• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu:

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan positif bagi dunia pendidikan pada melalui pemanfaatan karya sastra serta untuk menambah wawasan tentang keberadaan karya sastra (novel) yang memuat tentang konflik batin dalam novel melalui kajian psikologi sastra.

1.4.2. Manfaat Praktis 1.4.2.1 Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan peneliti mengenai konflik batin dalam novel melalui kajian psikologi sastra dan dapat diterapkan dalam dalam penelitian lain seputar kajian tersebut.

1.4.2.2 Bagi Mahasiswa

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu acuan untuk penelitian-penelitian yang relevan di masa yang akan datang.

1.4.2.3 Bagi Dunia Sastra

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dan menjadi bahan pertimbangan dalam membuat sebuah karya yang tidak hanya memuat keindahan dan hiburan semata, tetapi juga memperhatikan isi dan pesan yang dapat diambil dari karya sastra tersebut.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

Kajian pustaka bertujuan untuk memuat tentang hasil penelitian yang diperoleh peneliti sebelumnya dan hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan. Berikut pemaparan penelitian-penelitian sebelumnya yang membahas tentang konflik batin dan psikologi sastra.

Nurhayati (2016) “Konflik Batin dan Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel 12 Menit Karya Oka Aurora serta Relevansinya Sebagai Materi Pembelajaran

Apresiasi Sastra di Sekolah Menengah Atas”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa konflik batin yang terjadi pada tokoh utama dalam novel 12 Menit meliputi, kecemasan dalam mencari pengganti field commander, dilema dengan lingkungan baru, ketakutan terhadap sikap orang tua, keinginan orang tua bertentangan dengan keinginan anak, kebimbangan meneruskan pendidikan, keraguan menjadi anggota tim inti, keinginan bertemu orang tua, dan kecemasan kehilangan orang tua.

Fahnial (2017) dalam skripsi yang berjudul “Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel Remember When Analisis Psikologi Sastra”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa bentuk-bentuk konflik batin yang terjadi pada tokoh utama adalah sebagai berikut: (1) Konflik mendekat, (2) Konflik mendekat-menjauh, (3) Konflik menjauh-menjauh. Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya konflik batin pada tokoh utama adalah faktor internal berupa iri hati dan

tidak percaya diri, serta rasa bersalah, dan faktor eksternal berupa sikap anti sosial dan keluarga.

Sari (2017) dalam skripsi yang berjudul ”Perilaku Menyimpang Tokoh Utama dalam Novel Nayla Karya Dienar Maesa Ayu: Kajian Psikosastra”. Penulisan skripsi ini dilakukan dengan tujuan memperoleh gambaran bagaimana bentuk perilaku menyimpang lesbian tokoh utama dalam novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu dan faktor penyebab tokoh utama menjadi lesbian dalam novel Nayla.Untuk mencapai tujuan tersebut, penulis menganalisis novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu dengan menerapkan teori kepribadian dari Sigmun Freud. Masalah dalam skripsi ini dibatasi hanya menganalisis perilaku menyimpang lesbian pada tokoh utama dalam novel tersebut. Teknik analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif. Metode ini dilakukan dengan cara menggambarkan kembali data yang telah terkumpul kemudian menghubungkannya dengan teori yang dipakai, yaitu teori kepribadian Sigmun Freud. Hasil yang didapat dalam penilitian tersebut adalah dalam novel Nayla, tokoh utama mempunyai ciri-ciri lesbian seperti membenci laki-laki, merasa nyaman dengan sesama jenis, mencintai pasangan sesama jenisnya, setia kepada pasangan sesama jenisnya, dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Faktor penyebab tokoh utama menjadi seorang lesbian adalah pengaruh keadaan keluarga dan kondisi hubungan orang tua, pengalaman seksual buruk pada masa kanak-kanak, dan faktor lingkungan.

Wulandari (2018) “Analisis Konflik Batin Tokoh Utama Tegar dalam Novel Sunset dan Rosie Karya Tere Liye (Pendekatan Psikologi Sastra)”. Dalam penelitian

ini, peneliti menggunakan pendekatan psikologi sastra yang ditinjau dari sisi

persepektif kepribadian humanistic Abrahan Maslow. Dalam novel Sunset dan Rosie menggambarkan kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi dalam hidup Tegar yang menyebabkan konflik batin. Konflik batin yang dialami Tegar yaitu rasa sedih, rasa benci, rasa marah, dan rasa kecewa.

2.2 Konsep 2.2.1 Novel

Menurut Zaidan, dkk (2007:136) novel adalah jenis prosa yang mengandung unsur tokoh, alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang dan; mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik kisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan.

2.2.2 Tokoh dan Watak Tokoh

Tokoh cerita, sebagaimana dikemukakan Abrams (Nurgiantoro, 2015:247), adalah orang-orang yang ditampilkan dalam sesuatu karya naratif atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu sepereti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.

Menurut Baldic penokohan adalah penghadiran tokoh dalam cerita fiksi atau drama dengan cara langsung atau tidak langsung dan mengundang pembaca untuk menafsirkan kualitas dirinya lewat kata dan tindakannya (Nurgiantoro, 2015:247).

2.2.3 Tokoh Utama

Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan. Baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.

Tokoh utama dalam sebuah novel mungkin saja lebih dari seorang walau kadar keutamaannya belum tentu sama. Keutamaan mereka ditentukan oleh dominasi, banyaknya penceritaan dan pengaruhnya terhadap perkembangan plot secara keseluruhan (Nurgiantoro, 2015:259).

2.2.4 Psikologi Sastra

Psikologi sastra adalah sebuah interdisiplin antara psikologi dan sastra (Endraswara, 2008:16). Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karsa dalam berkarya. Begitu pula pembaca, dalam menanggapi karya juga tidak akan lepas dari kejiwaan masing-masing.

2.2.5 Konflik Bantin

Konflik batin adalah konflik yang terjadi dalam hati dan pikiran, dalam jiwa seorang tokoh (tokoh-tokoh) cerita (Nurgiantoro, 2015:181). Konflik batin adalah konflik yang disebabkan oleh adanya dua gagasan atau lebih atau keinginan yang saling bertentangan untuk menguasai diri sehingga mempengaruhi tingkah laku.

2.3 Landasan Teori

Landasan teori dalam penelitian ini adalah:

2.3.1 Pengertian konflik

Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan (Wellek dan Austin, 1995:285). Menurut Johnson, konflik adalah situasi di mana tindakan salah satu pihak berakibat menghalangi, menghambat, atau mengganggu tindakan pihak lain (Nurgiantoro, 2015:181). Meredith &

Fitzgerald (Nurgiantoro, 2015:181) menyatakan konflik menunjuk pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh-tokoh cerita, jika tokoh-tokoh itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya.

Pada umumnya masyarakat memandang konflik sebagai keadaan yang buruk dan harus dihindarkan. Konflik dipandang sebagai faktor yang akan merusak hubungan, jadi harus dicegah.

2.3.2 Konflik Eksternal dan Internal

Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang di luar dirinya, mungkin dengan lingkungan alam, lingkungan manusia, atau tokoh lain (Jones dalam Nurgiantoro, 2015:181). Konflik internal adalah konflik yang terjadi dalam hati dan pikiran dalam jiwa seorang tokoh cerita. Konflik itu lebih merupakan permasalahan intern seorang manusia.

Misalnya, hal itu terjadi akibat adanya pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda, harapan-harapan, atau masalah-masalah lainnya.

2.3.3 Klasifikasi Emosi

Menurut Krech (Minderop, 2016:39-40), kegembiraan, kemarahan, ketakutan, dan kesedihan seringkali dianggap sebagai emosi yang paling mendasar (primary emotions). Situasi yang membangkitkan perasaan-perasaan tersebut terkait dengan tindakan yang ditimbulkannya dan mengakibatkan meningkat ketegangan. Berikut akan dijelaskan klasifikasi emosi menurut Krech berdasarkan situasi yang membangkitkan perasaan.

a. Konsep Rasa Bersalah

Rasa bersalah bisa disebabkan oleh adanya konflik antara ekspresi impuls dan standard moral (impuls expression versus moral standards).

Semua kelompok masyarakat secara kultural memiliki peraturan untuku mengendalikan impuls yang diawali dengan pendidikan semenjal masa kanak-kanak hingga dewasa (Hilgard dalam Minderop, 2016:40).

b. Rasa Bersalah yang Dipendam

Krech berpendapat bahwa dalam kasus rasa bersalah, seseorang cenderung merasa bersalah dengan cara memendam dalam dirinya sendiri,

memang ia biasanya bersikap baik, tetapi ia seseorang yang buruk (Minderop, 2016:42).

c. Menghukum Diri Sendiri

Perasaan bersalah yang paling mengganggu adalah sebagaimana terdapat dalam sikap menghukum diri sendiri, si individu terlihat sebagai sumber dari sikap bersalah. Rasa bersalah tipe ini memiliki implikasi terhadap berkembangnya gangguan-gangguan kepribadian yang terkait dengan kepribadian, penyakit mental, dan psikoterapi (Krech dalam Minderop, 2016:42).

d. Rasa Malu

Menurut Krech (Minderop, 2016:43) rasa malu beda dengan rasa bersalah. Timbulnya rasa malu tanpa terkait dengan rasa bersalah.

e. Kesedihan

Kesedihan atau dukacita (grief) berhubungan dengan kehilangan sesuatu yang penting dan bernilai. Intensitas kesedihan tergantung pada nilai, biasanya kesedihan yang teramat sangat bila kehilangan orang yang dicintai.

Kesedihan yang mendalam bisa juga karena kehilangan milik yang sangat berharga yang mengakibatkan kekecewaan dan penyesalan. Parkes menemukan bukti bahwa kesedihan yang berlarut-larut dapat mengakibatkan depresi dan putus asa yang menjurus pada kecemasan; akibatnya bisa

menimbulkan insomnia, tidak memiliki nafsu makan, timbul perasaan jengkel dan menjadi pemarah serta menarik diri dari pergaulan. Parker juga menemukan chronic grief, yaitu kesedihan berkepanjangan yang diikuti oleh self-blame (menyalahkan diri sendiri); inhibited grief (kesedihan yang

disembunyikan), secara sadar menyangkal sesuatu yang hilang kemudian menggantikannya dengan reaksi emosional dan timbulnya perasaan jengkel.

Delayed grief (kesedihan yang tertunda) biasanya tidak menampakkan reaksi

emosional secara langsung selama berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun (Krech dalam Minderop, 2016:43-44).

f. Kebencian

Krec menyatakan kebencian atau perasaan benci berhubungan erat dengan perasaan marah, cemburu dan iri hati. Ciri khas yang menandai perasaan benci adalah timbulnya nafsu atau keinginan untuk menghancurkan objek yang menjadi sasaran kebencian. Perasaan benci bukan sekedar timbulnya perasaan tidak suka atau aversi/enggan yang dampaknya ingin menghindar dan tidak bermaksud menghancurkan. Sebaliknya perasaan benci selalu melekat di dalam diri seseorang dan ia tidak akan pernah merasa puas sebelum menghancurkannya; bila objek tersebut hancur ia akan merasa puas (Minderop, 2016:44).

g. Cinta

Psikologi merasa perlu mendefinisikan cinta dengan cara memahami mengapa timbul cinta dan apakah terdapat bentuk cinta yang berbeda. Gairah cinta dari cinta romantis tergantung pada si individu dan objek cinta, adanya nafsu dan keinginan untuk bersama-sama. Gairah seksual yang timbul dari perasaan cinta. Menurut kajian cinta romantis, cinta dan suka pada dasarnya sama (Krech dalam Minderop, 2016:45).

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif.

Penerapan metode kualitatif ini bersifat deskriptif yang berarti data yang dihasilkan berupa kata-kata dalam bentuk kutipan-kutipan. Menurut Ratna (2015:47) sesuai dengan namanya, penelitian kualitatif mempertahankan hakikat nilai-nilai. Dalam ilmu sastra sebagai data formal adalah kata-kata, kalimat, dan wacana. Dalam hal ini data hasil penelitian diungkapkan melalui kalimat dan kutipan dari teks yang ada dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora.

3.2 Sumber Data

Dalam penelitian ini sumber data dibagi dua, yaitu sumber data primer dan sekunder.

3.2.1 Sumber Data Primer

Sumber data primer merupakan sumber data utama dalam penelitian. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian. Data primer disebut juga data asli atau data baru (Hasan, 2009:19).

Data primer dalam penelitian ini adalah novel 12 Menit karya Oka Aurora.

Judul : 12 Menit Pengarang : Oka Aurora

Penerbit : Noura Books Tebal Buku : 348 halaman Cetakan : Pertama

Tahun : 2013

Warna Sampul : Biru dengan judul berwarna orange Desain Sampul : A.A

3.2.2 Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder merupakan sumber data kedua atau sumber data pendukung. Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada (Hasan, 2009:19).

Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku acuan, jurnal, skripsi, situs internet, dan artikel-artikel yang berhubungan dengan karya sastra, psikologi sastra, dan konflik batin.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik kepustakaan. Data–data yang diperoleh dari data primer dan data sekunder. Data primer terdiri atas teknik membaca dan mencatat, sedangkan data sekunder merupakan teknik kepustakaan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

1. membaca novel yang diteliti secara cermat dan berulang-ulang.

2. Melakukan penandaan pada novel yang diteliti sesuai dengan fokus permasalahan.

3. Menginterpretasikan semua data-data yang telah diperoleh.

4. Mendeskripsikan semua data-data yang telah diperoleh.

5. Mencatat data-data deskripsi yang sesuai dengan fokus permasalahan.

3.4 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, yaitu dengan urutan dan proses sistematis sebagai berikut:

1. Penulis menganalisis dan mengklarifikasi cerita pada novel tersebut.

2. Ungkapan atau kalimat yang berkaitan dengan konflik batin tokoh utama Tara dikelompokkan berdasarkan bentuk-bentuknya.

3. Mendeskripsikan penyebab terjadinya konflik batin dalam diri tokoh utama.

4. Setelah itu, penulis membuat simpulan dari hasil analisis tersebut.

BAB IV

KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA TARA DALAM NOVEL 12 MENIT KARYA OKA AURORA

4.1 Konflik Batin Tokoh Utama Tara Berdasarkan Klasifikasi Emosi

Tabel konflik batin yang dialami tokoh utama Tara dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora

No Klasifikasi Emosi Bentuk Wujud

1 Konsep rasa bersalah Baik 1. Konsep rasa bersalah karena tidak konsentrasi ketika latihan

2. Konsep rasa bersalah karena menyakiti hati Oma

3. Konsep rasa bersalah Tara

diwujudkan dengan

permintaan maafnya kepada Oma.

2 Rasa bersalah yang dipendam Baik 1. Rasa bersalah yang dipendam oleh Tara berwujud perasaan menyesal atas kematian ayah

Tara

2. Tara melakukan hal-hal yang membuat rasa bersalah tersebut menjadi lebih baik, yaitu Tara mengisi waktunya dengan bermain drum dan

ketika emosi

mengendalikannya untuk membuang stick drum dia cepat sadar dan ingin mengambilnya kembali.

3 Menghukum diri sendiri Buruk Menghukum diri sendiri yang dilakukan oleh Tara berwujud pada hal yang merugikan dirinya dan juga orang-orang di sekitarnya.

4 Rasa malu Buruk Rasa malu yang dirasakan Tara

menjadikannya sosok yang tidak baik. Dia menjadi malas ke sekolah dan tertutup.

5 Kesedihan Buruk Tara melepaskan kesedihannya dengan menangis dan memukul drum serta mengakibatkan daun-daun menjadi pelampiasan rasa sedihnya berakibat buruk bagi kesehatan jiwa Tara dan lingkungannya.

6 Kebencian Buruk Kebencian atas kelemahan yang

dimilikinya menjadikan Tara meninggalkan marching band dan membuang mimpinya untuk menjadi penabuh drum.

7 Cinta Baik 1. Rasa cinta diwujudkan ibu

Tara dengan kepergiannya ke Inggris sebagai bentuk motivasi yang ingin disampaikan kepada Tara.

2. Wujud perasaan cinta yang diharapkan Tara adalah keberadaan ibu di sisinya.

4.1.1 Konsep Rasa Bersalah

Menurut Hilgard, dkk (dalam Minderep 2010:39) rasa bersalah bisa disebabkan oleh adanya konflik antara ekspresi implus dan standar moral. Rasa bersalah dapat pula disebabkan oleh perilaku neurotik, yakni ketika individu tidak mampu mengatasi problem hidup seraya menghindarinya melalui manuver-manuver defensif yang mengakibatkan rasa bersalah dan tidak bahagia.

Perasaan bersalah seringkali ringan dan cepat berlalu, tetapi dapat pula bertahan lama. Derajat yang lebih rendah dari perasaan bersalah kadang-kadang dapat dihapuskan karena si individu mengingkarinya dan merasa benar. Upaya ini dilakukan karena adanya kekuatan positif untuk memperoleh kesenangan. Terdapat perbedaan yang tajam dalam diri seseorang dalam menangkap situasi yang menjurus pada rasa bersalah. Ada orang yang sadar terhadap apa yang harus dilakukannya dan ia sungguh memahami bahwa ia telah melanggar suatu keharusan, ada pula orang yang merasa bersalah, tetapi ia tidak tahu penyebabnya serta ia tidak tahu bagaimana menghilangkannya (Minderop, 2010: 40).

Menurut Tangney rasa bersalah dapat dikarakteristikkan dengan adanya kecenderungan untuk mengevaluasi perilaku diri yang negatif dan kecenderungan untuk memperbaiki tindakan. Berikut kutipan yang menggambarkan konsep rasa bersalah yang dialami tokoh utama Tara dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora.

Tara bergegas menegakkan tubuhnya sambil bergumam meminta maaf.

Dia lirik Rene. Rene sedang melotot padanya. Sesaat Tara menunduk, dan tiba-tiba dia ingat, dia tak boleh menunduk. Buru-buru dia angkat lagi kepalanya.

(Aurora, 2013:81)

Kutipan di atas menggambarkan peristiwa rasa bersalah yang dialami Tara ketika merasa tidak konsentrasi saat latihan. Awalnya konsep rasa bersalah Tara diwujudkan melalui gerak menundukkan kepala. Namun, rasa bersalah Tara mendorong pemahaman bahwa dia tidak boleh menundukkan kepala. Dalam latihan marching band Tara perlu mengangkat kepala untuk memperhatikan instruksi dari

pelatih sehingga dengan mengangkat kepala Tara tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Dalam peristiwa ini Tara mampu memberikan solusi untuk konsep rasa bersalah yang dia rasakan. Gumaman meminta maaf adalah rasa bersalah Tara dan gerakan mengangkat kepala adalah solusi yang dilakukan Tara untuk memperbaiki kesalahannya. Dari hal tersebut terlihat bahwa konsep rasa bersalah merupakan bagian dari klasifikasi emosi yang baik. Kutipan lain yang menggambarkan konsep rasa bersalah tokoh utama Tara dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora.

“Kamu pikir ibumu seegois itu?” lirih Omanya.

“Iya, deh. Tara yang egois. Tara yang salah,” suara Tara getas, “Selalu Tara yang salah.”

Opa bergumam, “Halah ... itu lagi, itu lagi, Dek”. (Aurora, 2013:89)

Dari kutipan di atas tergambar peritiwa bahwa rasa bersalah Tara terhadap ucapan yang dia katakan kepada Oma. Tara mengaku bahwa dia egois meskipun masih dengan perasaan yang kesal. Namun, konsep perasaan bersalah Tara ini ternyata sering dia ulangi terbukti dari jawaban Opa yang bergumam itu lagi, itu lagi, Dek. Meskipun dalam peristiwa ini tidak terlihat penyelesaian, tetapi konsep rasa

bersalah merupakan bagian dari klasifikasi emosi yang baik karena Tara mengalah dengan mengatakan dia egois dan dia yang salah. Kutipan lain yang menggambarkan konsep rasa bersalah tokoh utama Tara dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora.

Opa menoleh pelan pada Tara. Dia menatap Tara dengan sedih. Tertangkap sebersit rasa bersalah di mata Tara. Namun, mata itu buru-buru ditundukkan. (Aurora, 2013:92)

Peristiwa yang tergambar dalam kutipan di atas adalah rasa bersalah Tara terhadap ucapan yang dia katakan kepada Oma. Hal ini dijelaskan melalui deskripsi Opa yang menatap mata Tara dengan sebersit rasa bersalah. Konsep rasa bersalah Tara dia wujudkan melalui gerak menundukkan kepala. Lumrahnya ketika seseorang merasa bersalah dia akan menundukkan kepala pertanda bahwa dia sadar dengan kesalahannya tersebut. Rasa bersalah juga dapat diwujudkan melalui cahaya mata yang meredup. Berikut kutipannya.

Cahaya mata Tara meredup karena rasa bersalah. Berbeda dengan cahaya mata Lahang dan Elaine yang berbinar penuh semangat. (Aurora, 2013:135)

Gambaran yang disampaikan oelh penulis dalam kutipan tersebut adalah rasa bersalah Tara. Cahaya mata Tara meredup merupakan wujud dari penggambaran perasaan bersalah yang dia miliki. Dengan cahaya mata meredup menunjukkan bahwa Tara sadar telah melakukan kesalahan. Penyelesaian konsep rasa bersalah Tara terlihat dari kutipan di bawah ini.

Mungkin sudah saatnya untuk berhenti memikirkan dirinya sendiri. Rasa bersalah pelan-pelan merambati hatinya.

“Maafin Tara, ya, Oma,” ujar Tara pelan. (206)

Kutipan tersebut konsep rasa bersalah Tara akhirnya terselesaikan. Dari peritiwa ini akhirnya dia sadar bahwa dia juga harus memikirkan orang-orang yang menyayanginya, yaitu Oma, Opa, dan Ibunya. Konsep rasa bersalah Tara diwujudkan dengan permintaan maafnya kepada Oma. Dengan demikian Tara memulai hidupnya dengan perasaan yang terlepas dari menyalahkan diri sendiri atas kematian ayahnya.

4.1.2 Rasa Bersalah yang Dipendam

Setiap orang pasti pernah mengalami perasaan bersalah yang dipendam. Ada berbagai macam faktor penyebab seseorang mengalami perasaan bersalah dalam hidupnya. Rasa bersalah yang dipendam adalah prasaan muncul dan berhubungan dengan tingkah laku atau pengambilan keputusan moral yang merupakan tanggung jawab pribadi dan dinilai salah oleh hati nurani akibat tidak memenuhi nilai moral atau nilai keagamaan yang dianutnya, hingga menimbulkan perasaan bersalah dalam dirinya yang dirasakan oleh dirinya sendiri (dalam Gaib, 2007:19).

Berdasarkan teori diatas rasa bersalah yang dipendam merupakan perasaan bersalah yang ada dalam diri seseorang tanpa orang lain ketahui. Perasaan bersalah muncul karena adanya rasa penyesalan atas kesalahan yang tidak dapat diselesaikan sehingga seseorang mencoba untuk melupakan kesalahannya sendiri. Berikut kutipan yang menggambarkan rasa bersalah yang dipendam oleh tokoh utama Tara dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora.

Namun, sejak kecelakaan merenggut pendengarannya, Tara berubah pemurung. Tara merasa bertanggung jawab atas kecelakaan itu. Dia pun sering menyalahkan dirinya sendiri. Dan, tak bosan menganggap dirinya korban kehidupan. (Aurora, 2013:142)

Dari kutipan di atas tergambar bahwa Tara memendam perasaan bersalah.

Setelah perasaan bersalahnya tersebut Tara menjadi sosok yang pemurung. Tara merasa segala hal yang menimpa dia dan ayahnya merupakan tanggung jawab dirinya sendiri. Namun, di tengah perasaan bersalah yang dipendam oleh Tara, dia masih berjuang untuk tetap bermain drum. Salah satu hal yang dia sukai sebelum kecelakaan terjadi. Berikut kutipan lain yang menggambarkan perasaan bersalah yang dipendam oleh Tara.

Tara terlempar ke suatu masa ketika dia pernah melihat sobekan yang jauh lebih ngeri. Sobekan kulit yang berdarah, dalam, dan berdaging. Sambil terus memukul, Tara menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba mengeyahkan bayangan itu. Namun, bayangan itu melekat seperti koreng pada

Tara terlempar ke suatu masa ketika dia pernah melihat sobekan yang jauh lebih ngeri. Sobekan kulit yang berdarah, dalam, dan berdaging. Sambil terus memukul, Tara menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba mengeyahkan bayangan itu. Namun, bayangan itu melekat seperti koreng pada

Dokumen terkait