• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.2. Jenis dan Pendekatan Penelitian

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1.Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian di Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta. Starbucks Coffee merupakan suatu perusahaan yang bergerak dibidang Coffee Shop. Perusahaan Starbucks Coffee merupakan perusahaan yang bergerak dibidang kedai kopi global dan berasal dari Amerika Serikat. Di negara Indonesia sendiri Starbucks Coffee memiliki 326 gerai dan tersebar diseluruh wilayah Indonesia. (Sumber : Wikipedia, 2020).

3.2.Jenis dan Pendekatan penelitian

Penelitian ini masuk dalam jenis penelitian kuantitatif. Menurut Margono (2000), penelitian kuantitatif merupakan sebuah proses menemukan informasi dengan menggunakan data berupa angka yang digunakan sebagai alat dalam menentukan keterangan mengenai sesuatu yang ingin diketahui. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian berbasis fisafat Potivisme karena penelitian ini menggunakan data yang berasal dari populasi maupun sampel tertentu dan diambil secara random/acak, dengan menggunakan instrumen penelitian dan dianalisis secara kuantitatif dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan oleh peneliti (Sugiyono, 2009:14).

3.3.Populasi dan Sample 3.3.1. Populasi

Menurut Arikunto (2006:130) populasi merupakan keseluruhan dari subjek penelitian. Populasi merupakan jumlah seluruh populasi, yang mana hasil

33 pengukuran dan perhitungannya secara kualitatif maupun kuantitatif. Populasi juga dapat diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri oleh objek dan subjek dan memiliki karakter tertentu, objek dan subjek ini ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, sehingga peneliti dapat menarik kesimpulan dari data tersebut. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsumen Starbucks Coffee yang memenuhi persyaratan yaitu pernah berkunjung dan membeli produk Starbucks coffee Hartono Mall Yogyakarta.

3.3.2. Sampel

Menurut Sugiyono (2008:109) sampel merupakan bagian dari jumlah serta karakteristik dari populasi yang ada. Sampel sangat diperlukan bagi populasi yang berjumlah besar, karena sample ini akan mewakili populasi yang sangat banyak tersebut dan dugunakan sebagai bahan penelitian. Sampel pada penelitian ini sebanyak 50 responden dengan kriteria responden pernah berkunjung dan membeli produk Starbucks Coffee, terkhusus Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta.

Dalam sebuah penelitian terdapat dua teknik pengambilan sampel yaitu : teknik Probability Sampling dan Non-Probability sampling (Kuncoro, 2009). Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik non-Probability Sampling. Non-Probability Sampling adalah teknik pengambilan data, dimana data tersebut mungkin saja memiliki sampel yang tidak sama besar. Oleh karena itu elemen yang digunakan dalam penelitian ini memiliki sifat yang tidak menentu.

3.4.Sumber Data 3.4.1. Data Primer

Menurut Husein Umar (2013) data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber utama atau pertama, data tersebut dapat berasal dari individu maupun

34 perseorangan yang bisa didapatkan melalui beberapa cara yaitu wawancara dan penyebaran kuesioner oleh peneliti. Data Primer pada penelitian ini berasal dari dari hasil observasi yang dilakukan dengan cara membagikan kuesioner dengan konsumen Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta yang dapat memberikan informasi yang sesuai dan berhubungan dengan penulisan skripsi ini.

Data Primer sangat penting karena menjadi tambahan referensi informasi terkait dengan penelitian yang diambil oleh penulis, maka data tersebut dapat digunakan untuk memperkuat argumen penulis dalam menuangkan ide pokok pada hasil penelitiannya. Data primer juga lebih akurat dari pada data sekunder, karena data primer tidak dipengaruhi oleh bias pribadi dan dapat dipercaya kevalidannya.

3.4.2. Data Sekunder

Menurut Sugiyono (2012 : 141) Data Sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber sekunder, seperti media ataupun laporan - laporan serta jurnal - jurnal penelitian terdahulu yang terkait dengan penulisan skripsi ini. Data sekunder sangat penting karena menjadi tambahan referensi informasi terkait dengan penelitian yang diambil oleh penulis, maka data tersebut dapat digunakan untuk memperkuat agrumen penulis dalam menuangkan ide pokok pada hasil penelitiannya.

3.5.Metode Pengumpulan Data

Secara umum penelitian ini menggunakan Metode Survei dalam mengumpulkan data penelitian. Survei dilakukan untuk memperoleh data penelitian yang dibutuhkan. Survei dilakukan dengan mendatangi responden terpilih di lokasi penelitian. Survei dilakukan dengan bantuan angket atau kuesioner penelitian yang diberikan langsung kepada responden terpilih untuk diisi untuk mendapatkan data -

35 data yang dibutuhkan dengan lengkap. Pada penelitian ini penulis menyiapkan 50 lembar angket dengan jumlah pertanyaan sebanyak 38 butir.

3.6.Definisi Operasional Variabel 3.6.1. Variable Bebas (X)

Variable Bebas merupakan variabel yang menjadi pengaruh bagi variabel yang lainnya. Tujuannya agar peneliti dapat menentukan hubungan antara fenomenna yang sedang di observasi. Variabel X merupakan salah satu bagian yang penting dalam sebuah riset atau penelitian, agar penelitian tersebut dapat secara signifikan menghubungkan fenomena - fenomena yang ada. Menurut Sugiyono (2011), variabel bebas merupakan variabel memberi pengaruh dan membuat terciptanya variabel terikat. Pada penelitian ini menggunakan variabel bebas (X1) Brand Image dan (X2) Institusi Sertifikasi Halal.

3.6.2. Variabel Terikat (Y)

Variable Terikat merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas.

Tujuan dari penggunaan variabel ini adalah agar peneliti dapat menentukan merupakan hubungan antara fenomena yang sedang diobservasi. Variabel Y merupakan salah satu bagian yang penting dalam sebuah riset atau penelitian, agar penelitian tersebut dapat secara signifikan menghubungkan fenomena - fenomena yang ada. Menurut Nanang Martono (2015: 360), variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas dan diciptakan oleh variabel bebas tersebut.

36 Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Penelitian Definisi Indikator

Brand Image (X1) Keller (1993)

Brand Image didefinisikan

sebagai persepsi tentang

mereka yang direfleksikan

oleh kumpulan merek yang

tersimpan dalam ingatan

konsumen.

1. Rasa

2. Kualitas produk

3. Pengetahuan mengenai produk

4. Jumlah pengunjung

5. Tingkat familiar brand

6. Komentar publik terhadap brand

Institusi Sertifikasi Halal (X2)

Sertifikasi Halal

produk yang masuk dalam

kategori halal, merupakan

produk yang tidak memiliki kandungan bahan

seperti, babi, anggur, bahan

hewan yang tidak di

sembelih menurut prosedur

Islam, bangkai, darah, zat –

1. Aturan

agama/kepercayaan

2. Pengawasan produk yang beredar/jaminan halal

3. Pengetahuan mengenai logo halal

37 zat organ manusia, kotoran,

dan bahan – bahan obat –

obatan berbahaya. MUI

(2009)

Keputusan Pembelian (Y) Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian

adalah salah satu kegiatan

yang akan dilakukan oleh

setiap orang yang

dilakukan setiap saat untuk

membeli sesuatu sesuai

dengan pilihan dan

kebutuhannya. Rafiz,

Arifin dan Hidayat (2016)

1. Kebutuhan

2. Keinginan

3. Informasi produk yang ingin dibeli

4. Nilai produk

5. Kehendak konsumen

6. Penilaian terakhir

3.7.Metode Analisis Data

Dalam penelitian ini digunakan metode analisis data yamg disebut analisis regresi khususnya analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda merupakan metode analisis yang bertujuan untuk menganalisis besarnya hubungan dan pengaruh variabel independen yang jumlahnya lebih dari dua terhadap variabel dependenya

38 (Suharyadi dan Purwanto, 2004:508). Berikut ini model persamaan regresi linier berganda yang digunakan dalam penelitian.

Y = b0 + b1X1 + b2X2 + e Keterangan:

Y: variabel keputusan pembelian konsumen X1: variabel Brand Image

X2: variabel Institusi Sertifikasi Halal b0: bilangan konstanta

b1: nilai koefisien variabel X1 b2: nilai koefisien variabel X2 e: variabel error/residual

3.7.1. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data merupakan salah satu bagian terpenting dalam sebuah penelitian. Analisis data diperlukan untuk menyimpulkan hasil dari sebuah penelitian. Menurut Sugiyono (2018, hlm. 285) Teknik analisis data merupakan cara yang digunakan sebagai perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan pengujian hipotesis yang terdapat dalam penelitian. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis kuantitatif. Menurut sugiyono (2018, hlm. 147) teknik analisis data kuantitatif adalah sebuah kegiatan yang dilakukan setelah seluruh data responden terkumpul.

Kegiatan yang dilakukan dalam proses analisis kuantitatif adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, melakukan tabulasi data berdasarkan variabel yang digunakan untuk seluruh responden, menyajikan data tiap variabel, melakukan perhitungan dengan tujuan menjawab rumusan masalah,

39 serta melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian kuantitatif menggunakan analisis kuantitatif dengan ukuran – ukuran statitsik (Sanjaya, 2015, hlm. 296). Pada penelitian kuantitatif terdapat 2 macam model statistik, model statistic tersebut adalah statistik deskriptif dan statistik inferensial. Penelitian ini menggunakan model statistik deskriptif dengan tujuan menganalisis data melalui cara mendeskripsikan data tersebut tanpa memiliki maksud untuk membuat kesimpulan yang bersifat generalisasi (Sugiyono, 2018, hlm.

207).

3.7.2. Tahap penelitian

Tahap penelitian dalam penulisan skripsi ini, sebagai berikut: perencanaan penelitian, penentuan variabel yang akan digunakan, penentuan objek penelitian, penentuan teknik pengumpulan data, penentuan metode pengumpulan data, pelaksanaan pengumpulan data di lapangan, pengolahan data, dan penarikan kesimpulan dari data yang telah diolah.

3.8. Instrumen Penelitian 3.8.1. Uji Validitas

Menurut Anwar (2000) uji Validitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur yang digunakan dalam melakukan fungsinya. Uji Validitas adalah ukuran yang akan menunjukan ukuran tingkat kevalidan data atau instrumen yang digunakan. Tujuan dalam melakukan uji ini adalah untuk memperjelas ukuran tingkat kevalidan data atau instrumen yang digunakan, agar dapat membuktikan secara akurat mengenai kevalidan data dan instrumen yang digunakan. Syarat instrumen penelitian Valid adalah nilai Rtabel harus lebih besar dari pada Rhitung.

40 3.8.2. Uji Reliabilitas

Menurut Sugiono (2005) uji Reliabilitas merupakan tahapan dalam pengukuran yang memiliki konsistensi, apabila pengukuran dilakukan secara berulang dengan alat ukur tersebut. Pada penelitian ini uji reliabilitas dilakukan dengan teknik pronch Alpha, uji ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui intrument yang dilakukan dalam sebuah penelitian berkualitas dan dapat dipertanggung jawabkan. Syarat instrumen penelitian Reliabel adalah nilai Cronbach harus lebih besar dari pada nilai yang ditetapkan (Alpha).

3.9.Uji Prasarat Analisis 3.9.1. Uji Normalitas

Uji Normalitas adalah uji yang digunakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah sampel yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Hal ini sangat penting dalam sebuah penelitian agar peneliti lebih jelas dalam menetahui sampel yang diperoleh masuk dalam kategori distribusi normal atau tidak. Cara melakukan uji normalitas data dapat dilakukan dengan Non - parametrik statistik. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji statisttik Kolmogorov - Smirnov.

Uji statistik Kolmogorov - Smirnov dilakukan untuk menguji hipotesis komparatif dari dua sampel independen dalam bentuk data ordinal yang disusun dalan tabel distribusi frekuensi kumulatif dan menggunakan sistem interval kelas. Pada penelitian ini menggunakan uji statistik Kolmogorov - Smirnov dengan tingkat kepercayaan 5 % atau 0,05 dengan tujuan mengetahui data yang telah didapatkan berdistribusi dan berfrekuensi normal atau tidak, dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Jika nilai Signifikansi (asym.sig) > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa nilai residual berdistribusi normal.

41 2. Jika nilai Signifikansi (asym.sig) < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa nilai residual tidak berdistribusi normal.

3.9.2. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas memiliki arti bhawa varian variabel memiliki gangguan yang tidak konstan. Menurut (Ghozali, 2016;134), uji heteroskedastisitas biasanya dilakukan untuk menguji apakah model regresi yang dugunakan memiliki ketidaksamaan varian, yang berasal dari residual satu pengamatan kepada pengamatan lainnya. Pada penelitian ini menggunakan teknik uji Glejser, dalam uji Glejser jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka terdapat indikasi heteroskedastisitas. Sebaliknya jika variabel independen tidak signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, dengan demikian tidak terdapat indikasi heteroskedastisitas. Hal tersebut akan diamati melalui probabilitas signifikansi dengan tingkat kepercayaan 5 % (Ghozali 2016 ; 138 )

3.9.3. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui adanya korelasi antara variable bebas dalam model regresi. Model regresi dapat dikatakan baik jika tidak memiliki multikolineritas. Untuk menguji ada atau tidaknya multikolineritas dalam model regresi pada penelitian ini, maka dapat dilakukan dengan menganalisis nilai variance infaltion factor (VIF). Menurut Ghozali (2016) variabel yang memiliki masalah dalam multikolineritas, jika tolerance ≤ dari 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10. Maka dari itu agar dapat melihat terjadi atau tidaknya multikolinearitas pada penelitian ini, dapat digunakan 2 cara sebagai berikut:

Cara melihat nilai tolerance dan VIF

42 Nilai tolerance:

1. Tidak terjadi multikolinearitas apabila nilai tolerance lebih besar dari 0,1.

2. Tidak terjadi multikolineritas apabila nilai tolerance lebih kecil atau sama dengan 0,1.

Nilai VIF:

1. Tidak terjadi multikolinearitas apabila nilai VIF lebih kecil dari 10,0.

2. Tidak terjadi multikolinearitas apabila nilai VIF lebih besar atau sama dengan 10,0.

3.9.4. Uji Autokolerasi

Menurut (Ghozali 2016 ; 107) tujuan melakukan uji autokorelasi adalah untuk menguji apakah dalam model regresi liner yang digunakanm memiliki korelasi antara kesalahan pada periode t dengan periode t sebelumnya. Model regresi yang baik seharusnya tidak memilki autokorelasi. Pada penelitian ini akan menggunakan autokorelasi dengan uji Durbin - Watson, dengan syarat adanya intercept (konstanta) pada model regresi dan tidak memiliki varibel lag diantara variabel independen.

43 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Penjelasan Singkat Proses Penelitian

Pada bab ini akan memuat penjelasan singkat mengenai proses penelitian mulai dari pengujian instrumen penelitian, penyebaran kuesioner, dan analisis data penelitian. Pada penelitian ini proses penyebaran kuesioner dilakukan secara manual dengan cara memberikan secara langsung lembar kuesioner kepada responden. Kuesioner disebarkan kepada responden dengan kriteria, responden sudah pernah berkunjung dan membeli produk yang dijual oleh Starbucks Coffee Hartono Mall.

Kriteria responden penelitian akan diberikan pertanyaan verifikasi dalam kuesioner agar dapat memastikan responden tersebut sudah sesuai atau tidak dengan penelitian ini dan pertanyaan tesebut berisi “Sejak Kapan Anda Mulai Mengunjungi Starbucks Coffee dan Membeli Produknya”.

Demi menjawab pertanyaan tersebut responden akan diberikan pilihan jawaban dengan optional ganda seperti, SMP, SMA, memiliki pekerjaan tidak tetap, dan memiliki pekerjaan tetap. Jawaban tersebut akan dipilih dan dijawab oleh responden sesuai dengan pengalaman pribadi masing - masing responden. Metode pengisian kuesioner dibagi menjadi dua cara yaitu: Untuk bagian pertama responden diminta untuk mengisi poin pertanyaan mengenai indentitas konsumen dan perilaku konsumen dengan cara memberikan tanda (X) pada pertanyaan - pertanyaan optional ganda yang telah disediakan.

Pada bagian kedua responden diminta untuk menjawab pertanyaan/pernyataan mengenai variabel penelitian yang telah disediakan dalam sebuah tabel dengan pilihan jawaban sangat tidak setuju (STS), tidak setuju (TS), kurang setuju (KS), setuju (S), dan

44 sangat setuju (SS) dan pertanyaan/pernyataan tersebut dijawab dengan memberikan tanda (√) pada kolom tabel yang telah disediakan. Jawaban yang diberikan oleh responden adalah jawaban yang sesuai dengan perasaan dan pilihan responden itu sendiri.

Penyebaran kuesioner dilakukan pada 4 Juli 2021, kuesioner disebarkan kepada responden yang telah sesuai dengan kriteria penelitian dengan cara manual atau membagikan secara langsung lembar kuesioner kepada responden. Hasil dari kuesioner yang telah dijawab oleh konsumen akan diolah oleh peneliti dengan bantuan aplikasi IBM SPSS versi 22.

4.2. Gambaran Umum Responden Penelitian

Pada bagian gambaran umum responden penelitian ini akan berisi tentang hal - hal yang menjadi latar belakang responden. Hal - hal tersebut akan dibagi menjadi dua bagian, pada bagian pertama akan membahas mengenai usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan penghasilan. Pada bagian kedua akan membahas mengenai perilaku konsumen seperti, lama berkunjung, intensitas berkunjung, kunjungan pertama, informasi mengenai Starbucks Coffee Hartono Mall, produk yang dibeli, biaya yang dikeluarkan, lamanya berkunjung, kegiatan, dan kunjungan dilakukan sendiri, bersama teman, kerabat dekat, maupun keluarga.

4.2.1 Usia Responden

Karakteristik responden menurut usia yang telah didapatkan melalui penelitian ini dan akan disajikan pada tabel berikut:

45 Tabel 4.1 Usia Responden

No Usia Frekuensi Persentase

1 Kurang dari 17 Tahun 1 2 %

2 17 - 25 Tahun 26 52 %

3 25 - 30 Tahun 22 44 %

4 30 - 40 Tahun 1 2 %

5 Lebih 40 Tahun 0 0

Total 50 100 %

Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa jumlah persentase responden dengan usia <17 tahun sebesar 2 %, 17 - 25 tahun sebesar 52 %, 20 -30 tahun sebesar 44 %, 30 - 40 tahun sebesar 2 %, dan untuk usia 40 tahun sebesar 0. Usia responden yang dominan dalam penelitian ini adalah usia 17 - 25 tahun sebesar 52 % dan usia 20 - 30 tahun sebesar 44 %.

Jika kita membandingkan usia 17 - 25 tahun dengan 20 - 30 hanya memiliki perbedaan sebesar 8 %.

Oleh karena itu jika kita melihat data perolehan pada tabel dapat ditarik kesimpulan bahwa usia 17 - 25 tahun yang memiliki persentase terbesar, merupakan usia - usia yang cukup produktif atau transisi antar usia muda ke usia dewasa, dengan demikian usia tersebut menggambarkan para konsumen Starbucks Coffee adalah para anak muda maupun para pekerja yang berada di usia produktif.

46 4.2.2. Jenis Kelamin

Karakteristik responden yang telah diperoleh berdasarkan jenis kelamin yang disajikan pada tabel, sebagai berikut:

Tabel 4.2 Jenis Kelamin

N o

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

1 Laki - laki 35 70 %

2 Perempuan 15 30 %

Total 50 100 %

Berdasarkan hasil tabel jenis kelamin di atas responden yang paling banyak mengisi kuesioner ini berjenis kelamin laki - laki yang memiliki persentase sebesar 70 % dan 30 % bagi konsumen berjenis kelamin perempuan. Hal tersebut dapat menggambarkan bahwa responden berjenis kelamin laki - laki lebih tertarik dari pada responden perempuan untuk mengisi kuesioner ini, karena kuesioner penelitian ini disebar secara acak dengan kriteria responden pernah mengunjungi dan membeli produk Starbucks Coffee.

4.2.3. Jenis Pekerjaan

Karakteristik responden yang telah diperoleh berdasarkan Jenis Pekerjaan yang disajikan pada tabel, sebagai berikut:

47 Tabel 4.3 Jenis Pekerjaan

No Jenis Pekerjaan Frekuensi Persentase

1 Pegawai Negeri 0 0

2 Pegawai Swasta 32 64 %

3 TNI / POLRI 3 6 %

4 Wiraswasta 3 6 %

5 Mahasiswa/Pelajar 12 24 %

Total 50 100 %

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah responden yang bekerja sebagai pegawai negeri sebesar 0, pegawai swasta sebesar 64 %, TNI/POLRI sebesar 6 %, wiraswasta sebesar 6 % dan mahasiswa/pelajar sebesar 24 %. Dari hasil tersebut persentase terbesar berdasarkan jenis pekerjaan adalah responden yang bekerja sebagai pegawai swasta dan persentase tersebar kedua adalah mahasiswa/pelajar sebesar 24 %.

Hal tersebut dapat menggambarkan bahwa responden yang berkunjung ke Starbucks Coffee adalah para pegawai swasta yang memiliki fleksibilitas dalam hal tempat bekerja, sehingga responden tersebut dapat bekerja dimana saja termasuk coffee shop seperti Starbucks Coffee. Karena dari pengamatan peneliti sendiri pada saat berkunjung ke Starbucks Coffee, banyak konsumen yang mengunjungi Starbucks untuk bekerja.

4.2.4. Pendapatan

48 Karakteristik responden yang telah diperoleh berdasarkan pendapatan bulanan yang disajikan dalam tabel, sebagai berikut:

Tabel 4.4 Pendapatan

No Pendapatan Frekuensi Persentasi

1 < Rp 500.000 1 2 %

2 Rp 500.000 - 1.000.000 32 64 %

3 Rp 1.000.000 - 5.000.000 3 6 %

4 Rp 5.000.000 - 10.000.000 3 6 %

5 >Rp 10.000.000 11 22 %

Total 50 100 %

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa pendapatan konsumen kurang dari Rp 500.000 sebesar 2 %, Rp 500.000 - 1.000.000 sebesar 32 %, Rp 1.000.000 - 5.000.000 sebesar 6 %, Rp 5.000.000 - 10.000.000 sebesar 6 %, dan pedapatan lebih dari Rp 10.000.000 sebesar 22 %. Melihat hasil tersebut dapat digambarkan bahwa responden yang paling banyak mengunjungi Starbucks Coffee memiliki pendapatan sebesar Rp 500.000 - 1.000.000 dengan persentase sebanyak 64 %. Dapat disimpulkan bahwa konsumen yang mengunjungi atau membeli produk Starbucks Coffee bukan hanya dari kalangan elit saja, melainkan juga kalangan biasa seperti pegawai swasta/mahasiswa/pelajar.

4.2.5. Waktu Yang Dubutuhkan Untuk Pergi ke Starbucks Coffee

49 Karakteristik responden yang telah diperoleh menurut Waktu yang dibutuhkan untuk pergi ke Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta yang disajikan pada tabel, sebagai berikut:

Tabel 4.5 Waktu Yang Dibutuhkan Untuk Pergi ke Starbucks Coffee

No Waktu Frekuensi Persentase

1 < 10 Menit 10 20 %

2 10 - 15 Menit 15 30 %

3 15 - 30 Menit 25 50 %

4 30 - 60 Menit 0 0

5 > 1 jam 0 0

Total 50 100 %

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa responden membutuhkan waktu untuk pergi ke Starbucks Coffee, < 10 menit sebesar 20 %, 10 - 15 menit sebesar 30 %, 15 - 30 menit sebesar 50 %, 30 - 60 menit sebesar 0, dan > 1 jam sebesar 0. Jika melihat hal tersebut dapat digambarkan bahwa waktu yang dibutuhkan konsumen untuk pergi ke Starbucks Coffee paling besar adalah 15 - 30 menit, dengan persentase sebesar 50 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsumen yang berkunjung ke Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta adalah konsumen yang memiliki tempat tinggal tidak terlalu jauh dari lokasi Starbucks Coffee berada.

4.2.6. Intensitas Berkunjung

50 Karakteristik responden yang telah diperoleh menurut intensitas berkunjung dalam satu bulan yang disajikan pada tabel, sebagai berikut:

Tabel 4.6 Intensitas Berkunjung

No Intensitas Berkunjung Dalam Satu Bulan

Frekuensi Persentase

1 1 - 4 Kali 18 36 %

2 5 - 8 Kali 22 44 %

3 > 8 Kali 10 20 %

Total 50 100 %

Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa intensitas berkunjung responden dalam satu bulan ke Starbucks Coffee, 1- 4 kali sebesar 36 %, 5 - 8 kali sebesar 44 %, dan lebih dari 8 kali sebesar 20 %. Intensitas berkunjung paling besar adalah 5 - 8 kali dalam satu bulan dengan persentase sebesar 44 %. Maka dari itu dapat digambarkan bahwa responden pada penelitian ini memiliki intensitas berkunjung yang cukup sering dalam satu bulannya.

Kunjungan tersebut dapat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti brand image, label halal, pelayanan, cita rasa kekhasan dan masih banyak lagi.

4.2.7. Biaya Yang Dikeluarkan Oleh Responden Pada Saat di Starbucks Coffee.

Karakteristik responden yang telah diperoleh berdasarkan biaya yang dikeluarkan pada saat berkunjung ke Starbucks Coffee Hartono Mall Yogyakarta yang disajikan pada tabel, sebagai berikut:

51 Tabel 4.7 Biaya Yang Dikeluarkan Oleh Responden Pada Saat di Starbucks Coffee

No Pengeluaran Frekuensi Persentase

1 < Rp 100.000 16 32 %

2 Rp 100.000 - 200.000 22 44 %

3 Rp 200.000 - 300.000 12 24 %

4 Rp 300.000 - 500.000 0 0

5 > Rp 500.000 0 0

Total 50 100 %

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pengeluaran responden/konsumen selama berkunjung ke Starbucks Coffee adalah kurang dari Rp 100.000 sebesar 32 %, Rp 100.000 - 200.000 sebesar 44 %, Rp 200.000 - 300.000 sebesar 24 %, Rp 300.000 - 500.000 sebesar 0, dan lebih dari Rp 500.000 sebesar 0. Jika digambarkan bahwa responden atau konsumen yang berkunjung ke Starbucks Coffee lebih sering menghabiskan biaya sekitar Rp 100.000 - 200.000 dengan persentase sebesar 44 %. Melihat hal tersebut maka kita dapat menyimpulkan bahwa biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen ketika pergi ke Starbucks Coffee cukup besar.

4.2.8. Lama Berkunjung

Karakteristik responden yang telah diperoleh menurut lama berkunjung yang akan disajikan dalam tabel, sebagai berikut:

52 Tabel 4.8 Lama Berkunjung

No Lama Berkunjung Frekuensi Persentase

1 Kurang dari 15 Menit 10 20 %

2 Kurang dari 1 Jam 0 0

3 1 - 2 Jam 25 50 %

4 2 - 3 Jam 11 22 %

5 > 3 Jam 4 8 %

Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa lama berkunjung responden atau konsumen di Starbucks Coffee adalah kurang dari 15 menit sebesar 20 %, kurang dari 1 jam sebesar 0, 1 - 2 jam sebesar 50 %, 2 - 3 jam sebesar 22 %, dan lebih dari 3 jam sebesar 8 %.

Maka dengan hasil tersebut dapat digambarkan lama berkunjung responden atau konsumen

Maka dengan hasil tersebut dapat digambarkan lama berkunjung responden atau konsumen

Dokumen terkait