• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENENTUAN PERJANJIAN YANG DILARANG OLEH

E. Upaya Hukum Terhadap Putusan KPPU

Putusan KPPU, pelaku usaha yang bersangkutan dapat menolak atau menerima putusan dari KPPU tersebut. Jika menerima maka dalam jangka waktu 30 hari setelah menerima pemberitahuan putusan wajib melaksanakan putusan tersebut dan menyampaikan laporan pelaksanaannya kepada KPPU. Jika menolak UU jika menyediakan upaya hukum mengajukan keberatan kepada pengadilan negeri ditempat domisili pelaku usaha, selambat-lambatnya 14 hari setelah menerima pemberitahuan putusannya (Pasal 44 ayat (2) UU nomor 5 tahun 1999). Jika pelaku usaha dalam jangka waktu 14 hari tidak mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri, maka dianggap menerima putusan KPPU, dan menurut ketentuan Pasal 46 UU nomor 5 tahun 1999, putusan KPPU tersebut telah memiliki kekuatan hukum tetap serta dapat dimintakan penetapan eksekusi ke Pengadilan Negeri.82

Tidak semua putusan KPPU menyatakan bahwa pelaku usaha telah melanggar UU nomor 5 tahun 1999 ada juga putusan KPPU yang menyatakan bahwa tidak terjadi pelanggaran terhadap UU nomor 5 tahun 1999, jika perbuatan atau perjanjian yang dikecualikan pada Pasal 50 UU nomor 5 tahun 1999.

Putusan KPPU nomor 02/KPPU-I/2013, PT. Pelindo diperbolehkan menolak dan menggugat putusan KPPU tersebut dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari setelah diterimanya putusan tersebut.

82Susanti, Op. Cit., Hlm. 614.

BAB IV

PRINSIP ITIKAD BAIK DALAM PERJANJIAN YANG DILARANG PADA Putusan Nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT

A. Itikad Baik

1. Pengertian Itikad Baik

Immanuel Kant, seorang ahli filsafat Jerman (1724-1820) berpendapat bahwa sesuatu itu yang secara absolut baik, adalah keinginan baik (goodwill) itu sendiri.

menganggap sesuatu yang absolut dan tak bersyarat mengenai yang baik adalah itikad yang baik.83

Pengaturan itikad baik di Indonesia ditemukan dalam Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata. Pasal ini menentukan bahwa perjanjian dilaksanakan dengan itikad baik. Ketentuan ini sangat abstrak. Tidak ada pengertian dan tolak ukur itikad baid dalam KUHPerdata. Oleh karena itu, perlu dicari dan ditelusuri makna dan tolak ukur itikad baik.

Prinsip itikad baik dalam dunia bisnis adalah Itikad baik yang ideal dengan prinsip etika seperti honesty, loyalty, dan pemenuhan komitmen. Prinsip itikad baik adalah inkarnasi prinsip yang ideal dalam hukum Romawi bahwa manusia yang bijaksana.84Doktrin itikad baik dalam hukum Romawi berkembang seiring dengan mulai diakuinya kontrak konsensual informal yang pada mulanya hanya meliputi

83 Ngurah Wahyu Resta, Ngurah Wahyu Resta, Asas Itikad Baik Dalam Perjanjian Pengikatan Jual Beli Hak Atas Tana (Universitas Udayana: Masters thesis, 2016), hlm. 48.

84Hernany Veytia, “The Requrie Ment of justice and Equity of International Commercial Contract”, (Tulane Law Review, Vol. 69, 1995), hlm. 1198.

kontrak jual beli, sewa-menyewa, persekutuan perdata, dan mandat.85Doktrin itikad baik berakar pada etika sosial Romawi mengenai kewajiban yang komprehensif akan ketaatan dan keimanan yang berlaku bagi warga negara maupun bukan.86

Itikad baik dalam hukum perjanjian merupakan doktrin atau asas yang berasal dari ajaran Bona Fides dalam Hukum Romawi.87Itikad baik dalam hukum kontrak Romawi mengacu kepada tiga bentuk perilaku para pihak dalam kontrak. Pertama, para pihak harus memegang teguh janji atau perkataannya. Kedua, para pihak tidak boleh mengambil keuntungan dengan tindakan yang menyesatkan terhadap salah satu pihak. Ketiga, para pihak mematuhi kewajibannya dan berperilaku sebagai orang terhormat dan jujur, walaupun kewajiban tersebut tidak secara tegas diperjanjikan.88

Itikad baik memang lebih memiliki kedekatan dengan Sistem Civil Law ketimbang dengan Sistem Common Law. Fides berarti sumber yang bersifat keagamaan, yang bermakna kepercayaan yang diberikan seseorang kepada orang lainnya, atau suatu kepercayaan atas kehormatan dan kejujuran seseorang kepada orang lainnya. Bona Fides mensyaratkan adanya itikad baik dalam perjanjian yang dibuat oleh orang-orang Romawi.89

85Alan Watson, Roman law and Compartive Law ( Athens: University of Georgia Press, 1995), hlm. 60.

86Martin Joseph Schermeaier, Bonafides in Roman Contract Law ( Cambridge: University Press, 2000), hlm. 77

87Reinhard Zimmerman and Simon Whitttaker, Good Faith in European Contract Law (Cambridge University Press, 2000), hlm. 12.

88James Gordley, Myths of French Civil Code, The American Journal of Camparitive Law, Vol. 42 (1994), hlm. 94.

89Ridwan Khairandy, Itikad Baik Dalam Kebebasan Berkontrak (Jakarta: Pascasarjana UI, 2004), hlm. 130-133.

Itikad baik tersebut tidak hanya mengacu kepada itikad baik para pihak, tetapi harus pula mengacu kepada nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat, sebab itikad baik merupakan bagian dari masyarakat. Itikad baik ini akhirnya mencerminkan standar keadilan dan kepatuhan masyarakat. Dengan makna yang demikian itu menjadikan itikad baik sebagai suatu universal social force yang mengatur hubungan antar sosial mereka, yakni setiap warga negara harus memiliki kewajiban untuk bertindak dengan itikad baik terhadap semua warga negara.90

Kewajiban itikad baik dalam hukum kanonik, menjadi suatu norma moral yang universal yang secara individual ditentukan oleh kejujuran dan kewajiban seseorang kepada tuhan.91 Para sarjana hukum kanonik mengkaitkan itikad baik dengan good science. Para sarjana hukum memasukkan makna religious faith ke dalam good faith dalam pengertian hukum.92 Dapat dilihat terdapat banyak pengertian itikad baik dan hukum Indonesia tidak menjelaskan pengertian itikad baik.

Namun itikad baik dapat diartikan sesuatu keinginan yang baik bertentangan dengan niat yang buruk menurut masyarakat dan/atau agama.

2. Kedudukan Itikad Baik

Perjanjian yang dilarang di Indonesia harus dibatalkan. Dan pembatalan perjanjian di Indonesia melalui putusan pengadilan. Dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan perjanjian, pengadilan sering kali menghadapi dilema antara

90Eric M. Holmes, A Contextual Study of Commercial Good Faith: Good Faith Disclosure in Contract Formation ( University of Pittsburg Law Review, Vol 39 nomor 3, 1978), hlm. 402.

91Jason Randal, The Implied Covenant of Good Faith and Fair Dealing in Alaska: One Court’s License to Override Contractual Expectaion (Alaska law Reviews vol 11, 1994), hlm. 38

92James Gordley, Op. Cit., hlm. 403.

memegang teguh asas kepastian hukum atau itikad baik. Kepastian hukum berkaitan dengan penghormatan kebebasan individu sepanjang tidak bertentangan dengan hukum untuk menentukan isi dan bentuk perjanjian. Asas ini berkaitan dengan kepastian hukum.

Meskipun demikian, wajib untuk di ingat, bahwa pengadilan dan Hakim disamping harus memegang kepastian hukum, hakim harus menegakkan keadilan.

Keadilan adalah hakikat hukum dan tujuan tertinggi hukum. Itikad baik adalah jalan bagi hakim menuju kepada keadilan tersebut.

Perkembagan Yurisprudensi Hakim terdapat adanya ketidakkonsistenan pengadilan dalam mengambil sikap terhadap kepastian hukum. Sebagian hakim memegang teguh kepastian hukum, sebagian lagi memperhatikan keadilan sehingga mengkedapankan asas itikad baik dalam putusannya untuk mewujudkan keadilan.

Hakim dalam menjalankan tugasnya, memikul tanggung jawab yang besar dan harus menyadari tanggung jawab itu, sebab keputusan Hakim dapat membawa akibat yang sangat jauh pada kehidupan para yustiabel dan/atau orang-orang lain yang terkena oleh jangkauan keptuusan tersebut. Keputusan Hakim yang adil dapat mengakibatkan penderitaan lahir dan batin yang membekas dalam sanubari yusitiabel sepanjang hidupnya.93Hal itu menjadi satu dasar Hakim lebih menegakkan keadilan daripada kepastian hukum.

Hakim dalam konteks hukum, memiliki kewenangan untuk mencegah terjadinya pelanggaran rasa keadilan. Seorang Hakim yang baik adalah penerjemah

93Ketut Rindjin, Etika Bisnis dan Implementasinya (Jakarta, Gramedia, 2004), hlm. 169.

dari rasa keadilan bangsanya. Seorang Hakim harus dapat mengkuti dan menghayati terjadinya perubahan nilai dalam hubungan masyarakat. Melalui interpretasi yang baik, hukum akan tetap hidup dari masa ke masa dan memberikan rasa keadilan bagi mereka yang mendambakannya.94

Menurut Salim, penilaian itikad baik dibagi dua macam, yaitu itikad baik nisbi dan itikad baik mutlak. Pada itikad baik nisbi, orang memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari subjek. Pada itikad baik mutlak, penilainnya terletak pada akal sehat dan keadilan, dibuat ukuran yang objektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma-norma yang objektif.95

Terdapat beberapa kasus yang menunjukkan Hakim yang mempertimbangkan itikad baik untuk mewujudkan keadilan hukum, sebagai berikut:

1. Kasus perkara nomor 3431 /K/Pdt/1985, bahwa dalam kasus terdapat ketentuan bunga dan jaminan yang telah disetujui para pihak secara sah.

Namun Mahkamah Agung dalam putusannya memberikan pertimbangan sebagai berikut :

a. Bunga 10% (sepuluh persen) setiap bulan terlalu tinggi dan bertentangan dengan rasa keadilan dan kepatutan mengingat tergugat adalah Purnawirawan dan tidak mempunyai penghasilan lain.

b. Ketentuan untuk menyerahkan buku pembayaran pensiun sebagai jaminan adalah bertentangan dengan kepatutan dan keadilan.

94 Setiawan, Pengaruh Yurispudensi terhadap peraturan perundang-undangan (Varia Peradilan, tahun vi nomor 65, 1991), hlm. 141.

95Salim, Hukum Kontrak (Jakarta: Sinar Grafika, 2015), hlm. 11.

Dapat dilihat bahwa dalam putusan Mahkamah Agung tidak secara eksplisit disebutkan bahwa pertimbangan itu didasarkan pada ketentuan itikad baik.

Tetapi dapat dilihat dari substansi isinya adalah substansi itikad baik dalam pelaksanaan kontrak.

2. Kasus perkara Nomor 3703 K/Pdt/1986, terdapat penerapan itikad baik perubahan nilai uang. Mahkamah Agung membenarkan alasan pemohon kasasi bahwa mengenai pengembalian uang harus dinilai kembali menurut harga emas sesuai dengan rumus yang digariskan oleh Mahkamah Agung. Hal ini juga sama terjadi pada perkara Bank Pasific, putusan Mahkamah Agung nomor 4434 K/Pdt/1986. Hakim Mahkamah Agung menerapkan hal tersebut dalam persoalan merosotnya nilai mata uang rupiah akibat adanya perubahan nilai uang yang harus ditanggung oleh kedua belah pihak dengan imbangan yang sama.

Beberapa kasus tersebut merupakan perkembangan kedudukan itikad baik dalam hukum Indonesia untuk mewujudkan keadilan.

B. Analisis Putusan Perkara Nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT 1. Duduk Perkara

PT. Pelindo menolak keputusan KPPU nomor 02/KPPU-I/2013 sehingga melakukan upaya hukum dengan menggugat putusan KPPU pada pengadilan Jakarta Utara. Bahwa pada putusan KPPU tersebut, PT. Pelindo merupakan terlapor dari pelaku usaha lain. Berdasarkan beberapa alat bukti dokumen yaitu perjanjian tertulis.

Bahwa terdapat klausul perjanjian kerja sama PT. Pelindo dengan konsumen yang

melanggar Pasal 15 dan Pasal 19 UU nomor 5 tahun 1999. Berdasarkan Pasal 15 perjanjian tersebut dikenal dengan istilah perjanjian tertutup. Sehingga melanggar Pasal 19 yaitu kegiatan yang menghalangi pelaku usaha lainnya sehingga menyebabkan persaingan usaha tidak sehat. Dalam perjanjian tersebut terdapat perjanjian jasa bongkar muat pengguna jasa PT. Pelindo harus memakai skema 2:1.

Yang tidak boleh mempergunakan jasa bongkar muat selain PT. Pelindo dengan perbandingan 2:1. Sehingga hal tersebut merupakan perjanjian yang anti persaingan atau disebut juga perjanjian yang mengakibatkan persaingan tidak sehat. pada putusan KPPU sebelumnya tidak ada mempertimbangkan keterangan saksi dari PT. Pelindo.

Dalam keterangan PT. Pelindo bahwa alasan PT. Pelindo melakukan perjanjian yang dilarang tersebut karena PT. Pelindo sebelumnya sudah ber investasi banyak untuk mewujudkan jasa bongkar CPO muat yang murah dan cepat. Dan perjanjian yang dilarang tersebut diakui oleh PT. Pelindo hanya pada perjanjian jasa bongkar muat CPO dan keterangan saksi Ahli dari DPP INSA Capt. Asmari Hery yang menyatakan di dalam dunia pelayaran (shipping practice) pemilik barang memiliki kebebasan untuk menunjuk perusahaan bongkar muat yang sesuai dengan standar dan kebutuhan pemilik barang dan berdasarkan keterangan Saksi Lim Apriatna, Ketua APBMI, menyatakan hal yang sama, dalam hukum kebiasaan/praktek sehari-hari dalam bongkar muat barang di Pelabuhan berlaku Shipping Practice, "Bagi siapa yang ditunjuk pemilik barang untuk melakukan bongkar muat barang, maka ia yang berhak atas pekerjaan tersebut". Oleh karena sebab itu PT. Pelindo merasakan ketidakadilan maka PT. Pelindo menggugat Putusan KPPU nomor 02/KPPU-I/2013.

2. Pertimbangan Hakim

Pada putusan Nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT terdapat beberapa pertimbangan Hakim yang mengakibatnya menangnya PT. Pelindo dalam gugatannya putusan KPPU nomor 02/KPPU-I/2013, yaitu sebagai berikut :

Menimbang, bahwa Majelis Hakim berpendapat walaupun muncul dampak negatif, namun dampak positif dari perjanjian tertutup yang dilakukan oleh PT.

Pelindo adalah jauh lebih besar, tidak hanya dalam jangka pendek, namun juga dalam jangka panjang. Bahwa PT. Pelindo merupakan BUMN yang 100%

(seratus persen) sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia, sehingga pada akhirnya nanti keuntungan yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan PT.

Pelindo akan dipergunakan untuk mensejahterakan rakyat, untuk itu sudah patut dan wajar apabila kepentingan masyarakat yang lebih luas yang didahulukan, dibandingkan dengan kepentingan bisnis beberapa pelaku usaha, hal ini berkesesuaian dengan keterangan Ahli Dita Wiradhi Putra yang menyatakan

“Terkait dengan konteks bahwa dalam suatu kegiatan usaha terjadi persaingan usaha di pihak lain ada yang dirugikan tetapi di sisi masyarakat menguntungkan maka kesejahteraan masyarakat yang diutamakan”

Menimbang, bahwa KPPU di dalam tanggapannya menyatakan “Bahwa Majelis Komisi berwenang untuk menilai alat bukti, sehingga apabila kemudian tidak tercantum dalam Putusan bukan berarti tidak pernah dipertimbangkan sebab telah ada dalam berkas perkara”. Bahwa atas tanggapan tersebut Majelis Hakim menyatakan tidak sependapat dan merupakan tanggapan yang tidak berdasar

hukum dan dapat diartikan sebagai perbuatan mengenyampingkan alat bukti.

Produk hukum dari KPPU adalah berupa putusan yang memuat segala pertimbangan-pertimbangan hukum, termasuk mempertimbangkan keterangan saksi dan ahli secara keseluruhan sebagai salah satu alat bukti, yang pada akhirnya dapat menyatakan apakah dalam suatu perkara, pelaku usaha terbukti melanggar atau tidak melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, untuk itu sudah menjadi kewajiban KPPU mencantumkan pertimbangannya terhadap alat bukti di dalam putusan tersebut, sehingga apabila tidak termuat di dalam putusan, maka dianggap tidak pernah dipertimbangkan ;

Menimbang, bahwa untuk itu Majelis Hakim mengambil alih keterangan saksi-saksi tersebut diatas yang memberikan keterangan perihal bahwa terdapat fakta mengenai terdapatnya pula skema 2:1 untuk bongkar muat komoditas CPO dan Batu Bara yaitu 2 kapal untuk dibongkar muat oleh PT. Pelindo II (persero) dan 1 kapal untuk dibongkar muat Perusahaan Bongkar Muat lain, kemudian keterangan Ahli Capt. Asmari Hery yang pada pokoknya

menyatakan bahwa Perjanjian Penyewaan Lahan yang di dalamnya terdapat klausul wajib bongkar muat tidak bertentangan dengan shipping practice dan justru menguntungkan konsumen ;

Menimbang, bahwa sebagaimana telah dipertimbangkan dimuka, Majelis Hakim berpendapat ternyata perjanjian tertutup yang dilakukan oleh PT. Pelindo lebih memiliki dampak positif daripada dampak negatif yang dihasilkan, sehingga

apabila dihubungkan dengan keterangan saksi-saksi dan ahli dimaksud, maka Majelis Hakim menilai terdapat kesesuaian yang nyata dan menambah keyakinan bagi Majelis Hakim jika dampak positif yang dihasilkan oleh perjanjian tertutup lebih besar dibandingkan dampak

negatifnya ;

Menimbang, bahwa ternyata di sisi lain berdasarkan dalil PT. Pelindo didukung dengan keterangan Saksi Dalsaf Usman General Manager Cabang Teluk Bayur PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero) yang menyatakan untuk kewajiban penunjukan Pelindo sebagai PBM itu terhitung sejak tahun 2007-2011, namun untuk saat ini sudah tidak ada lagi perjanjian yang menunjuk Pelindo sebagai PBM, selanjutnya Saksi menjelaskan untuk tahun 2011 sudah tidak ada perjanjian tersebut karena dicoba untuk memberikan pemahaman kepada pemilik barang bahwa kita tetap akan melakukan pelayanan yang sebaik-baiknya tanpa ada persyaratan tersebut, menunjukkan bahwa setelah tahun 2011 ternyata klausul bongkar muat wajib dilakukan oleh PT. Pelindo sudah tidak ada lagi termuat di dalam perjanjian sewa menyewa lahan ;

Menimbang, bahwa dengan segala pertimbangan hukum diatas, Majelis Hakim berpendapat bahwa secara hukum PT. Pelindo tidak terbukti melanggar ketentuan sebagaimana diatur di dalam Pasal 15 ayat (2) dan Pasal 19 huruf a dan b Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak sehat ;

Menimbang, bahwa kepada PT. Pelindo dijatuhkan sanksi administratif oleh KPPU didasarkan pada ketentuan Pasal 36 jo Pasal 47 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, namun oleh karena PT. Pelindo telah dinyatakan menurut hukum tidak terbukti melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 15 ayat (2) dan Pasal 19 huruf a dan b Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, maka berdasar hukum untuk menyatakan PT. Pelindo dibebaskan dari segala sanksi administratif ;

Menimbang, bahwa dari segala apa yang telah Majelis Hakim uraikan dan pertimbangkan diatas, maka Putusan KPPU Nomor 02/KPPU-I/2013 tanggal 4 November 2013 tidak bisa dipertahankan lagi dan harus dibatalkan untuk seluruhnya ;

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan keberatan ini dikabulkan, maka biaya perkara dibebankan kepada KPPU Mengingat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dan PERMA RI Nomor 3 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU .

Sehingga dengan beberapa pertimbangan tersebut maka Majelis Hakim memutuskan, sebagai berikut :

1. Mengabulkan permohonan PT. Pelindo ;

2. Membatalkan Putusan KPPU/Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor : 02/KPPU-I/2013 tanggal 4 November 2013 ;

3. Menghukum KPPU untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp.426.000,00 (empat ratus dua puluh enam ribu rupiah).

C. Itikad Baik dalam Perjanjian yang Dilarang pada Putusan Nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT

Terdapat itikad baik yang dipertimbangkan oleh Hakim Pengadilan Negeri dalam pengecualian dalam perjanjian yang dilarang di Indonesia dalam hal jenis perjanjian tertutup. Bahwa dalam duduk perkara putusan 01/PDT.

KPPU/2013/PN/JKT.UT terdapat itikad baik PT. Pelindo yang melatar belakangi perjanjian yang dilarang di Indonesia.

Bongkar muat CPO selain dilakukan oleh PT. Pelindo, dilakukan juga oleh perusahaan bongkar muat lainnya. Sebelumnya pada kisaran tahun 2002 – 2008 Kapal tangki CPO harus angker / tambat sampai 34 hari untuk bisa melakukan bongkar muat di Pelabuhan Teluk Bayur, karena bongkar muat CPO harus dilakukan di Dermaga multi purpose sehingga bercampur dengan kapal kargo, nelayan, dan jenis kapal lainnya.

Kondisi harus menunggu untuk bongkar muat tersebut menimbulkan operasional pengangkutan yang berbiaya tinggi bagi konsumen (Pemilik CPO), menurut kesaksian Emy Laksana dan Ivandi Al Ghafar di bawah sumpah, biaya kapal bersandar untuk tunggu bongkar muat, per hari sebesar USD 5.000. – 6.000.

Menjalankan amanat yang diberikan Undang-Undang untuk menjaga kelancaran lalu lintas barang di pelabuhan, PT. Pelindo pada tahun 2009 melakukan investasi kurang lebih Rp. 65 Milyar, yaitu membangun dermaga 7 khusus curah cair

beserta pipa-pipa yang terkoneksi dengan pipa-pipa milik 5 perusahaan tangki timbun, dengan investasi tersebut Kapal Tangki CPO dapat langsung melakukan bongkar muat CPO di dermaga 7 tanpa harus menunggu 3 – 4 hari.

Untuk mewujudkan tersebut PT. Pelindo melakukan perjanjian kerja sama yang dilarang dengan konsumen-konsumennya yaitu perjanjian tertutup. Agar Perjanjian kerja sama tersebut memberi kepastian kepada PT. Pelindo tidak mengalami kerugian yang sangat besar akibat investasi tersebut. Karena investasi tersebut cukup besar namun fasilitas tersebut hanya untuk pengguna jasa bongkar tertentu atau jasa bongkat muat CPO. Sehingga besar kemungkinannya untuk PT.

Pelindo mengalami kerugian akibat investasi bongkar muat CPO.

Setelah tercipta fasilitas bongkar muat CPO dengan investasi PT. Pelindo memberi banyak dampak positif yaitu dapat dilihat dari mulai beroperasinya dermaga 7 berdampak pada selesainya masalah inefisiensi pada kegiatan bongkar muat CPO dimana biaya dan waktu konsumen (Pemilik CPO) menjadi sangat efisien sejak menggunakan fasilitas dan sarana yang dibangun PT. Pelindo dibanding dengan bongkar muat CPO melalui pipa-pipa yang dibangun tangki timbun yang terhubung ke Dermaga 1, 2 dan 3 yang merupakan dermaga multi purpose.

KPPU menyimpulkan bahwa perjanjian penyewaan lahan dengan klausul jasa bongkar muat termasuk perjanjian yang dilarang oleh Pasal 15 ayat (2), pada hal PT.

Pelindo sudah menghabiskan banyak investasi untuk menyelesaikan masalah inefisiensi. Kemudian Hakim Pengadilan Negeri mengecualikan perjanjian yang dilarang dibuat oleh PT. Pelindo dengan konsumen-konsumennya karena perjanjian

yang dilarang tersebut banyak memberi dampak positif kepada pelaku usaha maupun masyarakat banyak. Karena keuntungan pelaku usaha biaya bongkar muat yang murah yang kemudian berdampak pada masyarakat dengan harga yang lebih murah.

Sehingga itikad baik PT. Pelindo yang telah menginvestasi sebesar 65 milyar untuk mewujudkan biaya bongkar muat yang murah berakibat pengecualian perjanjian yang dilarang di Indonesia walaupun tidak termasuk pengecualian perjanjian yang dilarang yang diatur oleh UU nomor 5 tahun 1999. Itikad baik tersebut merupakan pertimbangan Hakim dalam mewujudkan keadilan atas itikad baik yang diperbuat oleh PT. Pelindo.

Bahwa hakim disamping harus memegan kepastian hukum, hakim harus menegakkan keadilan. Keadilan adalah hakikat hukum dan tujuan tertinggi hukum.

Itikad baik adalah jalan bagi hakim untuk menuju kepada keadilan.96

96Ridwan Khairandy, Op cit, hlm 1-2

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Perjanjian yang dilarang di Indonesia dalam UU nomor 5 tahun 1999 berakibat batal demi hukum karena melanggar UU.

2. Dalam Perkara PT. Pelindo Putusan Nomor 02/KPPU-I/2013 bahwa PT. Pelindo telah melanggar Pasal 19 UU nomor 5 tahun 1999, KPPU menggunakan pendekatan Per Se Illegal, Dalam menentukan suatu perjanjian yang dilarang telah melanggar ketentuan hukum persaingan usaha, khususnya Indonesia, undang-undang menggunakan pendekatan per se illegal dan rule of reason sebagai alat bukti. Kedua pendekatan tersebut telah lama diterapkan untuk menilai suatu tindakan tertentu dalam bisnis melanggar UU persaingan usaha, sehingga KPPU cukup membuktikan bahwa telah terjadi pelanggaran sesuai dengan jenis perjanjian atau perbuatannya. Sehingga pelaku usaha dianggap telah melakukan perbuatan yang dilarang tanpa melihat akibat atau efek yang ditimbulkan dari perbuatan/perjanjian tersebut.

3. Prinsip Itikad baik merupakan prinsip yang lebih dekat dengan keadilan. Dalam

3. Prinsip Itikad baik merupakan prinsip yang lebih dekat dengan keadilan. Dalam

Dokumen terkait