BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
Metode penelitian hukum dalam penelitan “Prinsip Itikad Baik dalam Perjanjian yang dilarang Studi Terhadap Putusan Nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT” adalah penelitian hukum yuridis normatif.
Penelitian hukum yang dimaksud adalah penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai sebuah bangunan sistem norma yaitu mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, perjanjian serta doktrin (ajaran)34
Metode adalah prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu. Sementara itu metodologi adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan
32Marbun, Kamus Hukum Indonesia (Jakarta: Sinar Harapan, 2009), hlm. 257.
33Viswandro, Kamus Istilah Hukum (Yogyakarta: Pustaka Yustisia,2014), hlm. 155.
34Dr. Mukti Fajar ND Dan Yulianto Achmad, MH, Dualisme Penelitian Hukum Normatif &
Empiris, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 34.
ilmu pengetahuan dan teknologi bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis dan konsisten karena melalui proses penelitian tersebut dilakukan analisis dan konstruksi terhadap data yang telah dikumpulkan dan diolah.35 Penelitian hukum normatif adalah penelitian suatu proses untuk menemukan suatu aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum untuk menjawab permasalahan hukum yang dihadapi. Penelitian hukum normatif dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.36
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Sifat penelitian penulisan ini yaitu deskriptif analistis. Bersifat deskriptif maksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang diteliti. Penelitian ini pada umumnya bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat terhadap suatu populasi atau daerah tertentu, mengenai sifat-sifat, karakteristik-karakteristik atau faktor-faktor tertentu.37Analistis dimaksudkan berdasarkan gambaran fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat bagaimana menjawab permasalahan.38
2. Sumber Data Penelitian
Adapun sumber data yang biasa digunakan dalam penelitian hukum empiris yang bersumber pada data sekunder diperoleh dari :
35Soerjono Soekanto Dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif : Suatu Tinjauan Singkat (Jakarta: Penebit Rajawali Pres, 2013), hlm. 1.
36Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum (Jakarta: Kencana, 2005), hlm. 35.
37Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum (Jakarta : Rajawali Pers, 1997), hlm. 35.
38Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20 (Bandung : Alumni, 1994), hlm. 101
a. Bahan Hukum Primer yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat sebagai landasan utama yang dipakai dalam rangka penelitian ini.39 Bahan hukum yang mempunyai kekuatan yang mengikat bagi pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu berupa Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Putusan nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN.JKT.UT, dan KUH Perdata.
b. Bahan Hukum Sekunder adalah bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami bahan hukum primer.40Termasuk pula dalam bahan hukum sekunder adalah buku-buku yang berhubungan dengan objek yang diteliti.
c. Bahan Hukum Tersier merupakan bahan hukum yang memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.41Bahan yang relevan untuk melengkapi data dalam penelitian ini, yaitu kamus umum, kamus hukum, majalah, internet, serta bahan-bahan di luar bidang hukum yang berkaitan dengan tesis ini guna melengkapi data.
3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data a). Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh bahan hukum yang diperlukan dalam penelitian ini, maka digunakan teknik pengumpulan bahan hukum tersebut dengan penelitian kepustakaan
39 Ronny Hanitijo, Metodologi Penelitian Hukum Dan Jurimetri (Jakarta: Ghalia Indonesia,1990), hlm. 53.
40Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2014), hlm. 182-183.
41Soerjono Soekanto Dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995), hlm. 13.
(library Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka untuk mendapatkan atau mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil pemikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini.
b). Alat Pengumpulan Data
Alat Pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data yang dipergunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan dengan mengadakan Studi Dokumen yaitu dengan melakukan inventarisasi dan sistematisasi literatur yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelian ini.
4. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif.
Menurut Lexy J. Moleong,42 Analis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mengsintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapa diceritakan kepada orang lain.
Analis data-data berdasarkan Analis kualitatif dapat diuraikan dalam beberapa tahap, sebagai berikut:43
a. Tahapan pengumpulan data, misalnya ketentuan perundang-undangan yang berkaitan langsung dengan permasalahan yang sedang diteliti, artikel atau jurnal atau karya tulis dalam bentuk lainnya akan dikumpulkan sedemikian rupa sebagai bahan referensi.
b. Tahapan Pemilahan data, dimana dalam tahapan ini seluruh data yang telah dikumpulkan sebelumnya akan dipilah-pilah dengan mempedomai konteks yang sedang diteliti, sehingga akan lebih memudahkan dalam melakukan kajian lebih lanjut terhadap permasalahan di dalam penelitian tesis ini.
42Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 248.
43Ibid.
c. Tahapan analisa dan penulisan hasil penelitian, sebagai tahapan klimaks dengan seksama dengan melakukan interpretasi atau penafsiran yang diperlukan, sejauh mungkin di upayakan untuk berpedoman terhadap konsep, asas kaidah hukum yang diangggap relevan dan sesuai dengan tujuan utama dari pada penelitian ini.
Penarikan kesimpulan yang digunakan dalam penelitian ini adalah logika berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya ditarik hal-hal yang khusus, dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil, atau prinsip-prinsip dalam bentuk proposisi-proposisi untuk menarik kesimpulan tehadap fakta-fakta yang bersifat khusus. Logika deduktif atau sering kali disebut sebagai cara berpikir analitik yang mempunyai pengertian cara berpikir yang bertolak dari pengertian bahwa sesuatu yang berlaku bagi keseluruhan peristiwa atau kelompok/jenis, berlaku juga bagi tiap-tiap unsur di dalam peristiwa kelompok/jenis tersebut.44
44Fajar Dan Achmad, Op. Cit., hlm. 109.
BAB II
KEDUDUKAN PERJANJIAN YANG DIlARANG DI INDONESIA
A. Perjanjian Yang Dilarang Di Indonesia
Pasal 1320 KUH Perdata salah satu syarat perjanjian yaitu suatu sebab yang diperbolehkan. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Pada ketentuan Pasal 4 sampai dengan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat menetapkan jenis-jenis perjanjian yang dilarang, yaitu :
1. Perjanjian penguasaan produksi terdapat pada Pasal 4, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk secara bersama-sama melakukan penguasaan produksi dan/atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan tidak sehat”.
2. Perjanjian penetapan harga terdapat pada Pasal 5, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menentapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama”.
3. Perjanjian penetapan harga secara diskriminatif terdapat pada Pasal 6, yaitu
“pelaku usaha dilarang membuat perjanjian yang mengakibatkan pembeli
yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang atau jasa yang sama.”
4. Perjanjian penetapan harga dibawah harga pasar terdapat pada Pasal 7, yaitu
“pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga di bawah harga pasar, yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.”
5. Perjanjian penetapan harga jual kembali terdapat pada Pasal 8, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian yang memuat bahwa penerima barang dan atau lain yang memuat persyaratan bahwa penerima barang dan atau jasa tidak akan menjual kembali barang dan/atau jasa yang diterimanya dengan harga yang lebih rendah daripada harga yang telah diperjanjikan.”
6. Perjanjian pembagian wilayah pemasaran terhadap barang dan atau jasa terdapat pada Pasal 9, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lainnya yang bertujuan untuk membagi wilayah pemaaran atau pesaingnya yang bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap barang dan/atau jasa sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli.”
7. Perjanjian pemboikotan terdapat pada Pasal 10, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lainnya yang dapat menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan usaha yang sama, baik untuk tujuan pasar dalm negeri maupun pasar luar negeri.”
8. Perjanjian pengaturan produksi dan atau pemasaran suatau barang dan atau jasa terdapat pada Pasal 11, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lainnya yang bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan/atau pemasaran suatu barang dan/atau jasa, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat”.
9. Perjanjian pembentukan gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar yang bertujuan untuk mengontrol produksi terdapat pada Pasal 12, yaitu
“pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk melakukan kerja sama dengan membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar, bertujuan mengontrol produksi dan/atau pemasaran atas barang dan/atau jasa sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli”.
10. Perjanjian penguasaan pembelian atau penerimaan pasokan agar dapat mengendalikan harga terdapat pada Pasal 13, yaitu “ pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha yang lain untuk bertujuan untuk secara bersama-sama menguasai penerimaan pasokan agar dapat mengendailkan pembelian atau penerimaan pasokan agar dapat mengendalikan harga atas barang dan/atau jasa yang dapat mengakibatkan praktek monopoli”.
11. Perjanjian penguasaan produksi sejumlah produk yang termasuk kedalam rangkaian produksi barang dan/atau jasa yang termasuk kedalam suatu
rangkaian produksi barang dan/atau jasa tertentu terdapat pada Pasal 14, yaitu
“pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lainnya yang bertujuan untuk menguasai produksi sejumlah produk yang termasuk dalam rangkaian produksi barang dan/atau jasa tertentu yang mana setiap rangkaian produksi merupakan hasil proses lanjutan yang dapat mengakibatkan persiangan usaha tidak sehat”.
12. Perjanjian dengan syarat yang menerima barang dan atau jasa hanya memasok atau tidak memasok kembali kepada pihak tertentu dan atau tempat tertentu terdapat pada Pasal 15, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lainnya yamg memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan/atau jasa hanya akan memasok atau tidak akan memasok kembali barang dan/atau jasa tersebut pada pihak tertentu dan atau tempat tertentu”.
13. Perjanjian dengan pihak luar negeri dalam praktik monopoli, terdapat pada Pasal 16, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain diluar negeri yang memuat ketentuan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat.”
Ketentuan Pasal 4 sampai dengan Pasal 16 merupakan perjanjian yang dilarang di Indonesia. Perjanjian dilarang tersebut berakibat tidak sahnya suatu perjanjian karena melanggar suatu sebab yang halal atau diperboleh Pasal 1320 KUH Perdata.
B. Jenis-Jenis dan Contoh Perjanjian Yang Dilarang Di Indonesia 1. Perjanjian yang Bersifat Oligopoli
Secara sederhana, Oligopoli adalah monopoli oleh beberapa pelaku usaha,
“monopoly by a few”. Oligopoli dapat juga diartikan kondisi ekonomi dimana hanya ada beberapa perusahaan menjual barang yang atau produk standar, “Economic condition where only e few companies sell subtantially similar or standardized products”45
UU No.5 Tahun 1999, Pasal 4 melarang perjanjian oligopoli. “Pelaku usaha membuat perjanjian dengan pelaku usaha lainnya untuk secara bersama melakukan penguasaan produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa yang dapat mengaikbat terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat.”
Putusan KPPU Nomor 10/KPPU-L/2005 tentang Kartel Perdagangan Garam ke Sumatera Utara merupakan salah satu perkara yang diputuskan KPPU tentang perjanjian oligopoli. Indikasi awal, adanya kesulitan bagi perusahaan selain PT.
Graha Reksa, PT. Sumatera Palm, UD. Jangkar Waja, dan UD. Sumber Samudera yang dikenal dengan istilah “G4” untuk memperoleh garam bahan baku langsung dari PT. Garam, PT. Budiono, dan PT. Garindo yang dikenal dengan istilah dengan “G3”.
Selain itu, ada kesepakatan secara lisan yang dilakukan G3 dengan G4 untuk menetapkan harga produk garam lebih tinggi dinbandingkan dengan harga produk PT. Garam, PT. Budiono dan PT. Garindo. Pemberian harga yang lebih tinggi untuk
45Johny Ibrahim, Hukum Persaingan Usaha (Malang: Bayu Media, 2006), hlm. 229.
garam bahan baku yang dibeli oleh perusahaan diluar G3 dan G4 serta terjadinya penguasaan pasokan garam bahan baku ke Sumatera Utara oleh G3.
Majelis Komisi menyimpulkan bahwa struktur pasar garam bahan baku di Sumatera Utara dipasok hanya oleh 3 perusahaan, yaitu PT. Garam, PT. Budiono, dan PT. Garindo dengan demikian ketiga perusahaan tersebut menguasai kesuluruhan pasokan garam bahan baku ke Sumatera Utara dan sebagai besar pasokan garam bahan baku dibeli oleh G4. Dalam putusannya KPPU menyatakan bahwa G3 Dan G4 telah melanggar Pasal 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dan masing-masing untuk membayar denda.
2. Perjanjian Penetapan Harga (Price Fixing Agreement)
Perjanjian penetapan harga dilarang oleh UU nomor. 5 tahun 1999 yang terbagi atas perjanjian penetapan harga (Prize Fixing Agreement) diatur dalam Pasal 5, dikriminasi harga (Prize Discrimination) diatur dalam Pasal 6, perjanjian jual rugi (Predatory Pricing) diatur dalam Pasal 7, dan pengaturan harga jual kembali (Resale Price Maintenance) diatur dalam Pasal 8.
Perjanjian penetapan harga UU nomor 5 tahun 1999 melarang perjanjian antar produsen dimana produsen menetapkan harga yang harus dibayar pembeli untuk barang dan/atau jasa yang diperdagangkan dipasar bersangkutan yang sama dari segi faktual dan geografis perjanjian harga akan menjadikan harga menjadi tinggi, bukan harga pasar. Karenanya penetapan harga merupakan tindakan yang mencederai persaingan. Tindakan tersebut akan merugikan konsumen dengan bentuk harga yang lebih tinggi dan jumlah barang yang lebih sedikit tersedia. Larangan melakukan
perjanjian penetapan harga karena menyebabkan tidak dapat berlaku hukum pasar tentang harga yang terbentuk dari penawaran dan permintaan (supply and demand).
Pasal 5 ayat 1, berbunyi “Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha persaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan/ atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan.”
Rumusan Pasal tersebut berarti larangan ini bersifat per se yang tidak mengharuskan melihat implikasi atau adanya hambatan persaingan usaha. Perjanjian penetapan harga dilarang oleh UU nomor 5 tahun 1999 disebabkan penetapan harga bersama akan menyebabkan tidak dapat berlakunya hukum pasar tentang harga terbentuk dari adanya tawaran dan permintaan. “Pelaku usaha dilarang melakukan perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya. Selain itu, pihak yang melakukan perjanjian harus saling bersaing, berarti pelaku usaha tersebut berada pada pasar bersangkutan faktual yang sama baik secara vertikal maupun horizontal. Perjanjian dapat dilakukan dengan tertulis ataupun lisan.
Harga adalah pembayaran untuk barang dan jasa yang tidak hanya meliputi biaya pokok, tetapi juga mencakup biaya tambahan seperti diskon atau penundaan pembayaran. Hal ini menegaskan bahwa setiap penjual “bebas” menetapkan sendiri harga penjualannya. Misalnya terjadinya kartel harga dimana anggota-anggota kartel menyepakati harga tertentu terhadap suatu barang, karenanya para pihak yang melakukan perjanjian tidak mempunyai pilihan lain, apakah menaikkan atau menurunkan harga. Inilah yang menghilangkan persaingan.
Perjanjian penetapan harga dikecualikan dalam tiga hal, yakni:
a. Perjanjian harga yang diizinkan. Seperti penentuan harga yang dilakukan oleh pemerintah. Contoh kasus, sewaktu perusahaan penerbangan di dalam negeri terlibat perang harga yang sebetulnya menguntukan konsumen, tindakan yang diambil pemerintah adalah mendamaikan perusahaan penerbangan dengan jalan menentukan harga yang harus dipatuhi oleh semua perusahaan penerbangan.
b. Perjanjian harga yang dibuat dalam Joint Venture. Sebenarnya tidak jelas yang dimaksud dengan joint venture dalam UU ini. Sehingga joint venture disini dapat diartikan penggabungan usaha tertentu dari ketentuan Pasal 5 ayat 1 UU Nomor 5 tahun 1999.
c. Perjanjian Harga Langsung
Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-I/2005 tentang penyediaan jasa survei gula impor, bahwa dari hasil pemeriksaan KPPU terbukti telah terjadi kesepakatan kerja sama antara PT. Sucofindo dan PT. Surveyor Indonesia tentang Pelaksanaan Verifikasi atau Penulisan Teknis Impor Gula dengan MOU-01/SP-DRU/IX/2004, nomor 805.1/DRU-IX/SPMM/2004.
Majelis Komisi melihat bahwa unsur-unsur Pasal 5 telah terpenuhi, yakni:
a. Pelaku Usaha, Bahwa PT. Surveyor Indonesia dan PT.
Superintending Company of Indonesia telah melakukan perjanjian yaitu sepakat mengikatkan diri dalam suatu memorandum of understanding membentuk KSO untuk pelaksanaan verifikasi penelusuran teknis impor gula.
b. Unsur Menetapkan Harga, berdasarkan fakta PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo sebagai surveyor pelaksana verifikasi atau penelusuran teknis impor gula tidak pernah menawarkan surveyor fee hasil kesepakatan PT. Surveyor Indonesia (Persero) dan PT.
Sucofindo kepada para importir gula. Fakta menunjukkan bahwa telah terjadi pertemuan antara KSO dengan para importir gula yang juga membahas mengenai besaran surveyor fee namun para importir gula tidak mempunyai pilihan lain sehingga harus menerima besaran Surveyor fee yang ditetapkan oleh KSO.
c. Bahwa kegiatan verifikasi atau penelusuran teknis impor gula yang dilakukan oleh PT. Surveyor Indonesia dan Sucofindo merupakan layanan yang berbentuk pekerjaan yang diperdagangkan dan dimanfaatkan oleh para importir gula. Dan pekerjaan verifikasi ini dikategorikan sebagai jasa.
d. Bahwa importir gula merupakan pemakai jasa verifikasi tersebut dan merupakan kebutuhan perusahaan importir gula.
e. Pasar bersangkutan tersebut, PT. Surveyor Indonesia dan PT.
Sucofindo telah membuat kesepakatan dalam surveyor fee. Para Importir gula tidak mempunyai pilihan lain dalam jasa verifikasi tersebut.
Majelis Komisi Pengawas Persaingan Usaha memutuskan PT. Surfeyor Indonesia dan PT. Sucofindo telah melakukan perjanjian yang dilarang yaitu Pasal 5 ayat 1.
3. Perjanjian Diskriminasi Harga
Perjanjian diskriminasi harga diatur pada Pasal 6 UU Nomor 5 tahun 1999, yaitu “Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan jasa yang sama”.
Hal yang dilarang pada Pasal ini adalah membuat perjanjian yang memberlakukan diskriminasi terhadap kedudukan konsumen yang satu dengan konsumen lainnya, dengan cara memberikan harga yang berbeda-beda terhadap barang atau jasa yang sama. Namun demikian, dapat saja terjadi harga yang berbeda antara konsumen satu dengan yang lain disebabkan perbedaan biaya seperti promosi dan lain-lain. Karenanya, dalam teori ilmu hukum persaingan dikenal beberapa macam diskriminasi harga antara lain:46
a. Diskriminasi Harga Primer b. Diskriminasi Harga Sekunder.
c. Diskriminasi Harga Umum d. Diskriminasi Harga Geografis e. Diskriminasi Harga Tingkat Pertama f. Diskriminasi Harga Tingkat Kedua g. Diskriminasi Harga Secara Langsung h. Diskirminasi Harga Secara Tidak Langsung
46Munir Fuadi, Hukum Anti Monopoli Menyongsong Era Persaingan (Bandung: Citra aditya bakti, 1997), hlm. 57.
Tentu, tidak semua pemberian harga yang bebeda tersebut dilarang oleh hukum. Sebab jika cost yang dikeluarkan oleh penjual untuk satu konsumen dengan konsumen lainnya berbeda, maka harga secara logis tentu akan berbeda-beda pula.
Misalnya, barang yang diambil dari tempat yang jauh dan memakan biaya yang tinggi, tentu akan menaikkan harga. Karena itu, secara teknis, diskriminasi harga baru layak dilarang oleh hukum mana perbedaan harga terhadap konsumen yang satu dengan konsumen lainnya pada prinsipnya bukan cermin dari perbedaan harga dasar (marginal cost) yang dikeluarkan oleh pihak penjual.47
Karena terdapat beberapa syarat untuk terjadinya diskrminasi harga:
a. Para Pihak haruslah yang melakukan kegiatan bisnis, sehingga diskriminasi harga akan merugikan apa yang disebut dengan “Primary line injury”, yakni diskriminasi harga yang dilakukan produsen atau grosir terhadap pesaingnya. Demikian pula diskriminasi harga dapat merugikan
“secondary line” jika diskriminasi harga dilakukan oleh suatu produsen terhadap suatu grosir, atau retail yang satu dan yang lain medapat perlakuan khusus. Hal ini akan menyebakan grosir atau retail yang tidak disenangi tidak dapat berkompetisi secara sehat dengan grosir atau retail yang disenangi.
b. Terdapat perbedaan harga baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya melalui diskon atau pembayaran secara kredit, namun pada pihak lain harus cash dan tidak ada diskon.
47Naskah Akademik, tentang Peraingan Usaha dan Anti Monopoli (Jakarta: Mahkamah Agung RI, 2005), hlm. 60.
c. Dilakukan terhadap pembeli yang berbeda. Jadi dalam hal ini paling sedikit harus ada dua pembeli.
d. Terhadap barang yang sama tingkat kualitasnya.
e. Perbuatan tersebut secara substansial akan merugikan, merusak, atau mencegah terjadinya persaingan yang sehat atau dapat menyebabkan monopoli pada suatu aktivitas perdagangan.48
Putusan Nomor 10/KPPU-L/2005 yang dijelaskan sebelumnya terdapat perjanjian diskriminasi harga terhadap pembeli selain G3 dan G4 sehingga komisi pengawas persaingan usaha memutuskan melanggar Pasal 6 UU Nomor 5 tahun 1999.
4. Perjanjian Jual Rugi (Predatory Pricing)
Penetapan harga dibawah harga pasar dengan pelaku usaha lain disebut juga penetapan harga dibawah biaya marjinal. Larangan ini dicakup oleh Pasal 7 dari UU
Penetapan harga dibawah harga pasar dengan pelaku usaha lain disebut juga penetapan harga dibawah biaya marjinal. Larangan ini dicakup oleh Pasal 7 dari UU