• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis-Jenis Paragraf .1 Paragraf Deduktif

Dalam dokumen BAHASA INDONESIA DAN PENULISAN ILMIAH (Halaman 99-103)

BAB IV JENIS KATA

KATA PENGANTAR

6.2 Jenis-Jenis Paragraf .1 Paragraf Deduktif

Paragraf deduktif adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragraf. Paragraf deduktif ini dimulai dengan peryataan umum dan dilanjutkan dengan peryataan-paryataan khusus. Dalam arti bahwa kalimat pertama paragraf ini berupa kalimat utama berikutnya adalah kalimat-kalimat penjelas. Contoh:

Sebagian orang menilai bahwa anak remaja sekarang sering kurang hormat terhadap lingkungannya. Di tempat umum mereka sering bergerombol sehingga sering mengganggu para pemakai jalan. Tingkah laku mereka di jalan raya pun demikian. Pada malam hari, saat orang beristiahat, tidak jarang mereka bermain gitar dan bernyanyi keras-keras dengan suara sumbang. Aksi coret-coret sangat mereka gemari sehingga lingkungan berkesan kotor.

Contoh:

Ruang kelas kami luas dan menyenangkan. Ukurannya 3 x 10 meter. Jendelanya besar dan menghadap ketaman. Penerangan listrik sangat memadai. Ketika langit mendung pun, kami tetap dapat belajar di dalamnya tanpa memerlukan penerangan tambahan. Lantainya berwarna abu-abu. Dinding kelasnya berwarna putih bersih. Meja, kursi, dan papan tulis masih baru.

6.2.2 Paragraf Induktif

Paragraf induktif adalah paragraf yang dimulai dengan kalimat-kalimat penjelas dan diakhiri oleh kalimat utama. Dalam arti bahwa dalam paragraf induktif terlebih dahulu disajikan gagasan-gagasan atau pesan-pesan khusus yang kemudian diikuti oleh gagasan atau pesan yang bersifat umum. Contoh:

Seorang pelukis bila melihat sampai ke kaki gunung akan tergeraklah hatinya untuk melukis. Seorang insinyur pertanian ketika melihat sawah tersebut dalam pikirannya muncul berbagai gagasan bagaimana meningkatkan pengolahan sawah itu sehingga produksinya meningkat. Seorang anak melihat sawah yang terbentang luas itu akan tergerak hatinya untuk segera membuat layang sehingga dapat bermain layang-layang dengan penuh keasikan. Jadi, tanggapan dan sikap seseorang terhadap suatu objek bergantung pada keahlian, kesenangan, atau pengalamannya.

Contoh:

Tingkah lakunya menawan. Tuturkatanya sopan. Murah senyum, jarang marah. Tidak pernah sombong. Tidak pernah mempercakapkan orang lain. Suka menolong sesama teman pantas saja bila Ani menjadi pujaan.

6.2.3 Paragraf Campuran atau Paragraf Deduktif-Induktif Paragraf deduktif-induktif adalah paragraf yang gagasan umum dituangkan di awal paragraf kemudian diikuti oleh gagasan-gagasan khusus dan akhirnya ditutup oleh gagasan umum. Dalam arti bahwa paragraf deduktif-induktif menempatkan kalimat utama di awal paragraf dan di akhir paragraf. Gagasan utama yang dituangkan dalam kalimat utama kedua yang terletak di akhir paragraf mempuyai maksud yang sama dengan yang dituangkan dalam paragraf pertama. Cara pengungkapan gagasan atau ide dalam kalimat utama yang terletak di akhir paragraf dapat saja berbeda.

Contoh:

Tiap bahasa mempuyai sistem ungkapan dan makna yang khusus. Hal ini ditentukan oleh kerangka pemikiran pemakai bahasa itu. Bahasa Indonesia, misalnya tidak mengenal bentuk tunggal dan jamak, juga tidak mengenal perubahan bentuk kata kerja berdasarkan perbedaan waktu. Bahasa Inggris tidak

mengenal tata tingkat sosial. Bahasa Zulu tidak mengenal kata yang berarti “lembu”, tetapi mengenal kata yang berarti “lembu putih”, “lembu merah”, dan sebagainya. Berdasarkan hal ini para ahli bahasa mengatakan bahwa setiap bahasa mempuyai sistem fonologi, gramatika, dan makna yang khusus, yaitu paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal dan di akhir paragraph.

Contoh:

Hampir setiap orang pernah sakit. Manusia yang hidup di zaman tradisional sering sakit. Manusia yang hidup di zaman modern ini pun pasti pernah sakit. Sakit merupakan sesuatu yang lumrah dialami oleh setiap manusia.

6.2.4 Paragraf Yang Tidak Memiliki Kalimat Utama Atau Paragraf Deskriptif

Paragraf yang tidak memiliki kalimat utama atau paragraf deskriptif adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di seluruh paragraf. adakalanya pula paragraf deskriptif tidak tercantum kalimat utama secara ekplisit. oleh karana itu, paragraf ini kadangkala juga disebut paragraf tanpa kalimat utama.

Contoh:

Gedung sekolah itu dibangun dengan arsitektur Aceh bercampur Betawi. Luasnya sekitar 900 meter persegi. Bagunan ini permanen, berlantai dua. Lantai bawah terbuat dari keramik buatan dalam negeri. Sepertiga bagian bagunannya digunakan untuk kantor kepala sekolah dan ruang guru. Setiap ruangan dilengkapi dengan AC. Dua bagian lainnya digunakan untuk ruang kelas. Atapnya terbuat dari genteng porselin berwarna merah. Keseluruhan bagunan ini dikerjakan oleh arsitek asal Jakarta. Topik-Topik yang Dapat Dikembangkan Menjadi Paragraf Deskripsi

Topik deskripsi kurang tepat jika dikembangkan menjadi wacana argumentasi, persuasi, eksposisi, atau narasi.

Sebelum mendaftar topik-topik yang biasa dikembangkan menjadi tulisan deskriptif, kalian harus mempuyai konsep yang matang tentang jenis-jenis wacana.

Pahami hakikat perbedaan lima jenis karangan berikut! 1) Deskripsi hakikatnya adalah pelukisan/pengambaran. 2) Narasi hakikatnya adalah cerita.

3) Eksposisi hakikatnya adalah pemaparan. 4) Argumentasi hakikatnya adalah menyakinkan. 5) Persuasi hakikatnya adalah ajakan/bujukan.

Contoh topik yang tepat untuk tiap-tiap wacana: (1) Suasana senja di pantai Ujong Blang deskripsi (2) Bung Hatta dalam kenangan narasi

(3) Cara mengcangkok pohon lengkeng eksposisi (4) Perlunya mengadakan seminar penyelamatan lingkungan

hidup argumentasi

(5) Mari menjaga kebersihan lingkungan persuasi

Gagasan utama semacam ini tersebar secara seimbang dan merata pada setiap kalimat. Contoh paragraf seperti ini banyak terdapat pada karangan-karangan berbentuk naratif dan deskriptif.

Contoh:

Ketika itu matahari sudah jauh condong ke barat. Tampak tiga orang musafir yang sedang jalan kaki. Mereka mempercepat langkahnya agar mereka dapat berbuka puasa di kampung orang. Ketika hendak memasuki sebuah kampung kecil yang termasuk bagian batanghari mereka berhenti sebentar untuk bermusyawarah.

Setiap kali menyeberangi sungai, sersan kosim merasakan suatu keharuan mendeyutkan jantungnya. Seolah-olah ia berpisah dengan sesuatu, sesuatu dalam hidupnya. Makin besar sungai itu, makin besar pula keharuan yang mengetarkan sanubarinya.

Kini kembali ia akan menyeberangi sebuah sungai. Sekali ini bukan sungai kecil, melainkan salah satu sungai terbesar di Jawa Tengah. Sungai Serayu.

Kedua paragraf tersebut memiliki hubungan karena alasan berikut:

1) memiliki pokok pikiran yang sama menceritakan keharuan tokoh bila menyeberagi sungai

2) pusat penceritaan sama, yaitu tentang sersan kosim

3) urutan kronologisnya jelas, yakni kesan yang dialami tokoh tentang sungai pada waktu silam dan saat ini.

4) pemakaian kata sama, yakni kata sungai sangat besar, sungai kecil dan menyeberangi.

Berdasarkan tujuannya paragraf dapat dibedakan menjadi:

(1) Paragraf pembuka, yaitu paragraf yang berperan sebagai pengantar masalah yang akan disampaikan dalam isi karangan.

(2) Paragraf penghubung yaitu paragraf yang berisi seluruh persoalan dalam suatu karangan.

(3) Paragraf penutup yaitu paragraf yang berisi kesimpulan atas uraian yang dikembangkan untuk mengakhiri suatu karangan.

Dalam dokumen BAHASA INDONESIA DAN PENULISAN ILMIAH (Halaman 99-103)