• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jalur Tekelan - Puncak

Dalam dokumen V. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 64-67)

Pada awal jalur interpretasi Tekelan - Puncak ini dapat disampaikan bahwa Dusun Tekelan merupakan pemukiman yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu atau yang biasa disebut enklave. Di sebelah kiri jalur dapat dilihat hutan yang masuk kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu, sedangkan di sebelah kanan yang berupa tanah yang ditumbuhi berbagai jenis pohon atau lahan pertanian yang ditanami bermacam komoditi pertanian merupakan tanah milik masyarakat Dusun Tekelan. Hutan Sekunder pada kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu dengan jenis-jenis seperti Pinus (Pinus merkusii), Puspa (Schima wallichii), Bintami (Podocarpus imbricata) yang ditanam oleh Perum Perhutani, merupakan bahan untuk menceritakan sejarah pembentukan Taman Nasional Gunung Merbabu.

Pada jarak + 200 m ketinggian 1.802 m dpl terdapat pohon Galar atau Awar-awar (Ficus septica) yang bisa digunakan untuk menceritakan kisah ”Galar Wutah” dan asal muasal Dusun Tekelan. Selanjutnya pada jarak + 300 m dapat dijumpai tumbuhan Murbei atau Besaran menurut penduduk Tekelan. Murbei merupakan pakan ulat sutera, sehingga informasi ini dapat digunakan untuk menjelaskan manfaat tumbuhan ini.

Pos I Pending dapat dicapai setelah berjalan + 700 m. Pada pos yang berupa bangunan permanen ini berdiri di atas tanah milik masyarakat ini dapat disampaikan mengenai bak pengendali dan pipa air yang berada di sekitarnya. Pada jarak + 900 m terdapat sungai kecil di dasar lembah yang bernama Kali Sowo. Di sungai kecil ini dapat diceritakan siklus air dan kaitannya dengan hutan. Pada jarak + 1.200 m ketinggian + 2.037 m dpl, jalur meninggalkan enklave dan memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu.

Perbatasan antara tanah milik dan kawasan ditandai dengan adanya tumbuhan Bambu Cendani (Bambusa multiplex) atau Pringgendani menurut masyarakat setempat yang memanfaatkan bambu jenis ini sebagai ajir tanaman pertanian mereka. Lokasi bekas kebakaran yang melanda jalur ini pada bulan Agustus 2006 ditemui pada jarak + 1.300 m ketinggian + 2.065 m dpl. Disini dapat disampaikan pentingnya mencegah kebakaran hutan dan dapat pula

diceritakan kesulitan yang dihadapi apabila terjadi kebakaran di medan yang terjal dan sulit untuk mendapatkan air seperti di gunung ini. Proses suksesi yang berlangsung juga dapat menjadi bahan untuk menjelaskan proses alamiah yang terjadi setelah suatu kawasan dilanda kebakaran hutan.

Peralihan tipe vegetasi yang mulai terlihat pada jarak + 1.500 m dan ketinggian + 2.111 m dpl. Sebagai informasi bagi pengunjung perlu dijelaskan di sini pengaruh ketinggian terhadap ekosistem hutan dan karakteristik pohon-pohonnya. Selanjutnya Pos II Pos Ijo yang berupa bangunan semi permanen dari seng bercat hijau dan berada pada jarak + 1.650 m ketinggian + 2.160 m dpl dapat digunakan untuk beristirahat dan menikmati pemandangan di bawahnya. Dapat disampaikan pula pos ini dinamakan juga Pos Pereng Putih karena berada di sekitar tebing yang batuannya berwarna putih mulai dari pos ini hingga jarak + 2.000 m. Selepas dari Pereng Putih pada jarak + 2.100 m ketinggian + 2.200 m dpl terdapat tikungan jalur yang dinamakan “Nglongok” yang berarti “melihat ke bawah” karena dari lokasi ini pemandangan ke bawah serta Pereng Putih dapat terlihat dengan jelas.

Lokasi Pos III Gumuk Mentul dapat dicapai setelah berjalan + 2.375 m dengan ketinggian + 2.342 m dpl. Pos ini berupa bangunan semi permanen dari batang kayu dan atap seng. Di lokasi ini pengunjung dapat beristirahat dan diberi penjelasan nama Gumuk Mentul yang berarti bukit kecil yang bergelombang, sesuai dengan keadaan di sekitarnya. Pada jarak + 2.500 m dan ketinggian + 2.363 m dpl dapat dijumpai tumbuhan Arben yang buahnya dapat dimakan ketika sudah matang dengan rasa manis keasaman.

Setelah melewati jalur yang menanjak sejauh + 450 m, sampailah di Pos IV Lempong Sampan pada ketinggian + 2.509 m dpl yang tumbuhannya sebagian berupa rumput-rumputan. Pos ini tidak memiliki bangunan apapun namun dapat digunakan untuk membuka tenda dan bermalam. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat, pada jaman dahulu Pos IV Lempong Sampan merupakan alun-alun kerajaan yang berfungsi sebagai tempat beristirahat sebelum menghadap raja sekaligus tempat berlatih para prajurit dan di sebelah barat Lempong Sampan merupakan pasarnya. Cantigi (Vaccinium varingifolium) yang merupakan tumbuhan khas pegunungan berupa perdu mulai dapat dijumpai selepas Lempong Sampan. Di sini dapat disampaikan bahwa tumbuhan ini tahan terhadap belerang dan lazim ditemui di dekat kawah dan

solfatara. Daun mudanya dapat dimakan, begitu pula dengan buahnya yang hitam.

Puncak Pertapan atau Watu Gubug yang berada pada ketinggian + 2.729 m dpl merupakan persinggahan berikutnya setelah menempuh jarak + 3.600 m dan jalur yang menanjak dari Pos IV Lempong Sampan. Dinamakan Watu Gubug karena di lokasi ini terdapat batu yang berongga seperti sebuah gubug dan digunakan untuk bertapa. Konon Mbah Syarif, tokoh yang pernah mendiami Puncak Syarif juga sempat berlindung di sini dari hujan dan terik matahari. Selama perjalanan menuju lokasi ini akan terlihat atau hanya terdengar suara burung Anis gunung (Turdus poliocephalus). Seperti di beberapa gunung lain seperti Gunung Merapi dan Gunung Lawu, burung ini sering menjadi teman perjalanan para pendaki di sekitar jalur pendakian. Khusus di Gunung Lawu, burung ini disebut Jalak Gading. Puncak Pertapan juga mempunyai cerita tersendiri seperti Pos IV Lempong Sampan. Konon, lokasi ini dahulu disebut Gunung Pertapan dan menjadi tempat berkumpul rakyat sebelum menghadap raja di puncak Gunung Merbabu.

Pada jarak + 4.100 m di ketinggian 2.885 m dpl terdapat titik pertemuan jalur pendakian Cunthel. Mendaki 50 m dari pertigaan tersebut akan dijumpai menara antena komunikasi TNI (ketinggian + 2.900 m dpl). Konon pada jaman dahulu rakyat yang menuju pusat kerajaan diintai melalui menara pengintai yang berada di tempat yang sama dengan menara TNI yang sekarang. Di sekitar menara TNI tersebut pada jarak + 4.200 m terdapat Puncak Watu Tulis. Dinamakan demikian karena dahulu terdapat batu bertulis (prasasti) bertuliskan huruf Jawa kuno di lokasi ini. Jalur selepas Puncak II Watu Tulis cenderung menurun pada sebuah punggungan.

Rumput Bubarjaran mulai dapat dijumpai pada jarak + 4.400 m di ketinggian + 2.898 m dpl, namun di jalur ini tidak terdapat sabana seperti yang terdapat pada jalur Selo – Puncak. Di sini dapat disampaikan bahwa pada sisi selatan Gunung Merbabu akan dijumpai daerah yang ditumbuhi rumput jenis ini sehingga membentuk sebuah sabana. Selanjutnya pada jarak + 4.600 m pada ketinggian + 2.883 m dpl terdapat pal batas kabupaten yang dapat digunakan untuk menyampaikan bahwa Taman Nasional Gunung Merbabu meliputi 3 wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Semarang, Boyolali dan Magelang. Setelah berjalan jarak + 4.800 m ketinggian + 2.910 m dpl sampailah di Pos IV Helipad. Pos ini dinamakan demikian karena berupa dataran yang menyerupai landasan

helikopter. Sekitar 50 m jalur berada di punggungan yang diapit dua kawah yaitu Kawah Candradimuka di sebelah kanan dan Kawah Mati di sebelah kiri. Kedua kawah sedikit mengeluarkan asap putih dan bau belerang. Jalur pada jarak + 4.900 m ketinggian + 2.977 m dpl disebut sebagai “Jembatan Setan” karena medannya yang sangat terjal dan memerlukan tenaga yang besar untuk melewatinya.

Puncak III Geger Sapi dapat dicapai setelah menempuh jarak + 5.100 m. Lokasi pada ketinggian + 3.000 mdpl ini disebut demikian karena berada pada punggungan/tebing yang terlihat seperti punggung (Bahasa Jawa=geger) seekor sapi. Selanjutnya jalur bervariasi turun dan menanjak sekitar 300 m hingga berada pada pertigaan menuju Puncak IV atau Puncak Syarif (ke kiri) dan puncak-puncak lain seperti Puncak Kenteng Songo serta Puncak Triangulasi (ke kanan). Puncak Syarif yang berada di ketinggian + 3.140 m dpl dicapai setelah berjalan menanjak + 125 meter ke arah kiri dari pertigaan tersebut. Pada puncak yang juga mempunyai nama Puncak Kerto ini dapat dikisahkan cerita tentang tokoh yang bernama Mbah Syarif. Sedangkan Puncak V Ondorante dapat dicapai setelah berjalan + 125 ke arah kanan dari pertigaan tersebut. Pada jarak + 5.850 ketinggian + 3.135 m dpl terdapat nisan memori Sugiyanto pendaki dari STIKUBANK Yogyakarta yang meninggal pada tahun 2001. Di sini dapat diceritakan kronologi kecelakaan yang menimpanya.

Puncak Kenteng Songo yang berada pada ketinggian + 3.157 m dpl. dicapai setelah jarak Puncak Kenteng Songo + 5.900 m. Di sini dapat diceritakan kepercayaan masyarakat tentang keberadaan batu berlubang di puncak ini. Sekitar 225 m dari Puncak Kenteng Songo atau jarak total + 6.125 m sampailah pada Puncak Triangulasi yang berada pada ketinggian + 3.122 m dpl.

Dalam dokumen V. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 64-67)

Dokumen terkait