• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jalur Selo - Puncak

Dalam dokumen V. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 74-77)

Jalur ini dimulai dari pintu masuk kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu yang berada di Desa Tarubatang yang berada pada ketinggian + 1.854 m dpl. Di lingkungan pintu masuk ini terdapat areal yang biasanya digunakan untuk berkemah (Camping ground). Ekosistem di awal jalur merupakan Hutan Sekunder dengan jenis-jenis seperti Pinus (Pinus merkusii), Puspa (Schima wallichii), Bintami (Podocarpus imbricata) yang ditanam oleh Perum Perhutani, yang dapat dijadikan sebagai bahan informasi sejarah kawasan konservasi ini sejak sebelum ditunjuk sampai menjadi taman nasional. Selain itu dapat pula disampaikan manfaat getah pohon Pinus yang cukup dominan di areal ini sebagai bahan Gondorukem dan Terpentin yang merupakan campuran berbagai zat kimia yang berguna bagi manusia, salah satunya sebagai campuran cat. Pada jarak 400 m (ketinggian + 1.913 m dpl) dapat ditemui sebatang pohon Bintami (Podocarpus imbricata) yang sudah berumur 80 tahun. Di sini dapat disampaikan bahwa jenis pohon ini banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias.

Pada jarak 600 - 800 m tanaman Puspa padat dan dominan sehingga dapat diceritakan manfaat jenis pohon ini sebagai pakan satwa (daun mudanya) sekaligus menjadi habitat berbagai jenis burung yang dapat dilihat di sini. Selain itu terdapat pula tumbuhan bawah seperti Cakar Ayam (Selaginella plana) yang bermanfaat sebagai obat batuk, penurun panas dan pencuci darah. Setelah menempuh jarak 800 m akan dijumpai pertigaan ”Pitikan”, dimana jalur ke kiri akan menuju puncak, sedangkan jalur ke kanan menuju ”Surga Burung” dan daerah Jurang Warung.

Pohon Kina (Chinchona sp.) yang terkenal sebagai obat malaria dapat ditemui setelah berjalan sekitar 1000 m. Pada lokasi yang berada pada ketinggian + 2000 m dpl ini hutan sekunder mulai berkurang dan berangsur digantikan dengan hutan alam pegunungan. Hal ini bisa digunakan untuk menceritakan pengaruh ketinggian terhadap ekosistem hutan dan karakteristik pohon-pohonnya.

Pada jarak 1200 m terdapat pohon Kayumanis (Cinnamommum sp.) dan Kerangenan (nama latinnya tidak teridentifikasi). Pohon Kayumanis kulitnya biasa digunakan sebagai penyedap masakan, sedangkan daun pohon Kerangenan dapat digunakan untuk penghangat badan dengan cara meremas dan menggosokkannya ke tubuh.

Selanjutnya Pos I Dok Malang yang berada di ketinggian + 2.194 m dpl dapat ditemui setelah berjalan sekitar 1700 m. Pos pendakian yang berupa tanah terbuka tanpa bangunan ini dapat digunakan untuk beristirahat sejenak. Sekitar 100 m dari pos ini terdapat percabangan yang merupakan jalan pintas menuju Pos III Watu Tulis, namun sejak terjadinya kebakaran hutan pada jalur ini pada tahun 2006 jalur ini tidak lagi digunakan dan tertutup vegetasi tumbuhan bawah. Jalan pintas yang sudah tidak aktif (mati) ini merupakan jalur interpretasi alam Selo II. Berjalan 200 m dari Pos I Dok Malang jalur sedikit menurun, di sini pohon-pohon ditumbuhi berbagai jenis lumut yang menunjukkan daerah ini mempunyai kelembaban yang lebih tinggi. Pada jarak 1900 m terdapat daerah yang mengalami kebakaran hutan pada tahun 2006 sehingga kondisi hutannya terbuka. Namun kondisi ini dapat digunakan sebagai sarana penyuluhan pentingnya mencegah kebakaran hutan dan proses suksesi yang berlangsung disini dapat menjadi bahan untuk menjelaskan proses alamiah tersebut. Pada jarak 2000 m terdapat sebuah alur. Alur ini disebabkan oleh bencana longsor yang terjadi di awal tahun 2007 yang aliran lumpurnya mencapai pemukiman penduduk dan meminta korban jiwa. Hal ini bisa menjadi bahan diskusi mengenai pentingnya melestarikan hutan untuk mencegah terjadinya bencana longsor.

Tumbuhan Kantung semar (Nepenthes sp.) dapat dijumpai pada jalur ini setelah menempuh jarak 2.200 m dari awal jalur dan pada ketinggian + 2.253 m dpl. Kantung semar yang disebut penduduk Desa Tarubatang dengan nama ”Kala Pecika” merupakan flora yang unik, karena mempunyai kemampuan menjebak serangga dengan cairan yang ada di dalam kantungnya. Uniknya lagi, penduduk setempat mempercayai air di dalam kantung dapat menyembuhkan sakit mata. Selain itu dapat disampaikan pula bahwa tumbuhan ini statusnya dilindungi sehingga hanya hasil budidaya saja yang boleh diperdagangkan.

Selanjutnya pada jarak 2.300 m ketinggian 2274 m dpl perjalanan akan sampai di Pos II bayangan Dok Cilik. Disebut pos bayangan karena sebenarnya pos ini bukanlah pos pendakian yang ”resmi”. Disini dapat diceritakan bahwa pos bayangan ini terbentuk karena jarak antara Pos I Dok Cilik dan Pos II Pandean terlalu jauh (+ 1.100 m) sehingga pendaki memerlukan sebuah pos diantara keduanya untuk beristirahat. Bila sedang beruntung, kawanan Lutung kelabu (Presbytis fredericae) atau Rekrekan yang merupakan primata endemik Jawa Tengah dapat dilihat sedang berkumpul pada jarak 2400 m dan ketinggian

+ 2.287 m dpl, pada posisi tebing punggungan sebelah kanan jalur pendakian Selo - puncak. Satwa ini statusnya juga dilindungi perundang-undangan. Pada jarak 2.700 m dapat dijumpai pohon Jurang atau Urang-urangan (Villebrunea rubescens) yang bunganya menjadi makanan burung Katik dan Sesap madu.

Pada ketinggian 2.800 m sampailah di Pos II Pandean. Lokasi pos yang berada pada ketinggian + 2.425 m vegetasinya merupakan peralihan antara hutan hujan pegunungan dan hutan hujan sub alpin, sehingga kondisinya agak terbuka dengan pohon-pohon yang tumbuh sporadis. Setelah berjalan sekitar 3000 m, pada ketinggian + 2.464 m dpl mulai tumbuh Edelweis (Anaphalis javanica). Flora ini merupakan flora khas pegunungan yang dikenal dengan bunganya yang abadi.

Selanjutnya pada jarak 3.400 m ketinggian 2.592 m dapat ditemui Pos III Watu Tulis. Pada pos pendakian tanpa bangunan ini terdapat sebuah batu yang banyak bertuliskan coretan para pendaki. Di sini dapat disampaikan himbauan agar tidak melakukan tindakan vandalisme yang mengurangi atau merusak keindahan alam seperti coretan pada batu dan sarana prasarana pendakian maupun pahatan pada batang-batang pohon. Pos III ini juga sering disebut sebagai ”Bukit Penyesalan” karena banyak pendaki yang menyesal mengira bukit ini sudah dekat dengan puncak Gunung Merbabu. Di lokasi inilah bertemu jalur pendakian Selo - Puncak dengan jalur non pendakian Selo II.

Pada jarak + 3600 m ketinggian + 2.674 m terdapat nisan memori Hery Susanto, seorang pendaki gunung dari Surabaya yang meninggal dunia pada tanggal 23 Februari 1997. Kecelakaan pendakian yang dialami almarhum dapat diceritakan disini.

Mulai jarak 3.900 m dan ketinggian + 2.777 m dpl terdapat ekosistem sabana yang di kalangan pendaki yang biasa mendaki gunung ini disebut Sabana I dan Sabana II. Sabana I dipisahkan oleh sebuah bukit dengan Sabana II (pada jarak 4.500 m dan ketinggian + 2.867 m dpl). Sabana yang indah ini didominasi rumput Bubarjaran. Pemandangan Gunung Merapi yang megah dapat dilihat dari lokasi ini. Jalur yang melewati sabana panjangnya mencapai + 900 m.

Puncak Triangulasi yang berada pada jarak 5.487 m ketinggian + 3.122 m dpl, dapat dicapai sekitar 1 jam dari Sabana II dengan perjuangan yang berat karena medan jalur yang terjal. Sekitar 225 m dari Puncak Triangulasi atau jarak total + 5.625 m sampailah pada Puncak Kenteng Songo yang berada pada

ketinggian + 3.157 m dpl. Dari kedua puncak ini dapat dilihat pemandangan alam secara menyeluruh tanpa halangan. Di sini dapat diceritakan mengenai berbagai pendapat yang berbeda mengenai batu berlubang (kenteng) di Puncak Kenteng Songo. Selain itu dapat pula dijelaskan mengenai tumbuhan Cantigi atau Sentigi atau Manis rejo yang mempunyai nama ilmiah Vaccinium varingifolium yang merupakan tumbuhan khas pegunungan, tahan terhadap belerang sehingga lazim ditemui di dekat kawah dan solfatara.

Dalam dokumen V. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 74-77)

Dokumen terkait