BAB IV KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA TARA DALAM NOVEL 12
4.2 Penyebab Konflik Batin Tokoh Tara dalam Novel 12 Menit
4.2.4 Janji Ibu Tara
Janji ibu Tara menjadi salah satu penyebab konflik dalam diri Tara. Ibu Tara berjanji akan pulang, tetapi karena satu hal ibunya tidak jadi pulang. Hal ini tergambar dari kutipan berikut ini.
“Kamu kenapa, sih, Dek? Dari tadi Oma dengarin, kok marah-marah saja,” tanya Oma sambil tersenyum. Dia sudah sangat terbiasa dengan temperamen Tara. Hati-hati, dia mengambil posisi di sebelah Tara. Mereka duduk bersisisan di ujung tempat tidur.
Tara tak menjawab. Dia diam saja menekuri lantai. “Tadi ibumu telepon,”
ujar Oma hati-hati, ”ibumu menangis, lho, tadi. Memang ada apa, sih, Dek?
Kenapa ibumu kamu marahin?”
“Kenapa jadi ibu yang nangis?” sambar Tara, “Bukan harusnya aku?”
“Kamu nangis kenapa?” Oma masih mempertahankan suara lembutnya.
“Kamu marah, ibumu nggak jadi pulang?”
Tara diam. Oma tahu betul ini akan terjadi. Dia sudah bilang pada Astri-Ibu Tara-bahwa sebaiknya kalau belum benar-benar pasti, jangan dulu kabarkan berita kepulangannya pada Tara. Tara itu kadang terlalu lugas. Sakelek. Apa yang sudah dijanjikan oleh seseorang, tak boleh bergeser sedikit pun.
Sayangnya, kadang itu tidak berlaku pada janjinya sendiri. (Aurora, 2013:88) Dari kutipan di atas tergambar bahwa Tara mengalami konflik dalam dirinya karena janji yang dibuat oleh ibunya. Tara marah dan kesal karena ibunya tidak jadi pulang. Akibat janji tersebut tidak ditepati konflik batin yang dialami Tara berdasarkan klasifikasi emosi adalah cinta.
Skema Konflik Batin Tokoh Utama Tara
Penyebab konflik batin Penyebab konflik batin
Tokoh Utama Tara
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan
Bentuk konflik batin berdasarkan tokoh utama Tara dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora, yaitu: (1) Konsep rasa bersalah, (2) rasa bersalah yang dipendam, (3) menghukum diri sendiri, (4) rasa malu, (5) kesedihan, (6) kebencian, dan (7) cinta. Konsep rasa bersalah merupakan bagian dari klasifikasi emosi yang baik dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora diwujudkan dengan permintaan maaf yang disampaikan oleh Tara. Rasa bersalah yang dipendam merupakan bagian dari klasifikasi emosi yang baik dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora diwujudkan dengan perasaan menyesal. Namun, Tara melakukan hal-hal yang membuat rasa bersalah tersebut menjadi lebih baik, yaitu Tara mengisi waktunya dengan bermain drum dan ketika emosi mengendalikannya untuk membuang stick drum dia cepat sadar dan ingin mengambilnya kembali. Menghukum diri sendiri merupakan klasifikasi emosi yang buruk dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora diwujudkan dengan cara menyakiti diri sendiri yang berakibat merugikan dirinya dan juga orang-orang di sekitarnya. Rasa malu merupakan klasifikasi emosi yang buruk dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora rasa malu yang dirasakan Tara diwujudkan melalui
perubahannya menjadi sosok yang tidak baik. Tara menjadi malas ke sekolah dan tertutup. Kesedihan merupakan klasifikasi emosi yang buruk dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora diwujudkan dengan pelampiasan rasa sedih berakibat buruk bagi kesehatan jiwa Tara dan lingkungannya. Kebencian merupakan klasifikasi emosi yang buruk dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora diwujudkan dengan cara
membuang mimpinya untuk menjadi penabuh drum. Cinta merupakan klasifikasi emosi yang baik dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora diwujudkan ibu Tara dengan kepergiannya ke Inggris sebagai bentuk motivasi yang ingin disampaikan kepada Tara dan wujud perasaan cinta yang diharapkan Tara adalah keberadaan ibu di sisinya.
Adapun penyebab terjadinya konflik batin dalam diri Tara, yaitu kecelakaan yang menewaskan ayah Tara, kepergian ibu Tara ke Inggris, perkataan Rene yang menyakiti hati Tara, dan janji ibu Tara yang seringkali tidak ditepati.
5.2 Saran
Dari penelitian ini, penulis memberikan beberapa saran, yaitu:
1. Penelitian ini membahas konflik batin tokoh utama Tara dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora. Oleh sebab itu, penulis menyarankan untuk
penelitian selanjutnya meneliti novel 12 Menit karya Oka Aurora dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi.
2. Penelitian ini hendaknya diteliti dari sudut pandang yang berbeda karena novel ini menarik untuk dikaji dan memiliki banyak nilai-nilai yang perlu untuk dikaji.
3. Bentuk konflik batin yang terkandung dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora dapat menjadi pelajaran dalam mengendalikan diri menghadapi konflik harus lebih memahami diri sendiri, orang lain dan mampu mengendalikan emosi dalam diri.
DAFTAR PUSTAKA
Aurora, Oka. 2013. 12 Menit. Jakarta: Noura Books.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Fahnial, Mhd. Reza. 2017. “Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel Remember When Analisis Psikologi Sastra” (Skripsi). Medan: Fakultas Ilmu Budaya USU.
Gaib, Isdin. 2007. (Skripsi) Klasifikasi Emosi Tokoh Utama Dalam Novel Bunga di Atas Bara Karya Syahriar Tato (Penelitian Berdasarkan Pendekatan Psikologi Sastra). Gorontalo: FKIP Universitas Negeri Gorontalo.
Hasan, Iqbal. 2009. Analisis Data Penelitian dengan Statistika. Jakarta: Bumi Aksara.
Minderop, Albertine. 2016. Psikologi Sastra: Karya, Sastra, Metode, Teori, dan Contoh Kasus. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Nurgiyantoro, Burhan. 2015. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nurhayati, Ratih. 2016. “Konflik Batin dan Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel 12 Menit Karya Oka Aurora serta Relevansinya Sebagai Materi Pembelajaran Apresiasi Sastra di Sekolah Menengah Atas” (Skripsi). Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
Ratna, Nyoman Kutha. 2015. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sari, Ria Friska. 2017. ”Perilaku Menyimpang Tokoh Utama dalam Novel Nayla Karya Dienar Maesa Ayu: Kajian Psikosastra” (Skripsi). Medan: Fakultas Ilmu Budaya USU.
Siswanto, Wahyudi. 2013. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo.
Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Wulandari, Fransiska Wenny. 2018. “Analisis Konflik Batin Tokoh Utama Tegar dalam Novel Sunset dan Rosie Karya Tere Liye (Pendekatan Psikologi Sastra)”
(Skripsi). Yogyakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.
Zaidan, Abdul Rozak, dkk. 2007. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.
LAMPIRAN
SINOPSIS NOVEL 12 MENIT KARYA OKA AURORA
Novel karya Oka Aurora ini menceritakan tentang perjuangan para anggota marching band yang rela latihan selama berjam jam berhari hari bahkan berbulan bulan demi penampilan puncak yang hanya memakan waktu 12 menit saja.
Rene, seorang mantan pemain marching band dengan kemampuan dan pengalaman internasional, lalu meningkat menjadi pelatihmarching band yang berhasil membawa anak asuhnya menjadi juara umum GPMB berturut-berturut, akhirnya dipinang oleh sebuah perusahaan besar untuk melatih marching band Bontang Pupuk Kaltim. Marching band yang beranggotakan anak-anak daerah
dengan tingkat kepercayaan diri sangat rendah dan selalu merasa kecil meski sesungguhnya mereka memiliki potensi.
Kemampuan dan pengalaman cemerlang Rene benar–benar teruji disini, bukan hal mudah baginya menyuntikkan semangat kepercayaan diri kepada para pemain, menjaga agar semangat ini tetap eksis dan konsisten hingga akhir, ditambah lagi konflik internal yang melanda beberapa anggota inti, membuat upaya keras Rene untuk mewujudkan tim binaannya menjadi juara, menemui berbagai rintangan yang tidak mudah.
Diantara para anggota inti, terdapat Elaine, gadis blasteran Indonesia – Jepang yang pindah dari Jakarta ke Kalimantan mengikuti ayahnya yang pindah tugas. Elaine seorang pemain biola dengan kemampuan musikalitas sangat baik, dan berkat kemampuannya, juga didukung penampilannya yang menawan, Elaine terpilih sebagai field commander dalam marching band Bontang. Namun passion Elaine
dalam bermusik ditentang keras oleh sang ayah. Beliau lebih menginginkan putri tunggalnya itu menjadi ilmuwan menyusul jejaknya. Juga menganggap pendidikan adalah satu-satunya kunci pembuka gerbang masa depan.
Selanjutnya ada Tara, gadis muda berbakat yang memiliki keterbatasan pendengaran akibat sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya. Tragedi tersebut membuatnya trauma, sehingga kerap menyalahkan diri sebagai penyebab kematian sang ayah. Sementara itu, ibunya melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan Tara diasuh oleh opa dan oma yang sangat menyayanginya serta sangat mendukungnya. Keterbatasan pendengarannya membuatnya harus berjuang ekstra keras saat harus berlatih dan diperlakukan secara “normal” dibawah tempaan tangan dingin Rene bersama anggota marching band yang lain. “Kombinasi” kekurangan fisik dan tekanan psikis ini, hampir saja membuat Tara menyerah.
Juga ada Lahang, anak seorang tetua suku Dayak yang hidup dalam kondisi serba kekurangan, dan harus pula melewati perjalanan panjang nan penuh mara bahaya setiap kali pergi mengikuti latihan marching band. Lahang menghadapi dilema luar biasa saat ayahnya sakit keras, antara tetap tinggal untuk merawat ayahnya, atau pun mengikuti pertandingan marching band di Jakarta. Di satu sisi ia takut kehilangan ayahnya saat tak berada di samping beliau, di sisi lain ia tetap ingin mewujudkan janjinya pada sang ayah serta mewujudkan impiannya sendiri.
Selain keempat tokoh utama tersebut, terdapat juga beberapa tokoh pendukung lainnya, diantaranya Pak Manajer, Rob, kedua orang tua Elaine, opa dan oma Tara, ayah Lahang, Pemeliatn atau pemuka agama dalam suku Dayak, yang kehadirannya
berhasil dioptimalkan penulis untuk memperkuat alur cerita ini dan tidak sekadar tokoh pendukung belaka.
BIOGRAFI OKA AURORA
Pemilik nama lengkap Oka Aurora ini lahir di Jakarta pada 19 Juli 1974. Oka menikah dengan Muadzin Jihad dan dikaruniai tiga orang anak yaitu Axantara Akram, Arkana Sulthon, dan Dhanakara Alayka.
Oka merupakan lulusan Fakultas Teknik, Universitas Indonesia 1997. Sebelum menekuni karirnya dalam menulis. Ia bekerja di PT Lucent Technologies, NSID sebagai Optical Network Engineer pada tahun 1998- 2000, PT Siemens Indonesia, sebagai Technical Sales Consultant pada tahun 2000-2007, dan PT Nokia Siemens Network, sebagai Presales Manager pada tahun 2008-2010.
Beberapa tahun berkarir di bidang telekomunikasi tidak langsung mengantarkan Oka menjadi seorang penulis. Ia sempat mencoba untuk berbisnis, dengan membuka sebuah salon. Oka masih mencari jati dirinya dan bidang apa yang akan ia tekuni selanjutnya. Pertemuan dengan sahabat lamanya membuat Oka tertarik untuk berkarir di dunia penulisan. Adik dari sahabat lamanya adalah seorang penulis skenario yang sudah cukup senior di bidangnya. Ia dikenalkan kepada adik sahabatnya tersebut, namanya Titien Wattimena. Titien sangat membantu Oka untuk mengenali banyak hal di bidang penulisan. Oka memiliki hobi dan bakat menulis sejak kecil dan ia pun giat menggali ilmu tentang penulisan kepada Titien.
Setelah melalui berbagai proses belajar di bidang penulisan, Titien memberikan kesempatan kepada Oka untuk menulis buku behind the scene Di Bawah Lindungan Ka’bah. Oka dipercaya untuk membuat beberapa skenario, dan kenal dengan beberapa sutradara sehingga karyanya berkembang. Oka juga dipercaya oleh
beberapa produser untuk menulis novel, sehingga ia menjadi lebih percaya diri untuk menulis novel selanjutnya. Pada tahun 2010 sampai sekarang, Oka menekuni karirnya sebagai penulis skenario layar lebar, penulis novel, dan editor. Beberapa karya Oka di bidang penulisan yaitu:
1. November 2011 Penulis skenario film layar lebar “Ayah Mengapa Aku Berbeda” (Rapi Film)
2. Desember 2011 Penulis skenario film layar lebar “My Blackberry Girlfriend” (Rapi Film)
3. Februari 2012 Penulis skenario film layar lebar “Love is U” (Daydreams Entertainment)
4. Juni 2013 Penulis novel “12 Menit” (diterbitkan oleh Nourabooks)
5. Januari 2014 Penulis skenario film layar lebar “12 Menit” (Big Pictures Production)
6. Juni 2014 Penulis novel “Ada Surga di Rumahmu” (diterbitkan oleh Nourabooks)
7. Juli 2014 Penulis novel “Hijabers in Love” (diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama)
8. Agustus 2014 Editor lepas untuk novel (dalam proses produksi Nourabooks)
9. September 2014 Penulis skenario film layar lebar “Hijabers in Love”
(Andalan Sinema)
10. Oktober 2014 Penulis skenario film layar lebar “Strawberry Surprise”
(Starvision Plus)
11. April 2015 Penulis skenario film layar lebar “Ada Surga di Rumahmu”
(Mizan Productions)
Oka juga mendapat penghargaan pada bulan Oktober 2014 untuk Skenario Terpuji, Festival Film Bandung (12 Menit).