• Tidak ada hasil yang ditemukan

 

VI. KEBIJAKAN DAN DUKUNGAN PENGEMBANGAN EKOWISATA  

6.1 Kebijakan Pengembangan Ekowisata

Modal sosial adalah sebuah konsep yang menggambarkan suatu situasi sosial. Menurut Hasbullah (2006), modal sosial sebagai suatu konsep akan kehilangan makna pentingnya ketika konsep tersebut tidak atau kurang diterapkan ke dalam kebijakan-kebijakan. Arah kebijakan pengembangan ekowisata Dusun Kabo Jaya dan Dusun G III dapat dirumuskan berdasarkan kondisi modal sosial yang dimiliki masyarakat dengan melihat kebijakan pengembangan ekowisata yang sudah ada dari setiap stakeholder (TNK, PT. KPC, dan Pemerintah Daerah Kutai Timur).

6.1.1 Taman Nasional Kutai (TNK)

Pengembangan pariwisata alam di kawasan TNK secara yuridis diatur dalam UU No 5 Tahun 1990, PP No 36 Tahun 2010, dan PP No 68 Tahun 1998 menyebutkan bahwa pengembangan pariwisata alam di kawasan taman nasional diarahkan pada tercapainya pelestarian Sumbedaya Alam Hayati dan Ekosistem serta mendukung upaya peningkatan kesejahteraan dan mutu kehidupan masyarakat. Berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990, TNK merupakan kawasan lindung dan termasuk ke dalam kawasan suaka alam dan cagar budaya yang mempunyai fungsi uatama sebagai kawasan pelestarian alam. Sehingga pengembangan ekowisata dilakukan dengan pelibatan masyarakat sekitar, seperti pelibatan Kelompok Ekowisata Kabo Jaya dalam kegiatan ekowisata Prevab. Selain itu Undang-undang nomor 10 Tahun 2009 mengatur pengembangan pariwisata alam di TNK sebagai bagian integral dari pembangunan kepariwisataan daerah dan kepariwisataan nasional.

Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Nasional Kutai khusus untuk ekowisata dengan visi terwujudnya sumberdaya alam di TNK yang memberi manfaat untuk kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat. Adapun misinya yaitu mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa lingkungan secara berkelanjutan dan berkeadilan sosial

82   

6.1.2 PT. Kaltim Prima Coal (PT. KPC)

PT. KPC mendukung pengembangan kepariwisataan regional atau lokal di areal bekas atau sekitar tambang dengan mengacu pada regulasi di daerah serta persepsi dan preferensi masyarakat sebagai bentuk realisasi paradigma baru pengelolaan hutan untuk memperdayakan masyarakat. PT. KPC menurut Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam (2009), mempunyai desain restorasi ekosistem lahan bekas tambang yang disinkronisasikan dengan RENSTRA Daerah dengan mendesain zonasi wisata 10 % dari luas areal perusahaan dengan konsep wisata antara lain ekowisata, agrowisata, wisata buru, areal wisata buatan, taman rekresi, dan danau buatan. Kebijakan lainnya adalah menetapkan pengembangan Ekowisata Kabo Jaya sebagai prioritas utama selama masa operasi pertambangan untuk pengalihan wisata menuju Pantai Tanjung Bara dengan pertimbangan keselamatan pengunjung.

6.1.3 Pemerintah Daerah Kutai Timur

Kebijakan pengembangan ekowisata Kabupaten Kutai Timur yang tertuang dalam Masterplan Pengembangan Pariwisata Kabupaten Kutai Timur 2009 (Bappeda Kabupaten Kutai Timur 2009), diprioritaskan pada pengembangan zona wisata Sangata dengan produk yang akan dikembangkan berupa wisata perkotaan, wisata pantai, dan ekowisata ditempatkan pada prioritas pertama dalam pengembangan. Faktor yang dipertimbangkan dalam tahapan pengembangan kewilayahan ini adalah kemudahan pengembangan infrastruktur yang signifikan dengan sistem perkotaan yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kutai Timur. Penetapan Kawasan Sangata sebagai tahap pertama pengembangan adalah berdasarkan pertimbangan perlunya pusat fasilitas dan informasi yang akan berperan sebagai gerbang atau pintu masuk bagi pengembangan pariwisata di Kutai Timur.

Kebijakan dalam pengembangan ekowisata Prevab adalah membantu TNK dalam kegiatan promosi. Namun Pemerintah Daerah Kutai Timur belum memiliki kebijakan secara khusus untuk pengembangan ekowisata Dusun Kabo Jaya, Pantai Tanjung Bara, dan Hutan Mangrove Tanjung Bara.

83   

6.2 Dukungan Pengembangan Ekowisata 6.2.1 Pemerintah Desa/Kepala Desa

Menurut Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes), Dusun Kabo Jaya sebagai lokasi uji coba pengembangan wisata bertanggung jawab berbasis masyarakat. Berdasarkan komposisi penduduk beranekaragam suku yang menjadi potensi wisata budaya (PILI et al. 2010).

Kepala Desa Desa Swarga Bara sangat mendukung pengembangan ekowisata di Dusun Kabo Jaya. Kepala Desa Swarga Bara sebagai pelindung Ekowisata Kabo Jaya dan ikut aktif terlibat langsung dalam setiap kegiatan, seperti mengikuti pelatihan dan studi banding pengembangan ekowisata yang diadakan oleh PILI, dan BIKAL. Selain itu, kepala desa memberikan kebijakan untuk sementara waktu perpustakaan desa dijadikan pusat informasi Ekowisata Kabo Jaya.

Kepala Desa Singa Gembara pada saat ini belum mempunyai kebijakan dalam pengembangan ekowisata di Dusun G III karena kegiatan ekowisata di sekitar Dusun G III berupa ekowisata Pantai Tanjung Bara dan Hutan Mangrove Tanjung Bara masih dikelola oleh PT. KPC sehingga pemerintah desa tidak terlibat dalam kegiatan ekoiwsata tersebut. Namun memasuki pasca tambang dan objek Pantai Tanjung Bara dan Hutan Mangrove Tanjung Bara diserahkan kepada Pemerintah Daerah Kutai Timur, Kepala Desa Singa Gembara mendukung pengembangan ekowisata Pantai dan Hutan Mangrove Tanjung Bara dengan pelibatan masyarakat Dusun G III sebagai masyarakat terdekat ke objek tersebut.

6.2.2 Tokoh Adat/Tokoh Masyarakat

Tokoh adat atau tokoh masyarakat di Dusun Kabo Jaya sangat mendukung pengembangan ekowisata yang sekarang sedang dirintis dalam kegiatan Ekowisata Kabo Jaya, terutama ekowisata yang mengarah terhadap pengenalan budaya masing-masing suku. Sehingga masyarakat dapat memperkenalkan dan melestarikan budaya masing-masing sukunya di daerah perantauan.

84   

Tokoh adat atau tokoh masyarakat di Dusun G III pada dasarnya mendukung pengembangan ekowisata dengan tujuan untuk kesejahteraan masyarakat dan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Namun saat ini kegiatan ekowisata di Dusun G III yang dikelola masyarakat belum ada karena masih dikelola langsung oleh PT. KPC dengan pertimbangan keselamatan pengunjung dan lokasi objek ekowisata berada dalam daerah objek vital nasional.

6.2.3 Masyarakat

Masyarakat Dusun Kabo Jaya mendukung pengembangan ekowisata. Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil wawancara, bahwa 92 % masyarakat bersedia tetap tinggal di dusun pasca tambang PT. KPC dan 56 % masyarakat bersedia terlibat dalam pengembangan ekowisata.

Masyarakat Dusun G III pada saat sekarang masih kurang mendukung pengembangan ekowisata. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat 86 % masyarakat bersedia tetap tinggal di dusun pasca tambang PT. KPC dan 33 % masyarakat bersedia terlibat dalam pengembangan ekowisata. Kesediaan masyarakat terlibat dalam pengembangan ekowisata rendah karena hal ini pada umumnya masyarakat di Dusun G III bekerja sebagai karyawan PT. KPC dan perusahaan kontraktor PT. KPC serta kegiatan ekowisata yang ada di Pantai Tanjung Bara dan Hutan Mangrove Tanjung Bara masih dikelola oleh PT. KPC.

6.2.4 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang sudah terlibat dalam pengembangan ekowisata di Dusun Kabo Jaya, yaitu CIFOR, Mitra Kutai, PILI, dan BIKAL. CIFOR yang pertama kali mengidentifikasi potensi objek ekowisata terutama untuk di kawasan TNK (Prevab) dan untuk pendampingan masyarakat dalam pengembangan ekowisata dilakukan oleh PILI dan BIKAL dengan dukungan dana dari PT. KPC dan Mitra Kutai. Berdasarkan potensi ekowisata yang dimiliki, dibagi dalam 4 kelompok minat (Pokmin), yaitu wisata alam,

85   

wisata agro, wisata seni dan budaya, serta wisata kuliner. Sedangkan di Dusun G III belum ada LSM yang terlibat dalam pengembangan ekowisata.

6.3 Arah Kebijakan Pengembangan Ekowisata 6.3.1 Dusun Kabo Jaya

Kondisi modal sosial untuk pengembangan ekowisata di Dusun Kabo Jaya tinggi dengan unsur modal sosial yang paling kuat kontribusi pengaruhnya terhadap modal sosial adalah unsur norma sosial dan didukung dengan kebijakan pengembangan ekowisata dari TNK dan PT. KPC dengan pelibatan masyarakat Dusun Kabo Jaya yaitu pengembangan ekowisata ke arah budaya yang lebih dimunculkan.

6.3.2 Dusun G III

Kondisi modal sosial untuk pengembangan ekowisata di Dusun G III cukup dengan unsur modal sosial yang paling kuat kontribusi pengaruhnya terhadap modal sosial adalah unsur kepedulian terhadap sesama dan lingkungan serta didukung dengan kebijakan pengembangan ekowisata dari PT. KPC dan Pemerintah Daerah Kutai Timur dalam pengembangan ekowisata Pantai Tanjung Bara dan Hutan Mangrove Tanjung Bara sebagai potensi sumberdaya ekowisata di Desa Singa Gembara dan pemukiman terdekat dengan objek adalah Dusun G III, yaitu melalui pengembangan ekowisata yang memprioritaskan keunggulan dan kepedulian terhadap alam.

86                           

87   

Dokumen terkait