• Tidak ada hasil yang ditemukan

nduduk   De esa

Jumlah 3 948 3 644 7 592 2 101 Sumber : Data Monografi Desa Malasari, 2008

B. Pengolahan Menggunakan Tong

5.3. Jenis dan Jumlah Bahan Berbahaya yang Digunakan

alat-alat pengolah bijih emas. Berdasarkan hasil penelitian aya tidak habis sebesar Rp 150.000-Rp 1.450.000 dengan rata-rata Rp 4.505.915,-. Untuk Desa Malasari sebanyak 40 orang responden mengeluarkan biaya tidak habis sebesar

Rp 1.315.000-Rp 8.724.818, dengan rata-rata pengeluaran sebesar Rp.7.483.915. aitu Desa Bantarkaret berdasarkan penelitian sebanyak 6 orang responden m

dengan rata-rata Rp 4.196.033,-.

kimia yang digunakan oleh para penambang liar tersebut adalah Merkuri (Hg), 3

Untuk bahan berbahaya yang pertama adalah merkuri, merkuri merupakan

pada gangguan syaraf sensorik adalah , kepekaan menurun dan sulit pit, daya pendengaran pengeluaran untuk

untuk Desa Cisarua sebanyak 18 orang responden mengeluarkan bi

dan Desa terakhir y

engeluarkan biaya tidak habis sebesar Rp 1.150.000-Rp 2.943.038,

5.3. Jenis dan Jumlah Bahan Berbahaya yang Digunakan

Dalam melakukan pengolahan bijih emas yang telah diperoleh dengan menambang secara liar, para responden melakukan proses pengolahan bijih emas dengan menggunakan bahan-bahan kimia yang berbahaya. Adapun bahan-bahan

Sianida (CN), Pijer (Borax), Soda api (costic), dan Air keras (HNO ). Adapun penjelasan mengenai jenis dan jumlah bahan berbahaya tersebut diatas berdasarkan hasil penelitian akan dijabarkan di bawah ini.

5.3.1. Merkuri

air raksa (Hg) dan merupakan unsur penting bagi teknologi di zaman modern ini, baik industri kimia, elektronik, maupun kosmetik. Merkuri atau air raksa memiliki nomor atom (NA) 80, dan berat molekul (MR) 200,59. Keracunan merkuri dapat mempengaruhi kerusakan syaraf pusat organ, dan gejala-gejala yang akan timbul

Paraesthesia menggunakan jari tangan dan kaki, penglihatan menyem

166   

menuru

Jumlah Penggunaan Merkuri per minggu % Jumlah

n, dan rasa nyeri pada lengan dan paha. Gejala gangguan pada syaraf motorik adalah lemah, sulit berdiri, mudah jatuh, ataksia, tremor, gerakan lambat, dan sulit bicara. Gejala gangguan lainnya adalah gangguan mental, sakit kepala, tremor pada otot merupakan gejala awal dari toksisitas merkuri. Jumlah merkuri yang digunakan oleh responden di tiga desa yang menjadi lokasi penelitian akan dijelaskan dibawah ini.

Tabel 141. Jumlah Penggunaan Merkuri di Desa Cisarua

63-196 gram 25,76 17 197-330 gram 39,39 26 465-598 gram 16,67 11 867-1000 gram 12,12 8 331-464 gram 3,03 2 599-732 gram 3,03 2 Total 100 66

Sumber: Data primer

as adalah merkuri, adapun penggunaan merkuri oleh ponden m an merkuri antara 3-800 gram per minggunya. Namun ter utlayer atau pencilan data penggunaan inggunya yaitu ada responden yang menggunakan merkuri hanya 3 ni dikarenakan jumlah glundung yang sedikit dan iolah. Jika mengolah lumpur, hasil emasnya sedikit dengan kadar r

Berdasarkan hasil penelitian bahan berbahaya yang diguankan untuk melakukan pengolahan em

responden sebesar 39,39 persen atau sebanyak 26 res enggunak dapat o

merkuri per m ,3-37,5 gram, i hasil emas yang d

endah sehingga merkuri tidak terlalu banyak terpakai. Pencilan berikutnya adalah penggunaan merkuri sebanyak 1500-6000 gram per minggunya, ini disebabkan karena jumlah glundung yang banyak dan hasil emas yang diolah pun banyak, dan kebanyakan pengolahan dilakukan menggunakan tong yang hasil emasnya bisa mencapai satuan kilogram walaupun kadarnya rendah, hal ini penyebab banyaknya merkuri yang digunakan untuk mengikat emasnya.

167   

pemilik glundu

Jumlah Penggunaan Merkuri per minggu % Jumlah

Berdasarkan hasil konversi dengan Desa Malasari, diperoleh jumlah pemilik glundung berdasarkan jumlah penduduk untuk Desa Cisarua adalah 106 orang dengan rata-rata jumlah glundung yang dimiliki berdasarkan hasil penelitian adalah 10 buah glundung per orangnya, dan jumlah penggunaan merkuri rata-rata 359,98 gram per orang per minggunya. Sehingga total jumlah penggunaan merkuri per minggunya untuk keseluruhan Desa Cisarua adalah sebanyak 38.157,88 gram per minggunya. Karena jumlah glundungan dan jumlah

ng tidak diketahui secara pasti karena data yang tidak tersedia, maka hasil perhitungan konversi tersebut diatas bisa lebih besar atau lebih kecil dari nilai yang seharusnya. Dengan jumlah penduduk Desa Cisarua adalah 8.469 jiwa dan luas wilayah 1411 Ha atau 14,11 Km2 sehingga kepadatan penduduk Desa Cisarua adalah 600 jiwa per 1 Km2.

Tabel 142. Jumlah Penggunaan Merkuri di Desa Malasari

100-201 gram 43,90 18

202-302 gram 17,07 7

404-504 gram 34,15 14

303-403 gram 4,88 2

Total 100 41

Sumber: Data primer

rsen responden menggunakan merkuri sebanyak 404-sponden akan merkuri sebanyak 202-302 gram merkuri per minggunya, dan sebesar 4,88 persen responden mengg i sebesar 303-403 g erkuri per m gunya, aan merkuri dari 41 orang responden sebanyak 12.225 gram merkuri per minggunya dengan rata-rata penggunaan 298, 17 gram merkuri per Berdasarkan hasil peenelitian sebesar 43,90 persen dari 41 orang responden menggunakan merkuri sebanyak 100-201 gram merkuri per minggunya, sebesar 34,15 pe

504 gram merkuri per minggunya, sebesar 17,07 persen re menggun

unakan merkur ram m ing jadi total penggun

168   

orang

Tabel 1

Penggunaan Merkuri per Minggu % Jumlah

per minggunya. Namun terdapat 6 orang responden yang menggunakan merkuri sebanyak 1.000-7.000 gram per minggunya dengan total penggunaan merkuri sebanyak 17.500 gram merkuri, hal ini dikarenakan jumlah glundungan yang cukup banyak atau pengolahan yang dilakukan menggunakan tong dan banyaknya emas yang dihasilkan, sehingga jumlah penggunaan merkuri pun cukup banyak. Dan sebanyak 6 orang sisanya menggunakan merkuri sebanyak 25-75 gram per minggunya dengan total penggunaan merkuri sebanyak 315 gram per minggunya. Sehingga total penggunaan merkuri dari keseluruhan responden adalah 30.040 gram per minggunya.

Untuk Desa malasari terdapat 95 orang pemilik glundungan, berdasarkan hasil penelitian sebanyak 65 orang responden memiliki glundung dengan rata-rata 11 glundung per orang dengan rata-rata penggunaan merkuri 298,17 gram per minggunya, jadi jika disesuaikan dengan data hasil penelitian maka jumlah penggunaan merkuri untuk satu Desa Malasari adalah sebanyak 28.346,15 gram per minggunya. Dengan Luas wilayah pemukiman 17,922 Km2 dan jumlah jiwa sebesar 7.623 jiwa, maka kepadatan penduduk untuk Desa Malasari adalah 425 jiwa per 1 Km2.

43. Jumlah Penggunaan Merkuri di Desa Bantarkaret

100-280 gram 70,59 12 281-461 gram 5,88 1 643-823 gram 5,88 1 Total 100 17 462-642 gram 11,76 2 824-1004 gram 5,88 1

Sumber: Data Primer

Berdasarkan hasil penelitian sebesar 70,59% atau 12 orang responden menggunakan 100-280 gram merkuri per minggunya, sebesar 11,76% responden

169   

g lainnya menggunakan 281-461 gram dan 643-1004 gram uh responden adalah 5750 gram me rata-rata penggunaan mer per orangnya sebanyak 338,235 gram per minggunya.

Berdasarkan hasil konversi dengan Desa Malasari, diperoleh jumlah berdasarkan jumlah penduduk untuk Desa Bantarkaret adalah 116 or

isa lebih besar atau lebih kecil dari ni

atau 2 orang responden menggunakan 462-642 gram merkuri per minggunya, dan sebanyak 3 oran

merkuri per minggunya. Dan total penggunaan merkuri selur

rkuri per minggunya, dengan kuri

pemilik glundung

ang dengan rata-rata jumlah glundung yang dimiliki berdasarkan hasil penelitian adalah 9 buah glundung per orangnya, dan jumlah penggunaan merkuri rata-rata 338,235 gram per orang per minggunya. Sehingga total jumlah penggunaan merkuri per minggunya untuk keseluruhan Desa Bantarkaret adalah sebanyak 39.235,26 gram per minggunya. Karena jumlah glundungan dan jumlah pemilik glundung tidak diketahui secara pasti karena data yang tidak tersedia, maka hasil perhitungan konversi tersebut diatas b

lai yang seharusnya. Dengan jumlah penduduk Desa Bantarkaret adalah 9.622 jiwa dan luas wilayah 841,04 Ha, sehingga kepadatan penduduk Desa Bantarkaret adalah 1.144 jiwa per 1 Km2.

Jadi jumlah penggunaan merkuri per minggunya untuk ketiga Desa berdasarkan hasil penelitian adalah sebanyak 105.739,29 gram atau 105,739 Kg per minggunya. Dengan jumlah minggu dalam 1 tahun adalah 52 minggu, maka jumlah penggunaan merkuri untuk kurun waktu satu tahun adalah sebanyak 5.498,428 Kg atau 5,5 ton per tahunnya. Jumlah penduduk ketiga Desa tersebut adalah sebanyak 25.389 jiwa dengan luas wilayah ketiga desa adalah 40,442 Km2, maka kepadatan penduduk untuk ketiga desa tersebut adalah 628 jiwa per 1 Km2.

170   

ru saja memulai produksi emasnya.

t. setelah paparan atau paling lambat 30 sampai 60 menit. Kebany

menginaktifkan beberapa enzim, tetapi y

Dengan tahun dimulainya penambangan liar ini berdasarkan hasil penelitian adalah sekitar tahun 1993 dimana Antam ba

5.3.2. Sianida

Sianida adalah senyawa kimia yang mengandung (C=N), yang terdiri dari tiga buah atom karbon yang berikatan dengan atom hidrogen. Secara spesifik, sianida adalah anion CN-. Senyawa ini ada dalam bentuk gas, liquid dan solid, setiap senyawa tersebut dapat melepaskan anion CN- yang sangat beracun. Sianida dapat terbentuk secara alami maupun dibuat oleh manusia dan memiliki sifat racun yang sangat kuat dan bekerja dengan cepat. Contohnya adalah HCN (hidrogen sianida) dan KCN (kalium sianida).

Paparan hidrogen sianida dapat menimbulkan iritasi pada mata dan kuli Muncul segera

akan kasus disebabkan kecelakaan pada saat bekerja sehingga cairan sianida kontak dengan kulit dan meninggalkan luka bakar. sianida sangat mudah masuk ke dalam saluran pencernaan. Tidak perlu melakukan atau merangsang korban untuk muntah, karena sianida sangat cepat berdifusi dengan jaringan dalam saluran pencernaan. Sianida juga dapat dengan mudah masuk ke dalam aliran darah.

Walaupun sianida dapat mengikat dan

ang mengakibatkan timbulnya kematian atau timbulnya histotoxic anoxia adalah karena sianida mengikat bagian aktif dari enzim sitokrom oksidase sehingga akan mengakibatkan terhentinya metabolisme sel secara aerobik. Sebagai akibatnya hanya dalam waktu beberapa menit akan mengganggu transmisi neuronal. Sianida memasuki udara, air, dan tanah baik dengan proses

171   

anya hujan atau salju mengurangi jumlah partikel sianida di dalam udara,

k 420.168 Kg atau 420,17 ton per tahunnya. alami maupun karena proses industri. Keberadaan sianida di udara jauh di bawah ambang batas yang dapat berbahaya. Sianida di udara berbentuk partikel kecil yang halus. Ad

namun tidak begitu dengan gas HCN. Waktu paruhnya untuh menghilang dari udara adalah 1-3 tahun Kebanyakan sianida di air permukaan akan membentuk HCN dan kemudian akan terevaporasi. Meskipun demikian, jumlahnya tetap tidak mencukupi untuk memberikan pengaruh negatif terhadap manusia. Beberapa dari sianida di air tersebut akan diuraikan menjadi bahan yang tidak berbahaya oleh mikroorganisme atau akan membentuk senyawa kompleks dengan berbagai logam, seperti besi. Seperti halnya di air permukaan, sianida yang berada di tanah juga dapat mengalami proses evaporasi dan penguraian oleh mikroorganisme. Adapun penggunaan sianida di tiga desa berdasarkan hasil penelitian adalah sebagai berikut.

Berdasarkan hasil penelitian sianida digunakan didalam pengolahan menggunakan tong yang berfungsi sebagai pembersih dan pemberat logam, dari total 93 orang responden penambang dan pengolah di Desa Cisarua hanya tujuh orang yang mengolah menggunakan tong, dan dari total tujuh orang tersebut digunakan sianida sebanyak 294,4 kg per tiga hari pengolahan dengan tong, dengan rata-rata penggunaan adalah 42 kg per orang per tiga harinya, dan menurut informasi yang didapat, jumlah penduduk yang memiliki tong di Desa Cisarua adalah sebanyak 82 orang. Sehingga penggunaan sianida dalam waktu satu tahun untuk Desa Cisarua adalah sebanya

Berdasarkan hasil penelitian di Desa Malasari terdapat dua orang responden yang menggunakan tong untuk mengolah lumpur, dan untuk kedua

172    sa Malasa ah 78.840 Kg atau 78

responden tersebut masing-masing responden menggunakan sianida sebanyak 3 dan 4 kg. Rata-rata penggunaan sianida untuk Desa Malasari adalah 3,5 Kg, jumlah pengguna tong di Desa Malasari berdasarkan konversi dengan jumlah pemilik tong di Desa Cisarua didapat bahwa jumlah pemilik tong di Desa Malsasri adalah 74 orang, dimana rata-rata penggunaan sianida berdasarkan hasil penelitian adalah 3,5 Kg, maka total jumlah penggunaan sianida selama 3 hari di Desa Malasari adalah 259 Kg. dan jumlah penggunaan sianida per tahun untuk De

ri adalah 31.512 Kg atau sebanyak 31,512 ton per tahunnya.

Berdasarkan hasil penelitian terdapat dua orang responden yang mengolah menggunakan tong, masing-masing menggunakan 4 kg untuk sebuah tong berkapasitas 48 beban lumpur dan 32 kg sianida untuk 4 tong berkapasitas masing-masing 80 beban lumpur, sehingga rata-rata penggunaan sianida berdasarkan hasil penelitian adalah 7,2 Kg per seorang responden selama tiga hari. Berdasarkan hasi konversi dengan jumlah tong di Desa Cisarua, maka total jumlah tong yang diperkirakan ada di Desa Bantarkaret adalah sebanyak 90 buah, dengan total penggunaan sianida untuk 90 buah tong selama tiga hari adalah sebanyak 648 Kg, sehingga total penggunaan sianida selama satu tahun adal

,84 ton per tahunnya. Belum ditambah sianida yang digunakan oleh PT. Antam, Tbk untuk mengolah bijih emasnya. Jadi jumlah penggunaan sianida oleh penduduk di ketiga desa yaitu Desa Cisarua, Malasari, dan Bantarkaret berdasarkan hasil penelitian dan konversi untuk per tahunnya adalah 530,522 ton. 5.3.3. Pijer (Boraks)

Merupakan kristal lunak yang mengandung unsur boron, berwarna dan mudah larut dalam air. Boraks merupakan garan Natrium (Na2B4O710H2O) atau

173   

ak hanya diserap melalui pencernaan, namun juga melalui kulit. B

n, koma, bahkan kematian. Daya toksisitas pada anak kecil

pijer adalah sebanyak 756 Kg per tahun.

nama lainnya adalah Natrium Biborat, Natrium Piroborat, Natrium Tetraborat, yang banyak digunakan dalam berbagai industry non pangan seperti industri kertas, gelas, pengawet kayu dan keramik, gelas pyrex yang terkenal dibuat dengan campuran boraks.

Dampak dari mengkonsumsi boraks tidak dirasakan secara langsung karena sifatnya terakumulasi sedikit demi sedikit dalam organ hati, otak, testis, dan ginjal. Boraks tid

oraks yang terserap didalam tubuh dalam jumlah kecil akan dikeluarkan melalui air kemih dan tinja, serta dalam jumlah yang sangat kecil akan dikeluarkan melalui keringat. Boraks yang dikonsumsi cukup tinggi akan mengakibatkan gejala pusing, muntah, mencret, kejang perut, kerusakan ginjal, hilang nafsu makan, anuria (tidak terbentuknya urin), menimbulkan depresi, apatis, tekanan darah turu

adalah sebanyak 5 gram boraks didalam tubuh anak kecil akan mengakibatkan kematian, sedangkan pada orang dewasa sebanyak 10-20 gram boraks akan mengakibatkan kematian.

Berdasarkan hasil penelitian di ketiga desa penggunaan boraks adalah untuk ngegebos emas yang menurut hasil wawancara boraks tersebut digunakan sebagai pembersih emas yang akan dijual kepada penadah. Menurut responden, seriap orang yang melakukan penggebosan badannya tidak pernah bisa gemuk. Hal ini merupakan salah satu gejala yang ditimbulkan dari boraks itu sendiri yaitu menghilangkan nafsu makan. Penggunaan pijer untuk ketiga desa berdasarkan data hasil wawancara yang tersedia dari 9 orang responden yang menggunakan

174   

erwarna putih yang dapat menyerap carbon

4 ton per tiga hari atau 284,7 ton per

gunakan air keras, sehingga tidak dapat dipastikan berapa jumlah ketiga desa tempat penelitian.

5.3.4. Soda Api (caustic)

Berbentuk padatan serbuk b

dioksida dari udara, dan bersifat korosif dengan air. Soda api ini berguna untuk menetralkan asam, untuk industri tekstil, dan metal treatment (pembersih logam). Dampak dari penggunaan soda api ini adalah jika terkena tangan akan menimbulkan gatal-gatal atau iritasi. Penggunaan soda api ini oleh para responden adalah dalam pengolahan lumpur menggunakan tong yang digunakan sebagai pembersih dan juga untuk menaikkan Ph, banyaknya disesuaikan dengan kapasitas tong, jumlah penggunaan soda api untuk ketiga desa berdasarkan hasil wawancara dan perhitungan adalah 2,3

tahunnya.

5.3.5. Air Keras (HNO3)

Merupakan asam anorganik yang berbentuk cairan dan tidak berwarna, memiliki aroma yang kuat, mudah larut dalam air, dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Air keras ini biasa digunakan dalam industri bahan peledak, industri logam, dan dapat menjadi skala kontrol dalam pengolahan air. Penggunaan air keras berdasarkan hasil penelitian adalah sebanyak 30 liter per bulan per orang, berdasarkan penelitian terdapat 7 orang responden yang menggunakan air keras di ketiga desa, sehingga total penggunaan air keras dari ketujuh orang tersebut adalah 210 liter per bulan. Data yang tersedia tidak ada untuk berapa orang total yang meng

175   

esar 38,47 persen atau ebanyak 39 orang responden menyatakan bahwa penyakit yang biasa diderita leh para penambang liar dan para pengolah, penyakit-penyakit tersebut adalah ginan, keram, tangan menjad

den sendiri sebesar 64,42 persen atau 66 orang responden menyat