• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. IDENTIFIKASI UNSUR MODAL SOSIAL

4.1 Unsur Modal Sosial

4.1.6 Kondisi Sosial Ekonomi

Jumlah organisasi yang diikuti masyarakat Dusun Kabo Jaya maupun Dusun G III < 10 organisasi, hal ini berdasarkan survei langsung kepada masyarakat. Hal ini karena waktu banyak dipergunakan untuk bekerja, sehingga waktu untuk berorganisi sedikit. Begitu halnya dalam pengambilan keputusan pada organisasi sosial pun di kedua dusun ini adalah rendah.

4.1.5 Kepedulian terhadap Sesama dan Lingkungan

Kepedulian masyarakat di Dusun Kabo Jaya maupun Dusun G III terhadap sesama dan lingkungan cukup peduli. Mengingat mereka pada umumnya hidup merantau sehingga semua orang mereka sudah menganggap sebagai saudaranya. Apalagi kepedulian terhadap sesama suku akan lebih tinggi, seperti saling membantu dalam meringankan musibah, menjenguk atau mengurus orang yang sakit, membantu dalam kegiatan perayaan pernikahan, maupun upacara kematian. Begitu juga dengan kepedulian terhadap lingkungan pada umumnya masyarakat sudah memahami akan pentingnya lingkungan karena pada semua masyarakat Dusun Kabo Jaya dan Dusun G III berpendidikan cukup, yaitu sebagian besar tamatan Sekolah Menengah Atas (SMU) (Desa Swarga Bara 2009 dan Desa Singa Gembara 2009).

Kepedulian terhadap lingkungan untuk masyarakat Dusun G III lebih tinggi. Hal ini dilihat adanya kegiatan pro aktif masyarakat dalam bekerja bakti dalam membersihkan lingkungan yang dilakukan secara rutin, lingkungan tempat tinggal pada umumnya sudah memperhatikan kesehatan, dan pada umunya masyarakat sudah mengerti akan pentingnya lingkungan bagi kehidupan. Sehingga dengan kondisi modal sosial ini dan didukung adanya potensi objek ekowisata di Desa Singa Gembara yaitu Pantai Tanjung Bara dan Hutan Mangrove Tanjung Bara, pengembangan ekowisata diarahkan ke pengembangan ekowisata yang memprioritaskan keunggulan dan kepedulian terhadap alam.

4.1.6 Kondisi Sosial Ekonomi

Kondisi sosial ekonomi masyarakat untuk melihat modal sosial menurut Krishna dan Shrader (1999), yaitu terdiri aspek kependudukan, aksesibilitas, perumahan,

36   

pendidikan, dan kesehatan. Aspek kependudukan dilihat dari lamanya masyarakat tinggal, banyaknya rumah dalam komunitas, pertumbuhan penduduk dalam 3 tahun terakhir, ketersediaan lapangan kerja, dan kesediaan masyarakat tetap tinggal pasca tambang. Aspek aksesibilitas dilihat dari rute dalam menjangkau komunitas lain dan ketersediaan serta mutu sarana komunikasi. Aspek perumahan dilihat dari ketersediaan dan kondisi rumah dalam komunitas. Aspek sosial dilihat dari taraf hidup dan jaminan keamanan. Aspek pendidikan dilihat dari kondisi saran pendidikan, tingkat pendidikan komunitas, dan anggota komunitas yang buta huruf. Aspek kesehatan dilihat dari sarana kesehatan yang dimiliki komunitas.

Masyarakat kedua dusun pada umumnya berdasarkan hasil survey sudah tinggal di dusun tersebut antara 10 sampai 20 tahun dan terdiri dari > 250 Kepala Keluarga (KK). Pertumbuhan penduduk dari tahun 2006 sampai tahun 2009 Dusun Kabo Jaya dan Dusun G III tidak ada data secara terperinci per dusun sehingga pertumbuhan penduduk Desa Swarga Bara proyeksi dari Dusun Kabo Jaya dan Desa Singa Gembara proyeksi dari Dusun G III dapat dilihat pada Tabel 4.5. Kondisi penduduk dalam 3 tahun terakhir dari kedua dusun semakin meningkat karena faktor penyediaan lapangan pekerjaan yang menjadi faktor utama. Sehingga kelahiran bukan merupakan penyebabkan pertambahan penduduk, tetapi faktor urbanisasi yang merupakan penyebab pertambahan penduduk dari kedua dusun tersebut.

Tabel 4.5 Pertumbuhan penduduk Desa Swarga Bara dan Desa Singa Gembara

No Tahun Desa Swarga Bara (Orang)

Desa Singa Gembara (Orang)

1 2006 9.444 7.305

2 2007 6.083 8.773

3 2009 9.444 16.959

Sumber: Bappeda Kabupaten Kutai Timur dan BPS Kabupaten Kutai Timur (2008), Desa Swarga Bara (2009), Desa Singa Gembara (2009)

Kesediaan tinggal pasca tambang berdasarkan hasil wawancara, di Dusun Kabo Jaya sebanyak 96 % dan Dusun G III sebnayak 93 % untuk bersedia tetap tinggal. Hal ini merupakan salah satu modal kesedian sumberdaya manusia dalam pengembangan ekowisata.

37   

Rute utama yang digunakan dalam menjangkau komunitas selama musim penghujan dan kemarau di kedua dusun melalui jalan aspal dengan kendaraan kebanyakan menggunakan mobil dan sepeda motor karena kondisi jalan di kedua dusun ini sudah beraspal begitu juga untuk dusun terdekat lainnya. Sarana komunikasi dan transportasi dapat dilihat pada Tabel 4.6, karena data yang tersedia per desa sehingga untuk Desa Swarga Bara proyeksi Dusun Kabo Jaya dan Desa Singa Gembara proyeksi Dusun G III.

Tabel 4.6 Sarana komunikas dan transportasi di Desa Swarga Bara dan Desa Singa Gembara

No Bidang Pembangunan Satuan Desa Swarga Bara Desa Singa Gembara A Sarana Komunikasi

1 Pesawat telepon Unit 2.078

2 Pesawat TV Unit 3.025

3 Antena parabola Unit 34

B Sarana Transportasi

1 Sepeda Unit 200 546

2 Sepeda motor Unit 800 1.875

3 Oplet/mikrolet Unit - 30

4 Mobil pribadi Unit 30 24

5 Taksi Unit 20

-6 Truk Unit 20 16

Sumber: Desa Swarga Bara (2009) dan Desa Singa Gembara (2009)

Menurut hasil penelitian Darwono (1995), PT. Pos Indonesia sudah hadir di Sangatta Baru (Swarga Bara) yang dapat diakses warga Dusun Kabo Jaya dan Dusun G III sejak tahun 1992 dengan pelayanan dalam 3 tahun terakhir berdasarkan hasil wawancara masyarakat kedua dusun meningkat dan untuk mutu pelayanan saat ini untuk Dusun Kabo Jaya menilai baik dan untuk Dusun G III menilai sangat baik. Kemudian pada pertengahan tahun 1995 PT. Telkom membangun sentral telepon otomat dengan kode area tersendiri di Sangatta. Sangatta yang semula terpencil, sekarang telah mempunyai akses yang cukup tinggi ke dunia luar melalui jasa PT. Pos Indonesia, jasa paket lainnya seperti TIKI dan JNE, PT. Telkom (telepon), dan internet melalui warnet maupun ponsel sudah dapat diakses masyarakat, hal ini didukung oleh hasil survei di kedua dusun setengah dari komunitas sudah mempergunakan akses internet.

Pelayanan sistem angkutan umum di kedua dusun tersedia setiap hari dengan kualitas jasa angkutan umum berdasarkan hasil wawancara masyarakat

38   

untuk Dusun Kabo Jaya meningkat dengan dipergunakan oleh kebanyakan komunitas dan Dusun G III tidak berubah dengan dipergunakan oleh setengah komunitas, hal ini dapat dilhat dalam Tabel 4.6 kondisi kepemilikan kendaraan pribadi lebih banyak di Dusun G III, sehingga masyarakat banyak menggunakan kendaraan pribadi.

Kondisi perumahan dari komunitas dilihat dari ketersediaan dan kondisi perumahan dalam komunitas (Tabel 4.7). Kondisi perumahan yang tidak layak dihuni, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Kutai Timur memberikan bantuan pembangunan rumah melalui Surat Keputusan Bupati Kutai Timur No. 188.4.45/634/HK/X/2009, tanggal 9 Oktober 2009 tentang Penetapan Penerima Bantuan Perbaikan Perumahan Penduduk Miskin dan Perbaikan Sarana dan Prasarana Umum Lingkungan Pedesaan (Swakelola) Tahun Anggaran 2009, adapun daftar nama-nama keluarga yang menerima bantuan perbaikan rumah dari Desa Swarga Bara dan Desa Singa Gembara dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Tabel 4.7 Kondisi pembangunan di Desa Singa Gembara No Kondisi Rumah Satuan Jumlah

1 Rumah permanen Unit 600

2 Rumah semi permanen Unit

-3 Rumah non permanen Unit

-Sumber: Desa Singa Gembara (2009)

Tabel 4.8 Penetapan penerimaan bantuan perbaikan perumahan penduduk miskin perbaikan sarana dan prasarana umum lingkungan pedesaan (swakelola) tahun anggaran 2009 di Dusun Kabo Jaya dan Dusun G III

No Dusun Nama Alamat

1 Dusun Kabo Jaya 1. Yulianto 2. Petrus Palungan 3. Wedelinus Bernandus Nong 4. Pareha 5. Tenri A. Rahman 6. Anggia Murni 7. Arpiah

1. Jl. Poros Kabo Jaya RT. 06 Gg. Bersama No. 5

2. J. Sawi RT. 4 No. 16 Kabo Jaya 3. Jl. Sawi RT. 4

4. Jl. Porodisa RT. 5 Kabo Jaya 5. Jl. Bayam No. 2 Kabo Jaya 6. Jl. Bayam No. 20 RT. 2 Kabo Jaya 7. Jl. Bayam No. 59 RT. 2 Kabo Jaya 2 Dusun G III 1. Hasniah

2. Fatimah Ali 3. Alfianto 4. Supiansyah 5. Ashari 6. Ani Nurhayati 7. Asfianor 1. RT. 10 2. RT. 15 3. RT. 7 4. RT. 3 5. RT. 3 6. RT. 3 7. Jl. Patimura Gg. Pasundan RT. 20 6/V Sumber: Lampiran SK. Bupati Kutai Timur No: 188.4.45/634/HK/X/2009

39   

Berdasarkan Tabel 4.7 dan wawancara dengan masyarakat ketersediaan rumah di kedua dusun cukup dan dengan berdasarkan Tabel 4.8 serta wawancara masyarakat kondisi rumah 3 tahun terakhir di Dusun Kabo Jaya meningkat dan di Dusun G III tidak ada perubahan.

Kondisi sosial melihat dari aspek mata pencaharian karena tidak tersedia secara terperinci data mata pencaharian per dusun sehingga menggunakan data per desa (Tabel 4.9) dan keselamatan serta jaminan keamanan (Tabel 4.10 dan Tabel 4.11). Kehadiran PT. KPC untuk melakukan operasi penambangan batu bara di Sangatta banyak membuka jenis lapangan pekerjaan. Aktivitas operasi PT. KPC telah menciptakan lapangan kerja, baik secara langsung untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan maupun secara tidak langsung dalam memenuhi kebutuhan lain bagi kehidupan karyawan beserta keluarganya. Dengan kata lain PT. KPC ikut serta membuka lapangan kerja dalam dimensi yang lebih luas tidak hanya sekedar bekerja secara langsung di perusahaan itu. Masyarakat setempat memperoleh kesempatan mengisi lapangan-lapangan kerja akibat keberadaan PT. KPC.

Tabel 4.9 Mata pencaharian masyarakat di Desa Swarga Bara dan Desa Singa Gembara

No Mata Pencaharian Desa Swarga Bara (Orang) Desa Singa Gembara (Orang) 1 Pegawai Negeri Sipil

(PNS) 72 234 2 ABRI - 15 3 Swasta 2.552 3.028 4 Wiraswasta/Pedagang 65 947 5 Tani 150 628 6 Pertukangan 20 435 7 Buruh Tani 11 76 8 Pensiunan 40 5 9 Nelayan 10 -10 Pemulung 5 -11 Jasa - 32 Jumlah 2.925 5.400

Sumber: Desa Swarga Bara (2009) dan Desa Singa Gembara (2009)

Kondisi keamanan di Dusun Kabo Jaya maupun di Dusun G III sudah dikatakan sangat aman. Di Dusun Kabo Jaya karena sudah aman sistem Siskamling dan ronda malam bagi masyaralat sudah tidak diperlukan lagi. Sedangkan di G III walaupun kondisi lingkungan aman namun warga tetap

40   

mempergunakan Siskamling dan ronda malam, namun kebanyakan ronda malam dibayarkan kepada orang yang bersedia melakukan ronda malam. Hal ini karena pada umumnya warga di Dusun G III adalah karyawan perusahaan sehingga waktunya banyak dihabiskan untuk bekerja.

Kondisi sarana dan prasarana keamanan, kentraman dan ketertiban (Tabel 4.10), dan kemampuan Lembaga Perlindungan Masyarakat (Linmas) dalam melindungi masyarakat (rasio penduduk per Polisi) (Tabel 4.11).

Tabel 4.10 Kondisi keamanan Desa Singa Gembara

No Uraian Satuan Jumlah

1 Jumlah Hansip terlatih Orang 5

2 Alat pemandam kebakaran Unit

-3

Ketentraman dan Ketertiban

a. Kejadian criminal Kali

-b. Bencana alam Kali

-c. Operasi penertiban Kali

-d. Penyuluhan Kali

-e. Pos Kamling Unit 24

f. BALAKAR Kali

-g. Kenakalan remaja Kali

-h. Peronda kampung Kelompok 44

i. Satpam Orang

-j. Posko bencana Unit

-k. Posko hutan lindung Unit

-4

Pembinaan dan Pengawasan Bekas NAPI/TAPOL G. 30 S/PKI

a. NAPI Orang 2

b. G. 30 S/PKI Orang

-Sumber: Desa Singa Gembara (2009)

Tabel 4.11 Kemampuan kelembagaan di Kabupaten Kutai Timur

No Tahun Jumlah Petugas Linmas (Orang) Jumlah Penduduk (Orang) Jumlah Polisi Rasio Penduduk per Linmas Rasio Penduduk per Polisi 1 2000 401 146.510 365 2 2001 431 157.163 365 3 2002 456 161.946 355 4 2003 1.387 165.461 119 5 2004 1.609 168.529 105 6 2005 1.700 175.106 103 7 2006 1.743 203.156 117 8 2007 2.000 208.662 104 9 2008 1.877 213.762 383 114 544

41   

Berdasarkan hasil wawancara masyarakat, mutu taraf hidup (ketersediaan pekerjaan, keselamatan, dan jaminan keamanan) untuk Dusun Kabo Jaya meningkat dan untuk Dusun G III tidak berubah dengan taraf hidup di kedua dusun termasuk dalam rata-rata, adanya jaminan keamanan (Tabel 4.10 dan Tabel 4.11) dan jasa kemanan disediakan oleh warga sendiri karena sudah dianggap aman dengan mutu pelayanan keamanan dalam 3 (tiga) tahun terakhir menurut Dusun Kabo Jaya meningkat sedangkan Dusun G III tidak berubah.

Tingkat pendidikan masyarakat Dusun Kabo Jaya dan Dusun G III karena data yang tersedia per desa sehingga untuk Desa Swarga Bara proyeksi dari Dusun Kabo Jaya dan Desa Singa Gembara proyeksi dari Dusun G III. Dilihat dari aspek kondisi sarana pendidikan, tingkat pendidikan masyarakat (Tabel 4.12), ketersediaan sarana pendidikan (Tabel 4.13), ketersediaan guru, dan kondisi masyarakat yang buta huruf.

Tabel 4.12 Tingkat pendidikan masyarakat Desa Swarga Bara dan Desa Singa Gembara

No Tingkat Pendidikan Desa Swarga Bara Desa Singa Gembara I Pendididan Umum 1 Taman Kanak-kanak (TK) 250 894 2 Sekolah Dasar (SD) 1.300 2.040 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2.280 4.011

4 Sekolah Menengah Atas

(SMA) 3.150 3.036 5 Akademi/D1 – D3 240 345 6 Sarjana (S1 – S3) 416 234 II Pendidikan Khusus 1 Pondok Pesantren 25 115 2 Madrasah 24 84 3 Pendidikan Keagamaan 10 35

4 Sekolah Luar Biasa 3 10

5 Kursus/Keterampilan 466 1.644

6 Belum Sekolah 1.280 4.511

Jumlah 9.444 16.959

42   

Tabel 4.13 Sarana pendidikan di Desa Swarga Bara dan Desa Singa Gembara No Sarana Pendidikan Satuan Desa Swarga Bara Desa Singa Gembara

I Pendidikan Umum 1 Kelompok Bermain 1) Gedung Unit 2 2) Guru Orang 3) Murid Orang -2 Taman Kanak-kanak (TK) 1) Gedung Unit 3 2) Guru Orang 3) Murid Orang -3 Sekolah Dasar (SD) 1) Gedung Unit 5 1 2) Guru Orang 15 3) Murid Orang 675

4 Sekolah Menengah Pertama (SMP)

1) Gedung Unit 1 1

2) Guru Orang 20

3) Murid Orang 9.076

5 Sekolah Menengah Atas (SMA)

1) Gedung Unit 2) Guru Orang 3) Murid Orang -6 Akademi 1) Gedung Unit 2) Mahasiswa Orang 3) Dosen Orang -7 Institut/Sekolah Tinggi/Universitas 1) Gedung Unit 1 2) Mahasiswa Orang 3) Dosen Orang II Sekolah Khusus

1 Pondok Pesantren Unit 2

2 Balai Latihan Kerja (BLK) Unit 1

3 Kursus Unit

-Sumber: Desa Swarga Bara (2009) dan Desa Singa Gembara (2009)

Kondisi sarana pendidikan di kedua dusun dari hasil observasi lapang dan didukung hasil wawancara masyarakat serta data sekunder dalam kondisi baik. Tingkat pendidikan masyarakat di kedua dusun kebanyakan tingkat SMU (Tabel 2.5 dan Tabel 2.7). Ketersediaan pendidikan dasar umum (wajib belajar 9 tahun/tingkat SLTP) di kedua dusun tersedia (Tabel 4.13). Jumlah komunitas yang buta huruf di kedua dusun berdasarkan hasil wawancara masyarakat sangat sedikit.

Minat belajar masyarakat di kedua dusun ini sangat tinggi. Para orang tua yang belum menyelesaikan pendidikan wajibnya mereka mengikuti Paket B untuk

43   

SMP kemudian lanjut Paket C untuk tingkat SMA. Minat masyarakat untuk sekolah cukup tinggi dengan banyaknya masyarakat yang sudah tua mengikuti Paket B dan Paket C.

Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembangunan masyarakat. Pendidikan yang lebih tinggi akan memperluas pengetahuan masyarakat dan mempertinggi rasionalitas pemikiran mereka. Masyarakat mampu mengambil keputusan yang lebih tepat. Selain itu dengan pengetahuan yang lebih baik dapat menjadi bekal untuk mengadakan berbagai pembaharuan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, salah satunya dalam pengembangan ekowisata. Dengan demikian tingkat pendidikan yang lebih tinggi sebagai modal masyarakat akan dapat menjamin perbaikan yang berkelanjutan.

Kondisi kesehatan masyarakat dilihat dari aspek ketersediaan fasilitas kesehatan yang ada di dalam komunitas (Tabel 4.14).

Tabel 4.14 Fasilitas kesehatan di Dusun Kabo Jaya dan Dusun G III No Fasilitas Kesehatan Satuan Desa Swarga Bara Desa Singa

Gembara 1 Rumah Sakit Umum

Pemerintah

Unit -

-2 Rumah Sakit Umum Swasta

Unit -

-3 Puskesmas Pembantu Unit 1 1

4 Rumah Bersalin Unit 1

-5 Posyandu Unit 1 1

6 Apotek Unit -

-7 Dokter Umum Orang 1 1

8 Dokter Gigi Orang -

-Sumber: Desa Swarga Bara (2009) dan Desa Singa Gembara (2009)

Berdasarkan hasil wawancara masyarakat dan survei lapangan mengenai ketersediaan sarana kesehatan di kedua dusun (Tabel 4.14) dinilai cukup memenuhi pelayanan kesehatan masyarakat. Dengan modal kesehatan yang baik, maka masyarakat akan dapat berkarya dengan baik pula. Produktivitas individu warga sangat bergantung kepada kondisi kesehatannya. Suatu masyarakat yang mempunyai taraf kesehatan tinggi dengan disertai oleh pengetahuan dan keterampilan serta motivasi yang tinggi akan memiliki produktivitas yang tinggi, yang sangat diperlukan dalam pembangunan. Seperti dalam mengeksploitasi

Dokumen terkait