• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Jaringan Perdagangan Ikan Konsumsi Karang Hidup

Hasil tangkapan nelayan, berupa ikan konsumsi karang hidup tersebut dipasarkan keluar pulau untuk dijual ke pembeli besar (bos) yang mempunyai koneksi perdagangan langsung dengan pembeli yang ada di pulau. Ikan konsumsi karang hidup ini dijual dalam keadaan hidup sampai di konsumen dalam negeri atau konsumen di luar negeri melalui restoran yang menyediakan ikan konsumsi karang hidup dalam keadaan hidup dan kondisi segar. Menurut Scales, et.al, (2007), ikan konsumsi karang hidup, diidentifikasi sedikitnya ada 9 species ikan karang hidup yang laku di pasaran pada tingkat konsumen sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi, yaitu: Ephinephelus lanceolatus (Giant grouper),

Cromileptes altives (High-finned grouper), Ephinephelus coioides (Green

grouper), Ephinephelus fuscoguttatus (Tiger grouper), Ephinephelus

polyphekadion (Flowery grouper), Plectropomus leopardus (Leopard grouper),

Plectropomus maculates (Spotted grouper), Cheilinus undulates (Humphead

Sedikitnya dari lima species ikan tersebut di atas (yang dicetak miring) di tangkap di wilayah perarian Indonesia timur yang menjadi komoditas utama dari nelayan penangkap ikan konsumsi karang hidup. Ikan konsumsi karang hidup tersebut ditangkap dan dipasarkan melalui “jaringan perdagangan antar pulau, antar propinsi sampai jaringan internasional”. Ikan tersebut di kirim dengan jarak yang jukup jauh dalam waktu yang lumayan lama, sehingga dibutuhkan perlakuan khusus agar mampu menjaga ikan tersebut dalam keadaan hidup dan bentuk yang bagus sampai ke konsumen. Pasokan utama ikan konsumsi karang hidup dari Indonesia timur adalah jenis ikan Sunu, Kerapu dan jenis Napoleon.

Berbicara tentang ikatan pelaku produksi dan distribusi ikan konsumsi karang hidup melekat pada jaringan perdagangan ikan konsumsi karang hidup yang membentuk ikatan patron-klien. Ikatan produksi dan distribusi tersebut menghasilkan pertukaran barang dan uang yang masing-masing aktor membutuhkan satu sama lain. Satu ciri khas teori jaringan adalah pemusatan perhatiannya pada struktur mikro hingga makro. Dalam arti, aktor mungkin saja individu, tetapi mungkin pula kelompok, perusahaan dan masyarakat. Hubungan ini berlandaskan gagasan bahwa setiap aktor (individu dan kolektivitas) mempunyai akses berbeda terhadap sumber daya yang benilai (kekayaan, kekuasaan, informasi). Akibatnya adalah bahwa sistem yang terstruktur cenderung terstratifikasi, komponen tertentu tergantung pada komponen yang lain.

Grannovetter (1973), menekankan bahwa jaringan mengikat pada ikatan lemah dan kuat antar aktor yang dalam kegiatan produksi-distribusi. Pola jaringan dalam struktur masyarakat pun bisa terjadi dalam hubungan aktor yang bersifat simetris maupun asimetris. Beberapa prinsip teori jaringan, yakni: (1). Ikatan antar aktor biasanya bersifat simetris, baik isi maupun intensitasnya (aktor saling memberi hal berbeda, dan mereka melakukannya dengan kurang lebih intens); (2). Ikatan antar individu harus dianalisis dalam konteks struktur dan jaringan yang lebih besar; (3). Perstrukturan ikatan sosial mengarah kepada berbagai jaringan yang tidak acak, (4). Keberadaan kelompok mengarah pada fakta bahwa mungkin saja terdapat kaitan silang antar kelompok maupun antar individu; (5). Terdapat ikatan asimetris antar elemen dalam suatu sistem yang akibatnya adalah sumber

daya yang berlainan terdistribusikan secara berlainan; (6). Ketimpangan distribusi sumber daya yang langka melahirkan kolaborasi dan kompetisi.

Usaha dalam mempertahankan kondisi ikan konsumsi karang hidup agar tetap hidup dan segar (tidak rusak dalam kondisi fisiknya), ikan tersebut diberi perlakuan untuk mempertahankan kehidupannya. Perlakuan tersebut diberikan melalui suntikan antibiotik dan multivitamin sejak mulai setelah penangkapan di lapangan, kemudian di masukan kedalam pemberokan (tempat penampungan ikan sementara untuk istirahat) dalam waktu satu malam sebelum dikirim ke Perusahaan eksprotir. Sebagai contoh di Makassar, perlakuan serupa pun terjadi. Pengemasan ikan karang hidup sebelum di kirim lewat udara menuju Jakarta terlebih dahulu di bius agar tidak menimbulkan kematian dan kerusakan fisik. Efek dari bius tersebut mempunyai efek waktu selama perjalanan dari Makassar sampai ke Jakarta. Ketika di Jakarta ikan tersebut di pulihkan kembali dan dengan diberi perlakuan yang sama, sampai akhirnya sampai pada tujuan ekspor di Hong Kong (Radjawali, 2011).

Jaringan perdagangan secara tidak langsung memaksa adanya penangkapan ikan karang hidup secara terus menerus dan bahkan berlebih. Ketika terjadi penangkapan yang berlebih, sumber daya perikanan akan terus berkurang di sekitar perairan Spermonde. Penangkapan ikan menjadi kurang produktif/tangkapan per unit usaha menurun (yaitu untuk beberapa teknologi alat penangkapan (seperti pancing, bubu dan jaring)), sehingga nelayan yang terkena dampaknya akan mengurangi ukuran jaringnya dan berpindah ke metode yang lebih berproduktif. Hal ini disebabkan karena permasalahan lain, bahwa ikan karang hidup ditangkap di perairan lokal, tetapi pasarnya di luar yurisdiksi Indonesia (transboundary), sehingga ‘pengendali’nya adalah pasar dan dikombinasikan dengan ketiadaan jaminan sosial pemerintah dan pengetahuan yang baik akan kesadaran lingkungan, serta tekanan ekonomi pada nelayan, maka dengan sendirinya nelayan mencari ikan sebanyak-banyaknya untuk sekedar memenuhi hidup atau bahkan membayar hutang (Radjawali, 2011).

Peningkatan permintaan akan pasar secara berlebihan pada pasar

internasional menyebabkan penangkapan yang berlebihan pula, dengan menangkap species baru secara berlebihan dan menyebabkan banyak

bermunculan asosiasi untuk penangkapan ikan yang di dalamnya terdapat sistematika jaringan punggawa untuk setiap jenis ikan dan sawi akan menangkap ikan apapun yang ada, dimana mereka tahu akses untuk menangkapnya dan tempat untuk menjualnya (Radjawali, 2011). Scales, (2007), menyebutkan setidaknya 19 negara mengekspor ikan konsusmi karang hidup ke Hong Kong. Dari 19 negara tersebut kesemuanya berada di Asia Tenggara dan Pasifik.

Akselerasi perdagangan konsumsi ikan karang hidup cukup pesat perkembangannya. Pengiriman ikan konsumsi karang hidup memakan perjalan dengan jarak tempuh lebih dari 400 km (Johannes and Riepen, 1995; Bentley, 1999). Hal ini yang menyebabkan proses pengriman ikan konsumsi karang hidup, diperlakukan sedemikan rupa dalam menjaga ikan tersebut hidup dengan kondisi sempurna tanpa cacat apapun dengan keadaan yang segar. Sehingga perlakuan tersebut banyak menggunakan bahan kimia untuk menjaga ikan tersebut dalam keadaan hidup.

Dalam fenomena produksi-distribusi perikanan ikan konsumsi karang hidup, eksportir sebagai “aktor” middle man yang bermain dalam pasar. Bahwa hal ini merupakan ketergantungan dari nelayan kepada perusahaan-perusahaan yang memberikan pasar termasuk middle man I dan middle man II di Bali dan Jakarta. Hal ini menyebabkan nelayan tetap menjadi nelayan dengan terus membayar hutang yang diberikan oleh middle man sebagai jaminan sosial dalam ikatan produksi-distribusi patron-client. Dalam pertukaran barang dan jasa dalam ikatan patron-klien tersebut menjadikan adanya ketidakseimbangan proporsi hasil yang didapat antar pelaku produksi dan distribusi sehingga terjadi ketidaksetaraan pendapatan yang diterima dalam masing-masing pelaku produksi dan distribusi.

Jaringan perdagangan tersebut melewati proses pengiriman ikan konsumsi karang hidup terjadi melalui beberapa tahap level pengiriman dan pemberangkatan yang masing-masing bertahap juga proses transaksi ekonominya. Mulai dari tahap penangkapan di alam oleh nelayan lokal, kemudian di beli oleh pembeli tahap I kemudian ditampung dalam pemberokan di pulau, di jual ke pembeli tahap II yang ada di Makassar, kemudian di tampung dalam pemberokkan Makassar, kemudian di kirim ke pembeli tahap III di Jakarta melalui jalur udara, kemudian ditampung dalam pemberokan sampai akhirnya di

kirim ke Hong Kong ke retail pasar Hong Kong sampai ke level konsumen. Proses tersebut tentunya proses yang lama yang menggunakan perlakuan ekstra agar ikan tersebut tetap hidup dan kondisi segar sampai ke konsumen di Hong Kong (Sadovy, et.al. 2003; Muldoon, 2009; Radjawali, 2011).

Jaringan perdagangan tersebut dibangun berdasarkan atas jaringan sosial yang mengikat didalamnya modal sosial dan hubungan kekerabatan. Putnam, 1997 (dalam Prell, 2009), menyebutkan bahwa modal sosial terbetuk karena adanya jaringan sosial dalam komunitas, norma, kepercayaan dan hubungan timbal balik dimana menyebabkan adanya kerjasama dan hubungan keuntungan yang timbal balik.