• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRINSIP ITIKAD BAIK DALAM PERJANJIAN YANG DILARANG STUDI TERHADAP PUTUSAN NOMOR 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT TESIS. Oleh. PRATIWI HABIBI /M.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PRINSIP ITIKAD BAIK DALAM PERJANJIAN YANG DILARANG STUDI TERHADAP PUTUSAN NOMOR 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT TESIS. Oleh. PRATIWI HABIBI /M."

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Oleh

PRATIWI HABIBI 157011249/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

PRATIWI HABIBI 157011249/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

Program Studi : KENOTARIATAN

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, MHum)

Pembimbing Pembimbing

(Prof. Dr. Sunarmi, SH, MHum) (Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN)

Ketua Program Studi, Dekan,

(Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum) (Prof.Dr.Budiman Ginting,SH,MHum)

Tanggal lulus : 16 Agustus 2017

(4)

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, MHum Anggota : 1. Prof. Dr. Sunarmi, SH, MHum

2. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN 3. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum 4. Dr. Edy Ikhsan, SH., MA

(5)

Nim : 157011249

Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU

Judul Tesis : PRINSIP ITIKAD BAIK DALAM PERJANJIAN

YANG DILARANG STUDI TERHADAP PUTUSAN NOMOR 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT

Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.

Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.

Medan,

Yang membuat Pernyataan

Nama : PRATIWI HABIBI Nim : 157011249

(6)

sebab adalah terlarang, jika sebab itu dilarang oleh undang-undang atau bila sebab itu berlawanan dengan kesusilaan atau ketertiban umum”. Ketentuan Pasal 4 sampai dengan Pasal 16 UU no. 5 tahun 1999 merupakan perjanjian yang dilarang di Indonesia. Perjanjian dilarang tersebut berakibat tidak sahnya suatu perjanjian karena melanggar suatu sebab yang halal atau diperboleh Pasal 1320 KUH Perdata.

Berdasarkan kepada amanat UU nomor 5 tahun 1999, yang mengamanatkan pembentukan suatu komisi, yang akan mempunyai otoritas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan dan penegakan hukum persaingan usaha berdasarkan UU nomor 5 tahun 1999. Tesis ini akan membahas kedudukan perjanjian yang dilarang di Indonesia, KPPU dalam menentukan perjanjian yang dilarang, dan itikad baik dalam perjanjian yang dilarang pada putusan nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT.

Tesis ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif analitis, dengan menggunakan bahan hukum primer berupa Undang-Undang Persaingan Usaha, KUH Perdata dan peraturan hukum lainnya, bahan hukum sekunder berupa buku- buku, dan tersier berupa kamus umum, kamus hukum, serta bahan-bahan di luar bidang hukum yang berkaitan dengan tesis ini.

Hasil penelitian ini, terdapat beberapa jenis perjanjian yang dilarang di Indonesia, salah satunya Perjanjian Tertutup (Exclusive Dealing). Berdasarkan putusan 02/KPPU- I/2013, KPPU menggunakan pendekatan Per Se Illegal. Prinsip Itikad baik merupakan prinsip yang lebih dekat dengan keadilan. Dalam putusan nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT bahwa Hakim membatalkan putusan KPPU nomor 02/KPPU-I/2013 yaitu berisi PT. Pelindo terbukti melakukan perjanjian yang dilarang.

Pembatalan putusan KPPU tersebut dikarenakan itikad baik PT. Pelindo yang terbukti sangat banyak berdampak positif bagi masyarakat dan negara sehingga untuk mewujudkan keadilan maka perjanjian yang dilarang oleh PT. Pelindo diberikan pengecualian. Pendekatan Per Se Illegal memiliki kekurangan untuk layak dibatalkan.

Pentingnya peraturan Indonesia menjelaskan yang dimaksud dengan itikad baik dan aturan mengenai itikad baik sehingga dapat menerapkan itikad baik di Indonesia untuk memberikan kepastian hukum. Seperti contohnya negara Jepang dan Eropa yang memberikan pengecualian itikad baik dalam perjanjian yang dilarang. Dan di Jepang dalam itikad baik untuk melakukan suatu perjanjian yang dilarang haruslah melalui persetujuan pemerintahannya.

Kata Kunci : Perjanjian yang Dilarang, Persaingan Usaha, Itikad Baik

(7)

The provisions of Article 4 to Article 16 are agreements which are prohibited in Indonesia which brings about the invalidity of an agreement because it violates a legitimate cause or permitted by Article 1320 of the Civil Code. Law No. 5/1999 gives a mandate for the establishment of a commission which will have the authority to monitor the implementation and the upholding of Law on Business Competition according to Law No.5/1999. This research will discuss the position of agreements which are prohibited in Indonesia, KPPU in specifying prohibited agreements, and good faith in prohibited agreements in the Ruling No.

01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT.

The research used juridical normative and descriptive analytic method, using primary legal materials such as Law on Business Competition, the Civil Code, and the other regulations. Secondary data material consisted of books, and tertiary legal materials were dictionary, dictionary of law, and the other materials related to this research.

The result of the research showed that there are some types of prohibited agreements: Oligopoly Agreements, Price Fixing Agreement, Price Discriminating Agreement, Predatory Pricing, Resale Price Maintenance, Agreement on Marketing Region or Marketing Allocation, Boycotting Agreement, Cartel Agreement, Trust Agreement, Oligopsony Agreement, Vertical Integration, Exclusive Dealing, and agreement with foreign countries which causes unfair competition. The Ruling No.

02/KPPU-1/2013 states that KPPU uses Per Se Illegal approach. Good faith principle is closer to justice. The Ruling No. 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT states that the Judge that revokes the Ruling No 02/KPPU-1/2013 since PT Pelindo is proved to make prohibited agreement. It is found that PT. Pelindo has good faith which has positive impacts on the people and the State so that, in order to realize justice, PT. Pelindo is given the exception for the prohibited agreement. Per Se Illegal approach has many deficiencies so that it is appropriate to be revoked. The regulations in Indonesia should explain what it means by good faith so that it can be applied to give legal certainty. For example, Japan and European countries give the exception for good faith in prohibited agreements. In Japan, good faith to make a prohibited agreement should have government’s approval.

Keywords: Prohibited Agreement, Business Competition, Good Faith

(8)

Nya lah akhirnya penulis mampu menyelesaikan tesis serta pendidikan di sekolah Pasca sarjana program studi Magister Kenotariatan (M.Kn) ini.

Tiada henti-hentinya penulis selalu mengucapkan rasa syukur kepada Allah S.W.T, yang telah memberikan penulis kesempatan untuk dapat menyelesaikan studi dan penulisan tesis yang berjudul “PRINSIP ITIKAD BAIK DALAM PERJANJIAN YANG DILARANG STUDI TERHADAP PUTUSAN NOMOR 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT”, serta shalawat beriring salam penulis ucapkan kepada Nabi Muhammad S.A.W yang telah membawa manusia dari zaman Jahiliah ke zaman Islamiah, sehingga manusia dapat mengenal kebaikan, dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta mengajarkan manusia untuk mengenal Allah sang pencipta kehidupan dan kematian.

Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan untuk penyempurnaan tesis ini.

Pada kesempatan ini, tidak lupa dengan segala hormat penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada orang yang telah berjasa tiada batasnya yang selalu mencurahkan kasih dan sayang tanpa pamrih, mensuport tanpa imbalan dan henti-hentinya, membantu tanpa mengharapkan balasan, berjuang dalam mendidik, membimbing, dan menyemangati tanpa batas adalah orang tua penulis yaitu : Agus Surianto, SE dan Fauziah Pulungan, Amd serta kakak adik penulis Putri Abditia, S.Kom, Irfan Farid Tahir dan Nenek penulis Hj. Asiah Nasution, penulis ucapkan jutaan terimakasih kepada orang tua, kakak adik dan nenek penulis, semoga setiap amalan kebaikan yang penulis lakukan juga dicatatkan untuk kedua orang tua, kakak adik dan nenek penulis, Aamiin ya rabbal Alamin.

(9)

selaku ketua komisi pembimbing, Ibu Prof. Dr. Sunarmi, SH., M.Hum, selaku anggota komisi pembimbing, dan Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH., MS., CN, selaku anggota komisi pembimbing, serta para penguji yaitu IbuDr. T. Keizerina Devi A, S.H., CN., M.Hum, selaku dosen penguji tesis dan Bapak Dr. Edy Ikhsan, SH., MA, selaku dosen penguji tesis.

Selanjutnya penulis ucapkan terimakasih juga kepada :

1. Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. T. Keizerina Devi A. SH., CN., M.Hum, selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Dr. Edy Ikhsan, SH., MA, selaku Sekretaris Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

5. Para Professor dan Guru Besar serta Staff Pengajar dan juga kepada seluruh Karyawan Biro Administrasi Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

6. Kepada bundaku Ir. Deswita Lariani dan adikku Nina Fachrina, SH, yang telah memberikan bantuan dan motivasinya dalam penulisan tesis ini, serta kepada keluarga terbaik lainnya yang selalu memberikan semangat dan doanya.

7. Terkasih Faisal Dasyah, SH yang selalu menyayangi dan mengasihi serta mendukung dalam hal memberikan motivasi, nasihat juga pendapat mengenai hukum untuk menambah pengetahuan penulis.

8. Sahabat-sahabat terbaik Lydia Indah Anneike Ritonga, SH, Mutiara Parwita, SH, Miftahul Husna, SH, Nurmala Fajriyah, SE, Nabila Dwi

(10)

bersedia selalu saling membantu dalam hal apapun.

10. Kepada teman-teman seperjuangan stambuk 2015, khususnya group D stambuk 2015 yang telah bersedia meluangkan waktunya dalam berdiskusi mengenai perkuliahan.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati dan harapan penulis, semoga tesis ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat dan berguna baik bagi penulis, dunia Akademik, dan seluruh pihak yang berkaitan dengan bidang Kenotariatan.

Medan,

Pratiwi Habibi

(11)

Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 21 Juni 1993

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Perempuan

Status : Belum Menikah

Alamat : Jl. Ekarasmi Gg. Pribadi No. 30 Medan

Nama Ayah : Agus Surianto, SE

Nama Ibu : Fauziah Pulungan, Amd

Nama Kakak : Putri Abditia, S.Kom

Nama Adik : Irfan Farid Tahir

II. PENDIDIKAN

Sekolah Dasar : SD Kemala Bhayangkari 1 Medan Sekolah Menengah Pertama : SMP Kemala Bhayangkari 1 Medan Sekolah Menengah Atas : SMA Negeri 2 Medan

Perguruan Tinggi (S1) : Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan

Perguruan Tinggi (S2) : Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, Medan

(12)

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR ISTILAH ... ix

DAFTAR SINGKATAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Manfaat Penelitian ... 10

E. Keaslian Penelitian ... 10

F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsepsi ... 11

G. Metode Penelitian ... 18

BAB II KEDUDUKAN PERJANJIAN YANG DIlARANG DI INDONESIA ... 23

A. Perjanjian Yang Dilarang Di Indonesia ... 23

B. Jenis-Jenis dan Contoh Perjanjian Yang Dilarang Di Indonesia ... 27

C. Pengecualian Terhadap Perjanjian yang dilarang ... 48

D. Perjanjian yang Dilarang di Beberapa Negara ... 50

BAB III PENENTUAN PERJANJIAN YANG DILARANG OLEH KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA (KPPU) Putusan KPPU Nomor 02/KPPU-L/2013 ... 53

A. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) ... 53

(13)

E. Upaya Hukum Terhadap Putusan KPPU ... 78

BAB IV PRINSIP ITIKAD BAIK DALAM PERJANJIAN YANG DILARANG PADA Putusan Nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT... 80

A. Itikad Baik ... 80

B. Analisis Putusan Perkara Nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT ... 85

C. Itikad Baik dalam Perjanjian yang Dilarang pada Putusan Nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT ... 91

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 94

A. Kesimpulan ... 94

B. Saran ... 95

DAFTAR PUSTAKA ... 96

(14)

Block Exemption : Pengecualian

Boycott : Memboikot

Cartel : Kartel

Check and Balance : Cek dan keseimbangan Circumstantial Evidence : Bukti tidak langsung

Civil Law : Hukum yang berasal dari Eropa

Common Law : Hukum yang berasal dari Eropa Barat Concerted Action : Tindakan bersama

Cost : Biaya

Departement : Departemen

Dual Access : Akses ganda

Equal : Sama

Equality Before The Law : Persamaan di hadapan hukum

Equality : Persamaan

Equitable : Adil

Equity : Keadilan

Exclusive Dealing : Perjanjian tertutup

Export : Ekspor

Fair : Adil

Fairness : Keadilan

Fiat Justitia et Pereat Mundu : Meskipun dunia runtuh hukum harus ditegakkan

Filing Of Merger : Pengajuan penggabungan

Floor Price : Harga dasar

Free Rider : Pengendara bebas

(15)

Goodwill : Nama baik yang punya nilai

His Due : Memberikan setiap orang haknya

Holding Company : Perusahaan Induk

Honesty : Kejujuran

Horizontal Market Division : Divisi pasar horizontal

Impartial : Tidak memihak

Import : Impor

Individual Exemption : Pengecualian perorangan

Intent : Maksud

Joint Venture : Perjanjian kerja

Justice : Keadilan

Law Full : Hukum tidak boleh dilanggar

Less Restrictive Alternative : Alternatif yang kurang restriktif Library Research : Penelitian perpustakaan

Loyalty : Kesetian

Marginal Cost : Biaya marjinal

Market Power : Kekuatan pasar

Maxmimum Price Fixing : Penetapan harga secara maksimum Meeting of Minds : Kesepakatan

Memorandum of Understanding : Nota kesepahaman

Minimum Price Fixing : Penetapan harga secara minimum Monopoly by A Few : Monopoli oleh beberapa pihak

Multipurpose : Serba guna

Off-net : Layanan pesan pendek antar operator

Overeenkomst : Perjanjian

(16)

Price Fixing Agreement : Perjanjian penetapan harga

Primary Line Injury : Diskriminasi harga yang merugikan Quasi Judicial Power : Kuasi kekuasaan kehakiman

Quasi Legislative Power : Kuasi kekuasaan legislatif

Reasonableness : Kewajaran

Rechtsleer : Ajaran hukum

Rechtstheorie : Teori hukum

Rechtswerkelijheid : Kenyataan hukum

Religious Faith : Iman agama

Resale Price Maintenance : Pengaturan harga jual kembali

Rule of Reason : Aturan alasan

Secondary Line : Garis sekunder

Shipping Practice : Harga pengiriman

Sicherkeit Des Rechts Selbst : Kepastian mengenai hukum itu sendiri Stage of Production : Perbedaan jenjang produksi

Statue Auxilary : Komplementer

Supplier : Pemasok

Supply and Demand : Penawaran dan permintaan

Surveyor Fee : Biaya pengawas

Sustainable Competition

Advantage : Keunggulan kompetisi yang berkelanjutan

Tatsachen : Fakta

Tying Arrangement : Mengikat peraturan Universal Social Force : Kekuatan sosial universal

Verbintenes : Kewajiban

(17)
(18)

BRTI : Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia

BUMN : Badan Usaha Milik Negara

CPO : Crude Palm Oil

DPR : Dewan Perwakilan Rakyat

ESS : Executive Support System

INSA : Indonesian National Shipowners Association

JKT : Jakarta

KPPU : Komisi Pengawas Persaingan Usaha

KSO : Kerja Sama Operasional

KUH : Kitab Undang-undang Hukum

MOU : Memorandum of Understanding

PBM : Perusahaan Bongkar Muat

PDT : Perdata

PERMA : Peraturan Mahkamah Agung

PGK : Program Geser Kompetitor

PKS : Perjanjian Kerja Sama

PN : Pengadilan Negeri

PT : Perseroan Terbatas

SMS : Short Message Service

UD : Usaha Dagang

USD : United State Dollar

UT : Utara

UU : Undang-Undang

(19)

Asas kebebasan berkontrak telah memberikan kebebasan bagi masyarakat atau siapapun yang hendak membuat atau tidak membuat suatu perjanjian, dengan siapapun dan menentukan isi perjanjian serta membuat bentuk perjanjian, sehingga memberikan pilihan yang bebas untuk mengadakan perjanjian. Akan tetapi Pasal 1320 KUH Perdata yang mengatur syarat sahnya perjanjian telah memberikan rambu- rambu terhadap asas kebebasan berkontrak. Dan Pasal 1338 KUH Perdata mengandung asas perjanjian sebagai berikut: asas konsensualisme; asas pacta sunt servanda, asas kebebasan berkontrak; dan asas itikad baik.1Namun Itikad baik tidak tertulis dalam Pasal 1320 KUH Perdata.

Perjanjian dikenal asas itikad baik, yang artinya setiap orang yang membuat perjanjian harus dilakukan dengan itikad baik. Itikad baik dalam sebuah penjanjian harus ada sejak perjanjian baru akan disepakati, artinya itikad baik ada pada saat negosiasi prakesepakatan perjanjian, dinyatakan oleh Ridwan Khairandy bahwa :

"Itikad baik sudah harus ada sejak fase prakontrak dimana para pihak mulai melakukan negosiasi hingga mencapai kesepakatan dan fase pelaksanaan kontrak"2. Sutan Remy Sjahdeini secara umum menggambarkan Itikad baik merupakan niat dari

1Ridwan, Kebebasan Berkontrak, Pacta Sunt Servanda Versus Itikad Baik (Jakarta: UI-Press, 2015), hlm. 17.

2Ridwan Khairandy, Itikad Baik dalam Kebebasan Berkontrak (Jakarta: Pasca Sarjana FH- UI. 2003) Hal. 190.

(20)

pihak yang satu dalam suatu perjanjian untuk tidak merugikan mitra janjinya maupun tidak merugikan kepentingan umum3.

Syarat sahnya suatu perjanjian berdasarkan Pasal 1320 KUH Perdata, menentukan suatu perjanjian adalah sah apabila memenuhi persyaratan: kesepakatan, kecakapan, hal tertentu, dan sebab yang diperbolehkan4. Yang dimaksud dengan kesepakatan ialah sepakatnya pihak yang mengikatkan diri artinya kedua belah pihak dalam suatu perjanjian harus mempunyai kemauan yang bebas untuk mengikatkan diri. Yang dimaksud dengan kecakapan adalah cakap menurut hukum untuk membuat suatu perjanjian. Yang dimaksud suatu hal adalah harus jelas hal yang diperjanjikan. Suatu sebab yang halal adalah sebuah perjanjian tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang, ketentuan umum, moral, dan kesusilaan atau suatu sebab yang tidak dilarang.

Syarat keempat dari suatu perjanjian adalah kausa yang halal. Kausa yang halal menggambarkan tujuan yang hendak dicapai oleh para pihak yang tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum5. Pasal 1337 KUH Perdata menegaskan bahwa “Suatu sebab adalah terlarang, jika sebab itu dilarang oleh Undang-Undang atau bila sebab itu berlawanan dengan kesusilaan atau ketertiban umum”. Perihal suatu sebab yang tidak terlarang, berlaku terhadap objek atau isi perjanjian.

3Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Seimbang bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit di Indonesia (Jakarta: Institut Bankir Indonesia. 1993), hlm.112.

4Soeroso, Perjanjian Dibawah Tangan (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hlm. 12.

5Galuh Puspaningrum, Hukum Perjanjian Yang Dilarang Dalam Persaingan Usaha (Yogyakarta: Aswaja, 2015), hlm. 59.

(21)

Perjanjian menurut KUH Perdata berasal dari bahasa Belanda verbintenis dan overeenkomst, yang diterjemahkan sebagai berikut6:

1. KUH Perdata menggunakan istilah perikatan untuk verbintenis dan perjanjian untuk overeenkomst,

2. Ahli hukum Utrech, menggunakan istilah perutangan untuk verbintenis dan perjanjian untuk overeenkomst,

3. Achmad Ichsan hukum perdata jilid IB menerjemahkan vebintenis dengan perjanjian dan overeenkomst dengan persetujuan. Di Indonesia bahwa untuk verbintenis, yaitu terdapat 3 istilah Indonesia yaitu perikatan, perjanjian, dan perutangan, dan sedangkan overeenkomst dipakai dua istilah, yaitu perjanjian dan persetujuan.

Pasal 1313 ayat (1) KUH Perdata menyebutkan bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Dari Pasal 1313 ayat (1) KUH Perdata, dapat diketahaui bahwa suatu perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada orang lain atau dimana dua orang atau lebih saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Dari peristiwa tersebut timbul suatu hubungan perikatan.

Setiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu atau untuk tidak berbuat sesuatu (1234 KUH Perdata). Dalam perikatan terdapat dua jenis perikatan, yaitu :7

1. Perikatan yang lahir dari perjanjian menimbulkan hubungan hukum yang memberikan hak dan meletakkan kewajiban kepada para pihak yang membuat perjanjian berdasarkan atas kemauan dan kehendak sendiri dari para pihak yang bersangkutan yang mengikatkan diri tersebut.

2. Perikatan yang lahir dari undang-undang adalah perikatan yang terjadi karena adanya suatu peristiwa tertentu sehingga melahirkan hubungan hukum yang menimbulkan hak dan kewajiban di antara para pihak yang bersangkutan,

6Soeroso, Op.Cit., hlm. 1.

7Ibid., hlm. 4.

(22)

tetapi bukan bersal atau merupakan kehendak para pihak yang bersangkutan, melainkan telah diatur dan ditentukan oleh undang-undang.

Suatu perjanjian memiliki unsur yang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu unsur essensalia dan bukan essensalia. Eksistensi dari suatu perjanjian ditentukan secara mutlak oleh unsur essensalia, karena tanpa unsur ini suatu perjanjian tidak pernah ada, contohnya tentang “Sebab yang halal”8. Salah satu unsur sahnya perjanjian adalah adanya suatu sebab atau kausa yang halal terdapat pada Pasal 1335 KUH Perdata yaitu “suatu perjanjian tanpa sebab, atau yang telah dibuat karena sesuatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan”. Yang dimaksud dengan sebab adalah tujuan akhir yang hendak dicapai para pihak dalam perjanjian.

KUH Perdata tidak memberi definisi apa yang dimaksud dengan sebab yang halal (diperbolehkan) itu, akan tetapi KUH Perdata khususnya Pasal 1337 hanya memberikan penjelasan mengenai sebab yang terlarang, yaitu: bertentangan dengan Undang-Undang, bertentangan dengan kesusilaaan, dan betentangan dengan ketertiban umum. Suatu sebab yang halal adalah suatu sebab yang tidak bertentangan dengan hukum dan tidak melanggar norma kesusilaan, kebiasaan serta nilai-nilai yang hidup di masyarakat setempat dan tidak melanggar ketertiban suatu perjanjian.9 Perjanjian dalam kegiatan ekonomi masyarakat atau bisnis antara pelaku usaha yang satu dengan lainnya merupakan hal biasa yang terjadi. Dan di dalam kegiatan ekonomi melahirkan persaingan usaha.

8Ketut Setiawan, Hukum Perikatan (Jakarta: Sinar Grafika, 2016), hlm. 43.

9Irawan Soerodjo, Hukum Perjanjan Dan Pertanahan (Yogyakarta: Laksbang, 2016), hlm. 34.

(23)

Keberadaan persiangan usaha tidak lepas dari keterlibatan antar pelaku usaha, meliputi produsen, distibutor, pelaku usaha dan konsumen meliputi beberapa rangkaian kegiatan produksi yakni kebutuhan akan bahan baku, pengolahan, pendistributian atau peredaran barang/jasa di pasar untuk mendukung mobilisasi usaha maka dari kegiatan tersebut terciptalah hubungan hukum antar pelaku usaha.

Hubungan hukum tersebut menimbulkan suatu hak dan kewajiban serta tanggung jawab yaitu perjanjian.10

Persaingan usaha yang sehat diyakini akan berakibat positif bagi para pengusaha yang saling bersaing atau berkompetisi sehingga dapat menimbulkan upaya-upaya peningkatan efisiensi, produktivitas, dan kualitas produk yang dihasilkan.11Hal ini dapat terjadi karena adanya rivalitas mendorong inovasi para pelaku usaha atau pemasok untuk menghasilkan produk secara efisien dalam basis biaya yang lebih rendah serta produk-produk yang memiliki keunikan dalam sejumlah dimensi tertentu yang secara umum dihargai oleh konsumen.12Persaingan usaha dapat menjadi landasan fundamental bagi kinerja diatas rata-rata untuk jangka panjang dan dinamakannya keunggulan bersaing yang lestari (Sustainable Competition Advantage) yang dapat diperoleh melalui tiga strategi generik, yakni keunggulan biaya, diferensiasi dan fokus biaya13 Masyarakat banyak mendapat manfaat akibat dari persaingan usaha yang sehat. Namun jika terjadi persaingan usaha tidak sehat akan menimbulkan efek sebaliknya. Sehingga pemerintah berperan untuk menjaga persaingan usaha dengan membentuk hukum persaingan usaha. Hukum

10Galuh, Op.Cit., hlm. 57.

11Abdul Saliman, Hukum Bisnis Untuk Perusahaan Teori dan Contoh Kasus (Jakarta:

Kencana, 2014), hlm. 199.

12Johnny Ibrahim, Hukum Persaingan Usaha (Malang: Bayumedia, 2009), hlm. 103.

13Mustaka Kamal Rokan, Hukum Persaingan Usaha Teori Dan Praktiknya Di Indonesia (Jakarta Raja Wali Press, 2010), hlm. 8.

(24)

persaingan usaha adalah instrumen hukum yang menentukan tentang bagaimana persaingan itu harus dilakukan.14

Perjanjian yang dibuat oleh pelaku usaha yang berakibat pada persaingan usaha tidak sehat pada dasarnya tidak memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian yaitu pada pasal 1320 KUH Perdata yaitu suatu sebab yang diperbolehkan. Perjanjian tersebut merupakan perjanjian yang dilarang yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Pada Pasal 2 Undang-Undang nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Sehat terdapat bahwa pelaku usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum.

Kegiatan persaingan usaha terdapat komisi yang berwenang dalam Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1999 yaitu Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Wewenang Komisi Pengawas Persaingan Usaha terdapat pada Pasal 36 Undang- Undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Persaingan Usaha, yaitu :15

1. Menerima laporan masyarakat dan atau dari pelaku usaha dugaan terjadinya praktek monopoli atau persaingan usaha tidak sehat;

2. Melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli atau persaingan usaha tidak sehat;

3. Melakukan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap kasus dugaan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang dilaporkan oleh

14Hermansyah, Pokok-pokok Persaingan Usaha Di Indonesia (Jakarta: Kencana Prenada, 2008), hlm. 2.

15Galuh Puspaningrum, Op.Cit., hlm. 79.

(25)

masyarakat atau oleh pelaku pelaku usaha atau komisi sebagai hasil dari penelitiannya;

4. Menyimpulkan hasil penyelidikan dan atau pemeriksaan tentang ada atau tidak adanya praktek monopoli atau persaingan usaha tidak sehat;

5. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang tentang persaingan usaha;

6. Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan setiap orang dianggap mengetahui pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang tentang persaingan usaha;

7. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang yang tidak bersedia memenuhi panggilan komisi;

8. Meminta keterangan dari instansi pemerintah dalam kaitannya dengan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan persaingan usaha;

9. Memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kegiatan kerugian di pihak pelaku usaha lain atau masyarakat;

10. Memberitahukan putusan komisi kepada pelaku usaha yang diduga melakukan praktek monopoli atau persaingan usaha tidak sehat;

11. Menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang ini.

Terdapat permasalahan dalam kedudukan perjanjian yang dilarang pada putusan komisi pengawas persaingan usaha yaitu putusan nomor No.02/KPPU- I/2013. Isi putusan tersebut yaitu: PT. Pelindo terbukti telah membuat perjanjian yang dilarang dalam persaingan usaha bahwa setiap penyewa lahan pelabuhan teluk bayur milik PT. Pelindo terdapat klausul wajib bongkar muat yaitu dalam bongkar muat wajib menggunakan jasa PT. Pelindo. Perjanjian tersebut telah melanggar Pasal 15 ayat (2) dan Pasal 19 huruf a dan b UU No. 5 Tahun 1999. yang bunyinya sebagai berikut: Pasal 15 ayat (2) “Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain yang memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa tertentu harus bersedia membeli barang dan atau jasa lain dari pelaku usaha pemasok”, dan Pasal 19 "Pelaku usaha dilarang melakukan satu atau beberapa

(26)

kegiatan, baik sendiri maupun bersama pelaku usaha lain, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat berupa : a.

menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan ; b. menghalangi konsumen atau pelanggan pelaku usaha pesaingnya untuk tidak melakukan hubungan usaha dengan pelaku usaha pesaingnya itu”. Berdasarkan dua pasal tersebut maka PT. Pelindo telah melanggar Undang-Undang Persaingan Usaha. Sehingga PT. Pelindo diperintahkan untuk mencabut semua klausul wajib tersebut dan membayar denda sebesar empat miliar tujuh ratus tujuh puluh lima juta tiga ratus tujuh puluh tujuh ribu tujuh ratus delapan puluh satu rupiah berdasarkan putusan KPPU tersebut.

PT. Pelindo melakukan permohonan keberatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang kemudian mengeluarkan putusan nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT bahwa perjanjian tersebut bukan merupakan perjanjian yang dilarang. Karena klausul wajib perjanjian tersebut yaitu bahwa terdapat penyewa lahan pelabuhan harus menggunakan jasa bongkar muat PT. Pelindo Skema 2 (PT.Pelindo) : 1 (Swasta) banyak memberi dampak positif. Klausul Wajib tersebut agar tercipta bongkar muat dengan biaya yang lebih murah. Itikad Baik PT. Pelindo dalam klausul wajib perjanjian tersebut mengakibatkan bukan termasuk perjanjian yang dilarang di Indonesia.

Berdasarkan uraian diatas masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai itikad baik dalam perjanjian yang dilarang dengan Judul “Prinsip Itikad Baik dalam

(27)

Perjanjian yang Dilarang Studi Terhadap Putusan Nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan pokok dalam penulisan tesis ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana kedudukan perjanjian yang dilarang dalam hukum persaingan usaha di Indonesia ?

2. Bagaimana KPPU menentukan perjanjian yang dilarang dalam putusan KPPU nomor 02/KPPU-I/2013 ?

3. Bagaimana prinsip itikad baik dalam perjanjian yang dilarang pada putusan nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian dalam tesis yang berjudul “Prinsip Itikad Baik dalam Perjanjian yang Dilarang Studi Terhadap Putusan Nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT” adalah sebagai berikut :

1. Untuk menganalisis kedudukan perjanjian yang dilarang di Indonesia.

2. Untuk menganalisis KPPU dalam menentukan perjanjian yang dilarang.

3. Untuk menganalisis itikad baik dalam perjanjian yang dilarang pada putusan nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT .

(28)

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini dan tujuan yang hendak dicapai, maka diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat, sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, Pembahasan terhadap masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian ini dapat memberikan kontribusi serta pemahaman bagi ilmu dan pandangan baru mengenai perjanjian yang dilarang.

2. Manfaat Praktis

Secara Praktis, Penelitian diharapkan dapat memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti dan dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak terkait dan pembentuk Undang-Undang untuk dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak terkait dan pembentuk Undang-Undang perjanjian yang dilarang di Indonesia.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan data yang ada penelurusan dan pemeriksaan serta hasil-hasil judul yang ada apada perpustakaan Universitas Sumatera Utara, penelitian tesis mengenai “Prinsip Itikad Baik dalam Perjanjian yang Dilarang Studi Terhadap Putusan Nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT” belum pernah dilakukan dalam permasalahan dan objek penelitian yang sama. Namun dalam penelitian sebelumnya di lingkungan Sekolah Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara diketahui belum ada yang mengangkat objek tersebut.

(29)

Berdasarkan hasil penulusuran tersebut di atas, objek kajian dalam penelitian ini merupakan suatu permasalahan yang belum tersentuh secara komprehensif dalam suatu penelitian ilmiah. Oleh karenanya, penelitian ini merupakan suatu yang yang baru dan asli sesuai dengan asas-asas keilmuan yang jujur, rasional, objektif dan terbuka. Semua ini tidak lain adalah merupakan implikasi etis dari proses menemukan kebenaran ilmiah sehingga hasil penelitian ini diharapkan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsepsi 1. Kerangka Teori

Perkembangan ilmu hukum tidak terlepas dari teori hukum sebagai landasannya dan tugas teori hukum adalah untuk menjelaskan nilai-nilai hukum hingga dasar-dasar filsafatnya yang paling dalam.16 Sehingga penelitian ini tidak terlepas dari teori-teori ahli hukum yang dibahas dalam bahasa dan sistem pemikiran para ahli hukum sendiri. Fungsi teori dalam penelitian tesis adalah untuk memberikan arahan atau petunjuk serta menjelaskan gejala yang diamati.17

Konsep Teori Hukum (Rechtstheorie) dapat digunakan dalam arti luas dan sempit. Dalam arti luas adalah setiap teori tentang hukum: Dogmatik hukum. Teori hukum dalam arti sempit adalah filsafat hukum, sosiologi hukum, antropologi hukum,

16W. Friedman, Teori dan Filsafat umum (Jakarta: Raja Grafindo), hlm. 2.

17Lexy J. Moleong, Metodologi Penilitian Hukum Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 35.

(30)

dst.18D. H. H. Meuwissen menyebut ada tiga tugas teori hukum: (1) Menganalisis dan menerangkan konsep hukum dan konsep yuridis (Rechtsleer); (2) Hubungan hukum dengan logika; dan (3) metodologi hukum.19Sementara menurut Gijjsels dan Hoecke mengemukakan ada empat tugas teori hukum: (1) Analisis hukum; (2) Ajaran metode dari hukum; (3) Ajaran ilmu dari hukum; (4) Kritik ideologikal atas hukum.20

Adapun kerangka teori yang digunakan sebagai analisis dalam menjawab permasalahan yang akan diteliti adalah teori keadilan yaitu mengenai keadilan terhadap putusan hakim kepada pelaku usaha dan masyarakat yang berdampak pada itikad baik dalam persaingan usaha tidak sehat dan teori kepastian yaitu mengenai kepastian hukum Undang-Undang nomor 5 tahun 1999 terhadap tindakan Anti Monopoli serta kepastian hukum dari sisi kebebasan berkontrak Pasal 1338 KUH Perdata.

a) Teori Keadilan

Problema bagi para pencari keadilan yang paling sering menjadi diskursus adalah persoalan keadilan dalam kaitannya dengan hukum. Hal ini dikarenakan hukum atau suatu bentuk peraturan perundangan yang diterapkan dan diterimanya dengan pandangan yang berbeda, pandangan yang menganggap hukum itu telah adil dan pandangan lainnya yang menganggap hukum itu tidak adil. Problema demikian sering ditemukan dalam kasus konkrit, seperti dalam

18J. J. H. Brunggink, Refleksi Tentang Hukum (Bandung: Cirtra Aditya Bakti,1999), hlm.

159-162.

19D. H. M. Meuwissen, Teori Hukum (Jurnal Hukum Pro Justitia, Tahun XII No.2, 1994), hlm.16.

20Jan Gijjsels Dan Mark Van Hoecke, Apakah Teori Hukum Itu? (Bandung: Laboratium Hukum-FH Universitas Katolik Parahyangan, 2001), hlm. 47.

(31)

suatu perkara, seorang tidak adil terhadap putusan majelis hakim dan sebaliknya majelis hakim merasa dengan keyakinanya putusan itu telah adil karena putusan itu telah didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan hukum yang tertulis dalam bentuk peraturan perundang-undangan.21

Pengertian adil menurut kamus besar Bahasa Indonesia yaitu sikap yang berpihak pada yang benar, tidak memihak salah satunya atau tidak berat sebelah.

Keadilan adalah suatu tuntutan sikap dan sifat yang seimbang antara hak dan kewajiban. Salah satu asas dalam hukum yang mencerminkan keadilan yaitu asas equality before the law yaitu asas yang menyatakan bahwa semua orang sama kedudukannya dalam hukum.

Kata justice memiliki kesamaan dengan kata equity yaitu keadilan, yang dapat diartikan Keadilan (justice) tidak memihak (impartial), memberikan setiap orang haknya (his due), Segala sesuatu layak (fair), atau adil (equitable)22.

John Rawls (1921-2002) adalah seorang pemikir yang memiliki pengaruh sangat besar di bidang filsafat politik dan filsafat moral. Melalui gagasan- gagasan yang dituangkan di dalam A Theory of Justice (1971), Rawls mengemukakan bahwa kesukarelaan segenap anggota masyarakat untuk menerima dan mematuhi ketentuan-ketentuan sosial yang ada hanya dimungkinkan jika masyarakatnya tertata baik di mana keadilan sebagai fairness

21Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Di Indonesia, Edisi Revisi (Jakarta, Sinar Grafika, 1996), hlm. 251.

22Munir Fuady, Dinamika Teori Hukum, (Bogor, Ghalia Indonesia, 2010), hlm. 91.

(32)

menjadi dasar bagi prinsip-prinsip pengaturan institusi-institusi yang ada di dalamnya23. Rawls merumuskan dua prinsip keadilan sebagai berikut:

1. Setiap orang harus memiliki hak yang sama atas kebebasan dasar yang paling luas, seluas kebebasan yang sama bagi semua orang;

2. Ketidaksamaan sosial ekonomi harus diatur sedemikian rupa sehingga (a) diharapkan memberi keuntungan bagi bagi orang-orang yang paling tidak beruntung, dan (b) semua posisi dan jabatan terbuka bagi semua orang24. Menurut filusuf Yunani yaitu, Aristoteles menyatakan bahwa ukuran dari keadilan ialah :

a. Seseorang tidak melanggar hukum yang berlaku, sehingga keadilan berarti sesuai hukuman atau “law full”, yaitu hukum tidak boleh dilanggar dan aturan hukum harus diikuti.

b. Seseorang tidak boleh mengambil lebih dari haknya, sehingga keadilan berarti persamaan hak “equal”. Dalam hal ini equality merupakan proporsi yang benar, titik tengah, atau jarak yang sama antara “terlalu banyak” dengan

“terlalu sedikit”.25

Teori Keadilan tersebut digunakan untuk menganalisis keadilan dalam putusan hakim terhadap pelaku usaha dan masyarakat yang berdampak pada itikad baik dalam persaingan usaha tidak sehat.

23John Rawls, A Theory of Justice (London: Oxford University Press, 1971), hlm. 4-5

24Ibid, hlm. 60

25Munir Fuady, Op.Cit, hlm. 93.

(33)

b) Teori Kepastian

Teori Kepastian hukum bagi pihak yang bersengketa. Teori Kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian yaitu:

1. Adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak diboleh dilakukan.

2. Berupa keamanan hukum bagi individu dari kewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan hukum yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap Individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam undang-undang melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim antara putusan hakim yang satu dengan putusan hukum lainnya untuk kasus yang serupa yang telah di putuskan.26

Kepastian hukum merupakan suatu hal yang hanya bisa dipandang secara normatif bukan sosiologis. Kepastian hukum normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multitafsir) dan logis dalam artian ia menjadi suatu sistem norma dan tidak bertentangan dengan norma lainnya.

Hans Kelsen melalui teori hukum murninya juga menekankan kepastian hukum. Kepastian ini penting karena hukum menjadi satu-satunya alat untuk menilai

26Peter Mahmud Marzuki, Pengatar Ilmu Hukum (Jakarta: Kencana Pranada Media Group, 2008), hlm. 158.

(34)

dan mengontrol secara tegas perilaku setiap anggota masyarakat. Tanpa ketegasan hak dan kepentingan warga negara dipertaruhkan.27

Kepastian dalam hukum tercapai kalau hukum itu sebanyak-banyaknya hukum dalam Undang-Undang itu tidak ada ketentuan-ketentuan yang bertentangan, Undang-Undang itu dibuat berdasarkan kenyataan hukum (rechtswerkelijheid) dan bahwa dalam Undang-Undang tersebut tidak terdapat istilah-istilah yang dapat ditafsirkan berlain-lain.28

Kepastian hukum dapat diwujudkan dengan cara melaksanakan hukum yang berlaku pada prinsipnya harus ditaati dan tidak boleh menyimpang atau disimpangkan oleh objeknya. Seperti dalam istilahnya fiat justitia et pereat mundus yang diterjemahkan secara bebas menjadi “Meskipun dunia runtuh hukum harus ditegakkan” yang menjadi dasar dari asas kepastian yang dianut oleh paham positivisme.

Menurut Satjipto Rahardjo, Kepastian hukum adalah “Sicherkeit Des Rechts Selbst” (kepastian mengenai hukum itu sendiri). Ada 4 (empat) hal yang erat kaitannya dengan makna kepastian hukum.29

1. Hukum itu positif, dengan maksud bahwa hukum adalah perundang- undangan (Geselzliches Recht).

27Andre Ata Ujan, Filsafat Hukum-Membangun Hukum, Membela Keadilan (Yogyakarta:

Kanisius, 2009), hlm. 90.

28M. Solly Lubis, Diktat Teori Hukum (Medan: Rangkaian Sari Kuliah Semester II, Program Pasca Sarjana Ilmu Hukum USU, 2007), hlm. 43.

29Satjipto Rahardjo, Hukum Dalam Jagat Ketertiban (Jakarta: UKI Press, 2006), hlm.102.

(35)

2. Hukum itu didasarkan pada fakta (Tatsachen), bukan pada suatu rumusan tentang penilaian yang nantinya akan diterapkan oleh hakim, seperti

“kemauan baik” dan “Kesopanan”.

3. Fakta itu harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga nantinya menghindari kekeliruan dalam pemaknaan, disamping itu juga bertujuan agar mudah dijalankan.

4. Bahwa hukum positif itu tidak boleh sering diubah-ubah atau diganti.

Teori Kepastian Hukum tersebut berkaitan dengan akibat dan pelaksanaan Pasal 1338 KUH Perdata dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999.

2. Kerangka Konsepsi

Konsepsi merupakan salah satu bagian terpenting dari teori, karena konsep adalah sebagai penghubung yang menerangkan sesuatu yang sebelumnya hanya baru ada dalam pikiran atau ide. Peranan konsep dalam penelitian adalah untuk menghubungkan dunia teori dan observasi antara abstraksi dan realitas.30Konsep diartikan sebagai kata yang menyatakan abstraksi yang di generalisasi dari hal-hal yang khusus yang disebut defenisi operasional.31

Adapun uraian pada konsep yang dipakai dalam penelitian ini adalah:

1. Perjanjian adalah persetujuan baik secara tertulis atau secara lisan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih di mana masing-masing berjanji akan mentaati apa

30Samayadi Suryabrata, Metodelogi Penelitan (Jakarta: Raja Grafndo Persada, 1998), hlm.

38.

31Ibid, hlm. 3.

(36)

yang tersebut dalam persetujuan itu sebagai kesepakatan bersama. Perjanjian dalam hukum perdata disebut juga perikatan.32

2. Perjanjian yang dilarang di Indonesia adalah bentuk-bentuk perjanjian yang dilarang untuk dibuat atau tidak diperbolehkan di Indonesia.

3. Putusan adalah hasil atau kesimpulan terakhir dari pemeriksaan suatu perkara.33

4. Prinsip itikad baik adalah Itikad baik yang ideal dengan prinsip etika seperti honesty, loyalty, dan pemenuhan komitmen.

G. Metode Penelitian

Metode penelitian hukum dalam penelitan “Prinsip Itikad Baik dalam Perjanjian yang dilarang Studi Terhadap Putusan Nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN/JKT.UT” adalah penelitian hukum yuridis normatif.

Penelitian hukum yang dimaksud adalah penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai sebuah bangunan sistem norma yaitu mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, perjanjian serta doktrin (ajaran)34

Metode adalah prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu. Sementara itu metodologi adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan

32Marbun, Kamus Hukum Indonesia (Jakarta: Sinar Harapan, 2009), hlm. 257.

33Viswandro, Kamus Istilah Hukum (Yogyakarta: Pustaka Yustisia,2014), hlm. 155.

34Dr. Mukti Fajar ND Dan Yulianto Achmad, MH, Dualisme Penelitian Hukum Normatif &

Empiris, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 34.

(37)

ilmu pengetahuan dan teknologi bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis dan konsisten karena melalui proses penelitian tersebut dilakukan analisis dan konstruksi terhadap data yang telah dikumpulkan dan diolah.35 Penelitian hukum normatif adalah penelitian suatu proses untuk menemukan suatu aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum untuk menjawab permasalahan hukum yang dihadapi. Penelitian hukum normatif dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.36

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Sifat penelitian penulisan ini yaitu deskriptif analistis. Bersifat deskriptif maksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang diteliti. Penelitian ini pada umumnya bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat terhadap suatu populasi atau daerah tertentu, mengenai sifat-sifat, karakteristik-karakteristik atau faktor-faktor tertentu.37Analistis dimaksudkan berdasarkan gambaran fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat bagaimana menjawab permasalahan.38

2. Sumber Data Penelitian

Adapun sumber data yang biasa digunakan dalam penelitian hukum empiris yang bersumber pada data sekunder diperoleh dari :

35Soerjono Soekanto Dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif : Suatu Tinjauan Singkat (Jakarta: Penebit Rajawali Pres, 2013), hlm. 1.

36Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum (Jakarta: Kencana, 2005), hlm. 35.

37Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum (Jakarta : Rajawali Pers, 1997), hlm. 35.

38Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20 (Bandung : Alumni, 1994), hlm. 101

(38)

a. Bahan Hukum Primer yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat sebagai landasan utama yang dipakai dalam rangka penelitian ini.39 Bahan hukum yang mempunyai kekuatan yang mengikat bagi pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu berupa Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Putusan nomor 01/PDT.KPPU/2013/PN.JKT.UT, dan KUH Perdata.

b. Bahan Hukum Sekunder adalah bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami bahan hukum primer.40Termasuk pula dalam bahan hukum sekunder adalah buku- buku yang berhubungan dengan objek yang diteliti.

c. Bahan Hukum Tersier merupakan bahan hukum yang memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.41Bahan yang relevan untuk melengkapi data dalam penelitian ini, yaitu kamus umum, kamus hukum, majalah, internet, serta bahan-bahan di luar bidang hukum yang berkaitan dengan tesis ini guna melengkapi data.

3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data a). Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh bahan hukum yang diperlukan dalam penelitian ini, maka digunakan teknik pengumpulan bahan hukum tersebut dengan penelitian kepustakaan

39 Ronny Hanitijo, Metodologi Penelitian Hukum Dan Jurimetri (Jakarta: Ghalia Indonesia,1990), hlm. 53.

40Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2014), hlm. 182-183.

41Soerjono Soekanto Dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995), hlm. 13.

(39)

(library Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka untuk mendapatkan atau mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil pemikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini.

b). Alat Pengumpulan Data

Alat Pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data yang dipergunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan dengan mengadakan Studi Dokumen yaitu dengan melakukan inventarisasi dan sistematisasi literatur yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelian ini.

4. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif.

Menurut Lexy J. Moleong,42 Analis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mengsintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapa diceritakan kepada orang lain.

Analis data-data berdasarkan Analis kualitatif dapat diuraikan dalam beberapa tahap, sebagai berikut:43

a. Tahapan pengumpulan data, misalnya ketentuan perundang-undangan yang berkaitan langsung dengan permasalahan yang sedang diteliti, artikel atau jurnal atau karya tulis dalam bentuk lainnya akan dikumpulkan sedemikian rupa sebagai bahan referensi.

b. Tahapan Pemilahan data, dimana dalam tahapan ini seluruh data yang telah dikumpulkan sebelumnya akan dipilah-pilah dengan mempedomai konteks yang sedang diteliti, sehingga akan lebih memudahkan dalam melakukan kajian lebih lanjut terhadap permasalahan di dalam penelitian tesis ini.

42Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 248.

43Ibid.

(40)

c. Tahapan analisa dan penulisan hasil penelitian, sebagai tahapan klimaks dengan seksama dengan melakukan interpretasi atau penafsiran yang diperlukan, sejauh mungkin di upayakan untuk berpedoman terhadap konsep, asas kaidah hukum yang diangggap relevan dan sesuai dengan tujuan utama dari pada penelitian ini.

Penarikan kesimpulan yang digunakan dalam penelitian ini adalah logika berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya ditarik hal-hal yang khusus, dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil, atau prinsip-prinsip dalam bentuk proposisi-proposisi untuk menarik kesimpulan tehadap fakta-fakta yang bersifat khusus. Logika deduktif atau sering kali disebut sebagai cara berpikir analitik yang mempunyai pengertian cara berpikir yang bertolak dari pengertian bahwa sesuatu yang berlaku bagi keseluruhan peristiwa atau kelompok/jenis, berlaku juga bagi tiap- tiap unsur di dalam peristiwa kelompok/jenis tersebut.44

44Fajar Dan Achmad, Op. Cit., hlm. 109.

(41)

BAB II

KEDUDUKAN PERJANJIAN YANG DIlARANG DI INDONESIA

A. Perjanjian Yang Dilarang Di Indonesia

Pasal 1320 KUH Perdata salah satu syarat perjanjian yaitu suatu sebab yang diperbolehkan. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Pada ketentuan Pasal 4 sampai dengan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat menetapkan jenis-jenis perjanjian yang dilarang, yaitu :

1. Perjanjian penguasaan produksi terdapat pada Pasal 4, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk secara bersama- sama melakukan penguasaan produksi dan/atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan tidak sehat”.

2. Perjanjian penetapan harga terdapat pada Pasal 5, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menentapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama”.

3. Perjanjian penetapan harga secara diskriminatif terdapat pada Pasal 6, yaitu

“pelaku usaha dilarang membuat perjanjian yang mengakibatkan pembeli

(42)

yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang atau jasa yang sama.”

4. Perjanjian penetapan harga dibawah harga pasar terdapat pada Pasal 7, yaitu

“pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga di bawah harga pasar, yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.”

5. Perjanjian penetapan harga jual kembali terdapat pada Pasal 8, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian yang memuat bahwa penerima barang dan atau lain yang memuat persyaratan bahwa penerima barang dan atau jasa tidak akan menjual kembali barang dan/atau jasa yang diterimanya dengan harga yang lebih rendah daripada harga yang telah diperjanjikan.”

6. Perjanjian pembagian wilayah pemasaran terhadap barang dan atau jasa terdapat pada Pasal 9, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lainnya yang bertujuan untuk membagi wilayah pemaaran atau pesaingnya yang bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap barang dan/atau jasa sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli.”

7. Perjanjian pemboikotan terdapat pada Pasal 10, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lainnya yang dapat menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan usaha yang sama, baik untuk tujuan pasar dalm negeri maupun pasar luar negeri.”

(43)

8. Perjanjian pengaturan produksi dan atau pemasaran suatau barang dan atau jasa terdapat pada Pasal 11, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lainnya yang bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan/atau pemasaran suatu barang dan/atau jasa, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat”.

9. Perjanjian pembentukan gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar yang bertujuan untuk mengontrol produksi terdapat pada Pasal 12, yaitu

“pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk melakukan kerja sama dengan membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar, bertujuan mengontrol produksi dan/atau pemasaran atas barang dan/atau jasa sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli”.

10. Perjanjian penguasaan pembelian atau penerimaan pasokan agar dapat mengendalikan harga terdapat pada Pasal 13, yaitu “ pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha yang lain untuk bertujuan untuk secara bersama-sama menguasai penerimaan pasokan agar dapat mengendailkan pembelian atau penerimaan pasokan agar dapat mengendalikan harga atas barang dan/atau jasa yang dapat mengakibatkan praktek monopoli”.

11. Perjanjian penguasaan produksi sejumlah produk yang termasuk kedalam rangkaian produksi barang dan/atau jasa yang termasuk kedalam suatu

(44)

rangkaian produksi barang dan/atau jasa tertentu terdapat pada Pasal 14, yaitu

“pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lainnya yang bertujuan untuk menguasai produksi sejumlah produk yang termasuk dalam rangkaian produksi barang dan/atau jasa tertentu yang mana setiap rangkaian produksi merupakan hasil proses lanjutan yang dapat mengakibatkan persiangan usaha tidak sehat”.

12. Perjanjian dengan syarat yang menerima barang dan atau jasa hanya memasok atau tidak memasok kembali kepada pihak tertentu dan atau tempat tertentu terdapat pada Pasal 15, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lainnya yamg memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan/atau jasa hanya akan memasok atau tidak akan memasok kembali barang dan/atau jasa tersebut pada pihak tertentu dan atau tempat tertentu”.

13. Perjanjian dengan pihak luar negeri dalam praktik monopoli, terdapat pada Pasal 16, yaitu “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain diluar negeri yang memuat ketentuan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat.”

Ketentuan Pasal 4 sampai dengan Pasal 16 merupakan perjanjian yang dilarang di Indonesia. Perjanjian dilarang tersebut berakibat tidak sahnya suatu perjanjian karena melanggar suatu sebab yang halal atau diperboleh Pasal 1320 KUH Perdata.

(45)

B. Jenis-Jenis dan Contoh Perjanjian Yang Dilarang Di Indonesia 1. Perjanjian yang Bersifat Oligopoli

Secara sederhana, Oligopoli adalah monopoli oleh beberapa pelaku usaha,

“monopoly by a few”. Oligopoli dapat juga diartikan kondisi ekonomi dimana hanya ada beberapa perusahaan menjual barang yang atau produk standar, “Economic condition where only e few companies sell subtantially similar or standardized products”45

UU No.5 Tahun 1999, Pasal 4 melarang perjanjian oligopoli. “Pelaku usaha membuat perjanjian dengan pelaku usaha lainnya untuk secara bersama melakukan penguasaan produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa yang dapat mengaikbat terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat.”

Putusan KPPU Nomor 10/KPPU-L/2005 tentang Kartel Perdagangan Garam ke Sumatera Utara merupakan salah satu perkara yang diputuskan KPPU tentang perjanjian oligopoli. Indikasi awal, adanya kesulitan bagi perusahaan selain PT.

Graha Reksa, PT. Sumatera Palm, UD. Jangkar Waja, dan UD. Sumber Samudera yang dikenal dengan istilah “G4” untuk memperoleh garam bahan baku langsung dari PT. Garam, PT. Budiono, dan PT. Garindo yang dikenal dengan istilah dengan “G3”.

Selain itu, ada kesepakatan secara lisan yang dilakukan G3 dengan G4 untuk menetapkan harga produk garam lebih tinggi dinbandingkan dengan harga produk PT. Garam, PT. Budiono dan PT. Garindo. Pemberian harga yang lebih tinggi untuk

45Johny Ibrahim, Hukum Persaingan Usaha (Malang: Bayu Media, 2006), hlm. 229.

(46)

garam bahan baku yang dibeli oleh perusahaan diluar G3 dan G4 serta terjadinya penguasaan pasokan garam bahan baku ke Sumatera Utara oleh G3.

Majelis Komisi menyimpulkan bahwa struktur pasar garam bahan baku di Sumatera Utara dipasok hanya oleh 3 perusahaan, yaitu PT. Garam, PT. Budiono, dan PT. Garindo dengan demikian ketiga perusahaan tersebut menguasai kesuluruhan pasokan garam bahan baku ke Sumatera Utara dan sebagai besar pasokan garam bahan baku dibeli oleh G4. Dalam putusannya KPPU menyatakan bahwa G3 Dan G4 telah melanggar Pasal 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dan masing-masing untuk membayar denda.

2. Perjanjian Penetapan Harga (Price Fixing Agreement)

Perjanjian penetapan harga dilarang oleh UU nomor. 5 tahun 1999 yang terbagi atas perjanjian penetapan harga (Prize Fixing Agreement) diatur dalam Pasal 5, dikriminasi harga (Prize Discrimination) diatur dalam Pasal 6, perjanjian jual rugi (Predatory Pricing) diatur dalam Pasal 7, dan pengaturan harga jual kembali (Resale Price Maintenance) diatur dalam Pasal 8.

Perjanjian penetapan harga UU nomor 5 tahun 1999 melarang perjanjian antar produsen dimana produsen menetapkan harga yang harus dibayar pembeli untuk barang dan/atau jasa yang diperdagangkan dipasar bersangkutan yang sama dari segi faktual dan geografis perjanjian harga akan menjadikan harga menjadi tinggi, bukan harga pasar. Karenanya penetapan harga merupakan tindakan yang mencederai persaingan. Tindakan tersebut akan merugikan konsumen dengan bentuk harga yang lebih tinggi dan jumlah barang yang lebih sedikit tersedia. Larangan melakukan

(47)

perjanjian penetapan harga karena menyebabkan tidak dapat berlaku hukum pasar tentang harga yang terbentuk dari penawaran dan permintaan (supply and demand).

Pasal 5 ayat 1, berbunyi “Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha persaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan/ atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan.”

Rumusan Pasal tersebut berarti larangan ini bersifat per se yang tidak mengharuskan melihat implikasi atau adanya hambatan persaingan usaha. Perjanjian penetapan harga dilarang oleh UU nomor 5 tahun 1999 disebabkan penetapan harga bersama akan menyebabkan tidak dapat berlakunya hukum pasar tentang harga terbentuk dari adanya tawaran dan permintaan. “Pelaku usaha dilarang melakukan perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya. Selain itu, pihak yang melakukan perjanjian harus saling bersaing, berarti pelaku usaha tersebut berada pada pasar bersangkutan faktual yang sama baik secara vertikal maupun horizontal. Perjanjian dapat dilakukan dengan tertulis ataupun lisan.

Harga adalah pembayaran untuk barang dan jasa yang tidak hanya meliputi biaya pokok, tetapi juga mencakup biaya tambahan seperti diskon atau penundaan pembayaran. Hal ini menegaskan bahwa setiap penjual “bebas” menetapkan sendiri harga penjualannya. Misalnya terjadinya kartel harga dimana anggota-anggota kartel menyepakati harga tertentu terhadap suatu barang, karenanya para pihak yang melakukan perjanjian tidak mempunyai pilihan lain, apakah menaikkan atau menurunkan harga. Inilah yang menghilangkan persaingan.

Perjanjian penetapan harga dikecualikan dalam tiga hal, yakni:

(48)

a. Perjanjian harga yang diizinkan. Seperti penentuan harga yang dilakukan oleh pemerintah. Contoh kasus, sewaktu perusahaan penerbangan di dalam negeri terlibat perang harga yang sebetulnya menguntukan konsumen, tindakan yang diambil pemerintah adalah mendamaikan perusahaan penerbangan dengan jalan menentukan harga yang harus dipatuhi oleh semua perusahaan penerbangan.

b. Perjanjian harga yang dibuat dalam Joint Venture. Sebenarnya tidak jelas yang dimaksud dengan joint venture dalam UU ini. Sehingga joint venture disini dapat diartikan penggabungan usaha tertentu dari ketentuan Pasal 5 ayat 1 UU Nomor 5 tahun 1999.

c. Perjanjian Harga Langsung

Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-I/2005 tentang penyediaan jasa survei gula impor, bahwa dari hasil pemeriksaan KPPU terbukti telah terjadi kesepakatan kerja sama antara PT. Sucofindo dan PT. Surveyor Indonesia tentang Pelaksanaan Verifikasi atau Penulisan Teknis Impor Gula dengan MOU-01/SP-DRU/IX/2004, nomor 805.1/DRU-IX/SPMM/2004.

Majelis Komisi melihat bahwa unsur-unsur Pasal 5 telah terpenuhi, yakni:

a. Pelaku Usaha, Bahwa PT. Surveyor Indonesia dan PT.

Superintending Company of Indonesia telah melakukan perjanjian yaitu sepakat mengikatkan diri dalam suatu memorandum of understanding membentuk KSO untuk pelaksanaan verifikasi penelusuran teknis impor gula.

(49)

b. Unsur Menetapkan Harga, berdasarkan fakta PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo sebagai surveyor pelaksana verifikasi atau penelusuran teknis impor gula tidak pernah menawarkan surveyor fee hasil kesepakatan PT. Surveyor Indonesia (Persero) dan PT.

Sucofindo kepada para importir gula. Fakta menunjukkan bahwa telah terjadi pertemuan antara KSO dengan para importir gula yang juga membahas mengenai besaran surveyor fee namun para importir gula tidak mempunyai pilihan lain sehingga harus menerima besaran Surveyor fee yang ditetapkan oleh KSO.

c. Bahwa kegiatan verifikasi atau penelusuran teknis impor gula yang dilakukan oleh PT. Surveyor Indonesia dan Sucofindo merupakan layanan yang berbentuk pekerjaan yang diperdagangkan dan dimanfaatkan oleh para importir gula. Dan pekerjaan verifikasi ini dikategorikan sebagai jasa.

d. Bahwa importir gula merupakan pemakai jasa verifikasi tersebut dan merupakan kebutuhan perusahaan importir gula.

e. Pasar bersangkutan tersebut, PT. Surveyor Indonesia dan PT.

Sucofindo telah membuat kesepakatan dalam surveyor fee. Para Importir gula tidak mempunyai pilihan lain dalam jasa verifikasi tersebut.

(50)

Majelis Komisi Pengawas Persaingan Usaha memutuskan PT. Surfeyor Indonesia dan PT. Sucofindo telah melakukan perjanjian yang dilarang yaitu Pasal 5 ayat 1.

3. Perjanjian Diskriminasi Harga

Perjanjian diskriminasi harga diatur pada Pasal 6 UU Nomor 5 tahun 1999, yaitu “Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan jasa yang sama”.

Hal yang dilarang pada Pasal ini adalah membuat perjanjian yang memberlakukan diskriminasi terhadap kedudukan konsumen yang satu dengan konsumen lainnya, dengan cara memberikan harga yang berbeda-beda terhadap barang atau jasa yang sama. Namun demikian, dapat saja terjadi harga yang berbeda antara konsumen satu dengan yang lain disebabkan perbedaan biaya seperti promosi dan lain-lain. Karenanya, dalam teori ilmu hukum persaingan dikenal beberapa macam diskriminasi harga antara lain:46

a. Diskriminasi Harga Primer b. Diskriminasi Harga Sekunder.

c. Diskriminasi Harga Umum d. Diskriminasi Harga Geografis e. Diskriminasi Harga Tingkat Pertama f. Diskriminasi Harga Tingkat Kedua g. Diskriminasi Harga Secara Langsung h. Diskirminasi Harga Secara Tidak Langsung

46Munir Fuadi, Hukum Anti Monopoli Menyongsong Era Persaingan (Bandung: Citra aditya bakti, 1997), hlm. 57.

(51)

Tentu, tidak semua pemberian harga yang bebeda tersebut dilarang oleh hukum. Sebab jika cost yang dikeluarkan oleh penjual untuk satu konsumen dengan konsumen lainnya berbeda, maka harga secara logis tentu akan berbeda-beda pula.

Misalnya, barang yang diambil dari tempat yang jauh dan memakan biaya yang tinggi, tentu akan menaikkan harga. Karena itu, secara teknis, diskriminasi harga baru layak dilarang oleh hukum mana perbedaan harga terhadap konsumen yang satu dengan konsumen lainnya pada prinsipnya bukan cermin dari perbedaan harga dasar (marginal cost) yang dikeluarkan oleh pihak penjual.47

Karena terdapat beberapa syarat untuk terjadinya diskrminasi harga:

a. Para Pihak haruslah yang melakukan kegiatan bisnis, sehingga diskriminasi harga akan merugikan apa yang disebut dengan “Primary line injury”, yakni diskriminasi harga yang dilakukan produsen atau grosir terhadap pesaingnya. Demikian pula diskriminasi harga dapat merugikan

“secondary line” jika diskriminasi harga dilakukan oleh suatu produsen terhadap suatu grosir, atau retail yang satu dan yang lain medapat perlakuan khusus. Hal ini akan menyebakan grosir atau retail yang tidak disenangi tidak dapat berkompetisi secara sehat dengan grosir atau retail yang disenangi.

b. Terdapat perbedaan harga baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya melalui diskon atau pembayaran secara kredit, namun pada pihak lain harus cash dan tidak ada diskon.

47Naskah Akademik, tentang Peraingan Usaha dan Anti Monopoli (Jakarta: Mahkamah Agung RI, 2005), hlm. 60.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam cerpen-cerpen majalah Horison, dialog yang ditampilkan masih berupa percakapan- percakapan yang melibatkan dua orang atau lebih.Dialog-dialog yang terjalin antara

Berdasarkan latar belakang yang di kemukakan diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetehui apakah penerapan etika pemasaran yang dilakukan oleh bank

pelanggan dan memberikan jasa yang cepat, (d) kepastian (assurance), pengetahuan dan keramahtamahankaryawan dan kemampuan karyawan untuk menciptakan opiniyang dapat

Untuk memastikan bahwa senyawa tersebut adalah 3-carene maka dapat dilihat pada data spektrometri massa yang tersedia, pada waktu retensi 4,530 diidentifikasi sebagai senyawa

Pada Tabel 1(model confusion matrix), data akan diklasifikasikan ke dalam empat jenis, yaitu dengan cara membandinagkan antara data kondisi yang sebenarnya dengan data yang

Pada tindakan siklus I, peneliti yang bertindak sebagai guru menyajikan materi pembelajaran dengan menggunakan gambar hubungan antara struktur daun tumbuhan dan

Fluktuatifnya Jumlah produksi telur itik di Kabupaten Bungo dalam 3 tahun terakhir karena di beberapa Kecamatan yang memproduksi telur juga fluktuatif yang

Berdasarkan hasil penelitian di MTs Ma’arif NU 1 Sumbang dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran guru selalu memulai pembelajaran dengan do’a