IV. IDENTIFIKASI UNSUR MODAL SOSIAL
4.1 Unsur Modal Sosial
4.1.2 Jaringan Sosial (Social Networking)
Jaringan sosial menurut Calchoun et al. (1994) merupakan sebuah
hubungan sosial yang terpola atau disebut juga sebagai pengorganisasian sosial.
Rogers dan Kincaid (1980) juga menyatakan jaringan sosial juga menggambarkan
jaring-jaring hubungan antara sekumpulan orang yang saling terkait baik langsung
maupun tidak langsung. Jaringan sosial terbangun dari komunikasi antar individu
yang memfokuskan pada pertukaraan informasi sebagai sebuah proses untuk
mencapai tindakan bersama, kesepakatan bersama, dan perhatian bersama.
Modal sosial tidak dibangun hanya oleh satu individu, melainkan akan
terletak pada kecenderungan yang tumbuh dalam satu kelompok untuk
bersosialisasi sebagai bagian penting dari nilai-nilai yang melekat. Modal sosial
akan kuat tergantung pada kapasitas yang ada dalam kelompok masyarakat untuk
membangun sejumlah asosiasi berikut membangun jaringannya. Salah satu kunci
keberhasilan membangun modal sosial terletak pada kemampuan sekelompok
orang dalam suatu asosiasi atau perkumpulan dalam melibatkan diri dalam suatu
jaringan hubungan sosial.
Jaringan sosial masyarakat terjadi interaksi antara individu dalam satu
kelompok, individu beda kelompok, individu dengan kelompok, dan antar
kelompok. Gambaran jaringan sosial yang mengarah kepada pengembangan
ekowisata ada di Dusun Kabo Jaya sudah dapat tergambarkan, sedangkan di
Dusun G III belum adanya jaringan sosial yang mengarah kepada pengembangan
ekowisata, hanya ada jaringan sosial umum (Gambar 4.1).
26
Gambar 4.1 Jaringan sosial umum Dusun Kabo Jaya dan Dusun G III
Lembaga Adat Pemerintah Desa Individu – individu Suku Toraja Individu – individu Suku Timur Individu – individu Suku Banjar Individu – individu Suku Bugis Individu – individu Suku Jawa Pemerintah Desa Individu – individu Suku Banjar Lembaga Adat Individu – individu Suku Toraja Individu – individu Suku Timur Individu – individu Suku Bugis Individu – individu Suku Jawa Individu – individu Suku Dayak Individu – individu Suku Kutai
Komunitas Dusun kabo jaya Komunitas Dusun G III
Pemerintah Daerah Perusahaan Swasta Lembaga Adat Lembaga Swadaya Masyarakat Pendatang: 1. Tamu 2. Pengunjung 3. Pedagang
27
Ikatan kerjasama masyarakat Dusun Kabo Jaya maupun Dusun G III dengan pemerintah bernilai rendah, sedangkan kerjasama antara masyarakat dengan pihak swasta (PT. KPC) terutama dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat tinggi. Khusus Dusun Kabo Jaya ada kerjasama antara PT. KPC dan Mitra Kutai dengan CIFOR, PILI, dan BIKAL dalam pengembangan Ekowisata Kabo Jaya yang dikelola oleh masyarakat setempat dengan TNK. Ikatan kerjasama ini menciptakan terjadinya beberapa bentuk interaksi yaitu antar individu dalam satu kelompok, antar individu beda kelompok, antar individu dengan kelompok, dan antar kelompok.
Interaksi antar individu dalam kelompok Ekowisata Kabo Jaya (Gambar 4.2). Masing-masing anggota kelompok memiliki fungsi dan peranan dalam kelompok tersebut, sehingga terjadi interaksi antar individu tanpa adanya persaingan karena masing-masing mempunyai fungsi, peranan, dan tujuan yang akan dicapai untuk kepentingan bersama. Menurut Jones (2005), interaksi yang terjalin antar individu dalam satu kelompok yang memiliki status dan peran yang berbeda umumnya bersifat primer positif yang mengarah pada kerjasama. Sedangkan interaksi antar individu yang memiliki status dan peranan yang sama cenderung bersifat sekunder negatif yang mengarah persaingan. Sifat interaksi yang positif, baik primer maupun sekunder sebenarnya bisa menjadi modal dasar untuk membangun jaringan sosial yang dapat mendukung keberhasilan pengembangan ekowisata. Sedangkan interaksi yang negatif, baik primer maupun sekunder, akan menghambat terbangunnya jaringan sosial. Jaringan sosial sangat diperlukan untuk keberhasilan dan keberlanjutan pengembangan ekowisata di suatu kawasan.
Gambar 4.2 Interaksi antar individu dalam satu kelompok Anggota Ekowisata Kabo Jaya A Anggota Ekowisata Kabo Jaya B Anggota Ekowisata Kabo Jaya C Anggota Ekowisata Kabo Jaya D Kelompok Ekowisata Kabo Jaya
28
Interaksi antar individu beda kelompok, terjadi antara individu Kelompok Minat (Poknat) fasilitas kelompok Ekowisata Kabo Jaya dengan individu yang mempunyai ketingting dalam kelompok penyewa ketingting (Gambar 4.3). Interaksi antar individu yang berbeda kelompok akan mendukung terjadinya jaringan sosial bersifat interaksi sekunder (tidak langsung) atau bahkan bersifat negatif yang mengarah kepada persaingan dan perpecahan. Hal ini akan menyebabkan lemahnya jaringan sosial. Sebaiknya untuk memperkuat jaringan sosial, kelompok ketingting ini direkrut menjadi bagian dari kelompok Ekowisata Kabo Jaya, sehingga tidak akan ada kecurigaan mengenai hal besarnya pembayaran dan apabila diperlukan segera ketingting untuk mengantarkan pengunjung ke Prevab akan segera terlayani.
Gambar 4.3 Interaksi antar individu beda kelompok
Interaksi antar individu dengan kelompok adalah interaksi yang terjadi antara ketua dengan para anggotanya (Soekanto 2009). Interaksi individu dengan kelompok (Gambar 4.4), terjadi antara Koordinator Ekowisata Kabo Jaya dengan Kelompok Minat (fasilitas, wisata alam, wisata agro, dan seni, budaya serta kuliner).
Gambar 4.4 Interaksi antar individu dengan kelompok Anggota Poknat Sarana
dari Kelompok Ekowisata Kabo Jaya
Anggota dari Kelompok Penyewa
Ketingting
Koordinator Ekowisata Kabo Jaya
Poknat Fasilitas
Poknat Wisata Alam
Poknat Wisata Agro
Poknat Seni, Budaya, dan Kuliner
29
Kelompok mempunyai pengertian sebagai suatu kumpulan dari orang-orang yang mempunyai hubungan dan berinteraksi, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama (Abdulsyani 2002). Interakasi antar kelompok yang terjadi, yaitu antara kelompok Ekowisata Kabo Jaya, PT. KPC, TNK, Mitra Kutai, CIFOR, PILI, BIKAL, dan Kelompok penyewa ketingting (Gambar 4.5).
Gambar 4.5 Interaksi antar kelompok
Menurut Stone dan Hughes (2002), ukuran jaringan sosial dilihat dari ikatan kelembagaan memiliki karakteristik adanya kepercayaan dalam kelembagaan yang ada, misalnya pada ikatan dalam sistem kelembagaan dan hubungan kekuasaan. Ikatan kelembagaan di kedua dusun tidak ada karena kelembagaan dianggap kurang penting dan masyarakat tidak memiliki waktu banyak untuk aktif dalam kegiatan kelembagaan, masyarakat banyak menggunakan waktu untuk bekerja sebagai karyawan PT. KPC dan perusahaan kontraktornya.
Dari tinjauan sosial budaya, dalam masyarakat yang seperti ini akan terjadi interaksi di antara mereka yang memiliki budaya yang berbeda. Interaksi itu dapat berupa suatu kerjasama, pembauran, atau perselisihan. Suatu konflik sosial dapat saja sewaktu-waktu terjadi. Konflik sosial ini diawali oleh tumbuhnya rasa curiga bahwa kelompoknya diperlakukan secara tidak adil dalam kehidupannya, yang antara lain adalah dalam memperoleh kesempatan kerja maupun partisipasi dalam berbagai kegiatan bersama. Seperti yang dirasakan masyarakat di Kampung
PT. KPC dan Mitra Kutai
Ekowisata Kabo Jaya
TNK PILI
CIFOR BIKAL Penyewa Ketingting
30
Timur, Dusun Kabo Jaya mereka merasa tersisihkan dalam berbagai kegiatan bersama dalam lingkungannya. Menurut beberapa masyarakat Kampung Timur ini, dalam kegiatan bersama banyak dilibatkan adalah warga dari Kampung Bugis karena menurut mereka kedekatan Kepala Dusun Kabo Jaya ke warga Kampung Bugis, seperti dalam kegiatan kepanitian acara 17 Agustus panitian yang banyak dilibatkan dari warga Kampung Bugis dan biasanya mereka pilih pertandingan olahraga yang banyak dikuasai warga Kampung Bugis, seperti sepak takraw. Dalam kehidupan sehari-hari pun terjadi gesekan yaitu antara warga Kampung Bugis dengan Kampung Timur, sedangkan dengan warga kampung lainnya sangat jarang terjadi perselisihan. Hal ini disebabkan karena kedua kampung ini sangat berdekatan dan pada dasarnya masing-masing watak sangat keras. Beberapa contoh kasus yang ditemukan selama penelitian, dalam satu lapangan sepak bola ada 2 kelompok yang bermain sepak bola, yaitu warga Kampung Bugis dan Kampung Timur, jadi lapang sepak bola itu dibagi menjadi 2 bagian. Mereka tidak mau bermain bersama, yang terkena imbas dengan kondisi ini yaitu anak-anak kecil dari kedua kampung ini juga bermain dengan masing-masing kampungnya, padahal mereka sangat berdekatan kampungnya. Hal ini jelas kurang mendukung tumbuhnya rasa persatuan dalam lingkungan. Kelompok yang lemah merasa curiga bahwa mereka diperlakukan tidak adil, sedangkan kelompok yang kuat kadang-kadang suka membanggakan diri. Rasa curiga dan rasa tidak senang ini berpotensi terjadinya perpecahan (disintergrasi) dalam masyarakat.
Gambar 4.6 Potret anak-anak Kampung Bugis sedang bermain Upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah ini, yaitu tetua dari masing-masing suku dipertemukan untuk membahas masalah tersebut yang sudah
31
berlangsung lama. Sehingga anak-anak tidak dipersalahkan dengan kondisi tersebut karena anak-anak hanya mengikuti kondisi yang sudah ada dari orang tuanya.
Kerelaan dalam membangun jaringan kerjasama antar sesama di Dusun Kabo Jaya pada umumnya warga rela membangun jaringan antar sesama dalam berbagai kegiatan seperti bergabung dengan Kelompok Ekowisata Kabo Jaya, kegiatan Kelompok Tani, PKK, Posyandu, Karang Taruna, perkumpulan keagamaan, dan olahraga. Berbeda dengan di Dusun G III, hal ini karena warga Dusun G III mempunyai pandangan bahwa masyarakat di Dusun G III sebagai besar karyawan perusahaan dengan sistem kerja 24 jam (sistem pembagian waktu kerja siang dan malam) sehingga pada umumnya warga habis waktunya untuk bekerja dan pada saat libur dipergunakan untuk beristirahat. Sedangkan menurut Hasbullah (2006), kemampuan masyarakat untuk selalu menyatukan diri dalam suatu pola hubungan yang sinergis akan sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kuat tidaknya modal sosial suatu kelompok masyarakat. Hubungan sosial ini dilakukan diantaranya atas prinsip kesukarelaan.
Sistem komunikasi antara Pemerintah Desa, baik di Dusun Kabo Jaya dan Dusun G III dengan masyarakat dari Rukun Tetangga (RT) kemudian disampaikan kepada masyarakat. Dalam hal ini RT sebagai media perantara antara Pemerintah Desa dengan masyarakat. Kegiatan perkumpulan di desa tidak rutin dilakukan hanya menurut keperluan saja.
Proses sosialisasi antar warga di Dusun Kabo Jaya maupun di Dusun G III, yaitu melalui kegiatan ibadah keagamaan masing-masing agama seperti pengajian mingguan umat muslim bapak dan ibu-ibu maupun kebaktian bagi umat Kristiani, arisan bulanan ibu-ibu per RT. Selain itu juga melalui berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan yang ada seperti Posyandu, PKK, kelompok olahraga, karang taruna, dan di Dusun Kabo Jaya ada kelompok Ekowisata Kabo Jaya.
Keterbukaan dalam melakukan hubungan dengan pihak luar di Dusun Kabo Jaya pada umumnya warga terbuka melakukan kerjasama dengan pihak luar asalkan dapat membangun ke arah yang lebih baik. Beberapa kerjasama yang dilakukan warga Dusun Kabo Jaya dengan pihak luar diantaranya dalam
32
pengembangan Ekowisata Kabo Jaya (PT. KPC, Mitra Kutai, PILI, CIFOR, dan BIKAL), pelatihan-pelatihan (PT. KPC), bantuan Pembangunan Nasional Pemberdayaan Masyarakat (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa), bantuan ternak untuk warga (PT. KPC), layanan pendidikan dan kesehatan (PT. KPC), pembuatan fasilitas umum (PT. KPC). Sedangkan keterbukaan dalam melakukan hubungan dengan pihak luar di Dusun G III lebih rendah dibandingkan dengan Dusun Kabo Jaya karena warga tidak percaya khususnya kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), tetapi Dusun G III masih tetap melakukan kerjasama dengan pihak luar diantaranya, pelatihan pembibitan (PT. KPC), bantuan Pembangunan Nasional Pemberdayaan Masyarakat (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa), pelatihan-pelatihan keterampilan anggota PKK (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa), layanan pendidikan dan kesehatan (PT. KPC), serta pembuatan fasilitas umum (PT. KPC).
Keaktifan dalam memeliharaan dan mengembangkan jaringan sosial tidak ada walaupun motivasi untuk menciptakan hubungan atau jaringan sosial/kerja ada karena masyarakat berpendapat bahwa kerjasama harus dapat memberikan manfaat dan kemajuan bagi masyarakat. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya bantuan yang diberikan pihak PT. KPC untuk pemberdayaan masyarakat, sehingga menyebabkan ketidakaktifan masyarakat dalam mencari peluang kerjasama.
Jaringan kerjasama dengan sesama warga dan keaktifan dalam penyelesaian konflik, pada masyarakat Dusun G III yang sebagian besar adalah karyawan swasta, tidak ada karena sebagian besar waktu digunakan untuk bekerja. Selain itu mereka berpendapat bahwa konflik di masyarakat jarang terjadi dan jika terjadi merupakan tanggung jawab Ketua Rukun Tetangga (RT) atau Kepala Desa untuk menyelesaikan.