensi posisi jalur Interpretasi Alam
Tabel 26 menunjukkan hasil kuesioner terhadap responden pendaki.
Tabel 26 Matriks hasil kuesioner pendaki
No. Karakteristik Persentase (%) Keterangan
1 2 3 4
1. Pengetahuan Jalur Pendakian - Rata-rata 4 jalur 2. Jalur Yang Pernah dilalui
Tekelan 36,4
Selo 27,3
Wekas 21,2
Guolelo 9,1
Ngagrong 6,1
3. Sumber Informasi Jalur Pendakian
Teman 93,9
Koran/Majalah 0
Promosi dari Pengelola Kawasan 0 Melihat Peta 6,1 4. Modus Pendakian
Sendiri 3,1
Kelompok Kecil ( - orang) 42,4 Kelompok Besar ( - orang) 54,5 5. Tujuan Pendakian
Rekreasi 54,5
Pendidikan 18,2
Penelitian 3,1 1
Lain-lain 24,2 Pendakian Massal
6. Faktor yang paling berpengaruh dalam memilih jalur pendakian
Pemandangan alam 137 Skoring Kesejukan udara 131 Skoring Pengalaman sebelumnya 125 Skoring 7. Alasan yang membuat responden memilih suatu
jalur pendakian yang paling sering dilalui
Pemandangan alam 39,4
Waktu tempuh 33,3 Jarak tempuh 27,3
1 2 3 4 8. Preferensi Jalur Pendakian
Jalur Selo 33,3 Jalur Wekas 21,2 Jalur Tekelan 21,2 Jalur Ngagrong 3,0 Jalur Ngablak 3,0 Jalur Guolelo 15,2
Tidak Ada Jalur Favorit 3,0 9. Preferensi Slope Jalur Pendakian
Landai 27,3
Terjal 3
Kombinasi 69,7
10. Pola Beristirahat dalam Pendakian
Tempat tertentu 60,6 Berdasar waktu tertentu 27,3 Jarak tempuh tertentu 12,1 11. Preferensi Tempat Beristirahat
Pos Pendakian 66,6 Tempat di bawah puncak 17,2
Shelter 17,2
Tempat Lainnya 14,0 12. Kondisi responden melakukan pendakian
Sangat baik 33,3
Baik 66,7
13. Obyek Daya Tarik Jalur Pendakian
Tumbuhan 3,0
Hewan 3,0
Kondisi Medan 24,2
Pemandangan 51,5
Jarak Tempuh 18,2 14. Pengetahuan Interpretasi Alam
Tahu dan jawaban tepat 0 Tahu tapi jawaban tidak tepat 21,2
Tidak tahu 78,8
15. Minat Terhadap Kegiatan Interpretasi Alam
Ya 97,0
Tidak 3,0
16. Preferensi Terhadap Dasar Kegiatan Interpretasi Alam
Durasi 12,1
Kemiringan Jalur 18,2 Kelengkapan Interpretasi 69,7 17. Preferensi Durasi Jalur Interpretasi Alam
1 Jam 6,1
1 Jam 30 Menit 24,2
2 Jam 9,1
3 Jam 18,2
> 3 Jam 42,4 18. Preferensi Kemiringan Jalur Interpretasi Alam
Landai 21,2
Terjal 3,0
Kombinasi 75,8
19. Preferensi Posisi Jalur Interpretasi Alam
Hingga puncak 69,7 Pendek (Dekat Batas Kawasan) 21,2 Hingga ketinggian menengah 9,1
5.5. Karakteristik dan Demand Pengguna (Pengunjung) TN Gunung Merbabu
Sebanyak 30 orang berhasil didapatkan sebagai responden di lokasi TWA Tuk Songo Kopeng Kabupaten Salatiga dan di areal wisata yang sekaligus merupakan pintu masuk Taman Nasional Gunung Merbabu di Desa Tarubatang di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali.
5.5.1. Karakteristik Responden Pengunjung
Dari hasil wawancara didapatkan gambaran karakteristik responden pengunjung didominasi oleh responden yang berjenis kelamin laki-laki, ada sekitar 28 orang responden yang berjenis kelamin laki-laki. Hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan di masyarakat yang menempatkan laki-laki sebagai pemimpin, termasuk pemimpin ketika melakukan perjalanan atau kunjungan. Sedangkan usia responden rata-rata 26 tahun dengan kisaran responden termuda berusia 15 tahun dan yang tertua 47 tahun.
Menurut asal responden ternyata pengunjung berasal dari kota-kota di sekitar lokasi penelitian dengan jumlah terbanyak berasal dari kota Salatiga yaitu 9 orang atau sekitar 30,0%, sedangkan yang berasal dari Magelang dan Boyolali masing ada 4 orang dan yang berasal dari Solo dan Yogyakarta masing-masing berjumlah 3 orang serta sisanya berasal dari Klaten, Semarang, Jepara dan Sukoharjo.
Responden mayoritas mempunyai tingkat pendidikan terakhir SMA, yaitu 21 orang atau sekitar 70,0%, sedangkan yang berpendidikan SMP hanya 5 orang serta yang berpendidikan tinggi yaitu jenjang diploma dan sarjana masing-masing 1 dan 3 orang. Dari jenis pekerjaan, mayoritas responden bekerja sebagai pegawai swasta dan mahasiswa, masing-masing sebanyak 13 orang (43,3%) dan 8 orang (26,70%) sedang sisanya responden bekerja sebagai wiraswasta, Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pelajar serta 2 orang responden yang menyatakan bahwa pada saat ini belum bekerja.
Sekitar 73,30% responden ternyata belum menikah, hal ini mungkin karena jumlah responden yang didapat dalam penelitian ini banyak yang masih berstatus mahasiswa maupun pelajar.
Tabel 27 Karakteristik responden pengunjung
No. Karakteristik Jumlah Keterangan
1. Jenis Kelamin - Laki - laki 93,3 - Perempuan 6,7 2. Kelompok Umur a. KU 1 ( < 15 tahun ) 0 b. KU 2 ( 15 – 24 tahun ) 53,3 c. KU 3 ( 25 – 35 tahun ) 33,3 d. KU 4 ( > 35 Tahun ) 13,3 3. Tingkat Pendidikan SD 0 SMP 16,7 SMA 70,0 Diploma 3,3 Sarjana (S1) 10,0 4. Pekerjaan Pelajar 6,7 Mahasiswa 26,70 Wirausaha 10,0 PNS 6,7 Karyawan Swasta 43,3 Tidak Bekerja 6,7 5. Asal Semarang 3,3 Salatiga 33,3 Boyolali 13,3 Solo 10,0 Yogya 10,0 Magelang 13,3 Klaten 3,3 Sukoharjo 3,3 Jepara 3,3 6. Status Pernikahan Menikah 26,7 Belum Menikah 73,3 5.5.2. Modus dan Tujuan Kunjungan
Mayoritas pengunjung datang bersama teman (83,33%), 4 orang responden datang bersama rombongan keluarga dan ada 1 responden yang datang bersama kelompok organisasi. Rata-rata responden datang bersama 6 hingga 7 orang teman.
Tujuan kunjungan adalah berpiknik (60,00%) dan berkemah (40,00%). Tampaknya responden melakukan kunjungan untuk sekedar berpiknik dengan teman dan keluarga untuk melepaskan kepenatan akibat rutinitas sehari-hari.
Gambar 33 Modus kunjungan
Gambar 34 Tujuan kunjungan
5.5.3. Obyek Daya Tarik Tempat Berwisata
Ketika ditanya tentang apa yang disukai dari lokasi tempat mereka melakukan kegiatan wisata, responden paling banyak menyatakan menyukai kesejukan udara di sekitar lokasi (16 orang atau 53,3%). Kemudian disusul oleh faktor pemandangan alam yang disukai oleh 9 orang (30,0%) responden.
Gambar 35 Obyek daya tarik tempat wisata
5.5.4. Lama Waktu Kunjungan Responden
Kisaran lama responden dalam berkunjung ke lokasi berkisar antara 2 hingga 24 jam dengan rata-rata lama kunjungan responden sekitar 10 - 11 jam.
5.5.5. Kegiatan yang Dilakukan di Tempat Wisata
Sebanyak 11 responden atau sekitar 36,7% melakukan kegiatan menikmati kesejukan udara di lokasi tempat mereka melakukan wisata, disusul oleh mereka yang melakukan kegiatan camping atau menikmati pemandangan alam yang sama-sama dilakukan oleh 9 orang atau 30,0%.
0% 84% 13% 3% Sendiri Bersama Teman Rombongan Kelompok Organisasi 17% 30% 53% Kondisi Hutan Pemandangan alam Kesejukan udara 60% 40% Rekreasi Berkemah
Gambar 36 Kegiatan yang dilakukan di tempat wisata
5.5.6. Bagian yang Disukai dari Tempat Wisata
Mayoritas responden (43,3% atau 13 orang) menyatakan bahwa bagian yang disukai dari tempat mereka melakukan wisata adalah bagian hutan alam, disusul bagian hutan pinus (30,0% atau 9 orang), kemudian diikuti oleh bagian camping ground dan air terjun yang dipilih oleh 5 orang (16,7%) dan 3 orang (10,0%).
Gambar 37 Bagian yang disukai dari tempat wisata
5.5.7. Tingkat Penghasilan Responden Pengunjung
Menurut tingkat penghasilan, pengunjung kebanyakan berasal dari masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah. Sekitar 90% responden mempunyai penghasilan dibawah 1 juta rupiah per bulan, yaitu 40% responden berpenghasilan di bawah 500 ribu rupiah per bulan dan 50% berpenghasilan antara 500 ribu hingga 1 juta rupiah, serta hanya sekitar 10% responden yang mempunyai penghasilan antara 1 juta hingga 2 juta rupiah. Hal ini mungkin disebabkan karena kebanyakan responden terdiri dari mahasiswa dan pelajar, bahkan ada responden yang belum bekerja.
Gambar 38 Tingkat penghasilan responden pengunjung 30%
30% 37%
3%
Berkemah
Menikmati keindahan alam Menikmati kesejukan udara Lain-lain 30% 17% 43% 10% Hutan Pinus Camping Ground Hutan alam Air Terjun 40% 50% 10% < Rp. 500 Ribu Rp. 500 Ribu, - < Rp. 1 Juta Rp. 1Juta - < Rp. 2 Juta
5.5.8. Pengetahuan Responden Pengunjung Mengenai Interpretasi Alam
Ketika ditanya mengenai istilah interpretasi alam, hanya 3 orang atau 10% responden yang menyatakan tahu tentang interpretasi alam, meskipun jawaban mereka tentang interpretasi alam tidak sepenuhnya benar. Setelah responden diberi penjelasan oleh peneliti tentang interpretasi alam, semua responden (100%) menyatakan atau menganggap pentingnya interpretasi alam, dan sekitar 25 orang (83,33%) langsung menyatakan minatnya untuk mengikuti apabila di lokasi penelitian ada kegiatan interpretasi alam.
Gambar 39 Pengetahuan responden pengunjung mengenai Interpretasi Alam
5.5.9. Preferensi Terhadap Dasar Kegiatan Interpretasi Alam
Ketika responden dimintai pendapatnya mengenai 3 hal dasar pembuatan jalur kegiatan interpretasi alam, yaitu durasi, kemiringan/slope jalur dan kelengkapan ternyata kebanyakan menempatkan kelengkapan interpretasi alam diurutan pertama, yaitu sebanyak 17 orang (56,70%), karena mereka berpendapat semakin lengkap interpretasi alam, maka akan menambah pengetahuan mereka. Sedangkan sisanya menganggap durasi 23,3% (7 orang) dan kemiringan jalur 20,0% (6 orang) lebih dikarenakan keterbatasan waktu yang dipunyai responden, serta kondisi fisik mereka yang juga terbatas.
Gambar 40 Preferensi terhadap dasar kegiatan Interpretasi Alam
5.5.10. Preferensi Durasi Jalur Interpretasi Alam
Mengenai durasi jalur interpretasi alam ini, secara kumulatif sebanyak 21 orang (70%) responden menyatakan keinginannya mengikuti kegiatan interpretasi alam mempunyai durasi lebih dari 2 jam, dengan perincian ada 7
23% 20% 57% Durasi Kemiringan Jalur Kelengkapan Interpretasi 10% 90%
Tahu dan Benar Tahu tapi salah Tidak Tahu
orang ingin berdurasi 2 jam, 7 orang ingin berdurasi 3 jam dan sisanya 7 orang ingin mempunyai durasi lebih dari 3 jam.
Gambar 41 Preferensi durasi jalur Interpretasi Alam
5.5.11. Preferensi Kemiringan / Slope Jalur Interpretasi Alam
Jenis kemiringan yang paling disukai dalam interpretasi alam adalah kombinasi antara keduanya, antara terjal dan landai, pendapat ini didukung oleh 25 responden (83,30%). Hal ini mungkin dikarenakan jika jalur interpretasi alam terlalu landai akan membuat mereka cepat bosan, tetapi jika jalurnya terlalu terjal akan membuat responden cepat merasa lelah. Pendapat ini dinyatakan oleh 4 orang responden yang memilih jalur landai dan hanya 1 orang menginginkan kemiringan yang terjal.
Gambar 42 Preferensi kemiringan/slope jalur Interpretasi Alam
5.5.12. Preferensi Posisi Jalur Interpretasi Alam
Untuk posisi jalur interpretasi ternyata peminatnya sama antara jalur interpretasi alam hingga puncak dan jalur interpretasi alam yang pendek (dekat batas kawasan), masing-masing diminati oleh 13 orang responden (43,30%), sedangkan sisanya 4 orang lebih suka jika jalur interpretasi alam hanya sampai ketinggian menengah. Ini mungkin disebabkan jika jalur hanya sampai ketinggian menengah responden merasa belum menemukan kepuasan batin jika dibandingkan dengan jika jalur interpretasi alam hingga menuju puncak.
13% 17% 24% 23% 23% 1 Jam 1 Jam 30 Menit 2 Jam 3 Jam > 3 Jam 13% 3% 84% Landai Terjal Kombinasi
44%
43% 13%
Hingga puncak
Pendek (Dekat Batas Kwsn)
Hingga ketinggian menengah
Gambar 43 Preferensi posisi jalur Interpretasi Alam
Tabel 28 menunjukkan hasil kuesioner terhadap responden pengunjung.
Tabel 28 Matriks hasil kuesioner pengunjung
No. Karakteristik Persentase (%) Keterangan
1 2 3 4 1. Modus Kunjungan Sendiri 0 Bersama Teman 83,33 Rombongan 13,3 Kelompok Organisasi 3,3 2. Tujuan Kunjungan Rekreasi 60,0 Berkemah 40,0 Pendidikan 0 Penelitian 0
3. Hal yang paling disukai dari tempat wisata
Kondisi Hutan 13,3
Pemandangan alam 30,0
Kesejukan udara 53,3
Lain-lain 3,3
4. Lama Kunjungan 2 hingga 24 jam rata-rata 10 - 11 jam 5. Kegiatan yang dilakukan di tempat wisata
Berkemah 30,0
Menikmati keindahan alam 30,0 Menikmati kesejukan udara 36.7
Lain-lain 3,3
6. Bagian yang paling disukai dari tempat wisata
Hutan Pinus 30,0 Camping Ground 16,7 Hutan alam 43,3 Air Terjun 10,0
Sungai 0
7. Penghasilan Rata-rata dalam sebulan
< Rp. 500.000,- 40
Rp. 500.000, - < Rp. 1.000.000,- 50 Rp. 1.000.000, - < Rp. 2.000.000,- 10 > Rp. 2.000.000, 0 8. Pengetahuan Interpretasi Alam
Tahu dan jawaban tepat 0 Tahu tapi jawaban tidak tepat 10
Tidak tahu 90
9. Minat Terhadap Kegiatan Interpretasi Alam
Ya 83,3
Tidak 16,7 10. Preferensi Terhadap Dasar Kegiatan
Interpretasi Alam
Durasi 23,3
Kemiringan Jalur 26,7 Kelengkapan Interpretasi 50,0
1 2 3 4 11. Preferensi Durasi Jalur Interpretasi Alam
1 Jam 13,3
1 Jam 30 Menit 16,7
2 Jam 23,3
3 Jam 23,3
> 3 Jam 23,3 12. Preferensi Kemiringan Jalur Interpretasi Alam
Landai 13,3
Terjal 3,3
Kombinasi 83,3
13. Preferensi Posisi Jalur Interpretasi Alam
Hingga puncak 43,3 Pendek (Dekat Batas Kawasan) 43,3 Hingga ketinggian menengah 13,3 5.6. Aspek Sosial Budaya
5.6.1. Kesiapan Masyarakat Setempat
Kesiapan masyarakat setempat dalam hal wisata alam dapat dilihat dari keberadaan masyarakat yang melayani pengunjung atau pendaki, seperti penyediaan sarana penginapan (homestay) atau persinggahan sebelum melakukan pendakian (base start), pembuatan suvenir, ketersediaan pemandu/penunjuk jalan dan pembawa barang (porter) dalam pendakian serta inisiatif pembuatan paket wisata pendakian.
a. Masyarakat Dusun Tekelan
Kesiapan masyarakat Desa Tarubatang (jalur Selo) tercermin dari penyediaan base start bagi para pendaki yang berjumlah 4 rumah. Base start-base start tersebut sejatinya merupakan rumah tinggal pribadi namun dibuka bagi para pendaki yang memerlukan tempat beristirahat sejenak sebelum melakukan pendakian dengan mengutip biaya sekitar Rp. 5.000,- untuk setiap pendaki. Umumnya para pemilik base start juga bersedia melayani apabila pendaki memerlukan makanan. Sebuah warung di dusun ini menjual suvenir seperti kaos, pin dan stiker yang bertema pendakian Gunung Merbabu melalui jalur Selo. Selain itu beberapa pemuda setempat tergabung dalam Maspala (Masyarakat Pemuda Selo Pecinta Alam) yang melayani pendaki yang memerlukan jasa pemandu dan porter. Maspala juga berperan dalam merawat jalur pendakian serta turut menangani korban kecelakaan pendakian maupun kebakaran di Gunung Merbabu. Pihak Balai Taman Nasional Gunung Merbabu juga telah merangkul para pemuda ini untuk disiapkan menjadi sukarelawan (volunteer) taman nasional tersebut. Selain itu beberapa anggota Maspala telah mendapat pelatihan pemandu wisata yang diselenggarakan Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2006.